Jumat, 13 November 2015

Perjanjian Allah Swt. Melalui Para Nabi Allah Mengenai Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah & Cara Maraih "Qurb Ilahi" (Kedekatan dengan Tuhan) Melalui "Penyerahan Diri" Kepada-Nya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


   ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 9

  Perjanjian Allah Swt.  Melalui Para Nabi Allah  Mengenai Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah  &  Cara Meraih Qurb Ilahi (Kedekatan   dengan Tuhan) Melalui  “Penyerahan Diri” Kepada-Nya

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan sabda   a.s. Masih Mau’ud a.s. mengkritisi agama Hindu berkenaan pandangan keliru mereka tentang Tuhan Yang Hakiki:
    “Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam, dimana di seluruh bagian India  penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari akidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Akidah seperti ini melahirkan akidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan.
  Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam Sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan Sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam Sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia? Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar?
   Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan. Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya.
   Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas.
    Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya  Dia itu bisa saja menciptakan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan.
   Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.
   Semua pembusukan agama -- beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan -- merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berfikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya.
    Hadhrat Rasulullah saw. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang haq (kebenaran),  yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 203-206, London, 1984).

Perjanjian Allah Swt. dengan Para Nabi Allah

      Perlu diketahui,  bahwa     kritikan-kritikan  yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. berbagai agama yang diturunkan sebelum agama Islam   adalah dalam kapasitas beliau sebagai  kedatangan kedua kali “Rasul Allah” yang kedatangannya dijanjikan  Allah Swt. kepada  para penganut agama-agama sebelum Islam (QS.77:12; QS.61:10), yaitu dalam rangka mengajak mereka untuk memeluk agama terakhir dan tersempurna  (QS.5:4) yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka melalui  rasul Allah, yaitu agama Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  فَمَنۡ تَوَلّٰی بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾

Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian  dari manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu,    kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar ha-rus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ  -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepadamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا  -- Mereka berkata: “Kami mengakui.”  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ  -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”  فَمَنۡ تَوَلّٰی بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ  -- Maka  barangsiapa berpaling sesudah itu, maka merekalah orang-orang fasiq. (Āli ‘Imran [3]:82-83).
  Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah mītsaq alladzīna ūtul Kitāb, yang artinya “perjanjian mereka yang diberi Kitab” (Al-Bahrul-Muhith).
       Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata berikut, yaitu:  ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   -- kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu,” sebab kepada orang-oranglah rasul-rasul Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi mereka.

Makna Mushaddiq   & Agama Islam Sebagai Realitas (Hakikat) yang Sempurna & Makna Kata Islam

     Kata mushaddiq dalam ayat ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   -- “kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu“ telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu.
Secara tepat kata itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu  seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
      Ayat 82 dianggap pula berlaku kepada para nabi Allah pada umumnya dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   pada khususnya. Kedua pemakaian itu tepat. Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum bahwa kedatangan (pengutusan) setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh seorang nabi Allah  yang mendahuluinya, ketika beliau menyuruh pengikut beliau supaya menerima nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang (QS.7:35-37).
     Jika nabi  Allah tu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari satu kaum saja  -- seperti halnya dengan Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s.   dan para nabi Bani Israil lainnya   --  maka hanya kaum itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau, tetapi  bila Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi Allah, seperti halnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw.,    maka semua bangsa harus menerima (beriman kepada) beliau saw., sebab Nabi Besar Muhammad saw. datang sebagai penyempurnaan (penggenapan) nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18;  33:2; Yahya 14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Budha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich, Delhi, 1330 Hijrah).
   Sehubungan pentingnya memilih Islam sebagai agama   -- karena merupakan agama terakhir dan paling sempurna (QS.5:4)   --  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Yang utama harus dipahami adalah apa yang dimaksud dengan realitas  (hakikat)  Islam, bagaimana cara-cara mencapai realitas (hakikat) tersebut dan apa hasil yang didapat dengan mengikuti realitas (hakikat)  demikian, karena pengetahuan mengenai hal ini merupakan inti pokok guna memahami berbagai misteri.
    Alangkah baiknya jika para lawan kita mau mempelajari masalah ini dengan tekun karena berbagai keraguan yang menerpa fikiran mereka adalah akibat dari kegagalan mereka mencerna secara sempurna realitas  (hakikat) Islam, sumber-sumbernya dan buahnya. Para lawan (penentang) agama kita juga akan memperoleh manfaat dari telaah demikian. Mereka akan bisa memahami apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang menjadi tanda-tanda kebenarannya.
  Dalam istilah bahasa Arab, kata Islam mengandung arti:  “uang yang dibayarkan untuk menyelesaikan suatu perjanjian”; atau “menyerahkan urusan kepada seseorang”; atau “mencari kedamaian”; atau “menyerah mengenai suatu hal atau pandangan”. Pengertian tehnikal (pengamalan) dari Islam dikemukakan dalam ayat:
بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
"[Tidak demikian], bahkan yang benar, barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan juga ia berbuat kebajikan, maka bagi ia ada ganjarannya di sisi Rabb-Nya (Tuhan-nya). Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka mengenai yang akan datang dan tidak pula mereka akan berdukacita mengenai apa yang sudah lampau” (Al-Baqarah [2]:113).
     Dengan demikian Islam berarti seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah Yang Maha Kuasa, yaitu orang yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam mengikuti petunjuk-Nya dan berusaha mencari keridhaan-Nya, lalu teguh melakukan amal baik (ihsan)  demi Allah Swt. dan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya untuk tujuan  tersebut. Dengan kata lain ia menjadi milik Allah sepenuhnya, baik secara akidah mau pun pelaksanaannya.
   Menjadi milik Allah secara akidah mengandung arti bahwa seseorang meyakini kalau dirinya diciptakan sebagai makhluk yang mengakui Allah Yang Maha Kuasa, kepatuhan kepada-Nya serta mencari kasih dan keridhaan-Nya.  Menjadi milik Allah dalam pelaksanaan bermakna melakukan segala sesuatu yang baik dengan segala kemampuannya secara rajin dan penuh perhatian seolah-olah melihat Wujud yang Maha Terkasih di dalam cermin ketaatannya.”  (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 57-58, London, 1984).
   Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai tiga keadaan ruhani yang dialami  para penempuh jalan ruhani (suluk) disebut fana (peniadaan diri),  baqa (hidup kembali), dan liqa (pertemuan),firman-Nya:
بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),  tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih (Al-Baqarah [2]:113).
     Wajh dalam ayat  بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ -- “Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah” berarti: wajah (muka); benda itu sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang kepadanya seseorang menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau kebaikan (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini memberi isyarat kepada ketiga taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu:  fana (menghilangkan diri), baqa (kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal dengan Allah Swt.).
    Kata-kata “berserah diri kepada Allah” berarti  segala kekuatan dan anggota tubuh kita, dan apa pun  yang menjadi bagian diri kita, hendaknya diserahkan kepada Allāh Swt.  seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau kematian yang harus ditimpakan seorang Muslim atas dirinya sendiri, yang dalam dunia tashawuf dikenal dengan istilah “mati sebelum mati”.
     Anak-kalimat kedua وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ --- “dan ia berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau kelahiran kembali, sebab bila seseorang telah melenyapkan dirinya (fana) dalam cinta Ilahi dan segala tujuan serta keinginan duniawi telah lenyap,   ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allah Swt.     dan bakti kepada umat manusia, yakni secara sempurna mengamalkan Haququllāh dan haququl ‘ibād.
    Kata-kata penutup وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ --  “tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih”  menjelaskan taraf kebaikan ketiga dan tertinggi — taraf liqa atau memanunggal (menyatu) dengan Allah Swt. Swt.  yang dalam Al-Quran (QS.89:28-31) disebut pula “jiwa yang tenteram” atau nafs muthma’innah.

Kedekatan Allah Swt. dengan Manusia

    Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan makna mengapa nama agama terakhir dan tersempurna diberi nama  Islam   dan pemeluknya disebut Muslim:
    “Realitas (hakikat)   Islam adalah seperti menyerahkan leher kita kepada Allah  Swt.  sebagaimana seekor domba kurban, meninggalkan semua keinginan diri sendiri dan mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan keridhaan Allah, melenyapkan diri di dalam Tuhan dan seolah memfanakan dirinya sendiri menjadi diwarnai dengan kasih Allah serta taat penuh kepada-Nya semata-mata karena mengharapkan Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara semata-mata berdasar perintah-Nya.
  Ini adalah tingkatan dimana semua kegiatan pencarian telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pencari itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur-Nya yang bercahaya.
   Ia itu akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah Swt.  dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya sebagaimana firman Allah:
وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿۱
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qāf [50]:17).
   Melalui cara demikian, Allah mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia.  Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya diliputi  jubah Nur-Nya
      Dengan cara demikian itulah tujuan dari agama tercapai, dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan   Allah dan surga, tidak semata-mata sebagai janji yang akan dipenuhi di akhirat, melainkan dalam kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh karunia pemandangan, komunikasi dan surga itu sendiri. Sebagaimana dinyatakan Allah  Swt.  bahwa:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb (Tuhan) kami adalah Allah” kemudian mereka bersikap teguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah dijanjikan kepadamu(Ha Mim As-Sajdah [41]:31).
   Hal ini berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa, Yang memiliki semua sifat sempurna, Yang tidak mempunyai sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat-Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu   bersikap teguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun ancaman kematian bisa menggoyang keimanan mereka.
     Allah Swt. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan dimana mereka bisa bergembira di dalamnya.
    Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi (orang-orang bertakwa) terdahulu, dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah diterima para pendahulunya itu.”  (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 160-161, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 11  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar