Minggu, 08 November 2015

Seruan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Golongan Ahli Kitab Untuk Kembali Kepada "Kalimat yang Sama" (Tauhid Ilahi) Hakiki yang Diwariskan Nabi Ibrahim a.s.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


   ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 5

  Seruan Nabi Besar Muhammad Saw.  (Al-Quran) Kepada Golongan Ahli-Kitab Untuk Kembali Kepada “Kalimat yang Sama” (Tauhid Ilahi) Hakiki yang Diwariskan Nabi Ibrahim a.s.

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai   beratnya tugas kerasulan yang dilaksanakan Nabi Besar Muhammad saw.   sebagai pembawa syariat terakhir dan tersempurna   sebab beliau saw. dalam segala sesuatunya harus memberikan contoh pengamalan   atau kesuri-teladan  yang paling baik (QS.33:22), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾  وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ   وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ --   Tidak akan berhenti dari kekafiran orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang  kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً    --            Seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ  --  Dan  orang-orang yang diberi Kitab  tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ --  Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan  kepada-Nya  serta   dengan lurus,  وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ   -- dan  mendirikan shalat dan membayar zakat,  وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ  -- dan itulah agama yang lurus. اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ  -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik makhluk.  جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا --  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  -- Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ   --    Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)  (Al-Bayyinah [98]:1-9).

Al-Quran Sebagai “Penjaga” Bagi Kitab-kitab Suci Sebelumnya

   Al-Quran telah membagi semua orang kafir dalam dua golongan  yaitu  Ahlikitab dan orang-orang musyrik (mereka yang tidak percaya kepada sesuatu Kitab Suci): لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ --   “Tidak akan berhenti dari kekafiran orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik.”
   Makna “perintah kekal abadi” dalam ayat:  حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang  kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً    --          Seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi,”  yaitu bahwa Al-Quran berisikan secara ikhtisar segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan, yang terkandung di dalam ajaran-ajaran Kitab-kitab Suci terdahulu, dengan imbuhan (tambahan) banyak ajaran yang tidak terdapat pada Kitab-kitab itu tetapi sangat diperlukan manusia guna perkembangan akhlak dan ruhaninya (QS.2:107).
   Semua cita-cita, asas-asas luhur, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang mengandung kemanfaatan abadi bagi manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran, seolah-olah Al-Quran berperan sebagai penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas dari semua cacat dan noda yang terdapat pada kitab-kitab itu, yang memang fungsinya bersifat sementara  dan hanya untuk kaum tertentu pada masanya.
  Karena itu keliru jika  menganggap hubungan  agama-agama  yang diwahyukan sebelum agama Islam dengan agama Islam seperti sebuah wilayah  yang terbagi-bagi, melainkan seperti keadaan  perkembangan satu tubuh manusia   mulai dari keadaan bayi yang secara bertahap berubah menjadi satu tubuh yang sempurna dalam segala seginya.

Nubuatan  Nabi Yesaya a.s. Mengenai Agama Islam & Proses Evolusi Penyempurnaan Hukum-hukum Syariat

  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah, bahwa   pada hakikatnya semua agama yang diwahyukan Allah Swt. kepada kaum-kaum terdahulu  -- melalui rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka   -- sebenarnya adalah  Islam”,  tetapi  karena agama-agama tersebut masih dalam proses penyempurnaan  maka nama Islam  baru diberikan Allah Swt.  ketika  perkembangan hukum-hukum syariat telah mencapai kesempurnaan dalam segala seginya dalam wujud agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah  Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا    --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini,  supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).  
       Makna  kata-kata  مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --  cIkutilah agama bapakmu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
      Isyarat dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا  -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s.  yang dikutip dalam Al-Quran, yaitu:  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ  -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129).   
       Pendek  kata, sebagaimana halnya tubuh manusia mulai  dilahirkan sebagai  bayi  -- di bawah  pengayoman Sifat Rabubiyat Allah Swt.   -- terus mengalami perubahan menjadi manusia dewasa (QS.22:6), demikian pulanya dari segi kejiwaannya  pun mengalami hal yang sama.

Seruan Kepada Golongan Ahli–KItab Untuk  Kembali Kepada “Kalimat yang Sama” (Tauhid Ilahi)

     Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengajak golongan Ahli Kitab kembali kepada “kalimat yang sama”,  yakni kembali kepada “Tauhid Ilahi” yang murni  sebagaimana yang diwariskan dalam ajaran (millat) Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ  بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab,  تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ  بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ  -- marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu,  اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا -- bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ --  dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan  sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (Ali ‘Imran [3]:65).
         Ayat وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ --  dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan  sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah   merujuk kepada firman Allah Swt. lainnya yaitu:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”   ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ  -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ  -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --  Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ --  padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ -    -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ   -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  --     Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ  -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  --  Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak me-nyukainya.  (At-Taubah [9]:30-33).

Syarrul Bariyyah (Seburuk-buruk Makhluk)   

 Kembali kepada Surah Al-Bayyinah mengenai tujuan utama pengutusan  para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Bayyinah” yang hakiki, makna dīn  dalam ayat  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ   وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ  --  Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan  kepada-Nya  serta   dengan lurus, dan  mendirikan shalat dan membayar zakat,  وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ  -- dan itulah agama yang lurus”, makna kata  dīn berarti: ketaatan; penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat; perilaku atau tindak-tanduk (Lexicon Lane).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ  -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.”  (QS.98:7).
 Pernyataan keras Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada ayat ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ  -- “kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah”,     dalam firman-Nya:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿﴾  ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾   اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿ ﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik  bentuk. ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ  -- Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling ren-dah,   اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ   --   kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya.   (At-Tīn [95]:5-7).

Khayrul-Bariyyah (Sebaik-baik Makhluk)  &  Ganjaran  Mendapat   Keridhaan Ilahi

      Sedangkan ayat  اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ   --   kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya” (6) sesuai dengan ayat:  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik makhluk” (Al-Bayyinah [98]:8).  
      Mengenai makna  ganjaran  bagi mereka:  فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ   --   maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya,” dijelaskan dalam  ayat 9 Surah Al-Bayyinah:    جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا --  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  -- Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ   --    Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya).”  
 Makna ayat رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” bahwa  merupakan tingkat tertinggi perkembangan ruhani tercapai ketika kehendak manusia menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah (kehendak)  Allah Swt.,  yang  mengisyaratkan kepada derajat nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram), firman-Nya:
 یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ  رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) eng-kau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.3342 30. Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku, 31. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
  Seperti dalam ayat sebelumnya (QS.98:9), ayat رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً   -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya   merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).
   Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
   Meraih keadaan atau martabat ruhani seperti itu itu hanya mungkin terjadi melalui pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan serta dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.3:20 & 86; QS.33:22; QS.4:70-71).

Al-Quran Menyatakan dengan Tegas: “Tuhan itu Benar-benar Ada

 Sehubungan dengan kesempurnaan agama Islam  (Al-Quran)  sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:

     Agama yang mengaku berasal dari Tuhan harus mampu memperlihatkan tanda-tanda berasal dari Tuhan dan harus menunjukkan meterai  (pengesahan) Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian adalah Islam. Allah Yang tersembunyi bisa dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan (menampakkan) Wujud-Nya kepada para penganut tulus dari agama ini.
   Suatu agama yang benar akan didukung oleh Tangan Allah dan melalui agama ini Allah memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis (ada). Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng, tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran.
  Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada-Nya, berbicara dan mendengar sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka tidak ada alasan bagi-Nya untuk terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak mendengar. Dengan kata lain, Dia itu sekarang bukan apa-apa. Hanya agama yang benar yang dapat membuktikan bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga. Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya.
     Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan oleh para filosof atau orang-orang bijak (cendekiawan) duniawi.  Observasi langit dan bumi hanya memberikan kesimpulan bahwa meskipun dengan melihat keteraturannya mengindikasikan kemungkinan  adanya sosok Pencipta, namun tidak menjadi bukti nyata bahwa Pencipta itu memang benar ada.
    Ada perbedaan besar di antara ‘kemungkinan ada’ dengan ‘ada’ itu sendiri. Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) sebagai suatu fakta, yang tidak saja mendorong manusia untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi tersebut.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 351-352, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar