Sabtu, 14 November 2015

Sikap Lugu "Orang-orang Arab Gurun" Mengenai Perbedaan Muslim dan Mukmin & Pentingnya Melakukan "Revolusi Ruhani" Diri Sendiri Melalui Pengamalan Ajaran Islam (Al-Quran)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 10

  Sikap Lugu “Orang-orang Arab Gurun” Mengenai Perbedaan Muslim  dengan Mukmin   & Pentingnya Melakukan Revolusi Ruhani  Diri Sendiri Melalui Pengamalan Ajaran Islam (Al-Quran)

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan sabda   a.s. Masih Mau’ud a.s.  mengenai makna Islam dan Muslim:
Realitas (hakikat)   Islam adalah seperti menyerahkan leher kita kepada Allah  Swt.  sebagaimana seekor domba kurban, meninggalkan semua keinginan diri sendiri dan mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan keridhaan Allah, melenyapkan diri di dalam Tuhan dan seolah memfanakan dirinya sendiri menjadi diwarnai dengan kasih Allah serta taat penuh kepada-Nya semata-mata karena mengharapkan Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara semata-mata berdasar perintah-Nya.
   Ini adalah tingkatan dimana semua kegiatan pencarian telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pencari itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur-Nya yang bercahaya.

“Berkomunikasi” dengan Allah Swt.

   Ia akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah Swt.  dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya sebagaimana firman Allah:
وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿۱
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qāf [50]:17).
   Melalui cara demikian  Allah mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia. Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya diliputi  jubah Nur-Nya
    Dengan cara demikian itulah tujuan dari agama tercapai, dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan   Allah dan surga, tidak semata-mata sebagai janji yang akan dipenuhi di akhirat, melainkan dalam kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh karunia pemandangan, komunikasi dan surga itu sendiri. Sebagaimana dinyatakan Allah  Swt.  bahwa:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb (Tuhan) kami adalah Allah” kemudian mereka bersikap teguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah dijanjikan kepadamu(Ha Mim As-Sajdah [41]:31).
   Hal ini berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa, Yang memiliki semua sifat sempurna, Yang tidak mempunyai sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat-Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu   bersikap teguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun ancaman kematian bisa menggoyang keimanan mereka.
     Allah Swt. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan dimana mereka bisa bergembira di dalamnya.
   Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi (orang-orang bertakwa) terdahulu, dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah diterima para pendahulunya itu.”  (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 160-161, London, 1984).

Perbedaan Muslim dengan Mukmin

    Sehubungan dengan  sebutan Muslim  bagi orang yang  memeluk agama Islam, Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang Arab gurun yang merasa telah  berjasa kepada Nabi Besar Muhammad saw. dengan ke-Islam-an mereka, firman-Nya:
 قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾  یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿ ﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪ ﴾
Orang-orang Arab gurun berkata:  اٰمَنَّا -- “Kami telah beriman.”  قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  “Kami telah berserah diri”, وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --   Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amal kamu,  اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ    --      Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا -- kemudian tidak ragu-ragu  وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ -- dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.  اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ  -- Mereka itulah orang-orang yang benar.  قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ  -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan (memberitahukan) kepada Allah tentang agama kamu? وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  -- Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”    یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   --    Mereka mengira telah mem-beri anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu,  بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman   jika kamu orang-orang yang benar.”  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ       -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.  (Al-Hujurat [49]:15-19).
  Sekalian orang Muslim merupakan bagian tidak terpisahkan dari persaudaraan dalam Islam. Islam memberikan hak sama kepada putra-putra padang pasir buta huruf dan biadab, seperti halnya kepada penduduk kota kecil maupun kota besar yang beradab dan berbudaya; hanya  saja oleh Islam dianjurkan kepada mereka yang disebut pertama (orang Arab gurun) – yakni orang-orang Islam (Muslim) awam  --  agar mereka berusaha lebih keras untuk belajar dan meresapkan ke dalam dirinya ajaran Islam dan membuat ajaran-ajaran itu menjadi pedoman hidup mereka.

Muslim Dalam Bentuk   Amal Nyata  

  Mereka jangan merasa bangga dan merasa telah berjasa kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw.  – serta merasa  telah mendapat najat (keselamatan) dan falah (kesuksesan) -- karena telah menjadi Muslim, sebab  “perjalanan” mereka di “jalan Allah” masih sangat jauh (QS.29:70; QS.84:7; QS. 89:28-31; QS.107:108), firman-Nya: یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   --    Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu,  بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman   jika kamu orang-orang yang benar.”  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.  (Al-Hujurat [49]:18-19).
 Sehubungan dengan  hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya ke-Muslim-an dalam bentuk  amal (perbuatan) nyata:
  “Seseorang dikatakan Muslim jika seluruh wujudnya beserta seluruh kemampuannya -- baik jasmani maupun ruhani -- diabdikan seluruhnya kepada Allah Yang Maha Agung, dan amanah yang ditugaskan oleh Yang Maha Agung dilaksanakan olehnya demi atas nama Yang Maha Memberi. Ia itu harus memperlihatkan ke-Muslim-annya tidak saja secara akidah tetapi juga dalam amal perbuatan.    
    Dengan kata lain, seorang yang mengaku sebagai Muslim harus membuktikan bahwa tangan dan kaki, hati dan fikiran, penalaran dan pemahaman, kemarahan dan kasih, kelembutan dan pengetahuan, semua kemampuan jasmani dan ruhani, kehormatan dan harta bendanya, kesenangan dan kesukaan serta apa pun yang berkaitan dengan dirinya dari puncak kepala sampai ke alas kakinya, berikut dengan segala motivasi dirinya, segala ketakutan, segala nafsu, telah dibaktikan kepada Allah Yang Maha Perkasa sebagaimana anggota tubuhnya sendiri berbakti kepada dirinya.
   Harus dibuktikan bahwa ketulusannya telah mencapai suatu tingkatan dimana apa pun yang menjadi miliknya bukan lagi haknya tetapi menjadi milik Allah Yang Maha Agung, dan bahwa semua anggota tubuh serta kemampuan dirinya telah demikian diabdikan kepada pelayanan Allah Swt.,  seolah-olah semuanya itu menjadi anggota tubuh Ilahi.

Menunaikan Hak-hak Sesama  Makhluk  Allah Swt.

   Renungan atas ayat-ayat tersebut (Al-Baqarah [2]:113) menunjukkan secara jelas bahwa mengabdikan hidup seseorang kepada pengkhidmatan Allah Swt.  yang merupakan inti pokok dari  agama Islam, mengandung dua aspek. Pertama, bahwa Allah Yang Maha Kuasa harus menjadi tumpuan kepercayaan dan sasaran yang haqiqi serta yang terkasih, dan bahwa tidak ada satu pun yang disekutukan dalam penyembahan Wujud-Nya, kecintaan kepada-Nya serta harapan kepada-Nya.
     Semua firman, batasan, larangan serta ketentuan-Nya harus diterima dengan kerendahan hati. Semua kebenaran dan pemahaman yang menjadi sarana untuk menghargai kekuasaan-Nya yang Maha Besar serta untuk meneliti keagungan luas kerajaan dan kekuasaan-Nya -- yang menjadi petunjuk untuk mengenali karunia dan rahmat-Nya -- juga harus ditegakkan.
      Aspek kedua dari pengabdian diri kepada pengkhidmatan Allah Yang Maha Kuasa adalah dengan mengabdikan dirinya kepada mengkhidmati makhluk ciptaan-Nya, mengasihi mereka, berbagi beban dan kesedihan mereka. Selayaknya ia bersusah-payah untuk memberikan kesenangan kepada mereka dan mengalami kesedihan untuk bisa memberikan penghiburan.
   Dari sini terlihat bahwa yang namanya realitas (hakikat) Islam itu adalah sesuatu yang amat luhur, dimana tidak ada seorang pun bisa benar-benar mengaku Muslim sampai ia itu menyerahkan seluruh wujud dirinya kepada Allah Swt. berikut dengan segala kemampuan, nafsu, keinginan, dan sampai ia mulai menapaki jalan itu sambil menarik diri sepenuhnya dari ego (keakuan) dan sifat-sifat ikutannya.

“Revolusi Ruhani” Diri Sendiri

     Seseorang disebut Muslim sejati hanya jika kehidupannya yang semula tidak mengindahkan apa pun, telah mengalami revolusi total, dan kecenderungan kepada dosa berikut semua nafsu ikutannya telah dihapus  sama sekali, dimana ia memperoleh kehidupan baru yang dicirikan oleh tindakannya yang hanya melaksanakan perintah Allah, dan terdiri semata-mata dari kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta serta kasih kepada makhluk ciptaan-Nya.
  Kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta mengandung arti bahwa untuk memanifestasikan (mewujudkan) kehormatan-Nya, Keagungan dan Ke-Esa-an-Nya, seseorang harus siap menghadapi segala bentuk perendahan dan penghinaan, dan ia harus siap mati beribu kali agar bisa menegakkan Ketauhidan Tuhan.
    Tangan yang satu harus siap memotong tangan yang lain dengan senang hati, semata-mata demi ketaatan kepada-Nya dan kecintaan kepada keagungan firman-Nya serta haus mencahari keridhaan-Nya, dimana hal itu menjadikan dosa sebagai suatu yang sangat dibenci seperti api yang menghanguskan, atau racun yang mematikan, atau petir yang menghancurkan, sehingga seseorang harus melarikan diri menjauhi dosa dengan sekuat tenaganya.   
     Demi memperoleh keridhaan-Nya, kita harus membawahkan semua nafsu ego kita. Untuk menciptakan hubungan dengan Wujud-Nya, kita harus siap memasuki semua bentuk mara bahaya dan untuk membuktikan hubungan demikian  selayaknya kita memutuskan hubungan dengan yang lainnya.
   Berkhidmat kepada sesama makhluk mengandung arti bahwa kita harus berupaya demi kemaslahatan mereka dalam segala kebutuhan mereka semata-mata karena Allah, dimana hubungan saling ketergantungan satu sama lain semata-mata didasarkan pada simpati tanpa pamrih. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus dibantu dengan segala kemampuan pemberian Tuhan yang dimilikinya dan harus berupaya untuk perbaikannya baik di dunia mau pun di akhirat.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 59-62, London, 1984).

Berbagai Berkat  Agama Islam

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.   menjelaskan berbagai keberkatan dari Allah Swt. yang dapat diraih dari pengamalan ajaran Islam (Al-Quran):    
       “Sekarang aku akan memperjelas apa yang dimaksud dengan buah dari Islam. Ketika seorang pencari kebenaran Tuhan memutuskan untuk menerima Islam, dan seluruh pancainderanya mulai menapaki jalan Allah Yang Maha  Kuasa tanpa ada kepura-puraan, maka hasil dari upayanya itu akan berbentuk bimbingan Ilahi dalam manifestasi (kenyataan) yang lebih tinggi lagi, bebas dari segala hambatan, langsung menuju kepada Wujud-Nya.
   Berbagai macam berkat akan turun atas dirinya, dan semua akidah serta perintah yang tadinya diterima hanya karena mendengar atau diyakini, sekarang dialami sebagai suatu realitas (kenyataan) dan kepastian melalui media ru’ya, kasyaf dan wahyu. Rahasia-rahasia keimanan dan syariah dibukakan kepadanya dan ia diberikan kesempatan untuk melihat kerajaan Ilahi, dan dengan demikian ia mencapai tingkat keyakinan dan pemahaman keimanan yang sempurna.
   Karunia berkat akan memberi tanda pada lidah, perkataan, tindakan dan semua gerakannya. Ia akan dikaruniai keberanian dan keteguhan yang luar biasa, dan kemampuan pemahamannya akan berkembang ke tingkat yang amat tinggi. Ia akan terbebas dari berbagai hambatan manusiawi seperti kekejian, kekikiran, kecenderungan untuk tersandung terantuk-antuk, kecupetan pandangan, godaan hawa nafsu, akhlak yang rendah serta semua kegelapan dalam egonya, dan ia akan diisi dengan Nur dari Sifat-sifat Ilahi.
  Dengan demikian ia akan menjalani perubahan total dan seolah-olah mengenakan pakaian dari suatu kelahiran baru. Ia selanjutnya mendengar melalui Allah Yang Maha Kuasa, melihat melalui Dia, bergerak bersama-Nya, berhenti karena Dia, kemarahan dirinya menjadi kemurkaan Allah dan kasih-sayang dirinya menjadi kasih dari Dia Yang Maha Perkasa.

Bukti “Kebersamaan” dengan Tuhan

     Ketika ia sampai pada taraf demikian maka doa-doanya telah didengar sebagai  tanda bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata sebagai suatu cobaan (ujian). Ia akan menjadi bukti eksistensi (keberadaan) Allah di muka bumi dan menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya dan berkat (keberkatan) dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari segala keraguan yang akan langsung turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi.
  Nur tersebut membawa rasa kesenangan yang efektif (berpengaruh) dan memberikan kepuasan, keselesaan (ketentraman) dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi dengan Tuhan seperti ini dibanding dengan wahyu adalah bahwa  wahyu merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba Allah yang terpilih. Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Ruhulqudus, dan segala niat mereka merupakan hembusan nafas Ruhul qudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan dari ayat:
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾
Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan oleh Allah  (An-Najm [53]:4-5).
     Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi (pernyataan) khusus dari Allah Yang Maha Agung yang disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya adalah memberikan kesan dari terkabulnya doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan sesuatu yang baru atau rahasia, atau menyangkut suatu kejadian di masa depan, atau menyampaikan keridhaan atau teguran Ilahi mengenai apa pun, atau juga untuk memberikan kepastian dan pemahaman mengenai suatu hal.
     Semua itu merupakan firman Ilahi yang dimanifestasikan (nyatakan) dalam bentuk percakapan dalam rangka menciptakan pemahaman dan kepuasan. Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara yang datang dari Allah dan diterima dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi  (kenyataan) dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi (pantulan) atau perasaan dirinya sendiri.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 226-233, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar