Sabtu, 28 November 2015

Makna 700 "Sayap" Malaikat Jibril a.s. & Kerugian Memusuhi Malaikat Jibril a.s. Dengan Beritikad Pintu Semua Jenis Wahyu Ilahi Telah Tertutup


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Makna 700 “Sayap” Malaikat Jibril a.s. & Kerugian Memusuhi Malaikat Jibril a.s. Dengan Beritikad  Pintu Semua Jenis Wahyu Ilahi Telah Tertutup 

Bab 21


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda   a.s. Masih Mau’ud a.s.  mengenai  pentingnya memiliki makrifat Ilahi yang sempurna melalui kepatuh-taatan kepada Nabi Besar Muhammad saw., antara lain  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Kitab Suci Al-Quran penuh dengan idiom  (peribahasa) yang menyatakan bahwa dunia ini sebenarnya sudah mati dan Allah Yang Maha Agung telah menghidupkannya kembali dengan menurunkan Hadhrat Rasulullah saw. sebagaimana dinyatakan:
اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ
 Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya  (Al-Hadīd [57]:18).
Begitu pula mengenai para sahabat Rasulullah saw. dikatakan:
اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ
 Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia Sendiri  (Al-Mujadilah [58]:23).

Kiasan  “700 Sayap Malaikat” dan “700  Telur Kemanusiaan

   Ilham atau wahyu amat membantu dalam menghidupkan kembali batin seorang manusia dan menyelamatkannya dari kematian ruhani serta memberikan seseorang indera yang aktif dan pengetahuan yang murni yang bisa membawa manusia kepada kedekatan dengan Tuhan-nya.
    Pengetahuan yang atasnya didasarkan keselamatan ruhani tidak bisa didapat begitu saja tanpa kedekatan dengan jiwa yang diberkati Ruhul kudus. Kitab Al-Quran menegaskan bahwa kehidupan ruhaniah hanya mungkin diperoleh dengan cara mengikut   Hadhrat Rasulullah saw. sedangkan mereka yang menolak beliau sesungguhnya berada dalam keadaan mati.
     Yang dimaksud dengan kehidupan ruhaniah adalah kemampuan intelektual dan indera yang aktif yang dihidupkan oleh Ruhulqudus. Kitab Al-Quran mengemukakan ada 700 kaidah Ilahi yang harus diikuti (diamalkan) oleh manusia. Sejalan dengan itu maka sayap malaikat Jibrail pun terdiri dari 700  pula. Sebelum telur kemanusiaan diletakkan di bawah sayap Jibrail yang bermakna 700 kaidah (hukum) demikian maka belum atau tidak akan dilahirkan seorang bayi yang sepenuhnya fana (tenggelam/larut) kepada Ilahi.   
     Realitas manusia sebenarnya memiliki kapasitas dari 700 telur [kemanusiaan]. Seseorang yang 700 telur [kemanusiaan]nya dierami oleh 700 sayap sifat dari Jibrail adalah seorang yang sempurna dengan kelahiran ruhaniah yang sempurna dan yang hidupnya menjadi sempurna.
    Kalau saja manusia mau memperhatikan maka ia akan melihat bahwa kelahiran ruhaniah dari telur inti kemanusiaan,  sebagai hasil dari kepatuhan kepada Rasulullah saw. adalah yang sebenarnya berasal dari Ruhulqudus,  dan mereka ini jauh lebih sempurna dan lengkap dibanding anak-anak keruhanian dari nabi-nabi lainnya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia (Āli Imran [3]:111).
(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 195-197, London, 1984).

Makna “Sayap Malaikat

    Sehubungan dengan makna dari kiasan sebutan “sayap malaikat” yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut  Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Segala puji milik Allah   Yang menciptakan seluruh langit dan bumi,  جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ  -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya,  وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (Al-Fāthir [35]:1-3).
Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi atau mengendalikan segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu  melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt. kepada rasul-rasul-Nya.
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat itu. Dan karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat 2  tersebut mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. 

Tugas Malaikat Jibril a.s.

 Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat karena itu pekerjaan mahapenting  yakni  menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya (QS.2:98-100; QS.26:193-198), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,  karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ --  Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.” Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
 Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
     Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir).   Jibril sebagai penghulu di antara para malaikat (Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran. Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril itu searti dengan Ruhulqudus  dan Ruhul-Amin, firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ -- Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya,   عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pem-beri peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- Dengan bahasa Arab yang jelas. وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ --  Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syū’arā [26]:193-198).

Ruhul Amin Nama Lain Malaikat Jibril a.s.

      Ayat 193   bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah lainnya  amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum mereka masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia, sebab Al-Quran “diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.”
     Dalam ayat  194  malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut Rūhul-amīn yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10).
     Nama kehormatan ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya, sehingga   kata-kata dalam kitab-kitab suci itu  karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
      Sungguh menakjubkan bahwa di Mekkah sebelum diutus sebagai rasul Allah pun  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail kepada seorang amin!
      Kata-kata “atas kalbu engkau” dalam ayat    عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ – “atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan  Nabi Besar Muhammad saw.     dengan perkataan beliau sendiri, melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.   Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s.. atau Ruhul Amin.

Berbagai Nubuatan Tentang Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Bible

     Makna ayat  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ --  Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?” bahwa hal diutusnya  Nabi Besar Muhammad saw.       dan hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
      Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible   -- yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat  --  mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14. Jadi, kembali kepada firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,  karena sesungguhnya dialah yang  menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ --  Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.”  Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
     Menurut Bible pun tugas Jibril  adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada Jibril. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica pada Gabriel).   Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad).
       Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.

Kerugian  Memusuhi Para Malaikat

     Makna ayat مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ --  Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir,”  karena   malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya  ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu. Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) dirinya dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25  November 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar