بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 10
Sikap
Lugu “Orang-orang Arab Gurun”
Mengenai Perbedaan Muslim dengan Mukmin
& Pentingnya Melakukan Revolusi Ruhani Diri Sendiri Melalui Pengamalan Ajaran Islam (Al-Quran)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai makna Islam dan Muslim:
“Realitas (hakikat)
Islam adalah seperti menyerahkan
leher kita kepada Allah Swt.
sebagaimana seekor domba kurban,
meninggalkan semua keinginan diri
sendiri dan mengabdi sepenuhnya
kepada keinginan dan keridhaan Allah, melenyapkan diri di dalam Tuhan
dan seolah memfanakan dirinya
sendiri menjadi diwarnai dengan kasih Allah serta taat penuh kepada-Nya
semata-mata karena mengharapkan
Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan
mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara
semata-mata berdasar perintah-Nya.
Ini adalah tingkatan dimana
semua kegiatan pencarian telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego
manusia menjadi mati sama
sekali. Pada saat itu barulah rahmat
Ilahi akan memberikan kepada si
pencari itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya
yang hidup dan Nur-Nya yang bercahaya.
“Berkomunikasi” dengan Allah Swt.
Ia akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah Swt. dan sebuah Nur yang indah yang tidak
bisa dikenali melalui penalaran
biasa serta tidak dikenal oleh
mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya
sebagaimana firman Allah:
وَ
نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿۱ ﴾
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya” (Qāf [50]:17).
Melalui cara demikian Allah
mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya
kepada manusia. Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang
bersangkutan diangkat dan matanya
diberi wawasan mendalam dimana
manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar
suara-Nya serta merasa dirinya diliputi jubah
Nur-Nya.
Dengan cara demikian itulah tujuan
dari agama tercapai, dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan
rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan
Allah dan surga, tidak
semata-mata sebagai janji yang akan
dipenuhi di akhirat, melainkan dalam
kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh
karunia pemandangan, komunikasi
dan surga itu sendiri. Sebagaimana
dinyatakan Allah Swt. bahwa:
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb (Tuhan) kami adalah Allah” kemudian mereka bersikap teguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula
berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah
dijanjikan kepadamu” (Ha Mim As-Sajdah [41]:31).
Hal ini
berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan
bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa, Yang memiliki semua sifat sempurna, Yang tidak mempunyai
sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat-Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu bersikap teguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun
ancaman kematian bisa menggoyang
keimanan mereka.
Allah Swt. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana
atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia
ada beserta mereka dan bahwa Dia
telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga
sebagaimana dijanjikan dimana mereka
bisa bergembira di dalamnya.
Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati
yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi (orang-orang bertakwa) terdahulu, dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah
diterima para pendahulunya itu.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm.
160-161, London, 1984).
Perbedaan Muslim dengan Mukmin
Sehubungan dengan sebutan Muslim
bagi orang yang memeluk agama
Islam, Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang
Arab gurun yang merasa telah berjasa kepada Nabi Besar Muhammad saw.
dengan ke-Islam-an mereka, firman-Nya:
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ
لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ
قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا
یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ
ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ
لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ لَمۡ
یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ
ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ یَمُنُّوۡنَ
عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾ اِنَّ
اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪ ﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: اٰمَنَّا -- “Kami telah beriman.” قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا -- Katakanlah: “Kamu belum
beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah
berserah diri”, وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ
قُلُوۡبِکُمۡ -- karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.”
وَ اِنۡ
تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا
یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sesuatu
dari amal-amal kamu, اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ
رَسُوۡلِہٖ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا -- kemudian
tidak ragu-ragu وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ
اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ -- dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصّٰدِقُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang
yang benar. قُلۡ
اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan (memberitahukan) kepada Allah tentang agama kamu? وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
-- Padahal Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Mereka mengira telah mem-beri anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu, بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ
اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya
Allah mengetahui yang gaib di seluruh
langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurat [49]:15-19).
Sekalian orang Muslim merupakan bagian tidak
terpisahkan dari persaudaraan dalam Islam. Islam memberikan hak sama kepada putra-putra padang pasir buta
huruf dan biadab, seperti halnya
kepada penduduk kota kecil maupun
kota besar yang beradab dan berbudaya; hanya saja oleh Islam
dianjurkan kepada mereka yang disebut pertama (orang Arab gurun) – yakni
orang-orang Islam (Muslim) awam -- agar mereka berusaha lebih keras untuk belajar
dan meresapkan ke dalam dirinya ajaran
Islam dan membuat ajaran-ajaran
itu menjadi pedoman hidup mereka.
Muslim Dalam Bentuk Amal
Nyata
Mereka jangan merasa bangga
dan merasa telah berjasa kepada Allah
Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. –
serta merasa telah mendapat najat (keselamatan) dan falah (kesuksesan) -- karena telah
menjadi Muslim, sebab “perjalanan”
mereka di “jalan Allah” masih sangat
jauh (QS.29:70; QS.84:7; QS. 89:28-31; QS.107:108), firman-Nya: یَمُنُّوۡنَ
عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Mereka mengira telah
memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu, بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah
terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
-- Sesungguhnya
Allah mengetahui
yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan. (Al-Hujurat [49]:18-19).
Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya ke-Muslim-an dalam bentuk amal (perbuatan) nyata:
“Seseorang dikatakan Muslim jika seluruh wujudnya beserta seluruh
kemampuannya -- baik jasmani
maupun ruhani -- diabdikan seluruhnya kepada Allah Yang Maha Agung, dan amanah
yang ditugaskan oleh Yang Maha Agung
dilaksanakan olehnya demi atas nama Yang Maha Memberi. Ia itu
harus memperlihatkan ke-Muslim-annya
tidak saja secara akidah tetapi juga dalam amal
perbuatan.
Dengan kata lain, seorang yang mengaku
sebagai Muslim harus membuktikan
bahwa tangan dan kaki, hati dan fikiran, penalaran dan pemahaman, kemarahan dan
kasih, kelembutan dan pengetahuan,
semua kemampuan jasmani dan ruhani, kehormatan dan harta
bendanya, kesenangan dan kesukaan serta apa pun yang berkaitan dengan dirinya
dari puncak kepala sampai ke alas kakinya, berikut dengan segala motivasi dirinya, segala ketakutan, segala nafsu, telah dibaktikan kepada Allah Yang Maha Perkasa sebagaimana anggota tubuhnya sendiri berbakti
kepada dirinya.
Harus dibuktikan bahwa ketulusannya
telah mencapai suatu tingkatan dimana
apa pun yang menjadi miliknya bukan
lagi haknya tetapi menjadi milik Allah Yang Maha Agung, dan
bahwa semua anggota tubuh serta kemampuan dirinya telah demikian diabdikan kepada pelayanan Allah Swt., seolah-olah semuanya itu menjadi anggota tubuh Ilahi.
Menunaikan Hak-hak Sesama Makhluk Allah Swt.
Renungan atas ayat-ayat tersebut (Al-Baqarah [2]:113) menunjukkan secara
jelas bahwa mengabdikan hidup seseorang
kepada pengkhidmatan Allah Swt. yang merupakan inti pokok
dari agama Islam, mengandung dua
aspek. Pertama, bahwa Allah Yang Maha Kuasa harus menjadi tumpuan kepercayaan dan sasaran yang haqiqi serta yang terkasih, dan bahwa tidak ada satu pun yang disekutukan dalam penyembahan Wujud-Nya, kecintaan kepada-Nya serta harapan kepada-Nya.
Semua firman, batasan, larangan serta ketentuan-Nya
harus diterima dengan kerendahan hati. Semua kebenaran dan pemahaman yang menjadi sarana
untuk menghargai kekuasaan-Nya yang Maha Besar serta untuk meneliti keagungan luas kerajaan dan kekuasaan-Nya -- yang menjadi petunjuk untuk mengenali karunia dan rahmat-Nya
-- juga harus ditegakkan.
Aspek kedua dari pengabdian diri kepada pengkhidmatan
Allah Yang Maha Kuasa adalah dengan mengabdikan
dirinya kepada mengkhidmati makhluk ciptaan-Nya, mengasihi mereka, berbagi beban dan kesedihan mereka. Selayaknya ia bersusah-payah untuk memberikan kesenangan kepada mereka dan mengalami
kesedihan untuk bisa memberikan penghiburan.
Dari sini terlihat bahwa yang namanya realitas (hakikat) Islam
itu adalah sesuatu yang amat luhur,
dimana tidak ada seorang pun bisa
benar-benar mengaku Muslim sampai ia itu menyerahkan seluruh wujud dirinya kepada Allah Swt. berikut dengan segala
kemampuan, nafsu, keinginan, dan sampai ia mulai menapaki jalan itu sambil menarik diri sepenuhnya dari ego
(keakuan) dan sifat-sifat ikutannya.
“Revolusi Ruhani” Diri Sendiri
Seseorang disebut Muslim sejati hanya jika kehidupannya yang semula tidak mengindahkan apa pun, telah
mengalami revolusi total, dan kecenderungan
kepada dosa berikut semua nafsu
ikutannya telah dihapus sama sekali, dimana ia memperoleh kehidupan
baru yang dicirikan oleh tindakannya yang hanya melaksanakan perintah Allah, dan terdiri semata-mata dari kepatuhan
kepada Sang Maha Pencipta serta kasih
kepada makhluk ciptaan-Nya.
Kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta mengandung arti
bahwa untuk memanifestasikan
(mewujudkan) kehormatan-Nya, Keagungan dan Ke-Esa-an-Nya, seseorang harus
siap menghadapi segala bentuk perendahan dan penghinaan,
dan ia harus siap mati beribu kali agar bisa menegakkan Ketauhidan Tuhan.
Tangan yang satu harus siap memotong tangan yang lain dengan senang hati, semata-mata demi ketaatan
kepada-Nya dan kecintaan kepada
keagungan firman-Nya serta haus
mencahari keridhaan-Nya, dimana hal itu menjadikan dosa sebagai suatu yang sangat dibenci seperti api
yang menghanguskan, atau racun yang
mematikan, atau petir yang
menghancurkan, sehingga seseorang harus
melarikan diri menjauhi dosa
dengan sekuat tenaganya.
Demi memperoleh keridhaan-Nya, kita harus membawahkan semua nafsu ego kita. Untuk menciptakan hubungan dengan
Wujud-Nya, kita harus siap memasuki
semua bentuk mara bahaya
dan untuk membuktikan hubungan demikian selayaknya kita memutuskan hubungan
dengan yang lainnya.
Berkhidmat kepada sesama makhluk mengandung arti bahwa kita harus berupaya demi kemaslahatan
mereka dalam segala kebutuhan mereka semata-mata karena
Allah, dimana hubungan saling
ketergantungan satu sama lain semata-mata didasarkan pada simpati tanpa pamrih.
Siapa pun yang membutuhkan pertolongan
harus dibantu dengan segala kemampuan pemberian Tuhan yang
dimilikinya dan harus berupaya untuk
perbaikannya baik di dunia mau pun di akhirat.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
59-62, London, 1984).
Berbagai Berkat Agama Islam
Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan berbagai keberkatan dari Allah Swt. yang dapat diraih dari pengamalan ajaran Islam (Al-Quran):
“Sekarang
aku akan memperjelas apa yang dimaksud dengan buah dari Islam.
Ketika seorang pencari kebenaran Tuhan memutuskan untuk menerima Islam, dan seluruh pancainderanya
mulai menapaki jalan Allah Yang Maha Kuasa tanpa ada kepura-puraan, maka hasil
dari upayanya itu akan berbentuk bimbingan
Ilahi dalam manifestasi
(kenyataan) yang lebih tinggi lagi, bebas dari segala hambatan, langsung menuju
kepada Wujud-Nya.
Berbagai macam berkat akan turun atas dirinya,
dan semua akidah serta perintah yang tadinya diterima
hanya karena mendengar atau diyakini, sekarang dialami
sebagai suatu realitas (kenyataan) dan kepastian melalui media ru’ya, kasyaf dan wahyu. Rahasia-rahasia keimanan
dan syariah dibukakan kepadanya dan ia diberikan kesempatan untuk melihat kerajaan Ilahi,
dan dengan demikian ia mencapai tingkat keyakinan dan pemahaman
keimanan yang sempurna.
Karunia berkat akan memberi tanda pada lidah, perkataan, tindakan dan semua gerakannya. Ia akan dikaruniai
keberanian dan keteguhan
yang luar biasa, dan kemampuan pemahamannya akan
berkembang ke tingkat yang amat tinggi.
Ia akan terbebas dari berbagai hambatan
manusiawi seperti kekejian, kekikiran, kecenderungan untuk
tersandung terantuk-antuk, kecupetan pandangan, godaan hawa nafsu, akhlak yang
rendah serta semua kegelapan dalam egonya, dan ia akan diisi dengan Nur
dari Sifat-sifat Ilahi.
Dengan demikian ia akan
menjalani perubahan total dan seolah-olah mengenakan pakaian
dari suatu kelahiran baru. Ia selanjutnya mendengar melalui Allah Yang Maha Kuasa, melihat
melalui Dia, bergerak
bersama-Nya, berhenti karena Dia, kemarahan dirinya menjadi kemurkaan Allah dan kasih-sayang
dirinya menjadi kasih dari Dia Yang Maha Perkasa.
Bukti “Kebersamaan” dengan Tuhan
Ketika ia sampai pada taraf
demikian maka doa-doanya telah didengar
sebagai tanda bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata
sebagai suatu cobaan (ujian). Ia akan menjadi bukti eksistensi
(keberadaan) Allah di muka bumi dan
menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya
dan berkat (keberkatan) dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan
kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari
segala keraguan yang akan langsung
turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi.
Nur tersebut membawa rasa
kesenangan yang efektif
(berpengaruh) dan memberikan kepuasan,
keselesaan (ketentraman) dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi
dengan Tuhan seperti ini dibanding
dengan wahyu adalah bahwa wahyu
merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba
Allah yang terpilih.
Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Ruhulqudus, dan segala niat
mereka merupakan hembusan nafas Ruhul
qudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan
dari ayat:
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan
oleh Allah (An-Najm [53]:4-5).
Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi (pernyataan) khusus
dari Allah Yang Maha Agung yang
disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya
adalah memberikan kesan dari terkabulnya
doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan sesuatu yang baru atau rahasia,
atau menyangkut suatu kejadian di
masa depan, atau menyampaikan keridhaan
atau teguran Ilahi mengenai apa pun,
atau juga untuk memberikan kepastian
dan pemahaman mengenai suatu hal.
Semua itu merupakan firman Ilahi
yang dimanifestasikan (nyatakan)
dalam bentuk percakapan dalam rangka menciptakan
pemahaman dan kepuasan.
Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara
yang datang dari Allah dan diterima
dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi (kenyataan) dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi (pantulan) atau perasaan
dirinya sendiri.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
226-233, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 12
November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar