Minggu, 22 November 2015

Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. Menembus Batas "Waktu" dan "Zaman" & Makna Gelar "Khaataman-Nabiyyiin" Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah,   aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.  Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar


 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Bab 16

Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. Menembus Batas “Waktu” dan “Zaman” & Makna Gelar Khātaman Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad Saw. 

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya  telah  dikemukakan mengenai firman Allah Swt.:  الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- “yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka” (QS.7:159) mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan dengan  Nabi Besar Muhammad saw.,  lihat Matius 23:39; Yahya 14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan 20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
     Walau pun  Nabi Besar Muhammad saw., Rasul Allah yang “ummiy” (butahuruf) dibangkitkan di kalangan  bangsa Arab yang juga “ummiy” (butahuruf - QS.62:3), tetapi beliau saw. telah berhasil menjadikan  bangsa yang disebut “kaum jahiliyah” yang berada dalam “kesesaatan yang nyata” tersebut menjadi “guru-guru dunia” dalam berbagai bidang kehidupan dan keilmuan (pengetahuan) serta  kesucian akhlak dan ruhani,  firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Empat Macam Tugas Utama Nabi Besar Muhammad Saw.

 Menurut ayat 3 tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.   meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini:  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ  -- “yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”  
  Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu, leluhur beliau  Nabi Ibrahim a.s.,  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s. keika keduanya  meninggikan pondasi (mendirikan)  kembali  Ka’bah, firman-Nya:
رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
“Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah  kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:130).
     Ayat ini merupakan ikhtisar dari masalah pokok seluruh Surah Al-Baqarah,  yang bukan hanya berisikan pemekarannya saja melainkan pula membahas berbagai pokok dalam urutan yang sama seperti disebut dalam ayat ini, yaitu mula-mula Tanda-tanda, kemudian Kitab, lalu hikmah syariat, dan yang terakhir ialah sarana-sarana untuk kemajuan nasional.  
  Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa kpada Allah Swt.,  yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya tersebut  ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa-bangsa lain.
  Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw.  berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh Surah Al-Jumu’ah ayat 3 tersebut: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ  -- “yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”  

Misi  Suci  Nabi Besar Muhammad Saw. Menembus “Waktu” dan “Zaman

  Mengenai makna ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya   ditujukan   kepada bangsa Arab belaka  -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan – tetapi  juga   kepada seluruh bangsa bukan-Arab (QS.7:159; QS.21:108)  dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat.
  Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  akan dibangkitkan lagi secara ruhani di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabah) semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw.  untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman.
  Sehubungan ayat tersebut  Abu Hurairah r.a.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.   ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullāh saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari). Hadits Nabi saw.  ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
 Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih  -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)   -- pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu jiwa (ruh) ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud  Masih Mau’ud a.s..

Kesempurnaan Derajat  Nabi Besar Muhammad saw.

   Sehubungan dengan kesempurnaan derajat akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Nur akbar telah dianugrahkan kepada sesosok manusia yang sempurna, dan bukan kepada malaikat, bukan kepada bintang-bintang, bukan kepada bulan, bukan kepada matahari, bukan kepada samudra atau sungai, tidak juga kepada batu mirah, emerald, mutiara atau jamrut, singkatnya bukan kepada benda lain di bumi atau langit.
   Nur tersebut hanya bagi wujud suci yang contoh kehidupannya demikian sempurna sebagai Penghulu dan Junjungan kita, Penghulu segala Nabi, Penghulu semua mahluk hidup, yang terpilih, Muhammad saw..
      Nur tersebut dikaruniakan kepada manusia suci ini,  dan sejalan dengan derajat mereka  juga diberikan  kepada mereka yang memiliki warna yang mendekati sama dengan beliau. Tetapi keagungan demikian terdapat dalam bentuknya yang paling sempurna dalam wujud Penghulu, Junjungan dan Pembimbing kita yang suci, Rasulullah Muhammad saw., sebagai insan yang terpilih. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 5, hlm. 160-162, London, 1984).
       Mengenai  ketinggian  kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.    --  sehingga beliau saw, mendapat gelar Khātaman –Nabiyyīn (QS.33:41)   --  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    Aku selama ini selalu menduga-duga  sebenarnya berapa tingginya derajat Nabi dari bangsa Arab yang bernama Muhammad saw. ini. Tidak akan ada yang bisa mencapai ketinggian derajat beliau dan tidak ada manusia yang akan mampu menduga secara tepat keluhuran keruhanian beliau. Sayang sekali belum semua manusia mengakui hal itu sebagaimana mestinya.
   Beliau itulah pahlawan ruhani yang telah mengembalikan kepada dunia Ketauhidan Ilahi yang telah hilang. Beliau mencintai Tuhan-nya dengan sepenuh hati, sedangkan hatinya luluh dalam kasih kepada umat manusia. Karena itulah maka Allah Yang mengetahui isi hati beliau telah mengangkatnya di atas semua nabi-nabi dan umat manusia dari kelompok awal maupun kelompok akhir, serta menganugrahkan kepada beliau apa pun yang diinginkannya dalam masa hidupnya.
      Beliau adalah sumber mata air semua keberkatan, dan jika ada manusia yang mengaku dirinya lebih tinggi tanpa mengakui derajat beliau, sesungguhnya ia itu bukan manusia melainkan  anak syaitan. Beliau telah dikaruniakan kunci semua keagungan, dan beliau telah dirahmati dengan khazanah  setiap pemahaman. Mereka yang tidak memperoleh bimbingan melalui beliau  sama dengan orang yang kehilangan segalanya.
    Aku ini bukan apa-apa dan tidak memiliki apa pun. Aku akan menjadi orang yang tidak bersyukur jika aku tidak mengaku bahwa aku mendapat pemahaman tentang Ketauhidan Ilahi melalui Rasul ini. Dengan Nur beliau  pengakuan akan adanya Wujud Tuhan Yang Maha Hidup, aku peroleh melalui Rasul yang sempurna ini.
  Kehormatan untuk bisa berbicara dengan Allah Swt.  dimana aku bisa memandang Wujud-Nya adalah juga melalui Rasul akbar tersebut. Sinar dari matahari pembimbing ini menerpa tubuhku laiknya sinar surya,  dan aku akan memperoleh pencerahan terus menerus sepanjang aku tetap terarah kepadanya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 22, hlm. 118-119, London, 1984).

Keberkatan Ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  Hidup Selama-lamanya

     Seandainya ada manusia atau Rasul Allah yang dapat hidup abadi di dunia ini – bahkan, na’ūdzubillāhi min dzālik, dapat menjadi “Anak Tuhan”   -- maka kedudukan seperti itu hanya mustahak bagi Nabi Besar Muhammad saw., tidak untuk siapa pun, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾  سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah."  Maha Suci Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan) ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan.  Maka biarkanlah mereka ber-cakap kosong  dan bermain-main sam-pai mereka bertemu dengan Hari mereka yang telah dijanjikan.  (Az-Zukhruf [43]:82-84).
   'Abid  dalam ayat  قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ  -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah"   adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Maka ayat tersebut  berarti:
 (a) “Seandainya   Tuhan Yang Maha Pemurah  mempunyai seorang anak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allāh yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu)”.
  (b)  “Seandainya mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya.
  (c)Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak mempunyai seorang anak -- (in berarti, "tidak")   -- dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'ābidīn berarti syāhidīn, yaitu saksi-saksi.
  (d) “Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan, bahwa Dia memiliki  anak.”
      Sehubungan dengan  keabadian keberkatan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Wahai kalian yang bermukim di muka bumi, dan wahai jiwa semuanya yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran haqiqi di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan Yang benar adalah Allah, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi,  dan sekarang bertahta di atas singgasana keagungan dan kesucian,  adalah wujud terpilih Muhammad saw..
   Bukti dari hidup keruhanian dan keluhuran keagungannya adalah dengan mengikuti dan mencintai beliau maka kita akan menjadi penerima   Rohul Kudus dan akan dikaruniai berkat bisa bercakap dengan Tuhan dan menyaksikan Tanda-tanda samawi.”  (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 15, hlm. 141, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Manusia yang dalam wujud, perilaku dan sifat-sifatnya serta yang melalui fitrat keruhaniannya yang suci telah memberikan contoh kesempurnaan dalam ketulusan dan keteguhan, dan dikenal sebagai manusia yang sempurna  adalah Hadhrat Muhammad  saw..
    Manusia yang paling sempurna  -- baik sebagai  manusia mau pun sebagai seorang rasul  --  yang datang membawa berkat akbar, wujud yang telah menimbulkan kebangkitan kembali keruhanian dan dengan demikian telah menghidupkan kembali dunia, Rasul yang berberkat itu, Khātaman Nabiyyīn, Penghulu para muttaqi, terbaik dari antara semua rasul adalah Muhammad saw..
   Ya Allah, turunkanlah berkat dan rahmat yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal masa dunia ini. Jika Rasul akbar ini tidak muncul di dunia maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran dari Rasul-rasul yang berada di bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayyub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya, Zakaria dan lain-lain.
    Walaupun mereka itu semuanya adalah sosok-sosok orang yang dihormati dan menjadi kekasih Allah Swt.  namun mereka berutang budi kepada Rasul akbar ini bahwa mereka kemudian diakui sebagai nabi-nabi yang benar.
   Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas diri beliau dan para pengikut beliau serta para sahabat beliau. Semua puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam.(Itmamul Hujjah, Gulzar Muhammadi Press, Lahore, 1311 H, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. 8, hlm. 308, London, 1984).

Makna Gelar  Khātaman Nabiyyīn
 
    Mengenai   gelar Khātaman Nabiyyīn  yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Dia berfirman:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allāh  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
   Khātam berasal dari kata khatama yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun.
   Khātam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama artinya (Lexicon Lane; Al-Mufradat, Al-Fath-ul-Bari, dan Zurqani). Maka kata khātaman nabiyyin akan berarti: meterai para nabi; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir  yang membawa syariat.
    Di Mekkah pada waktu semua putra  Nabi Besar Muhammad saw.    telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh beliau mengejek beliau saw. seorang abtar (yang tidak mempunyai anak laki-laki), yang berarti karena ketiadaan ahliwaris lelaki itu untuk menggantikan beliau, jemaat beliau cepat atau lambat akan menemui kesudahan (Muhith).
   Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah Al-Kautsar bahwa bukan Nabi Besar Muhammad saw.      melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang akan abtar (tidak akan berketurunan), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾  فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah  bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah. اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ  -- Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan.  (Al-Kautsār [108]:1-4).
     Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.      akan dianugerahi anak-anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. Ayat yang sedang dibahas ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak pernah akan menjadi bapak seorang orang lelaki dewasa (rijal berarti pemuda).
     Dalam pada itu ayat ini (QS.33:41) nampaknya bertentangan dengan Surah Al-Kautsar, yang di dalamnya bukan  Nabi Besar Muhammad saw., melainkan musuh-musuh beliau saw. yang diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya arti yang kelihatannya bertentangan itu.
      Ayat   مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ   -- “Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allāh  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi’ mengatakan, bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw. bukan ayah jasmani seorang laki-laki bangsa Arab   mana pun, melainkan adalah seorang  Rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh umat manusia, dan beliau juga  bukan sekedar seorang Rasul Allah tetapi juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa Nabi Besar Muhammad saw.   adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah. Maka bila beliau saw.  dalam kenyataannya  adalah seorang  bapak ruhani semua orang beriman dan semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat disebut abtar atau tak berketurunan.
      Apabila ungkapan  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  diambil dalam arti bahwa   itu nabi yang terakhir, dan bahwa “tidak ada nabi akan datang sesudah beliau saw.”, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. tidak berketurunan, malahan mendukung dan menguatkannya.
      Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khāātaman Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
    (1)  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan  Nabi Besar Muhammad saw..    Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.   dan juga tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau (QS.4:70-71).
    (2)  Nabi Besar Muhammad saw.     adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
     (3)  Nabi Besar Muhammad saw.      adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
      Menurut ulama-ulama besar dan para waliullāh itu, tidak ada nabi dapat datang sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.     yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau (Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir).
      Sitti Aisyah r.a., istri  Nabi Besar Muhammad saw., yang amat berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Nabi Besar Muhammad saw.     adalah Khātaman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
      (4)  Nabi Besar Muhammad saw.     adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau: khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai.
     Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad saw. wafat (QS.7:36).  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanzul-Umal).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 19 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar