بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”.
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
TUJUAN
AGAMA
Bab 4
Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan” Palsu & Nabi Besar Muhammad Saw. Insan Kamil (Manusia Sempurna) Pengamban Syariat Terakhir
dan Tersempurna (Agama Islam)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 3 telah dikemukakan mengenai nasihat
Masih Mau’ud a.s. kepada
golongan Kristen dan Arya Samaj,
salah satu sekte Hindu di Hindustan:
“Tujuan agama adalah agar manusia memperoleh
keselamatan dari hawa nafsunya
dan menciptakan kecintaan pribadi
kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui
keimanan kepada eksistensi-Nya (keberadaan-Nya)
dan Sifat-sifat-Nya yang
Maha Sempurna.
Kecintaan kepada Allah
demikian merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat
nanti. Tidak menyadari akan adanya
Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya
adalah neraka yang akan berbentuk
macam-macam di akhirat nanti. Dengan demikian tujuan haqiqi seorang manusia sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Dia.
Sekarang timbul pertanyaan: Agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi
keinginan demikian? Kitab Injil
menyatakan bahwa pintu untuk berbicara
dengan Tuhan sudah ditutup dan cara-cara untuk memperoleh kepastian
sudah dipateri (disegel). Apa pun
yang akan terjadi, sudah terjadi di masa lalu dan tidak ada sesuatu pun di masa
depan.
Lalu apa gunanya sebuah agama yang sudah mati demikian? Manfaat apa yang dapat diperoleh dari kitab yang sudah mati? Rahmat apa yang
bisa diperoleh dari sosok tuhan yang
mati?” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20,
hlm. 352-353, London, 1984).
Dalam buku beliau lainnya Masih Mau’ud a.s. mengomentari kekeliruan pemahaman golongan Arya
Samaj berkenaan dengan “Tuhan yang
Hakiki”:
“Tujuan menerima suatu agama adalah agar Allah Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum) dan Yang tidak membutuhkan akan ciptaan-Nya
atau pun sembahan dari ciptaan-Nya itu akan berkenan
dengan diri kita, sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya
yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin, dan dengan cara
demikian dada kita akan dipenuhi dengan keyakinan dan pemahaman.
Hal seperti itu tidak akan
mungkin bisa dicapai oleh seorang
manusia melalui upayanya
sendiri. Karena itu Allah Yang Maha
Agung, Yang menyembunyikan Wujud-Nya
serta keajaiban ciptaan-Nya -- seperti ruh,
malaikat, surga, neraka, kebangkitan, kenabian dan lain-lain -- yang hanya akan dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk
hamba-hamba-Nya yang akan beriman
pada semua misteri itu.” (Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 2, hlm. 81, London, 1984).
Cara Mengenali Agama Yang Benar
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya
makrifat Ilahi yang hakiki:
“Agar bisa mengenali apa yang
dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu
melihat tiga hal:
Pertama, adalah melihat
apa yang menjadi ajaran agama itu
mengenai Tuhan. Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan,
pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan Sifat-sifat Ilahi lainnya.
Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk menanyakan apa yang diajarkan agama bersangkutan
berkaitan dengan dirinya sendiri.
Apakah ada dari antara ajaran agama
itu yang akan mencederai hubungan antar
manusia, atau menyebabkan manusia
melakukan hal-hal yang tidak sejalan
dengan kepatutan dan kehormatan, atau bertentangan dengan hukum
alam, atau tidak mungkin dapat dipatuhi atau dilaksanakan, atau bahkan membahayakan
jika dikerjakan. Juga perlu
memperhatikan apakah ada ajaran-ajaran
penting bagi pengendalian
kesemrawutan, tapi malah ditinggalkan.
Begitu pula, perlu kiranya mengetahui bagaimana agama itu mempresentasikan
(memaparkan) Tuhan sebagai Yang Maha Pemurah, yang dengan Wujud
itu hubungan harus dihidupkan, dan
apakah ada mengatur petunjuk-petunjuk
yang akan menuntun seseorang dari kegelapan kepada pencerahan, dari keadaan tidak
acuh menjadi eling (selalu
ingat).
Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan (dipaparkan) oleh suatu agama bukanlah sosok
yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Sebab beriman
kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi
(penampakan) dirinya tetapi karena rekayasa
fikiran manusia, sepertinya menyudutkan
Tuhan yang sebenarnya.
Tidak ada gunanya beriman kepada
Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa
dirasakan dan yang Dia sendiri tidak
memanifestasikan (menampakkan) tanda-tanda
eksistensi-Nya (keberadaan-Nya)”. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 19, hlm.
373-373, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai cara
ketiga mengenali agama yang benar tersebut selaras
dengan firman Allah Swt. mengenai perumpamaan
ketidak-berdayaan tuhan-tuhan palsu
hasil khayalan dan rekayasa pikiran manusia:
“Ketiga, perlu bagi seorang pencari
kebenaran untuk meyakinkan
dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan (dipaparkan) oleh suatu
agama bukanlah sosok yang didasarkan pada
kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Sebab beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda
mati dimana keimanan kepadanya
bukan karena adanya manifestasi (penampakan) dirinya tetapi karena rekayasa fikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya. Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya
tidak bisa dirasakan dan yang Dia
sendiri tidak memanifestasikan (menampakkan) tanda-tanda eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya).”
Perumpamaan Kesia-siaan Berdoa Kepada “Tuhan-tuhan
Palsu”
Mengenai perumpamaan
ketidak-berdayaan tuhan-tuhan palsu
hasil khayalan dan rekayasa pikiran manusia Allah Swt.
berfirman:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, kecuali seperti orang
yang mengulurkan kedua tangannya ke air
supaya sampai ke mulutnya,
tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,
dan tidaklah doa orang-orang kafir itu
melainkan sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ
یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun
yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan
mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).
Ungkapan لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ -- “Bagi
Dia-lah seruan yang haq
(benar),” diterjemahkan sebagai berikut: (1) Allah Swt. sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat
dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah
bagi manusia; (3) suara Allah Swt. . sajalah yang berkumandang untuk
mendukung kebenaran; dan (4) suara
Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Makna perumpamaan dalam ayat وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia mereka itu tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai,” bahwa jalan
yang benar untuk mendapat sukses
dalam kehidupan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat -- memberikan kedudukan
kepada Allah Swt. kedudukan
yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan
kepada makhluk-makhluk-Nya yang
mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya
jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Segala Sesuatu di Alam Semesta “Bersujud” Kepada Allah Swt. & Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan Palsu” Melawan Lalat
Makna
ayat selanjutnya وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada Allah-lah
bersujud siapa pun yang ada di seluruh
langit dan bumi dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari” mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. mau
tidak mau (suka tidak suka) harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
Lidah harus melaksanakan tugas
mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu
dapat disebut sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
Namun demikian bahkan dalam perbuatan-perbuatan -- yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan,
ia sedikit-banyak harus tunduk kepada
paksaan dan ia harus
mentaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau
tidak.
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat
juga mengisyaratkan kepada dua golongan
manusia, yaitu orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk
kepada Allah Swt.,
dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu.
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.
mengemukakan perumpamaan lainnya
mengenai kelemahan atau ketidak-berdayaan “tuhan-tuhan palsu” hasil rekayasa
manusia tersebut:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا
اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil
itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ
اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ -- Dan seandainya lalat
itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ -- Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ
اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
(Al-Hājj [22]:74-75).
Ayat
ini menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya,
dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu.
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu yang bahkan dibuat oleh mereka sendiri — menunjukkan
bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat sempurna Tuhan
Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq
Yang Agung, yakni Allah Swt., yakni mereka tidak memiliki makrifat Ilahi yang hakiki.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, padahal Al-Khāliq
(Tuhan Maha Pencipta) tidak sama dengan makhluk-Nya (ciptaan-Nya). Benarlah firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ -- Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ
اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
(Al-Hājj [22]75).
Cara Memurnikan Kembali “Tauhid Ilahi” Hanya Melalui Pengutusan Rasul Allah
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa hanya
melalui Rasul-Nya sajalah Allah Swt. memurnikan dan menegakkan kembali “Tauhid
Ilahi” yang telah dikerumuni oleh
berbagai beentuk kemusyrikan -- baik kemusyrikan yang nyata mau pun yang tersembunyi -- firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah
Maha Mendengar, Maha Melihat. Dia mengetahui apa pun yang di
hadapan mereka dan apa pun yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:74-75).
Dari seluruh Rasul Allah pembawa syariat,
tugas yang diamanatkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang paling berat, sebab yang beliau saw. emban adalah syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sebagaimana
dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّا
عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ
اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ
کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ
اللّٰہُ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ
وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung,
tetapi semuanya enggan memikulnya
dan mereka takut terhadap-nya, وَ حَمَلَہَا
الۡاِنۡسَانُ ؕ --
akan sedangkan insan (manusia) memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ
ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- sesungguhnya
ia sanggup berbuat zalim
dan abai terhadap dirinya. لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ -- Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan orang-orang
musyrik lelaki dan orang-orang
musyrik perempuan, وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ
عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ
-- dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki dan perempuan-perempuan yang beriman, وَ کَانَ
اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا -- dan Allah
adalah Maha Pengampun, Maha
Penyayang (Al-Ahzāb [33]:73-74).
Makna Zalūm (Sangat Aniaya) dan Jahūl
(Sangat Abai)
Hamala al-amānata berarti:
ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum
adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama,
yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu
berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas
kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari
kata jahil, yang berarti lalai,
dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
(1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat
Ilahi untuk menayang citra
(bayangan) Khāliq-nya (Tuhan Pencipta-nya
- QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung
yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata
sanggup melaksanakannya; sedangkan makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya
— para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung sama
sekali tidak dapat menandinginya. Mereka
seakan-akan menolak mengemban amanat
itu.
Manusia menerima tanggungjawab
ini sebab hanya dialah yang dapat
melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya
sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia
dapat berlaku aniaya terhadap dirinya sendiri, dalam arti bahwa ia
dapat menanggung kesulitan apa pun
dan menjalani pengorbanan apa pun
demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi
suci itu ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan
dan kenikmatan hidup (QS.6:162-164).
(2) Jika kata al-amānat
diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran
dan kata al-insan sebagai manusia
sempurna, yakni Nabi Besar Muhammad saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi,
hanyalah beliau saw. sendiri
saja yang mampu diamanati wahyu yang
mengandung syariat yang paling sempurna
dan penutup, yakni syariat Al-Quran
(QS.5:4), sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak
diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab
besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya, termasuk Nabi Musa a.s. pun tidak mampu melakukannya (QS.7:144).
(3) Kalau kata hamala
diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat,
maka ayat ini akan berarti bahwa amanat
syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia
dan makhluk-makhluk lainnya yang ada
di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati
amanat ini, yakni mereka
itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan
segala hukum yang kepada hukum-hukum
itu mereka harus tunduk (QS.17:45;
QS.24:42; QS.57:2; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2).
Seluruh alam setia kepada hukum-hukum-Nya
dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan
(QS.18:30) mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak
mempedulikan tugas dan kewajibannya.
Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:10-12 mengenai makna kata thaw-’an (rela) dan karhan (terpaksa).
Nabi Besar Muhammad Saw. Bayyinah (Bukti Nyata) yang Paling
Sempurna
Pendek kata, tugas kerasulan sebagai pembawa syariat terakhir dan
tersempurna yang dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar sangat
berat, sebab beliau saw. dalam segala
sesuatunya harus memberikan contoh
pengamalan atau kesuri-teladan yang paling baik (QS.33:22), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا
مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿﴾ فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ
ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ
الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَاۤ اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ
خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لَمۡ یَکُنِ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ -- Tidak
akan berhenti dari kekafiran orang-orang
kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ
اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً -- Seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, فِیۡہَا کُتُبٌ
قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya
ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ
-- Dan orang-orang
yang diberi Kitab tidak
berpecah-belah kecuali setelah
datang kepada mereka bukti yang nyata. وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ
حُنَفَآءَ -- Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus
ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya serta
dengan lurus, وَ یُقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ -- dan mendirikan
shalat dan membayar zakat, وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ -- dan itulah
agama yang lurus. اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ
نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
-- Sesungguhnya orang-orang
kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang
musyrik akan berada dalam Api
Jahannam, mereka kekal di dalamnya.
اُولٰٓئِکَ
ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik
makhluk. جَزَآؤُہُمۡ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا -- Ganjaran mereka ada di sisi
Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun
abadi, yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا
عَنۡہُ -- Itulah
balasan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) (Al-Bayyinah
[98]:1-9).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 6 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar