بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ISLAM
AGAMA YANG BENAR DAN HIDUP
“Aku meyakini bahwa melalui
beriman dalam Islam pancaran Nur
mengalir di seluruh diriku”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Bab 1
Hubungan Sifat Rabubiyat
Allah Swt. Dengan Penyempurnaan Secara Bertahap Hukum
Syariat
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Blog “PANEMBAHAN CAKRA NINGRAT” penulis telah
menampilkan sabda-sabda Al-Masih-al-Mau’ud a.s. – yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah --
mengenai khazanah ruhani Surah
Al-Fatihah berkenaan eksistensi Allah Swt. dan hakikat keempat Sifat utama Tasybihiyah-Nya,
yaitu: Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat Yaumid-dīn (Māliki Yaumid-dīn).
Dalam
Blog “Sultan Heru Cakra” ini
akan dikemukakan sabda-sabda Masih Mau’ud
a.s. lainnya mengenai agama
Islam sebagai agama terakhir dan tersempurna,
sebagaimana firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama
kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4).
Arti Kata Ikmāl (Menyempurnakan) dan Itmām
(Melengkapkan)
Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan
akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas)
dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama
(Ikmāl) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran
serta perintah-perintah mengenai
pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna;
sedang yang kedua (itmām) menunjukkan
bahwa tidak ada suatu keperluan manusia
yang lepas dari perhatian (diabaikan) Allah Swt..
Kata yang pertama (Ikmāl -
menyempurnakan) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan
segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (itmām - melengkapkan) berhubungan
dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah Swt. disebut
berdampingan dengan hukum (peraturan)
yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan,
untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang
amat penting untuk nilai akhlak yang baik
dan pada gilirannya memberi dasar
tempat-berpijak guna mencapai kemajuan
ruhani., firman-Nya:
حُرِّمَتۡ
عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ
لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ
وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا
ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ
ؕ اَلۡیَوۡمَ یَئِسَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ
وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ
مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ
ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾
Diharamkan bagi kamu bangkai, darah, daging babi, dan
hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, yang mati dicekik, yang mati dipukul, yang mati terjatuh,
yang mati ditanduk, yang telah
dimakan oleh binatang buas kecuali yang telah kamu sembelih sebelum mati;
dan yang disembelih di tempat pemujaan berhala-berhala. Dan juga diharamkan mengadu nasib dengan mengundi anak panah, hal
demikian itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang yang kafir telah
putus asa untuk merusak agama
kamu, maka ja-nganlah takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ
رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا -- Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu
bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar dan bukan
sengaja cenderung kepada dosa maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Maidah [5]:4).
Pengaruh Makanan, Minuman dan Perbuatan Manusia Terhadap Ruhnya (Jiwanya)
Berkenaan eratnya hubungan makanan dengan perilaku pihak yang
menyantapnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan dalam buku beliau Islami Ushul ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam):
“Jika ada pertanyaan: Apakah pengaruh Quran Syarif terhadap keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu,
serta secara amal sampai batas
manakah yang diperkenankannya?
Hendaklah diketahui bahwa menurut Quran
Syarif keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia mempunyai
hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan
akhlaki dan ruhaninya. Bahkan cara manusia makan-minum
pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlak dan ruhani manusia.
Apabila keadaan-keadaan
thabi'i (alami) dipergunakan sesuai dengan bimbingan
syariat maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua
keadaan tersebut berubah
menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang
mendalam sekali pada keruhanian. Oleh karena itu Quran Syarif sangat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani dan keseimbangan jasmani dalam
berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, kekusyukan, dan kerendahan
hati.
Apabila kita renungkan dengan dalam maka
benar sekali kandungan falsafah yang
mengatakan bahwa tingkah-laku jasmani amat besar pengaruhnya pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan thabi’i (alami) walaupun
pada lahirnya bersifat jasmani namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan ruhani
kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis
-- kendati pun hanya pura-pura serta
dibuat-buat – air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati
pun ikut merasa sedih.
Demikian pula, apabila kita mulai tertawa
secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa
gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara
jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan
hati dalam ruh (jiwa). Sebaliknya kita
saksikan pula bahwa apabila kita berjalan
dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada,
hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabbur dan tinggi hati.
Dari contoh-contoh di atas, nampaklah
sejelas-jelasnya bahwa gerak-gerik
jasmani tidak diragukan lagi mempengaruhi
keadaan ruhani. Begitu pula pengalaman menyatakan kepada kita bahwa
makanan yang beraneka-ragam juga mempengaruhi
kemampuan otak
dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang-orang yang tidak pernah makan
daging. Potensi keberanian
mereka lambat-laun semakin berkurang,
sehingga akhirnya hati mereka menjadi lemah
dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.
Kesaksian hukum kudrat berkenaan dengan itu pun membuktikan bahwa di
antara binatang-binatang berkaki empat pemakan rumput tak
seekor pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian
yang dimiliki inatang pemakan
daging. Hal ini dapat kita
saksikan pula pada burung-burung.
Ringkasnya, tidak dapat
diragukan lagi bahwa makanan berpengaruh pada akhlak. Benar, orang-orang yang
siang-malam mengutamakan makan daging dan sangat kurang sekali
makan sayur-mayur
kurang memiliki sifat santun dan rendah hati.
Sedangkan orang-orang yang mengambil jalan tengah mewarisi kedua
sifat tersebut. Mengingat akan hikmah itu Allah
Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
كُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
Yakni,
“makan jugalah daging dan
makanlah jugalah makanan yang lain, akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui
batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keadaan akhlak,
dan agar cara berlebihan itu tidak pula merugikan kesehatan” (Al-A'rāf [7]: 32).”
Dengan
demikian betapa penuh hikmahnya
penempatan telah sempurnanya proses
pengembangan hukum-hukum syariat
dalam wujud agama Islam (Al-Quran) bersamaan dengan peraturan (hukum) berkenaan masalah makanan
dalam Surah Al-Māidah ayat 5 tersebut.
Hubungan Sifat Rabbubiyat Allah Swt. dengan Penyempurnaan Hukum-hukum
Agama (Syariat)
Jadi, pernyataan
Allah Swt. dalam ayat اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا -- Hari
ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu,
telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4), sangat erat hubungannya dengan
Sifat Rabubiyat-Nya yang
terdapat dalam Surah Al-Fatihah,
yang mengisyaratkan kepada hukum evolusi yaitu proses perubahan secara bertahap menuju kesempurnaan yang telah ditetapkan Allah Swt., firman-Nya:
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
-- “segala puji bagi Allah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) seluruh
alam” (QS.1:2).
Kata
kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak,
mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan
menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang
menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara
dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan dengan cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane). Dan jika dipakai
dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabb
dapat dipakai untuk orang atau wujud selain
Allah Swt., contohnya sebutan untuk raja
atau majikan (QS.12: 51).
Al-’ālamīn adalah jamak dari al-’alam, berasal
dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah
dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat
mengetahui Al-Khāliq -- Tuhan Maha Pencipta (Aqrab-ul-Mawarid).
Kata al-’ālamīn tersebut dikenakan bukan saja kepada segala
macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif,
sehingga orang berkata ‘alamul-ins artinya alam
manusia, atau ‘alam-ul-hayawan yakni alam
binatang, serta alam-alam lainnya dari golongan benda-benda
mati (anorganik).
Namun demikian tidak berarti bahwa
Sifat Rabubiyat Allah Swt. sesuai
dengan pendapat Charles Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera,
sebab kedua spesies makhluk Allah Swt. tersebut berlainan alam, yakni manusia dari ‘alamul-ins
(alam manusia) sedangkan kera dari ‘alam-ul-hayawan
(alam binatang).
Kata al-’ālamīn tidak
hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud
berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan
(QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu
dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123).
Di sini kata al-’ālamīn dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa
dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan
sebagainya, semuanya merupakan “produk” Sifat Rabubiyat Allah Swt..
Semua Pujian Sempurna
Hanya Untuk dan Milik Allah Swt.
Ungkapan اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala
puji bagi Allah” lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia
hanya dapat memuji Allah Swt. menurut pengetahuannya yang terbatas,
sedangkan anak kalimat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan
saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian
yang tidak diketahuinya. Allah Swt. layak
mendapat puji-pujian setiap waktu,
terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.
Tambahan pula
kata al-hamd adalah masdar dan karena itu dapat diartikan
kedua-duanya, sebagai pokok kalimat
atau sebagai tujuan kalimat.
Diartikan sebagai pokok kalimat maka Al-hamdulillāhi
berarti hanya Allah Swt. sajalah Wujud Yang berhak
memberikan pujian sejati; dan
diartikan sebagai tujuan kalimat maka Alhamdulillāhi
berarti bahwa segala pujian sejati
dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna
hanya layak bagi Allah Swt. semata-mata.
Jadi, ayat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala
puji bagi Allah Rabb (Pencipta dan
Pemelihara) seluruh alam” menunjuk
kepada hukum evolusi di dunia,
artinya bahwa segala sesuatu
mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus dan
terlaksana secara bertahap.
Dengan demikian Rabb adalah Wujud
(Tuhan) Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu – sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya -- menjelaskan
pula bahwa prinsip evolusi tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt., tetapi proses evolusi yang disebut di sini,
tidak sama dengan teori evolusi
seperti biasanya diartikan bahwa manusia berasal dari kera. Kata evolusi itu dipergunakan
dalam arti umum.
Selanjutnya
ayat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ --
“segala puji bagi Allah Rabb
(Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” menunjuk
kepada kenyataan bahwa manusia
dijadikan untuk kemajuan tidak
terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allah
Swt. mengembangkan
segala sesuatu dari tingkatan rendah
kepada yang lebih tinggi, dan hal itu
hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan
itu diikuti oleh tingkatan lain dalam
proses yang tidak ada henti-hentinya.
Demikian pula proses penyempurnaan hukum-hukum agama (syariat) pun berlaku secara bertahap sehingga mencapai puncak
kesempurnaannya dalam wujud agama
Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama
kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4).
Hikmah Diwahyukan-Nya Al-Quran Secara Bertahap
Sunnatullah tersebut berlaku
pula pada proses pewahyuan
Al-Quran yaitu diwahyukan secara bertahap kepada Nabi Besar Muhammad
saw., berikut firman-Nya mengenai celaan
para penentang Al-Quran dan Nabi
Besar Muhammad saw.:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ
جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ
لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ
رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan orang-orang
kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak
diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?” Seperti itulah Kami telah
menurunkannya supaya Kami meneguhkan hati engkau
dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam
susunan yang sebaik-baiknya. (Al-Furqān
[25]:33).
Al-Quran diwahyukan sedikit-sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal
ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan tertentu yang sangat berguna:
(a) waktu selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan
sempurnanya beberapa nubuatan yang
terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan,
dengan demikian keimanan mereka
menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan
untuk menjawab keberatan-keberatan
yang dilancarkan oleh orang-orang kafir
dalam waktu selang itu.
(b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian
tertentu untuk memenuhi keperluan
tertentu maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.
Wahyu Al-Quran terpencar
sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat
Nabi Besar Muhammad saw. dapat
menghafalkan, mempelajari, dan menyesuaikan
diri. Seandainya wahyu Al-Quran
diturunkan sekaligus dalam bentuk
sebuah kitab yang lengkap, maka orang-orang
kafir dapat mengatakan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. telah menyuruh
seseorang menyiapkannya (QS.16:104;
QS.25:5).
Dengan demikian turunnya Al-Quran
secara bertahap pada waktu-waktu yang
berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam
keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab
keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian
agar supaya dapat dihafalkan di luar
kepala dengan mudah.
Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit
memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut:
“Maka siapa gerangan diajarkannya
pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? kanak-kanak
yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu diceraikan dari susu
emaknya? Karena adalah hukum bertambah
hukum dan hukum bertambah hukum,
syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini
sedikit, di sana sedikit” (Yesaya
28:9-10).
Secara sepintas baiklah kita ketahui bahwa ayat ini (Al-Maidah ayat 4) merupakan ayat yang diwahyukan terakhir, dan Nabi Besar
Muhammad saw. wafat hanya 82
hari sesudah ayat ini turun, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama
kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu
(Al-Māidah
[5]:4).
Kewajiban Manusia Beriman
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Sebutan Muslim Bagi Pemeluk Agama
Tauhid
Dalam Surah lainnya Allah Swt.
berfirman mengenai mutlaknya bagi
manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
Rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna, yakni agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اِنَّ
الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ
مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,
dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi
Kitab melainkan setelah ilmu datang
kepada mereka karena kedengkian
di antara mereka. Dan barang-siapa kafir
kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Semua agama yang benar-benar bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan
kepada kehendak-Nya, namun demikian
hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan
penuh Sifat-sifat sempurna Allah Swt.
dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi. Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam
arti yang sebenarnya.
Semua agama yang benar, lebih
atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang
para pengikut agama-agama itu adalah Muslim
dalam arti kata secara harfiah,
tetapi nama Al-Islam tidak
diberikan sebelum tiba saat bila –
sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah
Swt. (QS.1:2) -- proses penyempurnaan agama
menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat
yang terakhir dan mencapai kesempurnaan
dalam Al-Quran, berikut firman-Nya
mengenai hal tersebut:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb
(Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu
memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan
jihad yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu
dan supaya kamu menjadi saksi
atas umat manusia. Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
Makna Jihad dalam ayat وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- “Dan
berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan
(b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula
berperang untuk membela diri (QS.22:40-42).
Jihad macam pertama dapat
dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allah”.
Nabi Besar Muhammad saw. telah menamakan
jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
Makna kata-kata مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا -- “cIkutilah
agama bapakmu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan
dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan
Nabi Yesaya a.s.:
“maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan
oleh firman Tuhan .....” (Yesaya
62:2 dan 65:15).
Isyarat
dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا -- “dan
dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa
Nabi Ibrahim a.s. yang
dikutip dalam Al-Quran, yaitu: رَبَّنَا وَ
اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
ini hamba yang menyerahkan diri kepada
Engkau, dan juga dari anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang tunduk kepada
Engkau.” (QS.2:129).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 1 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar