بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 11
Kesinambungan Keberkatan
Islam Sebagai Bukti Agama Islam
Merupakan Agama yang “Hidup” dan
Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah
Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai berbagai bukti “Kebersamaan” para pengamal
ajaran Islam yang sempurna dengan
Allah Swt.:
"Ketika ia sampai pada taraf demikian maka doa-doanya
telah didengar sebagai tanda
bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata
sebagai suatu cobaan (ujian). Ia akan menjadi bukti eksistensi
(keberadaan) Allah di muka bumi dan
menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya
dan berkat (keberkatan) dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan
kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari
segala keraguan yang akan langsung
turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi.
Nur tersebut membawa rasa
kesenangan yang efektif
(berpengaruh) dan memberikan kepuasan,
keselesaan (ketentraman) dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi
dengan Tuhan seperti ini dibanding
dengan wahyu adalah bahwa wahyu
merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba
Allah yang terpilih.
Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Ruhulqudus, dan segala niat
mereka merupakan hembusan nafas Ruhul
qudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan
dari ayat:
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan
oleh Allah (An-Najm [53]:4-5).
Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi (pernyataan) khusus
dari Allah Yang Maha Agung yang
disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya
adalah memberikan kesan dari terkabulnya
doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan
sesuatu yang baru atau rahasia, atau menyangkut suatu kejadian di masa depan, atau menyampaikan keridhaan
atau teguran Ilahi mengenai apa pun, atau juga untuk memberikan kepastian dan pemahaman mengenai suatu hal.
Semua itu merupakan firman Ilahi
yang dimanifestasikan (nyatakan)
dalam bentuk percakapan dalam rangka menciptakan
pemahaman dan kepuasan.
Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara
yang datang dari Allah dan diterima
dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi (kenyataan) dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi (pantulan) atau perasaan
dirinya sendiri.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
226-233, London, 1984).
Hanya Islam Agama yang Benar
Selanjutya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan keyakinan beliau berkenaan kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) atas dasar pengalaman pribadinya:
“Aku hanya beriman kepada Islam
saja sebagai satu-satunya agama yang benar, dan aku
menganggap agama-agama lain sebagai kumpulan berkas kepalsuan. Aku meyakini bahwa dengan beriman kepada agama Islam maka curahan Nur mengalir di
seluruh tubuhku. Melalui kecintaan kepada Hadhrat Rasulullah saw. aku telah mencapai
tingkat kedekatan samawi yang tinggi,
serta terkabulnya doa-doaku yang hanya bisa dicapai oleh seorang pengikut
Nabi yang benar Rasulullah saw.
dan bukan dengan cara lain.
Kalau umat Hindu dan Kristen atau pun yang lainnya memohon kepada tuhan-tuhan palsu
mereka -- bahkan sampai mati pun --
mereka tidak akan pernah mencapai tingkatan
tersebut. Aku benar-benar mendengar suara Tuhan, yang bagi orang lain
baru menjadi teori saja.
Aku telah diperlihatkan dan diberitahukan
serta dijadikan menyadari bahwa hanya Islam saja yang merupakan agama
yang benar di dunia. Juga diungkapkan kepadaku bahwa semua yang aku terima itu adalah karena
berkat
dari mengikuti Khātamul Anbiya saw. dan padanannya tidak akan
ditemukan pada agama lainnya, karena
semua agama itu adalah palsu.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
275-276, London, 1984).
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.
menyatakan rasa syukur beliau kepada
Allah Swt. yang telah menjadikan beliau di Akhir
Zaman ini sebagai “saksi” atas kesempurnaan agama Islam (Al-Quran – QS.5:4) dan keluhuran akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22; QS.68:5), serta menjadi
peraih nikmat ruhani tertinggi berupa
kenabian, sebagaimana yang dijanjikan Allah Sat. kepada para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. (QS.1:6-7), firman-Nya:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah
Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisa [4]:70-71).
Mirza Ghulam Ahmad a.s. bukan hanya mendapat kehormatan dari Allah Swt. sebagai Rasul Akhir Zaman (QS.61:10)
yang kedatangannya ditunggu-tunggu
oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12), antara lain sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) atau Masih Mau’ud a.s.,
bahkan menjadi kedatangan kedua kali secara
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dari
“kaum akharīn umat Islam” (QS.62:4-5).
Sehubungan dengan hal tersebut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Beribu syukur bagi Allah
Yang Maha Kuasa yang telah menganugrahkan
kepada kita sebuah agama yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan
mengenai dan ketakutan kepada Tuhan, yang tidak ada padanannya sepanjang masa. Beribu
berkat semoga diturunkan kepada Yang
mulia Nabi Suci saw. yang melaluinya
kita masuk dalam agama ini, dan beribu rahmat semoga dilimpahkan kepada
para sahabat beliau yang telah mengairi taman ini dengan darah
mereka.
Islam
adalah agama yang demikian diberkati dan dekat dengan Tuhan,
sehingga orang yang mengikutinya dengan tulus dan mematuhi semua ajaran, larangan dan petunjuknya -- sebagaimana
diutarakan dalam Kitab Suci Allah Yang Maha Luhur yaitu Al-Quran -- maka ia akan berjumpa Tuhan bahkan dalam kehidupan ini sekarang.
Untuk mengenali Tuhan Yang tersembunyi dari pandangan dunia di belakang ribuan cadar, tidak ada cara lain kecuali dengan mengikuti ajaran Al-Quran. Al-Quran Suci menuntun
kita menuju Allah Yang Maha Perkasa
melalui penalaran dan tanda-tanda samawi dengan cara
yang mudah. Kitab ini mengandung berkat
dan kekuatan magnetis yang akan menarik seorang pencari Tuhan ke arah Wujud-Nya serta memberikan Nur, kepuasan dan kenyamanan.
Seorang yang beriman sepenuhnya
kepada Al-Quran, tidak hanya akan merenungi bahwa selayaknya ada sosok Pencipta dari alam yang begini
indah, sebagaimana yang dilakukan para filosof, tetapi ia juga akan memperoleh wawasan batin dan dikaruniai
kasyaf mulia yang dilihat dengan keyakinan pandangan bahwa Sang Pencipta itu
memang benar-benar ada.
Ia yang dikaruniai dengan Nur dari firman suci itu
tidak hanya akan menerka-nerka saja -- sebagaimana mereka yang bersandar kepada logika semata bahwa
Tuhan itu Esa, tanpa sekutu -- tetapi melalui beratus tanda-tanda
cemerlang yang menuntunnya
keluar dari kegelapan, melihat
sebagai suatu kenyataan bahwa Allah
memang tidak mempunyai sekutu, baik dalam Wujud-Nya
mau pun dalam Sifat-sifat-Nya. Ia akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa ia meyakini Ketauhidan Ilahi.
Keagungan dari Ketauhidan
Ilahi memenuhi seluruh relung
kalbunya sehingga sejalan dengan kehendak Ilahi ia akan memandang seluruh dunia ini tidak
lebih baik daripada melihat serangga mati dan bahkan tidak berarti apa-apa sama sekali.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 21, hlm. 25-26, London, 1984).
Berkat Berkesinambungan Islam
Kemudian sehubungan dengan berkat berkesinambungan dari agama Islam Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Tuhan dari sebuah agama
yang benar harus sejalan dengan logika dan sifat alam
sehingga eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya bisa menjadi bukti bagi mereka yang berakal
namun tidak memiliki kitab samawi
yang bisa mereka imani. Tuhan
demikian harus terbebas dari citra paksaan atau kepalsuan. Kesempurnaan seperti itu menjadi ciri dari Tuhan
yang dikemukakan oleh Kitab Suci
Al-Quran.
Para penganut agama lain
sudah meninggalkan Tuhan yang asli sebagaimana yang
dilakukan umat Kristen, atau mereka
telah mengenakan sifat-sifat rendah dan tidak
patut kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh para pagan (penyembah berhala) dan bangsa
Arya.
Tuhan dalam agama
Islam adalah Tuhan Yang benar yang bisa dilihat melalui cermin hukum alam dan nyata pada alam itu sendiri. Islam
tidak ada menciptakan Tuhan yang baru, tetapi
mengemukakan Tuhan yang sama
sebagaimana digambarkan oleh nur
hati dan kesadaran manusia, serta digambarkan oleh langit dan bumi.
Sifat lain suatu agama yang benar
adalah bahwa agama itu bukan merupakan kredo (kepercayaan) yang mati.
Berkat
dan keagungan yang dikembangkan
di dalamnya dari sejak awal harus
tetap ada sampai dengan akhir dunia demi peningkatan kesejahteraan umat manusia. Melalui tanda-tanda yang baru bisa diteguhkan tanda-tanda di masa
lalu, dan dengan cara ini maka Nur kebenarannya tidak akan usang menjadi dongeng lama.
Aku sudah lama selalu menulis bahwa kenabian
sebagaimana pengakuan dari Penghulu dan Junjungan kita Muhammad saw.
serta bukti-bukti samawi dalam bentuk tanda-tanda yang
beliau kemukakan, masih tetap berlaku di dalam Islam dan dikaruniakan
kepada para pengikut beliau agar
mereka bisa mencapai tingkat pemahaman yang sempurna dan menyaksikan Allah Swt.
secara langsung.
Tanda-tanda yang katanya
berasal dari Nabi Isa a.s. adalah dongeng
semata dan tidak bisa ditemukan
dimana pun, sehingga agama yang mengajarkan penyembahan
manusia yang telah mati dengan sendirinya menjadikan
agama
itu sendiri mati. Kebenaran
tidak bisa dibatasi hanya kepada dongeng-dongeng
lama. Setiap orang memiliki segudang
cerita-cerita tentang apa yang dianggapnya sebagai mukjizat dan keajaiban.
Merupakan karakteristik (sifat) agama
Islam bahwa agama ini tidak
hanya menyajikan keselesaan
(ketentraman) dari hikayat dan dongeng, tetapi juga memberikan kepuasan
batin bagi sang pencari
dengan tanda-tanda yang hidup. Seorang pencari
kebenaran tidak akan puas
dengan penyembahan sia-sia terhadap
sosok yang telah mati dan tidak akan menerima dongeng-dongeng rombengan.
Kita ini ibarat memasuki pasar
dunia untuk membeli
hanya yang terbaik saja. Kita tidak seharusnya mensia-siakan keimanan
kita dengan membarternya dengan barang-barang palsu. Agama
yang hidup adalah agama yang memungkinkan kita menemui Tuhan Yang Maha Hidup. Tuhan Yang hidup adalah Dia Yang bisa mengilhami kita secara langsung atau sekurang-kurangnya membawa kita kepada seseorang
yang menerima ilham secara langsung.
Aku mengumandangkan ke seluruh dunia bahwa Tuhan dari agama
Islam adalah Tuhan Yang hidup.
Mereka yang tidak lagi bisa diajak bicara adalah karena mereka
sudah mati dan jelas bukan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa melihat tanda-tanda
mereka pada masa ini. Ia yang tuhannya sudah mati akan dipermalukan di
segala bidang, akan direndahkan dan tidak akan ditolong dengan cara apa pun.
Tujuanku dalam mengumumkan hal ini adalah untuk
menunjukkan bahwa sebuah agama yang benar tidak akan berubah. Sebagaimana adanya di awal turunnya akan begitu
juga adanya di akhir masa. Sebuah agama yang benar tidak akan pernah menjadi dongeng-dongeng kuno. Islam
adalah agama yang benar
dan aku menghimbau semua orang
-- baik Kristiani, Arya, Yahudi, Brahmo dan lain-lain --
untuk menyaksikan kebenaran Islam.
Adakah dari antara mereka itu yang berhasrat
mencari Tuhan yang hidup? Kami tidak
menyembah sosok mati. Tuhan kami itu hidup. Dia menolong
kami melalui ilham, wahyu dan tanda-tanda samawi. Jika ada seorang saja penganut agama Kristen yang serius memang mencari kebenaran, biarlah ia mengadakan
suatu perbandingan di antara Tuhan kami Yang hidup dengan tuhannya
yang mati. Untuk pengujian demikian, kurun waktu 40 hari kiranya memadai.” (Majmua Ishtiharat, jld. 2, hlm. 310-312).
Tanda-tanda Abadi Kebenaran
Islam & Makna Sijjīn dan ‘Illiyīn
Walau pun di dalam Al-Quran terdapat berbagai kisah kaum-kaum
purbakala yang kepada mereka Allah
Swt. mengutus para Rasul Allah,
tetapi tidak berarti bahwa Al-Quran
merupakan kitab “kumpulan dongeng kaum purbakala” -- sebagaimana tuduhan orang-orang yang “buta mata ruhaninya” (QS.17:73;
QS.20:125-129) -- melainkan benar-benar merupakan kitab petunjuk
bagi seluruh umat manusia (QS.2:188)
walau pun diwahyukan di
kalangan bangsa Arab kepada Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), firman-Nya:
کَلَّاۤ اِنَّ
کِتٰبَ الۡفُجَّارِ لَفِیۡ
سِجِّیۡنٍ ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا سِجِّیۡنٌ ؕ﴿﴾ کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ؕ﴿﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾ وَ مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِذَا تُتۡلٰی
عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا
یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ کَلَّاۤ
اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ
اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ
﴿ؕ﴾ ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ
تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab para pendurhaka adalah di dalam sijjīn. Dan apakah yang
engkau ketahui, apa sijjīn
itu? Yaitu
sebuah kitab tertulis. 11.
Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, yaitu
orang-orang yang mendustakan Hari
Pembalasan. Dan sekali-kali tidak ada yang mendusta-kannya kecuali setiap pelanggar batas lagi sangat berdosa. اِذَا
تُتۡلٰی عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Apabila Tanda-tanda
Kami dibacakan kepadanya ia berkata:
“Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!”
کَلَّا بَلۡ
ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Sekali-kali
tidak, bahkan apa
yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada
hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat Rabb
(Tuhan) mereka. ثُمَّ اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ -- Kemudian
sesungguhnya mereka pasti masuk ke dalam Jahannam. ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ
بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ -- Kemudian
dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu dustakan.” (Al-Muthaffifīn [83]:8-18).
Sijjīn dianggap
oleh sementara ahli tafsir Al-Quran dengan keliru sebagai suatu kata bukan
bahasa Arab, namun menurut beberapa sumber terkemuka seperti Farra’, Zajjaj,
Abu Ubaidah, dan Mubarrad, kata itu memang bahasa Arab yang diambil dari kata sajana.
Lisan-al-Arab menganggapnya sama dengan sijn (penjara).
Sijjīn adalah buku registrasi di
dalamnya tercatat segala perbuatan jahat
yang dilakukan oleh para penjahat
yang konon tersimpan di alam akhirat.
Kata itu berarti pula sesuatu
yang keras, hebat, dan dahsyat; berkesinambungan, lestari atau kekal abadi
(Lexicon Lane).
Jadi, kata sijjīn menunjukkan bahwa hukuman
bagi orang-orang kafir durjana itu
akan amat keras dan kekal. Atau ayat ini dapat berarti bahwa
orang-orang durjana yang ditempatkan
di dalam suatu tempat hina lagi nista, dan keputusan itu tidak dapat dibatalkan
lagi.
Atau, sijjīn dan ‘illiyyīn (QS.83:20) itu mungkin dua bagian yang dituturkan Al-Quran; yang pertama membicarakan orang-orang yang menolak Amanat Allah Swt.
serta hukuman yang akan dijatuhkan
kepada mereka, sedang yang terakhir (‘illiyyīn) membicarakan hamba-hamba Allah Swt. yang bertakwa
serta ganjaran-ganjaran yang akan dianugerahkan
kepada mereka. Jadi maksud ayat ini ialah bahwa keputusan yang tercantum di dalam kedua bagian Al-Quran itu
tidak dapat diubah atau diganti.
Makna ayat کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ -- “Sekali-kali tidak,
bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka
benar-benar terhalang dari melihat Rabb (Tuhan) mereka”. Nikmat
melihat Wajah Allah dianugerahkan
kepada orang beriman melalui dua tingkat:
1.
Tingkat pertama ialah tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada Sifat-sifat
Allah Swt..
2.
Tingkat kedua atau tingkat lebih tinggi berupa anugerah kenyataan mengenai Dzat Ilahi. Orang-orang berdosa
disebabkan dosa-dosa mereka akan
tetap luput dari makrifat Dzat Ilahi pada Hari
Pembalasan mereka tidak akan melihat
Wajah Allah, yakni mereka dkan dibangkitkan dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129).
Kelestarian Berkat-berkat
Al-Quran di Berbagai Zaman
Sehubungan dengan tuduhan dusta orang-orang yang “buta mata ruhaninya” mengenai kesempurnaan Al-Quran tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sifat-sifat agama Islam
sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di
masa lalu saja seperti sisa-sisa
reruntuhan makam-makam kuno. Islam
bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya
telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa
di masa depan.
Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya, yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat
di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya
tidak hanya di masa lalu tetapi juga
di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surge, dan
ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi (keberadaan) dan kekuasaan
Tuhan Yang kepada-Nya ia beriman.
Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini,
karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri,
mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian
masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat.
Setiap abad dimulai dengan dunia
yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam -- yang adalah Tuhan yang sebenarnya
-- memanifestasikan
(menampakkan) tanda-tanda baru
bagi setiap dunia yang baru.
Di awal abad yang baru,
khususnya pada awal abad dimana
manusia sudah sangat jauh melenceng
dari agama, integritas (ketulusan hati/kejujuran), dan yang terselubung
kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang
nabi substitusi (nabi
pengganti/nabi bayangan), yang dalam cerminan dari sifatnya akan diperlihatkan
sebagai seorang nabi. Sosok
demikian itu menunjukkan kepada dunia
segala kemuliaan dari Nabi
panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalahkan lawan melalui kebenaran, penampakan dari realitas (kenyataan/hakikat) serta penggagalan kepalsuan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
245-247, London, 1984).
Lebih lanjut Masih mau’ud as.. bersabda:
“Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang
yang bertakwa akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddats,
yang kepadanya Allah Swt. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam
bahwa melaluinya akan muncul orang-orang
bertakwa yang kepada mereka Allah Swt.
akan berbicara sebagaimana
diungkapkan dalam Al-Quran:
تَتَنَزَّلُ
عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا
تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ
کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan
mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula kamu sedih” (Ha Mim - As-Sajdah [41]:31).
Ini menjadi sarana pengujian dari suatu agama
yang benar, hidup dan bisa diterima. Kita tahu bahwa Nur
ini hanya bisa ditemukan di dalam Islam, sedangkan agama Kristen tidak ada memiliki Nur demikian.”
(Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 6, hlm.
43, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 13 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar