Rabu, 11 November 2015

Kesempurnaan Ajaran Islam Dalam Upaya "Memanusiakan" Kembali Manusia dan Menjadikannya "Manusia-manusia Ilahi" yang Mendapat Keridhaan Allah Swt.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   
 ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 8

   Kesempurnaan Ajaran Islam  Dalam Upaya “Memanusiakan” Kembali Manusia  dan Menjadikannya  “Manusia-manusia Ilahi  yang Mendapat Keridhaan Allah Swt. 

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. tentang kesempurnaan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran  bagaikan kesempurnaan kecemerlangan cahaya matahari yang menerangi alam semesta, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾  وَ لَا تُطِعِ  الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ  اَذٰىہُمۡ  وَ  تَوَکَّلۡ  عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,  وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا --   dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا  -- Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karunia yang besar dari Allah.  وَ لَا تُطِعِ  الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ  اَذٰىہُمۡ  وَ  تَوَکَّلۡ  عَلَی اللّٰہِ -- Dan janganlah mengikuti orang-orang kafir dan orang-orang munafik,  dan janganlah menghiraukan gangguan mereka, serta bertawakkallah kepada Allah,  وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا --  dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (Al-Ahzāb [33]:45-49).
     Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat alam semesta lahiriah, begitulah pribadi Nabi Besar Muhammad saw. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian  وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا  -- “dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya”.    
      Nabi Besar Muhammad saw. merupakan matahari dalam jumantara nabi-nabi Allah dan mujaddid-mujaddid, yang seperti sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw. serta   meminjam cahaya dari beliau saw.. Beliau saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Tafsir Shaghir).

Kemajuan Progresif Manusia Karena Menganut Islam

      Kemudian Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai kesempurnaan ajaran Islam  yang tercantum dalam Kitab suci Al-Quran, beliau   bersabda:
     Ketika aku merenungi keseluruhan firman Allah Swt.  aku menemukan bahwa ajaran-ajarannya itu berusaha memperbaiki keadaan alamiah manusia dan mengangkatnya selangkah demi selangkah ke tingkat keruhanian yang lebih tinggi.
   Pada tahap awal, Allah Swt. bermaksud mengajar manusia ketentuan-ketentuan yang bisa disebut dasar, yang melaluinya mengubah kondisinya dari taraf binatang liar ke derajat akhlak tingkat rendah yang bisa dikatakan sebagai kebudayaan atau tamadhun.
    Kemudian Dia melatih dan mengangkat manusia dari tingkat akhlak yang mendasar ke tingkatan akhlak yang lebih tinggi. Sebenarnya perubahan keadaan  alamiah demikian semua itu adalah satu kegiatan, hanya saja terdiri dari beberapa tingkatan.  Allah Yang Maha Bijaksana telah memberikan sistem akhlak yang sedemikian rupa, sehingga manusia bisa merambat dari tingkat akhlak yang mendasar ke tingkatan yang lebih tinggi.
    Tingkat ketiga dari perkembangan demikian itu adalah manusia berupaya memperoleh kecintaan dan keridhaan Pencipta-nya dimana keseluruhan wujud dirinya diabdikan kepada Allah Swt.. Pada tingkat inilah keimanan para Muslim disebut sebagai Islam yang bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah  Swt. tanpa ada yang tersisa.”  (Islami Usulki Philosophy sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 10, hlm. 324, London, 1984).
     Satu-satunya “jalan lurus” pelaksanaan petunjuk Al-Quran tersebut adalah mentaati Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya kepada beliau saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾
Katakanlah:  ”Jika kamu mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ   -- maka ikutilah  aku, یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ  --  Allah pun akan mencintai  kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Ali ‘Imran [3]:32-33).
    Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..   Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan).

Berbagai  Kelemahan Ajaran Injil dan Perlunya Agama Islam

      Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. mengemukakakan perbandingan ajaran Injil dengan kesempurnaan ajaran Islam (Al-Quran):
      Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang  esensial (penting) bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari keadaan  alamiahnya yang liar  kepada keadaan  kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang bijak, setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan yang sepenuhnya merupakan pengabdian kepada Allah Swt..” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 89, London, 1984).
     Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai bahaya ajaran yang hanya menekankan pada pemaafan secara membuta yang diajarkan Injil:
    Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil tidak ada memberikan jalan bagi pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita (manusia) ini turun di bumi dengan berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat.
     Injil hanya menekankan kepada sifat  rendah hati  dan  kelembutan.    Sifat rendah hati dan pengampun memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat, tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan membawa kerusakan dahsyat.
    Kehidupan budaya manusia terdiri dari saling pengaruh mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat, yang menuntut bahwa kita harus menggunakan sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat. Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat pengampun dan tabah (sabar) akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan lain, penggunaan sifat tersebut hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
    Kehidupan keruhanian kita dalam banyak hal menyerupai kehidupan fisik (jasmani). Berdasarkan pengalaman kita mengetahui  bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak makan sesuatu yang menghangatkan maka kita akan mudah terkena beberapa jenis penyakit seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi.
     Sebaliknya, kalau kita membatasi diri pada unsur-unsur makanan yang hangat saja -- dimana air minum pun harus panas -- maka kita juga cenderung akan terkena beberapa jenis penyakit lainnya. Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan dengan istirahat.
     Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus mengikuti ketentuan yang sama. Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan  sifat itulah yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri hati dikatakan buruk, tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan yang baik  -- seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan --  maka sifat iri demikian menjadi akhlak yang mulia. Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak lainnya.
   Penyalahgunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatannya pada saat yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat. Oleh sebab itu merupakan kesalahan untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon kemanusiaan dan hanya menekankan pada  pengampunan dan  ketabahan  saja. Karena itulah ajaran Injil tersebut telah gagal dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah.
     Kitab Injil yang sekarang ini tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan. Sebagaimana bintang-bintang mulai memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Quran.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 66-67, London, 1984).

Keadaan Agama-agama Sebelum Islam Bagaikan “Kebun-kebun” yang Ditinggalkan Pemiliknya

     Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan penyebab mengapa agama-agama yang diturunkan sebelum Islam keadaannya bagaikan “kebun-kebun” yang tidak pernah mendapat pemeliharaan lagi dari pemiliknya:
     Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam, mengandung berbagai kesalahan. Hal ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam, Allah Swt. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu  menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukang kebun untuk merawat, mengairi dan memeliharanya,  sehingga secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi semuanya.  Agama-agama tersebut kehilangan semangat keruhanian yang menjadi dasar dari semua agama, dan  tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata usang.
     Allah  Swt. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba Allah untuk memperbaiki (mujaddid), orang-orang yang bodoh selalu menentang dan menolak perubahan atas apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah Yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya.
      Di  Akhir Zaman ini pun -- yang merupakan saat pertempuran terakhir antara petunjuk kebenaran dan kebathilan --  di awal abad ke-14 karena melihat bagaimana umat Muslim menjadi tidak peduli dan tidak acuh, Allah Swt.  kembali menunaikan janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan kembali Islam. Hanya saja agama-agama lain tidak pernah disegarkan kembali setelah kedatangan Yang Mulia Rasulullah saw. sehingga agama-agama itu menjadi mati. Tidak ada lagi kehidupan keruhanian dalam agama-agama itu dan kebathilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang tidak pernah lagi dicuci.
    Orang-orang yang tidak mempunyai perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak lagi mirip dengan keadaan pada awal ketika agama tersebut diturunkan. Contohnya agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya.  
    Ajaran yang diberikan Nabi Isa a.s. memang tidak sesempurna ajaran Al-Quran karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu ajaran yang sempurna dan mereka belum cukup kuat untuk menanggungnya, namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya.
    Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi Isa a.s., tuhannya umat Kristen menjadi tuhan yang lain yang tidak ada disebut dalam Taurat dan tidak dikenal sama sekali oleh Bani Israil.
    Keimanan kepada tuhan yang baru ini telah menjungkir-balikkan system Taurat dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian najat (keselamatan) haqiqi serta kehidupan yang suci  menjadi kacau balau.
    Najat (keselamatan) dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus menerima penyaliban (mati di tiang salib) sebagai penebusan dosa umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri.
     Banyak sekali kaidah-kaidah tetap dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah, sehingga jika misalnya Yesus turun lagi ke dunia maka beliau tidak akan lagi mengenalinya sebagai ajaran yang dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia yang diperintahkan untuk mentaati Taurat, lalu tiba-tiba mengesampingkan ajaran-ajarannya.
    Sebagai contoh, meski pun Injil menyatakan bahwa Taurat melarang makan daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan. Begitu juga Injil menyatakan bahwa walaupun Taurat mengharuskan khitan, tetapi sekarang hal itu malah dilarang. Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah Swt. untuk menegakkan sebuah agama yang universal yang bernama Islam, maka semua kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi dari kemunculan Islam.”

Keadaan Agama Hindu

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengkritisi agama Hindu berkenaan pandangan keliru mereka tentang Tuhan Yang Hakiki:
     Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam, dimana di seluruh bagian India  penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari akidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Akidah seperti ini melahirkan akidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan.
    Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam Sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan Sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam Sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia? Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar?
    Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan. Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya.
   Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas.
    Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya  Dia itu bisa saja menciptakan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan.
  Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.
   Semua pembusukan agama -- beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan -- merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berfikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya.
    Hadhrat Rasulullah saw. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang haq (kebenaran),  yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 203-206, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar