بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Orang-orang yang Lumpuh Indra-indra
Ruhaninya & Kebangkitan Ruhani Paling Sempurna Melalui Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Terang Dunia” Hakiki
Bab 22
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab
sebelumnya telah dikemukakan firman Allah Swt. mengenai makna “sayap”
para malaikat, termasuk malaikat
Jibril a.s.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ
یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit dan bumi,
جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat
sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga dan empat. یَزِیۡدُ فِی
الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ --
Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ
مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa
pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak
ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ
لَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fāthir [35]:1-3).
Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga,
mengatur, dan mengawasi atau mengendalikan segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu melaksanakan
perintah dan kehendak Allah Swt.
kepada rasul-rasul-Nya.
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat itu. Dan karena ajnihah merupakan
lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat 2
tersebut mengandung arti bahwa malaikat-malaikat
itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan
kepada mereka masing-masing.
Tugas Malaikat Jibril a.s.
Sebagian malaikat
dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada
yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah
penghulu semua malaikat karena itu pekerjaan
mahapenting yakni menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul
Allah diserahkan kepadanya serta
dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya (QS.2:98-100;
QS.26:193-198), firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ
اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada
sebelumnya, sebagai petunjuk dan
kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh
bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya,
rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.” Dan sungguh
Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,
dan sekali-kali tidak ada
yang kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah
[2]:98-100).
Dalam firman Allah sebelumnya sesudah menyebutkan bahwa Allah Swt. telah
menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan
selengkap-lengkapnya (Al-Fāthir
[35]:3). Ayat selanjutnya menyatakan bahwa
Allah Swt. sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu
Al-Quran: مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa
pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak
ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ
لَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fāthir [35]:3).
Orang-orang yang Indera-indera Ruhaninya Tidak Berfungsi
Sehubungan
dengan sikap permusuhan para
penentang Rasul Allah terhadap
malaikat Jibril a.s. -- yakni mengatakan
bahwa turunnya wahyu Ilahi telah terhenti
(tertutup – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8)
-- Allah Swt. berfirman mengenai mereka
itu sebagai orang-orang yang dalam Al-Quran
disebut tuli, bisu dan buta (QS.2:19 & 172;
QS.6:40; QS.7:180; QS.8:22-24) serta mereka itu akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta pula (QS.17:73; QS.20:125-129), mengenai mereka itu Allah Swt. berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا الَّذِیۡ
یَذۡکُرُ اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ
ہُمۡ بِذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila orang-orang yang kafir itu melihat
kepada engkau mereka menjadikan engkau tidak melainkan
hanya perolokan belaka dan
berkata: “Inikah orangnya yang menyebutkan keburukan tuhan-tuhan kamu?” Padahal mereka
sendirilah yang menolak untuk mengingat Yang Maha
Pemurah. (Al-Anbiya [21]:37). Lihat pula QS.25:42-45.
Apabila seorang orang Arab berkata “la’in dzakartani la-tanda-manna,”
mak-sudnya ialah “jika engkau berkata
tidak baik mengenai diriku, engkau pasti akan menyesal.” (Lexicon Lane). Firman-Nya lagi:
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تُسۡمِعُ
الصُّمَّ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡظُرُ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تَہۡدِی
الۡعُمۡیَ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَظۡلِمُ
النَّاسَ شَیۡئًا وَّ لٰکِنَّ
النَّاسَ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan dari
antara mereka ada orang yang mendengarkan engkau, tetapi dapatkah engkau membuat orang-orang tuli mendengar, walau pun mereka tidak dapat mengerti? Dan dari antara mereka ada orang yang memandang kepada engkau,
tetapi dapatkah engkau memberi petunjuk
orang-orang buta, walaupun mereka tidak melihat? Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah
yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Yunus [10]:43-45).
Orang-orang kafir (penolak kebenaran) tidak memiliki pengertian dan daya pengamatan.
Dalam ayat sebelumnya selain mereka disebut sebagai mahrum (luput) dari
“daya mendengar” juga sebagai “kosong dari pengertian” dan dalam ayat
ini mereka itu disebut buta dan juga hampa dari “daya pengamatan”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِنۡ تَدۡعُوۡہُمۡ اِلَی الۡہُدٰی لَا یَسۡمَعُوۡا ؕ وَ تَرٰىہُمۡ یَنۡظُرُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ ہُمۡ لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu menyeru mereka kepada petunjuk,
mereka tidak akan mendengar, dan engkau
melihat mereka memandang kepada engkau padahal mereka tidak melihat. (Al-A’rāf
[7]:199).
Seseorang yang bergelimang dalam kesesatan enggan menerima kebenaran Rasul
Allah betapa pun terangnya dan tidak
kelirunya Tanda-tanda yang
diperlihatkan kepadanya. Hal demikian membuktikan bahwa kedudukannya tidak
dapat dipertahankan.
Orang-orang kafir melihat perjuangan Islam berderap maju dengan
cepatnya di hadapan mereka namun mereka berpura-pura
tidak melihat dan enggan mengakuinya,
demikian pula halnya di Akhir Zaman ini dengan perjuangan Masih Mau’ud a.s. dalam
upaya mewujudkan kejayaan Islam yang
kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ
اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir
Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Kebangkitan Ketauhidan Melalui Nabi
Besar Muhammad Saw. Sebagai “Terang
Dunia” yang Hakiki
Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tujuan utama pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:
“Hadhrat Rasulullah saw. diutus ke dunia agar beliau mengaruniakan pendengaran kepada manusia yang dilanda ketulian sesudah beberapa ratus tahun. Siapakah yang
dimaksud sebagai orang buta atau yang tuli? Mereka adalah manusia yang tidak mengakui Ketauhidan Ilahi dan mereka yang menolak Rasul yang telah membangkitkan
kembali Ketauhidan Ilahi di muka bumi.
Beliau adalah Rasul yang telah mengubah orang-orang liar
menjadi manusia untuk kemudian mengangkat derajat mereka sebagai manusia yang berakhlak baik,
lalu mewarnai mereka dengan warna-warna
Ilahi dari sosok manusia yang dekat
kepada Tuhan.
Beliau itulah Rasul yang menjadi matahari kebenaran,
yang di kakinya ribuan orang-orang yang batinnya telah mati karena paganisme, atheisme dan kehidupan
dosa, kemudian dibangkitkan. Apa yang dilakukannya tidak semata hanya bicara
seperti halnya yang dilakukan Isa a.s..
Rasul yang muncul di Mekkah itu
telah mengebaskan kegelapan mengenai hubungan
dengan Tuhan dan penyembahan makhluk hidup.
Beliau itulah terang dunia
sesungguhnya, yang menemukan kegelapan di dunia dan mengaruniakan Nur yang telah mengubah malam gelap menjadi siang terang. Bagaimana bentuk
(keadaan) dunia sebelum kedatangan
beliau serta bagaimana akhirnya setelah itu? Ini bukanlah
suatu pertanyaan yang sulit dijawab.
Jika kita beriman maka nurani
kita akan mengingatkan bahwa sebelum
turunnya wujud yang mulia itu
nyatanya kebesaran Tuhan telah dilupakan
manusia di semua negeri, dan keimanan manusia telah dialihkan kepada dewa-dewa, batu, bintang-bintang, pohon, hewan, dan bahkan
manusia lainnya dimana makhluk-makhluk
rendah demikian ditempatkan dimana seharusnya hanya berada Keagungan dan Kesucian
Allah Swt..
Kalau memang benar bahwa manusia, hewan dan bintang-bintang
itu memang Tuhan adanya --
termasuk Yesus -- maka Rasul
ini tidak diperlukan. Kalau mereka
nyatanya bukanlah Tuhan, maka pengakuan yang dinyatakan oleh Penghulu kita Muhammad saw. di bukit kota Mekkah
memiliki Nur yang menyertainya.
Apakah pengakuan tersebut? Pengakuan itu adalah karena Tuhan
melihat betapa dunia ini sudah tenggelam dalam kegelapan
dan telah menyekutukan Tuhan maka Dia telah mengutus beliau untuk
mengusir kegelapan. Hal itu tidak semata berhenti pada pengakuan saja, tetapi Rasul yang diridhai Allah Swt. tersebut sepenuhnya telah menegakkan pengakuan itu.
Kalau keunggulan seorang nabi bisa ditetapkan dengan cara
demikian, sehingga nyata bahwa kasihnya jauh melampaui kasih nabi-nabi lain, maka wahai manusia, sepatutnya kalian bangkit dan bersaksi bahwa dalam hal ini Muhammad
saw. tidak ada padanannya di muka bumi. Tetapi masih ada saja para penyembah
berhala yang buta, yang belum mengakui beribu contoh-contoh kasih
kemanusiaan yang telah dikemukakan oleh Rasul Akbar ini.
Aku sendiri
meyakini bahwa sudah tiba waktunya bagi Nabi Suci ini untuk dikenal
manusia. Silakan kalian catat pernyataanku bahwa mulai sekarang ini penyembahan
seorang yang sudah mati akan mulai menurun sampai
suatu hari nanti pupus sama sekali. Apakah manusia mau mengangkat
dirinya melawan Tuhan?
Mungkinkah senoktah makhluk tidak berarti mencoba
merancukan rencana Tuhan? Mungkinkah rencana manusia maya
ini mempengaruhi kaidah Ilahi?
Wahai kalian yang bertelinga,
dengarlah, dan kalian yang berfikir, renungkanlah dan ingat bahwa
kebenaran
akan dinyatakan dan beliau yang menjadi Nur yang sesungguhnya akan berkilau sepenuhnya.” (Majmua Ishtiharat,
jld. 22, hlm. 67-68).
Bagaikan Binatang Ternak yang Hanya Mendengar “Suara Seruan”
Penggembala
Dalam firman-Nya berikut ini Allah
Swt. menyatakan keadaan orang-orang kafir seperti itu bagaikan “binatang ternak” yang hanya
mendengar bunyi seruan dan teriakan
suara penggembala mereka:
وَ اِذَا
رَاَوۡکَ اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا الَّذِیۡ
بَعَثَ اللّٰہُ رَسُوۡلًا ﴿﴾ اِنۡ
کَادَ لَیُضِلُّنَا عَنۡ اٰلِہَتِنَا
لَوۡ لَاۤ اَنۡ صَبَرۡنَا
عَلَیۡہَا ؕ وَ سَوۡفَ یَعۡلَمُوۡنَ حِیۡنَ یَرَوۡنَ الۡعَذَابَ مَنۡ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا ﴿﴾ اَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ ؕ
اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ عَلَیۡہِ وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ تَحۡسَبُ
اَنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَسۡمَعُوۡنَ
اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ اِنۡ
ہُمۡ اِلَّا کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan apabila mereka melihat kepada engkau, mereka menjadikan engkau hanya sebagai
perolok-olokan saja dan berkata: “Apakah orang ini yang telah dibangkitkan Allah sebagai rasul Sesungguhnya
ia hampir me-nyesatkan kami dari
sembahan-sembahan kami, seandainya kami tidak tetap setia kepada mereka.” Dan segera mereka akan mengetahui pada waktu mereka
menyaksikan azab, siapa yang paling sesat jalannya. Apakah engkau melihat orang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?
Maka apakah engkau menjadi pengawas
atasnya? اَمۡ تَحۡسَبُ اَنَّ اَکۡثَرَہُمۡ
یَسۡمَعُوۡنَ اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ -- Ataukah engkau
menyangka bahwa sesungguhnya
kebanyakan dari mereka mendengar
atau mengerti? اِنۡ ہُمۡ اِلَّا
کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ
اَضَلُّ سَبِیۡلًا -- Mereka tidak lain melainkan seperti hewan ternak bahkan mereka
lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān [25]:42-45).
Firman-Nya
lagi:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ
الَّذِیۡ یَنۡعِقُ
بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً وَّ نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan keadaan orang-orang
kafir itu seperti seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang
tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.
Mereka tuli, bisu, dan buta,
karena itu mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru dan mereka mendengar suara beliau, tetapi tidak
berusaha menangkap maknanya.
Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka
jatuh sampai ke taraf keadaan hewan
dan binatang buas (QS.7:180;
QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan
si pengembala, tetapi tak mengerti
apa yang dikatakannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan untuk penghuni Jahannam
banyak di antara jin dan manusia, mereka
memiliki hati tetapi mereka tidak
mengerti dengannya, mereka memiliki
mata tetapi mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ
کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ -- mereka
itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat. Mereka itulah orang-orang
yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Firman-Nya
lagi:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ
یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا
لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ
﴿﴾
Dan berapa
banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj
[22]:46-47).
Dari
ayat ini jelas bahwa orang-orang mati,
orang-orang buta, dan orang-orang tuli yang dibicarakan dalam ayat ini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang
yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli.
Firman-Nya:
اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪ فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا
کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ
الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا
حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ
بِنُوۡرِہِمۡ وَ
تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Allah akan menghukum perolokan mereka dan membiarkan
mereka berkelana bingung dalam
kedurhakaannya Mereka itulah orang-orang yang telah
membeli yakni menukar kesesatan dengan petunjuk maka perniagaan mereka sama sekali tidak
beruntung dan mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api
itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ -- Mereka tuli,
bisu, buta, maka mereka tidak akan
kembali. (Al-Baqarah [2]:16-19).
Oleh karena mereka tidak
mengacuhkan peringatan Nabi Besar
Muhammad saw. dan tidak pula
berusaha mengungkapkan keragu-raguan mereka agar dapat dihilangkan, dan mereka
telah menjadi tidak peka terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh Islam
di hadapan mata mereka sendiri maka
mereka disebut tuli, bisu, dan buta.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 26 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar