بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,Semoga Allah memberi shalawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah
kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Bab 13
Kesempurnaan Derajat
Nabi Besar Muhammad Saw. dan Para Pengikut
Hakiki Beliau saw. Sebagai “Umat yang Terbaik”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai TUJUAN
AGAMA, dalam Bab-bab selanjutnya akan dikemukakan sabda beliau mengenai NABI SUCI MUHAMMAD RASULULLAH SAW., sebab
tanpa keberadaan Rasul Allah tidak
akan ada seorang pun yang dapat
melaksanakan hukum-hukum syariat dalam bentuk pengamalannya yang
dikehendaki Allah Swt., terutama agama
Islam (Al-Quran) yang merupakan syariat
dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), firman-Nya:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ
الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan
sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa
Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki,
sesungguhnya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada
engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ
مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ وَ
لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- Engkau
sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki
dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke
jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- yaitu
Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah
segala perkara kembali. (Asy-Syurā[42]:52-54).
Firman-Nya lagi:
مَاۤ اَفَآءَ
اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ مِنۡ
اَہۡلِ الۡقُرٰی فَلِلّٰہِ وَ لِلرَّسُوۡلِ وَ لِذِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡیَتٰمٰی وَ
الۡمَسٰکِیۡنِ وَ ابۡنِ السَّبِیۡلِ ۙ کَیۡ لَا یَکُوۡنَ دُوۡلَۃًۢ
بَیۡنَ الۡاَغۡنِیَآءِ مِنۡکُمۡ ؕ وَ مَاۤ اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ ۘ﴿﴾
Harta apa
pun yang Allah berikan kepada Rasul-Nya
sebagai ghanimah dari warga kota, itu bagi Allah dan bagi Rasul dan bagi kaum
kerabat dan anak yatim dan orang miskin dan orang musafir, supaya harta itu
tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya dari kamu. وَ مَاۤ اٰتٰىکُمُ
الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا
-- dan apa yang diberikan Rasul
kepada kamu maka ambillah itu,
dan apa yang dia melarang kamu
darinya maka hindarilah, وَ
اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya hukuman Allah sangat keras. (Al-Hasyr [59]:8).
Pentingnya Kedudukan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw. & Kesempurnaan
Suri Teladan Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata-kata وَ مَاۤ اٰتٰىکُمُ
الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ -- dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka
ambillah, menunjukkan bahwa sunnah Nabi
Besar Muhammad saw. merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari syariat Islam. Dengan demikian
jelaslah mereka yang menamakan dirinya golongan “ingkarus-sunnah”
-- dan menganggap cukup hanya berpedoman pada Al-Quran saja -- memiliki pemahaman keliru, sebab Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. itulah
yang merupakan pengamalan dari petunjuk
Al-Quran, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ
وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah
aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”,
kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah
sesungguh-nya Allah tidak mencintai orang-orang
kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Berkenaan dengan kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. serta “perpaduan” sempurna atau “manunggal” beliau saw. dengan Allah Swt. Dia berfirman:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا
فَتَدَلّٰی ۙ﴿ ﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang
apabila jatuh. Sahabat kamu tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.
Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.
Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya.
Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian
ia, Rasulullah, mendekati Allah,
lalu Dia kian dekat kepadanya,
فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih
dekat lagi. (An-Najm [53]:1-9).
“Perpaduan”
(Manunggal) Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.
Berikut adalah beberapa firman Allah Swt. mengenai “perpaduan” (manunggal) Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.
dari segi Sifat dan tindakan, dan merupakan salah satu dalil mengapa dalam Dua
Kalimah Syahadat Nabi Besar Muhammad saw. disandingkan dengan Allah Swt.:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan kamu yang membunuh mereka
melainkan Allah yang telah membunuh
mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ
اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan
supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Firman-Nya
lagi:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ
اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ
وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ
اللّٰہَ فَسَیُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya
mereka baiat kepada Allah. یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ
اَیۡدِیۡہِمۡ -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah
dia janjikan kepada Allah
maka Dia segera akan memberinya ganjaran
yang besar. (Al-Fath [48]:11).
“Umat Terbaik”
yang Bermanfaat bagi Seluruh Manusia
Kesempurnaan pengajaran
dan suri-teladan seorang guru akan nampak dari keadaan anak-didiknya, demikian pula halnya
dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
“suri teladan terbaik”
(QS.33:22) yang telah menghasilkan para pengikut sebagai “khayra ummah -- umat terbaik
QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam diri Rasulullah benar-benar terdapat suri
teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:41).
Kemudian mengenai para pengikut beliau saw. --
terutama para sahabah beliau
saw. --
Allah Swt. berrfirman:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ
لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ
الۡمُنۡکَرِ وَ
تُؤۡمِنُوۡنَ
بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ
اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat makruf,
dan melarang dari berbuat munkar, dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya
akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan
mereka orang-orang fasik. (Āli ‘Imran [3]:111). Lihat pula
QS.2:144.
Nabi Besar Muhammad saw. seoranng Nabi
Allah yang ummiy (buta-huruf –
QS.7:158), tetapi menghasilkan berbagai penulis
yang menghasilkan karya-karya monumental,
baik dalam bidang agama -- terutama tashawuf – mau pun bidang pengetahuan lainnya, firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ نٓ وَ
الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿﴾ مَاۤ اَنۡتَ
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّ لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ اِنَّکَ
لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Nūn,
demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka tulis. Dengan nikmat
Rabb (Tuhan) engkau, engkau
sekali-kali bukanlah orang gila. وَ اِنَّ
لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ -- Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada
ganjaran tanpa putus-putusnya. وَ
اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung. (Al-Qalam
[68]:1-6).
Tokoh-tokoh ‘Ulama Tasawuf yang Tersohor
Dari sekian banyak tokoh-tokoh ilmu tasawuf yang tersohor pada zaman dahulu yang menghasilkan karya-karya tulis yang monumental di antaranya adalah:
1. Ibn Athaillah as-Sakandary. Nama lengkapnya Ahmad ibn Muhammad Ibn Athaillah as Sakandary
(w. 1350M), dikenal seorang Sufi
sekaligus muhadits yang menjadi faqih dalam madzhab Maliki serta tokoh
ketiga dalam tarikat al Syadzili. Penguasaannya akan hadits dan fiqih membuat
ajaran-ajaran tasawufnya memiliki
landasan nas dan akar syariat yang kuat.
Karya-karyanya amat menyentuh dan diminati semua kalangan, diantaranya Al Hikam, kitab ini ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran spiritual di
kalangan murid-murid tasawuf. Kitab lainnya, Miftah Falah Wa Wishbah Al Arwah (Kunci Kemenangan dan Cahaya
Spiritual), isinya mengenai dzikir, Kitab
al Tanwir Fi Ishqat al Tadhbir (Cahaya Pencerahan dan Petunjuk Diri
Sendiri), yang disebut terakhir berisi tentang metode madzhab Syadzili dalam menerapkan nilai Sufi, dan ada lagi kitab
tentang guru-guru pertama tarekat Syadziliyah - Kitab Lathaif Fi Manaqib Abil Abbas al Mursi wa Syaikhibi Abil Hasan.
2. Al Muhasibi. Nama lengkapnya Abu Abdullah Haris Ibn Asad (w. 857).
Lahir di Basrah. Nama "Al Muhasibi" mengandung pengertian "Orang yang telah menuangkan karya mengenai
kesadarannya". Pada mulanya ia tokoh muktazilah dan membela ajaran rasionalisme muktazilah. Namun belakangan dia meninggalkannya dan beralih kepada
dunia sufisme dimana dia memadukan antara filsafat dan teologi. Sebagai guru Al
Junaed, Al Muhasibi adalah tokoh intelektual yang merupakan moyang dari Al
Syadzili. Al Muhasibi menulis sebuah karya "Ri'ayah Li Huquq Allah", sebuah karya mengenai praktek
kehidupan spiritual.
3. Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166). Beliau adalah seorang Shufi yang sangat terkenal dalam agama Islam. Ia
adalah pendiri tharikat Qadiriyyah, lahir di Desa Jilan, Persia, tetapi
meninggal di Baghdad Irak. Abdul Qadir mulai
menggunakan dakwah Islam setelah berusia 50 tahun. Dia mendirikan sebuah
tharikat dengan namanya sendiri.
Syeikh Abdul Qadir disebut-sebut sebagai Quthb (poros spiritual) pada zamannya,
dan bahkan disebut sebagai Ghauts Al ‘Azham (pemberi pertolongan terbesar), sebutan tersebut
tidak bisa diragukan karena janjinya untuk memperkenalkan prinsip-prinsip spiritual yang penuh kegaiban.
Buku karangannya yang paling populer adalah Futuh Al Ghayb (menyingkap kegaiban).
Melalui Abdul Qadir tumbuh gerakan sufi melalui bimbingan guru tharikat
(mursyid). Jadi Qadiriyah adalah tharikat yang paling pertama berdiri.
4. Al Hallaj. Nama lengkapnya Husayn Ibn Mansyur Al Hallaj (857-932),
seorang Sufi Persia dilahirkan di Thus yang dituduh musyrik oleh khalifah
dan oleh para ulama Abbasiyah di Baghdad oleh karenanya dia dihukum mati. Al Hallaj pertama kali menjadi murid
Tharikat Syeikh Sahl di Al Tutsari,
kemudian berganti guru pada Syeikh Al
Makki, kemudian mencoba bergabung menjadi murid Al Junaed Al Baghdadi tetapi ditolak.
Al Hallaj terkenal karena ucapan
ekstasisnya "Ana Al Haqq"
artinya “Akulah Yang Maha Mutlak, Akulah Yang Maha Nyata”, bisa juga berarti "Akulah Tuhan", mengomentari masalah
ini Al Junaid menjelaskan "melalui yang Haq engkau terwujud",
ungkapan tersebut mengandung makna sebagai penghapusan
antara manusia dengan Tuhan.
Menurut
Junaid "Al ‘abd yahqa al ‘abd al Rabb yahqa al Rabb" artinya pada ujung
perjalanan "manusia tetap sebagai
manusia dan Tuhan tetap menjadi Tuhan". Pada jamannya Al Hallaj dianggap musyrik, akan tetapi setelah kematiannya justru ada gerakan penghapusan bahkan Al Hallaj
disebut sebagai martir atau syahid. Sampai sekarang Al Hallaj tetap
menjadi teka-teki atau misteri karena masih pro dan kontra.
Tokoh-tokoh Tasawuf Moderat dan
Ajarannya
1. Junaid Al-Baghdadi. Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad
al-Kazzaz al-nihawandi. Dia adalah seorang putera pedagang barang pecah-belah dan keponakan Surri al-Saqti serta teman akrab dari
Haris al-Muhasibi. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 297/910 M. dia termasuk
tokoh sufi yang luar biasa, yang teguh dalam menjalankan syari`at agama,
sangat mendalam jiwa kesufiannya. Al-Junaid dikenal dalam sejarah tasawuf sebagai seorang sufi yang banyak membahas tentang tauhid. Pendapat-pendapatnya dalam
masalah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab biografi para sufi, antara
lain sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Qusyairi: “orang-orang yang meng-Esa-kan Allah adalah mereka yang
merealisasikan ke-Esa-an-Nya dalam arti sempurna, meyakini bahwa Dia
adalah Yang Maha Esa, dia tidak beranak dan diperanakkan.”
Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan penyucian
dan perjuangan kejiwaan yang tidak
ada habis-habisnya. Disamping menguraikan paham tauhid dengan karakteristik para sufi, Al-Junaid juga mengemukakan ajaran-ajaran tasawuf
lainnya.
2. Al-Qusyairi An-Naisabury. Dialah Imam Al-Qusyary
an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima hijriah. Tepatnya pada
masa pemerintahan Bani Saljuk. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al-Qusyairy, nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul
Malik ibn Thalhah ibn Muhammad. Ia lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun
376 H atau 986 M.
Pada
awalnya, kepergiannya ke Naisabur untuk mempelajari matematika. Hal ini dilakukan karena Al-Qusyairy merasa terpanggil
menyaksikan penderitaan masyarakatnya, yang dibebani biaya pajak tinggi oleh penguasa saat itu. Dengan mempelajari matematika ia berharap dapat menjadi petugas penarik pajak dan meringankan kesulitan masyarakat saat itu.
Naisabur merupakan kota yang menyimpan peluang besar untuk perkembangan
berbagai macam disiplin ilmu, karena banyak kaum intelektual yang hidup disana.
Di kota inilah, untuk pertama kalinya Al-Qusyairy bertemu bertemu Sheikh Abu ‘Ali Hasan ibn ‘Ali an-Naisabury,
yang lebih dikenal dengan panggilan Ad-Daqqaq.
Dari Ad-Daqqaq pula Al-Qusyairy mempelajari
banyak hal, tidak hanya terbatas tasawuf, tetapi juga ilmu-ilmu keislaman
yang lain. Al-Qusyairy mampu memahami dengan baik semua pengetahuan yang
diajarkan gurunya. Dari sinilah Ad-Daqqaq menyadari kemampuan intelektual Al-Qusyairy. Mungkin, hal
ini menjadi salah satu faktor yang mendorong inisiatif Ad-Daqqaq untuk
menikahkan putrinya, Fatimah dengan Al-Qusyairy.
Penulisan risalah hanya sekadar pengobat
keluhan atas persoalan yang menimpa dunia
tasawuf kala itu. Imam Al-Qusyairy merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang berkembang pada
masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang tercantum pada
pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.
Karya-karya beliau adalah: Ahkaamu as-Syariah, kitab yang membahas
masalah-masalah Fiqh; Adaabu as-Shufiyyah, tentang Tasawuf; al-Arbauuna fil Hadis, kitab ini berisi 40
buah hadits yang sanadnya tersambung dari gurunya Abi Ali Ad-Daqqaq ke Rasulullah.
Karya lainnya adalah Kitab Istifaadatul Muraadaats, Kitab Bulghatul Maqaashid fii al-Tasawwuf,
Kitab at-Tahbir fii Tadzkir, Kitab Tartiibu as-Suluuki fii Tariqillahi Ta’ala
yang merupakan kumpulan makalah beliau tentang Tasawwuf, Kitab At-Tauhidu an-Nabawi, Kitab At-Taisir fi ‘Ulumi at-Tafsir atau lebih
dikenal dengan al-Tafsir al-Kabir.
Kitab Ini merupakan
buku pertama yang ia tulis, yang penyusunannya selesai pada tahun 410 H/1019 M.
Menurut Tajuddin as-Syubkhi dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir tersebut
merupakan kitab tafsir terbaik dan
terjelas. Menurut Syuja’al-Hazaly, Imam Al-Qusyairy menutup usia di Naisabur pada
pagi Hari Ahad, tanggal 16 Rabiul Awal 465 H/ 1073 M, dalam usia 87 tahun.
3. Al-Harawi. Nama lengkapnya adalah Abu isma`il `Abdullah bin Muhammad al-Ansari. Beliau lahir tahun
396 H. di Heart, kawasan khurasan. Seperti dikatakan Louis Massignon, dia
adalah seorang faqih dari madzhab hambali, dan karya-karyanya di bidang tasawuf dipandang amat bermutu.
Sebagai tokoh sufi pada abad kelima Hijriyah, dia
mendasarkan tasawufnya di atas doktrin Ahl
al-Sunnah. Bahkan ada yang memandangnya sebagai pengasas gerakan pembaharuan dalam tasawuf dan penentang
para sufi yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan
yang aneh seperti Al-Bustami dan Al-Hallaj.
Di antara karya-karya beliau tentang tasawuf adalah Manazil al-Sa`irin ila Rabb al-`Alamin. Dalam dalam karyanya yang
ringkas ini, dia menguraikan tingkatan-tingkatan
ruhaniyah para sufi, di
mana tingkatan para sufi tersebut, menurutnya, mempunyai awal dan akhir,
seperti katanya; ”Kebanyakan ulama kelompok ini sependapat bahwa
tingkatan akhir tidak dipandang benar kecuali dengan benarnya tingkatan awal,
seperti halnya bangunan tidak bisa tegak kecuali didasarkan pada fondasi. Benarnya
tingkatan awal adalah dengan menegakkannya di atas keihklasan serta keikutannya
terhadap al-Sunnah”.
Dalam kedudukannya sebagai
seorang penganut paham sunni, Al-Harawi melancarkan kritik terhadap para sufi yang terkenal dengan keanehan ucapan-ucapannya,
sebagaimana katanya. Dalam kaitannya dengan masalah ungkapan-ungkapan
sufi yang aneh tersebut, Al-Harawi berbicara tentang maqam ketenangan (sakinah).
Maqam ketenangan timbul dari
perasaan ridha yang aneh, ia mengatakan: “Peringkat ketiga (dari
peringkat-peringkat ketenangan) adalah ketenangan yang timbul dari perasaan
ridha atas bagian yang diterimanya.
Ketenangan tersebut bisa mencegah ucapan aneh yang menyesatkan dan membuat orang yang
mencapainya tegak pada batas tingkatannya.”
Yang dimaksud dengan “ucapan yang
menyesatkan” itu adalah seperti ungkapan-ungkapan
yang diriwayatkan dari Abu Yazid dan lain-lain. Berbeda dengan Al-Junaid, Sahl al-Tusturi dan lainnya karena mereka ini memiliki ketenangan yang membuat mereka tidak
mengucapkan ungkapan-ungkapan yang aneh. Karena itu dapat dikatakan bahwa ungkapan-ungkapan yang aneh tersebut timbul dari ketidak-tenangan, sebab seandainya ketenangan
itu telah bersemi di kalbu, maka hal
itu akan membuatnya terhindar dari mengucapkan ungkapan-ungkapan yang menyesatkan
tersebut.
Kemudian yang dimaksud dengan batas
tingkatan adalah tegaknya seorang sufi pada batas tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Tegasnya, di sekali-kali tidak melewati tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Ketenangan tersebut, menurut Al-Harawi tidak di
turunkan kecuali pada kalbu seorang nabi
atau wali.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 15 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar