Selasa, 10 November 2015

Dua Argumentasi Islam Sebagai Agama Hakiki & Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran Bagaikan "Matahari" yang Menerangi Alam Semesta




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


   ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 7

Dua Argumentasi Islam Sebagai Agama  Hakiki   & Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran Bagaikan “Matahari” yang Menerangi Alam Semesta

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai peringatan Allah Swt. berikut ini kepada umat Islam di Akhir Zaman ini  firman-Nya:
 اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka,  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya,  فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  -- Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya.  قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti.  (Al-Hadīd [57]:17-18).
       Sehubungan dengan Sunnatullah  tersebut – yang juga berlaku bagi umat Islam --  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keadaan umat beragama  ketika  ruh dari agama-agama  telah tidak ada lagi:           
     Agama tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang memperhatikan penekanan hawa nafsu batin atau penciptaan silaturrahmi dengan Yang Maha Terkasih. Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di antara hewan anjing dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu.
     Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta mengumbar  kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif  yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan Yang Maha Hidup?
     Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan  buta. Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dan tidak memiliki rasa kasih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak.“ (Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 28, London, 1984).

Dua Argumentasi Islam Sebagai  Agama yang Benar

     Dalam rangka mewujudkan tujuan utama diciptakan-Nya manusia di dunia ini – yakni untuk menyembah atau beribadah kepada Allah Swt.  (QS.51:57)    --   Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan hal tersebut dalam sabda beliau: Takhallaqu bi-akhlaqillāh”  yakni “Hendaknya kalian  berakhlak dengan akhlak yakni Sifat-sifat sempurna Allah Swt.”
      Ada dua persyaratan bagi sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif,  sempurna, lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam akidah, ajaran dan perintah-perintahnya, dimana fikiran manusia tidak mungkin merumuskan yang lebih baik lagi. Agama ini harus berada di atas dari semua agama lain menyangkut persyaratan-persyaratan tersebut. Hanya Al-Quran yang mengajukan klaim untuk itu dengan menyatakan:
  اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu bagi manfaat kamu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atas kamu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama “ (Al-Māidah [5]:4).
     Dengan kata lain, Allah  Swt.  meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita yang inheren (kenyataan yang melekat) di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa Al-Quran merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al-Quran merupakan saat dimana ajaran sempurna tersebut sudah bisa diungkapkan kepada manusia.
     Hanya Al-Quran yang layak membuat pengakuan demikian, tidak ada kitab samawi lainnya yang pernah mengajukan pernyataan seperti itu. Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah, karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan seorang Nabi dari antara para saudara Bani Israil dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban. Dari hal ini   menjadi jelas bahwa jika  Taurat memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan nabi lain dimana manusia diwajibkan mendengar dan patuh kepadanya.
       Begitu pula dengan Injil, tidak ada mengandung satu pun pernyataan yang mengemukakan bahwa ajaran yang dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang Penghibur atau Roh Kebenaran (Paraclete)[1]  telah datang maka ia akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran.
       Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang.    Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang mengakui kekurang-sempurnaan ajaran yang beliau bawa karena saatnya belum tiba untuk dibukakannya ajaran yang sempurna, tetapi juga mengingatkan bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna.
      Sebaliknya dengan Al-Quran, yang tidak ada meninggalkan persoalan terbuka untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan ajaran yang dikandungnya dengan firman: ‘Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama(Al-Māidah [5]:4).
    Inilah yang menjadi argumentasi pokok yang mendukung Islam sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya,  sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya.
      Karakteristik kedua agama  Islam yang tidak ada pada agama lain yang juga menjadi bukti kebenarannya adalah agama ini memanifestasikan karunia dan mukjizat yang hidup. Tanda-tanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna.
      Karakteristik pertama Islam sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif  (meyakinkan) untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah Swt..  Seorang lawan yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengatakan bahwa bisa jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal dari Tuhan.
    Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuhkan permasalahannya secara konklusif (meyakinkan)  jika belum dirangkaikan dengan karakteristik kedua. Melalui rangkaian kedua karakteristik itu maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya.
    Agama yang benar mengandung ribuan bukti dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi yang diperlukan sebagai tambahan.
     Pada awalnya aku bermaksud mengemukakan 300 argumentasi dalam buku Brahin-i- Ahmadiyah, tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa 2 karakteristik ini bisa menggantikan ribuan bukti-bukti lain dan karena itu Allah Swt. menjadikan aku mengubah rencanaku itu.”  (Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm. 3-6, London, 1984).

Al-Quran adalah Furqān (Pembeda) yang Haq  (Benar) dari yang  Bathil  (Palsu)

     Jadi, betapa sangat tidak bijaksananya  manusia  yang membuang yang haq (benar) dan mengambil yang bathil (palsu) sebagai petunjuk “jalan hidupnya”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ ﴿﴾  تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾  ۣالَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾    وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ  عَلَیۡہِ  قَوۡمٌ   اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ  جَآءُوۡ  ظُلۡمًا  وَّ  زُوۡرًا ۚ﴿ۛ﴾  وَ قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ اکۡتَتَبَہَا فَہِیَ تُمۡلٰی عَلَیۡہِ  بُکۡرَۃً   وَّ اَصِیۡلًا ﴿﴾  قُلۡ اَنۡزَلَہُ الَّذِیۡ یَعۡلَمُ السِّرَّ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān  kepada hamba-Nya, supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.   Yang kepunyaan-Nya-lah kera-jaan seluruh langit dan bumi,  dan Dia tidak mengambil anak,   tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan,  Dia telah menciptakan segala sesuatu  dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya. وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا  -- Tetapi  mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia   yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan mereka yang diciptakan, dan mereka tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula  manfaat kepada diri mereka, dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan. وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ  عَلَیۡہِ  قَوۡمٌ   اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ  جَآءُوۡ  ظُلۡمًا  وَّ  زُوۡرًا ۚ -- Dan  orang-orang kafir berkata: “Al-Quran ini tidak  lain melainkan kedustaan yang ia telah  mengada-adakannya,  dan  kepadanya kaum   lain telah membantunya.” Sesungguhnya   mereka telah berbuat zalim dan dusta.  وَ قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ اکۡتَتَبَہَا فَہِیَ تُمۡلٰی عَلَیۡہِ  بُکۡرَۃً   وَّ اَصِیۡلًا   -- Dan mereka berkata:  ”Al-Quran  adalah dongengan-dongengan  orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan lalu itu dibacakan kepadanya pagi dan petang.”  قُلۡ اَنۡزَلَہُ الَّذِیۡ یَعۡلَمُ السِّرَّ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا  -- Katakanlah: ”Diturunkannya  Al-Quran oleh Dzat Yang mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Furqān [25]:1-7).
      Kata tabāraka dalam ayat تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ   -- “Maha Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān  kepada hamba-Nya“ berarti: sangat mulia sekali; jauh sekali dari segala keaiban, kekotoran, ketidak-sempurnaan, dan segala macam sifat yang cemar; memiliki kebaikan yang berlimpah-limpah (QS.6:156 & QS.21:51).
      Al-Quran memiliki semua nilai dan sifat yang terkandung dalam kata ini. Al-Quran tidak hanya bebas sepenuhnya dari segala keaiban dan ketidak-sempurnaan, bahkan juga memiliki semua nilai luhur yang dapat dibayangkan dan yang seharusnya dipunyai oleh syariat terakhir dan tersempurna bagi seluruh umat manusia (QS.5:4) dan Al-Quran memilikinya itu dengan sepenuh-sepenuhnya.
      Furqān berarti: sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang palsu; keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan hari dari malam.
      Al-Quran adalah furqān yang paripurna. Di antara seribu satu macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak jelas sekali, yakni:
      (a) Al-Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehat dan kuat,
     (b) Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.

KItab Suci  Al-Quran Untuk Seluruh Manusia & Tiga Keadaan Semua Makhluk Allah Swt.

      Kata ia dalam ayat  لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا  -- “supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam”   mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. mau kepada pun Al-Quran karena misi keduanya  bukan hanya untuk bangsa Arab saja melainkan   untuk  semua manusia (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; QS.34:29).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا -- Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan seluruh langit dan bumi,  dan Dia tidak mengambil anak,   tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan,  Dia telah menciptakan segala sesuatu  dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya.”
      Anak kalimat   “dan telah menetapkan ukurannya”  dalam ayat وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا  -- “Dia telah menciptakan segala sesuatu  dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya, mengandung arti  bahwa ada batas tertentu bagi kekuatan-kekuatan dan pekerjaan-pekerjaan atau perkembangan segala sesuatu,  yang tidak dapat dilanggar atau dilampaui.
      Batas-batas ini menunjuk kepada satu hukum yang bekerja di seluruh jagat raya, dan dari sini menunjuk kepada satu Perancang, Pencipta dan Pengatur — yakni Sang Pencipta Yang kekuasaan-Nya tidak terbatas, tetapi telah mengadakan pembatasan terhadap segala benda.
      Makna ayat  وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا  -- Tetapi  mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia   yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan mereka yang diciptakan, dan mereka tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula  manfaat kepada diri mereka, dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan.”
       Makna kalimat  وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا -- “dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan,”  bahwa segala sesuatu harus melampaui tiga tingkat perkembangan: (a) tingkat tak bernyawa; (b) tingkat mempunyai kekuatan untuk hidup, ketika sebuah benda diberi sifat-sifat dan tenaga-tenaga untuk tumbuh; dan (c) tingkat hidup yang sebenarnya. Allah  Swt, Pencipta segala kehidupan, memiliki kekuasaan mutlak dan tunggal atas ketiga tingkat itu semuanya.

Bantahan Terhadap Tuduhan Dusta   & Nabi Besar Muhammad Saw. “Matahari” Alam Ruhani

        Ayat  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ  عَلَیۡہِ  قَوۡمٌ   اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ  جَآءُوۡ  ظُلۡمًا  وَّ  زُوۡرًا ۚ -- Dan  orang-orang kafir berkata: “Al-Quran ini tidak  lain melainkan kedustaan yang ia telah  mengada-adakannya,  dan  kepadanya kaum   lain telah membantunya.” Sesungguhnya   mereka telah berbuat zalim dan dusta” dan ayat berikutnya menunjuk kepada dua tuduhan orang-orang kafir terhadap Nabi Besar Muhammad saw.   dan menjawab tuduhan-tuduhan itu.
       Jawaban kepada tuduhan yang pertama bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. mengada-adakan dusta, yaitu bahwa mereka tidak adil melancarkan tuduhan semacam itu, karena beliau saw.   telah tinggal di tengah-tengah mereka untuk suatu masa yang panjang sebelum itu dan mereka sendiri semuanya menjadi saksi atas ketulusan hati dan kebenaran beliau saw. (QS.10:17). Bagaimanakah mereka sekarang dapat menuduh beliau saw. pemalsu?
     Jawaban kepada tuduhan kedua, yaitu bahwa siapa pun yang dikatakan pembantu  Nabi Besar Muhammad saw. pastilah mereka menganut beberapa kepercayaan dan itikad, akan tetapi Allah Swt. menolak dan merombak semua kepercayaan yang palsu dan membatalkan serta memperbaiki kepercayaan-kepercayaan lainnya (QS.2:107).
     Bagaimanakah seseorang dianggap membantu  Nabi Besar Muhammad saw.  untuk menciptakan sebuah kitab yang telah memotong urat nadi kepercayaan dan itikad-itikad yang sangat mereka junjung dan muliakan itu?
     Berikut ini adalah penjelasan Masih  Mau’ud a.s. mengenai kesempurnaan Nabi Besar Muhammad saw. dalam menginformasikan kepada umat manusia mengenai “Tuhan yang Hakiki” yakni Allah Swt., bagaikan kesempurnaan terangnya cahaya matahari   (QS.33:46-48):
     Hadhrat Rasulullah saw. menggambarkan Allah Yang Maha Kuasa dengan segala keagungan-Nya tanpa ada yang dikurangi sedikit pun. Beliau dimunculkan seolah matahari yang memanifestasikan  (menampakkan) Nur-Nya dari segala penjuru. Barangsiapa yang berpaling dari matahari haqiqi ini (Hadhrat Rasulullah saw.) akan menemukan kemudharatan (kerugian). 
    Kita tidak bisa mengatakan ia sebagai manusia yang  baik keimanannya. Bisakah seseorang yang terjangkiti lepra dimana anggota tubuhnya telah dirusak oleh penyakit itu  lalu   menyatakan bahwa dirinya sehat utuh dan tidak memerlukan perawatan? Jika benar ia mengatakan demikian, bisakah kita berpendapat bahwa ia tidak berdusta?
   Kalau ada seseorang menekankan bahwa ia tidak juga menemukan kebenaran Islam, meskipun ia memiliki keimanan yang baik dan meskipun ia telah berupaya dengan segala cara sebagaimana ia mengelola urusan duniawinya, maka masalahnya terpulang kepada Allah Swt.. Kami belum pernah bertemu dengan manusia seperti itu, dan kami beranggapan bahwa adalah tidak mungkin seseorang yang memiliki daya nalar dan indera keadilan , akan memilih agama lain selain Islam.
    Orang-orang yang bodoh dan tidak berakal biasanya selalu mengambil sikap sebagaimana yang didiktekan oleh alam bawah sadarnya bahwa beriman kepada Tuhan yang Maha Esa sudah cukup dan tidak perlu lagi mengikuti Yang Mulia Rasulullah saw. Yang harus diingat adalah seorang nabi itu merupakan wujud yang mencetuskan Ketauhidan yang melahirkan konsep ke Maha-Esa-an serta menunjukkan eksistensi  (keberadaan) Tuhan.
    Siapakah yang bisa lebih baik menunjukkan kebenaran selain Allah Swt. Sendiri? Dia mengisi langit dan bumi ini dengan tanda-tanda yang membuktikan kebenaran   Yang Mulia Rasulullah saw., dan di abad ini Dia telah mengutus aku serta memperlihatkan beribu-ribu tanda seperti hujan lebat yang membuktikan kebenaran  Hadhrat Rasulullah saw. Lalu apa lagi yang kurang dalam pengemukaan kebenaran ini?
    Mereka yang memiliki penalaran cukup untuk menyangkal, mengapa tidak memikirkan cara untuk mencoba menerima? Ia yang merasa dirinya bisa melihat pada waktu gelap malam, mengapa tidak bisa melihat di terang siang hari? Sesungguhnya jalan penerimaan itu jauh lebih mudah daripada jalan penyangkalan.
    Mereka yang jalan fikirannya memang kurang sempurna dan indera tubuhnya tidak normal biarlah diserahkan kepada Allah  Swt. dan kita tidak perlu pusing karenanya. Mereka itu seperti anak-anak yang mati muda. Tetapi seorang penyangkal yang jahat tidak bisa memaafkan dirinya atas dasar pertimbangan bahwa ia demikian itu karena berdasarkan itikad baik.
    Kiranya perlu dipertanyakan apakah semua indera yang bersangkutan itu memang memadai untuk mempertimbangkan masalah Ketauhidan dan kenabian? Jika ia memang mampu menelaah konsep-konsep itu dan tetap menyangkal karena memang itikadnya yang kurang baik, maka orang seperti itu tidak bisa dimaafkan.
       Bisakah kita memaklumi seseorang yang telah melihat matahari yang sedang bersinar lalu tetap degil bertahan menyatakan bahwa saat ini sedang tengah malam? Begitu juga kita tidak bisa memaklumi mereka yang sengaja memutarbalikkan penalaran untuk menolak argumentasi yang dikemukakan demi Islam.
      Islam adalah sebuah agama yang hidup. Seseorang yang bisa membedakan di antara apa yang mati dan yang hidup, bagaimana mungkin ia mengesampingkan Islam dan menganut agama yang sudah mati?” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 180-181, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8  November 2015


[1] Perjanjian Baru, Injil Yohanes 16:7-14. Istilah Paraclete terdapat dalam Injil bahasa Yunani atau Greek dan dalam Injil berbahasa Inggris diter jemahkan sebagai Holy Ghost atau Roh Kebenaran dalam Injil bahasa Indonesia. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar