بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.
Kalau ini disebut kekafiran, maka demi
Allah aku adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Bab 14
Tanda ‘Ulama (Orang-orang Berilmu) yang Hakiki Menurut Al-Quran Adalah yang Takut dan Cinta
Terhadap Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir
Bab-bab sebelumnya telah dikemukakan
beberapa ulama Islam yang
melahirkan berbagai karya tulis
monumental, terutama dalam bidang tasawuf
yang berpandangan moderat, seperti: Junaid Al-Baghdadi;
Al-Qusyairi An-Naisabury dan Al-Harawi:
Al-Harawi. Nama lengkapnya adalah Abu isma`il `Abdullah bin Muhammad al-Ansari.
Beliau lahir tahun 396 H. di Heart, kawasan khurasan. Seperti dikatakan Louis
Massignon, dia adalah seorang faqih dari madzhab hambali, dan karya-karyanya di bidang tasawuf dipandang amat bermutu.
Sebagai tokoh sufi pada abad kelima Hijriyah, dia
mendasarkan tasawufnya di atas doktrin Ahl
al-Sunnah. Bahkan ada yang memandangnya sebagai pengasas gerakan pembaharuan dalam tasawuf dan penentang
para sufi yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan
yang aneh seperti Al-Bustami dan Al-Hallaj.
Di antara karya-karya beliau tentang tasawuf adalah Manazil al-Sa`irin ila Rabb al-`Alamin. Dalam dalam karyanya yang
ringkas ini, dia menguraikan tingkatan-tingkatan
ruhaniyah para sufi, di
mana tingkatan para sufi tersebut, menurutnya, mempunyai awal dan akhir,
seperti katanya; ”Kebanyakan ulama kelompok ini sependapat bahwa
tingkatan akhir tidak dipandang benar kecuali dengan benarnya tingkatan awal,
seperti halnya bangunan tidak bisa tegak kecuali didasarkan pada fondasi. Benarnya
tingkatan awal adalah dengan menegakkannya di atas keihklasan serta keikutannya
terhadap al-Sunnah”.
Dalam kedudukannya sebagai
seorang penganut paham sunni, Al-Harawi melancarkan kritik terhadap para sufi yang terkenal dengan keanehan
ucapan-ucapannya, sebagaimana katanya. Dalam kaitannya dengan masalah
ungkapan-ungkapan sufi yang aneh tersebut, Al-Harawi berbicara tentang maqam ketenangan (sakinah).
Maqam ketenangan
timbul dari perasaan ridha yang aneh, ia mengatakan: “Peringkat ketiga (dari
peringkat-peringkat ketenangan) adalah ketenangan yang timbul dari perasaan
ridha atas bagian yang diterimanya.
Ketenangan tersebut bisa mencegah ucapan aneh yang menyesatkan dan membuat orang yang
mencapainya tegak pada batas tingkatannya.”
Yang dimaksud
dengan “ucapan yang menyesatkan” itu adalah seperti ungkapan-ungkapan yang
diriwayatkan dari Abu Yazid dan lain-lain. Berbeda dengan Al-Junaid, Sahl al-Tusturi dan lainnya karena mereka ini memiliki ketenangan yang membuat mereka tidak
mengucapkan ungkapan-ungkapan yang aneh. Karena itu dapat dikatakan bahwa ungkapan-ungkapan yang aneh tersebut timbul dari ketidak-tenangan, sebab seandainya ketenangan
itu telah bersemi di kalbu, maka hal
itu akan membuatnya terhindar dari mengucapkan ungkapan-ungkapan yang menyesatkan
tersebut.
Kemudian yang dimaksud dengan batas
tingkatan adalah tegaknya seorang sufi pada batas tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Tegasnya, di sekali-kali tidak melewati tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Ketenangan tersebut, menurut Al-Harawi tidak di
turunkan kecuali pada kalbu seorang nabi
atau wali.
Sepuluh Orang Cendekiawan
Muslim Terkenal
Sedangkan dalam ilmu pengetahuan lainnya, seperti fisika, matematika, astronomi,
kedokteran dan lain-lain contohnya adalah:
1. Ibnu Rusyd (Averroes). Nama lengkapnya Abu
Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah
(1128 Masehi). Karya-karya Ibnu
Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua
karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan
ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya
aslinya sudah tidak ada. Karya beliau antara lain: Bidayat
Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih); Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran); Fasl
Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan
menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat).
2. Ibnu
Sina (Avicenna): Ibnu Sina
(980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf,
ilmuwan, dan juga dokter kelahiran
Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis
yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan.
Beliau adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya
memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Beliau dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton
menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling
terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang,
tempat, dan waktu.” Karyanya yang paling
terkenal adalah The Book of Healing dan
The Canon of Medicine, dikenal juga
sebagai sebagai Qanun (judul lengkap:
Al-Qanun fi At Tibb). 3
3. Al-Biruni. Beliau seorang
matematikawan
Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia,
filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, dan
obat-obatan.
Ketika berusia 27, beliau telah menulis
buku berjudul "Kronologi"
yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang
tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab,
sebuah buku tentang sistem desimal, 4
buku tentang pengkajian bintang, dan
2 buku tentang sejarah. Beliau
membuat penelitian radius Bumi kepada
6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16) Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.
4. Al-Khawarizmi. Nama Asli dari Al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi. Selain itu beliau dikenali
sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad
bin Yusoff. Beberapa cabang ilmu dalam matematika yang diperkenalkan oleh Al-Khawarizmi seperti: geometri,
aljabar, aritmatika dan lain-lain.
Geometri merupakan cabang kedua dalam
matematika. Isi kandungan yang diperbincangkan dalam cabang kedua ini ialah
asal-usul geometri dan rujukan utamanya ialah Kitab al-Ustugusat [The Elements] hasil karya Euklid : geometri
dari segi bahasa berasal daripada perkataan Yunani iaitu ‘geo’ yang berarti
bumi dan ‘metri’ berarti pengukuran.
Dari
segi ilmu, geometri adalah ilmu yang
mengkaji hal yang berhubungan dengan magnitud
dan sifat-sifat ruang. Geometri ini dipelajari sejak zaman fir’aun [2000SM]. Kemudian
Thales Miletus memperkenalkan geometri Mesir kepada Yunani sebagai satu sains
dalam kurun abad ke 6 SM. Seterusnya sarjana Islam telah menyempurnakan kaidah
pendidikan sains ini terutama pada abad ke 9M.
Algebra/aljabar merupakan nadi
matematika. Karya Al-Khawarizmi telah
diterjemahkan oleh Gerhard of Gremano dan Robert of Chaster ke dalam bahasa
Eropa pada abad ke-12. Sebelum munculnya karya yang berjudul ‘Hisab al-Jibra wa al Muqabalah yang
ditulis oleh al-Khawarizmi pada tahun 820M, sebelumnya tak ada istilah aljabar.
5.
Jabir Ibnu Hayyan (Ibnu Geber). Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa
ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga
menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah
ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya
yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti,
dalam History of The Arabs.
Berkat penemuannya ini pula Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi
kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi
kimia Jabir mencakup penguraian
metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang
diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfecdonis.
6.
Ibnu Ismail Al Jazari. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari.
Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu
Al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak
mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion
engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.
7.
Abu Al Zahrawi (Albucasis).
Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter,
ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli
dari teknik pengobatan patah tulang
dengan menggunakan gips sebagaimana
yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era Kekhalifahan, dia sangat berjasa dalam
mewariskan ilmu kedokteran yang
penting bagi era modern ini.
Al
Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang
terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara
modern Spanyol di Eropa. Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena
sebagai seorang Muslim yang taat.
Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan
Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang shufi. Kebanyakan dia melakukan
pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak
meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya
merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu
pemurah serta baik budi pekertinya.
8.
Ibnu Haitham (Al-Hazen). Nama
lengkapnya Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu
al-Haitham. Dunia Barat mengenalnya dengan nama Al-Hazen. Ia lahir di Basrah tahun 965 M. Di kota kelahirannya itu
ia sempat menjadi pegawai pemerintahan. Tetapi segera keluar karena tidak suka
dengan kehidupan birokrat.
Belajar yang dilakukan secara otodidak membuatnya mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat.
Tulisannya mengenai mata telah
menjadi salah satu rujukan penting dalam bidang penelitian sains di Barat.
Kajiannya mengenai pengobatan mata
menjadi dasar pengobatan mata modern.
Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, salah satunya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya
banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan
matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Ibnu Haitham membuktikan dirinya begitu
bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Banyak buku
yang dihasilkannya dan masih menjadi rujukan hingga saat ini. Di antara
buku-bukunya itu adalah Al’Jami’ fi Usul
al’Hisab yang mengandung teori-teori ilmu matemetika dan matematika
penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa al-Tarkib
mengenai ilmu geometri; Kitab Tahlil ai’masa’il
al ‘Adadiyah tentang aljabar; Maqalah
fi Istikhraj Simat al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat; Maqalah fima Tad’u llaih mengenai
penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.
9.
Al-Jahiz. Al-Jahiz lahir di
Basra, Irak pada 781 M. Abu Uthman Amr
ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, nama aslinya. Ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak ini
merupakan ilmuwan Muslim pertama yang
mencetuskan teori evolusi.
Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli
zoologi Muslim dan Barat.
Jhon William Draper, ahli biologi Barat
yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang
seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal
tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi Muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi.
10.
Ar-Razi (Razhes). Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi dikenali sebagai Rhazes di dunia
barat merupakan salah
seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia lahir di Rayy,
Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.
Ar-Razi
sejak muda telah mempelajari filsafat,
kimia, matematika dan kesusastraan.
Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi
merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:
"Cacar
terjadi ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan
mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti
ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya
seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk
gelembung pada wine. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa
kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini
adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa
menjadi epidemi." *[1]
Diagnosa ini kemudian
dipuji oleh Encyclopaedia Britannica
(1911) yang menulis: "Pernyataan
pertama yang paling akurat dan terpercaya tentang adanya wabah ditemukan pada
karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan
gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi
anggur dan cara mencegah wabah tersebut."
‘Ulama Hakiki atau Ulil-Albāb
Mereka itulah yang dimaksud dengan ‘ulama hakiki dalam firman Allah Swt. berikut ini:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ
الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam
warnanya, dan ada yang sehitam
burung gagak? Dan demikian
juga di antara manusia, hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی
اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ‘ulama. ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-9).
Ayat 27 bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta aneka cita rasa, dan bentuk
serta corak yang berlainan.
Air hujannya sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang
dihasilkan sangat berbeda satu sama
lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah
dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat
dalam Al-Quran telah diibaratkan air
— turun kepada suatu kaum maka wahyu itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan
dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah, dan batu karang,
akan tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak.
Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām
(binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia
dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami. Ungkapan
اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ
الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dsari antara hamba-hambanya
yang takut kepada Allah dari adalah para
ulama” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu
menggambarkan tiga golongan manusia,
yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu (‘ulama) saja yang takut kepada Tuhan.
Tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti
ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan
hukum alam. Penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya
niscaya membawa orang kepada makrifat
mengenai kekuasaan Maha Besar Allah
Ta’ala dan sebagai akibatnya merasa kagum
dan takzim terhadap Tuhan.
Dalam QS.3:191-195
‘ulama yang seperti itu disebut ulil-albāb yaitu orang-orang
yang mempergunakan akal mereka
secara benar melalui tafakkur, sehingga mereka dapat membaca Tanda-tanda keberadaan
dan kekuasaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ
لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا
سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang benar-benar terdapat
Tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, yaitu orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan
seluruh langit dan bumi seraya
berkata: رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- “Ya Rabb (Tuhan)
kami, sekali-kali tidaklah Engkau
menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan
sia-sia maka peliharalah kami dari
azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau ma-sukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah
mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan
seraya berkata: "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, dan hapuskanlah
dari kami kesalah-an-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama
orang-orang yang ber-buat kebajikan. رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghi-nakan kami pada
Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau
tidak pernah menyalahi janji.” (Āli ‘Imran [3]:191-195).
Nasib Tragis Kaum-kaum Purbakala yang Bersikap
Takabbur Terhadap Para Rasul Allah
Pendek kata, betapa Nabi Besar Muhammad saw. seorang Rasul Allah yang ummy (buta-huruf) tetapi telah melahirkan
para pengikut beliau saw. yang
bagaikan “bintang-bintang cemerlang” di
langit, yang bahkan menakjubkan
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, berikut
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاسۡتَفۡتِہِمۡ اَہُمۡ اَشَدُّ
خَلۡقًا اَمۡ مَّنۡ خَلَقۡنَا ؕ اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ ﴿﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ وَ
یَسۡخَرُوۡنَ ﴿۪﴾
Maka
tanyakanlah kepada mereka, apakah mereka yang lebih sukar diciptakan ataukah orang lainnya yang telah Kami ciptakan? اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ
مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ -- Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah
liat lengket. بَلۡ عَجِبۡتَ وَ یَسۡخَرُوۡنَ -- Bahkan engkau merasa takjub, sedangkan
mereka berolok-olok. (Ash-Shāffāt
[37]:12-13).
Makna ungkapan بَلۡ عَجِبۡ -- “Bahkan engkau
merasa takjub,” bahwa terjadinya suatu jemaat
orang-orang yang benar-benar shalih
dan bertakwa dengan perantaraan Nabi
Besar Muhammad saw. dan penegakkan Islam
di atas landasan yang kuat di Arabia,
sungguh-sungguh merupakan suatu keajaiban
yang menakjubkan, bahkan ditakjubi beliau saw. sendiri, tetapi sikap para penentang beliau saw. sebaliknya, yakni وَ
یَسۡخَرُوۡنَ – “sedangkan mereka berolok-olok.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai sikap buruk mereka:
وَ اِذَا
ذُکِّرُوۡا لَا یَذۡکُرُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ اِذَا رَاَوۡا
اٰیَۃً یَّسۡتَسۡخِرُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
قَالُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّا
سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۚۖ﴾ ءَ اِذَا مِتۡنَا وَ کُنَّا تُرَابًا وَّ عِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوَ اٰبَآؤُنَا الۡاَوَّلُوۡنَ ﴿ؕ﴾ قُلۡ
نَعَمۡ وَ اَنۡتُمۡ
دَاخِرُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Dan apabila mereka diperingatkan, mereka tidak memperhatikan. Dan apabila mereka
melihat suatu Tanda, mereka memperolok-oloknya. Dan mereka
berkata, ”Al-Quran ini tidak lain melainkan sihir yang nyata. Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi debu dan tulang, apakah kami benar-benar
akan dibangkitkan lagi? Apakah juga bapak-bapak kami dahulu?” قُلۡ نَعَمۡ
وَ اَنۡتُمۡ دَاخِرُوۡنَ -- Katakanlah:
Ya, dan kamu akan menjadi terhina.” (Ash-Shāffāt [37]:14-18).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 17 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar