Jumat, 27 November 2015

Makna Perintah Mengirimkan "Shalawat" Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Hubungan "Makrifat Ilahi" dengan Pelaksanaan Ibadah Kepada Allah Swt.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Bab 20

Makna Perintah Mengirimkan Shalawat Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.  & Hubungan Makrifat Ilahi  dengan Pelaksanaan Ibadah Kepada Allah Swt.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab-bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai makna ayat وَ تَخۡشَی النَّاسَ -- “engkau takut kepada manusia”  (QS.33:38), yang banyak disalah-tafsirkan mengenai Nabi Besar Muhammad saw., haltersebut  sama sekali tidak ada kaitannya dengan tuduhan dusta  beberapa kiritikus lawan Islam dari kalangan Kristen yang berlagak telah menemukan suatu dasar (alasan) dalam pernikahan  Nabi Besar Muhammad saw..   dengan Sitti Zainab r.a.  untuk melakukan serangan keji terhadap beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ  اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِ  اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ  وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ  وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ   اَحَقُّ اَنۡ  تَخۡشٰہُ ؕ فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا زَوَّجۡنٰکَہَا  لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ  فِیۡۤ  اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ  اِذَا  قَضَوۡا  مِنۡہُنَّ  وَطَرًا ؕ وَ کَانَ   اَمۡرُ  اللّٰہِ  مَفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya: اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ    --  Pertahankanlah terus istri engkau pada diri engkau  dan bertakwalah kepada Allah”, وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ  وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ   اَحَقُّ اَنۡ  تَخۡشٰہُ  -- sedangkan engkau menyembunyikan dalam hati engkau apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak agar engkau takut kepada-Nya.  فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا --  Maka tatkala Zaid menetapkan keinginannya terhadap dia,  زَوَّجۡنٰکَہَا  لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ  فِیۡۤ  اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ  اِذَا  قَضَوۡا  مِنۡہُنَّ  وَطَرًا ؕ    -- Kami menikahkan engkau dengan dia  supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang beriman menikahi bekas istri anak-anak angkatnya  apabila mereka telah menetapkan keinginannya mengenai mereka, وَ کَانَ   اَمۡرُ  اللّٰہِ  مَفۡعُوۡلًا  -- dan keputusan Allah pasti akan terlaksana. (Al-Ahzāb [33]:40).

Tuduhan Dusta (Fitnah)  Para Kritikus Non-Muslim

  Telah dinyatakan oleh mereka yang berhati bengkok,  bahwa karena secara kebetulan  Nabi Besar Muhammad saw.   melihat Sitti Zainab r.a., beliau saw.  jatuh cinta karena terpesona oleh kecantikannya, dan karena Zaid bin Haritsah r.a.  telah mengetahui hasrat  Nabi Besar Muhammad saw. untuk memperistrikan Sitti Zainab r.a. lalu berusaha menceraikan istrinya.
   Kenyataan bahwa musuh-musuh pun yang menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata mereka sendiri, tidak berani mengaitkan dasar pikiran (motif) rendah seperti kini dikaitkan kepada beliau saw. oleh kritikus-kritikus yang hidup sesudah lewat beberapa abad itu, sama sekali melenyapkan tuduhan keji dan sungguh tak berdasar itu  sampai ke akar-akarnya.
    Sitti Zainab r.a. adalah saudara sepupu beliau dan karena demikian dekatnya hubungan kekeluargaan beliau maka  Nabi Besar Muhammad saw.  pasti telah melihat beliau acapkali sebelum “pardah” diperintahkan (QS.24:32; QS.33:60). Kecuali itu, karena menghormati keinginan beliau saw.   yang terus menerus dikemukakan itulah, maka Sitti Zainab telah menyetujui dengan rasa enggan untuk menikah dengan Zaid bin Haritsah r.a..
      Tersurat di dalam riwayat, bahwa Sitti Zainab r.a. dan kakaknya telah berhasrat sebelum beliau menikah dengan Zaid  agar beliau diperistri  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri. Apakah kiranya yang menghambat  Nabi Besar Muhammad saw. memperistri beliau ketika beliau masih gadis dan beliau sendiri mengharapkan diperistri oleh  Nabi Besar Muhammad saw.?
      Seluruh peristiwa itu nampaknya  jelas merupakan rekaan “yang kaya” dayacipta para kritikus yang tidak bersahabat terhadap, dan mempercayai hal itu merupakan suatu penghinaan terhadap akal sehat manusia, karena semua itu samata-mata merupakan perintah Allah Swt., bukan kehendak Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana ayat: زَوَّجۡنٰکَہَا  لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ  فِیۡۤ  اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ  اِذَا  قَضَوۡا  مِنۡہُنَّ  وَطَرًا ؕ    -- Kami menikahkan engkau dengan dia  supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang beriman menikahi bekas istri anak-anak angkatnya  apabila mereka telah menetapkan keinginannya mengenai mereka.” Lebih lanjut Allah Swt. berfirman:
مَا کَانَ عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ  لَہٗ ؕ سُنَّۃَ اللّٰہِ  فِی الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ وَ کَانَ  اَمۡرُ  اللّٰہِ   قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا ﴿۫ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا ﴿﴾
Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai  apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya. Inilah sunnah Allah yang Dia tetapkan terhadap orang-orang yang telah berlalu sebelumnya, وَ کَانَ  اَمۡرُ  اللّٰہِ   قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا  -- dan perintah Allah ada-lah suatu keputusan yang telah ditetapkan. لَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ --   Orang-orang yang menyampaikan amanat Allah dan  takut kepada-Nya, dan tidak ada mereka takut siapa pun selain Allah, وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا  -- dan cukuplah Allah sebagai Penghisab. (Al-Ahzāb [33]:39-40). 
      Yang diisyaratkan dalam kata-kata  مَا کَانَ عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ  لَہٗ   -- “Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai  apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya” ialah pernikahan Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Sitti Zainab r.a. Kata-kata itu menunjukkan bahwa pernikahan beliau terjadi dalam menaati suatu peraturan Ilahi yang   sifatnya khusus, yakni menurut ajaran Islam (Al-Quran) tidak ada larangan bagi  ayah-angkat menikahi janda (mantan istri) anak-angkat, sebab tidak akan menimbulkan kesemrawutan dalam masalah hubungan darah.

Kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Menegakkan yang Haq

  Sehubungan dengan kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad saw. dalam menegakkan (mengamalkan) ajaran Islam (Al-Quran) -- untuk menjadi petunjuk pelaksanaan bagi para pengamalnya  (QS.3:32; QS.33:2) -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
         “Kalau kita pertimbangkan secara adil maka dari semua rangkaian para nabi, kita akan menemukan satu sosok yang paling gagah berani dan amat dikasihi Allah Swt.,  Penghulu segala nabi, kebanggaan dan mahkota para nabi yang bernama Muhammad Mustafa dan Ahmad Mujtaba.
    Jika seseorang berjalan di bawah naungan bayangan beliau selama 10 hari maka ia akan memperoleh Nur yang sebelumnya tidak akan pernah didapatnya dalam 1000 tahun. Kami telah menemukan berbagai Nur dengan cara menteladani Nabi Suci ini, dan siapa pun akan menemukan hal yang sama jika menteladani beliau, karena ia akan memperoleh keridhaan Allah Swt.. sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang tidak mungkin baginya.
    Allah Yang Maha Hidup yang tersembunyi dari manusia akan menjadi Tuhan-nya,  dan semua tuhan palsu akan diinjak-injak di bawah kakinya. Ia akan diberkati di mana-mana dan Kekuasaan Ilahi akan mengikutinya. Salam bagi mereka yang mengikuti bimbingan ini. (Siraj Munir, Ziaul Islam Press, Qadian, 1897, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 12, hlm. 82-83, London, 1984).
  Kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad saw. tersebut tidak hanya ketika menghadapi musuh kebenaran dalam peperangan secara fisik, misalnya dalam Perang Uhud dan Perang Hunain, tetapi juga mengisyaratkan keberanian dan kemampuan secara ruhani,  contohnya adalah kesanggupan beliau saw. menerima syariat terakhir dan tersempurna (QS.33:73-74; QS.7:144).
    Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai hikmah gelar  Khātaman Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad saw.:
    “Di bawah langit ini hanya ada satu Rasul dan hanya ada satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad saw. yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua rasul, beliau adalah Khātaman Nabiyyīn, manusia yang terbaik dimana jika kita menteladaninya maka kita akan bertemu dengan Allah Swt.  dan semua tabir kegelapan akan terangkat serta kita akan bisa menyaksikan keselamatan haqiqi bahkan ketika masih di dunia ini.
      Kitab tersebut adalah Al-Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna, yang melaluinya  manusia bisa memperoleh pengetahuan serta pemahaman Ilahi dan hati menjadi bersih dari segala kelemahan manusiawi serta diangkat kerak kebodohan, ketidak-acuhan dan keraguannya, sehingga ia mampu mencapai tingkat kepastian yang paling sempurna.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 557-558, London, 1984).

Perintah Mengirimkan Shalawat Kepada Nabi Besar Muhammad saw.

    Dari Al-Quran diketahui bahwa  apa pun yang diucapkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah sesuai dengan perintah dan kehendak Allah Swt. (QS.53:1-8), mengenai hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda: 
   “Ada berjuta-juta manusia yang berfitrat bersih di dunia ini dan masih akan banyak pula ditemui di masa depan, namun manusia terbaik yang pernah ditemui serta hamba Allah yang paling mulia adalah Muhammad saw. saja.
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ  یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَیۡہِ  وَ سَلِّمُوۡا  تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi ini dan para malaikat-Nya mendoakan dia. Hai orang-orang beriman, kamu pun harus mengirimkan salawat atas dia, Nabi ini, dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan  (Al-Ahzāb [33]:57).
   Kita sementara tidak perhatikan orang-orang suci yang penjelasannya tidak terlalu lengkap di dalam Al-Quran. Kita konsentrasikan perhatian kepada para rasul yang disebutkan di dalam Al-Quran seperti Musa, Daud, Isa dan nabi-nabi lain, salam atas mereka semua.
  Kami bersumpah dengan memanggil Allah sebagai saksi, bahwa jika Hadhrat Rasulullah saw. tidak turun (diutus) di dunia ini dan Al-Quran tidak diwahyukan, dan kami tidak ada menyaksikan segala berkat yang telah kami saksikan, maka kebenaran dari semua rasul-rasul lainnya akan tetap merupakan suatu hal yang meragukan di kalbu kami.
     Tidak ada realitas  (kenyataan) yang bisa diungkapkan dari dongeng-dongeng yang beredar,  karena bisa jadi cerita itu tidak benar dan bisa saja semua mukjizat yang diakukan (dinisnahkan) kepada masing-masing rasul tersebut merupakan hal yang dilebih-lebihkan karena tidak ada tandanya yang tersisa di zaman ini.
      Dari Kitab-kitab lama tersebut kami pun tidak akan mungkin bisa meyakini secara pasti bahwa Tuhan itu benar ada, karena kami tidak diberi keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara kepada manusia. Namun dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. maka semua cerita tersebut menjadi kenyataan.
   Kita tidak meyakininya semata-mata sebagai suatu pernyataan saja tetapi sebagai hasil pengalaman dari apa yang namanya berbicara dengan Tuhan, bagaimana Tanda-tanda Tuhan dimanifestasikan dan bagaimana doa-doa dikabulkan.
    Semua hal ini telah kami temui karena menteladani Hadhrat Rasulullah saw., sedangkan apa yang diungkapkan orang-orang sebagai cerita, kami malah telah menyaksikannya. Kami telah melekatkan diri kami kepada seorang Rasul yang telah memanifestasikan Tuhan kepada kami. Seorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Rohul Qudus.
Aku tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
  Bagaimana caranya kami bisa bersyukur kepada Allah Swt.  Yang telah mengaruniakan rezeki mulia untuk menjadi pengikut seorang Rasul yang menjadi matahari bagi kalbu manusia yang bertakwa,  sebagaimana layaknya sang surya bagi tubuh kita. Beliau muncul di saat kegelapan dan telah mencerahkan dunia dengan Nur beliau. Beliau tidak ada merasa lelah dan pegal sampai telah dibersihkannya jazirah Arab dari perbuatan menyekutukan Allah  Swt...  
    Beliau adalah bukti dari kebenaran wujud beliau sendiri karena Nur beliau tetap kemilau di segala zaman, sedangkan kepatuhan sepenuhnya kepada beliau akan mensucikan seseorang sebagaimana air jernih sebuah sungai membersihkan kain yang kotor.
    Siapakah yang telah datang kepada kami dengan hati yang tulus dan masih juga belum menyaksikan Nur tersebut, padahal sebelumnya ia telah mengetuk di pintu yang sama tanpa hasil? Hanya saja sayangnya kebanyakan manusia lebih memilih kehidupan akhlak yang rendah dan tidak menginginkan adanya Nur masuk ke dalam batinnya.”  (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,   jld. 23, hlm. 301-303, London, 1984).

Pengetahuan (Makrifat)  Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Tentang Sifat Ilahi

   Ajaran Islam (Al-Quran) sangat erat dengan berbagai macam ilmu pengetahuan jasmani mau pun  ilmu pengetahuan ruhani, itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut alam semesta ciptaannya   al-‘ālamīn (seluruh alam), firman-Nya:  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     -- segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” (Al-Fatihah [1]:2), yang akan menjuruskan  orang-orang yang mempergunakan akalnya (ulul-albab)  kepada keberadaan Allah Swt. dan   kesempurnaan  Sifat-sifat-Nya. (QS.3:191-195; QS.35:28-29).
     Al-’ālamīn  adalah jamak dari al-’alam, berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq  --  Maha Pencipta (Aqrab-ul-Mawarid), kata tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan(diciptakan) tetapi juga  kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan   yakni alam binatang‘alam-ul-nabat   yakni alam tumbuh-tumbuhan.
     Kata al-’ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran  pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123).
Di sini kata al-’ālamīn  dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah Swt.” yakni  benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.
     Sehubungan dengan  pentingnya memiliki ilmu pengetahuan  tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya memiliki makrifat Ilahi:
     “Nabi Suci Rasulullah saw. diperintahkan di dalam Al-Quran untuk memohon:
رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا
Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),   tambahkanlah   kepadaku  ilmu pengetahuan  (Thā Hā [20]:115).
  Yakni  Rasulullah saw. dibimbing untuk berdoa bagi pengetahuan yang sempurna mengenai keagungan, pemahaman dan Sifat-sifat Tuhan. Di tempat lain dikatakan:
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
Demikian itulah aku diperintahkan dan akulah orang pertama di antara orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (Al-Anām [6]:164).
  Membaca kedua ayat di atas, kita akan berkesimpulan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. adalah yang paling utama dari antara para Muslim, karena beliau adalah sosok yang paling mengetahui pemahaman tentang Tuhan. Atas dasar hal itu maka iman Islam beliau adalah yang tertinggi dari segalanya dan beliau adalah penghulu dari semua umat Muslim.

 Hubungan  Makrifat Ilahi  dengan  Pelaksanaan Ibadah

    Ayat lainnya yang juga menggambarkan kejembaran pengetahuan beliau adalah:
عَلَّمَکَ مَا لَمۡ تَکُنۡ تَعۡلَمُ ؕ وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
 Dia telah mengajarkan kepada engkau apa yang tadinya engkau tidak mengetahui, dan karunia Allah atas engkau sangat besar  (Al-Nisā [4]:114).
  Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. telah mengajarkan kepada Rasulullah saw. segala hal yang tak mungkin dipelajari beliau sendiri.  dan berkat rahmat Ilahi  beliau itu memperoleh berkat lebih banyak dibanding manusia lainnya.
  Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. jauh melampaui siapa pun dalam pengetahuan dan pemahaman Ilahi dan karenanya Allah Yang Maha Agung telah mengharumkan beliau dengan wewangian pemahaman Ilahi lebih dari siapa pun. Demikian itulah Tuhan telah menjadikan pengetahuan dan pemahaman sebagai sarana pokok untuk memperoleh pengertian tentang konsep Islam yang sebenarnya.
   Meski pun memang ada cara-cara lain untuk memperoleh pengetahuan demikian, seperti melalui puasa, shalat, doa dan melaksanakan perintah Ilahi (yang jumlahnya melampaui 600 macam), namun pengetahuan tentang Kebesaran, Ketauhidan dan Sifat-sifat Allah  Swt.  menyangkut Keagungan dan Keindahan-Nya merupakan hal yang pokok bagi yang lainnya.
       Ia yang hatinya tidak acuh dan tidak memiliki pemahaman tentang Ke-Ilahi-an, tak akan mungkin mendapat kekuatan untuk melaksanakan puasa, melaksanakan shalat, berdoa atau pun menyibukkan diri dengan amal saleh. Semua amal saleh dicetuskan oleh pemahaman Ke-Ilahi-an, sedangkan cara lainnya semua bersumber dari keadaan demikian serta menjadi hasil ikutannya.
    Awal dari pemahaman ini merupakan cerminan dari  Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.  dan bukan merupakan hasil permohonan atau tindakan dari manusia, melainkan semata-mata karunia dalam artinya yang murni. Dia akan menuntun mereka yang dipilih-Nya dan Dia akan membiarkan tersesat mereka yang dikehendaki-Nya. Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh amal saleh dan iman yang benar, sehingga seluruhnya mewujud menjadi wahyu yang turun berupa firman Allah guna mencerahkan seluruh kalbu dengan Nur yang bernama Islam.

Keutamaan Mengikuti Ajaran Nabi Besar Muhammad saw.

   Pada tingkat pemahaman yang sempurna, Islam bukanlah hanya semata istilah tetapi merupakan pencapaian semua realitas tersebut di atas dimana batin manusia akan menyungkurkan diri di hadapan Ketauhidan Ilahi. Setelah itu maka dari kedua sisi akan terlontar kata-kata: “Apa pun yang menjadi milikku adalah milik Engkau juga.” Yang dimaksud, ketika batin manusia berseru dan mengakui: “Ya Allah, apa pun milikku adalah kepunyaan Engkausedangkan Tuhan akan berfirman memberitahukan: ‘Wahai hamba-Ku, langit dan bumi yang beserta-Ku adalah beserta engkau  juga.’ Tingkatan ini diindikasikan dalam ayat:
یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا
Hai hamba-hamba-Ku yang telah berdosa terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa (Al-Zumar [39]:54).
   Dalam ayat tersebut tidak digunakan kata ‘Hai hamba-hamba Allah’ melainkan digunakan kata ‘Hai hamba-hamba-Ku.’ Ayat ini diwahyukan dalam bentuknya tersebut agar manusia mengerti bahwa Allah bermaksud memberitahukan kabar gembira tentang adanya rahmat tanpa batas dan dengan demikian bisa menghibur hati mereka yang telah patah karena dosa-dosanya. Dengan demikian Allah Yang Maha Agung bermaksud memperlihatkan contoh dari rahmat-Nya dan memanifestasikan seberapa jauh Dia akan mengagungkan seorang hamba yang setia dengan berkat-berkat khusus.
    Dengan menggunakan kata-kata ‘Hai hamba-hamba-Ku’ sebenarnya Tuhan bermaksud mengutarakan: “Tengoklah Rasul-Ku yang tercinta dan lihat betapa tingginya derajat yang telah dicapainya berkat kepatuhannya yang sempurna kepada-Ku sehingga sekarang ini apa yang menjadi milik-Ku adalah juga menjadi miliknya. Siapa yang menginginkan keselamatan, sepatutnya menjadi hambanya juga, dengan pengertian bahwa mereka harus mematuhinya secara sempurna sebagaimana laku seorang hamba, maka semua dosa-dosanya akan diampuni.”
      Perkataan ‘abd’ dalam istilah bahasa Arab berarti hamba sahaya seperti yang diungkapkan dalam ayat:
لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ
Sahaya laki-laki yang beriman niscaya lebih baik daripada laki-laki musyrik’ (Al-Baqarah [2]:222).
   Pada ayat sebelumnya  telah dikemukakan bahwa ia yang mengharapkan keselamatan, agar menciptakan hubungan sebagai hamba sahaya kepada Rasul ini, dengan pengertian bahwa ia tidak akan melanggar semua perintah beliau dan mengikatkan dirinya sebagaimana seorang sahaya terikat kepada majikannya, barulah ia akan mendapatkan keselamatan.

Makna Kata “Ghulam” (Hamba)

    Kita patut mengasihani mereka yang berhati gelap yang membenci nama-nama seperti Ghulam Nabi, Ghulam Rasul, Ghulam Mustafa, Ghulam Ahmad dan Ghulam Muhammad karena menganggapnya sebagai menyekutukan Rasulullah dengan Allah Swt.. padahal nama-nama itu sebenarnya menggambarkan keberkatan.
    Sebagaimana seorang ‘abd (hamba) mengimplikasikan bahwa seseorang yang bernama demikian harus membatasi diri dari segala kemerdekaan dan hanya patuh sepenuhnya kepada majikannya saja, karena itulah para pencari kebenaran yang mencari keselamatan  dianjurkan untuk menyesuaikan dirinya pada kondisi demikian itu. Ayat ini memiliki konotasi yang sama dengan ayat:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu’ (Āli Imran [3]:32).
   Menjadi pengikut yang sempurna menuntut adanya pengabdian dan kepatuhan sepenuhnya sebagaimana terkandung dalam perkataan ‘abd’ (hamba). Ayat yang menyatakan Hai hamba-hamba-Ku secara intinya bermakna: “Wahai para pengikut-Ku yang bergelimang dosa, janganlah kalian berputus asa akan rahmat Allah karena Allah --  berkat kalian mengikut padaku --  akan mengampuni dosa-dosa kalian.” 
      Allah tidak akan memaafkan para penyembah berhala dan orang-orang kafir jika mereka tidak beriman dan mengikuti Hadhrat Rasululllah saw.. Dalam ayat tersebut tersirat bahwa para hamba sahaya yang tulus dari Rasulullah saw. akan memperoleh karunia Nur keimanan, kecintaan dan semangat yang akan menyelamatkan mereka dari segala sesuatu yang menyekutukan Allah, dan mereka akan dibebaskan dari dosa-dosa serta dikaruniai dengan kehidupan yang suci di dunia ini, bebas dari kuburan gelap nafsu-nafsu manusiawi. Hal ini diindikasikan dalam sebuah Hadits (Bukhari):
“Aku adalah yang membangkitkan kembali dan dengan mengikuti aku maka orang-orang akan dibangkitkan.”
    Kitab Suci Al-Quran penuh dengan idiom  (peribahasa) yang menyatakan bahwa dunia ini sebenarnya sudah mati dan Allah Yang Maha Agung telah menghidupkannya kembali dengan menurunkan Hadhrat Rasulullah saw. sebagaimana dinyatakan:
اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ
 Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya  (Al-Hadīd [57]:18).
Begitu pula mengenai para sahabat Rasulullah saw. dikatakan:
اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ
 Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia Sendiri  (Al-Mujadilah [58]:23).

Makna “700 Sayap Malaikat” dan “700  Telur Kemanusiaan

   Ilham atau wahyu amat membantu dalam menghidupkan kembali batin seorang manusia dan menyelamatkannya dari kematian ruhani serta memberikan seseorang indera yang aktif dan pengetahuan yang murni yang bisa membawa manusia kepada kedekatan dengan Tuhan-nya.
    Pengetahuan yang atasnya didasarkan keselamatan ruhani tidak bisa didapat begitu saja tanpa kedekatan dengan jiwa yang diberkati Ruhul kudus. Kitab Al-Quran menegaskan bahwa kehidupan ruhaniah hanya mungkin diperoleh dengan cara mengikut   Hadhrat Rasulullah saw. sedangkan mereka yang menolak beliau sesungguhnya berada dalam keadaan mati.
  Yang dimaksud dengan kehidupan ruhaniah adalah kemampuan intelektual dan indera yang aktif yang dihidupkan oleh Ruhulqudus. Kitab Al-Quran mengemukakan ada 700 kaidah Ilahi yang harus diikuti (diamalkan) oleh manusia. Sejalan dengan itu maka sayap malaikat Jibrail pun terdiri dari 700  pula. Sebelum telur kemanusiaan diletakkan di bawah sayap Jibrail yang bermakna 700 kaidah (hukum) demikian maka belum atau tidak akan dilahirkan seorang bayi yang sepenuhnya fana (tenggelam/larut) kepada Ilahi.   
   Realitas manusia sebenarnya memiliki kapasitas dari 700 telur [kemanusiaan]. Seseorang yang 700 telur [kemanusiaan]nya dierami oleh 700 sayap sifat dari Jibrail adalah seorang yang sempurna dengan kelahiran ruhaniah yang sempurna dan yang hidupnya menjadi sempurna.
   Kalau saja manusia mau memperhatikan maka ia akan melihat bahwa kelahiran ruhaniah dari telur inti kemanusiaan,  sebagai hasil dari kepatuhan kepada Rasulullah saw. adalah yang sebenarnya berasal dari Ruhulqudus,  dan mereka ini jauh lebih sempurna dan lengkap dibanding anak-anak keruhanian dari nabi-nabi lainnya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia (Āli Imran [3]:111).
(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 186-197, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24  November 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar