Jumat, 20 November 2015

Nasib Tragis Kaum-kaum Purbakala yang Bersikap Takabur Terhadap Para Rasul Allah & Menjawab "Kritikan Wherry" Mengenai Ke-Ummiy-an" (Ke-butahuruf-an) Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat atas dirinya”


“Setelah Allah,   aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.  Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Bab 15

Nasib Tragis Kaum-kaum Purbakala yang Bersikap Takabur  Terhadap  Para Rasul Allah & Menjawab Kritikan Wherry  Mengenai Ke-Ummi-an (Kebutahurufan) Nabi Besar Muhammad Saw.

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya  telah  dikemukakan  mengenai Nabi Besar Muhammad saw. yang walau pun beliau saw. seorang Rasul Allah yang ummy (buta-huruf) tetapi telah melahirkan para pengikut yang bagaikan  “bintang-bintang cemerlang” di  langit, yang bahkan menakjubkan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri,  berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاسۡتَفۡتِہِمۡ  اَہُمۡ اَشَدُّ خَلۡقًا اَمۡ مَّنۡ خَلَقۡنَا ؕ اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ ﴿﴾  بَلۡ عَجِبۡتَ وَ  یَسۡخَرُوۡنَ ﴿۪﴾
Maka tanyakanlah kepada mereka, apakah mereka  yang lebih sukar diciptakan ataukah orang   lainnya yang telah Kami ciptakan?  اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ -- Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari  tanah liat lengket. بَلۡ عَجِبۡتَ وَ  یَسۡخَرُوۡنَ  -- Bahkan engkau merasa takjub, sedangkan mereka berolok-olok. (Ash-Shāffāt [37]:12-13).
      Makna ungkapan بَلۡ عَجِبۡ   --  “Bahkan engkau merasa takjub,” bahwa terjadinya suatu jemaat orang-orang yang benar-benar shalih dan bertakwa dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw. dan penegakkan Islam di atas landasan yang kuat di Arabia, sungguh-sungguh merupakan suatu keajaiban yang menakjubkan, bahkan ditakjubi  beliau saw.  sendiri, tetapi  sikap para penentang beliau saw. sebaliknya, yakni  وَ  یَسۡخَرُوۡنَ – “sedangkan mereka berolok-olok.”          Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai sikap buruk mereka:
وَ  اِذَا  ذُکِّرُوۡا لَا  یَذۡکُرُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ  اِذَا  رَاَوۡا  اٰیَۃً  یَّسۡتَسۡخِرُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ  قَالُوۡۤا  اِنۡ ہٰذَاۤ   اِلَّا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿ۚۖ﴾  ءَ اِذَا مِتۡنَا وَ کُنَّا تُرَابًا وَّ  عِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوَ اٰبَآؤُنَا الۡاَوَّلُوۡنَ ﴿ؕ﴾  قُلۡ  نَعَمۡ  وَ  اَنۡتُمۡ  دَاخِرُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Dan apabila mereka diperingatkan, mereka tidak memperhatikan. Dan apabila mereka melihat suatu Tanda, mereka memperolok-oloknya. Dan mereka berkata,  Al-Quran ini tidak  lain melainkan sihir yang nyata.  Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi debu dan tulang, apakah kami benar-benar  akan dibangkitkan lagi? Apakah juga bapak-bapak kami dahulu?”  قُلۡ  نَعَمۡ  وَ  اَنۡتُمۡ  دَاخِرُوۡنَ -- Katakanlah: Ya, dan kamu akan menjadi terhina.” (Ash-Shāffāt [37]:14-18).

Nasib Tragis Kaum-kaum Purbakala yang Bersikap Takabbur Terhadap Para Rasul Allah   & Pihak “Yang Menertawakan” Menjadi “Yang Ditertawakan

    Nasib tragis yang menimpa kaum-kaum purbakala yang bersikap takabbur terhadap para Rasul Allah membuktikan, bahwa bukan  hanya hanya di akhirat saja mereka akan mendapat kehinaan dari Allah Swt. bahkan di dalam kehidupan mereka di dunia ini juga, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ اَجۡرَمُوۡا کَانُوۡا مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا یَضۡحَکُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾  وَ اِذَا  مَرُّوۡا بِہِمۡ یَتَغَامَزُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾  وَ اِذَا  انۡقَلَبُوۡۤا  اِلٰۤی  اَہۡلِہِمُ  انۡقَلَبُوۡا فَکِہِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  وَ اِذَا رَاَوۡہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ لَضَآلُّوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  مَاۤ  اُرۡسِلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  حٰفِظِیۡنَ ﴿ؕ﴾  فَالۡیَوۡمَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ یَضۡحَکُوۡنَ ﴿ۙ﴾  عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  ہَلۡ  ثُوِّبَ الۡکُفَّارُ  مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang berdosa biasa menertawakan  orang-orang yang beriman,   dan apabila mereka lewat di dekat mereka itu, mereka saling mengedipkan mata.    Dan  apabila  mereka kembali kepada sanak-saudara mereka, mereka kembali dengan gembira,  وَ اِذَا رَاَوۡہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ لَضَآلُّوۡنَ --   dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata, “Sesungguhnya, mereka itu pasti sesat!” وَ  مَاۤ  اُرۡسِلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  حٰفِظِیۡنَ  --  padahal mereka tidak diutus kepada mereka itu sebagai penjaga. فَالۡیَوۡمَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ یَضۡحَکُوۡنَ   -- maka  pada hari itu orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir akan menertawakan. عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ  --   Mereka duduk di atas dipan-dipan  sambil  memandang. ہَلۡ  ثُوِّبَ الۡکُفَّارُ  مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ --    “Bukankah orang-orang kafir  diganjar untuk apa yang senantiasa mereka kerjakan? (Al-Muthaffifīn [83]:30-37).
  Orang-orang kafir biasa dengan diam-diam menertawakan nubuatan-nubuatan mengenai penyebaran serta kemenangan Islam secara cepat, yang dikumandangkan pada saat ketika Islam sedang berjuang mati-matian mempertahankan wujudnya sendiri dari penentangan zalim  orang-orang kafir, baik dari kalangan orang-orang musyrik mau pun dari golongan Ahli Kitab.
Kata-kata  عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ  --   Mereka duduk di atas dipan-dipan  sambil  memandang” ini berarti : (1) sambil duduk di atas singgasana kemuliaan, orang beriman akan menyaksikan nasib sedih yang akan menimpa orang-orang kafir sombong. (2) sambil duduk di atas singgasana kekuasaan mereka akan berlaku adil terhadap orang banyak, (3) mereka akan menaruh perhatian layak terhadap keperluan orang lain, itu pula arti kata nazhara (Lexicon Lane).
   Jadi, benar ucapan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya yang menertawakan dan  memperolok-olok beliau  dan para pengikut beliau  -- ketika sedang membuat  perahu atas perintah Allah Swt.  -- bahwa akan datang masanya para penentang beliau yang takabbur akan menjadi “orang-orang yang ditertawakan”, firman-Nya:
وَ اُوۡحِیَ  اِلٰی نُوۡحٍ اَنَّہٗ  لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾  وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾  وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ  سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ قَالَ  اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ  مِنۡکُمۡ کَمَا  تَسۡخَرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ  وَ یَحِلُّ  عَلَیۡہِ  عَذَابٌ  مُّقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan telah diwahyukan kepada Nuh: لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ  --  “Tidak akan pernah beriman seorang pun dari kaum engkau selain orang yang telah beriman sebelumnya maka janganlah engkau bersedih mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan.  وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ  -- Dan  buatlah bahtera itu di hadapan pengawasan mata  Kami dan  sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu  akan ditenggelamkan.”    وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ  سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ  --  Dan ia mulai membuat bahtera itu, dan setiap kali pemuka-pemuka kaumnya sedang melewatinya  mereka itu menertawakannya. قَالَ  اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ  مِنۡکُمۡ کَمَا  تَسۡخَرُوۡنَ --  Ia, Nuh, berkata:  “Jika kini kamu mentertawakan kami  maka saat itu akan datang ketika kami pun akan mentertawakan kamu, seperti kamu mentertawakan kami.    فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ  وَ یَحِلُّ  عَلَیۡہِ  عَذَابٌ  مُّقِیۡمٌ --    Maka segera kamu  akan mengetahui siapa yang kepadanya akan datang azab yang akan menistakan-nya, dan kepada siapa akan menimpa azab yang tetap.” (Hūd [11]:37]:37-40).

Karya  Monumental Seorang Nabi yang Ummiy (Butahuruf)   -- yakni Nabi Besar Muhammad Saw.  -- Menciptakan “Bumi Baru dan Langit Baru

    Berikut firman Allah Swt. mengenai   Nabi Besar Muhammad saw. sebagai nabi yang ummiy (buta-huruf), tetapi benar-benar telah “melahirkan” putera-putra ruhani  (QS.33:7) yang bahkan menakjubkan beliau saw. sendiri dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan,  firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ  وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ  وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul,  Nabi Ummi,   yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka.  Ia menyuruh mereka kepada yang makruf, dan  melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baikmengharamkan bagi mereka segala yang buruk, menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.  فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ  وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ  وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ   -- Maka orang-orang yang  beriman kepadanyamendukungnya,   menolongnya, dan mengikuti cahaya yang telah ditu-runkan besertanya, اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ  -- mereka itulah orang-orang yang berhasil.” (Al-A’rāf [7]:158).
    Ummi artinya: yang menjadi milik  atau mempunyai pertalian dengan ibu, yakni ma’shum (tidak berdosa) seperti bayi yang masih menyusu dari ibunya; orang yang tidak mempunyai Kitab wahyu, khususnya orang Arab; orang yang tidak pandai membaca dan menulis (buta huruf); orang yang berasal dari Mekkah yang dikenal sebagai Ummul Qura, yakni induk kota-kota.
     Jika kata ummi diambil pengertian “buta huruf,” maka ayat ini akan berarti bahwa walaupun  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak menerima pendidikan apa pun dan sama sekali buta aksara, namun Allah  Swt.  melimpahkan kepada beliau saw. pengetahuan demikian tingginya sehingga dapat memberikan nur (cahaya) dan bimbingan bahkan kepada mereka yang dianggap paling maju dalam ilmu pengetahuan dan penalaran, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
 فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾  سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ ﴿ۙ﴾  لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾  ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-ra-sul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan.  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ --  Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ  --  Dan  engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ --  Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup  api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --Supaya Allah membalas setiap jiwa  apa yang telah diusahakannya, sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ   --      Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan, dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:48-53).

Makna Peniupan “Nafiri” Ilahi &  Dua Macam “Kebangkitan”: di Dunia dan di Akhirat

    Dengan jatuhnya Mekkah  pada peristiwa Fatah Mekkah dan tegaknya Islam di Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat, maka seolah-olah terwujudlah satu alam semesta baru dengan langit baru dan bumi baru, yakni  tertib lama  yang penuh kegelapan telah dilenyapkan dan diganti oleh terbit baru yang sama sekali berbeda dari yang lama, firman-Nya: 
وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ ؕ ثُمَّ  نُفِخَ  فِیۡہِ  اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ  قِیَامٌ  یَّنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ  وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ  لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ  نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ  بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian nafiri itu akan ditiup kedua kalinya maka tiba-tiba mereka berdiri menantikan keputusan.  وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ    -- Dan bumi akan bersinar dengan nur Rabb-nya (Tuhan-nya),  dan Kitab itu akan diletakkan terbuka di hadapan mereka, dan akan didatangkan nabi-nabi serta saksi-saksi, وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ  لَا یُظۡلَمُوۡنَ -- dan  diberikan keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimi. وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ  نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ  بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ --    Dan setiap jiwa akan diberikan sepenuhnya apa yang ia kerjakan,  dan Dia mengetahui mengenai apa yang mereka kerjakan. (Az-Zumar [39]:69-71).
      Ayat  وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ  -- “Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah,”   agaknya  mengisyaratkan  kepada kebangkitan kembali di alam ukhrawi. Tetapi  ayat ini dapat juga diterapkan kepada keadaan ruhani orang-orang sebelum kedatangan seorang Guru Suci ke dunia yang kedatangannya di sini diumpamakan sebagai tiupan nafiri atau terompet, sebab semua Rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  merupakan para penyampai “suara Tuhan” kepada umat manusia.
     Mengingat akan perumpamaan ini, kata-kata “akan jatuh pingsan”, dapat berarti kemalasan atau kebekuan orang-orang pada saat sebelum seorang Pem-baharu Suci (rasul Allah) datang ke dunia, sedangkan kata-kata    "tiba-tiba mereka berdiri menantikan” dalam ayat ثُمَّ  نُفِخَ  فِیۡہِ  اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ  قِیَامٌ  یَّنۡظُرُوۡنَ  -- “Kemudian nafiri itu akan ditiup kedua kalinya maka tiba-tiba mereka berdiri menantikan keputusan,”   dapat berarti keadaan mereka setelah   mendengar dan  melihat  serta  mengikuti jalan lurus sesudah Sang Pembaharu yang keramat itu menampakkan diri (QS.36:52-53).
     Bila dikenakan kepada kehidupan ukhrawi, kata-kata, وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا -- “Dan bumi akan bersinar dengan nur Rabb-nya (Tuhan-nya),” akan berarti  bahwa tirai yang menyelubungi rahasia-rahasia kehidupan ini akan diangkat (QS.50:21-23), dan akibat-akibat perbuatan baik maupun buruk yang telah dilakukan dalam kehidupan di dunia ini dan yang tetap tersembunyi di sini akan menjadi nampak dengan nyata.
     Tetapi dengan mengisyaratkan kepada kedatangan seorang Guru Suci ke dunia, khususnya kepada kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,  kata-kata  وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا -- “Dan bumi akan bersinar dengan nur Rabb-nya (Tuhan-nya),”  dapat berarti bahwa dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. maka seluruh dunia akan bersinar dengan nur Ilahi, dan kegelapan ruhani akan lenyap sirna.
       Sedangkan maka kata-kata وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ    --  “dan akan didatangkan nabi-nabi dan saksi-saksi,” dapat berarti kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. menampilkan dalam diri beliau saw. pribadi semua nabi Allah dan guru-guru suci; dan “saksi-saksi” menunjuk kepada para pengikut sejati beliau saw. serta menikmati hak istimewa yang dibanggakan karena telah ditunjuk sebagai saksi-saksi atas semua orang  yaity sebagai “umat terbaik” yang dibangkitkan baik kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).

Menjawab Kritikan  Wherry:  Mendapat pendidikan Bersama-sama Ali Bin Abi Thalib r.a.

     Pendek kata, betapa Nabi besar Muhammad saw. sebagai seorang Rasul Allah yang “ummiy”   -- buta-huruf    (QS.7:159; QS.62:3), namun beliau saw. telah berhasil sebagai “Guru Dunia” yang menghasilkan “murid-murid” terbaik   yang   tidak pernah terjadi di kalangan  para pengikut para Rasul Allah sebelumnya.
    Beberapa pujangga Kristen telah berlagak seolah-olah meragukan kenyataan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak dapat membaca dan menulis. Wherry dalam karyanya, Commentary of the Quran mengatakan:
     “Mungkinkah ia yang telah dididik di satu rumah beserta Ali, yang dapat membaca dan menulis, ia sendiri tidak menerima pelajaran seperti itu? Dapatkah ia menjalankan usaha perniagaan yang penting selama bertahun-tahun tanpa memiliki pengetahuan membaca dan menulis?  Bahwa ia dapat membaca dan menulis di masa kemudian adalah pasti. Riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia berkata kepada Mu’awiyah, salah seorang jurutulisnya: “Tulislah huruf ba yang lurus, bagilah huruf sin yang tepat",  dan sebagainya, dan bahwa pada saat-saat terakhir ia menerima alat-alat tulis."
     Menggunakan jurutulis [wahyu-wahyu Al-Quran] tidak mengandung arti tidak mempunyai pengetahuan seni menulis, sebab menggunakan jurutulis semacam itu sudah biasa pada masa itu, bahkan di antara kebanyakan kaum terpelajar sekalipun.  Kesimpulan bahwa karena  Nabi Besar Muhammad saw.   telah dididik di satu rumah beserta Ali, yang dapat membaca dan menulis tentunya telah belajar membaca dan menulis juga” merupakan alasan yang lemah sekali. Hal itu hanya membuktikan bahwa tuan yang terhormat (Wherry) itu, tidak mengetahui kenyataan-kenyataan tentang dasar kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw..
      Ali bin Abi Thalib r.a.  dan  Nabi Besar Muhammad saw.    tidak mungkin pernah menerima didikan dan dibesarkan bersama-sama, karena antara keduanya ada perbedaan usia yang jauh sekali.  Nabi Besar Muhammad saw.  kira-kira 29 tahun lebih tua dari   Ali bin Abi Thalib r.a.   Jangan bicara ihwal bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   dan  Ali bin Abi Thalib r.a.   dididik dan dibesarkan bersama-sama, sebab hal demikian jelas tidak mungkin oleh karena adanya perbedaan besar dalam keduanya  ini. Justru  Ali bin Abi Thalib r.a.     yang mendapat didikan di rumah Nabi Besar Muhammad saw.    di bawah asuhan dan didikan  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri (Hisyam).
       Abu Thalib, yang membesarkan  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah orang yang kurang mampu. Beliau tidak paham akan nilai ilmu dan pengetahuan, begitu pula memiliki ilmu pada zaman itu  tidak dianggap sesuatu yang berharga dan menguntungkan. Oleh karena itu Nabi Besar Muhammad saw.   tetap tidak dapat membaca dan menulis dalam lingkungan keluarga beliau.
     Tetapi  Ali bin Abi Thalib r.a.   dibesarkan di rumah  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri. Pernikahan  Nabi Besar Muhammad saw.    dengan Siti Khadijah r.a., seorang perempuan  hartawan, telah memberi sarana-sarana yang cukup besar ke tangan beliau saw.. Pula beliau menyadari  betapa berharganya nilai pendidikan itu, maka di bawah asuhan yang baik dan pengaruh mulia beliau saw.,  Ali bin Abi Thalib r.a. menurut ukuran pada waktu itu dengan sendirinya tumbuh menjadi seorang pemuda yang berpendidikan baik.

Masalah Keberhasilan Nabi Besar Muhammad Saw.   Melakukan Perniagaan

      Keberatan yang kedua dari Wherry  adalah, bahwa seandainya  Nabi Besar Muhammad saw.    buta aksara dan tidak dapat membaca dan menulis, niscaya beliau saw. tidak akan dapat membuktikan diri sebagai seorang usahawan yang berhasil  — sebagaimana pada hakikatnya demikian — adalah karena salah tanggapan tentang seorang usahawan Arab yang baik dan berhasil di masa  Nabi Besar Muhammad saw.  Wherry pasti tidak akan mengajukan keberatan demikian jika ia mengetahui bahwa di Asia, sekalipun di abad kedua puluh sekarang ini, ada usahawan-usahawan yang sangat berhasil walaupun tidak mendapat pendidikan dasar juga.
     Di Mekkah, di masa  Nabi Besar Muhammad saw., pendidikan tidak begitu dipentingkan. Pada waktu itu terdapat hanya sedikit saja orang yang pandai membaca dan menulis, namun demikian  banyak sekali orang yang menjalankan usaha dengan berhasil dan maju.
     Pendidikan pada waktu itu di negeri Arab tidak dianggap sebagai syarat mutlak untuk menjadi usahawan yang baik. Lagi pula kenyataan bahwa Siti Khadijah r.a. telah memberikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.    seorang budak, bernama Maisarah, yang dapat membaca dan menulis dan yang senantiasa menyertai beliau saw. dalam perjalanan niaga beliau saw., sama sekali menggugurkan keberatan Wherry.
      Riwayat yang mengatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   sekali peristiwa telah meminta kepada Muawiyah r.a.   supaya menuliskan secara tepat huruf ba dan sin  nampaknya tidak dapat dipercaya, karena di masa Khalifah ‘Abbasiyah banyak sekali Hadits-hadits dibuat-buat yang tidak menguntungkan posisi keluarga Bani Umayyah.
     Hadits tersebut bertujuan hendak menampilkan citra tentang Mu’awiyah, seorang anggota terkemuka dari keluarga Bani Umayyah, sebagai orang yang sangat sederhana pendidikannya, sehingga tidak dapat menulis huruf-huruf yang begitu sederhana seperti ba dan sin sekalipun.
     Namun demikian, sekalipun terbukti bahwa riwayat ini dapat dipercaya, hal itu tidak menunjukkan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    dapat membaca dan menulis, sebab  beliau saw. telah terbiasa mengimlakan Al-Quran, sehingga tidak mustahil bagi beliau saw. untuk mengenali bentuk umum huruf-huruf dan memberikan petunjuk mengenai kata yang salah dalam cara penulisannya.
      Kenyataan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    memesan pena dan kertas, pada saat-saat terakhir kehidupan beliau saw., juga tidak mendukung dugaan Wherry. Satu kenyataan sejarah yang terbukti kebenarannya ialah, bahwa  ketika  sesuatu ayat diwahyukan   Nabi Besar Muhammad saw... memesan pena dan kertas, lalu mengimlakan kepada salah seorang katib (jurutulis)  apa yang telah diwahyukan kepada beliau saw.. Oleh karena itu  kenyataan tentang memesan pena dan kertas saja  tidak menjadi bukti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    dapat membaca dan menulis.

Pemakaian Jurutulis

     Begitu pula kata-kata yang dimaksudkan Wherry untuk menguatkan dalilnya yaitu: “Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau” tidak membuktikan sesuatu. Kata Arab iqra’ (bacalah) yang dipergunakan dalam QS.96:2, tidak hanya berarti membaca suatu tulisan, melainkan juga mengulangi dan memperdengarkan kembali apa yang kita dengar dari orang lain.
       Lagi pula dari Hadits tersebut telah terbukti bahwa di saat wahyu pertama turun dan malaikat Jibril mengucapkan kata iqra', sesungguhnya tidak ada tulisan dikemukakan di hadapan  Nabi Besar Muhammad saw.   supaya dibaca oleh beliau saw.. Beliau saw. hanya diminta mengulangi dengan lisan, apa yang telah dibacakan oleh malaikat kepada beliau.
      Selanjutnya tuduhan dari beberapa pujangga Kristen, bahwa anggapan mengenai Nabi Besar Muhammad saw.   tidak dapat membaca atau menulis  adalah berasal dari salah pengertian mengenai pengakuan beliau saw. yang berulang kali  menyatakan bahwa beliau “Nabi Ummi” adalah aneh lagi lemah landasannya. Sebab akan sangat mengherankan  bahwa mereka yang hidup siang-malam bertahun-tahun lamanya dengan beliau saw. dan setiap hari melihat beliau  saw. membaca dan menulis,  tetapi tidak dapat mengetahui apakah beliau  saw.  itu buta aksara atau tidak, dan tersesat pada anggapan itu  hanya dikarenakan pengakuan  berulang-ulang beliau  saw. sendiri  bahwa beliau buta aksara.
      Penggunaan jurutulis oleh beliau, tidaklah bertentangan dengan pengetahuan beliau saw. tentang seni tulis, sebab penggunaan jurutulis semacam itu biasa pada masa itu, bahkan di kalangan yang sangat terpelajar sekalipun menunjukkan bahwa Wherry tidak paham akan sejarah Tanah Arab dan Agama Islam. Hakikatnya ialah bahwa di masa  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak terdapat ulama-ulama atau orang-orang terpelajar di antara orang-orang Arab, dalam arti kata yang dipahami umum sekarang, begitu pula mereka tidak biasa mempunyai panitera-panitera dan jurutulis-jurutulis.
      Tidak ada contoh dalam sejarah tentang panitera-panitera yang dipekerjakan oleh seorang Arab dahulu. Seluruh  ulama, tanpa kecuali,  sepakat bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     tidak dapat membaca dan menulis, sebelum wahyu Al-Quran diturunkan kepada beliau saw.. Al-Quran menerangkan dengan sangat tegas mengenai hal itu bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     tidak pandai membaca, sekurang-kurangnya sampai saat beliau saw. mendakwakan diri menjadi utusan Allah (QS.29:49). Akan tetapi  kemudian beliau saw. telah dapat mengeja beberapa kata menjelang akhir hayat beliau saw..

Nubuatan Dalam  Taurat dan Injil  & Empat Tugas Utama Nabi Besar Muhammad Saw.

       Sehubungan dengan ayat  الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- “yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka” mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan dengan  Nabi Besar Muhammad saw.  lihat Matius 23:39; Yahya 14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan 20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
    Walau pun  Nabi Besar Muhammad saw., Rasul Allah yang “ummiy” (butahuruf) dibangkitkan di kalangan  bangsa Arab yang juga “ummiy” (butahuruf), tetapi beliau saw. telah berhasil menjadikan  bangsa yang disebut “kaum jahiliyah” yang berada dalam “kesesaatan yang nyata” tersebut menjadi “guru-guru dunia” dalam berbagai bidang kehidupan dan keilmuan (pengetahuan), firman-Na:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 18 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar