بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, aku ini
mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.
Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Bab 15
Nasib Tragis Kaum-kaum
Purbakala yang Bersikap Takabur Terhadap Para Rasul Allah & Menjawab
Kritikan Wherry Mengenai Ke-Ummi-an (Kebutahurufan) Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab-bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai Nabi Besar Muhammad saw. yang walau pun beliau saw. seorang Rasul Allah yang ummy (buta-huruf) tetapi telah melahirkan
para pengikut yang bagaikan “bintang-bintang
cemerlang” di langit, yang bahkan menakjubkan Nabi Besar Muhammad saw.
sendiri, berikut firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
فَاسۡتَفۡتِہِمۡ اَہُمۡ اَشَدُّ
خَلۡقًا اَمۡ مَّنۡ خَلَقۡنَا ؕ اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ ﴿﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ وَ
یَسۡخَرُوۡنَ ﴿۪﴾
Maka
tanyakanlah kepada mereka, apakah mereka yang lebih sukar diciptakan ataukah orang lainnya yang telah Kami ciptakan? اِنَّا خَلَقۡنٰہُمۡ
مِّنۡ طِیۡنٍ لَّازِبٍ -- Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah
liat lengket. بَلۡ عَجِبۡتَ وَ یَسۡخَرُوۡنَ -- Bahkan engkau merasa takjub, sedangkan
mereka berolok-olok. (Ash-Shāffāt
[37]:12-13).
Makna ungkapan بَلۡ عَجِبۡ -- “Bahkan engkau
merasa takjub,” bahwa terjadinya suatu jemaat
orang-orang yang benar-benar shalih
dan bertakwa dengan perantaraan Nabi
Besar Muhammad saw. dan penegakkan Islam
di atas landasan yang kuat di Arabia,
sungguh-sungguh merupakan suatu keajaiban
yang menakjubkan, bahkan ditakjubi beliau saw. sendiri, tetapi sikap para penentang beliau saw. sebaliknya, yakni وَ
یَسۡخَرُوۡنَ – “sedangkan mereka berolok-olok.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai sikap buruk mereka:
وَ اِذَا
ذُکِّرُوۡا لَا یَذۡکُرُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ اِذَا رَاَوۡا
اٰیَۃً یَّسۡتَسۡخِرُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
قَالُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّا
سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۚۖ﴾ ءَ اِذَا مِتۡنَا وَ کُنَّا تُرَابًا وَّ عِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوَ اٰبَآؤُنَا الۡاَوَّلُوۡنَ ﴿ؕ﴾ قُلۡ
نَعَمۡ وَ اَنۡتُمۡ
دَاخِرُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Dan apabila mereka diperingatkan, mereka tidak memperhatikan. Dan apabila mereka
melihat suatu Tanda, mereka memperolok-oloknya. Dan mereka
berkata, ”Al-Quran ini tidak lain melainkan sihir yang nyata. Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi debu dan tulang, apakah kami benar-benar
akan dibangkitkan lagi? Apakah juga bapak-bapak kami dahulu?” قُلۡ نَعَمۡ
وَ اَنۡتُمۡ دَاخِرُوۡنَ -- Katakanlah:
Ya, dan kamu akan menjadi terhina.” (Ash-Shāffāt [37]:14-18).
Nasib Tragis Kaum-kaum
Purbakala yang Bersikap Takabbur
Terhadap Para Rasul Allah & Pihak “Yang Menertawakan” Menjadi “Yang
Ditertawakan”
Nasib tragis yang
menimpa kaum-kaum purbakala yang bersikap takabbur terhadap para Rasul
Allah membuktikan, bahwa bukan hanya
hanya di akhirat saja mereka akan mendapat kehinaan dari Allah
Swt. bahkan di dalam kehidupan mereka di dunia ini juga,
firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اَجۡرَمُوۡا کَانُوۡا مِنَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا یَضۡحَکُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا
مَرُّوۡا بِہِمۡ یَتَغَامَزُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا
انۡقَلَبُوۡۤا اِلٰۤی اَہۡلِہِمُ
انۡقَلَبُوۡا فَکِہِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا رَاَوۡہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَضَآلُّوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ مَاۤ
اُرۡسِلُوۡا عَلَیۡہِمۡ حٰفِظِیۡنَ
﴿ؕ﴾ فَالۡیَوۡمَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ
یَضۡحَکُوۡنَ ﴿ۙ﴾ عَلَی الۡاَرَآئِکِ
ۙ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ ثُوِّبَ الۡکُفَّارُ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang berdosa biasa menertawakan
orang-orang yang beriman, dan apabila
mereka lewat di dekat mereka itu, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila mereka kembali kepada sanak-saudara mereka,
mereka kembali dengan gembira, وَ اِذَا رَاَوۡہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّ
ہٰۤؤُلَآءِ لَضَآلُّوۡنَ -- dan apabila
mereka melihat mereka itu, mereka berkata, “Sesungguhnya, mereka itu pasti sesat!” وَ مَاۤ
اُرۡسِلُوۡا عَلَیۡہِمۡ حٰفِظِیۡنَ --
padahal mereka tidak diutus
kepada mereka itu sebagai penjaga.
فَالۡیَوۡمَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ یَضۡحَکُوۡنَ -- maka pada
hari itu orang-orang mukmin terhadap orang-orang
kafir akan menertawakan. عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ -- Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.
ہَلۡ ثُوِّبَ الۡکُفَّارُ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- “Bukankah
orang-orang kafir diganjar untuk apa yang senantiasa mereka kerjakan? (Al-Muthaffifīn
[83]:30-37).
Orang-orang
kafir biasa dengan diam-diam menertawakan nubuatan-nubuatan
mengenai penyebaran serta kemenangan Islam secara cepat, yang
dikumandangkan pada saat ketika Islam
sedang berjuang mati-matian mempertahankan wujudnya sendiri dari penentangan zalim orang-orang
kafir, baik dari kalangan orang-orang
musyrik mau pun dari golongan Ahli
Kitab.
Kata-kata
عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ -- Mereka
duduk di atas dipan-dipan sambil
memandang” ini berarti : (1)
sambil duduk di atas singgasana kemuliaan, orang beriman akan menyaksikan nasib
sedih yang akan menimpa orang-orang kafir sombong. (2) sambil duduk di atas
singgasana kekuasaan mereka akan berlaku adil terhadap orang banyak, (3) mereka
akan menaruh perhatian layak terhadap keperluan orang lain, itu pula arti kata nazhara
(Lexicon Lane).
Jadi, benar ucapan Nabi Nuh a.s. kepada
kaumnya yang menertawakan dan memperolok-olok
beliau dan para pengikut beliau -- ketika sedang membuat perahu
atas perintah Allah Swt. -- bahwa akan datang masanya para penentang beliau yang takabbur akan menjadi “orang-orang yang ditertawakan”,
firman-Nya:
وَ
اُوۡحِیَ اِلٰی نُوۡحٍ اَنَّہٗ لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ
اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾ وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ
لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ
مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ
قَالَ اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا
نَسۡخَرُ مِنۡکُمۡ کَمَا تَسۡخَرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ
یُّخۡزِیۡہِ وَ یَحِلُّ عَلَیۡہِ
عَذَابٌ مُّقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan telah diwahyukan kepada Nuh: لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ
بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- “Tidak akan pernah beriman seorang pun
dari kaum engkau selain orang yang telah beriman sebelumnya maka
janganlah engkau bersedih mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan.
وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ
وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ
مُّغۡرَقُوۡنَ -- Dan
buatlah bahtera itu di
hadapan pengawasan mata Kami dan sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah
engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu
akan ditenggelamkan.” وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا
مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ
سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ -- Dan
ia mulai membuat bahtera itu, dan setiap kali pemuka-pemuka kaumnya sedang
melewatinya mereka itu menertawakannya. قَالَ
اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ مِنۡکُمۡ کَمَا تَسۡخَرُوۡنَ -- Ia, Nuh, berkata: “Jika kini kamu mentertawakan kami maka saat
itu akan datang ketika kami pun akan
mentertawakan kamu, seperti kamu
mentertawakan kami. فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ
عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ وَ یَحِلُّ عَلَیۡہِ
عَذَابٌ مُّقِیۡمٌ -- Maka segera
kamu akan mengetahui siapa yang kepadanya akan datang azab yang akan
menistakan-nya, dan kepada siapa akan menimpa azab yang tetap.” (Hūd [11]:37]:37-40).
Karya Monumental
Seorang Nabi yang Ummiy
(Butahuruf) -- yakni Nabi Besar
Muhammad Saw. -- Menciptakan “Bumi Baru dan Langit Baru”
Berikut
firman Allah Swt. mengenai Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai nabi yang ummiy (buta-huruf), tetapi
benar-benar telah “melahirkan” putera-putra ruhani (QS.33:7) yang bahkan menakjubkan
beliau saw. sendiri dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu
pengetahuan, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ
مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ
وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ
الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ
مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi
Ummi, yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Ia
menyuruh mereka kepada yang makruf, dan melarang
mereka dari yang mungkar, menghalalkan
bagi mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk,
menyingkirkan dari mereka beban mereka
dan belenggu-belenggu yang ada pada
mereka. فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ
عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا
النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ -- Maka orang-orang
yang beriman kepadanya, mendukungnya, menolongnya,
dan mengikuti cahaya yang telah
ditu-runkan besertanya, اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- mereka
itulah orang-orang yang berhasil.” (Al-A’rāf
[7]:158).
Ummi artinya: yang menjadi milik
atau mempunyai pertalian
dengan ibu, yakni ma’shum
(tidak berdosa) seperti bayi yang masih menyusu dari ibunya; orang yang tidak mempunyai
Kitab wahyu, khususnya orang Arab;
orang yang tidak pandai membaca dan menulis (buta huruf); orang yang berasal
dari Mekkah yang dikenal sebagai Ummul Qura, yakni induk kota-kota.
Jika kata ummi diambil pengertian “buta huruf,” maka ayat ini akan
berarti bahwa walaupun Nabi Besar Muhammad saw. tidak menerima pendidikan apa pun dan sama sekali buta aksara, namun Allah Swt. melimpahkan kepada beliau saw. pengetahuan
demikian tingginya sehingga dapat memberikan nur (cahaya) dan bimbingan bahkan kepada mereka yang
dianggap paling maju dalam ilmu pengetahuan dan penalaran, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ
وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ
السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ
الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ
فِی الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی
وُجُوۡہَہُمُ النَّارُ ﴿ۙ﴾ لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ
کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾ ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ
لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ
وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Maka janganlah engkau sama sekali menyangka bahwa Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada rasul-ra-sul-Nya, sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ
الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ
بَرَزُوۡا لِلّٰہِ الۡوَاحِدِالۡقَہَّارِ -- Pada hari
ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula
seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ
فِی الۡاَصۡفَادِ -- Dan
engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ -- Baju mereka dari pelangkin
(ter), dan wajah mereka akan tertutup api.
لِیَجۡزِیَ
اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ --Supaya Allah membalas setiap jiwa
apa yang telah diusahakannya,
sesungguhnya penghisaban Allah sangat
cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ
لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ
وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan
supaya dengannya mereka mendapat
peringatan, dan supaya mereka mengetahui
bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang
Maha Esa, dan supaya orang-orang
yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:48-53).
Makna Peniupan “Nafiri”
Ilahi & Dua Macam “Kebangkitan”: di Dunia dan di Akhirat
Dengan jatuhnya
Mekkah pada peristiwa Fatah Mekkah dan tegaknya Islam di Arabia
sebagai satu kekuatan dahsyat, maka
seolah-olah terwujudlah satu alam semesta
baru dengan langit baru dan bumi baru, yakni tertib
lama yang penuh kegelapan
telah dilenyapkan dan diganti oleh terbit baru yang sama sekali berbeda dari yang lama, firman-Nya:
وَ نُفِخَ
فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ
شَآءَ اللّٰہُ ؕ ثُمَّ نُفِخَ فِیۡہِ
اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ قِیَامٌ یَّنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَشۡرَقَتِ
الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ
وَ الشُّہَدَآءِ وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ
بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ
نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ
بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit
dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian
nafiri itu akan ditiup kedua
kalinya maka tiba-tiba mereka
berdiri menantikan keputusan. وَ اَشۡرَقَتِ الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ
الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ -- Dan bumi akan bersinar dengan nur
Rabb-nya (Tuhan-nya), dan
Kitab itu akan diletakkan terbuka
di hadapan mereka, dan akan
didatangkan nabi-nabi serta saksi-saksi,
وَ قُضِیَ
بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ لَا
یُظۡلَمُوۡنَ -- dan diberikan
keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimi. وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ -- Dan setiap jiwa akan diberikan
sepenuhnya apa yang ia kerjakan, dan
Dia mengetahui mengenai apa yang mereka kerjakan. (Az-Zumar
[39]:69-71).
Ayat وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ -- “Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit
dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah,” agaknya mengisyaratkan kepada kebangkitan
kembali di alam ukhrawi.
Tetapi ayat ini dapat juga diterapkan
kepada keadaan ruhani orang-orang
sebelum kedatangan seorang Guru Suci
ke dunia yang kedatangannya di sini diumpamakan sebagai tiupan nafiri atau terompet,
sebab semua Rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. --
merupakan para penyampai “suara Tuhan” kepada umat manusia.
Mengingat akan perumpamaan ini, kata-kata “akan
jatuh pingsan”, dapat berarti kemalasan
atau kebekuan orang-orang pada saat
sebelum seorang Pem-baharu Suci (rasul
Allah) datang ke dunia, sedangkan kata-kata "tiba-tiba mereka berdiri
menantikan” dalam ayat ثُمَّ
نُفِخَ فِیۡہِ اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ قِیَامٌ
یَّنۡظُرُوۡنَ -- “Kemudian
nafiri itu akan ditiup kedua
kalinya maka tiba-tiba mereka
berdiri menantikan keputusan,” dapat berarti keadaan mereka setelah mendengar dan melihat serta mengikuti jalan lurus sesudah Sang Pembaharu
yang keramat itu menampakkan diri
(QS.36:52-53).
Bila
dikenakan kepada kehidupan ukhrawi,
kata-kata, وَ اَشۡرَقَتِ الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ
رَبِّہَا -- “Dan bumi akan bersinar dengan nur Rabb-nya (Tuhan-nya),” akan berarti bahwa tirai
yang menyelubungi rahasia-rahasia
kehidupan ini akan diangkat
(QS.50:21-23), dan akibat-akibat perbuatan
baik maupun buruk yang telah
dilakukan dalam kehidupan di dunia ini dan yang tetap tersembunyi di sini akan menjadi nampak dengan nyata.
Tetapi dengan mengisyaratkan
kepada kedatangan seorang Guru Suci
ke dunia, khususnya kepada kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., kata-kata وَ اَشۡرَقَتِ الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا -- “Dan
bumi akan bersinar dengan nur Rabb-nya
(Tuhan-nya),” dapat berarti bahwa
dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. maka seluruh dunia akan bersinar
dengan nur Ilahi, dan kegelapan ruhani akan lenyap sirna.
Sedangkan maka kata-kata وَ جِایۡٓءَ
بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ -- “dan akan didatangkan nabi-nabi dan saksi-saksi,”
dapat berarti kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. menampilkan dalam diri
beliau saw. pribadi semua nabi Allah
dan guru-guru suci; dan “saksi-saksi”
menunjuk kepada para pengikut sejati beliau saw. serta menikmati hak istimewa yang dibanggakan karena telah ditunjuk sebagai saksi-saksi atas semua orang yaity sebagai “umat terbaik” yang dibangkitkan baik kemanfaatan seluruh umat manusia
(QS.2:144; QS.3:111).
Menjawab Kritikan Wherry:
Mendapat pendidikan Bersama-sama Ali Bin Abi Thalib r.a.
Pendek kata, betapa Nabi besar
Muhammad saw. sebagai seorang Rasul Allah
yang “ummiy” -- buta-huruf
(QS.7:159; QS.62:3), namun beliau saw. telah
berhasil sebagai “Guru Dunia” yang
menghasilkan “murid-murid”
terbaik yang tidak pernah terjadi di kalangan para pengikut
para Rasul Allah sebelumnya.
Beberapa pujangga Kristen telah berlagak seolah-olah meragukan kenyataan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak
dapat membaca dan menulis. Wherry dalam karyanya, Commentary
of the Quran mengatakan:
“Mungkinkah ia yang telah dididik di satu rumah beserta Ali, yang dapat
membaca dan menulis, ia sendiri tidak menerima pelajaran seperti itu? Dapatkah
ia menjalankan usaha perniagaan yang penting selama bertahun-tahun tanpa
memiliki pengetahuan membaca dan menulis?
Bahwa ia dapat membaca dan menulis di masa kemudian adalah pasti.
Riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia berkata kepada Mu’awiyah, salah
seorang jurutulisnya: “Tulislah huruf ba
yang lurus, bagilah huruf sin
yang tepat", dan sebagainya, dan
bahwa pada saat-saat terakhir ia menerima alat-alat tulis."
Menggunakan jurutulis [wahyu-wahyu Al-Quran] tidak mengandung arti tidak
mempunyai pengetahuan seni menulis, sebab menggunakan jurutulis semacam itu sudah biasa pada
masa itu, bahkan di antara kebanyakan kaum terpelajar sekalipun. Kesimpulan bahwa karena Nabi
Besar Muhammad saw. “telah dididik di satu rumah beserta Ali,
yang dapat membaca dan menulis tentunya telah belajar membaca dan menulis juga”
merupakan alasan yang lemah sekali. Hal itu hanya membuktikan
bahwa tuan yang terhormat (Wherry) itu, tidak mengetahui kenyataan-kenyataan
tentang dasar kehidupan Nabi Besar Muhammad saw..
Ali bin
Abi Thalib r.a. dan Nabi
Besar Muhammad saw. tidak mungkin pernah menerima didikan dan dibesarkan bersama-sama, karena antara keduanya ada perbedaan usia
yang jauh sekali. Nabi Besar Muhammad saw. kira-kira 29 tahun lebih tua dari Ali bin Abi Thalib r.a. Jangan
bicara ihwal bahwa Nabi Besar Muhammad saw. dan Ali bin Abi Thalib r.a. dididik
dan dibesarkan bersama-sama, sebab hal demikian jelas tidak mungkin oleh karena
adanya perbedaan besar dalam keduanya ini. Justru Ali bin Abi Thalib r.a. yang mendapat didikan di rumah Nabi Besar Muhammad saw. di bawah asuhan dan didikan Nabi
Besar Muhammad saw. sendiri (Hisyam).
Abu Thalib, yang membesarkan Nabi
Besar Muhammad saw. adalah
orang yang kurang mampu. Beliau tidak paham akan nilai ilmu dan pengetahuan,
begitu pula memiliki ilmu pada zaman itu
tidak dianggap sesuatu yang berharga dan menguntungkan. Oleh karena itu Nabi Besar Muhammad saw. tetap tidak dapat membaca dan menulis dalam
lingkungan keluarga beliau.
Tetapi Ali bin Abi Thalib r.a. dibesarkan di rumah Nabi
Besar Muhammad saw. sendiri.
Pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Siti Khadijah r.a., seorang
perempuan hartawan, telah memberi
sarana-sarana yang cukup besar ke tangan beliau saw.. Pula beliau
menyadari betapa berharganya nilai pendidikan itu, maka di bawah
asuhan yang baik dan pengaruh mulia beliau saw., Ali bin Abi Thalib r.a. menurut ukuran pada waktu itu dengan
sendirinya tumbuh menjadi seorang pemuda yang berpendidikan baik.
Masalah Keberhasilan
Nabi Besar Muhammad Saw. Melakukan Perniagaan
Keberatan yang kedua dari
Wherry adalah, bahwa seandainya Nabi
Besar Muhammad saw. buta aksara dan tidak dapat membaca dan menulis, niscaya beliau saw. tidak akan dapat membuktikan diri
sebagai seorang usahawan yang
berhasil — sebagaimana pada hakikatnya
demikian — adalah karena salah tanggapan
tentang seorang usahawan Arab yang
baik dan berhasil di masa Nabi Besar Muhammad saw. Wherry pasti tidak akan mengajukan keberatan
demikian jika ia mengetahui bahwa di Asia, sekalipun di abad kedua puluh
sekarang ini, ada usahawan-usahawan
yang sangat berhasil walaupun tidak
mendapat pendidikan dasar juga.
Di Mekkah, di masa Nabi
Besar Muhammad saw., pendidikan
tidak begitu dipentingkan. Pada waktu itu terdapat hanya sedikit saja orang yang pandai
membaca dan menulis, namun demikian
banyak sekali orang yang menjalankan usaha
dengan berhasil dan maju.
Pendidikan pada waktu itu di negeri Arab tidak dianggap sebagai syarat mutlak untuk menjadi usahawan yang baik. Lagi pula kenyataan
bahwa Siti Khadijah r.a. telah
memberikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. seorang budak, bernama Maisarah, yang dapat membaca dan menulis dan
yang senantiasa menyertai beliau saw. dalam perjalanan
niaga beliau saw., sama sekali menggugurkan keberatan Wherry.
Riwayat yang mengatakan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. sekali peristiwa telah meminta kepada
Muawiyah r.a. supaya
menuliskan secara tepat huruf ba dan sin nampaknya tidak
dapat dipercaya, karena di masa Khalifah ‘Abbasiyah banyak sekali Hadits-hadits dibuat-buat yang tidak
menguntungkan posisi keluarga Bani Umayyah.
Hadits tersebut bertujuan hendak menampilkan citra tentang Mu’awiyah, seorang anggota terkemuka dari keluarga
Bani Umayyah, sebagai orang yang sangat sederhana pendidikannya, sehingga tidak
dapat menulis huruf-huruf yang begitu sederhana seperti ba dan sin
sekalipun.
Namun demikian, sekalipun
terbukti bahwa riwayat ini dapat dipercaya, hal itu tidak menunjukkan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. dapat
membaca dan menulis, sebab beliau saw. telah
terbiasa mengimlakan Al-Quran,
sehingga tidak mustahil bagi beliau saw. untuk mengenali bentuk umum huruf-huruf dan memberikan petunjuk
mengenai kata yang salah dalam cara penulisannya.
Kenyataan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. memesan
pena dan kertas, pada saat-saat terakhir kehidupan beliau saw., juga tidak
mendukung dugaan Wherry. Satu
kenyataan sejarah yang terbukti kebenarannya ialah, bahwa ketika
sesuatu ayat diwahyukan Nabi Besar Muhammad saw...
memesan pena dan kertas, lalu mengimlakan
kepada salah seorang katib (jurutulis)
apa yang telah diwahyukan
kepada beliau saw.. Oleh karena itu
kenyataan tentang memesan pena dan
kertas saja tidak menjadi bukti bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. dapat
membaca dan menulis.
Pemakaian Jurutulis
Begitu pula kata-kata yang dimaksudkan Wherry untuk menguatkan dalilnya
yaitu: “Bacalah dengan nama Rabb (Tuhan) engkau” tidak membuktikan
sesuatu. Kata Arab iqra’ (bacalah) yang dipergunakan dalam QS.96:2,
tidak hanya berarti membaca suatu tulisan, melainkan juga mengulangi dan memperdengarkan kembali apa yang kita dengar dari orang lain.
Lagi pula dari Hadits tersebut
telah terbukti bahwa di saat wahyu
pertama turun dan malaikat Jibril
mengucapkan kata iqra', sesungguhnya tidak ada tulisan dikemukakan di hadapan Nabi
Besar Muhammad saw. supaya
dibaca oleh beliau saw.. Beliau saw. hanya
diminta mengulangi dengan lisan, apa yang telah dibacakan oleh malaikat kepada beliau.
Selanjutnya tuduhan dari beberapa pujangga
Kristen, bahwa anggapan mengenai Nabi Besar Muhammad saw. tidak dapat membaca atau menulis adalah berasal dari salah pengertian mengenai pengakuan beliau saw. yang berulang
kali menyatakan bahwa beliau “Nabi
Ummi” adalah aneh lagi lemah landasannya. Sebab akan sangat
mengherankan bahwa mereka yang hidup siang-malam
bertahun-tahun lamanya dengan beliau saw. dan setiap hari melihat beliau saw. membaca
dan menulis, tetapi tidak dapat mengetahui apakah beliau saw. itu
buta aksara atau tidak, dan tersesat
pada anggapan itu hanya dikarenakan
pengakuan berulang-ulang beliau saw. sendiri
bahwa beliau buta aksara.
Penggunaan jurutulis oleh beliau, tidaklah bertentangan dengan pengetahuan beliau saw. tentang seni tulis, sebab penggunaan jurutulis semacam itu biasa pada masa
itu, bahkan di kalangan yang sangat terpelajar sekalipun menunjukkan bahwa
Wherry tidak paham akan sejarah Tanah Arab dan Agama Islam. Hakikatnya ialah
bahwa di masa Nabi Besar Muhammad saw. tidak terdapat ulama-ulama atau orang-orang
terpelajar di antara orang-orang Arab, dalam arti kata yang dipahami umum
sekarang, begitu pula mereka tidak biasa mempunyai panitera-panitera dan jurutulis-jurutulis.
Tidak ada contoh dalam sejarah
tentang panitera-panitera yang
dipekerjakan oleh seorang Arab
dahulu. Seluruh ulama, tanpa kecuali, sepakat
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak
dapat membaca dan menulis,
sebelum wahyu Al-Quran diturunkan
kepada beliau saw.. Al-Quran menerangkan dengan sangat tegas mengenai hal itu
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak
pandai membaca, sekurang-kurangnya sampai saat beliau saw. mendakwakan diri
menjadi utusan Allah (QS.29:49). Akan
tetapi kemudian beliau saw. telah dapat
mengeja beberapa kata menjelang akhir hayat beliau saw..
Nubuatan Dalam Taurat dan Injil & Empat Tugas Utama Nabi Besar Muhammad Saw.
Sehubungan dengan ayat الَّذِیۡ
یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- “yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan
Injil yang ada
pada mereka” mengenai beberapa nubuatan
Bible berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw. lihat Matius 23:39; Yahya
14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan
20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
Walau
pun Nabi Besar Muhammad saw., Rasul Allah yang “ummiy” (butahuruf)
dibangkitkan di kalangan bangsa Arab yang juga “ummiy” (butahuruf),
tetapi beliau saw. telah berhasil menjadikan
bangsa yang disebut “kaum jahiliyah” yang berada dalam “kesesaatan yang nyata” tersebut menjadi
“guru-guru dunia” dalam berbagai bidang kehidupan
dan keilmuan (pengetahuan),
firman-Na:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ
-- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 18 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar