بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 9
Perjanjian
Allah Swt. Melalui
Para Nabi Allah Mengenai Kesinambungan
Pengutusan Rasul Allah &
Cara Meraih Qurb Ilahi (Kedekatan dengan Tuhan) Melalui “Penyerahan
Diri” Kepada-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda a.s. Masih Mau’ud a.s. mengkritisi
agama Hindu berkenaan pandangan keliru mereka tentang Tuhan Yang Hakiki:
“Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam, dimana di seluruh bagian India penyembahan berhala sudah menjadi
hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari akidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak
tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan
Sifat-sifat-Nya, dalam pandangan
bangsa Arya dianggap amat bergantung
kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Akidah seperti
ini melahirkan akidah salah lainnya
yang mengatakan bahwa semua partikel
massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan.
Kalau saja mereka mempelajari
secara mendalam Sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan Sifat-sifat
abadi-Nya dalam kegiatan
penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti
halnya manusia, lalu bagaimana
mungkin Dia dalam Sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia? Manusia tidak bisa
mendengar tanpa perantaraan udara
dan tidak bisa melihat tanpa bantuan
cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung
pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar?
Jika Dia tidak bergantung
demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun
dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan. Adalah salah sama sekali menyangka
bahwa Dia bergantung kepada yang lain
dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya.
Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia
tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan
sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas
adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas.
Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya Dia itu
bisa saja menciptakan makhluk
lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok
dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan.
Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia
bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa
melakukannya. Dari antara umat Hindu
yang memiliki selain pengetahuan
juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua
ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.
Semua pembusukan agama --
beberapa di antaranya bahkan tidak layak
disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan -- merupakan indikasi perlunya ada agama
Islam. Setiap orang yang berfikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum
turunnya Islam, agama-agama lain
telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya.
Hadhrat Rasulullah saw.
adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang haq
(kebenaran), yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia.
Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan
dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan
menjadi Nur.” (Khutbah Sialkot
berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press,
1904; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 20, hlm. 203-206, London, 1984).
Perjanjian Allah Swt. dengan Para Nabi Allah
Perlu diketahui, bahwa
kritikan-kritikan yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. berbagai agama
yang diturunkan sebelum agama Islam adalah dalam kapasitas beliau sebagai
kedatangan kedua kali “Rasul Allah”
yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada para penganut agama-agama sebelum Islam
(QS.77:12; QS.61:10), yaitu dalam rangka mengajak
mereka untuk memeluk agama terakhir
dan tersempurna (QS.5:4) yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka melalui rasul
Allah, yaitu agama Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ
حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ
اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ تَوَلّٰی بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah mengambil perjanjian dari manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab
dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu, kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan
kamu benar-benar ha-rus membantunya.” قَالَ
ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima
tanggung-jawab yang Aku bebankan kepadamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku pun beserta kamu termasuk orang-orang
yang menjadi saksi.” فَمَنۡ تَوَلّٰی
بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ -- Maka barangsiapa
berpaling sesudah itu, maka merekalah
orang-orang fasiq. (Āli ‘Imran [3]:82-83).
Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat
berarti “perjanjian nabi-nabi dengan
Tuhan” atau “perjanjian yang diambil
Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini
telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain
seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah mītsaq
alladzīna ūtul Kitāb, yang artinya “perjanjian
mereka yang diberi Kitab” (Al-Bahrul-Muhith).
Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata berikut, yaitu: ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ
لِّمَا مَعَکُمۡ -- kemudian
datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu,”
sebab kepada orang-oranglah rasul-rasul
Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi
mereka.
Makna Mushaddiq & Agama
Islam Sebagai Realitas (Hakikat) yang Sempurna & Makna Kata Islam
Kata mushaddiq
dalam ayat ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu“ telah dipakai di
sini untuk menyatakan tolok ukur yang
dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar
dapat dibedakan dari seorang pendakwa
yang palsu.
Secara tepat kata itu telah
diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”,
sebab hanya dengan “menggenapi” dalam
dirinya maka nubuatan-nubuatan yang
terkandung dalam Kitab-kitab wahyu
terdahulu seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
Ayat 82
dianggap pula berlaku kepada para nabi Allah
pada umumnya dan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. pada khususnya. Kedua pemakaian itu
tepat. Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan
umum bahwa kedatangan (pengutusan) setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu
yang dibuat oleh seorang nabi Allah yang mendahuluinya, ketika beliau menyuruh pengikut beliau supaya menerima nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang (QS.7:35-37).
Jika nabi
Allah tu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari satu kaum saja -- seperti
halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dan para nabi Bani Israil lainnya -- maka hanya kaum
itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau, tetapi bila Kitab-kitab
semua agama menubuatkan kedatangan
seorang nabi Allah, seperti halnya
mengenai Nabi Besar Muhammad saw., maka semua bangsa harus menerima
(beriman kepada) beliau saw., sebab Nabi Besar Muhammad saw. datang sebagai penyempurnaan (penggenapan) nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan
18:18; 33:2; Yahya 14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Budha dan
Zoroaster (Syafrang Dasatir
hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich,
Delhi, 1330 Hijrah).
Sehubungan pentingnya memilih Islam sebagai agama -- karena merupakan agama terakhir dan paling sempurna (QS.5:4) -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Yang utama harus dipahami adalah apa yang dimaksud
dengan realitas
(hakikat) Islam, bagaimana cara-cara
mencapai realitas (hakikat) tersebut dan apa hasil yang didapat dengan mengikuti realitas
(hakikat) demikian, karena pengetahuan mengenai hal ini merupakan inti pokok guna memahami berbagai misteri.
Alangkah baiknya jika para lawan kita mau mempelajari masalah ini dengan tekun
karena berbagai keraguan yang menerpa fikiran mereka adalah akibat
dari kegagalan mereka mencerna secara sempurna realitas (hakikat) Islam, sumber-sumbernya
dan buahnya. Para lawan (penentang) agama kita juga akan memperoleh manfaat dari telaah
demikian. Mereka akan bisa memahami
apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang menjadi tanda-tanda kebenarannya.
Dalam istilah bahasa Arab, kata Islam mengandung arti: “uang yang dibayarkan untuk menyelesaikan
suatu perjanjian”; atau “menyerahkan urusan kepada seseorang”; atau “mencari
kedamaian”; atau “menyerah mengenai suatu hal atau pandangan”. Pengertian
tehnikal (pengamalan) dari Islam dikemukakan dalam ayat:
بَلٰی ٭ مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ
لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
"[Tidak
demikian], bahkan yang
benar, barangsiapa menyerahkan dirinya
kepada Allah dan juga ia berbuat kebajikan, maka bagi ia ada ganjarannya di sisi Rabb-Nya (Tuhan-nya). Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka
mengenai yang akan datang dan tidak pula
mereka akan berdukacita mengenai apa yang sudah lampau” (Al-Baqarah [2]:113).
Dengan demikian Islam berarti seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah Yang Maha Kuasa, yaitu orang yang mengabdikan diri sepenuhnya
kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam
mengikuti petunjuk-Nya dan berusaha mencari keridhaan-Nya, lalu teguh melakukan amal baik (ihsan) demi Allah Swt. dan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya
untuk tujuan tersebut. Dengan kata lain ia menjadi milik Allah sepenuhnya, baik
secara akidah mau pun pelaksanaannya.
Menjadi milik Allah secara akidah mengandung arti bahwa
seseorang meyakini kalau dirinya diciptakan sebagai makhluk yang mengakui Allah Yang Maha Kuasa, kepatuhan kepada-Nya serta mencari kasih dan keridhaan-Nya. Menjadi milik
Allah dalam pelaksanaan bermakna melakukan
segala sesuatu yang baik dengan segala
kemampuannya secara rajin dan penuh perhatian seolah-olah melihat Wujud yang Maha Terkasih di
dalam cermin ketaatannya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
57-58, London, 1984).
Sehubungan dengan hal
tersebut Allah Swt. berfirman mengenai tiga keadaan
ruhani yang dialami para penempuh jalan ruhani (suluk) disebut fana (peniadaan diri), baqa (hidup
kembali), dan liqa (pertemuan),firman-Nya:
بَلٰی ٭ مَنۡ اَسۡلَمَ
وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ
لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
Tidak
demikian, bahkan yang
benar ialah barangsiapa berserah diri kepada
Allah dan ia berbuat ihsan
maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya
(Tuhan-nya), tidak ada ketakutan atas mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih
(Al-Baqarah
[2]:113).
Wajh
dalam ayat بَلٰی ٭ مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ -- “Tidak demikian,
bahkan yang benar ialah barangsiapa berserah diri kepada
Allah” berarti: wajah
(muka); benda itu sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang
kepadanya seseorang menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau
kebaikan (Aqrab-ul-Mawarid).
Ayat ini memberi isyarat kepada ketiga
taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu: fana (menghilangkan diri), baqa
(kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal dengan Allah Swt.).
Kata-kata “berserah diri kepada Allah” berarti
segala kekuatan dan anggota tubuh kita, dan apa pun yang menjadi bagian diri kita, hendaknya diserahkan
kepada Allāh Swt. seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau
kematian yang harus ditimpakan seorang Muslim atas dirinya sendiri,
yang dalam dunia tashawuf dikenal
dengan istilah “mati sebelum mati”.
Anak-kalimat kedua وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ --- “dan ia
berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau kelahiran kembali, sebab bila seseorang telah melenyapkan dirinya (fana) dalam cinta Ilahi dan segala tujuan
serta keinginan duniawi telah
lenyap, ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa
atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allah Swt. dan bakti
kepada umat manusia, yakni secara
sempurna mengamalkan Haququllāh dan haququl ‘ibād.
Kata-kata penutup وَ لَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- “tidak
ada ketakutan atas mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih” menjelaskan
taraf kebaikan ketiga dan tertinggi — taraf liqa atau memanunggal
(menyatu) dengan Allah Swt. Swt. yang
dalam Al-Quran (QS.89:28-31) disebut pula “jiwa yang tenteram” atau nafs
muthma’innah.
Kedekatan Allah Swt. dengan Manusia
Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan makna mengapa nama agama terakhir dan tersempurna diberi nama Islam dan pemeluknya
disebut Muslim:
“Realitas (hakikat)
Islam adalah seperti menyerahkan
leher kita kepada Allah Swt.
sebagaimana seekor domba kurban,
meninggalkan semua keinginan diri
sendiri dan mengabdi sepenuhnya
kepada keinginan dan keridhaan Allah, melenyapkan diri di dalam Tuhan
dan seolah memfanakan dirinya
sendiri menjadi diwarnai dengan kasih Allah serta taat penuh kepada-Nya
semata-mata karena mengharapkan
Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan
mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara
semata-mata berdasar perintah-Nya.
Ini adalah tingkatan dimana
semua kegiatan pencarian telah berakhir, kemampuan manusia telah
menyelesaikan semua fungsi-fungsinya
dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah
rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pencari itu hidup yang baru
melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur-Nya yang bercahaya.
Ia itu akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah Swt. dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan
masuk ke dalam hatinya sebagaimana
firman Allah:
وَ
نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿۱ ﴾
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya” (Qāf [50]:17).
Melalui cara demikian, Allah mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia.
Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan
diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat
Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya diliputi jubah
Nur-Nya.
Dengan cara demikian itulah tujuan
dari agama tercapai, dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan
rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan
Allah dan surga, tidak
semata-mata sebagai janji yang akan
dipenuhi di akhirat, melainkan dalam
kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh
karunia pemandangan, komunikasi
dan surga itu sendiri. Sebagaimana
dinyatakan Allah Swt. bahwa:
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb (Tuhan) kami adalah Allah” kemudian mereka bersikap teguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula
berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah
dijanjikan kepadamu” (Ha Mim As-Sajdah [41]:31).
Hal ini
berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan
bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa, Yang memiliki semua sifat sempurna, Yang tidak
mempunyai sekutu dalam Wujud
maupun Sifat-sifat-Nya, dimana
setelah mengikrarkan demikian mereka
lalu bersikap teguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun
ancaman kematian bisa menggoyang
keimanan mereka.
Allah Swt. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana
atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia
ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga
di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan
dimana mereka bisa bergembira di
dalamnya.
Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati
yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi (orang-orang bertakwa) terdahulu, dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah
diterima para pendahulunya itu.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm.
160-161, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar