Sabtu, 07 November 2015

Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Kedatangan "Roh Kebenaran" yang Membawa "Seluruh Kebenaran" & Nasihat Masih Mau'ud a.s. Tentang "Tujuan Utama Beragama"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 3  

Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Kedatangan “Roh Kebenaran” yang Membawa “Seluruh Kebenaran” &  Nasihat Masih Mau’ud a.s. Tentang Tujuan Utama Beragama  

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab 2 telah dikemukakan mengenai   makna nasikh-mansukh dalam  firman Allah Swt. berikut ini:
 مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿ ﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ ﴿ ﴾
Ayat  mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidak  tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah milik-Nya-lah aKerajaan seluruh langit dan bumi, dan tidak ada  bagi kamu pelindung dan penolong   selain Allah (Al-Baqarah [2]:107-109).

Kekeliruan Memahami Nasikh-Mansukh

    Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran, sebab bertentangan dengan pernyataan Allah Swt. sebelum ini, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4).
Firman-Nya lagi:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya   Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.  (Al-Hijr [15]:10).
     Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru (QS.2:106 & 109-110), yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
     Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
    (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
   (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
      Al-Quran telah membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman.  Karena itu ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal, yakni  ajaran Islam (Al-Quran).
      Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260) seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica).

Nubuatan Nabi Isa Ibnu  Maryam a.s. Mengenai  Kedatangan “Roh Kebenaran” yang Membawa “Seluruh Kebenaran

       Mengisyaratkan kepada  belum dewasanya   proses perkembangan jiwa  serta intelektual  manusia itu pulalah ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   berikut ini,  serta beliau  menubuatkan  kedatangan Rasul Allah berikutnya  yakni “Roh Kebenaran” yang akan membawa “seluruh  kebenaran”, yaitu Nabi Besar  Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna berupa agama Islam (Al-Quran- QS.5:4):
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes [16:12-13).
        Demikian pula dalam Injil  Matius  Allah Swt. melalui ucapan beliau menubuatkan hal yang sama berkenaan dengan  pengutusan “Ia yang datang dalam nama Tuhan” yaitu Nabi Besar Muhammad saw., yang mengemban   wahyu Al-Quran  dimana  setiap Surahnya – kecuali At- Taubah  --  dimulai dengan ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --  “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang”:
23:37 "Yerusalem, Yerusalem , engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!  Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,  tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.   23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga  kamu berkata: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"  (Matius 23:37-30).
      Kalimat  “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"   identik dengan ayat pertama    seluruh Surah Al-Quran  -- kecuali Surah Al-Anfāl  -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. yakni:   بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ     --   “dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
      Dengan demikian  jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “Roh Kebenaran” adalah Nabi Besar Muhammad saw. dan makna membawa  “seluruh Kebenaran” adalah agama Islam (Al-Quran), karena merupakan agama terakhir dan tersempurna, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan  nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4).

Al-Quran Sebagai Kitab Universal

     Sehubungan  dengan  firman Allah Swt.  mengenai  puncak  kesempurnaan dari proses bertahap penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan,  secara logika tidak mungkin merupakan Kitab yang sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet bagi anak-anak yang baru mengenal huruf. Pasti untuk pelajaran yang bersifat sangat mendasar demikian tidak diperlukan kemampuan yang luar biasa.
    Ketika pengalaman umat manusia berkembang dan banyak dari antara mereka yang kemudian menyimpang, diperlukan petunjuk yang lebih terinci. Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas dan kalbu manusia menjadi terjerat dalam berbagai bentuk penyelewengan intelektual dan pengamalan, pada saat seperti itu diperlukan ajaran yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang dibawa Al-Quran.
   Di masa awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk bermutu tinggi karena batin manusia waktu itu masih sederhana dan belum ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur diperlukan dalam Kitab yang diturunkan di masa penyelewengan yang sangat, guna perbaikan manusia yang terlanjur telah menganut akidah-akidah palsu dan dimana perilaku kejahatan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 70, London, 1984).
    Dalam bagian lain dari buku beliau tersebut,   Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa  agama-agama yang bersifat “sementara”  dan hanya untuk kaum-kaum tertentu saja tidak memerlukan pemeliharaan Allah Swt.:
  Memang benar bahwa manusia dikaruniai dengan sebuah Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan, namun Kitab itu bukanlah Veda. Mengatakan bahwa Kitab Veda sekarang ini sebagai wahyu dari Allah Yang Maha Kuasa  sama saja dengan menghina Wujud-Nya Yang Maha Suci. Kalau ada yang bertanya mengapa hanya satu Kitab saja yang diturunkan bagi manusia di masa awal itu dan mengapa tiap bangsa tidak diberikan masing-masing satu Kitab tersendiri, maka jawabannya adalah karena pada awalnya jumlah manusia masih sangat sedikit sehingga bahkan belum bisa dikatakan satu bangsa, sehingga satu Kitab saja sudah cukup bagi mereka.
       Tetapi ketika umat manusia kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh dunia dimana penghuni dari suatu daerah menjadi sebuah bangsa tersendiri, lalu karena faktor jarak tidak memungkinkan lagi satu bangsa tetap berhubungan dengan bangsa lain maka kebijakan Ilahi menetapkan bahwa saat itu seharusnya sudah ada Rasul dan Kitab yang tersendiri bagi masing-masing bangsa.
    Setelah manusia berkembang lebih lanjut dan kemudian tercipta komunikasi beserta sarananya di antara bangsa-bangsa maka Allah Yang Maha Agung menetapkan bahwa sewajarnya mereka sekarang menjadi satu bangsa dimana mereka bersama-sama memperoleh satu Kitab saja sebagai pedoman hidup.
    Dalam Kitab tersebut terkandung perintah bahwa begitu Kitab itu sampai di berbagai belahan bumi, manusia setempat wajib menerima dan mengimaninya. Kitab tersebut bernama Al-Quran yang diwahyukan guna mencipta perhubungan di antara berbagai daerah dan bangsa. Kitab-kitab yang diwahyukan sebelum Al-Quran terbatas masing-masing hanya bagi satu bangsa saja.
       Kitab Samawi dan para Rasul telah muncul di antara bangsa Syria, Persia, India, Cina, Mesir dan Roma,  dimana ajaran yang dibawanya hanya khusus bagi bangsa dimana mereka diturunkan. Yang terakhir dari semua Kitab itu adalah Al-Quran yang menjadi Kitab yang bersifat universal dan tidak terbatas bagi satu bangsa saja melainkan bagi seluruh penduduk bumi. Kitab itu diturunkan dengan tujuan antara lain menyatukan seluruh bangsa  menjadi satu kesatuan. Sekarang ini sudah ada cara-cara dan sarana guna mempersatukan bangsa-bangsa tersebut.
     Hubungan antar bangsa yang menjadi dasar untuk mengkonversi (mengubah) umat manusia menjadi satu kesatuan telah menjadi demikian mudah, dimana tadinya perjalanan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sekarang ini bisa dicapai dalam hitung harian. Begitu juga komunikasi yang tadinya bisa mengambil waktu setahun untuk mengkontak satu negeri dengan negeri lain, sekarang ini cukup dalam satu jam saja.
   Demikian dahsyatnya revolusi kemajuan yang diikuti derasnya perubahan dalam arus sungai kebudayaan, sehingga menjadi jelas bahwa memang menjadi maksud Tuhan agar segala bangsa yang tersebar di muka bumi ini menjadi satu kesatuan. Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran dimana memang hanya Kitab ini saja yang menyatakan bahwa ajarannya itu untuk seluruh bangsa di dunia, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian’ (Al-A’rāf [7]:159).
      Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Injil  Matius 15:24)
Di tempat lain dinyatakan:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ
 Dan  Kami sekali-kali tidak  mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat (Al-Anbiya [21]:108).

Begitu pula dengan ungkapan dari ayat:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam (Al-Furqān [2]:2).
   Tidak ada Kitab Samawi lainnya sebelum Al-Quran yang mengajukan klaim seperti itu. Masing-masing Kitab tersebut membatasi dirinya hanya bagi bangsanya sendiri. Bahkan nabi yang dipertuhan umat Kristen juga menyatakan bahwa beliau diutus hanya bagi domba-domba Israil yang hilang.  
   Kondisi dunia pada saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. juga telah membenarkan klaim Al-Quran sebagai pesan Ilahi yang bersifat universal dimana pintu penyebaran kebenaran telah dibukakan.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 74-77, London, 1984).

Tujuan   Beragama dan Memeluk Agama yang Benar

   Sehubungan dengan pentingnya keberadaan  agama Islam (Al-Quran) sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna tersebut, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- Masih Mau’ud a.s.   --  selanjutnya bersabda mengenai tujuan beragama:
   “Tujuan pokok   menganut suatu agama adalah kita memperoleh kepastian berkaitan dengan Tuhan Yang menjadi Sumber   keselamatan, seolah-olah kita bisa melihat Wujud-Nya dengan mata kita. Unsur kejahatan dalam dosa akan selalu mencoba menghancurkan manusia dimana seseorang  tidak akan bisa melepaskan diri dari racun fatal dari dosa sampai ia itu meyakini sepenuh hati beriman kepada Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Hidup, yang menghukum para pendosa dan mengganjar yang muttaqi (bertakwa) dengan kenikmatan yang kekal.
   Merupakan pengalaman umum,  bahwa jika kita meyakini akan efek-efek fatal yang ditimbulkan sesuatu maka dengan sendirinya kita tidak akan mendekatinya. Sebagai contoh, tidak akan ada orang yang menenggak racun secara sadar. Tidak akan ada orang yang secara sengaja berdiri di depan seekor harimau liar. Tidak juga orang mau memasukkan tanggannya ke lubang ular berbisa. Lalu mengapa orang melakukan dosa secara sengaja? Sebabnya adalah karena ia tidak memiliki keyakinan penuh mengenai hal tersebut sebagaimana dengan hal-hal lain yang dicontohkan tadi.
   Tugas pertama seseorang dengan demikian adalah berusaha memperoleh keyakinan mengenai eksistensi  (keberadaan) Tuhan dan menganut suatu agama yang melaluinya hal itu bisa dicapai, agar dengan demikian ia akan menjadi takut kepada Tuhan dan menjauhi dosa.
     Lalu bagaimana caranya agar dapat memperoleh keyakinan demikian? Jelas bahwa hal seperti itu tidak akan bisa didapat hanya melalui dongeng-dongeng. Tidak juga bisa diperoleh melalui argumentasi saja.    Satu-satunya cara untuk memperoleh keyakinan adalah dengan mengalami pendekatan dengan Tuhan berulang kali melalui bercakap-cakap dengan Wujud-Nya atau dengan menyaksikan berbagai tanda-tanda-Nya yang luar biasa, atau juga melalui kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengalaman demikian.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm.  447-448, London, 1984).

Pentingnya Bergaul dengan   Shādiqīn  (Orang-orang yang Benar)

     Penegasan ketiga cara memperoleh derajat haqqul yaqin  yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut:   “adalah (1) dengan mengalami pendekatan dengan Tuhan berulang kali melalui bercakap-cakap dengan Wujud-Nya atau (2) dengan menyaksikan berbagai tanda-tanda-Nya yang luar biasa, atau juga (3) melalui kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengalaman demikian.”           
    Cara ketiga yang dikemukakan Masih mau’ud a.s. tersebut   sesuai dengan tujuan utama pengutusan  para rasul Allah  secara berkesinambungan (QS.7:35-37) dan pentingnya beriman kepada  para rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt.  itu serta pentingnya  bergaul rapat dengan wujud-wujud suci tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ کُوۡنُوۡا مَعَ  الصّٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اتَّقُوا اللّٰہَ  -- bertakwalah kamu kepada Allah وَ کُوۡنُوۡا مَعَ  الصّٰدِقِیۡنَ  -- dan hendaklah kamu senantiasa beserta orang-orang yang benar  (At-Taubah [9]:119).
      Rincian dari shādiqīn (orang-orang yang benar) tersebut dijelaskan Allah Swt.  dalam firman-Nya berikut ini sebagai “sebaik-baik kawan”:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka  مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni:    nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui (An-Nisa [4]:70-71).
       Ayat 70  sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin yang patuh taat sepenuhnya  kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).  Keempat martabat keruhaniannabi-nabi,   shiddiq-shiddiq,   syuhada (saksi-saksi) dan     orang-orang saleh — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..
       Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.  semata sebab beliau saw. adalah pengemban syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4). Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan:  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ   -- “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57:20).

Dua Macam Kenabian  &  Nasihat Masih Mau’ud a.s. Bagi  Para Pemeluk Agama-agama Lain

     Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi Allah juga, namun tetap merupakan pengikut Nabi Besar Muhammad saw. atau nabi ummati bukan nabi mustaqil (mandiri).
      Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
        Pendiri Jemaat  Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. di Akhir Zaman ini adalah bukti nyata dari kebenaran firman Allah Swt. tersebut (QS.4:70-71), yakni sebagai Masih Mau’ud a.s.  (Al-Masih yang Dijanjikan). Lebih lanjut beliau bersabda lagi mengenai  pentingnya memeluk  dan mengamalkan agama  Islam (Al-Quran)  sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna: 
    “Tujuan  agama adalah agar manusia memperoleh keselamatan dari hawa nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui keimanan kepada eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) dan Sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna.
    Kecintaan kepada Allah demikian merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat nanti. Tidak menyadari akan adanya Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya adalah neraka yang akan berbentuk macam-macam di akhirat nanti. Dengan demikian tujuan haqiqi seorang manusia sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Dia.
    Sekarang timbul pertanyaan: Agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi keinginan demikian? Kitab Injil menyatakan bahwa pintu untuk berbicara dengan Tuhan sudah ditutup dan cara-cara untuk memperoleh kepastian sudah dipateri (disegel). Apa pun yang akan terjadi, sudah terjadi di masa lalu dan tidak ada sesuatu pun di masa depan.
     Lalu apa gunanya sebuah agama yang sudah mati demikian? Manfaat apa yang dapat diperoleh dari kitab yang sudah mati? Rahmat apa yang bisa diperoleh dari sosok tuhan yang mati?” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam  Ruhani Khazain, jld. 20, hlm.  352-353, London, 1984).
   Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s.   mengomentari kekeliruan pemahaman golongan Arya Samaj berkenaan dengan “Tuhan yang Hakiki”:
   “Tujuan  menerima suatu agama adalah agar Allah Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum) dan Yang tidak membutuhkan akan ciptaan-Nya atau pun sembahan dari ciptaan-Nya itu  akan berkenan dengan diri kita, sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin, dan dengan cara demikian dada kita akan dipenuhi dengan keyakinan dan pemahaman.
    Hal seperti itu tidak akan mungkin bisa dicapai oleh seorang manusia melalui upayanya sendiri. Karena itu Allah Yang Maha Agung, Yang menyembunyikan Wujud-Nya serta keajaiban ciptaan-Nya  --  seperti ruh, malaikat, surga, neraka, kebangkitan, kenabian dan lain-lain  --  yang hanya akan dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk hamba-hamba-Nya yang akan beriman pada semua misteri itu.”  (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 81, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5  November 2015











Tidak ada komentar:

Posting Komentar