Selasa, 01 Desember 2015

Kemunculan Para Mujaddid (Pembaharu Ruhani) di Setiap Awal Abad Sebagai Bukti Tetap Bersinarnya "Matahari Kebenaran" Yaitu Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna "Dua Kalimah Syahadat"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Kemunculan Para Mujaddid  (Pembaharu Ruhani) di  Setiap Awal Abad Sebagai Bukti Tetap Bersinarnya “Matahari Kebenaran” Yaitu Nabi Besar Muhammad Saw.  & Makna “Dua Kalimah Syahadat

Bab 24


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  mengenai  undangan dan tantangan beliau  kepada para penentang Islam sehubungan berbagai karunia istimewa Ilahi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau sebagai bukti bahwa agama Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw. adalah agama (kitab sucI) dan Rasul Allah  yang mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt.  (QS.15:10)  serta satu-satunya jalan  untuk memperoleh kecintaan Allah Swt.:
   “Pernyataan pengakuan dari Nabi Suci kita Rasulullah saw. berpendar (memancar) seperti sinar matahari dan menjadi bukti dari berkat yang mengalir abadi dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi Rasulullah saw. akan dibangkitkan dari kematian [ruhani] dan dikarunia dengan kehidupan ruhaniah nyata yang dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta dukungan dari Ruhulqudus.
    Ia akan menjadi manusia unik di antara umat manusia lainnya, karena Allah Swt. akan membukakan berbagai rahasia Samawi serta menyampaikan kebenaran Wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih dan perkenan-Nya serta menurunkan bantuan di atas dirinya serta menjadikan dirinya sebagai cermin dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
    Kebijakan akan mengalir dari mulutnya dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah Yang Maha Agung akan memperlihatkan Tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman, terungkapnya rahasia-rahasia Samawi serta karena turunnya berkat atas dirinya.
   Setelah mendapat penugasan dari Allah Swt., hamba yang lemah ini telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia, Eropa  dan Amerika mengenai hal-hal di atas  agar mereka mengetahui.
    Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku bisa memperoleh kehidupan ruhaniah tanpa mengikuti Khātamul Anbiya saw. agar mereka maju menghadapi aku, jika tidak, maka sepatutnyalah ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran guna menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan kepadaku.
    Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan itikad baik, sedangkan dengan berlaku angkuh demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka itu meraba-raba dalam kegelapan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 221-222, London, 1984).

Kemunculan Para Mujaddid di Setiap Abad dan Al-Masih-al-Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman Sebagai Mujaddid ‘Adzam (Pembaharu  Ruhani Agung)

     Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. --bersabda mengenai pengutusan beliau sebagai Al-Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan):
      “Kami meyakini sepenuhnya bahwa nabi Allah yang paling akbar dan yang paling dikasihi-Nya adalah Muhammad saw.. Adapun para pengikut nabi-nabi lainnya berada dalam kegelapan karena yang tersisa bagi mereka hanyalah dongeng dan hikayat saja, sedangkan umat Muslim selalu menerima tanda-tanda baru dari Allah Yang Maha Kuasa.
    Karena itu di antara umat Muslim banyak ditemui orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam, orang-orang yang beriman kepada Tuhan-nya dengan penuh kepastian seolah-olah bisa menampak (melihat) Wujud-Nya. Umat agama lainnya tidak memiliki kepastian yang seperti itu menyangkut Allah Swt., karena itulah jiwa kami bersaksi bahwa agama yang benar dan lurus hanyalah Islam saja.
    Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan junjungan kita Hadhrat Rasulullah saw. bukanlah hanya dongeng semata. Dengan mematuhi beliau  kita sendiri bisa mengalami mukjizat-mukjizat tersebut, dan dengan berkat renungan dan pengalaman, kita akan memperoleh kepastian yang sempurna.
   Betapa luhurnya derajat Nabi Suci yang sempurna itu yang kenabiannya selalu memberikan bukti-bukti baru kepada para pencari kebenaran,  sehingga berkat pengamatan berbagai tanda-tanda berkesinambungan kita dimungkinkan mencapai tahapan bisa melihat Allah  Swt.. dengan mata kita sendiri. Karena itulah agama yang benar hanyalah Islam dan Nabi yang benar adalah beliau ituyang menjadi sumber mata air kebenaran.
    Bersandar kepada dongeng-dongeng yang bisa disangkal dengan segala macam dalih bukanlah pilihan dari seorang yang bijak. Ratusan sudah manusia yang dipertuhan di bumi ini dan mereka bertumpu pada berbagai dongeng-dongeng kuno, padahal pencipta keajaiban yang sebenarnya adalah beliau yang menjadi sungai dengan mukjizat yang tidak pernah mengering. Sosok tersebut adalah junjungan dan penghulu kita, Hadhrat Rasulullah saw..
       Pada setiap abad, Allah Yang Maha Agung telah membangkitkan seseorang yang akan memperlihatkan tanda-tanda dari wujud yang sempurna dan suci tersebut. Dalam abad ini Dia telah mengutus aku dengan derajat sebagai Al-Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan). Banyak tanda-tanda yang diperlihatkan di langit,  dan beraneka kejadian luar biasa sedang berlangsung sekarang ini.
   Setiap pencari kebenaran silakan datang dan berdiam bersamaku guna menyaksikan tanda-tanda tersebut, apakah kalian dari umat Kristiani, Yahudi atau pun Arya. Semua ini merupakan berkat dari Hadhrat Rasulullah saw.. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 13, hlm. 155-157, London, 1984).

Makna “Dua Kalimah Syahadat” & Dua  Macam Kehidupan Nabi Muhammad Saw.

   Dengan demikian jelaslah bahwa penetapan nama Nabi Besar Muhammad saw. berdampingan dengan nama   Allah Swt. dalam Dua Kalimah Syahadat   -- yang  merupakan Rukun Islam yang pertama   --   bukan saja mengisyaratkan keabadian  agama Islam (Al-Quran) dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  tetapi juga merupakan  satu-satunya ”pintu gerbang” memasuki “Kerajaan Ilahi” (QS.3:32 & 86). Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Bukti dari kehidupan ruhani hanya bisa ditemukan pada wujud berberkat Hadhrat Rasulullah saw.. Alangkah hampanya hidup yang tidak dirahmati dan alangkah tidak bergunanya hidup tidak berberkat. Sesungguhnya hanya ada dua kehidupan yang patut dihargai. Pertama, adalah kehidupan dari Yang Maha Hidup dan Dzat Yang Tegak Dengan Sendirinya  (Al-Hayyul- Qayyum) Yang menjadi Sumber dari segala kebaikan, sedangkan yang kedua adalah kehidupan yang baik yang menuju kepada Tuhan.
  Kami bisa membuktikan bahwa kehidupan demikian itu adalah kehidupan Hadhrat Rasulullah saw., yang baginya  langit telah memberikan kesaksian di setiap abad,  sebagaimana juga yang terdapat sekarang ini. Mereka yang tidak mengikuti kehidupan yang baik sama saja dengan orang yang sudah mati.
   Aku bersaksi demi Allah bahwa Dia telah memberikan kepadaku bukti dari kehidupan abadi, keagungan penuh dan kesempurnaan dari junjungan kita Muhammad saw., yang kepadanya  kita patut patuh, dimana dengan mengikuti dan mengasihi beliau  aku telah melihat Tanda-tanda Samawi yang turun atas diriku, sehingga hatiku penuh dengan Nur kepastian. Aku telah menyaksikan demikian banyak tanda-tanda sehingga melalui Nur tanda-tanda itu aku telah menyaksikan Tuhanku. (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 15, hlm. 139-140, London, 1984).
      Kemudian mengenai hakikat dua tahapan kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. selama  13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah Masih  Mau’ud a.s. bersabda:
      “Pada beberapa tahapan kehidupan Hadhrat Rasulullah saw. terlihat sebagai yang sedang amat direndahkan, tetapi pada saat bersamaan beliau terlihat sebagai dibantu dan dicerahkan oleh dukungan Nur Ruhulqudus sebagaimana terlihat dalam tindakan dan perilaku beliau. Lingkaran Nur dan berkat beliau itu demikian luas dan lebarnya sehingga bukti dan refleksinya  (pantulannya) menjadi nyata secara abadi.
    Rahmat dan karunia Ilahi yang turun di abad ini hanya bisa diperoleh dengan mengikuti dan mematuhi beliau. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa disebut sebagai muttaqi  (orang bertakwa) atau yang memperoleh keridhaan Allah Swt., tidak juga yang bersangkutan bisa menjadi penerima berbagai berkat, rahmat, pemahaman, kebenaran dan kasyaf  -- yang hanya diberikan kepada mereka dengan tingkat kesucian batin tertinggi --  kecuali ia itu sepenuhnya patuh kepada Hadhrat Rasulullah saw.. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt..  dalam ayat:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu’ (Āli ‘Imran [3]:32).
      Aku inilah bukti praktis yang hidup dari janji Ilahi tersebut. Kalian akan bisa mengenaliku melalui tanda-tanda dari mereka yang menjadi kekasih Allah  Swt..  dan para sahabat-Nya sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran.”  (Malfuzat,  jld. I, hlm. 203-204).

Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Suri Teladan Terbaik

       Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut selaras dengan pernyataan  Allah Swt. berikut ini, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat asuri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).  
 Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw.,   dan beliau  saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
  Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  --   baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
 Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
   Ketika  Nabi Besar Muhammad saw.   ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain   -- karena keadaan menjadi kacau-balau dan tidak terkendali akibat kesembronoan orang-orang yang baru menggabungkan diri  setelah  peristiwa Fatah Mekkah (QS.9:25)   -- sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, tetapi beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib!”
  Dan tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak  Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran   akhlak  yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw. yang telah berlaku sangat zalim.

Kesaksian Orang-orang Terdekat dan Seorang Non-Muslim

   Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak  Nabi Besar Muhammad saw.    selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau saw., yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau saw., Ali bin Abi Thalib r.a.; bekas budak beliau yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haristsah r.a..
  Nabi Besar Muhammad saw.   merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.  Dalam segala segi kehidupan dan watak beliau saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti.
  Seluruh kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw.  nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Beliau saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa.
  Sebagai kanak-kanak  Nabi Besar Muhammad saw.   penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja  beliau tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau terbukti paling jujur dan cermat.
  Nabi Besar Muhammad saw.  menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
 Sebagai ayah, Nabi Besar Muhammad saw.   penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat, beliau saw. sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak (QS.33:73-74; QS.62:3),  beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
 Nabi Besar Muhammad saw.   bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan  maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muham-madanism” karya Bosworth Smith).

Menjadi “Kekasih “Allah Swt.

      Itulah  sedikit pemaparan suri teladan terbaik yang telah diperagakan Nabi Besar Muhammad saw., sehubungan dengan itu Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Hasil ikutan dari mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullah saw.  -- khususnya yang berkaitan dengan kasih, hormat dan kepatuhan kepada beliau --  adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah Swt.  dimana dosa-dosanya akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan.
  Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan dari dosa-dosanya. Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung maka perbuatan baik bagi manifestasi (perwujudan) keagungan tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa.
   Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah saw. dan mengakui kebesaran beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan --  sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf fana  (tenggelam) -- maka ia karena hubungannya yang dekat kepada Rasulullah saw. akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau.
  Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, [demikian juga]  kegelapan dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh Nur, dan kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya,  sedangkan Nur kecintaan Allah Swt.  akan mengalir keluar  (memancar) dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa  akan meninggalkan batinnya.
    Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis (ada) di satu tempat, seperti itu jugalah Nur keimanan dan kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal yang baik sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
اللّٰہَ حَبَّبَ  اِلَیۡکُمُ  الۡاِیۡمَانَ وَ زَیَّنَہٗ  فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ وَ کَرَّہَ  اِلَیۡکُمُ الۡکُفۡرَ وَ الۡفُسُوۡقَ وَ الۡعِصۡیَانَ
Allah telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbu kamu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan serta  kedurhakaan  (Al-Hujurat [49]:8).
(Review of Religions, Urdu, jld. I, no. 5, hlm. 194-195).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 28  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar