Senin, 30 November 2015

Cara Memperoleh Kecintaan dan Pengampunan (Maghfirah) Allah Swt. & Keberkatan Munculnya "Matahari Kebenaran" Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Cara Memperoleh Kecintaan dan Pengampunan (Maghfirah) Allah Swt. &    Keberkatan Munculnya “Matahari Kebenaran”  Nabi Besar Muhammad Saw.

Bab 23


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda   a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai  tugas Nabi Besar Muhammad saw.  menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau  saw. itu penyeru yang paling sempurna (QS.33:46-48) dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
     Kata-kata (seruan) Nabi Besar Muhammad saw.   seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ --  mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Firman-Nya lagi:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi.   Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.  (Al-Hājj [22]:46-47).
       Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli yang dibicarakan  dalam ayat ini  atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, firman-Nya:
 اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ  فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪  فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ  فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Allah akan menghukum  perolokan mereka dan   membiarkan mereka berkelana bingung dalam kedurhakaannya.   Mereka itulah orang-orang yang  telah membeli yakni menukar kesesatan dengan petunjuk  maka   perniagaan mereka sama sekali tidak beruntung dan mereka  sama sekali bukanlah orang-orang yang  mendapat petunjuk.   Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan  meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihatصُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ  --  Mereka  tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali. (Al-Baqarah [2]:16-19).
        Oleh karena mereka tidak mengacuhkan peringatan Nabi Besar Muhammad saw.  dan tidak pula berusaha mengungkapkan keragu-raguan mereka agar dapat dihilangkan, dan mereka telah menjadi tidak peka terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh Islam di hadapan mata mereka sendiri  maka mereka disebut tuli, bisu, dan buta.

Cara memperoleh Kecintaan dan Pengampunan Allah Swt.  & Keberkatan Membaca Shalawat

       Masih Mau’ud a.s. menjelaskan  manfaat beriman dan patuh-taat kepada Nabi Besar Muhammad saw. atas dasar pengalaman beliau sendiri:
     “Menurut pengalaman pribadiku, kepatuhan kepada Hadhrat Rasulullah saw. dengan kecintaan dan ketulusan hati  pada akhirnya akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah Swt.. Tuhan akan menciptakan kecintaan kepada Wujud-Nya di dalam kalbu yang bersangkutan, sehingga ia akan menarik diri dari segalanya dan condong sepenuhnya kepada Allah Swt.   dengan segala kecintaan dan hasrat.
   Pada saat itu akan turun manifestasi kasih Ilahi ke atas dirinya yang akan mewarnai kalbunya dengan kecintaan dan pengabdian kepada Wujud-Nya dengan kekuatan akbar. Ia kemudian akan mengalahkan semua hasrat-hasrat pribadinya,  dan dari segala penjuru akan muncul tanda-tanda ajaib dari Allah Yang Maha Kuasa yang akan membantu dan menolongnya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 67-68, London, 1984).
    Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾

Katakanlah:  ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ   --  maka ikutilah aku, یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ   --   Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu.    -- Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”   Katakanlah:  ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Āli ‘Imran [3]:32-33).
   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  bersabda berkenaan dengan pentingnya pembacaan shalawat  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
     “Aku telah menyaksikan bahwa dengan membaca shalawat bagi Nabi Suci saw. maka rahmat Ilahi berbentuk Nur akan menyinar (membersit)  menuju Hadhrat Rasulullah saw.,  yang kemudian diserap oleh dada beliau, dan dari sana lalu muncul pancaran arus sinar ke arah manusia-manusia yang patut menerimanya sesuai kemampuannya masing-masing.
      Sesungguhnya tidak ada rahmat yang bisa  mencapai siapa pun tanpa melalui perantaraan Hadhrat Rasulullah saw.. Memohonkan shalawat atas beliau akan menggerakkan ‘Arasy Ilahi  yang darinya  Nur itu bersumber. Barangsiapa mengharapkan rahmat dari Allah Yang Maha Agung, sewajarnya selalu menyampaikan shalawat bagi beliau dengan rajin agar rahmat tersebut tergerak baginya. (Al-Hakam, 28 Pebruari 1903, hlm. 7).
Beliau bersabda lagi:
  Suatu malam, hamba yang lemah ini membaca shalawat bagi Hadhrat Rasulullah saw.,  sedemikian rupa sehingga hati dan jiwaku dipenuhi wewangiannya. Malam itu aku melihat dalam rukya beberapa malaikat membawa kantung-kantung air yang penuh dengan Nur ke dalam rumahku,  dan salah seorang dari mereka berkata kepadaku: “Semua ini adalah salawat yang engkau mintakan bagi Muhammad saw. (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 598, London, 1984).

Karunia Allah bagi Pengikut Nabi Besar Muhammad Saw.

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan munculnya “bayangan-bayangan” kesempurnaan akhlak dan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw.   dari kalangan pengikut beliau saw.:   
     “Tidak sepatutnya kita meragukan, bahwa seorang pengikut biasa dari Rasul yang diridhai tersebut bisa berbagi nama, sifat atau berkat beliau. Memang benar bahwa dalam kenyataannya tidak ada nabi lain yang bisa menyamai keagungan Hadhrat Rasulullah saw.. Bahkan para malaikat pun tidak, apalagi seorang manusia biasa.
    Namun wahai kalian pencari kebenaran, semoga Allah Swt membimbing kalian dan simaklah dengan hati-hati hal ini.  Dengan tujuan agar berkat dari Rasul yang diridhai tersebut bisa diperlihatkan selama-lamanya, dan agar Nur beliau yang sempurna dapat mengalahkan musuh-musuh beliau, maka Allah Yang Maha Kuasa telah menyusun kebijakan berikut ini demi Keagungan dan Kasih-Nya.
    Beberapa orang terpilih dari umat Muhammad saw.   yang patuh kepada beliau dengan kerendahan hati sepenuhnya,  dan yang menyungkurkan diri dengan menghilangkan segala egonya sendiri  akan ditemukan oleh Allah Swt.   sebagai cermin bersih yang memantulkan berkat Rasul yang diridhai tersebut dalam diri mereka masing-masing. Melalui diri mereka Tuhan akan menurunkan rahmat dan Tanda-tanda yang semuanya bersumber pada Hadhrat Rasulullah saw..
    Dalam kenyataan dan dalam kesempurnaannya, semua puji-pujian hanya patut bagi diri beliau, dan bahwa beliau itu adalah teladan yang sempurna. Namun sebagai penganut dari ajaran Hadhrat Rasulullah saw. yang karena kepatuhan yang sempurna telah menjadi refleksi  (pantulan) dari  beliau, dimana Nur yang diperlihatkannya pun adalah juga pantulan dari Nur beliau, maka munculnya sosok yang merefleksikan sifat dan jasad beliau akan berwujud sebagai bayang-bayang dirinya. Bayang-bayang ini tidak tegak dengan sendirinya dan ia tidak memiliki kelebihan dalam kenyataannya. Yang terlihat adalah gambaran dari yang aslinya sebagai pantulan refleksi.
     Ada dua hal yang dimunculkan oleh refleksi dari Nur itu yang mirip dengan rahmat abadi, yang akan mewujud pada beberapa pengikut Muhammad saw.:     
   Pertama adalah diperlihatkannya kesempurnaan haqiqi dari Hadhrat Rasulullah saw. berupa obor yang darinya obor-obor lain akan dinyalakan, dan hal ini jauh lebih baik daripada sebuah obor yang tidak pernah menyalakan obor lainnya.
     Kedua, melalui rahmat abadi ini telah diteguhkan kelebihan umat Muslim di atas para pengikut agama lainnya, dan bukti nyata dari agama Islam telah disegarkan kembali, sehingga manusia tidak selalu hanya bertumpu kepada [cerita] masa lalu saja.
    Dengan cara demikian itulah Nur kebenaran Al-Quran akan memancar terang sebagai sinar matahari dan bukti kebenaran Islam telah diteguhkan terhadap para lawannya, sedangkan kerendahan dan kekalahan para musuh Islam akan menjadi nyata. Mereka akan bisa menyaksikan rahmat dan Nur di dalam Islam yang padanannya tidak akan mereka jumpai pada diri para pendeta atau pandit agama mereka masing-masing.
    Perhatikanlah semua hal ini wahai para pencari kebenaran, semoga Allah membantu kalian dalam pencaharian kalian. Betapa agungnya derajat Khātaman Nabiyīin saw. dan betapa sempurnanya kecemerlangan matahari kebenaran ini, sehingga menjadikan seseorang menjadi mukminin yang sempurna, menjadikan yang lainnya sebagai orang yang mengenal Tuhan dan memberkati yang ketiga dengan tanda-tanda Keagungan dan Ketauhidan serta melimpahkan atasnya berkat Ilahi.” (Brahin-i Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 1, hlm. 268-271, London, 1984).
      Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut  sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini  فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ  -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا --  dan mereka itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).

Terbitnya “Matahari Kebenaran”  dan Pengaruhnya  yang Penuh Berkat

    Sehubungan dengan firman-Nya tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pengaruh yang penuh berkat dari kemunculan “matahari kebenaran” Nabi Besar Muhammad saw. bagi para pengikutnya yang hakiki:
   “Sejak munculnya matahari kebenaran di dunia ini dalam wujud yang berberkat Hadhrat Rasulullah saw., sampai dengan hari ini  sudah beribu-ribu orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan  karena mengikuti firman Ilahi dan patuh kepada beliau, yang telah berhasil mencapai derajat tinggi sebagaimana dikemukakan, dan proses ini masih berlanjut terus.
   Allah  Yang Maha Agung secara berkesinambungan mengaruniai mereka dengan berkat, rahmat serta pertolongan, sehingga mereka yang memiliki penglihatan jernih bisa melihat bagaimana orang-orang ini telah menjadi kekasih Allah, berada di bawah naungan berkat Ilahi dan menjadi penerima rahmat yang akbar.
   Para pemerhati ini secara jelas bisa melihat bahwa orang-orang itu memperoleh karunia-karunia yang luar biasa dan dibedakan dari manusia lainnya dengan Tanda-tanda samawi serta diharumkan oleh wewangian kasih dan keridhaan Ilahi.
    Nur (Cahaya) dari Yang Maha Agung menyinari persahabatan mereka, perhatian mereka, tekad hati mereka, akhlak mereka, cara hidup mereka, kegembiraan mereka, kemarahan mereka, keinginan mereka, ketidaksukaan mereka, gerakan mereka dan istirahat mereka, bicara dan diam mereka, batin dan jasmani mereka, sejelas dan setransparan (sebening)  wadah kaca yang berisi wewangian yang harum. Melalui berkat persahabatan dan hubungan serta kasih kepada mereka  semua ini bisa diperoleh dengan mudah.
  Dengan menciptakan silaturahim (hubungan) dengan mereka dan berpandangan baik tentang diri mereka maka keimanan seorang manusia akan mendapat aspek dan kekuatan baru bagi penampakan akhlak yang baik. Kecenderungan ego  (keakuan) terhadap hura-hura dan dosa akan terkekang dan sebagai gantinya akan muncul rasa puas dan kelembutan.   Sejalan dengan kapasitas setiap orang, hasrat keimanan seseorang akan marak dan mereka menunjukkan kasih dan pengabdian, serta mereka akan menjadi bertambah suka mengingat Allah  Swt..  
    Dalam jangka panjang, berteman dengan orang-orang yang berberkat demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa kekuatan keimanan, akhlak yang mulia, tindakan memfanakan duniawi, perhatian dan kasihnya terhadap Tuhan, kelembutan terhadap para makhluk Tuhan, kesalehan, keteguhan dan ketakwaan menerima takdir Ilahi, sesungguhnya mereka itu tidak ada padanannya di dunia ini.
     Akal yang sehat segera melihat bahwa rantai yang selama ini menjadi belenggu bagi manusia, pada orang-orang itu telah terlepas, dan kesempitan pandangan yang menghimpit dada orang lain  telah diangkat dari dada mereka.   Mereka memperoleh kehormatan bisa berbicara terus menerus dengan Tuhan mereka, dan mereka itu diterima sebagai sarana perantara  di antara Tuhan dengan hamba-hamba yang mencari-Nya,  yang menginginkan bimbingan dan petunjuk. Kecemerlangan mereka telah mencerahkan kalbu manusia lainnya.
    Sebagaimana dengan datangnya musim semi maka tetumbuhan bertunas semua, begitu pula dengan kemunculan mereka akan memunculkan Nur alamiah di hati manusia yang waras dan yang beruntung, sehingga kemampuan batin mereka akan berkembang penuh dan mereka bisa menyingkapkan tirai kedalaman kelelapan mereka yang akan membersihkan dosa-dosa dan noda-noda kejahatan serta kegelapan dari kebodohan dan fikiran.
      Zaman masa hidup mereka yang berberkat mempunyai karakteristik khusus, dan Nur yang menebar ke dalam batin mereka yang beriman dan para pencari kebenaran akan mengembangkan hasrat batin yang bersangkutan kepada agama serta memperkuat keteguhan hati mereka. Setiap mereka yang tulus akan memperoleh berkat dari wewangian yang dilimpahkan kepada mereka karena kepatuhan mereka, sepadan dengan ketulusan hati mereka.
   Adapun mereka yang tidak beruntung, tidak akan memperoleh apa-apa darinya, dan mereka ini akan terus saja dalam permusuhan, kecemburuan dan itikad buruk sampai akhirnya nanti mereka masuk neraka. Hal inilah yang dimaksud dalam ayat:
خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ
Allah telah memeterai hati mereka (Al-Baqarah [2]:8).
(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 529-532, London, 1984).

Undangan dan Tantangan

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai berbagai karunia istimewa Ilahi yang dianugerahkan kepada beliau:
    “Pernyataan pengakuan dari Nabi Suci kita Rasulullah saw. berpendar (memancar) seperti sinar matahari dan menjadi bukti dari berkat yang mengalir abadi dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi Rasulullah saw. akan dibangkitkan dari kematian [ruhani] dan dikarunia dengan kehidupan ruhaniah nyata yang dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta dukungan dari Ruhulqudus.
      Ia akan menjadi manusia unik di antara umat manusia lainnya, karena Allah Swt..  akan membukakan berbagai rahasia Samawi serta menyampaikan kebenaran Wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih dan perkenan-Nya serta menurunkan bantuan di atas dirinya serta menjadikan dirinya sebagai cermin dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
     Kebijakan akan mengalir dari mulutnya dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah Yang Maha Agung akan memperlihatkan Tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman, terungkapnya rahasia-rahasia Samawi serta karena turunnya berkat atas dirinya.
    Setelah mendapat penugasan dari Allah Swt., hamba yang lemah ini telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia, Eropa  dan Amerika mengenai hal-hal di atas  agar mereka mengetahui.
    Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku bisa memperoleh kehidupan ruhaniah tanpa mengikuti Khātamul Anbiya saw. agar mereka maju menghadapi aku, jika tidak, maka sepatutnyalah ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran guna menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan kepadaku.
     Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan itikad baik, sedangkan dengan berlaku angkuh demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka itu meraba-raba dalam kegelapan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 221-222, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 27 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar