Senin, 16 November 2015

Kemunculan Para Wali Allah dan Mujaddid di Kalangan Umat Islam & Nasib Malang Orang-orang yang Mengada-adakan Kedustaan Atas nama Allah Swt. dan Para Penentang Rasul Allah yang Dijanjikan Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

  
 ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 12

Kemunculan Para Wali Allah dan Mujaddid  di Kalangan Umat Islam & Nasib Malang  Orang-orang yang Mengada-adakan Kedustaan Atas Nama Allah Swt. dan Para   Penentang  Rasul Allah   yang Dijanjikan Allah Swt.

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai tuduhan dusta orang-orang yang “buta mata ruhaninya”   terhadap kesempurnaan Al-Quran, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Sifat-sifat agama Islam sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di masa lalu saja seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam kuno. Islam bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa di masa depan.
      Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya, yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surga, dan ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi (keberadaan) dan kekuasaan Tuhan  Yang kepada-Nya  ia beriman.
     Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini, karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri, mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat. Setiap abad dimulai dengan dunia yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam --  yang adalah Tuhan yang sebenarnya --  memanifestasikan (menampakkan)  tanda-tanda baru bagi setiap dunia yang baru.
   Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat jauh melenceng dari agama, integritas (ketulusan hati/kejujuran),  dan yang terselubung kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang nabi substitusi (nabi pengganti/nabi bayangan), yang dalam cerminan dari  sifatnya akan diperlihatkan sebagai seorang nabi. Sosok demikian itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalahkan lawan melalui kebenaran, penampakan dari  realitas  (kenyataan/hakikat) serta penggagalan kepalsuan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 245-247, London, 1984).

Terbukanya  Nikmat “Berkomunikasi” dengan Allah Swt.

  Lebih lanjut Masih Mau’ud as.  bersabda mengenai terbukanya  nikmatberwawancakap”  atau berkomunikasi antara  para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. sebagaimana diisyaratkan dalam QS.42:52-54:
    “Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang yang bertakwa akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddats,  yang kepadanya Allah Swt. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam bahwa melaluinya akan muncul  orang-orang bertakwa yang kepada mereka Allah  Swt.  akan berbicara sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula kamu  sedih  (Ha Mim - As-Sajdah [41]:31).
    Ini menjadi sarana pengujian dari suatu agama yang benar, hidup dan bisa diterima. Kita tahu bahwa Nur ini hanya bisa ditemukan di dalam Islam, sedangkan agama Kristen tidak ada memiliki Nur demikian.”  (Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 6, hlm. 43, London, 1984).
Firman-Nya:

وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا  -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu,  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ --  Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  yaitu  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.  اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syurā[42]:52-54).
      Ayat  وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ -- “Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana,”  menyebut tiga cara Allah Swt.   berbicara kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
        (a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.
     (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
  (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
     Dalam  ayat وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا  --  “tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur”  Al-Quran disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya, bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru.
     Jadi,  Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57)   serta untuk memperagakan Sifat-sifat-Nya di dunia ini sebagaimana yang diperagakan oleh para Rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22; QS.4:70-71).
     Makna ayat  اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali,  bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di tangan Allah Swt. untuk mendapat keputusan.

Kemunculan Para Wali Allah dan Mujaddid  di Setiap Abad   

    Sebagai bukti bahwa agama Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw. bukan merupakan agama dan Nabi Allah yang telah mati sebagaimana para pendahulunya  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   "Kami bisa memberikan bukti yang konklusif (memutuskan/memberi keputusan) kepada setiap pencari kebenaran bahwa sejak masa Penghulu dan Junjungan kita Rasulullah saw. sampai dengan hari ini, pada setiap abad telah muncul hamba-hamba Allah yang melalui mereka Allah Swt. telah membimbing umat manusia melalui penampakan tanda-tanda samawi.
    Di antaranya adalah Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani, Abul Hassan Kharqani, Abu Yazid Bistami, Junaid Baghdadi, Mahyuddin Ibn ‘Arabi, Dzunun Misri, Mu’inuddin Chisti Ajmeri, Qutbuddin Bakhtiar Khaki, Fariduddin Pakpattani, Nizamuddin Dehlavi, Shah Waliullah Dehlavi dan Sheikh Ahmad Sirhindi, semoga Allah berkenan atas mereka semua.
    Jumlah mereka beribu-ribu orang dan demikian banyak kejadian-kejadian luar biasa berkaitan dengan mereka yang diuraikan dalam kitab-kitab para cendekiawan,  dimana lawan yang paling fanatik pun akan mengakui bahwa mereka itu telah memperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat luar biasa.
    Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa dari hasil telaah yang aku lakukan sepanjang yang mungkin dilakukan mengenai masa lalu, aku telah sampai pada kesimpulan bahwa jumlah dari tanda-tanda samawi yang mendukung Islam dan sebagai kesaksian atas kebenaran Yang Mulia Rasulullah saw. yang dimanifestasikan melalui para wali umat ini  tidak bisa dipadankan dengan sejarah dari agama lain mana pun. Islam adalah satu-satunya agama yang berkembang melalui tanda-tanda samawi dan Nur serta berkat yang tidak mungkin dihitung, yang memperlihatkan eksistensi  (keberadaan) Allah Swt. seolah-olah Dia itu dekat sekali.
   Yakinlah kalian bahwa dalam bilangan tanda-tanda samawi, Islam selalu unggul di tiap masa. Dalam masa kalian kini, kalau mau,  kalian juga bisa menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam. Bisakah kalian secara jujur mengatakan bahwa kalian tidak ada menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam dalam masa kalian? Adakah agama lain di dunia yang mampu memberikan kesaksian seperti itu?
     Hal ini merupakan masalah berat yang telah mematahkan tulung punggung para missionaris Kristen. Ia (sosok) yang mereka tegakkan sebagai tuhan tidak didukung oleh apa pun kecuali dongeng-dongeng kosong dan kisah-kisah palsu.       Tanda kebenaran   Hadhrat Rasulullah saw. yang mereka tolak, jelas terlihat di masa kini seperti curahan hujan yang lebat.
    Bagi para pencari kebenaran, semua pintu gerbang tanda-tanda samawi tetap terbuka sekarang sebagaimana juga selalu terbuka di masa lalu, dan bagi mereka yang lapar akan kebenaran maka hidangan berberkat selalu tersedia di masa kini sebagaimana di masa lalu juga tersedia.    
     Sebuah agama yang hidup tersedia di masa kini sebagaimana adanya di masa sebelumnya. Sebuah agama yang benar selalu memiliki Tangan Tuhan Yang Maha Hidup menopang dan menggamit punggungnya dan agama itu adalah Islam.”  (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 91-92, London, 1984).

Tidak Semua Agama Terdahulu Bersumber    Kebohongan

   Kemudian mengenai kritikan  lainnya terhadap kesempurnaan Al-Quran Masih Mau’ud a.s.   bersabda:
     “Jika ada yang mempertanyakan bahwa [di dunia ini] terdapat ratusan agama palsu yang telah berkembang selama beribu tahun, meskipun mungkin saja bersumber pada kebohongan. Jawabannya adalah sebagai berikut. Menurut kami, yang dimaksud kebohongan adalah jika seseorang secara sengaja menyusun kata-kata atau menciptakan sebuah kitab, yang diakuinya  sebagai diwahyukan kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, padahal tidak ada apa pun yang diturunkan kepadanya.
   Kami bisa memastikan berdasar telaah menyeluruh bahwa kebohongan demikian tidak akan mungkin berkembang di masa apa pun. Kitab Allah menyatakan bahwa mereka yang bersalah melakukan kebohongan terhadap Allah Yang Maha Kuasa, akan segera dihancurkan. Kami  telah menyatakan bahwa kesaksian yang sama itu dinyatakan juga oleh Taurat, Injil dan Al-Quran.
    Agama-agama palsu yang kita lihat di dunia sekarang ini seperti agama Hindu atau Parsi, bukan merupakan karangan dari nabi-nabi palsu. Sebenarnya adalah para pengikut mereka itulah yang atas dasar kesalahannya sendiri telah terperosok menerima akidah-akidah yang sekarang ini. Kalian tidak boleh  menyatakan sebuah kitab yang mengaku sebagai kitab samawi yang diagungkan sekelompok orang sebagai palsu, meskipun mungkin saja diragukan palsu.
   Kemungkinan yang terjadi adalah telah disalah-artikannya sebuah kitab samawi. Sebuah pemerintahan politis akan segera menangkap seseorang yang mengaku-aku sebagai pejabat negara. Lalu bagaimana mungkin Allah Yang bersifat cemburu terhadap Sifat Keagungan dan Kerajaan-Nya, tidak akan menindak seorang pengaku (pendakwa) yang palsu?” (Anjam Atham, Qadian, Ziaul Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 11, hlm. 63-64, London, 1984, catatan kaki).

Nasib Tragis Para Pendusta

      Sesuai dengan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s.  tersebut Allah Swt. berfirman mengenai  nasib tragis yang pasti menimpa para pendakwa palsu atau yang mengada-adakan kedustaan, -- baik mengenai kenabian mau pun mengenai wahyu Ilahi   -- atau orang-orang yang mendustakan dan menentang para rasul Allah, firman-Nya:
وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  وَ لَمۡ  یُوۡحَ  اِلَیۡہِ شَیۡءٌ وَّ  مَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ  ﴿﴾
Dan  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepadaku” padahal tidak pernah ada sesuatu diwahyukan kepadanya,  dan juga barangsiapa yang berkata: “Segera aku akan menurunkan seperti yang telah diturunkan Allah.” Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu  berada dalam penderitaan sakaratul-maut, dan malaikat-malaikat merentangkan tangan mereka sambil berkata: “Keluarkanlah nyawa kamu Hari ini kamu  dibalas dengan azab yang menghinakan disebabkan apa yang senantiasa kamu katakan terhadap Allah tidak benar dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya.” (Al-An’ām [6]:94).
 Siksaan yang dikemukakan dalam ayat  وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ -- “Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu  berada dalam penderitaan sakaratul-maut, dan malaikat-malaikat merentangkan tangan mereka sambil berkata: “Keluarkanlah nyawa kamu Hari ini kamu  dibalas dengan azab yang menghinakan disebabkan apa yang senantiasa kamu katakan terhadap Allah tidak benar dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya,“ siksaan sakaratul maut tersebut  tidak boleh disamakan dengan sakratulmaut (penderitaan menjelang maut) yang dialami di bawah hukum-alam biasa  -- baik oleh orang-orang bertakwa  maupun yang tidak-bertakwa  -- melainkan adalah hukuman khas yang mencengkeram para pengingkar nabi-nab  semenjak saat kematian mereka.

Sunnatullah Mengenai Para Pendusta dan Penentang Kebenaran Para Rasul Allah

 Allah Swt. berfirman  mengenai nasib tragis para pendusta dan penentang para Rasul Allah yang kedatangannya  dijanjikan kepada mereka:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata:   ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri me-reka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir  (Al-A’rāf [7]:38).
  Kata-kata قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ  --  “Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri me-reka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir“  berarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah, sebagai realisasi  pernyataan Allah Swt. berikut ini firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿ ﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.   Allsh telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22),
 Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan, firman-Nya lagi:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah,  dan  jika sekali pun  makar mereka dapat memindahkan gunung-gunung. Maka janganlah engkau  menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 14 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar