بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 8
Kesempurnaan Ajaran Islam Dalam Upaya “Memanusiakan” Kembali Manusia
dan Menjadikannya “Manusia-manusia Ilahi” yang Mendapat Keridhaan Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda
Masih Mau’ud a.s. tentang
kesempurnaan Nabi Besar Muhammad saw.
dan Al-Quran bagaikan kesempurnaan
kecemerlangan cahaya matahari yang
menerangi alam semesta, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ
اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾ وَ لَا تُطِعِ الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ اَذٰىہُمۡ
وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, وَّ دَاعِیًا اِلَی
اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا
مُّنِیۡرًا -- dan sebagai penyeru
kepada Allah dengan perintah-Nya,
dan juga sebagai matahari yang
memancarkan cahaya. وَ بَشِّرِ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا -- Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada karunia yang besar dari Allah. وَ لَا تُطِعِ الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ اَذٰىہُمۡ
وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ -- Dan janganlah mengikuti orang-orang kafir
dan orang-orang munafik, dan janganlah
menghiraukan gangguan mereka, serta bertawakkallah
kepada Allah, وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا -- dan cukuplah
Allah sebagai Pelindung. (Al-Ahzāb
[33]:45-49).
Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat
alam semesta lahiriah, begitulah
pribadi Nabi Besar Muhammad saw. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian وَ سِرَاجًا
مُّنِیۡرًا -- “dan
juga sebagai matahari yang memancarkan
cahaya”.
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan matahari
dalam jumantara nabi-nabi Allah dan mujaddid-mujaddid, yang seperti sekalian
banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw.
serta meminjam
cahaya dari beliau saw.. Beliau saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan
bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu
akan mendapat petunjuk” (Tafsir Shaghir).
Kemajuan Progresif
Manusia Karena Menganut Islam
Kemudian Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan mengenai kesempurnaan ajaran Islam yang tercantum dalam Kitab suci Al-Quran, beliau bersabda:
“Ketika aku merenungi
keseluruhan firman Allah Swt. aku menemukan bahwa ajaran-ajarannya itu berusaha memperbaiki
keadaan alamiah manusia dan
mengangkatnya selangkah demi
selangkah ke tingkat keruhanian yang lebih tinggi.
Pada tahap awal, Allah Swt. bermaksud mengajar manusia ketentuan-ketentuan
yang bisa disebut dasar, yang
melaluinya mengubah kondisinya dari
taraf binatang liar ke derajat akhlak
tingkat rendah yang bisa dikatakan sebagai kebudayaan atau tamadhun.
Kemudian Dia melatih dan mengangkat manusia dari tingkat akhlak yang mendasar
ke tingkatan akhlak yang lebih
tinggi. Sebenarnya perubahan keadaan alamiah
demikian semua itu adalah satu kegiatan,
hanya saja terdiri dari beberapa tingkatan. Allah
Yang Maha Bijaksana telah memberikan sistem
akhlak yang sedemikian rupa,
sehingga manusia bisa merambat dari
tingkat akhlak yang mendasar
ke tingkatan yang lebih tinggi.
Tingkat ketiga dari perkembangan
demikian itu adalah manusia berupaya memperoleh
kecintaan dan keridhaan Pencipta-nya dimana keseluruhan wujud dirinya diabdikan kepada Allah Swt.. Pada
tingkat inilah keimanan para Muslim disebut sebagai Islam
yang bermakna penyerahan diri sepenuhnya
kepada Allah Swt. tanpa ada yang tersisa.” (Islami Usulki Philosophy sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 10, hlm. 324, London, 1984).
Satu-satunya “jalan lurus” pelaksanaan petunjuk Al-Quran tersebut adalah mentaati Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya kepada beliau saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾
Katakanlah: ”Jika kamu mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ -- maka ikutilah
aku, یُحۡبِبۡکُمُ
اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.. Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat
timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada
adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah
cukup untuk memperoleh najat
(keselamatan).
Berbagai Kelemahan Ajaran Injil dan Perlunya Agama
Islam
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. mengemukakakan perbandingan ajaran Injil
dengan kesempurnaan ajaran Islam (Al-Quran):
“Adalah bodoh untuk
membayangkan bahwa beberapa hal yang
dikemukakan dalam kitab Injil
sebagai agama. Semua hal yang esensial
(penting) bagi kesempurnaan manusia
harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari keadaan alamiahnya yang liar
kepada keadaan kemanusiaan
yang sebenarnya, dan dari sana membawa
manusia ke tingkatan hidup yang bijak,
setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan
yang sepenuhnya merupakan pengabdian
kepada Allah Swt..” (Kitabul
Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 89, London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai
bahaya ajaran yang hanya menekankan pada pemaafan secara membuta yang
diajarkan Injil:
“Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil
tidak ada memberikan jalan bagi
pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita (manusia) ini turun di bumi dengan
berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat.
Injil hanya menekankan kepada sifat rendah
hati dan kelembutan. Sifat
rendah hati dan pengampun
memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat,
tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan
membawa kerusakan dahsyat.
Kehidupan budaya manusia
terdiri dari saling pengaruh
mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat, yang menuntut bahwa kita harus menggunakan
sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat.
Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat
pengampun dan tabah (sabar) akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan
lain, penggunaan sifat tersebut
hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan
yang lebih parah.
Kehidupan keruhanian kita
dalam banyak hal menyerupai kehidupan fisik
(jasmani). Berdasarkan pengalaman
kita mengetahui bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak
makan sesuatu yang menghangatkan maka kita akan mudah
terkena beberapa jenis penyakit
seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi.
Sebaliknya, kalau kita membatasi
diri pada unsur-unsur makanan
yang hangat saja -- dimana air
minum pun harus panas -- maka
kita juga cenderung akan terkena
beberapa jenis penyakit lainnya.
Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas
dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan
dengan istirahat.
Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus
mengikuti ketentuan yang sama.
Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara
murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan sifat itulah yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri
hati dikatakan buruk,
tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan
yang baik -- seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan -- maka sifat
iri demikian menjadi akhlak yang mulia.
Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak
lainnya.
Penyalahgunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatannya pada saat
yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat.
Oleh sebab itu merupakan kesalahan
untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon
kemanusiaan dan hanya menekankan pada pengampunan dan ketabahan saja. Karena itulah ajaran Injil tersebut telah gagal
dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah.
Kitab Injil yang sekarang ini
tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan.
Sebagaimana bintang-bintang mulai
memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Quran.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm.
66-67, London, 1984).
Keadaan Agama-agama Sebelum Islam
Bagaikan “Kebun-kebun” yang
Ditinggalkan Pemiliknya
Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan penyebab mengapa agama-agama yang diturunkan sebelum Islam keadaannya bagaikan “kebun-kebun”
yang tidak pernah mendapat pemeliharaan
lagi dari pemiliknya:
“Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam,
mengandung berbagai kesalahan. Hal
ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam, Allah Swt. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukang kebun untuk merawat,
mengairi dan memeliharanya, sehingga
secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas
dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi
semuanya. Agama-agama tersebut kehilangan semangat keruhanian
yang menjadi dasar dari semua agama, dan tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata
usang.
Allah Swt. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama
Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur
berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba
Allah untuk memperbaiki
(mujaddid), orang-orang yang bodoh
selalu menentang dan menolak perubahan atas
apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah Yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya.
Di Akhir Zaman ini pun -- yang merupakan saat pertempuran terakhir antara petunjuk kebenaran
dan kebathilan -- di awal
abad ke-14 karena melihat bagaimana umat
Muslim menjadi tidak peduli dan tidak acuh, Allah Swt. kembali menunaikan
janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan
kembali Islam. Hanya saja agama-agama
lain tidak pernah disegarkan
kembali setelah kedatangan Yang Mulia
Rasulullah saw. sehingga agama-agama
itu menjadi mati. Tidak ada lagi kehidupan
keruhanian dalam agama-agama
itu dan kebathilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang
tidak pernah lagi dicuci.
Orang-orang yang tidak mempunyai
perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas
dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak
lagi mirip dengan keadaan pada awal
ketika agama tersebut diturunkan. Contohnya agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya.
Ajaran yang diberikan Nabi
Isa a.s. memang tidak sesempurna
ajaran Al-Quran karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu
ajaran yang sempurna dan mereka belum
cukup kuat untuk menanggungnya,
namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya.
Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan
oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi
Isa a.s., tuhannya umat Kristen
menjadi tuhan yang lain yang tidak
ada disebut dalam Taurat dan tidak
dikenal sama sekali oleh Bani Israil.
Keimanan kepada tuhan
yang baru ini telah menjungkir-balikkan
system Taurat dan semua ajaran
yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian najat (keselamatan) haqiqi
serta kehidupan yang suci menjadi kacau
balau.
Najat (keselamatan)
dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan
bahwa Yesus menerima penyaliban (mati di tiang salib) sebagai penebusan dosa umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri.
Banyak sekali kaidah-kaidah tetap
dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah,
sehingga jika misalnya Yesus turun lagi
ke dunia maka beliau tidak akan lagi
mengenalinya sebagai ajaran yang
dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia
yang diperintahkan untuk mentaati Taurat,
lalu tiba-tiba mengesampingkan
ajaran-ajarannya.
Sebagai contoh, meski pun Injil
menyatakan bahwa Taurat melarang makan
daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan.
Begitu juga Injil menyatakan bahwa
walaupun Taurat mengharuskan khitan,
tetapi sekarang hal itu malah dilarang.
Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak
pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah Swt.
untuk menegakkan sebuah agama
yang universal yang
bernama Islam, maka semua
kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi
dari kemunculan Islam.”
Keadaan Agama Hindu
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengkritisi agama Hindu berkenaan pandangan keliru mereka tentang Tuhan
Yang Hakiki:
Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam, dimana di seluruh bagian India penyembahan berhala sudah menjadi
hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari akidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak
tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan
Sifat-sifat-Nya, dalam pandangan
bangsa Arya dianggap amat bergantung
kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Akidah seperti
ini melahirkan akidah salah lainnya
yang mengatakan bahwa semua partikel
massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan.
Kalau saja mereka mempelajari
secara mendalam Sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan Sifat-sifat
abadi-Nya dalam kegiatan
penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti
halnya manusia, lalu bagaimana
mungkin Dia dalam Sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia? Manusia tidak bisa
mendengar tanpa perantaraan udara
dan tidak bisa melihat tanpa bantuan
cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung
pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar?
Jika Dia tidak bergantung
demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun
dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan. Adalah salah sama sekali menyangka
bahwa Dia bergantung kepada yang lain
dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya.
Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia
tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan
sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas
adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas.
Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya Dia itu
bisa saja menciptakan makhluk
lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok
dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan Sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan.
Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia
bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa
melakukannya. Dari antara umat Hindu
yang memiliki selain pengetahuan
juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua
ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.
Semua pembusukan agama --
beberapa di antaranya bahkan tidak layak
disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan -- merupakan indikasi perlunya ada agama
Islam. Setiap orang yang berfikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum
turunnya Islam, agama-agama lain
telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya.
Hadhrat Rasulullah saw.
adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang haq
(kebenaran), yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia.
Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan
dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan
menjadi Nur.” (Khutbah Sialkot
berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press,
1904; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 20, hlm. 203-206, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 9 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar