بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 5
Seruan
Nabi Besar Muhammad Saw. (Al-Quran) Kepada Golongan Ahli-Kitab Untuk Kembali Kepada “Kalimat yang
Sama” (Tauhid Ilahi) Hakiki yang Diwariskan Nabi Ibrahim a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan
mengenai beratnya tugas kerasulan yang dilaksanakan Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai pembawa syariat terakhir dan tersempurna sebab beliau saw. dalam segala sesuatunya
harus memberikan contoh pengamalan atau kesuri-teladan
yang paling baik (QS.33:22), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ
اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً
ۙ﴿﴾ فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ
الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ
الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَاۤ اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ
خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَمۡ یَکُنِ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
مُنۡفَکِّیۡنَ -- Tidak akan berhenti dari kekafiran
orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ
اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً -- Seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, فِیۡہَا کُتُبٌ
قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya
ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ
-- Dan orang-orang
yang diberi Kitab tidak
berpecah-belah kecuali setelah
datang kepada mereka bukti yang nyata. وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ
حُنَفَآءَ -- Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus
ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya serta
dengan lurus, وَ یُقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ -- dan mendirikan
shalat dan membayar zakat, وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ -- dan itulah
agama yang lurus. اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ
نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
-- Sesungguhnya orang-orang
kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang
musyrik akan berada dalam Api
Jahannam, mereka kekal di dalamnya.
اُولٰٓئِکَ
ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik
makhluk. جَزَآؤُہُمۡ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا -- Ganjaran mereka ada di sisi
Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun
abadi, yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ -- Itulah
balasan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) (Al-Bayyinah
[98]:1-9).
Al-Quran Sebagai “Penjaga” Bagi Kitab-kitab Suci
Sebelumnya
Al-Quran telah membagi semua orang kafir dalam dua golongan yaitu Ahlikitab
dan orang-orang musyrik (mereka
yang tidak percaya kepada sesuatu Kitab Suci): لَمۡ
یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
مُنۡفَکِّیۡنَ -- “Tidak akan
berhenti dari kekafiran
orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik.”
Makna
“perintah kekal abadi” dalam ayat: حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا
مُّطَہَّرَۃً -- Seorang
rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,
فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi,” yaitu bahwa Al-Quran berisikan secara ikhtisar
segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan, yang terkandung di dalam ajaran-ajaran Kitab-kitab Suci terdahulu, dengan imbuhan (tambahan) banyak ajaran yang tidak terdapat pada Kitab-kitab
itu tetapi sangat diperlukan manusia
guna perkembangan akhlak dan ruhaninya (QS.2:107).
Semua cita-cita, asas-asas luhur,
peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang mengandung kemanfaatan abadi bagi manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran,
seolah-olah Al-Quran berperan sebagai
penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas dari semua cacat dan noda yang
terdapat pada kitab-kitab itu, yang
memang fungsinya bersifat sementara dan hanya untuk kaum tertentu pada masanya.
Karena itu keliru
jika menganggap hubungan agama-agama yang diwahyukan
sebelum agama Islam dengan agama
Islam seperti sebuah wilayah
yang terbagi-bagi, melainkan
seperti keadaan perkembangan satu tubuh
manusia mulai dari keadaan bayi yang secara bertahap berubah menjadi satu
tubuh yang sempurna dalam segala
seginya.
Nubuatan Nabi Yesaya a.s. Mengenai Agama Islam & Proses Evolusi Penyempurnaan Hukum-hukum Syariat
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah,
bahwa pada hakikatnya semua agama yang diwahyukan Allah Swt. kepada kaum-kaum
terdahulu -- melalui rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka -- sebenarnya
adalah “Islam”, tetapi karena agama-agama
tersebut masih dalam proses penyempurnaan maka nama Islam baru diberikan Allah Swt. ketika
perkembangan hukum-hukum syariat
telah mencapai kesempurnaan dalam
segala seginya dalam wujud agama Islam
(Al-Quran – QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb
(Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu
memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan
jihad yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini,
supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu
dan supaya kamu menjadi saksi
atas umat manusia. Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
Makna kata-kata مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا -- “cIkutilah
agama bapakmu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan
dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan
Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan
disebut dengan nama yang baharu,
yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
Isyarat
dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا -- “dan
dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa
Nabi Ibrahim a.s. yang
dikutip dalam Al-Quran, yaitu: رَبَّنَا وَ
اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
ini hamba yang menyerahkan diri kepada
Engkau, dan juga dari anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang tunduk kepada
Engkau.” (QS.2:129).
Pendek kata, sebagaimana halnya tubuh manusia mulai dilahirkan sebagai bayi -- di bawah
pengayoman Sifat Rabubiyat Allah Swt. -- terus mengalami perubahan menjadi manusia
dewasa (QS.22:6), demikian pulanya dari segi kejiwaannya pun mengalami
hal yang sama.
Seruan Kepada Golongan Ahli–KItab
Untuk Kembali Kepada “Kalimat yang
Sama” (Tauhid Ilahi)
Mengisyaratkan kepada kenyataan
itu pulalah Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengajak golongan Ahli Kitab kembali kepada
“kalimat yang sama”, yakni kembali kepada “Tauhid Ilahi” yang murni
sebagaimana yang diwariskan dalam ajaran (millat) Nabi Ibrahim a.s.,
firman-Nya:
قُلۡ
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا
اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا
اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا
بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai Ahlul Kitab, تَعَالَوۡا
اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ -- marilah
kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, اَلَّا
نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا -- bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah,
وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ --
dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun, dan sebagian
kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah:
“Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah
diri kepada Allah.” (Ali ‘Imran [3]:65).
Ayat وَّ لَا
یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun, dan sebagian
kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah”
merujuk kepada firman Allah Swt. lainnya yaitu:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ
ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ -- padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ - -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang
mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi
Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau-pun orang-orang
musyrik tidak me-nyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Syarrul
Bariyyah (Seburuk-buruk Makhluk)
Kembali kepada
Surah Al-Bayyinah mengenai tujuan utama pengutusan para rasul
Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Bayyinah” yang hakiki, makna dīn dalam ayat وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ -- Padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya
serta dengan lurus, dan mendirikan
shalat dan membayar zakat, وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ -- dan itulah agama yang lurus”, makna kata dīn berarti: ketaatan;
penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat; perilaku atau
tindak-tanduk (Lexicon Lane).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara
Ahlikitab dan orang-orang musyrik
akan berada dalam Api Jahannam,
mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ --
Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS.98:7).
Pernyataan keras Allah Swt.
tersebut mengisyaratkan kepada ayat ثُمَّ
رَدَدۡنٰہُ اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah”, dalam firman-Nya:
لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ
تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿﴾ ثُمَّ
رَدَدۡنٰہُ اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ
ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿ ﴾
Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam
sebaik-baik bentuk. ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ --
Kemudian Kami mengembalikannya
kepada tingkat paling ren-dah,
اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ مَمۡنُوۡنٍ -- kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
saleh maka bagi mereka ganjaran yang
tidak ada putus-putusnya. (At-Tīn [95]:5-7).
Khayrul-Bariyyah (Sebaik-baik Makhluk)
& Ganjaran Mendapat
Keridhaan Ilahi
Sedangkan ayat اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ
مَمۡنُوۡنٍ -- kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
saleh maka bagi mereka ganjaran yang
tidak ada putus-putusnya” (6) sesuai dengan ayat: اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik
makhluk” (Al-Bayyinah [98]:8).
Mengenai
makna ganjaran bagi mereka: فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ
مَمۡنُوۡنٍ -- maka bagi
mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya,” dijelaskan dalam ayat 9 Surah Al-Bayyinah: جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا -- Ganjaran mereka ada di sisi
Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun
abadi, yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ -- Itulah
balasan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya).”
Makna ayat رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka
pun ridha kepada-Nya” bahwa merupakan tingkat tertinggi
perkembangan ruhani tercapai ketika kehendak manusia menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah (kehendak) Allah Swt.,
yang mengisyaratkan kepada
derajat nafs-al-Muthmainnah (jiwa
yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) eng-kau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau.3342 30. Maka masuklah dalam golong-an
hamba-hamba-Ku, 31. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
Seperti dalam ayat sebelumnya (QS.98:9), ayat رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” merupakan tingkat
perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)
dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).
Pada tingkat ini yang
disebut pula tingkat surgawi, ia
menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan
akhlak, diperkuat dengan kekuatan
ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup
tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan
sesudah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan
baginya untuk masuk ke surga.
Meraih keadaan atau martabat ruhani seperti itu itu hanya
mungkin terjadi melalui pemahaman dan
pengamalan ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan serta dicontohkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.3:20 & 86; QS.33:22; QS.4:70-71).
Al-Quran Menyatakan dengan Tegas:
“Tuhan itu Benar-benar Ada”
Sehubungan dengan
kesempurnaan agama Islam (Al-Quran)
sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Agama yang
mengaku berasal dari Tuhan harus
mampu memperlihatkan tanda-tanda
berasal dari Tuhan dan harus
menunjukkan meterai (pengesahan) Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian
adalah Islam. Allah Yang tersembunyi bisa
dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan (menampakkan) Wujud-Nya
kepada para penganut tulus dari agama ini.
Suatu agama yang benar akan didukung oleh Tangan Allah dan melalui agama ini Allah memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis (ada). Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng,
tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan
berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran.
Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada-Nya, berbicara dan mendengar
sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka
tidak ada alasan bagi-Nya untuk
terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak
mendengar. Dengan kata lain, Dia itu
sekarang bukan apa-apa. Hanya agama
yang benar yang dapat membuktikan
bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga.
Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya.
Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa
dilakukan oleh para filosof atau orang-orang
bijak (cendekiawan) duniawi. Observasi langit dan bumi hanya
memberikan kesimpulan bahwa meskipun
dengan melihat keteraturannya mengindikasikan
kemungkinan adanya sosok Pencipta, namun tidak
menjadi bukti nyata bahwa Pencipta
itu memang benar ada.
Ada perbedaan besar di antara ‘kemungkinan ada’ dengan ‘ada’ itu sendiri. Al-Quran adalah satu-satunya
kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya) sebagai suatu fakta,
yang tidak saja mendorong manusia
untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi
tersebut.”
(Chasmai
Masihi,
Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 351-352,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar