Sabtu, 07 November 2015

Ketidak-berdayaan "Tuhan-tuhan" Palsu & Nabi Besar Muhammad Saw. "Insan Kami" (Manusia Sempurmna) Pengemban Syariat Terakhir dan Tersempurna (Agama Islam)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

  
 ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

TUJUAN AGAMA

Bab 4  

  Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan” Palsu  & Nabi Besar Muhammad Saw.    Insan Kamil (Manusia Sempurna) Pengamban   Syariat Terakhir dan Tersempurna  (Agama Islam)

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam bagian akhir Bab 3 telah dikemukakan mengenai   nasihat Masih Mau’ud a.s. kepada golongan  Kristen dan Arya Samaj, salah satu sekte Hindu di Hindustan:
     “Tujuan  agama adalah agar manusia memperoleh keselamatan dari hawa nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui keimanan kepada eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) dan Sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna.
    Kecintaan kepada Allah demikian merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat nanti. Tidak menyadari akan adanya Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya adalah neraka yang akan berbentuk macam-macam di akhirat nanti. Dengan demikian tujuan haqiqi seorang manusia sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Dia.
    Sekarang timbul pertanyaan: Agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi keinginan demikian? Kitab Injil menyatakan bahwa pintu untuk berbicara dengan Tuhan sudah ditutup dan cara-cara untuk memperoleh kepastian sudah dipateri (disegel). Apa pun yang akan terjadi, sudah terjadi di masa lalu dan tidak ada sesuatu pun di masa depan.
     Lalu apa gunanya sebuah agama yang sudah mati demikian? Manfaat apa yang dapat diperoleh dari kitab yang sudah mati? Rahmat apa yang bisa diperoleh dari sosok tuhan yang mati?” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam  Ruhani Khazain, jld. 20, hlm.  352-353, London, 1984).
   Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s.   mengomentari kekeliruan pemahaman golongan Arya Samaj berkenaan dengan “Tuhan yang Hakiki”:
    “Tujuan  menerima suatu agama adalah agar Allah Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum) dan Yang tidak membutuhkan akan ciptaan-Nya atau pun sembahan dari ciptaan-Nya itu  akan berkenan dengan diri kita, sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin, dan dengan cara demikian dada kita akan dipenuhi dengan keyakinan dan pemahaman.
     Hal seperti itu tidak akan mungkin bisa dicapai oleh seorang manusia melalui upayanya sendiri. Karena itu Allah Yang Maha Agung, Yang menyembunyikan Wujud-Nya serta keajaiban ciptaan-Nya  --  seperti ruh, malaikat, surga, neraka, kebangkitan, kenabian dan lain-lain  --  yang hanya akan dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk hamba-hamba-Nya yang akan beriman pada semua misteri itu.”  (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 81, London, 1984).

 Cara Mengenali Agama Yang Benar

      Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya makrifat Ilahi yang hakiki:
    “Agar bisa mengenali apa yang dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu  melihat tiga hal:
    Pertama, adalah melihat apa yang menjadi ajaran agama itu mengenai Tuhan. Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan, pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan Sifat-sifat Ilahi lainnya.
    Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk menanyakan apa yang diajarkan agama bersangkutan berkaitan dengan dirinya sendiri. Apakah ada dari antara ajaran agama itu yang akan mencederai hubungan antar manusia, atau menyebabkan manusia melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan kepatutan dan kehormatan, atau bertentangan dengan hukum alam, atau tidak mungkin dapat dipatuhi atau dilaksanakan, atau bahkan membahayakan jika dikerjakan. Juga perlu memperhatikan apakah ada ajaran-ajaran penting bagi pengendalian kesemrawutan, tapi  malah ditinggalkan.
  Begitu pula, perlu kiranya mengetahui bagaimana agama itu mempresentasikan  (memaparkan)   Tuhan sebagai Yang Maha Pemurah, yang dengan Wujud itu hubungan harus dihidupkan, dan apakah ada mengatur petunjuk-petunjuk yang akan menuntun seseorang dari kegelapan kepada pencerahan, dari keadaan tidak acuh menjadi eling (selalu ingat).
    Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan (dipaparkan) oleh suatu agama bukanlah sosok yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Sebab beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi  (penampakan) dirinya tetapi karena rekayasa fikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya.
     Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa dirasakan dan yang Dia sendiri tidak memanifestasikan (menampakkan) tanda-tanda eksistensi-Nya  (keberadaan-Nya)”. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 373-373, London, 1984).
   Sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai cara ketiga mengenali  agama yang benar tersebut selaras dengan firman Allah Swt.   mengenai  perumpamaan ketidak-berdayaan tuhan-tuhan palsu hasil khayalan dan rekayasa pikiran manusia:
     “Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan (dipaparkan) oleh suatu agama bukanlah sosok yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Sebab beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi  (penampakan) dirinya tetapi karena rekayasa fikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya.  Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa dirasakan dan yang Dia sendiri tidak memanifestasikan (menampakkan) tanda-tanda eksistensi-Nya  (keberadaan-Nya).”

Perumpamaan Kesia-siaan Berdoa Kepada “Tuhan-tuhan Palsu

     Mengenai  perumpamaan ketidak-berdayaan tuhan-tuhan palsu hasil khayalan dan rekayasa pikiran manusia Allah Swt. berfirman:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia mereka tidak menjawabnya sedikit pun, kecuali  seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).
      Ungkapan  لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ   -- “Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),” diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada  Allah Swt.   sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara  Allah Swt.  . sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara  Allah Swt.    sajalah yang akan unggul.
     Makna perumpamaan dalam  ayat وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia  mereka  itu tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai,”  bahwa jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan adalah  menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat -- memberikan kedudukan kepada  Allah Swt.   kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan kepada makhluk-makhluk-Nya yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.

Segala Sesuatu di Alam Semesta “Bersujud” Kepada Allah Swt. & Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan Palsu”  Melawan Lalat  

      Makna ayat selanjutnya  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”  mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang diciptakan  Allah Swt.    mau tidak mau  (suka tidak suka) harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
    Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
 Namun demikian bahkan dalam perbuatan-perbuatan -- yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan, ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan  dan ia harus mentaati hukum-hukum   Allah Swt.    dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
   Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --  “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu   orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada   Allah Swt.,  dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.  dengan menggerutu.
     Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.  mengemukakan perumpamaan lainnya mengenai kelemahan atau ketidak-berdayaan “tuhan-tuhan palsu”  hasil rekayasa manusia tersebut:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ --  Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnyaاِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.  (Al-Hājj [22]:74-75).
      Ayat ini menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu.
      Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patungberhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu  yang bahkan dibuat oleh mereka sendiri — menunjukkan  bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat sempurna Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung, yakni Allah Swt., yakni mereka tidak memiliki makrifat Ilahi yang hakiki.
       Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, padahal  Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) tidak sama dengan makhluk-Nya  (ciptaan-Nya). Benarlah firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnyaاِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.  (Al-Hājj [22]75).

Cara Memurnikan  Kembali “Tauhid Ilahi” Hanya Melalui Pengutusan Rasul Allah

     Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa hanya melalui Rasul-Nya sajalah Allah Swt. memurnikan dan menegakkan kembali “Tauhid Ilahi” yang telah dikerumuni oleh berbagai beentuk kemusyrikan -- baik kemusyrikan yang nyata mau pun yang tersembunyi  --  firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.    Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan   (Al-Hājj [22]:74-75).
       Dari seluruh Rasul Allah pembawa syariat,  tugas yang diamanatkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang paling berat,  sebab yang beliau saw. emban adalah syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadap-nya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ   -- akan sedangkan  insan  (manusia) memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ  -- Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ   --  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا  -- dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang  (Al-Ahzāb [33]:73-74).

Makna Zalūm (Sangat Aniaya) dan Jahūl (Sangat Abai)

      Hamala al-amānata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti  lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
      (1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi untuk menayang citra (bayangan) Khāliq-nya (Tuhan Pencipta-nya - QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata sanggup melaksanakannya; sedangkan  makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung sama sekali tidak dapat menandinginya.  Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu.
   Manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat berlaku aniaya terhadap dirinya sendiri, dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu  ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup (QS.6:162-164).
      (2) Jika kata al-amānat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna, yakni Nabi Besar Muhammad saw.,   maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah beliau saw.  sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan penutup, yakni syariat Al-Quran (QS.5:4),  sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya, termasuk Nabi Musa  a.s. pun tidak mampu melakukannya (QS.7:144).
     (3) Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk (QS.17:45; QS.24:42; QS.57:2; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2).
   Seluruh alam setia kepada hukum-hukum-Nya dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan (QS.18:30) mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:10-12 mengenai makna kata thaw-’an (rela) dan karhan (terpaksa).

Nabi Besar Muhammad Saw.  Bayyinah (Bukti Nyata) yang Paling Sempurna

      Pendek kata, tugas kerasulan  sebagai pembawa syariat terakhir dan tersempurna yang dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar sangat berat,  sebab beliau saw. dalam segala sesuatunya harus memberikan contoh pengamalan atau kesuri-teladan  yang paling baik (QS.33:22), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾  رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾  وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ   وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ --   Tidak akan berhenti dari kekafiran orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang  kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً    --            Seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ  --  Dan  orang-orang yang diberi Kitab  tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ --  Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan  kepada-Nya  serta   dengan lurus,  وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ   -- dan  mendirikan shalat dan membayar zakat,  وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ  -- dan itulah agama yang lurus. اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ  -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik makhluk.  جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا --  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  -- Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  --    Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)  (Al-Bayyinah [98]:1-9).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 6  November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar