بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 7
Dua
Argumentasi Islam Sebagai Agama Hakiki & Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran
Bagaikan “Matahari” yang Menerangi
Alam Semesta
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai peringatan Allah Swt. berikut ini kepada umat Islam di Akhir Zaman ini firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ
الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat kebenaran
yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا
کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi kitab sebelumnya,
فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda
kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Sehubungan dengan Sunnatullah tersebut – yang
juga berlaku bagi umat Islam -- Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keadaan umat beragama ketika ruh dari agama-agama telah tidak ada
lagi:
“Agama tidak berarti pertengkaran,
penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks
demikian, tidak ada yang memperhatikan
penekanan hawa nafsu batin atau
penciptaan silaturrahmi dengan Yang Maha Terkasih. Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di
antara hewan anjing dan setiap
bentuk kelakuan buruk dipertontonkan
atas nama agama. Orang-orang
demikian tidak menyadari apa tujuan
kelahiran mereka di dunia dan apa
yang menjadi tujuan pokok dari hidup
mereka itu.
Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap
jahat serta mengumbar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang
lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya
tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan
penyembahan sosok Tuhan Yang Maha
Hidup?
Tuhan
yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari
bangkai mati yang berjalan karena ditopang
penyangga, dimana jika penyangganya
diambil maka ia akan jatuh ke
tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan buta.
Mereka sama sekali tidak takut kepada
Allah dan tidak memiliki rasa kasih
kepada umat manusia yang sebenarnya
merupakan semulia-mulianya akhlak.“ (Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm.
28, London, 1984).
Dua Argumentasi Islam
Sebagai Agama yang Benar
Dalam rangka mewujudkan tujuan utama diciptakan-Nya manusia di dunia ini – yakni untuk
menyembah atau beribadah kepada Allah
Swt. (QS.51:57) -- Nabi
Besar Muhammad saw. menjelaskan hal tersebut dalam sabda beliau: Takhallaqu bi-akhlaqillāh” yakni “Hendaknya kalian berakhlak
dengan akhlak yakni Sifat-sifat sempurna Allah Swt.”
“Ada dua persyaratan bagi
sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif, sempurna,
lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam akidah, ajaran dan perintah-perintahnya,
dimana fikiran manusia tidak mungkin
merumuskan yang lebih baik lagi. Agama
ini harus berada di atas dari semua
agama lain menyangkut persyaratan-persyaratan
tersebut. Hanya Al-Quran yang
mengajukan klaim untuk itu dengan
menyatakan:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ
اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
“Hari ini telah Aku
sempurnakan agama kamu bagi manfaat kamu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atas kamu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama “ (Al-Māidah [5]:4).
Dengan kata lain, Allah Swt. meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita
yang inheren (kenyataan yang
melekat) di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa
Al-Quran merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al-Quran merupakan saat
dimana ajaran sempurna tersebut
sudah bisa diungkapkan kepada
manusia.
Hanya Al-Quran yang layak
membuat pengakuan demikian, tidak
ada kitab samawi lainnya yang pernah
mengajukan pernyataan seperti itu.
Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah,
karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan seorang Nabi dari
antara para saudara Bani Israil
dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi
firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban. Dari hal ini menjadi jelas bahwa jika Taurat
memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad
berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan
nabi lain dimana manusia diwajibkan
mendengar dan patuh kepadanya.
Begitu pula dengan Injil,
tidak ada mengandung satu pun pernyataan
yang mengemukakan bahwa ajaran yang
dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada
para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang
Penghibur atau Roh Kebenaran (Paraclete)[1] telah datang maka ia akan
memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran.
Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan
memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang. Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang
mengakui kekurang-sempurnaan ajaran
yang beliau bawa karena saatnya belum
tiba untuk dibukakannya ajaran yang
sempurna, tetapi juga mengingatkan
bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna.
Sebaliknya dengan Al-Quran, yang
tidak ada meninggalkan persoalan terbuka
untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan
Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan
ajaran yang dikandungnya dengan firman: ‘Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi
manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu
Islam sebagai agama’ (Al-Māidah
[5]:4).
Inilah yang menjadi argumentasi
pokok yang mendukung Islam
sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya, sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya.
Karakteristik kedua agama Islam
yang tidak ada pada agama lain yang
juga menjadi bukti kebenarannya
adalah agama ini memanifestasikan
karunia dan mukjizat yang hidup.
Tanda-tanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna.
Karakteristik pertama Islam
sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif (meyakinkan) untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah Swt.. Seorang lawan
yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengatakan bahwa bisa
jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal
dari Tuhan.
Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh
berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuhkan
permasalahannya secara konklusif
(meyakinkan) jika belum dirangkaikan
dengan karakteristik kedua. Melalui
rangkaian kedua karakteristik itu
maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya.
Agama
yang benar mengandung ribuan bukti
dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya
sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi
yang diperlukan sebagai tambahan.
Pada awalnya aku bermaksud
mengemukakan 300 argumentasi dalam
buku Brahin-i- Ahmadiyah,
tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa 2 karakteristik ini bisa menggantikan
ribuan bukti-bukti lain dan karena itu Allah
Swt. menjadikan aku mengubah
rencanaku itu.”
(Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 21, hlm. 3-6, London, 1984).
Al-Quran adalah Furqān (Pembeda) yang Haq (Benar) dari yang Bathil (Palsu)
Jadi, betapa sangat tidak bijaksananya manusia
yang membuang yang haq (benar) dan mengambil yang bathil (palsu) sebagai petunjuk “jalan hidupnya”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی
عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾ ۣالَّذِیۡ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
لَمۡ یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ
کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾ وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً
لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا وَّ لَا حَیٰوۃً وَّ
لَا نُشُوۡرًا ﴿﴾ وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّاۤ
اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ
عَلَیۡہِ قَوۡمٌ اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ جَآءُوۡ
ظُلۡمًا وَّ زُوۡرًا ۚ﴿ۛ﴾ وَ قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ اکۡتَتَبَہَا
فَہِیَ تُمۡلٰی عَلَیۡہِ بُکۡرَۃً وَّ اَصِیۡلًا ﴿﴾ قُلۡ اَنۡزَلَہُ الَّذِیۡ یَعۡلَمُ السِّرَّ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّہٗ کَانَ
غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Maha
Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya, supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh
alam. Yang kepunyaan-Nya-lah
kera-jaan seluruh langit dan bumi, dan Dia tidak mengambil anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan, Dia
telah menciptakan segala sesuatu dan
telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya. وَ
اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ
یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا
یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا وَّ لَا
حَیٰوۃً وَّ لَا نُشُوۡرًا -- Tetapi mereka
telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan mereka yang diciptakan, dan mereka
tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula manfaat kepada diri
mereka, dan mereka tidak berkuasa
atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan. وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّاۤ اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ عَلَیۡہِ
قَوۡمٌ اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ جَآءُوۡ
ظُلۡمًا وَّ زُوۡرًا ۚ -- Dan orang-orang
kafir berkata: “Al-Quran ini
tidak lain melainkan kedustaan yang ia
telah mengada-adakannya, dan
kepadanya kaum lain telah membantunya.” Sesungguhnya mereka
telah berbuat zalim dan dusta.
وَ قَالُوۡۤا
اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ اکۡتَتَبَہَا فَہِیَ تُمۡلٰی عَلَیۡہِ بُکۡرَۃً
وَّ اَصِیۡلًا -- Dan mereka berkata: ”Al-Quran adalah dongengan-dongengan orang-orang
dahulu, dimintanya supaya dituliskan
lalu itu dibacakan kepadanya pagi
dan petang.” قُلۡ
اَنۡزَلَہُ الَّذِیۡ یَعۡلَمُ السِّرَّ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
اِنَّہٗ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا -- Katakanlah: ”Diturunkannya Al-Quran
oleh Dzat Yang mengetahui
rahasia seluruh langit dan bumi,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,
Maha Penyayang.” (Al-Furqān
[25]:1-7).
Kata tabāraka dalam ayat تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ -- “Maha Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya“ berarti: sangat mulia
sekali; jauh sekali dari segala keaiban, kekotoran, ketidak-sempurnaan, dan
segala macam sifat yang cemar; memiliki kebaikan yang berlimpah-limpah
(QS.6:156 & QS.21:51).
Al-Quran memiliki semua nilai dan sifat yang terkandung dalam kata ini. Al-Quran tidak hanya bebas sepenuhnya dari segala keaiban dan ketidak-sempurnaan, bahkan juga memiliki
semua nilai luhur yang dapat
dibayangkan dan yang seharusnya dipunyai oleh syariat terakhir dan tersempurna
bagi seluruh umat manusia (QS.5:4)
dan Al-Quran memilikinya itu dengan
sepenuh-sepenuhnya.
Furqān
berarti: sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang palsu; keterangan,
bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara
yang benar dan yang salah. Kata itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab
fajar memisahkan hari dari malam.
Al-Quran adalah furqān yang paripurna. Di antara seribu satu
macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak
jelas sekali, yakni:
(a) Al-Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan
yang sehat dan kuat,
(b) Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata
benar bedanya siang hari dari malam hari.
KItab Suci Al-Quran Untuk Seluruh Manusia &
Tiga Keadaan Semua Makhluk Allah Swt.
Kata ia dalam ayat لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا -- “supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam” mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
mau kepada pun Al-Quran karena misi keduanya bukan hanya untuk bangsa Arab saja melainkan untuk
semua manusia (QS.7:159;
QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ یَتَّخِذۡ وَلَدًا
وَّ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی
الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا -- Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan seluruh langit
dan bumi, dan Dia tidak mengambil anak, tidak
ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan, Dia telah menciptakan segala sesuatu dan telah
menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya.”
Anak
kalimat “dan telah menetapkan
ukurannya” dalam ayat وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا -- “Dia telah menciptakan segala sesuatu
dan telah menetapkan ukurannya dengan
sebaik-baiknya,” mengandung arti bahwa ada batas
tertentu bagi kekuatan-kekuatan dan pekerjaan-pekerjaan atau perkembangan segala sesuatu, yang tidak dapat dilanggar atau dilampaui.
Batas-batas ini menunjuk kepada satu hukum yang bekerja di seluruh jagat raya, dan dari sini menunjuk
kepada satu Perancang, Pencipta dan Pengatur — yakni Sang Pencipta Yang kekuasaan-Nya tidak terbatas,
tetapi telah mengadakan pembatasan
terhadap segala benda.
Makna ayat وَ
اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ
یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا
یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا وَّ لَا
حَیٰوۃً وَّ لَا نُشُوۡرًا -- Tetapi mereka
telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan mereka yang diciptakan, dan mereka
tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula manfaat kepada diri
mereka, dan mereka tidak berkuasa
atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan.”
Makna kalimat وَّ لَا
یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا وَّ لَا
حَیٰوۃً وَّ لَا نُشُوۡرًا -- “dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan,”
bahwa segala sesuatu harus melampaui tiga
tingkat perkembangan: (a) tingkat tak bernyawa; (b) tingkat
mempunyai kekuatan untuk hidup, ketika sebuah benda diberi sifat-sifat dan
tenaga-tenaga untuk tumbuh; dan (c) tingkat hidup yang sebenarnya. Allah Swt, Pencipta
segala kehidupan, memiliki kekuasaan
mutlak dan tunggal atas ketiga tingkat itu semuanya.
Bantahan Terhadap Tuduhan Dusta & Nabi Besar Muhammad Saw. “Matahari” Alam Ruhani
Ayat وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّاۤ
اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ
عَلَیۡہِ قَوۡمٌ اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ جَآءُوۡ
ظُلۡمًا وَّ زُوۡرًا ۚ -- Dan orang-orang
kafir berkata: “Al-Quran ini
tidak lain melainkan kedustaan yang ia
telah mengada-adakannya, dan
kepadanya kaum lain telah membantunya.” Sesungguhnya mereka
telah berbuat zalim dan dusta”
dan ayat berikutnya menunjuk kepada dua
tuduhan orang-orang kafir terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan menjawab
tuduhan-tuduhan itu.
Jawaban kepada tuduhan yang pertama bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengada-adakan dusta, yaitu bahwa mereka
tidak adil melancarkan tuduhan semacam itu, karena beliau saw. telah tinggal di tengah-tengah mereka
untuk suatu masa yang panjang sebelum
itu dan mereka sendiri semuanya menjadi saksi
atas ketulusan hati dan kebenaran beliau saw. (QS.10:17).
Bagaimanakah mereka sekarang dapat menuduh
beliau saw. pemalsu?
Jawaban kepada tuduhan kedua, yaitu bahwa siapa pun
yang dikatakan pembantu Nabi Besar Muhammad saw. pastilah
mereka menganut beberapa kepercayaan dan itikad, akan tetapi Allah Swt. menolak
dan merombak semua kepercayaan yang palsu dan membatalkan
serta memperbaiki
kepercayaan-kepercayaan lainnya (QS.2:107).
Bagaimanakah seseorang dianggap membantu Nabi Besar Muhammad saw. untuk menciptakan sebuah kitab yang
telah memotong urat nadi kepercayaan dan itikad-itikad yang sangat mereka junjung dan muliakan itu?
Berikut ini adalah penjelasan Masih
Mau’ud a.s. mengenai kesempurnaan
Nabi Besar Muhammad saw. dalam menginformasikan
kepada umat manusia mengenai “Tuhan yang Hakiki” yakni Allah Swt.,
bagaikan kesempurnaan terangnya cahaya matahari (QS.33:46-48):
“Hadhrat Rasulullah saw. menggambarkan Allah Yang Maha Kuasa dengan segala keagungan-Nya tanpa ada yang dikurangi
sedikit pun. Beliau dimunculkan seolah matahari
yang memanifestasikan (menampakkan) Nur-Nya dari segala penjuru. Barangsiapa yang berpaling dari matahari haqiqi ini (Hadhrat Rasulullah
saw.) akan menemukan kemudharatan
(kerugian).
Kita tidak bisa mengatakan ia sebagai manusia yang baik keimanannya. Bisakah seseorang
yang terjangkiti lepra dimana anggota tubuhnya telah dirusak oleh penyakit itu lalu menyatakan bahwa dirinya sehat utuh dan tidak memerlukan perawatan? Jika benar ia mengatakan demikian, bisakah kita
berpendapat bahwa ia tidak berdusta?
Kalau ada seseorang menekankan
bahwa ia tidak juga menemukan kebenaran Islam, meskipun ia
memiliki keimanan yang baik dan
meskipun ia telah berupaya dengan segala cara sebagaimana ia mengelola urusan duniawinya, maka masalahnya terpulang kepada Allah Swt.. Kami belum pernah bertemu
dengan manusia seperti itu, dan kami
beranggapan bahwa adalah tidak mungkin
seseorang yang memiliki daya nalar dan indera
keadilan , akan memilih agama lain selain Islam.
Orang-orang yang bodoh dan tidak berakal biasanya selalu mengambil
sikap sebagaimana yang didiktekan
oleh alam bawah sadarnya bahwa beriman kepada Tuhan yang
Maha Esa sudah cukup dan tidak perlu lagi mengikuti Yang Mulia
Rasulullah saw. Yang harus diingat
adalah seorang nabi itu merupakan wujud
yang mencetuskan Ketauhidan yang
melahirkan konsep ke Maha-Esa-an
serta menunjukkan eksistensi (keberadaan) Tuhan.
Siapakah yang bisa lebih baik menunjukkan
kebenaran selain Allah Swt. Sendiri?
Dia mengisi langit dan bumi ini dengan tanda-tanda yang membuktikan kebenaran Yang Mulia Rasulullah saw., dan di abad
ini Dia telah mengutus aku serta
memperlihatkan beribu-ribu tanda seperti hujan lebat yang membuktikan kebenaran Hadhrat Rasulullah saw. Lalu apa lagi yang kurang dalam pengemukaan kebenaran ini?
Mereka yang memiliki penalaran
cukup untuk menyangkal, mengapa
tidak memikirkan cara untuk mencoba menerima? Ia yang merasa dirinya bisa melihat
pada waktu gelap malam, mengapa tidak
bisa melihat di terang siang hari? Sesungguhnya jalan penerimaan itu
jauh lebih mudah daripada jalan penyangkalan.
Mereka yang jalan fikirannya
memang kurang sempurna dan indera tubuhnya tidak normal biarlah diserahkan kepada Allah Swt. dan kita tidak perlu pusing
karenanya. Mereka itu seperti anak-anak
yang mati muda. Tetapi seorang penyangkal
yang jahat tidak bisa memaafkan
dirinya atas dasar pertimbangan
bahwa ia demikian itu karena berdasarkan itikad
baik.
Kiranya perlu dipertanyakan
apakah semua indera yang bersangkutan itu memang memadai untuk mempertimbangkan
masalah Ketauhidan dan kenabian? Jika ia memang mampu menelaah konsep-konsep itu dan tetap menyangkal
karena memang itikadnya yang kurang baik, maka orang seperti itu tidak bisa dimaafkan.
Bisakah kita memaklumi
seseorang yang telah melihat matahari
yang sedang bersinar lalu tetap degil bertahan menyatakan bahwa saat
ini sedang tengah malam? Begitu juga
kita tidak bisa memaklumi mereka
yang sengaja memutarbalikkan penalaran untuk menolak argumentasi yang dikemukakan
demi Islam.
Islam adalah sebuah agama yang hidup. Seseorang yang bisa membedakan di antara apa yang mati dan yang hidup, bagaimana mungkin ia mengesampingkan
Islam dan menganut agama yang sudah mati?” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm.
180-181, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 8 November 2015
[1]
Perjanjian Baru, Injil Yohanes 16:7-14. Istilah Paraclete
terdapat dalam Injil bahasa Yunani atau Greek dan dalam Injil berbahasa Inggris
diter jemahkan sebagai Holy Ghost atau Roh Kebenaran dalam Injil bahasa
Indonesia. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar