بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Makna 700 “Sayap” Malaikat Jibril a.s. & Kerugian Memusuhi
Malaikat Jibril a.s. Dengan Beritikad Pintu Semua Jenis Wahyu Ilahi Telah Tertutup
Bab 21
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya memiliki makrifat Ilahi yang sempurna melalui kepatuh-taatan kepada Nabi Besar Muhammad saw., antara lain Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Kitab Suci Al-Quran penuh
dengan idiom (peribahasa) yang
menyatakan bahwa dunia ini
sebenarnya sudah mati dan Allah
Yang Maha Agung telah menghidupkannya kembali dengan
menurunkan Hadhrat Rasulullah saw.
sebagaimana dinyatakan:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ
Ketahuilah
bahwasanya Allah menghidupkan bumi
sesudah matinya (Al-Hadīd [57]:18).
Begitu pula mengenai para sahabat Rasulullah saw. dikatakan:
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ
Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham
dari Dia Sendiri (Al-Mujadilah [58]:23).
Kiasan “700 Sayap Malaikat” dan “700 Telur Kemanusiaan”
Ilham atau wahyu amat membantu
dalam menghidupkan kembali batin seorang manusia dan menyelamatkannya dari kematian
ruhani serta memberikan seseorang indera yang aktif dan pengetahuan
yang murni yang bisa membawa manusia kepada kedekatan dengan Tuhan-nya.
Pengetahuan yang atasnya didasarkan keselamatan
ruhani tidak bisa didapat
begitu saja tanpa kedekatan dengan jiwa yang diberkati Ruhul kudus. Kitab Al-Quran
menegaskan bahwa kehidupan ruhaniah hanya mungkin diperoleh dengan cara mengikut
Hadhrat Rasulullah saw. sedangkan mereka yang menolak
beliau sesungguhnya berada dalam keadaan
mati.
Yang
dimaksud dengan kehidupan ruhaniah adalah kemampuan intelektual dan indera yang aktif
yang dihidupkan oleh Ruhulqudus. Kitab
Al-Quran mengemukakan ada 700 kaidah Ilahi yang harus diikuti
(diamalkan)
oleh manusia. Sejalan dengan itu maka sayap
malaikat Jibrail pun terdiri dari 700 pula.
Sebelum telur kemanusiaan diletakkan di bawah sayap Jibrail yang bermakna 700 kaidah (hukum)
demikian maka belum atau tidak akan dilahirkan seorang bayi
yang sepenuhnya fana (tenggelam/larut) kepada Ilahi.
Realitas manusia sebenarnya memiliki kapasitas dari 700 telur
[kemanusiaan]. Seseorang yang 700 telur [kemanusiaan]nya dierami oleh 700 sayap sifat dari Jibrail adalah seorang
yang sempurna dengan kelahiran ruhaniah yang sempurna dan yang hidupnya
menjadi sempurna.
Kalau saja manusia mau memperhatikan maka ia
akan melihat bahwa kelahiran ruhaniah dari telur inti kemanusiaan, sebagai hasil
dari kepatuhan kepada Rasulullah
saw. adalah yang sebenarnya berasal dari Ruhulqudus, dan mereka ini jauh lebih
sempurna dan lengkap dibanding anak-anak keruhanian dari nabi-nabi lainnya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
‘Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia’ (Āli Imran [3]:111).
(Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 195-197,
London, 1984).
Makna “Sayap Malaikat”
Sehubungan dengan makna dari kiasan sebutan “sayap malaikat” yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut
Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ
یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit dan bumi,
جَاعِلِ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat
sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga dan empat. یَزِیۡدُ فِی
الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ --
Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ
مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa
pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak
ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ
لَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fāthir [35]:1-3).
Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga,
mengatur, dan mengawasi atau mengendalikan segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu melaksanakan
perintah dan kehendak Allah Swt.
kepada rasul-rasul-Nya.
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat
lain, yang bahkan menjelmakan lebih
banyak lagi dari Sifat-sifat itu.
Dan karena ajnihah merupakan lambang kekuatan
dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat 2
tersebut mengandung arti bahwa malaikat-malaikat
itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan
kepada mereka masing-masing.
Tugas Malaikat Jibril a.s.
Sebagian malaikat
dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada
yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah
penghulu semua malaikat karena itu pekerjaan
mahapenting yakni menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul
Allah diserahkan kepadanya serta
dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya (QS.2:98-100;
QS.26:193-198), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada
sebelumnya, sebagai petunjuk dan
kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh
bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya,
rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.” Dan sungguh
Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,
dan sekali-kali tidak ada
yang kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah
[2]:98-100).
Jibril itu kata
majemuk dari jabr dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti,
khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh
William Geseneus; (Bukhari,
bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari
Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir). Jibril
sebagai penghulu di antara para
malaikat (Mantsur) itu adalah
pembawa wahyu Al-Quran. Menurut para
ahli tafsir Al-Quran Jibril itu searti dengan Ruhulqudus dan Ruhul-Amin, firman-Nya:
وَ اِنَّہٗ
لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan
sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.
نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- Telah turun dengannya Ruh
yang terpercaya, عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ
الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas kalbu
engkau, supaya engkau termasuk di antara para pem-beri peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ
مُّبِیۡنٍ -- Dengan bahasa Arab yang jelas. وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar
tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.
اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syū’arā
[26]:193-198).
Ruhul Amin Nama Lain Malaikat Jibril a.s.
Ayat 193 bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala
baru. Seperti amanat-amanat para nabi
Allah lainnya amanat Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum mereka masing-masing,
sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh
bangsa di dunia, sebab Al-Quran “diturunkan
oleh Tuhan seluruh alam.”
Dalam ayat 194 malaikat
yang membawa wahyu Al-Quran disebut Rūhul-amīn
yaitu Ruh yang terpercaya. Di
tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran
untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama
kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10).
Nama kehormatan ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi
tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya, sehingga kata-kata dalam kitab-kitab suci itu karena berlalunya masa telah menderita campur
tangan manusia dan perubahan.
Sungguh menakjubkan bahwa di Mekkah sebelum
diutus sebagai rasul Allah pun Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si
benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan
Ilahi dan betapa besar kesaksian
mengenai keterpercayaan Al-Quran,
karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn
(Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail kepada seorang amin!
Kata-kata “atas kalbu engkau” dalam
ayat عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ
مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ – “atas kalbu engkau, supaya engkau
termasuk di antara para pemberi
peringatan” telah dibubuhkan untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu
Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw. dengan
perkataan beliau sendiri, melainkan
benar-benar Kalam Allah Swt. Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s.. atau Ruhul Amin.
Berbagai Nubuatan Tentang
Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Bible
Makna
ayat وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar
tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.
اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?” bahwa hal diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan
hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya
telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible -- yang merupakan
kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga
karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat -- mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan
18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk
3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14. Jadi, kembali kepada
firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ
اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada
sebelumnya, sebagai petunjuk dan
kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh
bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya,
rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya
Allah pun menjadi musuh
bagi orang-orang kafir.” Dan sungguh
Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,
dan sekali-kali tidak ada
yang kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah
[2]:98-100).
Menurut Bible pun tugas Jibril adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas
1:19). Al-Quran, seperti ditegaskan
oleh ayat ini, menetapkan tugas yang
sama kepada Jibril. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia
dilukiskan sebagai “malaikat api dan
guntur” (Encyclopaedia Biblica
pada Gabriel). Pada zaman Nabi
Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh dan sebagai malaikat
peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad
Ahmad).
Mikal
(Mikail) pun salah satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang
sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti
Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai
malaikat yang paling mereka sukai (Yewish
Encyclopaedia), dan sebagai malaikat
keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir)
dan dianggap mempunyai pertalian terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
Kerugian Memusuhi Para Malaikat
Makna ayat مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh
bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya,
rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir,” karena
malaikat-malaikat
merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada
hakikatnya ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu. Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) dirinya dari rahmat dan karunia yang
dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah
yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima
siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 25 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar