بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 6
Kewajiban
Umat Islam Sebagai “Umat
Terbaik” Memberi Manfaatkan Besar Kepada Umat Manusia Guna Terciptanya “Kehidupan Surgawi” di Dunia
& Penyebab Kesedihan Rasul Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai kesempurnaan agama Islam (Al-Quran)
sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Agama yang
mengaku berasal dari Tuhan harus
mampu memperlihatkan tanda-tanda
berasal dari Tuhan dan harus
menunjukkan meterai (pengesahan) Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian
adalah Islam. Allah Yang tersembunyi bisa
dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan (menampakkan) Wujud-Nya
kepada para penganut tulus dari agama ini.
Suatu agama yang benar akan didukung oleh Tangan Allah dan melalui agama ini Allah memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis (ada). Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng,
tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan
berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran.
Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada-Nya, berbicara dan mendengar
sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka
tidak ada alasan bagi-Nya untuk
terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak
mendengar. Dengan kata lain, Dia itu
sekarang bukan apa-apa. Hanya agama
yang benar yang dapat membuktikan
bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga.
Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya.
Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa
dilakukan oleh para filosof atau orang-orang
bijak (cendekiawan) duniawi. Observasi langit dan bumi hanya
memberikan kesimpulan bahwa meskipun
dengan melihat keteraturannya
mengindikasikan kemungkinan adanya sosok
Pencipta, namun tidak menjadi bukti nyata bahwa Pencipta itu memang benar ada.
Ada perbedaan
besar di antara ‘kemungkinan ada’ dengan ‘ada’ itu sendiri. Al-Quran adalah satu-satunya
kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya) sebagai suatu fakta,
yang tidak saja mendorong manusia
untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi
tersebut.”
(Chasmai
Masihi,
Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 351-352,
London, 1984).
Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik”
Karena agama Islam (Al-Quran) merupakan agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) dan Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya Rasul Allah yang bergelar Khātaman-Nabiyyīn (Meterai para Rasul –
QS.33:41) serta sebaik-baik suri-teladan
(QS.33:22), karena itu sudah sewajarnya umat
yang dihasilkan dari pengamalan agama
terakhir dan tersempurna tersebut
merupakan “umat terbaik” pula,
firman-Nya:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ
لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ
الۡمُنۡکَرِ وَ
تُؤۡمِنُوۡنَ
بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ
اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan
demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat makruf, melarang dari berbuat
munkar, dan beriman
kepada Allah. Dan seandainya Ahlul
Kitab beriman, niscaya akan lebih
baik bagi mereka. Di antara mereka ada
yang beriman tetapi kebanyakan
mereka orang-orang fasik. (Āli
‘Imran [3]:111).
Firman-Nya lagi:
وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ
یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ
الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ
وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا
عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan
demikianlah جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا -- Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia, لِّتَکُوۡنُوۡا
شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga kamu. وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ
کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ -- Dan Kami
sekali-kali tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat
اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ
الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- melainkan
supaya Kami mengetahui orang yang
mengikuti Rasul dari orang yang berpaling
di atas kedua tumitnya. وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ -- Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ -- Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah
menyia-nyiakan iman kamu, اِنَّ اللّٰہَ
بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia.
(Al-Baqarah
[2]:144).
Al-wasath dalam ayat وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا -- berarti: menempati kedudukan di tengah; baik
dan mulia dalam pangkat (Aqrab-ul-Mawarid).
Kata itu dipakai di sini dalam arti baik
dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum
Muslimin disebut khayra ummah (kaum
terbaik).
Wasath juga artinya wasit,
yang dalam pertandingan oleh raga
bertugas menjaga agar pertandingan berlangsung sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan demi
tegaknya sportifitas, sehingga kedua
pihak yang sedang bertanding tidak
merasa dirugikan atau pun diuntungkan oleh wasit yang memimpin pertandingan.
Kewajiban Menjaga Akhlak dan Ruhani Generasi Penerus
Makna ayat selanjutnya لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ
وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- “supaya kamu
senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga
kamu.” Kaum Muslimin
diperingatkan di sini bahwa tiap-tiap keturunan
mereka harus menjaga dan mengawasi keturunan (generasi) berikutnya.
Karena mereka merupakan “kaum
terbaik” maka mereka berkewajiban
senantiasa berjaga-jaga agar jangan jatuh dari taraf hidup yang tinggi seperti yang diharapkan dari mereka, dan berusaha agar setiap keturunan berikutnya pun mengikuti
jalan yang ditempuh oleh mereka yang telah menikmati pergaulan suci dengan Nabi Besar Muhammad saw..
Jadi, Nabi
Besar Muhammad saw. itu
harus menjadi penjaga para pengikut
beliau saw. yang terdekat yakni para sahabat
beliau saw., sedang mereka (sahabat) pada gilirannya harus menjadi
penjaga penerus-penerus mereka dan
demikian seterusnya.
Kata-kata وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً
وَّسَطًا – Dan demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia, لِّتَکُوۡنُوۡا
شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga kamu,” dapat pula berarti, bahwa seperti
telah ditakdirkan, kaum Muslimin akan menjadi pemimpin umat manusia dan dengan amal saleh mereka akan menjadi penerima karunia-karunia istimewa dari Allah Swt..
Dengan demikian kaum-kaum
lain akan terpaksa mengambil kesimpulan
bahwa orang-orang Islam mengikuti agama yang benar, dan dengan demikian
kaum Muslimin akan menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi orang-orang lain, seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw. telah menjadi saksi atas kebenaran Islam
bagi mereka.
Tujuan “Perubahan Qiblat”
& Penyebab Kemunduran Umat Islam
Dari
kata-kata وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ -- Dan Kami
sekali-kali tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat
اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ
الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- melainkan
supaya Kami mengetahui orang yang
mengikuti Rasul dari orang yang berpaling
di atas kedua tumitnya,” tampak bahwa pada masa awal Nabi Besar Muhammad saw. telah mengambil Baitulmuqadas sebagai kiblat
beliau saw. atas perintah Ilahi,
tetapi karena Baitulmuqadas itu
dimaksudkan oleh Allah Swt. hanya
untuk menjadi kiblat sementara dan
kelak akan digantikan Ka’bah, yang
akan menjadi kiblat untuk seluruh umat manusia sepanjang masa,
maka perintah bertalian dengan kiblat sementara itu tidak termasuk
dalam Al-Quran.
Hal itu menunjukkan bahwa semua perintah yang sifatnya sementara semacam itu tidak
dimasukkan dalam Al-Quran, hanya perintah-perintah yang bersifat kekal saja yang dimasukkan di dalamnya.
Anggapan keliru bahwa ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang sekarang tidak
berlaku lagi sama sekali tidak berdasar,
yakni keliru memahami maksud nasikh-mansukh dalam (QS.2:107), sebab Allah Swt. telah menjamin pemeliharaan-Nya atas Al-Quran (QS.15:10).
Memang benar Allah Swt. menjamin pemeliharaan-Nya atas Al-Quran (QS.15:10), tetapi dalam
Al-Quran tidak ada jaminan pemeliharaan-Nya atas umat Islam, karena hal tersebut
sepenuhnya menjadi kewajiban umat Islam sendiri untuk memelihara
diri dari kerusakan akhlak dan ruhani
mereka, sebagaimana firman-Nya: وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا – Dan
demikianlah Kami menjadikan kamu satu
umat yang mulia, لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- supaya kamu senantiasa
menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul
itu senantiasa menjadi penjaga kamu.”
Selaras dengan firman-Nya tersebut dalam Surah lain
Allah Swt. berfirman mengenai kaum-kaum
purbakala yang diazab Allah Swt.
karena mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan
di kalangan mereka, firman-Nya:
کَدَاۡبِ اٰلِ
فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
قَوِیٌّ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ ﴿ ﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ
حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ
سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ ﴾
Seperti keadaan kaum Fir-’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka kafir terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa
mereka, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha
keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak
pernah mengubah suatu nikmat
yang telah Dia anugerahkan kepada suatu
kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, وَ اَنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- dan bahwa
sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Al-Anfāl [8]:53-54).
Kesedihan Rasul Akhir Zaman
Ayat ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- “Yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum
hingga mereka mengubah ke-adaan
diri mereka sendiri,” ini mengemukakan satu Sunnatullāh (Hukum Allah yang lazim), bahwa Allah Swt. tidak akan mengambil kembali suatu nikmat
yang telah dianugerahkan oleh-Nya
kepada suatu kaum selama belum
ada perubahan memburuk dalam keadaan mereka sendiri.
Jadi, kemunduran selama 1000 tahun yang menimpa umat Islam (QS.32:6) setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad adalah akibat perbuatan
buruk umat Islam sendiri karena mereka mereka telah memperlakukan Al-Quran
sebagai sesuatu yang tidak
berharga, firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi
tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān
[25]:31-32).
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah
melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini
di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim
seperti di Akhir Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang
dimaksudkan itu.
Akibat Buruk “Musim Kemarau
Ruhani” di Kalangan Umat Beragama
Mengisyaratkan kepada kenyataan buruk itu pulalah peringatan
Allah Swt. berikut ini kepada umat Islam
di Akhir Zaman ini firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ
الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat kebenaran
yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا
کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi kitab sebelumnya,
فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda
kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Sehubungan dengan Sunnatullah tersebut – yang
juga berlaku bagi umat Islam -- Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai keadaan umat beragama ketika ruh dari agama-agama telah tidak ada
lagi:
“Agama tidak berarti pertengkaran,
penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang
memperhatikan penekanan hawa nafsu batin
atau penciptaan silaturrahmi dengan Yang Maha Terkasih. Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di
antara hewan anjing dan setiap
bentuk kelakuan buruk dipertontonkan
atas nama agama. Orang-orang
demikian tidak menyadari apa tujuan
kelahiran mereka di dunia dan apa
yang menjadi tujuan pokok dari hidup
mereka itu.
Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap
jahat serta mengumbar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang
lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya
tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan
penyembahan sosok Tuhan Yang Maha
Hidup?
Tuhan
yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari
bangkai mati yang berjalan karena ditopang
penyangga, dimana jika penyangganya
diambil maka ia akan jatuh ke
tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan buta.
Mereka sama sekali tidak takut kepada
Allah dan tidak memiliki rasa kasih
kepada umat manusia yang sebenarnya
merupakan semulia-mulianya akhlak.“ (Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 21, hlm.
28, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar