Selasa, 24 November 2015

Latar Belakang Turunnya Ayat "Khaataman-Nabiyyiin" Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw. & Berbagai Makna "Khaataman-Nabiyyiin"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah,   aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.  Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Bab 18

   Latar Belakang Turunnya Ayat Khātaman Nabiyyīn  Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw. & Berbagai  Makna  Khātaman Nabiyyīn

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya  telah  dikemukakan mengenai firman Allah Swt.  tentang makna ayat:  مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ   -- “Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi” (QS.33:41).
        Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt.  menyatakan bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw. bukan ayah jasmani seorang laki-laki bangsa Arab   mana pun, melainkan adalah seorang  Rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh umat manusia, dan beliau saw. juga  bukan sekedar seorang Rasul Allah tetapi juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa Nabi Besar Muhammad saw.   adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah. Maka jika  beliau saw.  dalam kenyataannya  adalah seorang  bapak ruhani semua orang beriman dan semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat disebut abtar atau tak berketurunan, firman-Nya:
اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُم -- dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  ruhani mereka.  Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah,  kecuali jika kamu ber-buat kebaikan terhadap sahabat kamu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzāb [33]:7).

Menghapuskan Adat Istiadat jahiliyah Mengenai   Zhihar    dan Anak Angkat

   Ayat ini menghindarkan kemungkinan timbulnya dua macam tanggapan dari penyalahartian perintah yang terkandung dalam ayat ke-6 sebelumnya, yang  dalam ayat itu orang-orang beriman dianjurkan supaya memanggil anak-anak angkat mereka  -- termasuk Zaid bin Haritsah r.a., anak angkat Nabi Besar Muhammad Saw. --  dengan nama bapak mereka, maka dalam ayat 7  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan sendirinya telah disebut “bapak orang-orang beriman”, sebab semua istri beliau saw. merupakan “ibu-ibu ruhani” orang-orang bertiman: وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُم --  “dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  ruhani mereka”.   
     Jadi, Surah Al-Ahzab ayat 6  membicarakan hubungan darah antara  anak kandung dengan ayahnya,  sedangkan  ayat 7 yang sedang dibahas   membicarakan hubungan ruhani yang ada antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan  orang-orang beriman, berikut firman-Nya mengenai kebatilan adat-istiadat bangsa Arab jahiliyah berkenaan dengan perlakuan buruk terhadap  istri  dan sikap berlebihan berkenaan dengan anak angkat, yang dibatalkan oleh ajaran Islam melakui amal Nabi Besar Muhammad saw.,    yaitu beliau saw. diperintahkan Allah Swt. untuk menikahi janda  Zaid bin Haritsah r.a., anak angkat beliau saw. (QS.33:39-41):
مَا جَعَلَ اللّٰہُ  لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ فِیۡ جَوۡفِہٖ ۚ وَ مَا جَعَلَ  اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ  تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ وَ مَا جَعَلَ  اَدۡعِیَآءَکُمۡ  اَبۡنَآءَکُمۡ ؕ ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ  وَ ہُوَ  یَہۡدِی  السَّبِیۡلَ ﴿﴾  اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ  اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ ؕ وَ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ  اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ  ۙ  وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam dadanya,  وَ مَا جَعَلَ  اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ  تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ  -- dan Dia sekali-kali tidak pula menjadikan istri-istri kamu  yang kamu menjauhi mereka dengan menyebut mereka ibu  adalah ibu-ibumu yang hakiki, وَ مَا جَعَلَ  اَدۡعِیَآءَکُمۡ  اَبۡنَآءَکُمۡ   -- dan Dia tidak pula menjadikan anak-anak angkat kamu  sebagai anak-anak kamu. ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ   -- Yang demikian itu hanyalah ucapan kamu dengan kedustaan mulutmu, وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ  وَ ہُوَ  یَہۡدِی  السَّبِیۡلَ   -- sedangkan Allah mengatakan yang haq, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.  اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ  اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ  --  Panggillah mereka dengan nama ayah-ayah mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah.  فَاِنۡ لَّمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ  -- Tetapi jika kamu tidak mengetahui bapak mereka maka mereka adalah saudara-saudara kamu dalam agama dan sahabat-sahabat kamu. وَ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ  اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ    --  Dan tidak ada dosa atas kamu  mengenai kesalahan yang telah kamu kerjakan dalam urusan ini, وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا  -- tetapi kamu diminta pertanggung-jawaban atas apa yang sengaja disengaja hati kamu.  وَ  کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا -- Dan adalah Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:5-6).
   Zhihar atau muzhaharah dalam ayat وَ مَا جَعَلَ  اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ  تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ  -- “dan Dia sekali-kali tidak pula menjadikan istri-istri kamu  yang kamu menjauhi mereka dengan menyebut mereka ibu  adalah ibu-ibumu yang hakiki,” berarti suami  memisahkan diri sendiri dari istrinya sendiri   -- yakni tidak lagi memperlakukannya sebagai istri   -- dengan memanggilnya ibu (Lexicon Lane).
 Jadi, betapa adat-istiadat jahiliyah benar-benar sangat merendahkan   martabat kaum perempuan, sehingga hanya karena alasan yang sepele saja suami dapat meluputkan hak-hak  para  istri, seperti yang dijelaskan dalam ajaran Islam (Al-Quran) berkenaan dengan perceraian (QS.2:223-243; QS.65:1-8).

Hati Manusia Hanya Melayani Satu Macam “Keharuan” Saja

    Ad’iya dalam ayat وَ مَا جَعَلَ  اَدۡعِیَآءَکُمۡ  اَبۡنَآءَکُمۡ   -- dan Dia tidak pula menjadikan anak-anak angkat kamu  sebagai anak-anak kamu”  adalah bentuk jamak dari da’iy dan berarti:  seorang yang diaku anak oleh orang lain yang bukan ayahnya sendiri, anak angkat; orang yang asal-usulnya atau silsilah keturunannya atau orangtuanya diragukan; seseorang yang mengaitkan silsilah keturunannya kepada orang-orang yang bukan bapaknya sendiri yang sejati (Lexicon Lane).
   Ayat 5 dan 6 Surah Al-Ahzāb tersebut berikhtiar menghapuskan dua macam adat-kebiasaan  jahiliyah yang mendarah daging dan yang tersebar luas di kalangan bangsa Arab di zaman  Nabi Besar Muhammad saw., sehingga beliau saw. pun telah menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai anak-angkat beliau a.s  ketika  yang bersangkutan (Zaid)  memilih  untuk tetap bersama dengan beliau saw. daripada  pergi bersama ayah kandungnya (Haritsah), serta menyebutnya Zaid bin Muhammad.
   Yang paling buruk dari antara kedua macam adat-kebiasaan itu ialah zhihar. Seorang suami dalam keadaan naik darah (marah) biasa menyebut ibu kepada istrinya. Perempuan  yang malang itu diluputkan dari hak-haknya sebagai istri, namun demikian ia tetap terikat kepada suami tanpa mempunyai hak menikah dengan orang lain untuk jadi suaminya.
     Adat-kebiasaan jahiliyah yang lain ialah kebiasaan mengangkat anak orang lain sebagai anak sendiri. Kebiasaan ini kecuali dikhawatirkan menyebabkan kekalutan dalam hubungan darah, juga merupakan suatu kebiasaan kekanak-kanakan dan dungu. Alasan bagi penghapusan kedua kebiasaan jahiliyah itu dirangkum dalam kata-kata مَا جَعَلَ اللّٰہُ  لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ فِیۡ جَوۡفِہٖ   -- Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam dadanya”.
    Hati manusia dipahami sebagai tempat bersemayam keharuan-keharuan dan perasaan-perasaan. Lagi pula hati manusia   hanya dapat melayani satu macam keharuan pada suatu saat tertentu. Keharuan-keharuan yang bertentangan tidak mungkin dilayani oleh hati secara serentak pada waktu yang bersamaan. Lagi pula hubungan-hubungan manusiawi yang berbedaan memancing keharuan yang berlain-lainan pula.
     Hanya semata-mata menyebut istrinya ibu sendiri atau menyebut seorang asing anaknya tidak dapat memancing keharuan yang serasi di dalam hati. Karena itu istri seseorang tidak mungkin menjadi ibunya dan begitu pula seorang orang asing tidak mungkin menjadi anak kandungnya.
     Kata-kata yang keluar dari mulut semata-mata tidaklah dapat mengubah keadaan hati si pengucap kata-kata itu, begitu pula kata-kata itu tidaklah dapat mengubah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat disembunyikan, mengenai hubungan jasmani.  Itulah makna ayat ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ   -- Yang demikian itu hanyalah ucapan kamu dengan kedustaan mulutmu.”

Persaudaraan Ruhaniah” Tidak Dapat “Saling Mewarisi”  Harta Kekayaan

    Jadi, kembali kepada firman Allah   mengenai “kebapak-ruhanian” Nabi Besar Muhammad saw.:  
اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُم -- dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  ruhani mereka.  Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah,  kecuali jika kamu ber-buat kebaikan terhadap sahabat kamu, yang demikian itu telah tertulis di da-lam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzāb [33]:7).
  Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan dalam Islam yang telah menjelma melalui kebapak-ruhanian  Nabi Besar Muhammad saw. mungkin telah menjuruskan orang-orang kepada salah pengertian, bahwa orang-orang Islam yang tidak memiliki hubungan darah apa pun dapat saling mewarisi harta kekayaan masing-masing.
 Ayat ini (QS.33:7) berikhtiar menghilangkan salah pengertian itu dengan menetapkan, bahwa hanya keluarga yang ada hubungan darah sajalah yang dapat mewarisi satu sama lain, dan bahwa dari keluarga sedarah pun hanya yang mukmin saja yang dapat mewarisi satu sama lain, sedang orang-orang yang kafir telah dicegah dari mewarisi harta keluarga mereka yang beriman.
   Ayat ini pun melenyapkan bentuk persaudaraan yang diadakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. antara kaum Muhajirin  dari Mekkah dan kaum Anshar Madinah, yaitu pada  waktu kaum Muhajirin sampai di Medinah, yang menurut perjanjian persaudaraan itu bahkan seorang Muhajir akan mewarisi juga harta yang ditinggalkan seorang Anshar.
    Persaudaraan yang tadinya hanya merupakan tindakan sementara dan diambil guna memulihkan kembali keadaan ekonomi  kaum Muhajirin itu, sekarang  melalui ayat tersebut ditiadakan,  dan hanya hubungan darah — dan bukan hubungan atas dasar keimanan semata — menjadi faktor penentu dalam menetapkan pembagian warisan dan dalam urusan-urusan kekeluargaan lainnya (QS.4:8 & 34). Akan tetapi Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) yang lebih luas berlanjut terus, dan orang-orang Muslim diharapkan memperlakukan satu sama lain seperti saudara (QS.49:11).
      Itulah hubungan penghapusan masalah zhihar dan  anak-angkat  dengan  firman-Nya: Ayat   مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ   -- “Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi’ mengatakan, bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw. bukan ayah jasmani seorang laki-laki bangsa Arab   mana pun, melainkan adalah seorang  Rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh umat manusia, dan beliau juga  bukan sekedar seorang Rasul Allah tetapi juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa Nabi Besar Muhammad saw.   adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah. Maka bila beliau saw.  dalam kenyataannya  adalah seorang  bapak ruhani semua orang beriman dan semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat disebut abtar atau tak berketurunan.

Pembelaan Berjenjang Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. &  Berbagai Makna “Khātaman Nabiyyīn

     Jadi, sangat jelas sekali bantahan berjenjang  yang dikemukakan ayat Khātaman Nabiyyīn tersebut  terhadap tuduhan  para pemuka kaum kafir Arab bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. telah melakukan suatu tindakan tercela  berupa menikahi janda anak angkatnya, bertentangan dengan adat-istiadat jahiliyah bangsa Arab. Bantahan berjenjang tersebut adalah:
    1. Bahwa  karena semua anak laki-laki Nabi Besar Muhammad saw.  telah wafat pada waktu masih kecil, jadi beliau saw. adalah  مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ  -- “Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki kalian”, termasuk bukan ayah kandung Zaid bin Haritsah r.a., sehingga  pernikahan beliau saw. dengan  Siti Zainab r.a.   dibenarkan menurut  syariat Islam (Al-Quran).
    2. Bagaimana mungkin Nabi Besar Muhammad saw. akan melakukan tindakan tercela, sebab beliau saw. adalah seorang Rasul Allah yang harus merupakan suri teladan kebaikan, itulah makna pembelaan kedua: وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ  --  “akan tetapi ia adalah seorang Rasul Allah”.
    3. Terlebih lagi Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja sekedar Rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  tetapi juga satu-satunya Rasul Allah yang  bergelar  خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ   (Khātaman Nabiyyīn).
      Apabila ungkapan  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  diambil dalam arti bahwa   itu nabi yang terakhir, dan bahwa “tidak ada nabi akan datang sesudah beliau saw.”, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. tidak berketurunan, malahan mendukung dan menguatkannya.
      Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khātam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
    (1)  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan  Nabi Besar Muhammad saw..    Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.   dan juga tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau (QS.4:70-71).
    (2)  Nabi Besar Muhammad saw.     adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
    (3)  Nabi Besar Muhammad saw.      adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
      Menurut ulama-ulama besar dan para waliullāh itu, tidak ada nabi dapat datang sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.     yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau (Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir).
      Sitti Aisyah r.a., istri  Nabi Besar Muhammad saw., yang amat berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Nabi Besar Muhammad saw.     adalah Khātaman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
    (4)  Nabi Besar Muhammad saw.     adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau: khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai.
      Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad saw. wafat (QS.7:36).  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanzul-Umal).

Penegakkan Kebenaran  Ajaran  Islam yang Rawan Fitnah

    Perlu diketahui bahwa pengamalan perintah Allah Swt. oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai penghapusan adat-istiadat mengenai  anak-angkat tersebut dengan menikahi  janda Zaid bin Haritsah r.a.,   yakni Siti zainab r.a., benar-benar sangat rawan menimbulkan fitnah, baik dari kalangan bangsa Arab jahiliyah  mau pun dari pihak-pihak penentang Islam lainnya  --  terutama  dari golongan Ahli Kitab   --  terhadap beliau saw. dan  terhadap ajaran Islam (Al-Quran).
     Tetapi demi tegaknya ajaran Islam (Al-Quran)   -- sebagai  agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  --  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mempedulikan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi tersebut, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ  اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِ  اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ  وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ  وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ   اَحَقُّ اَنۡ  تَخۡشٰہُ ؕ فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا زَوَّجۡنٰکَہَا  لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ  فِیۡۤ  اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ  اِذَا  قَضَوۡا  مِنۡہُنَّ  وَطَرًا ؕ وَ کَانَ   اَمۡرُ  اللّٰہِ  مَفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya: اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ    --  Pertahankanlah terus istri engkau pada diri engkau  dan bertakwalah kepada Allah”, وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ  وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ   اَحَقُّ اَنۡ  تَخۡشٰہُ  -- sedangkan engkau menyembunyikan dalam hati engkau apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak agar engkau takut kepada-Nya.  فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا --  Maka tatkala Zaid menetapkan keinginannya terhadap dia,  زَوَّجۡنٰکَہَا  لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ  فِیۡۤ  اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ  اِذَا  قَضَوۡا  مِنۡہُنَّ  وَطَرًا ؕ    -- Kami menikahkan engkau dengan dia  supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang beriman menikahi bekas istri anak-anak angkatnya  apabila mereka telah menetapkan keinginannya mengenai mereka, وَ کَانَ   اَمۡرُ  اللّٰہِ  مَفۡعُوۡلًا  -- dan keputusan Allah pasti akan terlaksana. (Al-Ahzāb [33]:40).
      Yang dimaksud  dalam ayat  وَ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ  اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِ    -- “Dan ingatlah ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya”   adalah Zaid ibn Haritsah r.a., seorang pemuda yang dimerdekakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., yang kemudian  diambil beliau sebagai anak angkat beliau, sebelum pengangkatan itu dinyatakan tidak sah dalam Islam dalam   Surah Al-Ahzab.  
      Sitti Zainab r.a. adalah anak bibi  Nabi Besar Muhammad saw.  karena itu beliau seorang bangsawati Arab tulen, sangat bangga akan leluhur beliau dan akan kedudukan mulia dalam masyarakat. Islam menganggap dan telah memberi kepada dunia — peradaban dan kebudayaan yang di dalamnya tidak ada pembagian kelas, tidak ada kebangsawanan warisan, tidak ada hak-hak istimewa. Semua manusia bebas dan setara dalam pandangan Ilahi.
     Nabi Besar Muhammad saw.  menghendaki agar pelaksanaan cita-cita luhur agama Islam ini dimulai oleh keluarga beliau sendiri. Beliau ingin agar Sitti Zainab  r.a. menikah dengan Zaid bin Haritsah r.a., yang kendatipun telah dimerdekakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., sayang sekali ia masih tetap dianggap budak oleh sebagian orang. Justru cap perbudakan itulah  pemisah antara “orang merdeka” dan “budak belian” yang diikhtiarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. menghilangkannya melalui pernikahan Sitti Zainab dengan Zaid bin Haritsah r.a..

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 22  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar