بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 3
Nubuatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Kedatangan “Roh Kebenaran” yang Membawa “Seluruh
Kebenaran” & Nasihat Masih Mau’ud a.s. Tentang Tujuan Utama Beragama
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab 2 telah dikemukakan mengenai makna nasikh-mansukh dalam firman Allah Swt. berikut ini:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿ ﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ ﴿ ﴾
Ayat mana pun yang Kami
mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami
datangkan yang lebih baik darinya atau yang
semisalnya. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidak
tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah
milik-Nya-lah aKerajaan seluruh langit dan bumi, dan tidak ada
bagi kamu pelindung dan penolong selain Allah
(Al-Baqarah [2]:107-109).
Kekeliruan Memahami Nasikh-Mansukh
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari
ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran
telah dimansukhkan (dibatalkan).
Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam
ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran, sebab bertentangan dengan pernyataan Allah Swt. sebelum ini,
firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama
kamu bagimu, telah Kulengkapkan
nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4).
Firman-Nya
lagi:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami-lah
Yang menurunkan peringatan ini, dan
sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.
(Al-Hijr [15]:10).
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya
telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu baru (QS.2:106
& 109-110), yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini
sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Kitab
Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu
menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat
diingatkan kembali akan kebenaran
yang terlupakan, karena itu perlu
sekali menghapuskan bagian-bagian
tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan
kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan
di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama.
Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan
jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah
— Al-Quran membawa syariat baru yang
bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula
kepada seluruh umat manusia dari
semua zaman. Karena itu ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik
dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal, yakni ajaran Islam
(Al-Quran).
Dalam ayat ini kata nansakh
(Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik),
dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā
(yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara
waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang
lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi
sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi
diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260) seluruh Taurat
(lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia
Biblica).
Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Mengenai Kedatangan “Roh Kebenaran” yang Membawa “Seluruh Kebenaran”
Mengisyaratkan kepada belum
dewasanya proses perkembangan jiwa serta intelektual manusia itu pulalah ucapan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini,
serta beliau menubuatkan kedatangan Rasul Allah berikutnya yakni
“Roh Kebenaran” yang akan membawa “seluruh
kebenaran”, yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna berupa agama Islam (Al-Quran- QS.5:4):
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
16:13 Tetapi apabila Ia datang,
yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah
yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes [16:12-13).
Demikian pula dalam Injil Matius Allah Swt. melalui ucapan beliau menubuatkan hal yang sama berkenaan
dengan pengutusan “Ia yang datang dalam nama Tuhan” yaitu Nabi Besar Muhammad saw., yang mengemban wahyu
Al-Quran dimana setiap Surahnya – kecuali At- Taubah --
dimulai dengan ayat بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
-- “Dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang”:
23:37 "Yerusalem,
Yerusalem , engkau
yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang
diutus kepadamu! Berkali-kali
Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu,
sama seperti induk ayam mengumpulkan
anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan
menjadi sunyi. 23:39 Dan
Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang
kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu
berkata: “Diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan!" (Matius
23:37-30).
Kalimat
“Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" identik dengan ayat
pertama seluruh Surah Al-Quran -- kecuali Surah Al-Anfāl -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw. yakni: بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
-- “dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “Roh Kebenaran” adalah Nabi Besar
Muhammad saw. dan makna membawa “seluruh Kebenaran” adalah agama Islam (Al-Quran), karena merupakan
agama terakhir dan tersempurna, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama
kamu bagimu, telah Kulengkapkan
nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4).
Al-Quran Sebagai Kitab
Universal
Sehubungan dengan firman Allah Swt. mengenai
puncak kesempurnaan dari proses
bertahap penyempurnaan hukum-hukum
syariat tersebut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Kitab yang
diwahyukan pada awal penciptaan, secara
logika tidak mungkin merupakan Kitab
yang sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet
bagi anak-anak yang baru mengenal huruf.
Pasti untuk pelajaran yang bersifat
sangat mendasar demikian tidak
diperlukan kemampuan yang luar
biasa.
Ketika pengalaman umat
manusia berkembang dan banyak dari
antara mereka yang kemudian menyimpang,
diperlukan petunjuk yang lebih terinci. Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas dan kalbu manusia menjadi terjerat
dalam berbagai bentuk penyelewengan
intelektual dan pengamalan, pada
saat seperti itu diperlukan ajaran
yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang dibawa Al-Quran.
Di masa
awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk
bermutu tinggi karena batin manusia
waktu itu masih sederhana dan belum
ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur diperlukan dalam Kitab yang diturunkan di
masa penyelewengan yang sangat, guna perbaikan
manusia yang terlanjur telah menganut
akidah-akidah palsu dan dimana perilaku
kejahatan telah menjadi kebiasaan
sehari-hari.” (Chasma Ma’rifat, Qadian,
Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXIII, hlm. 70, London, 1984).
Dalam bagian lain dari buku beliau tersebut, Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa agama-agama
yang bersifat “sementara” dan hanya
untuk kaum-kaum tertentu saja tidak
memerlukan pemeliharaan Allah Swt.:
“Memang benar bahwa manusia
dikaruniai dengan sebuah Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan, namun Kitab
itu bukanlah Veda. Mengatakan bahwa Kitab Veda sekarang ini sebagai wahyu dari Allah Yang Maha Kuasa sama
saja dengan menghina Wujud-Nya Yang Maha
Suci. Kalau ada yang bertanya mengapa hanya satu Kitab saja yang diturunkan bagi manusia di masa awal itu dan mengapa tiap
bangsa tidak diberikan masing-masing satu Kitab tersendiri, maka jawabannya adalah karena pada awalnya jumlah manusia masih sangat sedikit
sehingga bahkan belum bisa dikatakan satu bangsa,
sehingga satu Kitab saja sudah cukup
bagi mereka.
Tetapi ketika umat manusia kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh dunia
dimana penghuni dari suatu daerah menjadi sebuah bangsa tersendiri, lalu karena faktor jarak tidak memungkinkan lagi satu bangsa tetap berhubungan dengan bangsa lain maka kebijakan Ilahi menetapkan bahwa saat itu seharusnya sudah ada Rasul
dan Kitab yang tersendiri bagi
masing-masing bangsa.
Setelah manusia berkembang lebih
lanjut dan kemudian tercipta komunikasi
beserta sarananya di antara bangsa-bangsa maka Allah Yang Maha Agung menetapkan bahwa sewajarnya mereka sekarang menjadi satu bangsa dimana mereka bersama-sama
memperoleh satu Kitab saja sebagai pedoman hidup.
Dalam Kitab tersebut
terkandung perintah bahwa begitu Kitab itu sampai di berbagai belahan bumi, manusia setempat wajib menerima dan mengimaninya. Kitab tersebut bernama Al-Quran yang diwahyukan
guna mencipta perhubungan di antara
berbagai daerah dan bangsa. Kitab-kitab yang diwahyukan sebelum Al-Quran terbatas masing-masing hanya bagi satu bangsa saja.
Kitab Samawi dan para Rasul telah muncul di antara bangsa Syria, Persia, India, Cina, Mesir dan Roma, dimana ajaran
yang dibawanya hanya khusus bagi bangsa dimana mereka diturunkan. Yang terakhir dari semua Kitab itu adalah Al-Quran
yang menjadi Kitab yang bersifat universal
dan tidak terbatas bagi satu bangsa saja melainkan bagi seluruh penduduk bumi. Kitab itu diturunkan dengan tujuan antara lain menyatukan seluruh bangsa
menjadi satu kesatuan.
Sekarang ini sudah ada cara-cara dan
sarana guna mempersatukan bangsa-bangsa tersebut.
Hubungan antar bangsa yang menjadi dasar untuk mengkonversi (mengubah) umat
manusia menjadi satu kesatuan
telah menjadi demikian mudah, dimana tadinya perjalanan membutuhkan waktu bertahun-tahun,
sekarang ini bisa dicapai dalam hitung harian.
Begitu juga komunikasi yang tadinya
bisa mengambil waktu setahun untuk
mengkontak satu negeri dengan negeri lain, sekarang ini cukup dalam satu jam saja.
Demikian dahsyatnya revolusi kemajuan yang diikuti derasnya perubahan dalam arus sungai kebudayaan, sehingga
menjadi jelas bahwa memang menjadi maksud
Tuhan agar segala bangsa yang
tersebar di muka bumi ini menjadi satu
kesatuan. Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran
dimana memang hanya Kitab ini saja
yang menyatakan bahwa ajarannya itu
untuk seluruh bangsa di dunia, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ
اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا
Katakanlah: “Hai manusia,
sesungguhnya aku Rasul kepada kamu
sekalian”’ (Al-A’rāf [7]:159).
Jawab Yesus: “Aku
diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Injil Matius 15:24)
Di tempat lain dinyatakan:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan
sebagai rahmat bagi seluruh umat (Al-Anbiya [21]:108).
Begitu pula dengan ungkapan dari
ayat:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ
الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ
لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ
Maha
beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi
peringatan bagi seluruh alam’ (Al-Furqān [2]:2).
Tidak ada Kitab Samawi lainnya
sebelum Al-Quran yang mengajukan klaim seperti itu. Masing-masing Kitab tersebut membatasi dirinya hanya bagi bangsanya
sendiri. Bahkan nabi yang dipertuhan
umat Kristen juga menyatakan bahwa beliau diutus hanya bagi domba-domba
Israil yang hilang.
Kondisi dunia pada saat
kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw.
juga telah membenarkan klaim Al-Quran
sebagai pesan Ilahi yang bersifat universal dimana pintu penyebaran kebenaran telah
dibukakan.” (Chasma Ma’rifat, Qadian,
Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXIII, hlm. 74-77, London, 1984).
Tujuan Beragama dan Memeluk Agama yang Benar
Sehubungan dengan pentingnya
keberadaan agama Islam (Al-Quran) sebagai agama
dan Kitab suci terakhir dan tersempurna
tersebut, Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah -- Masih Mau’ud a.s. -- selanjutnya bersabda mengenai tujuan beragama:
“Tujuan pokok
menganut suatu agama adalah
kita memperoleh kepastian berkaitan
dengan Tuhan Yang menjadi Sumber keselamatan, seolah-olah kita bisa melihat Wujud-Nya dengan mata kita. Unsur kejahatan dalam dosa
akan selalu mencoba menghancurkan
manusia dimana seseorang tidak akan bisa melepaskan diri dari racun fatal dari dosa sampai ia itu meyakini
sepenuh hati beriman kepada Tuhan
yang Maha Sempurna dan Maha Hidup,
yang menghukum para pendosa dan mengganjar yang muttaqi (bertakwa)
dengan kenikmatan yang kekal.
Merupakan pengalaman umum, bahwa jika kita meyakini akan efek-efek
fatal yang ditimbulkan sesuatu
maka dengan sendirinya kita tidak akan
mendekatinya. Sebagai contoh, tidak akan ada orang yang menenggak racun secara sadar. Tidak
akan ada orang yang secara sengaja
berdiri di depan seekor harimau liar.
Tidak juga orang mau memasukkan
tanggannya ke lubang ular berbisa.
Lalu mengapa orang melakukan dosa secara sengaja? Sebabnya adalah karena ia tidak memiliki keyakinan penuh mengenai hal tersebut sebagaimana dengan hal-hal lain yang dicontohkan tadi.
Tugas pertama seseorang
dengan demikian adalah berusaha
memperoleh keyakinan mengenai
eksistensi (keberadaan) Tuhan dan menganut suatu
agama yang melaluinya hal itu bisa dicapai, agar dengan demikian ia akan menjadi takut kepada Tuhan dan menjauhi dosa.
Lalu bagaimana caranya agar dapat memperoleh keyakinan demikian? Jelas bahwa hal seperti itu tidak akan bisa didapat hanya melalui dongeng-dongeng. Tidak juga bisa
diperoleh melalui argumentasi saja. Satu-satunya
cara untuk memperoleh keyakinan adalah dengan mengalami pendekatan dengan Tuhan berulang
kali melalui bercakap-cakap
dengan Wujud-Nya atau dengan menyaksikan berbagai tanda-tanda-Nya yang luar biasa, atau
juga melalui kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengalaman demikian.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 19, hlm. 447-448, London, 1984).
Pentingnya Bergaul dengan Shādiqīn (Orang-orang yang Benar)
Penegasan ketiga cara memperoleh derajat haqqul yaqin yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s.
tersebut: “adalah (1) dengan mengalami
pendekatan dengan Tuhan berulang kali melalui bercakap-cakap dengan Wujud-Nya
atau (2) dengan menyaksikan berbagai
tanda-tanda-Nya yang luar biasa,
atau juga (3) melalui kedekatan dengan
seseorang yang memiliki pengalaman demikian.”
Cara ketiga yang dikemukakan Masih mau’ud
a.s. tersebut sesuai dengan tujuan utama pengutusan para rasul
Allah secara berkesinambungan (QS.7:35-37) dan pentingnya beriman kepada para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. itu serta
pentingnya bergaul rapat dengan wujud-wujud
suci tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ کُوۡنُوۡا مَعَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اتَّقُوا اللّٰہَ -- bertakwalah kamu kepada
Allah وَ کُوۡنُوۡا مَعَ الصّٰدِقِیۡنَ -- dan hendaklah
kamu senantiasa beserta orang-orang yang benar (At-Taubah [9]:119).
Rincian dari shādiqīn (orang-orang yang benar) tersebut dijelaskan Allah
Swt. dalam firman-Nya berikut ini
sebagai “sebaik-baik kawan”:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ
وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah
Allāh Yang Maha Mengetahui (An-Nisa [4]:70-71).
Ayat 70 sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur
kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin yang patuh taat
sepenuhnya kepada Allah Swt. dan Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.3:32). Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syuhada (saksi-saksi) dan orang-orang
saleh — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..
Hal ini
merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata sebab beliau saw. adalah
pengemban syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4). Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam
perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu
lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖۤ
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ -- “Dan orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57:20).
Dua Macam Kenabian & Nasihat
Masih Mau’ud a.s. Bagi Para Pemeluk
Agama-agama Lain
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi Allah juga, namun tetap merupakan pengikut Nabi Besar Muhammad saw. atau nabi ummati bukan nabi mustaqil (mandiri).
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan
bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus,
yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat
dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. di Akhir
Zaman ini adalah bukti nyata dari
kebenaran firman Allah Swt. tersebut
(QS.4:70-71), yakni sebagai Masih Mau’ud
a.s. (Al-Masih yang Dijanjikan).
Lebih lanjut beliau bersabda lagi mengenai
pentingnya memeluk dan mengamalkan
agama Islam (Al-Quran) sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna:
“Tujuan agama adalah agar manusia memperoleh
keselamatan dari hawa nafsunya
dan menciptakan kecintaan pribadi
kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui
keimanan kepada eksistensi-Nya (keberadaan-Nya)
dan Sifat-sifat-Nya yang
Maha Sempurna.
Kecintaan kepada Allah
demikian merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat
nanti. Tidak menyadari akan adanya
Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya
adalah neraka yang akan berbentuk
macam-macam di akhirat nanti. Dengan demikian tujuan haqiqi seorang manusia sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Dia.
Sekarang timbul pertanyaan: Agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi
keinginan demikian? Kitab Injil
menyatakan bahwa pintu untuk berbicara
dengan Tuhan sudah ditutup dan cara-cara untuk memperoleh kepastian
sudah dipateri (disegel). Apa pun
yang akan terjadi, sudah terjadi di masa lalu dan tidak ada sesuatu pun di masa
depan.
Lalu apa gunanya sebuah agama yang sudah mati demikian? Manfaat apa yang dapat diperoleh dari kitab yang sudah mati? Rahmat apa yang
bisa diperoleh dari sosok tuhan yang
mati?” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20,
hlm. 352-353, London, 1984).
Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. mengomentari kekeliruan pemahaman golongan Arya
Samaj berkenaan dengan “Tuhan yang
Hakiki”:
“Tujuan
menerima suatu agama adalah
agar Allah Yang Tegak dengan Dzat-Nya
Sendiri (Al-Qayyum) dan Yang tidak
membutuhkan akan ciptaan-Nya atau pun sembahan
dari ciptaan-Nya itu akan berkenan
dengan diri kita, sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya
yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin, dan dengan cara
demikian dada kita akan dipenuhi dengan keyakinan dan pemahaman.
Hal seperti itu tidak akan
mungkin bisa dicapai oleh seorang
manusia melalui upayanya
sendiri. Karena itu Allah Yang Maha
Agung, Yang menyembunyikan Wujud-Nya
serta keajaiban ciptaan-Nya -- seperti ruh,
malaikat, surga, neraka, kebangkitan, kenabian dan lain-lain -- yang hanya akan dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk
hamba-hamba-Nya yang akan beriman
pada semua misteri itu.” (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 81, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 5 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar