Minggu, 15 November 2015

Kesinambungan "Keberkatan Islam" Sebagai Bukti Agama Islam Merupakan Agama yang "Hidup" dan Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 11

Kesinambungan Keberkatan Islam Sebagai Bukti Agama Islam Merupakan Agama yang “Hidup” dan Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan sabda   a.s. Masih Mau’ud a.s.  mengenai berbagai  bukti “Kebersamaan”  para pengamal ajaran Islam yang sempurna dengan Allah Swt.:
     "Ketika ia sampai pada taraf demikian maka doa-doanya telah didengar sebagai  tanda bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata sebagai suatu cobaan (ujian). Ia akan menjadi bukti eksistensi (keberadaan) Allah di muka bumi dan menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya dan berkat (keberkatan) dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari segala keraguan yang akan langsung turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi.
   Nur tersebut membawa rasa kesenangan yang efektif (berpengaruh) dan memberikan kepuasan, keselesaan (ketentraman) dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi dengan Tuhan seperti ini dibanding dengan wahyu adalah bahwa  wahyu merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba Allah yang terpilih. Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Ruhulqudus, dan segala niat mereka merupakan hembusan nafas Ruhul qudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan dari ayat:
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾
 Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan oleh Allah  (An-Najm [53]:4-5).
     Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi (pernyataan) khusus dari Allah Yang Maha Agung yang disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya adalah memberikan kesan dari terkabulnya doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan sesuatu yang baru atau rahasia, atau menyangkut suatu kejadian di masa depan, atau menyampaikan keridhaan atau teguran Ilahi mengenai apa pun, atau juga untuk memberikan kepastian dan pemahaman mengenai suatu hal.
     Semua itu merupakan firman Ilahi yang dimanifestasikan (nyatakan) dalam bentuk percakapan dalam rangka menciptakan pemahaman dan kepuasan. Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara yang datang dari Allah dan diterima dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi  (kenyataan) dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi (pantulan) atau perasaan dirinya sendiri.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 226-233, London, 1984).

Hanya Islam Agama yang Benar

  Selanjutya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan keyakinan  beliau berkenaan kesempurnaan  agama Islam (Al-Quran)  atas dasar pengalaman pribadinya:
     “Aku hanya beriman kepada Islam saja sebagai satu-satunya agama yang benar, dan aku menganggap agama-agama lain sebagai kumpulan berkas kepalsuan. Aku meyakini bahwa dengan beriman kepada agama Islam maka curahan Nur mengalir di seluruh tubuhku. Melalui kecintaan kepada Hadhrat Rasulullah saw. aku telah mencapai tingkat kedekatan samawi yang tinggi, serta terkabulnya doa-doaku yang hanya bisa dicapai oleh seorang pengikut Nabi yang benar Rasulullah saw. dan bukan dengan cara lain.
   Kalau umat Hindu dan Kristen atau pun yang lainnya memohon kepada tuhan-tuhan palsu mereka -- bahkan sampai mati pun -- mereka tidak akan pernah mencapai tingkatan tersebut. Aku benar-benar mendengar suara Tuhan, yang bagi orang lain baru menjadi teori saja.
    Aku telah diperlihatkan dan diberitahukan serta dijadikan menyadari bahwa hanya Islam saja yang merupakan agama yang benar di dunia. Juga diungkapkan kepadaku bahwa semua yang aku terima itu adalah karena berkat dari mengikuti Khātamul Anbiya saw. dan padanannya tidak akan ditemukan pada agama lainnya, karena semua agama itu adalah palsu.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 275-276, London, 1984).
      Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menyatakan rasa syukur beliau kepada Allah Swt. yang telah menjadikan beliau di Akhir Zaman ini  sebagai “saksi” atas kesempurnaan agama Islam (Al-Quran – QS.5:4) dan keluhuran akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.3:32; QS.33:22; QS.68:5), serta menjadi peraih nikmat ruhani tertinggi berupa kenabian,  sebagaimana yang dijanjikan Allah Sat. kepada para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. (QS.1:6-7), firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisa [4]:70-71).
     Mirza Ghulam Ahmad a.s.  bukan hanya mendapat kehormatan dari Allah Swt. sebagai Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10) yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12),  antara lain sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.43:58) atau Masih Mau’ud a.s.,  bahkan menjadi kedatangan kedua kali  secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  dari “kaum akharīn umat Islam” (QS.62:4-5).  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Beribu syukur bagi Allah Yang Maha Kuasa yang telah menganugrahkan kepada kita sebuah agama yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan mengenai dan ketakutan kepada Tuhan,  yang tidak ada padanannya sepanjang masa. Beribu berkat semoga diturunkan kepada Yang mulia Nabi Suci saw. yang melaluinya kita masuk dalam agama ini,  dan beribu rahmat semoga dilimpahkan kepada para sahabat beliau yang telah mengairi taman ini dengan darah mereka.
    Islam adalah agama yang demikian diberkati dan dekat dengan Tuhan, sehingga orang yang mengikutinya dengan tulus dan mematuhi semua ajaran, larangan dan petunjuknya -- sebagaimana diutarakan dalam Kitab Suci Allah Yang Maha Luhur yaitu Al-Quran -- maka ia akan  berjumpa   Tuhan bahkan dalam kehidupan ini sekarang.
    Untuk mengenali Tuhan Yang tersembunyi dari pandangan dunia di belakang ribuan cadar, tidak ada cara lain kecuali dengan mengikuti ajaran Al-Quran. Al-Quran Suci menuntun kita menuju Allah Yang Maha Perkasa melalui penalaran dan tanda-tanda samawi dengan cara yang mudah. Kitab ini mengandung berkat dan kekuatan magnetis yang akan menarik seorang pencari Tuhan ke arah Wujud-Nya serta memberikan Nur, kepuasan dan kenyamanan.
   Seorang yang beriman sepenuhnya kepada Al-Quran,  tidak hanya akan merenungi bahwa selayaknya ada sosok Pencipta dari alam yang begini indah,  sebagaimana yang dilakukan para filosof, tetapi ia juga akan memperoleh wawasan batin dan dikaruniai kasyaf mulia yang dilihat dengan keyakinan pandangan bahwa Sang Pencipta itu memang benar-benar ada.
   Ia yang dikaruniai dengan Nur dari firman suci itu tidak hanya akan menerka-nerka saja -- sebagaimana mereka yang bersandar kepada logika semata bahwa Tuhan itu Esa, tanpa sekutu --  tetapi melalui beratus tanda-tanda cemerlang yang menuntunnya keluar dari kegelapan, melihat sebagai suatu kenyataan bahwa Allah memang tidak mempunyai sekutu, baik dalam Wujud-Nya mau pun dalam Sifat-sifat-Nya. Ia akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa ia meyakini Ketauhidan Ilahi.
   Keagungan dari Ketauhidan Ilahi memenuhi seluruh relung kalbunya sehingga sejalan dengan kehendak Ilahi  ia akan memandang seluruh dunia ini tidak lebih baik daripada melihat serangga mati dan bahkan tidak berarti apa-apa sama sekali.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 25-26, London, 1984).

Berkat Berkesinambungan  Islam

      Kemudian sehubungan dengan berkat berkesinambungan dari agama Islam Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Tuhan dari sebuah agama yang benar harus sejalan dengan logika dan sifat alam sehingga eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya bisa menjadi bukti bagi mereka yang berakal namun tidak memiliki kitab samawi yang bisa mereka imani.  Tuhan demikian harus terbebas dari citra paksaan atau kepalsuan. Kesempurnaan seperti itu menjadi ciri dari  Tuhan yang dikemukakan oleh Kitab Suci Al-Quran.
   Para penganut agama lain sudah meninggalkan Tuhan yang asli sebagaimana yang dilakukan umat Kristen, atau mereka telah mengenakan sifat-sifat rendah dan tidak patut kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh para pagan (penyembah berhala) dan bangsa Arya.
    Tuhan dalam agama Islam adalah Tuhan Yang benar yang bisa dilihat melalui cermin hukum alam dan nyata pada alam itu sendiri. Islam tidak ada menciptakan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama sebagaimana digambarkan oleh nur hati dan kesadaran manusia, serta digambarkan oleh langit dan bumi.
   Sifat lain   suatu agama yang benar adalah bahwa agama itu bukan merupakan kredo (kepercayaan) yang mati. Berkat dan keagungan yang dikembangkan di dalamnya dari sejak awal harus tetap ada sampai dengan akhir dunia  demi peningkatan kesejahteraan umat manusia. Melalui tanda-tanda yang baru  bisa diteguhkan tanda-tanda di masa lalu, dan dengan cara ini maka Nur kebenarannya tidak akan usang menjadi dongeng lama.
   Aku sudah lama selalu menulis bahwa kenabian sebagaimana pengakuan dari Penghulu dan Junjungan kita Muhammad saw. serta bukti-bukti samawi dalam bentuk tanda-tanda yang beliau kemukakan, masih tetap berlaku di dalam Islam  dan dikaruniakan kepada para pengikut beliau agar mereka bisa mencapai tingkat pemahaman yang sempurna dan menyaksikan Allah Swt. secara langsung.
     Tanda-tanda yang katanya berasal dari Nabi Isa a.s. adalah dongeng semata dan tidak bisa ditemukan dimana pun, sehingga agama yang mengajarkan penyembahan manusia yang telah mati dengan sendirinya menjadikan agama itu sendiri mati. Kebenaran tidak bisa dibatasi hanya kepada dongeng-dongeng lama. Setiap orang memiliki segudang cerita-cerita tentang apa yang dianggapnya sebagai mukjizat dan keajaiban.
     Merupakan karakteristik   (sifat) agama Islam bahwa agama ini tidak hanya menyajikan keselesaan (ketentraman) dari hikayat dan dongeng, tetapi juga memberikan kepuasan batin bagi sang pencari dengan tanda-tanda yang hidup. Seorang pencari kebenaran tidak akan puas dengan penyembahan sia-sia  terhadap  sosok yang telah mati dan tidak akan menerima dongeng-dongeng rombengan.
      Kita ini ibarat memasuki pasar  dunia untuk membeli hanya yang terbaik saja. Kita tidak seharusnya mensia-siakan keimanan kita dengan membarternya dengan barang-barang palsu. Agama yang hidup adalah agama yang memungkinkan kita menemui Tuhan Yang Maha Hidup. Tuhan Yang hidup adalah Dia Yang bisa mengilhami kita secara langsung atau sekurang-kurangnya membawa kita kepada seseorang yang menerima ilham secara langsung.
      Aku mengumandangkan ke seluruh dunia bahwa Tuhan dari agama Islam adalah Tuhan Yang hidup. Mereka yang tidak lagi bisa diajak bicara adalah karena mereka sudah mati dan jelas bukan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa melihat tanda-tanda mereka pada masa ini. Ia yang tuhannya sudah mati akan dipermalukan di segala bidang, akan direndahkan dan tidak akan ditolong dengan cara apa pun.
      Tujuanku dalam mengumumkan hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa sebuah agama yang benar tidak akan berubah. Sebagaimana adanya di awal turunnya  akan begitu juga adanya di akhir masa. Sebuah agama yang benar tidak akan pernah menjadi dongeng-dongeng kuno. Islam adalah agama yang benar dan aku menghimbau semua orang --  baik Kristiani, Arya, Yahudi, Brahmo dan lain-lain --  untuk menyaksikan kebenaran Islam.
      Adakah dari antara mereka itu yang berhasrat mencari Tuhan yang hidup? Kami tidak menyembah sosok mati. Tuhan kami itu hidup. Dia menolong kami melalui ilham, wahyu dan tanda-tanda samawi. Jika ada seorang saja penganut agama Kristen yang serius memang mencari kebenaran, biarlah ia mengadakan suatu perbandingan di antara Tuhan kami Yang hidup dengan tuhannya yang mati. Untuk pengujian demikian, kurun waktu 40 hari kiranya memadai.” (Majmua Ishtiharat, jld. 2, hlm. 310-312).

Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam &  Makna Sijjīn dan ‘Illiyīn

      Walau pun di dalam Al-Quran terdapat berbagai  kisah kaum-kaum purbakala yang kepada  mereka Allah Swt. mengutus para Rasul Allah, tetapi tidak berarti bahwa Al-Quran merupakan kitab  “kumpulan dongeng kaum purbakala” --  sebagaimana tuduhan orang-orang yang  “buta mata ruhaninya” (QS.17:73; QS.20:125-129)  -- melainkan  benar-benar merupakan kitab petunjuk  bagi seluruh  umat manusia (QS.2:188)  walau pun diwahyukan di kalangan bangsa Arab kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), firman-Nya:
کَلَّاۤ  اِنَّ  کِتٰبَ الۡفُجَّارِ لَفِیۡ  سِجِّیۡنٍ ؕ﴿﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا سِجِّیۡنٌ ؕ﴿﴾  کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ؕ﴿﴾  وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾  وَ مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ  اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾  کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali tidak, sesungguhnya  kitab para pendurhaka adalah di dalam sijjīn. Dan apakah yang engkau ketahui,  apa  sijjīn itu?    Yaitu sebuah kitab tertulis. 11. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,   yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan.  Dan sekali-kali tidak ada yang mendusta-kannya kecuali setiap pelanggar batas lagi sangat berdosaاِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ --  Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  ia berkata: “Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ   -- Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati merekaکَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ --      Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka. ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ  --   Kemudian sesungguhnya  mereka pasti masuk ke dalam Jahannamثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ   --       Kemudian  dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu dustakan.”  (Al-Muthaffifīn [83]:8-18).
   Sijjīn dianggap oleh sementara ahli tafsir Al-Quran dengan keliru sebagai suatu kata bukan bahasa Arab, namun menurut beberapa sumber terkemuka seperti Farra’, Zajjaj, Abu Ubaidah, dan Mubarrad, kata itu memang bahasa Arab yang diambil dari kata sajana.
 Lisan-al-Arab  menganggapnya sama dengan sijn (penjara). Sijjīn adalah buku registrasi di dalamnya tercatat segala perbuatan jahat yang dilakukan oleh para penjahat yang konon tersimpan di alam akhirat. Kata itu berarti pula sesuatu yang keras, hebat, dan dahsyat; berkesinambungan, lestari atau kekal abadi (Lexicon Lane).
  Jadi, kata sijjīn menunjukkan  bahwa hukuman bagi orang-orang kafir durjana itu akan amat keras dan kekal. Atau ayat ini dapat berarti bahwa orang-orang durjana yang ditempatkan di dalam suatu tempat hina lagi nista, dan keputusan itu tidak dapat dibatalkan lagi.
  Atau, sijjīn dan ‘illiyyīn (QS.83:20) itu mungkin dua bagian yang dituturkan Al-Quran; yang pertama membicarakan orang-orang yang menolak Amanat Allah Swt. serta hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka, sedang yang terakhir (‘illiyyīn) membicarakan hamba-hamba Allah Swt. yang bertakwa serta ganjaran-ganjaran yang akan dianugerahkan kepada mereka. Jadi maksud ayat ini ialah bahwa keputusan yang tercantum di dalam kedua bagian  Al-Quran itu tidak dapat diubah atau diganti.
 Makna ayat کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ --    “Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka”.  Nikmat melihat Wajah Allah dianugerahkan kepada orang beriman  melalui dua tingkat:
1.     Tingkat pertama ialah tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada Sifat-sifat Allah Swt..
2.     Tingkat kedua atau tingkat lebih tinggi berupa anugerah kenyataan mengenai Dzat Ilahi. Orang-orang berdosa disebabkan dosa-dosa mereka akan tetap luput dari makrifat Dzat Ilahi pada Hari Pembalasan mereka tidak akan melihat Wajah Allah, yakni mereka dkan dibangkitkan dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129).

Kelestarian  Berkat-berkat Al-Quran di Berbagai Zaman

  Sehubungan dengan tuduhan dusta orang-orang yang “buta mata ruhaninya”  mengenai kesempurnaan Al-Quran tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Sifat-sifat agama Islam sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di masa lalu saja seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam kuno. Islam bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa di masa depan.
    Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya, yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surge, dan ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi (keberadaan) dan kekuasaan Tuhan  Yang kepada-Nya  ia beriman.
      Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini, karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri, mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat. Setiap abad dimulai dengan dunia yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam --  yang adalah Tuhan yang sebenarnya --  memanifestasikan (menampakkan)  tanda-tanda baru bagi setiap dunia yang baru.
      Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat jauh melenceng dari agama, integritas (ketulusan hati/kejujuran),  dan yang terselubung kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang nabi substitusi (nabi pengganti/nabi bayangan), yang dalam cerminan dari  sifatnya akan diperlihatkan sebagai seorang nabi. Sosok demikian itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalahkan lawan melalui kebenaran, penampakan dari realitas  (kenyataan/hakikat) serta penggagalan kepalsuan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 245-247, London, 1984).
Lebih lanjut Masih mau’ud as.. bersabda:
        “Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang yang bertakwa akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddats,  yang kepadanya Allah Swt. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam bahwa melaluinya akan muncul  orang-orang bertakwa yang kepada mereka Allah  Swt.  akan berbicara sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula kamu  sedih”  (Ha Mim - As-Sajdah [41]:31).
       Ini menjadi sarana pengujian dari suatu agama yang benar, hidup dan bisa diterima. Kita tahu bahwa Nur ini hanya bisa ditemukan di dalam Islam, sedangkan agama Kristen tidak ada memiliki Nur demikian.”  (Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 6, hlm. 43, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid                                                                                                                                             
***

Pajajaran Anyar, 13  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar