بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.
Kalau ini disebut kekafiran, maka demi
Allah aku adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Bab 16
Misi Kerasulan Nabi
Besar Muhammad Saw. Menembus Batas
“Waktu” dan “Zaman” & Makna Gelar Khātaman
Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab-bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai firman Allah Swt.: الَّذِیۡ
یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- “yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan
Injil yang ada
pada mereka” (QS.7:159) mengenai beberapa nubuatan
Bible berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., lihat Matius 23:39; Yahya
14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan 20:62;
Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
Walau pun
Nabi Besar Muhammad saw., Rasul
Allah yang “ummiy” (butahuruf) dibangkitkan di kalangan bangsa
Arab yang juga “ummiy” (butahuruf - QS.62:3), tetapi beliau saw. telah
berhasil menjadikan bangsa yang disebut “kaum
jahiliyah” yang berada dalam “kesesaatan
yang nyata” tersebut menjadi “guru-guru
dunia” dalam berbagai bidang kehidupan
dan keilmuan (pengetahuan) serta kesucian
akhlak dan ruhani, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ
یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ
-- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Empat Macam Tugas
Utama Nabi Besar Muhammad Saw.
Menurut ayat 3 tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.
meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang
disebut dalam ayat ini: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- “yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”
Tugas agung dan mulia
itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw.
di tengah-tengah orang-orang Arab buta
huruf itu, leluhur beliau Nabi
Ibrahim a.s., telah
memanjatkan doa beberapa ribu tahun
yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s. keika keduanya meninggikan pondasi (mendirikan) kembali Ka’bah,
firman-Nya:
رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
“Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang
rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada
mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:130).
Ayat
ini merupakan ikhtisar dari masalah pokok seluruh Surah Al-Baqarah, yang bukan hanya
berisikan pemekarannya saja melainkan pula membahas berbagai pokok dalam urutan
yang sama seperti disebut dalam ayat ini, yaitu mula-mula Tanda-tanda, kemudian Kitab,
lalu hikmah syariat, dan yang
terakhir ialah sarana-sarana untuk kemajuan nasional.
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil
dalam misinya bila ia tidak
menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya),
suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya
terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa kpada Allah Swt., yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan
cita-cita dan asas-asas ajaran-nya
itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya tersebut ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa-bangsa lain.
Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama
itulah yang diisyaratkan oleh Surah Al-Jumu’ah
ayat 3 tersebut: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- “yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah.”
Misi Suci Nabi Besar Muhammad Saw. Menembus “Waktu” dan “Zaman”
Mengenai makna ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,
bahwa ajaran Nabi
Besar Muhammad saw. tidak hanya ditujukan
kepada bangsa
Arab belaka -- yang di tengah-tengah
bangsa itu beliau saw. dibangkitkan – tetapi
juga kepada seluruh bangsa bukan-Arab (QS.7:159; QS.21:108) dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga
kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang
hingga kiamat.
Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan
lagi secara ruhani di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabah) semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat
ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau
saw. untuk kedua kali dalam
wujud Masih Mau’ud a.s. di
Akhir Zaman.
Sehubungan ayat tersebut Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata وَّ
اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا
بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara
mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal
Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullāh saw. meletakkan
tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila
iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti
akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi saw. ini
menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan
Parsi. Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat
Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) -- pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam
selain namanya, yaitu jiwa (ruh) ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat
bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Masih
Mau’ud a.s..
Kesempurnaan Derajat Nabi Besar Muhammad saw.
Sehubungan dengan kesempurnaan derajat akhlak
dan ruhani Nabi Besar Muhammad
saw. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Nur akbar telah dianugrahkan kepada sesosok manusia yang sempurna, dan bukan kepada malaikat, bukan kepada bintang-bintang, bukan kepada bulan, bukan kepada matahari, bukan kepada samudra atau sungai, tidak juga kepada batu
mirah, emerald, mutiara atau jamrut, singkatnya bukan
kepada benda lain di bumi atau langit.
Nur tersebut hanya bagi wujud suci yang contoh kehidupannya demikian sempurna sebagai Penghulu dan Junjungan kita, Penghulu
segala Nabi, Penghulu semua mahluk hidup,
yang terpilih, Muhammad saw..
Nur tersebut dikaruniakan kepada manusia
suci ini, dan sejalan dengan
derajat mereka juga diberikan kepada mereka
yang memiliki warna yang mendekati
sama dengan beliau. Tetapi
keagungan demikian terdapat dalam bentuknya yang paling sempurna
dalam wujud Penghulu, Junjungan dan Pembimbing
kita yang suci, Rasulullah Muhammad saw.,
sebagai insan yang terpilih.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 5,
hlm. 160-162, London, 1984).
Mengenai ketinggian kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi
Besar Muhammad saw. -- sehingga beliau saw, mendapat gelar Khātaman –Nabiyyīn (QS.33:41) -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku selama ini
selalu menduga-duga sebenarnya
berapa tingginya derajat Nabi dari
bangsa Arab yang bernama Muhammad saw. ini. Tidak akan ada yang bisa mencapai ketinggian derajat
beliau dan tidak ada manusia yang akan mampu
menduga
secara tepat keluhuran keruhanian beliau. Sayang sekali belum semua manusia mengakui hal itu sebagaimana mestinya.
Beliau itulah pahlawan ruhani yang telah mengembalikan kepada dunia Ketauhidan Ilahi yang telah hilang. Beliau mencintai Tuhan-nya dengan
sepenuh hati, sedangkan hatinya luluh dalam kasih kepada umat
manusia. Karena itulah maka Allah Yang mengetahui isi hati beliau telah mengangkatnya di atas semua nabi-nabi dan umat
manusia dari kelompok awal maupun kelompok akhir, serta menganugrahkan kepada beliau apa pun yang diinginkannya
dalam masa hidupnya.
Beliau
adalah sumber mata air semua keberkatan, dan jika ada manusia
yang mengaku dirinya lebih tinggi tanpa mengakui derajat beliau,
sesungguhnya ia itu bukan manusia melainkan anak syaitan. Beliau telah dikaruniakan kunci semua keagungan, dan beliau telah dirahmati dengan khazanah setiap
pemahaman.
Mereka yang tidak memperoleh bimbingan melalui beliau sama
dengan orang yang kehilangan segalanya.
Aku ini bukan
apa-apa dan tidak memiliki apa
pun. Aku akan menjadi orang yang tidak bersyukur
jika aku tidak mengaku bahwa aku
mendapat pemahaman tentang Ketauhidan Ilahi
melalui Rasul ini. Dengan Nur beliau pengakuan
akan adanya Wujud
Tuhan Yang
Maha Hidup,
aku peroleh melalui
Rasul yang sempurna ini.
Kehormatan
untuk bisa berbicara dengan Allah Swt. dimana aku bisa memandang
Wujud-Nya adalah juga melalui Rasul
akbar
tersebut. Sinar dari matahari
pembimbing ini menerpa tubuhku laiknya
sinar surya, dan aku akan memperoleh pencerahan terus
menerus sepanjang aku
tetap terarah kepadanya.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld.
22, hlm. 118-119, London, 1984).
Keberkatan
Ruhani Nabi Besar Muhammad saw. Hidup
Selama-lamanya
Seandainya ada manusia atau Rasul Allah
yang dapat hidup abadi di dunia ini –
bahkan, na’ūdzubillāhi min dzālik,
dapat menjadi “Anak Tuhan” -- maka kedudukan
seperti itu hanya mustahak bagi Nabi
Besar Muhammad saw., tidak untuk siapa pun, berikut firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا
اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ فَذَرۡہُمۡ
یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
"Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah
mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah." Maha
Suci Rabb (Tuhan)
seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan)
‘Arasy, jauh dari apa yang mereka
sifatkan. Maka biarkanlah mereka ber-cakap kosong
dan bermain-main sam-pai mereka
bertemu dengan Hari mereka yang
telah dijanjikan. (Az-Zukhruf
[43]:82-84).
'Abid dalam ayat قُلۡ
اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah" adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari
'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah
berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon
Lane). Maka ayat tersebut berarti:
(a) “Seandainya Tuhan
Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah orangnya yang
pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allāh yang paling taat
dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu)”.
(b)
“Seandainya
mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah
mempunyai seorang anak, maka akulah
yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak
menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya.
(c)
“Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak
mempunyai seorang anak -- (in berarti, "tidak") -- dan akulah yang pertama-tama menjadi
saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'ābidīn berarti syāhidīn, yaitu
saksi-saksi.
(d) “Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan, bahwa Dia
memiliki anak.”
Sehubungan dengan keabadian keberkatan ruhani Nabi Besar Muhammad
saw. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Wahai kalian yang bermukim
di muka bumi, dan wahai jiwa semuanya yang ada di barat atau di
timur, aku maklumkan secara tegas
bahwa kebenaran haqiqi di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan Yang benar adalah Allah,
sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran,
sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi, dan sekarang bertahta di atas singgasana keagungan dan kesucian, adalah wujud
terpilih Muhammad saw..
Bukti
dari hidup keruhanian dan keluhuran keagungannya adalah
dengan mengikuti dan mencintai beliau maka kita akan menjadi penerima Rohul
Kudus dan akan dikaruniai berkat bisa bercakap dengan Tuhan dan menyaksikan Tanda-tanda samawi.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 15, hlm. 141,
London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Manusia yang dalam wujud, perilaku dan
sifat-sifatnya serta yang melalui fitrat keruhaniannya yang suci telah memberikan contoh
kesempurnaan dalam ketulusan
dan keteguhan, dan dikenal sebagai manusia yang sempurna adalah Hadhrat Muhammad saw..
Manusia
yang paling sempurna -- baik sebagai manusia mau pun sebagai seorang rasul -- yang datang membawa berkat akbar, wujud
yang telah menimbulkan kebangkitan kembali keruhanian
dan dengan demikian telah menghidupkan kembali dunia, Rasul yang berberkat itu, Khātaman Nabiyyīn, Penghulu
para muttaqi, terbaik dari antara semua rasul
adalah Muhammad saw..
Ya Allah, turunkanlah berkat
dan rahmat yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal
masa dunia ini. Jika Rasul akbar ini tidak muncul di
dunia maka kami tidak akan memiliki
bukti kebenaran dari Rasul-rasul yang berada di bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayyub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya, Zakaria dan
lain-lain.
Walaupun mereka itu semuanya adalah sosok-sosok orang yang dihormati dan menjadi kekasih
Allah Swt. namun mereka berutang budi kepada Rasul
akbar ini bahwa mereka kemudian diakui
sebagai nabi-nabi
yang benar.
Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas diri
beliau dan para pengikut beliau serta
para sahabat beliau. Semua puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam.” (Itmamul Hujjah, Gulzar Muhammadi Press,
Lahore, 1311 H, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 8, hlm. 308, London, 1984).
Makna Gelar Khātaman Nabiyyīn
Mengenai gelar Khātaman
Nabiyyīn yang dianugerahkan Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Dia berfirman:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ
مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allāh وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai
sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb
[33]:41).
Khātam berasal dari kata khatama
yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu.
Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda
itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan
dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan
sebuah meterai jenis apa pun.
Khātam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau
meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak
(cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau
paling sempurna. Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama
artinya (Lexicon Lane;
Al-Mufradat, Al-Fath-ul-Bari, dan Zurqani). Maka kata khātaman
nabiyyin akan berarti: meterai para
nabi; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan
nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi
terakhir yang membawa syariat.
Di Mekkah pada waktu semua putra Nabi Besar Muhammad saw. telah
meninggal dunia semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh beliau mengejek beliau saw.
seorang abtar (yang tidak mempunyai anak laki-laki), yang berarti karena
ketiadaan ahliwaris lelaki itu untuk
menggantikan beliau, jemaat beliau cepat atau lambat akan menemui kesudahan (Muhith).
Sebagai jawaban terhadap ejekan
orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah Al-Kautsar bahwa bukan Nabi Besar Muhammad saw. melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang akan abtar (tidak akan berketurunan),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾ فَصَلِّ
لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾ اِنَّ شَانِئَکَ
ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau
berlimpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah. اِنَّ شَانِئَکَ
ہُوَ الۡاَبۡتَرُ -- Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang
tanpa keturunan. (Al-Kautsār
[108]:1-4).
Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja
terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dianugerahi anak-anak lelaki yang
akan hidup sampai dewasa. Ayat yang sedang dibahas ini menghilangkan salah
paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa
yang akan datang bukan atau tidak pernah akan menjadi bapak seorang orang
lelaki dewasa (rijal berarti pemuda).
Dalam pada itu ayat ini (QS.33:41)
nampaknya bertentangan dengan Surah Al-Kautsar,
yang di dalamnya bukan Nabi Besar
Muhammad saw., melainkan musuh-musuh
beliau saw. yang diancam dengan tidak
akan berketurunan, tetapi sebenarnya
berusaha menghilangkan keragu-raguan
dan prasangka-prasangka terhadap
timbulnya arti yang kelihatannya
bertentangan itu.
Ayat مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ
مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- “Muhammad
bukanlah bapak salah seorang
laki-laki di antara laki-laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allāh وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai
sekalian nabi’ mengatakan, bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw. bukan ayah jasmani seorang laki-laki bangsa Arab mana pun, melainkan adalah seorang Rasul
Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh
umat manusia, dan beliau juga bukan sekedar seorang Rasul Allah tetapi juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah bapak
ruhani seluruh nabi Allah. Maka
bila beliau saw. dalam kenyataannya adalah seorang bapak
ruhani semua orang beriman dan
semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat disebut abtar atau tak berketurunan.
Apabila ungkapan وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ diambil dalam arti bahwa itu nabi yang terakhir, dan bahwa “tidak ada
nabi akan datang sesudah beliau saw.”, maka ayat ini akan nampak sumbang
bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. tidak berketurunan,
malahan mendukung dan menguatkannya.
Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam
kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khāātaman
Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
(1) Nabi Besar Muhammad saw. adalah meterai para nabi, yakni, tidak ada
nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan Nabi Besar Muhammad saw.. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus
dikuatkan dan disahkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dan juga tidak ada seorang pun yang
dapat mencapai tingkat kenabian
sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau (QS.4:70-71).
(2) Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang terbaik, termulia, dan
paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan
bagi mereka (Zurqani, Syarah
Muwahib al-Laduniyyah).
(3) Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang terakhir di antara para
nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka,
orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali
Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
Menurut ulama-ulama besar dan
para waliullāh itu, tidak ada nabi dapat datang sesudah Nabi Besar Muhammad saw. yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah
beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau (Futuhat, Tafhimat,
Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir).
Sitti Aisyah r.a., istri Nabi Besar Muhammad saw., yang amat berbakat
menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Nabi Besar
Muhammad saw. adalah
Khātaman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah
beliau” (Mantsur).
(4) Nabi Besar Muhammad saw. adalah nabi yang terakhir (Akhirul
Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma
dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau: khatam
dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan,
adalah sudah lazim dipakai.
Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas
mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad saw. wafat
(QS.7:36). Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau.
Menurut riwayat, beliau pernah bersabda: “Seandainya
Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Majah, Kitab al-Jana’iz) dan:
“Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi
muncul” (Kanzul-Umal).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 19 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar