Selasa, 03 November 2015

Hubungan Sifat Rabubiyat Allah Swt. Dengan Penyempurnaan Secara Bertahap "Hukum Syariat"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

  
 ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP

“Aku meyakini bahwa melalui beriman dalam Islam  pancaran Nur mengalir di seluruh diriku”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Bab 1    

Hubungan Sifat Rabubiyat Allah Swt. Dengan Penyempurnaan  Secara Bertahap Hukum Syariat 

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Blog “PANEMBAHAN CAKRA NINGRAT” penulis telah menampilkan sabda-sabda  Al-Masih-al-Mau’ud a.s.    – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  --  mengenai khazanah ruhani Surah Al-Fatihah berkenaan eksistensi Allah Swt.  dan hakikat keempat Sifat utama Tasybihiyah-Nya, yaitu: Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat Yaumid-dīn (Māliki   Yaumid-dīn).
      Dalam Blog “Sultan Heru Cakra”  ini akan dikemukakan sabda-sabda Masih Mau’ud a.s.  lainnya mengenai  agama Islam sebagai   agama terakhir dan tersempurna, sebagaimana firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4).

Arti Kata Ikmāl (Menyempurnakan) dan Itmām (Melengkapkan)

       Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (Ikmāl) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua (itmām) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan) Allah Swt..
     Kata yang pertama (Ikmāl - menyempurnakan)  berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua  (itmām - melengkapkan) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
     Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah Swt.  disebut berdampingan dengan hukum (peraturan) yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan,  untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani., firman-Nya:
حُرِّمَتۡ عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ ؕ اَلۡیَوۡمَ  یَئِسَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ   مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾
Diharamkan bagi kamu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, yang mati dicekik,  yang mati dipukul, yang mati terjatuh, yang mati ditanduk,  yang telah dimakan oleh binatang buas kecuali yang telah kamu sembelih sebelum mati; dan yang disembelih di tempat pemujaan berhala-berhala. Dan juga  diharamkan  mengadu nasib dengan mengundi anak panah, hal demikian itu suatu perbuatan fasik.  Pada hari ini orang-orang yang kafir  telah  putus asa untuk merusak agama kamu, maka  ja-nganlah takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا  --  Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan  nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. Tetapi  barangsiapa terpaksa  karena lapar  dan bukan sengaja cenderung kepada dosa maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang  (Al-Maidah [5]:4).

Pengaruh Makanan, Minuman dan Perbuatan  Manusia Terhadap Ruhnya (Jiwanya)

   Berkenaan eratnya hubungan makanan dengan perilaku  pihak yang menyantapnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam buku beliau Islami Ushul ki Filasafi  (Falsafah Ajaran Islam):
    Jika ada pertanyaan: Apakah pengaruh Quran Syarif terhadap keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu, serta secara amal sampai batas manakah yang diperkenankannya?
    Hendaklah diketahui bahwa menurut Quran Syarif keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki dan ruhaninya. Bahkan cara manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlak dan ruhani manusia.
   Apabila keadaan-keadaan thabi'i (alami) dipergunakan sesuai dengan bimbingan syariat maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada keruhanian. Oleh karena itu Quran Syarif sangat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, kekusyukan, dan kerendahan hati.
     Apabila kita renungkan dengan dalam maka benar sekali kandungan falsafah yang mengatakan bahwa tingkah-laku jasmani amat besar pengaruhnya  pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan thabi’i (alami) walaupun pada lahirnya bersifat jasmani namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan ruhani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis --  kendati pun hanya pura-pura serta dibuat-buat – air mata menggugah suatu perasaan dalam hati  dan hati pun ikut merasa sedih.
      Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh (jiwa). Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabbur  dan tinggi hati.
    Dari contoh-contoh di atas, nampaklah sejelas-jelasnya bahwa gerak-gerik jasmani tidak diragukan lagi mempengaruhi keadaan ruhani. Begitu pula pengalaman menyatakan kepada kita bahwa makanan yang beraneka-ragam juga mempengaruhi kemampuan  otak dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang-orang yang tidak pernah makan daging. Potensi keberanian mereka lambat-laun semakin berkurang, sehingga akhirnya hati mereka menjadi lemah dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.
     Kesaksian hukum kudrat  berkenaan dengan itu pun membuktikan bahwa di antara binatang-binatang berkaki empat pemakan rumput tak seekor pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian yang dimiliki inatang pemakan daging. Hal ini dapat kita saksikan pula pada burung-burung.
     Ringkasnya, tidak dapat diragukan lagi bahwa makanan berpengaruh pada akhlak. Benar, orang-orang yang siang-malam mengutamakan makan daging dan sangat kurang sekali makan  sayur-mayur kurang memiliki sifat santun dan rendah hati. Sedangkan orang-orang yang mengambil jalan tengah mewarisi kedua sifat  tersebut. Mengingat akan hikmah itu Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
 كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
Yakni, makan jugalah daging dan makanlah jugalah makanan yang lain, akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keadaan akhlak, dan agar cara berlebihan itu tidak pula merugikan kesehatan (Al-A'rāf [7]: 32).
       Dengan demikian betapa penuh hikmahnya penempatan telah sempurnanya proses pengembangan hukum-hukum syariat dalam wujud agama Islam  (Al-Quran) bersamaan dengan peraturan (hukum) berkenaan masalah  makanan  dalam Surah Al-Māidah ayat 5 tersebut.

Hubungan Sifat Rabbubiyat Allah Swt. dengan Penyempurnaan Hukum-hukum Agama (Syariat)

     Jadi, pernyataan Allah Swt. dalam ayat  اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا  --   Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan  nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4),  sangat erat hubungannya dengan Sifat Rabubiyat-Nya yang  terdapat dalam Surah Al-Fatihah, yang mengisyaratkan kepada  hukum evolusi yaitu  proses perubahan secara bertahap menuju  kesempurnaan  yang telah ditetapkan Allah Swt., firman-Nya:   رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ  --  “segala puji bagi Allah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” (QS.1:2).
   Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan  dengan cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabb  dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya sebutan untuk raja atau majikan (QS.12: 51).
     Al-’ālamīn  adalah jamak dari al-’alam, berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq  --  Tuhan Maha Pencipta (Aqrab-ul-Mawarid).
       Kata  al-’ālamīn  tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins  artinya  alam manusia, atau ‘alam-ul-hayawan   yakni alam binatang, serta  alam-alam lainnya dari golongan benda-benda mati (anorganik).
      Namun demikian tidak berarti  bahwa  Sifat Rabubiyat Allah Swt. sesuai dengan  pendapat Charles Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera, sebab kedua  spesies makhluk Allah Swt. tersebut berlainan alam, yakni manusia  dari  ‘alamul-ins  (alam manusia)  sedangkan kera   dari  ‘alam-ul-hayawan   (alam binatang).
     Kata al-’ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakalmanusia dan malaikat — saja, Al-Quran  pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123).
       Di sini kata al-’ālamīn dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni  benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya, semuanya merupakan “produk” Sifat Rabubiyat Allah Swt..

Semua Pujian Sempurna Hanya Untuk  dan Milik Allah Swt.

     Ungkapan  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala puji bagi Allah  lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia hanya dapat memuji Allah Swt.  menurut pengetahuannya yang terbatas,  sedangkan  anak kalimat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ  -- “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian  yang tidak diketahuinya. Allah Swt.   layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.
      Tambahan pula  kata al-hamd  adalah  masdar dan karena itu dapat diartikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok kalimat maka  Al-hamdulillāhi berarti hanya  Allah Swt. sajalah  Wujud Yang  berhak memberikan pujian sejati; dan diartikan  sebagai tujuan kalimat maka Alhamdulillāhi berarti bahwa segala pujian sejati dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt. semata-mata.  
     Jadi, ayat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ  --  “Segala puji bagi Allah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam”  menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus   dan terlaksana secara bertahap.
       Dengan demikian   Rabb  adalah Wujud (Tuhan) Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu – sebagaimana telah  dikemukakan sebelumnya -- menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi  tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt., tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi seperti biasanya diartikan  bahwa manusia berasal dari kera. Kata evolusi  itu dipergunakan dalam arti umum.
       Selanjutnya  ayat  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ  --  “segala puji bagi Allah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam”  menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allah  Swt.  mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tidak ada henti-hentinya.
        Demikian pula proses penyempurnaan hukum-hukum agama (syariat)  pun berlaku secara bertahap sehingga mencapai puncak kesempurnaannya dalam wujud agama Islam (Al-Quran),  firman-Nya: 
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4).

Hikmah Diwahyukan-Nya Al-Quran Secara Bertahap

   Sunnatullah tersebut berlaku pula pada proses pewahyuan Al-Quran  yaitu diwahyukan secara bertahap kepada Nabi Besar Muhammad saw., berikut firman-Nya mengenai celaan para penentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً  وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ  فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan  orang-orang kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?” Seperti itulah Kami telah menurunkannya   supaya Kami  meneguhkan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya. (Al-Furqān [25]:33).
      Al-Quran diwahyukan sedikit-sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan tertentu yang sangat berguna:
      (a) waktu selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan, dengan demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dalam waktu selang itu.
      (b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.
      Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.   dapat menghafalkan, mempelajari, dan menyesuaikan diri. Seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap,  maka orang-orang kafir dapat mengatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:5).
       Dengan demikian turunnya Al-Quran secara bertahap pada waktu-waktu yang berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian agar supaya dapat dihafalkan di luar kepala dengan mudah.
       Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut:
Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? kanak-kanak yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu diceraikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).
       Secara sepintas baiklah kita ketahui bahwa ayat ini (Al-Maidah ayat 4) merupakan ayat yang diwahyukan terakhir, dan Nabi Besar Muhammad saw.  wafat hanya 82 hari sesudah ayat ini turun, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu (Al-Māidah [5]:4).

Kewajiban Manusia Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Sebutan Muslim Bagi Pemeluk Agama Tauhid

      Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai mutlaknya bagi manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai  Rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna, yakni agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
     Semua agama yang benar-benar bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat sempurna Allah Swt.   dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi. Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya.
       Semua agama yang benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila – sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. (QS.1:2)   -- proses penyempurnaan  agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran, berikut firman-Nya mengenai hal tersebut:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah  Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا    --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini,  supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
        Makna  Jihad  dalam ayat  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya”  itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri  (QS.22:40-42).
       Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad saw.  telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
      Makna  kata-kata  مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --  cIkutilah agama bapakmu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.:
maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
        Isyarat dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا  -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s.  yang dikutip dalam Al-Quran, yaitu:  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ  -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar