بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 12
Kemunculan Para Wali Allah
dan Mujaddid di Kalangan Umat Islam &
Nasib Malang Orang-orang yang Mengada-adakan Kedustaan Atas Nama Allah Swt. dan Para Penentang Rasul Allah yang Dijanjikan Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab-bab sebelumnya telah dikemukakan
sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai tuduhan
dusta orang-orang yang “buta mata
ruhaninya” terhadap kesempurnaan Al-Quran, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sifat-sifat
agama Islam sebagaimana telah kami
kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan
dengan hal-hal di masa lalu saja
seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam
kuno. Islam bukanlah agama
yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya
telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa
di masa depan.
Sifat utama dari Islam adalah berkat
yang selalu mengikutinya, yang tidak
hanya terpaku di masa lalu tetapi
juga memberikan berkat di masa kini.
Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surga, dan
ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi (keberadaan) dan kekuasaan
Tuhan Yang kepada-Nya ia beriman.
Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini,
karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri,
mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian
masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat.
Setiap abad dimulai dengan dunia
yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam -- yang adalah Tuhan yang sebenarnya
-- memanifestasikan
(menampakkan) tanda-tanda baru
bagi setiap dunia yang baru.
Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat
jauh melenceng dari agama, integritas (ketulusan hati/kejujuran), dan yang terselubung
kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang
nabi substitusi (nabi
pengganti/nabi bayangan), yang dalam cerminan dari sifatnya akan diperlihatkan
sebagai seorang nabi. Sosok demikian
itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana
ia menjadi pengikutnya, dan mengalahkan
lawan melalui kebenaran, penampakan dari realitas (kenyataan/hakikat) serta penggagalan kepalsuan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
245-247, London, 1984).
Terbukanya Nikmat “Berkomunikasi” dengan Allah Swt.
Lebih lanjut Masih Mau’ud as. bersabda
mengenai terbukanya nikmat “berwawancakap” atau berkomunikasi antara para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.
sebagaimana diisyaratkan dalam QS.42:52-54:
“Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang
yang bertakwa akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddats,
yang kepadanya Allah Swt. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam
bahwa melaluinya akan muncul orang-orang
bertakwa yang kepada mereka Allah Swt.
akan berbicara sebagaimana
diungkapkan dalam Al-Quran:
تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula kamu sedih” (Ha Mim - As-Sajdah [41]:31).
Ini
menjadi sarana pengujian dari suatu agama yang benar, hidup dan bisa diterima.
Kita tahu bahwa Nur ini hanya bisa ditemukan
di dalam Islam,
sedangkan agama Kristen tidak ada
memiliki Nur demikian.” (Hujjatul Islam, Amritsar,
Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 6, hlm. 43, London, 1984).
Firman-Nya:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan
sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa
Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari
belakang tabir atau dengan mengirimkan
seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada
engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ
مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ
جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- Engkau
sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki
dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke
jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- yaitu
Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan
apa yang ada di bumi. اَلَاۤ
اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ
الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah,
kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syurā[42]:52-54).
Ayat
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ -- “Dan
sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa
Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari
belakang tabir atau dengan mengirimkan
seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana,” menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a)
Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara.
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat
ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu
mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti
kata-kata "dari belakang tabir,"
(c) Allah
Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat
yang menyampaikan Amanat Ilahi.
Dalam
ayat وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا -- “tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur” Al-Quran disebut di sini ruh (nafas
hidup — Lexicon Lane), sebab
dengan perantaraannya, bangsa yang
telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan
baru.
Jadi, Islam
adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa
manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57) serta untuk memperagakan Sifat-sifat-Nya di dunia ini sebagaimana
yang diperagakan oleh para Rasul Allah,
terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22; QS.4:70-71).
Makna ayat اَلَاۤ
اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ
الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah,
kepada Allah segala perkara kembali,” bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di tangan Allah Swt. untuk mendapat keputusan.
Kemunculan Para Wali Allah dan Mujaddid di Setiap Abad
Sebagai bukti bahwa agama Islam
(Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw. bukan merupakan agama dan Nabi Allah yang
telah mati sebagaimana para pendahulunya Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
"Kami bisa memberikan bukti
yang konklusif (memutuskan/memberi
keputusan) kepada setiap pencari
kebenaran bahwa sejak masa Penghulu
dan Junjungan kita Rasulullah saw. sampai dengan hari ini, pada setiap abad telah muncul hamba-hamba
Allah yang melalui mereka Allah Swt.
telah membimbing umat manusia
melalui penampakan tanda-tanda samawi.
Di antaranya adalah Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani, Abul Hassan Kharqani, Abu Yazid Bistami, Junaid Baghdadi, Mahyuddin
Ibn ‘Arabi, Dzunun Misri, Mu’inuddin Chisti Ajmeri, Qutbuddin Bakhtiar Khaki, Fariduddin Pakpattani, Nizamuddin Dehlavi, Shah Waliullah Dehlavi dan Sheikh Ahmad Sirhindi, semoga Allah
berkenan atas mereka semua.
Jumlah mereka beribu-ribu orang dan demikian banyak kejadian-kejadian luar biasa berkaitan
dengan mereka yang diuraikan dalam kitab-kitab para cendekiawan, dimana lawan
yang paling fanatik pun akan
mengakui bahwa mereka itu telah memperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat
luar biasa.
Aku berkata dengan sesungguhnya
bahwa dari hasil telaah yang aku
lakukan sepanjang yang mungkin dilakukan mengenai masa lalu, aku telah sampai pada kesimpulan bahwa jumlah dari tanda-tanda samawi yang mendukung Islam dan sebagai kesaksian atas kebenaran
Yang Mulia Rasulullah saw. yang dimanifestasikan melalui para wali umat ini tidak bisa dipadankan dengan sejarah
dari agama lain mana pun. Islam adalah satu-satunya agama yang berkembang
melalui tanda-tanda samawi dan Nur serta berkat yang tidak
mungkin dihitung, yang memperlihatkan eksistensi (keberadaan) Allah Swt. seolah-olah Dia
itu dekat sekali.
Yakinlah kalian bahwa dalam bilangan tanda-tanda samawi,
Islam selalu unggul di tiap masa.
Dalam masa kalian kini, kalau
mau, kalian juga bisa menyaksikan tanda-tanda yang mendukung
Islam. Bisakah kalian secara jujur mengatakan bahwa kalian tidak ada menyaksikan tanda-tanda
yang mendukung Islam dalam masa kalian? Adakah agama lain di dunia yang mampu memberikan kesaksian seperti itu?
Hal ini merupakan masalah berat
yang telah mematahkan tulung punggung
para missionaris Kristen. Ia (sosok) yang mereka tegakkan sebagai tuhan tidak didukung oleh apa pun kecuali dongeng-dongeng
kosong dan kisah-kisah palsu. Tanda
kebenaran Hadhrat
Rasulullah saw. yang mereka tolak,
jelas terlihat di masa kini seperti curahan
hujan yang lebat.
Bagi para pencari kebenaran, semua pintu gerbang tanda-tanda
samawi tetap terbuka
sekarang sebagaimana juga selalu terbuka
di masa lalu, dan bagi mereka yang lapar
akan kebenaran maka hidangan
berberkat selalu tersedia di masa kini sebagaimana di masa lalu juga tersedia.
Sebuah agama yang hidup tersedia di masa
kini sebagaimana adanya di masa sebelumnya.
Sebuah agama yang benar selalu
memiliki Tangan Tuhan Yang Maha Hidup menopang dan menggamit punggungnya dan agama itu adalah Islam.” (Kitabul Bariyah, Qadian,
Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 13, hlm.
91-92, London, 1984).
Tidak Semua Agama
Terdahulu Bersumber Kebohongan
Kemudian mengenai kritikan lainnya terhadap
kesempurnaan Al-Quran Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Jika ada yang mempertanyakan
bahwa [di dunia ini] terdapat ratusan agama palsu yang telah berkembang selama beribu tahun, meskipun mungkin
saja bersumber pada kebohongan.
Jawabannya adalah sebagai berikut. Menurut kami, yang dimaksud kebohongan
adalah jika seseorang secara sengaja
menyusun kata-kata atau menciptakan sebuah kitab, yang diakuinya sebagai diwahyukan kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, padahal tidak ada apa pun yang diturunkan kepadanya.
Kami bisa memastikan berdasar telaah
menyeluruh bahwa kebohongan demikian tidak akan mungkin berkembang di masa
apa pun. Kitab Allah menyatakan
bahwa mereka yang bersalah melakukan
kebohongan
terhadap Allah Yang Maha Kuasa, akan
segera dihancurkan. Kami telah menyatakan bahwa kesaksian yang sama itu dinyatakan juga oleh Taurat, Injil dan Al-Quran.
Agama-agama palsu yang kita
lihat di dunia sekarang ini seperti agama
Hindu atau Parsi, bukan
merupakan karangan dari nabi-nabi palsu. Sebenarnya
adalah para pengikut mereka itulah yang atas dasar kesalahannya sendiri telah terperosok menerima akidah-akidah
yang sekarang ini. Kalian tidak boleh menyatakan sebuah kitab yang mengaku sebagai kitab samawi yang diagungkan sekelompok orang sebagai palsu,
meskipun mungkin saja diragukan palsu.
Kemungkinan yang terjadi
adalah telah disalah-artikannya sebuah kitab samawi.
Sebuah pemerintahan politis akan
segera menangkap seseorang yang mengaku-aku
sebagai pejabat negara. Lalu
bagaimana mungkin Allah Yang bersifat cemburu terhadap Sifat Keagungan
dan Kerajaan-Nya, tidak akan menindak seorang pengaku
(pendakwa) yang palsu?” (Anjam Atham, Qadian, Ziaul
Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 11, hlm. 63-64, London, 1984, catatan
kaki).
Nasib Tragis Para Pendusta
Sesuai dengan dengan
penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut
Allah Swt. berfirman mengenai nasib tragis yang pasti menimpa para pendakwa palsu atau yang mengada-adakan kedustaan, -- baik mengenai kenabian mau pun mengenai wahyu Ilahi
-- atau orang-orang yang mendustakan
dan menentang para rasul Allah, firman-Nya:
وَ مَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ وَ لَمۡ یُوۡحَ
اِلَیۡہِ شَیۡءٌ وَّ مَنۡ قَالَ
سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ
ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ
غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ
اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی
اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepadaku” padahal tidak pernah ada sesuatu diwahyukan
kepadanya, dan juga barangsiapa
yang berkata: “Segera aku akan
menurunkan seperti yang telah diturunkan Allah.” Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu
berada dalam penderitaan
sakaratul-maut, dan malaikat-malaikat
merentangkan tangan mereka sambil berkata: “Keluarkanlah nyawa kamu! Hari ini kamu dibalas dengan azab yang
menghinakan disebabkan apa yang
senantiasa kamu katakan terhadap Allah tidak benar dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya.” (Al-An’ām [6]:94).
Siksaan yang dikemukakan dalam ayat وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا اَیۡدِیۡہِمۡ
ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ
تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ -- “Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu
berada dalam penderitaan
sakaratul-maut, dan malaikat-malaikat
merentangkan tangan mereka sambil berkata: “Keluarkanlah nyawa kamu! Hari ini kamu dibalas dengan azab yang
menghinakan disebabkan apa yang
senantiasa kamu katakan terhadap Allah tidak benar dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya,“ siksaan sakaratul maut tersebut tidak boleh disamakan dengan sakratulmaut (penderitaan menjelang
maut) yang dialami di bawah hukum-alam biasa
-- baik oleh orang-orang bertakwa maupun yang tidak-bertakwa -- melainkan
adalah hukuman khas yang mencengkeram
para pengingkar nabi-nab semenjak saat kematian mereka.
Sunnatullah Mengenai
Para Pendusta dan Penentang Kebenaran Para Rasul Allah
Allah Swt. berfirman mengenai nasib
tragis para pendusta dan penentang para Rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan kepada mereka:
فَمَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ
ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ
تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی
اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka
siapakah yang lebih zalim
daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka
akan memperoleh bagian mereka
sebagaimana telah ditetapkan, hingga
apabila datang kepada mereka utusan-utusan
Kami untuk mencabut nyawanya seraya
berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka
telah lenyap dari kami.” Dan mereka memberi kesaksian terhadap diri
me-reka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir (Al-A’rāf [7]:38).
Kata-kata قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ
قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ
کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- “Di
manakah apa yang biasa kamu seru
selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka
memberi
kesaksian terhadap diri me-reka sendiri bahwa sesungguhnya mereka
adalah orang-orang kafir“ berarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah
akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan
kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah, sebagai realisasi pernyataan Allah Swt. berikut ini
firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی
الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿ ﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. Allsh
telah menetapkan: “Aku dan
rasul-rasul-Ku pasti
akan menang.” Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah
[58]:21-22),
Ada tersurat nyata pada
lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan,
firman-Nya lagi:
وَ قَدۡ
مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ
لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾
Dan sungguh mereka
telah melakukan makar mereka, tetapi makar
mereka ada di sisi Allah, dan jika
sekali pun makar mereka dapat
memindahkan gunung-gunung. Maka janganlah
engkau menyangka bahwa Allah
akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya Allah
Maha Perkasa, Yang memiliki
pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 14 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar