بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Kemunculan Para Mujaddid (Pembaharu Ruhani) di
Setiap Awal Abad Sebagai Bukti Tetap
Bersinarnya “Matahari Kebenaran” Yaitu Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna “Dua Kalimah Syahadat”
Bab 24
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih Mau’ud a.s. mengenai
undangan dan tantangan
beliau kepada para penentang Islam sehubungan berbagai karunia istimewa Ilahi
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau sebagai bukti bahwa agama Islam
(Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw.
adalah agama (kitab sucI) dan Rasul Allah yang mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. (QS.15:10)
serta satu-satunya jalan untuk memperoleh kecintaan Allah Swt.:
“Pernyataan pengakuan dari Nabi Suci kita Rasulullah saw. berpendar (memancar) seperti sinar matahari dan menjadi bukti
dari berkat yang mengalir abadi
dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi
Rasulullah saw. akan dibangkitkan dari kematian [ruhani] dan dikarunia dengan kehidupan ruhaniah nyata yang
dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta
dukungan dari Ruhulqudus.
Ia akan menjadi manusia unik di
antara umat manusia lainnya, karena Allah Swt. akan membukakan berbagai rahasia Samawi
serta menyampaikan kebenaran Wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih
dan perkenan-Nya serta menurunkan bantuan di atas
dirinya serta menjadikan dirinya
sebagai cermin dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
Kebijakan akan mengalir dari mulutnya
dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia
tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah Yang Maha
Agung akan memperlihatkan Tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan
mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman,
terungkapnya rahasia-rahasia Samawi serta
karena turunnya berkat atas dirinya.
Setelah mendapat penugasan dari
Allah Swt., hamba yang lemah ini
telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia,
Eropa dan Amerika
mengenai hal-hal di atas agar mereka mengetahui.
Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku
bisa memperoleh kehidupan ruhaniah tanpa mengikuti Khātamul Anbiya saw.
agar mereka maju menghadapi aku,
jika tidak, maka sepatutnyalah ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran
guna menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan
kepadaku.
Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan itikad baik,
sedangkan dengan berlaku angkuh
demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka
itu meraba-raba dalam kegelapan.” (Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
221-222, London, 1984).
Kemunculan Para Mujaddid di
Setiap Abad dan Al-Masih-al-Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman Sebagai Mujaddid ‘Adzam (Pembaharu Ruhani Agung)
Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- Mirza
Ghulam Ahmad a.s. --bersabda mengenai pengutusan beliau sebagai Al-Masih Mau’ud (Al-Masih yang
dijanjikan):
“Kami meyakini sepenuhnya
bahwa nabi Allah yang paling
akbar
dan yang paling dikasihi-Nya adalah Muhammad saw.. Adapun para pengikut nabi-nabi lainnya berada dalam kegelapan karena
yang tersisa bagi mereka hanyalah dongeng
dan hikayat saja, sedangkan umat Muslim selalu menerima tanda-tanda
baru dari Allah Yang Maha
Kuasa.
Karena itu di antara umat Muslim banyak ditemui orang-orang yang memiliki pemahaman
yang mendalam, orang-orang yang beriman
kepada Tuhan-nya dengan penuh kepastian seolah-olah bisa menampak (melihat) Wujud-Nya. Umat agama
lainnya tidak memiliki kepastian yang seperti itu
menyangkut Allah Swt., karena itulah
jiwa kami bersaksi bahwa agama yang benar dan lurus
hanyalah Islam saja.
Mukjizat-mukjizat yang
diperlihatkan junjungan kita Hadhrat Rasulullah saw. bukanlah hanya dongeng
semata. Dengan mematuhi
beliau kita sendiri bisa mengalami mukjizat-mukjizat
tersebut, dan dengan berkat renungan dan pengalaman, kita akan memperoleh kepastian yang sempurna.
Betapa luhurnya derajat Nabi Suci yang sempurna itu yang kenabiannya selalu memberikan bukti-bukti
baru kepada para pencari kebenaran, sehingga berkat pengamatan berbagai tanda-tanda berkesinambungan kita dimungkinkan mencapai tahapan bisa melihat Allah Swt.. dengan mata kita sendiri. Karena itulah agama
yang benar hanyalah Islam dan Nabi yang benar
adalah beliau itu, yang
menjadi sumber mata air kebenaran.
Bersandar
kepada dongeng-dongeng yang bisa disangkal dengan segala macam dalih bukanlah pilihan dari seorang yang bijak. Ratusan
sudah manusia yang dipertuhan di bumi ini dan mereka bertumpu
pada berbagai dongeng-dongeng kuno, padahal pencipta keajaiban yang sebenarnya adalah beliau
yang menjadi sungai dengan mukjizat
yang tidak pernah mengering. Sosok
tersebut adalah junjungan dan penghulu
kita, Hadhrat Rasulullah saw..
Pada setiap abad, Allah Yang Maha Agung telah membangkitkan seseorang
yang akan memperlihatkan tanda-tanda dari wujud
yang sempurna dan suci tersebut. Dalam abad ini Dia telah mengutus
aku dengan derajat sebagai Al-Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan). Banyak tanda-tanda yang
diperlihatkan di langit, dan beraneka kejadian
luar biasa sedang berlangsung sekarang ini.
Setiap pencari kebenaran silakan
datang dan berdiam bersamaku guna menyaksikan tanda-tanda tersebut, apakah kalian dari umat Kristiani, Yahudi atau pun Arya.
Semua ini merupakan berkat dari Hadhrat Rasulullah saw..” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam
Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 155-157, London, 1984).
Makna “Dua Kalimah Syahadat” & Dua Macam Kehidupan
Nabi Muhammad Saw.
Dengan demikian jelaslah bahwa penetapan
nama Nabi Besar Muhammad saw. berdampingan dengan nama Allah
Swt. dalam Dua Kalimah Syahadat -- yang
merupakan Rukun Islam yang
pertama -- bukan saja mengisyaratkan keabadian agama Islam
(Al-Quran) dan ruhani Nabi Besar
Muhammad saw. tetapi juga merupakan satu-satunya ”pintu gerbang” memasuki “Kerajaan
Ilahi” (QS.3:32 & 86). Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Bukti dari kehidupan ruhani hanya bisa ditemukan pada wujud berberkat Hadhrat Rasulullah saw..
Alangkah hampanya hidup
yang tidak dirahmati dan alangkah tidak bergunanya hidup tidak berberkat. Sesungguhnya hanya ada dua kehidupan yang patut dihargai. Pertama, adalah kehidupan dari Yang Maha Hidup
dan Dzat Yang Tegak Dengan Sendirinya (Al-Hayyul- Qayyum) Yang menjadi Sumber dari segala kebaikan, sedangkan
yang kedua adalah kehidupan yang baik yang menuju kepada Tuhan.
Kami bisa membuktikan bahwa kehidupan
demikian itu adalah kehidupan Hadhrat
Rasulullah saw., yang baginya langit
telah memberikan kesaksian di setiap abad, sebagaimana juga yang terdapat sekarang ini. Mereka yang
tidak mengikuti kehidupan yang baik sama saja dengan orang yang sudah mati.
Aku bersaksi
demi Allah bahwa Dia telah
memberikan kepadaku bukti dari kehidupan abadi, keagungan
penuh dan kesempurnaan dari junjungan kita Muhammad saw., yang
kepadanya kita patut patuh,
dimana dengan mengikuti dan mengasihi beliau aku telah melihat Tanda-tanda
Samawi yang turun atas diriku, sehingga hatiku penuh
dengan Nur kepastian. Aku telah menyaksikan demikian banyak tanda-tanda
sehingga melalui Nur tanda-tanda itu aku telah menyaksikan Tuhanku.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 15, hlm. 139-140, London, 1984).
Kemudian mengenai hakikat dua tahapan kehidupan Nabi Besar
Muhammad saw. selama 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Pada beberapa tahapan kehidupan Hadhrat Rasulullah saw.
terlihat sebagai yang sedang amat direndahkan,
tetapi pada saat bersamaan beliau terlihat sebagai dibantu dan dicerahkan
oleh dukungan Nur Ruhulqudus sebagaimana terlihat dalam tindakan
dan perilaku beliau. Lingkaran Nur dan berkat beliau itu demikian luas dan lebarnya sehingga bukti dan refleksinya (pantulannya) menjadi nyata secara abadi.
Rahmat dan karunia Ilahi yang turun di abad ini hanya bisa diperoleh dengan mengikuti dan mematuhi beliau. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa disebut sebagai muttaqi
(orang bertakwa) atau yang memperoleh keridhaan Allah Swt., tidak juga yang bersangkutan bisa menjadi penerima berbagai berkat, rahmat, pemahaman, kebenaran dan kasyaf -- yang hanya diberikan kepada mereka
dengan tingkat kesucian batin tertinggi -- kecuali ia itu sepenuhnya patuh kepada Hadhrat Rasulullah saw.. Hal ini ditegaskan oleh Allah
Swt.. dalam ayat:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
‘Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah
aku, kemudian Allah pun akan
mencintaimu dan akan mengampuni
dosa-dosamu”’ (Āli
‘Imran [3]:32).
Aku inilah bukti
praktis yang hidup dari janji
Ilahi tersebut. Kalian akan bisa mengenaliku melalui tanda-tanda
dari mereka yang menjadi kekasih Allah Swt.. dan para sahabat-Nya
sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 203-204).
Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Suri
Teladan Terbaik”
Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut selaras
dengan pernyataan Allah Swt. berikut
ini, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat asuri teladan
yang sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]:22).
Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh
jenjang kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat
itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah,
yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan,
yakni ketika musuh bertekuk lutut di
hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian
yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. -- baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan
dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain
menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah
(Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak
beliau saw. lainnya. Mara bahaya
tidak mengurangi semangat beliau saw.
atau mengecutkan hati beliau saw.,
begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari
Pertempuran Hunain -- karena keadaan menjadi kacau-balau dan tidak terkendali akibat kesembronoan
orang-orang yang baru menggabungkan diri setelah
peristiwa Fatah Mekkah (QS.9:25)
-- sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, tetapi beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah
barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang
selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul
Muthalib!”
Dan tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan
yang mutlak dan tak tersaingi itu
tidak kuasa merusak Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran akhlak
yang tiada taranya terhadap musuh-musuh
beliau saw. yang telah berlaku sangat zalim.
Kesaksian Orang-orang Terdekat
dan Seorang Non-Muslim
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin
ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw. selain
kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang
paling akrab dengan beliau saw. dan
yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau saw., yakni,
istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang
hayat, Abu Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau saw.,
Ali bin Abi Thalib r.a.; bekas budak
beliau yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haristsah r.a..
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan
contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna
dalam keindahan dan kebajikan. Dalam segala segi kehidupan dan watak beliau saw. yang beraneka ragam,
tidak ada duanya dan merupakan contoh
yang tiada bandingannya bagi umat
manusia untuk ditiru dan diikuti.
Seluruh kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Beliau saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib
seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak
Nabi Besar Muhammad saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja beliau tetap merupakan contoh yang sempurna
dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau mendapat julukan Al-Amin (si Jujur
dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan
beliau terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di
antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga
yang jauh lebih muda, namun semua
bersedia memberi kesaksian dengan
mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan
beliau saw..
Sebagai ayah, Nabi Besar
Muhammad saw.
penuh
dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat, beliau saw. sangat setia dan murah
hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas
yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak (QS.33:73-74; QS.62:3), beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan
sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur
sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi
kekalahan dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta
menjatuhkan keputusan dalam berbagai
perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan,
seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
“Kepala
negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap,
tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak
mengatakan bahwa ia memerintah
dengan hak ketuhanan maka orang itu
hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat
kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan.
Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri,
biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma
dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas
sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan
doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang
dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu
sedikitnya” (Muhammad and
Muham-madanism” karya Bosworth Smith).
Menjadi “Kekasih
“Allah Swt.
Itulah
sedikit pemaparan suri teladan
terbaik yang telah diperagakan Nabi Besar Muhammad saw., sehubungan dengan
itu Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Hasil ikutan dari mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullah saw. -- khususnya yang berkaitan
dengan kasih, hormat dan kepatuhan
kepada beliau -- adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah Swt. dimana dosa-dosanya
akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan.
Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan
dari dosa-dosanya. Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang
murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung
maka perbuatan baik bagi manifestasi (perwujudan) keagungan
tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa.
Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah saw. dan mengakui kebesaran
beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan -- sedemikian rupa
sehingga ia mencapai taraf fana (tenggelam) -- maka ia karena hubungannya yang dekat kepada Rasulullah saw. akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau.
Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, [demikian juga] kegelapan
dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi
yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh
Nur, dan kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya, sedangkan Nur kecintaan Allah Swt. akan mengalir
keluar (memancar) dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati
pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa akan meninggalkan batinnya.
Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis (ada) di satu tempat,
seperti itu jugalah Nur keimanan dan
kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang
belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal
yang baik sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
اللّٰہَ حَبَّبَ اِلَیۡکُمُ الۡاِیۡمَانَ وَ زَیَّنَہٗ فِیۡ
قُلُوۡبِکُمۡ وَ کَرَّہَ اِلَیۡکُمُ
الۡکُفۡرَ وَ الۡفُسُوۡقَ وَ الۡعِصۡیَانَ
Allah telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbu
kamu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan serta kedurhakaan (Al-Hujurat [49]:8).
(Review of Religions, Urdu, jld. I, no. 5,
hlm. 194-195).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 28 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar