Minggu, 29 November 2015

Orang-orang yang Lumpuh "Indera-indera Ruhaninya" & Kebangkitan Ruhani Paling Sempurna Melalui Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai "Terang Dunia" Hakiki


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Orang-orang yang Lumpuh  Indra-indra Ruhaninya & Kebangkitan Ruhani  Paling Sempurna  Melalui Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Terang Dunia”   Hakiki

Bab 22


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  firman Allah Swt. mengenai makna “sayap”  para malaikat, termasuk  malaikat Jibril a.s.:  
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Segala puji milik Allah   Yang menciptakan seluruh langit dan bumi,  جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ  -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya,  وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (Al-Fāthir [35]:1-3).
  Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi atau mengendalikan segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu  melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt. kepada rasul-rasul-Nya.
  Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat itu. Dan karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat 2  tersebut mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. 

Tugas Malaikat Jibril a.s.

 Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat karena itu pekerjaan mahapenting  yakni  menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah  diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya (QS.2:98-100; QS.26:193-198), firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,  karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ --  Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.”  Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
       Dalam  firman Allah  sebelumnya   sesudah menyebutkan bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan selengkap-lengkapnya  (Al-Fāthir [35]:3).  Ayat  selanjutnya menyatakan   bahwa Allah Swt.  sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu Al-Quran: مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya,  وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ -- dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (Al-Fāthir [35]:3).       

 Orang-orang yang Indera-indera Ruhaninya Tidak Berfungsi

   Sehubungan dengan sikap permusuhan para penentang Rasul Allah terhadap malaikat Jibril a.s.  -- yakni mengatakan bahwa  turunnya wahyu Ilahi telah terhenti (tertutup – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8)  --  Allah Swt. berfirman mengenai mereka itu sebagai orang-orang yang dalam Al-Quran  disebut  tuli, bisu dan buta (QS.2:19 & 172; QS.6:40; QS.7:180; QS.8:22-24) serta mereka itu akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta pula (QS.17:73; QS.20:125-129),  mengenai mereka itu Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ  اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا  الَّذِیۡ  یَذۡکُرُ   اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ   بِذِکۡرِ  الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila  orang-orang yang kafir itu melihat kepada engkau  mereka menjadikan engkau tidak  melainkan  hanya  perolokan belaka  dan berkata:Inikah orangnya yang menyebutkan keburukan  tuhan-tuhan kamu?” Padahal mereka sendirilah yang menolak untuk mengingat Yang Maha Pemurah. (Al-Anbiya [21]:37). Lihat pula QS.25:42-45.
      Apabila seorang orang Arab berkata  “la’in dzakartani la-tanda-manna,” mak-sudnya ialah “jika engkau berkata tidak baik mengenai diriku, engkau pasti akan menyesal.” (Lexicon Lane). Firman-Nya lagi:
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تُسۡمِعُ الصُّمَّ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡظُرُ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تَہۡدِی الۡعُمۡیَ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَظۡلِمُ النَّاسَ شَیۡئًا وَّ لٰکِنَّ النَّاسَ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara mereka ada  orang yang mendengarkan engkau,  tetapi dapatkah  engkau  membuat orang-orang tuli mendengar, walau  pun mereka  tidak dapat mengerti?   Dan  dari antara mereka ada orang yang memandang kepada engkau, tetapi dapatkah engkau memberi petunjuk orang-orang buta, walaupun mereka  tidak melihat?  Sesungguhnya  Allah tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.  (Yunus [10]:43-45).
   Orang-orang kafir (penolak kebenaran) tidak memiliki pengertian dan daya pengamatan. Dalam ayat sebelumnya selain mereka disebut sebagai mahrum (luput) dari “daya mendengar” juga sebagai “kosong dari pengertian” dan dalam ayat ini mereka itu disebut buta dan juga hampa dari “daya pengamatan”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
وَ  اِنۡ تَدۡعُوۡہُمۡ  اِلَی الۡہُدٰی لَا یَسۡمَعُوۡا ؕ وَ تَرٰىہُمۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ ہُمۡ لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu menyeru mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mendengar, dan  engkau melihat mereka memandang kepada engkau padahal mereka tidak melihat.  (Al-A’rāf [7]:199).
  Seseorang yang bergelimang dalam kesesatan enggan menerima kebenaran Rasul Allah  betapa pun terangnya dan tidak kelirunya Tanda-tanda yang diperlihatkan kepadanya. Hal demikian membuktikan bahwa kedudukannya tidak dapat dipertahankan.
  Orang-orang kafir melihat perjuangan Islam berderap maju dengan cepatnya di hadapan mereka namun mereka berpura-pura tidak melihat dan enggan mengakuinya, demikian pula halnya di Akhir Zaman  ini dengan perjuangan Masih Mau’ud a.s. dalam upaya mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
  Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

 Kebangkitan Ketauhidan Melalui Nabi Besar Muhammad Saw.  Sebagai “Terang Dunia” yang Hakiki

 Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai tujuan utama pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:
  “Hadhrat Rasulullah saw. diutus ke dunia agar beliau mengaruniakan pendengaran kepada manusia yang dilanda ketulian sesudah beberapa ratus tahun. Siapakah yang dimaksud sebagai orang buta atau yang tuli? Mereka adalah manusia yang tidak mengakui Ketauhidan Ilahi dan mereka yang menolak Rasul yang telah membangkitkan kembali Ketauhidan Ilahi di muka bumi.
      Beliau adalah Rasul yang telah mengubah orang-orang liar menjadi manusia untuk kemudian mengangkat derajat mereka sebagai manusia yang berakhlak baik, lalu mewarnai mereka dengan warna-warna Ilahi dari sosok manusia yang dekat kepada Tuhan.
    Beliau itulah Rasul yang menjadi matahari kebenaran, yang di kakinya  ribuan orang-orang yang batinnya telah mati karena paganisme, atheisme dan kehidupan dosa, kemudian dibangkitkan. Apa yang dilakukannya tidak semata hanya bicara seperti halnya yang dilakukan Isa a.s.. Rasul yang muncul di Mekkah itu telah mengebaskan kegelapan mengenai hubungan dengan Tuhan dan penyembahan makhluk hidup.
     Beliau itulah terang dunia sesungguhnya, yang menemukan kegelapan di dunia dan mengaruniakan Nur yang telah mengubah malam gelap menjadi siang terang. Bagaimana bentuk (keadaan)  dunia sebelum kedatangan beliau serta bagaimana akhirnya setelah itu? Ini bukanlah suatu pertanyaan yang sulit dijawab.
   Jika kita beriman maka nurani kita akan mengingatkan  bahwa sebelum turunnya wujud yang mulia itu  nyatanya kebesaran Tuhan telah dilupakan manusia di semua negeri,  dan keimanan manusia telah dialihkan kepada dewa-dewa, batu, bintang-bintang, pohon, hewan, dan bahkan manusia lainnya dimana makhluk-makhluk rendah demikian ditempatkan dimana seharusnya hanya berada Keagungan dan Kesucian Allah Swt..
   Kalau memang benar bahwa manusia, hewan dan bintang-bintang itu memang Tuhan adanya  -- termasuk Yesus -- maka Rasul ini tidak diperlukan. Kalau mereka nyatanya bukanlah Tuhan, maka pengakuan yang dinyatakan oleh Penghulu kita Muhammad saw. di bukit kota Mekkah memiliki Nur yang menyertainya.
    Apakah pengakuan tersebut? Pengakuan itu adalah karena Tuhan melihat betapa dunia ini sudah tenggelam dalam kegelapan dan telah menyekutukan Tuhan maka Dia telah mengutus beliau untuk mengusir kegelapan. Hal itu tidak semata berhenti pada pengakuan saja, tetapi Rasul yang diridhai Allah Swt.  tersebut sepenuhnya telah menegakkan pengakuan itu.
   Kalau keunggulan seorang nabi bisa ditetapkan dengan cara demikian, sehingga nyata bahwa kasihnya jauh melampaui kasih  nabi-nabi lain, maka wahai manusia, sepatutnya kalian bangkit dan bersaksi bahwa dalam hal ini Muhammad saw. tidak ada padanannya di muka bumi.   Tetapi masih ada saja para penyembah berhala yang buta,  yang belum mengakui beribu contoh-contoh kasih kemanusiaan yang telah dikemukakan oleh Rasul Akbar ini.
   Aku sendiri meyakini bahwa sudah tiba waktunya bagi Nabi Suci ini untuk dikenal manusia. Silakan kalian catat pernyataanku bahwa mulai sekarang ini penyembahan seorang yang sudah mati akan mulai menurun sampai suatu hari nanti pupus sama sekali. Apakah manusia mau mengangkat dirinya melawan Tuhan? Mungkinkah senoktah makhluk tidak berarti mencoba merancukan rencana Tuhan? Mungkinkah rencana manusia maya ini mempengaruhi kaidah Ilahi?
  Wahai kalian yang bertelinga, dengarlah, dan kalian yang berfikir, renungkanlah dan ingat bahwa kebenaran akan dinyatakan dan beliau yang menjadi Nur yang sesungguhnya akan berkilau sepenuhnya.” (Majmua Ishtiharat, jld. 22, hlm. 67-68).

Bagaikan Binatang Ternak yang Hanya Mendengar “Suara Seruan” Penggembala

    Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. menyatakan keadaan orang-orang  kafir seperti itu bagaikan “binatang ternak” yang hanya mendengar  bunyi seruan dan teriakan suara penggembala mereka:
وَ اِذَا رَاَوۡکَ اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا  الَّذِیۡ  بَعَثَ  اللّٰہُ  رَسُوۡلًا ﴿﴾  اِنۡ  کَادَ  لَیُضِلُّنَا عَنۡ  اٰلِہَتِنَا  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ صَبَرۡنَا عَلَیۡہَا ؕ وَ سَوۡفَ یَعۡلَمُوۡنَ حِیۡنَ یَرَوۡنَ الۡعَذَابَ مَنۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ ؕ اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ  عَلَیۡہِ   وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اَمۡ  تَحۡسَبُ اَنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  یَسۡمَعُوۡنَ  اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ اِنۡ  ہُمۡ   اِلَّا  کَالۡاَنۡعَامِ  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan apabila mereka melihat kepada engkau, mereka menjadikan engkau hanya sebagai perolok-olokan saja dan berkata: Apakah orang ini yang telah dibangkitkan Allah sebagai rasul   Sesungguhnya ia hampir me-nyesatkan kami dari sembahan-sembahan kami, seandainya kami tidak tetap setia kepada mereka.” Dan segera mereka akan mengetahui pada waktu  mereka menyaksikan azab, siapa yang  paling sesat jalannya.  Apakah engkau melihat  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau menjadi pengawas atasnya?  اَمۡ  تَحۡسَبُ اَنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  یَسۡمَعُوۡنَ  اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ  --  Ataukah engkau menyangka  bahwa sesungguhnya kebanyakan dari mereka mendengar atau mengerti? اِنۡ  ہُمۡ   اِلَّا  کَالۡاَنۡعَامِ  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا  --  Mereka tidak lain melainkan seperti hewan ternak  bahkan mereka lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān [25]:42-45).
Firman-Nya lagi:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.  Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
   Nabi Besar Muhammad saw.  menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau   saw. itu penyeru dan mereka mendengar suara beliau, tetapi tidak berusaha menangkap maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw.  seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ --  mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Firman-Nya lagi:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi.   Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.  (Al-Hājj [22]:46-47).
       Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli yang dibicarakan  dalam ayat ini  atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli. Firman-Nya:
 اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ  فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪  فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ  فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Allah akan menghukum  perolokan mereka dan   membiarkan mereka berkelana bingung dalam kedurhakaannya    Mereka itulah orang-orang yang  telah membeli yakni menukar kesesatan dengan petunjuk  maka   perniagaan mereka sama sekali tidak beruntung dan mereka  sama sekali bukanlah orang-orang yang  mendapat petunjuk.   Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan  meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihatصُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ  --  Mereka  tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali. (Al-Baqarah [2]:16-19).
      Oleh karena mereka tidak mengacuhkan peringatan Nabi Besar Muhammad saw. dan tidak pula berusaha mengungkapkan keragu-raguan mereka agar dapat dihilangkan, dan mereka telah menjadi tidak peka terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh Islam di hadapan mata mereka sendiri  maka mereka disebut tuli, bisu, dan buta.

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26  November 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar