بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Bab 20
Makna Perintah Mengirimkan Shalawat Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
& Hubungan Makrifat Ilahi dengan
Pelaksanaan Ibadah Kepada Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab-bab sebelumnya telah
dikemukakan mengenai makna ayat وَ تَخۡشَی
النَّاسَ -- “engkau takut kepada manusia” (QS.33:38), yang banyak disalah-tafsirkan mengenai Nabi Besar Muhammad saw., haltersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan tuduhan dusta beberapa kiritikus
lawan Islam dari kalangan Kristen yang berlagak telah menemukan suatu dasar (alasan) dalam pernikahan Nabi Besar Muhammad saw.. dengan Sitti Zainab r.a. untuk melakukan serangan keji terhadap beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ
تَقُوۡلُ لِلَّذِیۡۤ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِ وَ اَنۡعَمۡتَ
عَلَیۡہِ اَمۡسِکۡ عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ
اتَّقِ اللّٰہَ وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ
مَا اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ وَ تَخۡشَی
النَّاسَ ۚ وَ اللّٰہُ اَحَقُّ اَنۡ تَخۡشٰہُ ؕ فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا
وَطَرًا زَوَّجۡنٰکَہَا لِکَیۡ لَا
یَکُوۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
حَرَجٌ فِیۡۤ اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ اِذَا
قَضَوۡا مِنۡہُنَّ وَطَرًا ؕ وَ کَانَ اَمۡرُ
اللّٰہِ مَفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat
kepadanya dan engkau pun telah
memberi nikmat kepadanya: اَمۡسِکۡ
عَلَیۡکَ زَوۡجَکَ وَ اتَّقِ اللّٰہَ -- “Pertahankanlah
terus istri engkau pada diri engkau dan bertakwalah
kepada Allah”, وَ تُخۡفِیۡ فِیۡ نَفۡسِکَ مَا
اللّٰہُ مُبۡدِیۡہِ وَ تَخۡشَی النَّاسَ ۚ
وَ اللّٰہُ اَحَقُّ اَنۡ تَخۡشٰہُ -- sedangkan engkau menyembunyikan dalam hati engkau apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak agar engkau takut
kepada-Nya. فَلَمَّا قَضٰی زَیۡدٌ مِّنۡہَا وَطَرًا -- Maka tatkala Zaid menetapkan keinginannya terhadap dia, زَوَّجۡنٰکَہَا لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ فِیۡۤ
اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ
اِذَا قَضَوۡا مِنۡہُنَّ
وَطَرًا ؕ -- Kami menikahkan engkau dengan dia
supaya tidak akan ada keberatan
bagi orang-orang beriman menikahi bekas istri anak-anak angkatnya
apabila mereka telah menetapkan
keinginannya mengenai mereka, وَ
کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ
مَفۡعُوۡلًا -- dan
keputusan Allah pasti akan terlaksana.
(Al-Ahzāb [33]:40).
Tuduhan Dusta (Fitnah) Para Kritikus
Non-Muslim
Telah dinyatakan oleh mereka yang berhati bengkok, bahwa karena secara kebetulan Nabi Besar
Muhammad saw. melihat Sitti Zainab r.a., beliau saw. jatuh
cinta karena terpesona oleh kecantikannya, dan karena Zaid bin
Haritsah r.a. telah
mengetahui hasrat Nabi Besar Muhammad saw. untuk memperistrikan Sitti Zainab r.a. lalu
berusaha menceraikan istrinya.
Kenyataan bahwa musuh-musuh
pun yang menyaksikan seluruh kejadian
itu dengan mata mereka sendiri, tidak berani mengaitkan dasar pikiran (motif) rendah
seperti kini dikaitkan kepada beliau saw. oleh kritikus-kritikus yang hidup sesudah lewat beberapa abad itu, sama
sekali melenyapkan tuduhan keji dan
sungguh tak berdasar itu sampai ke akar-akarnya.
Sitti Zainab r.a. adalah saudara sepupu beliau dan karena
demikian dekatnya hubungan kekeluargaan
beliau maka Nabi Besar Muhammad saw. pasti telah melihat beliau acapkali
sebelum “pardah” diperintahkan
(QS.24:32; QS.33:60). Kecuali itu, karena menghormati
keinginan beliau saw. yang
terus menerus dikemukakan itulah, maka Sitti
Zainab telah menyetujui dengan rasa
enggan untuk menikah dengan Zaid
bin Haritsah r.a..
Tersurat di dalam riwayat, bahwa
Sitti Zainab r.a. dan kakaknya telah berhasrat
sebelum beliau menikah dengan Zaid agar
beliau diperistri Nabi Besar Muhammad saw. sendiri. Apakah
kiranya yang menghambat Nabi Besar Muhammad saw. memperistri
beliau ketika beliau masih gadis dan
beliau sendiri mengharapkan diperistri
oleh Nabi Besar Muhammad saw.?
Seluruh peristiwa itu nampaknya jelas merupakan rekaan “yang kaya” dayacipta
para kritikus yang tidak bersahabat terhadap, dan mempercayai hal itu merupakan suatu penghinaan terhadap akal sehat manusia, karena semua itu samata-mata merupakan perintah Allah Swt., bukan kehendak Nabi Besar Muhammad saw.
sebagaimana ayat: زَوَّجۡنٰکَہَا لِکَیۡ لَا یَکُوۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ حَرَجٌ فِیۡۤ
اَزۡوَاجِ اَدۡعِیَآئِہِمۡ
اِذَا قَضَوۡا مِنۡہُنَّ
وَطَرًا ؕ -- Kami menikahkan engkau dengan dia
supaya tidak akan ada keberatan
bagi orang-orang beriman menikahi bekas istri anak-anak angkatnya
apabila mereka telah menetapkan
keinginannya mengenai mereka.” Lebih lanjut Allah Swt. berfirman:
مَا کَانَ
عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ لَہٗ ؕ سُنَّۃَ اللّٰہِ فِی الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ وَ
کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ
قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا ﴿۫ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
یُبَلِّغُوۡنَ رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ
یَخۡشَوۡنَہٗ وَ لَا یَخۡشَوۡنَ اَحَدًا
اِلَّا اللّٰہَ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ حَسِیۡبًا ﴿﴾
Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi
mengenai apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya. Inilah sunnah Allah yang Dia tetapkan terhadap orang-orang yang telah berlalu
sebelumnya, وَ کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ
قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا -- dan perintah
Allah ada-lah suatu keputusan yang telah ditetapkan. لَّذِیۡنَ
یُبَلِّغُوۡنَ رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ
یَخۡشَوۡنَہٗ وَ لَا یَخۡشَوۡنَ اَحَدًا
اِلَّا اللّٰہَ -- Orang-orang yang menyampaikan amanat Allah dan takut
kepada-Nya, dan tidak ada mereka
takut siapa pun selain Allah, وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
حَسِیۡبًا -- dan
cukuplah Allah sebagai Penghisab. (Al-Ahzāb
[33]:39-40).
Yang diisyaratkan dalam kata-kata
مَا کَانَ عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ لَہٗ -- “Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai apa
yang telah diwajibkan Allah kepadanya” ialah pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Sitti Zainab r.a. Kata-kata itu menunjukkan bahwa pernikahan beliau terjadi dalam menaati suatu peraturan Ilahi yang sifatnya
khusus, yakni menurut ajaran
Islam (Al-Quran) tidak ada larangan
bagi ayah-angkat
menikahi janda (mantan istri) anak-angkat, sebab tidak akan
menimbulkan kesemrawutan dalam
masalah hubungan darah.
Kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Menegakkan yang Haq
Sehubungan dengan kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad saw. dalam menegakkan (mengamalkan) ajaran Islam (Al-Quran) -- untuk menjadi
petunjuk pelaksanaan bagi para pengamalnya (QS.3:32; QS.33:2) -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Kalau kita pertimbangkan secara
adil maka dari semua rangkaian para nabi,
kita akan menemukan satu sosok yang paling
gagah berani dan amat dikasihi Allah Swt., Penghulu segala nabi, kebanggaan dan mahkota
para nabi yang bernama Muhammad
Mustafa dan Ahmad Mujtaba.
Jika seseorang berjalan di bawah naungan bayangan beliau selama 10 hari maka ia akan memperoleh Nur yang sebelumnya tidak akan pernah didapatnya dalam 1000 tahun. Kami telah menemukan berbagai Nur dengan cara menteladani
Nabi Suci ini, dan siapa pun akan menemukan
hal yang sama jika menteladani
beliau, karena ia akan memperoleh keridhaan Allah Swt.. sehingga
tidak ada sesuatu apa pun lagi yang tidak mungkin baginya.
Allah Yang Maha Hidup yang tersembunyi dari manusia akan menjadi Tuhan-nya, dan semua tuhan palsu akan diinjak-injak di bawah kakinya. Ia akan diberkati di mana-mana dan Kekuasaan Ilahi akan
mengikutinya. Salam bagi mereka yang
mengikuti bimbingan ini.” (Siraj Munir, Ziaul Islam Press,
Qadian, 1897, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 12, hlm.
82-83, London, 1984).
Kegagah-beranian Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut tidak hanya ketika menghadapi musuh
kebenaran dalam peperangan secara fisik, misalnya dalam Perang Uhud dan
Perang Hunain, tetapi juga mengisyaratkan keberanian
dan kemampuan secara ruhani,
contohnya adalah kesanggupan
beliau saw. menerima syariat terakhir
dan tersempurna (QS.33:73-74;
QS.7:144).
Kemudian
Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi
mengenai hikmah gelar Khātaman
Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad saw.:
“Di bawah langit ini hanya ada satu Rasul dan hanya ada satu
Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad saw. yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua rasul, beliau adalah Khātaman Nabiyyīn, manusia yang terbaik dimana jika kita menteladaninya maka kita akan bertemu dengan Allah Swt. dan semua
tabir kegelapan akan terangkat serta kita akan bisa menyaksikan keselamatan haqiqi bahkan ketika masih di dunia
ini.
Kitab tersebut adalah Al-Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna, yang melaluinya manusia bisa memperoleh pengetahuan serta pemahaman Ilahi dan hati menjadi bersih dari segala kelemahan manusiawi serta diangkat kerak kebodohan, ketidak-acuhan dan keraguannya, sehingga ia mampu mencapai
tingkat kepastian yang
paling sempurna.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm.
557-558, London, 1984).
Perintah Mengirimkan Shalawat
Kepada Nabi Besar Muhammad saw.
Dari Al-Quran diketahui bahwa
apa pun yang diucapkan dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah sesuai
dengan perintah dan kehendak Allah Swt. (QS.53:1-8),
mengenai hal tersebut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Ada berjuta-juta manusia
yang berfitrat bersih di dunia ini dan masih akan banyak pula
ditemui di masa depan, namun manusia
terbaik yang pernah ditemui serta hamba Allah yang paling mulia adalah Muhammad saw. saja.
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ
یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا
عَلَیۡہِ وَ سَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi ini
dan para malaikat-Nya
mendoakan dia. Hai orang-orang beriman, kamu pun harus mengirimkan
salawat atas dia, Nabi ini, dan sampaikanlah
salam kepadanya dengan doa keselamatan (Al-Ahzāb [33]:57).
Kita sementara tidak perhatikan orang-orang suci yang
penjelasannya tidak terlalu lengkap di dalam Al-Quran. Kita konsentrasikan perhatian
kepada para rasul yang
disebutkan di dalam Al-Quran seperti Musa,
Daud, Isa dan nabi-nabi lain, salam
atas mereka semua.
Kami bersumpah dengan memanggil Allah sebagai saksi, bahwa jika Hadhrat Rasulullah saw. tidak turun (diutus) di dunia ini dan Al-Quran tidak diwahyukan, dan kami
tidak ada menyaksikan segala berkat yang telah kami saksikan, maka kebenaran dari semua rasul-rasul lainnya akan tetap merupakan suatu hal yang meragukan di kalbu
kami.
Tidak ada realitas (kenyataan) yang bisa diungkapkan dari dongeng-dongeng
yang beredar, karena bisa jadi cerita
itu tidak benar dan bisa saja semua mukjizat yang diakukan
(dinisnahkan) kepada masing-masing rasul
tersebut merupakan hal yang
dilebih-lebihkan karena tidak ada
tandanya yang tersisa di zaman
ini.
Dari Kitab-kitab lama tersebut kami pun tidak akan mungkin bisa meyakini
secara pasti bahwa Tuhan
itu benar ada, karena kami tidak diberi keyakinan bahwa Tuhan
memang berbicara kepada manusia. Namun
dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. maka semua cerita tersebut menjadi kenyataan.
Kita tidak meyakininya semata-mata sebagai suatu pernyataan
saja tetapi sebagai hasil pengalaman dari apa
yang namanya berbicara dengan Tuhan,
bagaimana Tanda-tanda Tuhan dimanifestasikan dan
bagaimana doa-doa dikabulkan.
Semua hal ini telah kami temui karena menteladani Hadhrat Rasulullah saw.,
sedangkan apa yang diungkapkan
orang-orang sebagai cerita, kami malah telah menyaksikannya. Kami telah melekatkan diri kami kepada seorang Rasul yang telah memanifestasikan Tuhan kepada kami. Seorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Rohul Qudus.
Aku tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal
Tuhan.
Bagaimana caranya kami bisa bersyukur
kepada Allah Swt. Yang telah mengaruniakan rezeki mulia untuk menjadi pengikut
seorang Rasul yang menjadi matahari bagi kalbu
manusia yang bertakwa, sebagaimana layaknya sang surya bagi tubuh
kita. Beliau muncul di saat kegelapan dan telah mencerahkan dunia dengan Nur beliau. Beliau tidak ada merasa lelah dan pegal sampai
telah dibersihkannya jazirah
Arab dari perbuatan menyekutukan
Allah Swt...
Beliau adalah bukti dari kebenaran
wujud beliau sendiri karena Nur
beliau tetap kemilau di segala
zaman, sedangkan kepatuhan sepenuhnya kepada beliau akan mensucikan seseorang sebagaimana air jernih sebuah sungai membersihkan kain yang kotor.
Siapakah yang telah datang
kepada kami dengan hati yang tulus dan masih juga belum menyaksikan Nur tersebut, padahal sebelumnya
ia telah mengetuk di pintu yang sama tanpa
hasil? Hanya saja sayangnya kebanyakan manusia lebih memilih kehidupan akhlak yang rendah dan tidak menginginkan adanya Nur masuk ke dalam batinnya.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 23, hlm. 301-303, London, 1984).
Pengetahuan (Makrifat) Sempurna Nabi Besar
Muhammad Saw. Tentang Sifat Ilahi
Ajaran Islam (Al-Quran) sangat
erat dengan berbagai macam ilmu
pengetahuan jasmani mau pun ilmu pengetahuan ruhani, itulah sebabnya
Allah Swt. telah menyebut alam semesta ciptaannya al-‘ālamīn (seluruh alam),
firman-Nya: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
-- segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan
Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam” (Al-Fatihah [1]:2), yang
akan menjuruskan orang-orang yang mempergunakan akalnya (ulul-albab) kepada keberadaan
Allah Swt. dan kesempurnaan
Sifat-sifat-Nya.
(QS.3:191-195; QS.35:28-29).
Al-’ālamīn adalah jamak dari al-’alam, berasal
dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.”
Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan
sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq
-- Maha Pencipta (Aqrab-ul-Mawarid), kata tersebut
dikenakan bukan saja kepada segala macam
wujud atau benda yang dijadikan(diciptakan) tetapi juga kepada golongan-golongannya
secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan yakni alam binatang, ‘alam-ul-nabat yakni alam tumbuh-tumbuhan.
Kata al-’ālamīn tidak
hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud
berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10).
Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas
(QS.2:123).
Di sini kata al-’ālamīn dipakai dalam arti yang seluas-luasnya
dan mengandung arti “segala sesuatu yang
ada selain Allah Swt.” yakni
benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan,
bintang, dan sebagainya.
Sehubungan dengan pentingnya memiliki ilmu pengetahuan tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
pentingnya memiliki makrifat Ilahi:
“Nabi
Suci Rasulullah saw. diperintahkan di dalam Al-Quran untuk memohon:
رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا
Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (Thā Hā [20]:115).
Yakni Rasulullah
saw. dibimbing untuk berdoa bagi pengetahuan yang sempurna mengenai keagungan,
pemahaman dan Sifat-sifat
Tuhan. Di tempat lain dikatakan:
وَ بِذٰلِکَ
اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ
‘Demikian itulah
aku diperintahkan dan akulah orang
pertama di antara orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah’ (Al-An’ām [6]:164).
Membaca
kedua ayat di atas, kita akan berkesimpulan
bahwa Hadhrat Rasulullah saw. adalah yang paling utama
dari antara para Muslim, karena beliau adalah sosok yang paling mengetahui
pemahaman
tentang Tuhan. Atas dasar hal itu maka iman Islam
beliau adalah yang tertinggi dari
segalanya dan beliau adalah penghulu dari semua umat Muslim.
Hubungan Makrifat
Ilahi dengan Pelaksanaan Ibadah
Ayat
lainnya yang juga menggambarkan kejembaran
pengetahuan beliau adalah:
عَلَّمَکَ
مَا لَمۡ تَکُنۡ تَعۡلَمُ ؕ وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
Dia telah mengajarkan kepada engkau apa yang tadinya engkau tidak mengetahui, dan karunia Allah atas engkau sangat besar (Al-Nisā
[4]:114).
Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt.
telah mengajarkan kepada Rasulullah saw. segala hal yang tak mungkin dipelajari beliau sendiri. dan berkat
rahmat Ilahi beliau itu memperoleh berkat
lebih banyak dibanding manusia lainnya.
Dengan kata lain dapat
dikatakan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. jauh
melampaui siapa pun dalam pengetahuan dan pemahaman
Ilahi dan karenanya Allah
Yang Maha Agung telah mengharumkan beliau dengan wewangian pemahaman Ilahi lebih dari siapa pun. Demikian itulah Tuhan telah menjadikan pengetahuan dan pemahaman
sebagai sarana pokok untuk memperoleh pengertian tentang konsep Islam yang
sebenarnya.
Meski pun memang ada cara-cara lain untuk memperoleh pengetahuan
demikian, seperti melalui puasa, shalat, doa dan melaksanakan perintah Ilahi
(yang jumlahnya melampaui 600 macam), namun pengetahuan tentang
Kebesaran,
Ketauhidan
dan Sifat-sifat Allah Swt. menyangkut Keagungan dan Keindahan-Nya
merupakan hal yang pokok bagi yang
lainnya.
Ia yang hatinya tidak acuh
dan tidak memiliki pemahaman tentang Ke-Ilahi-an, tak akan mungkin mendapat kekuatan untuk melaksanakan puasa, melaksanakan shalat, berdoa atau pun menyibukkan
diri dengan amal saleh. Semua amal saleh dicetuskan oleh pemahaman Ke-Ilahi-an,
sedangkan cara lainnya semua bersumber dari keadaan demikian serta menjadi hasil
ikutannya.
Awal dari pemahaman
ini merupakan cerminan dari Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. dan bukan
merupakan hasil permohonan atau tindakan dari manusia, melainkan
semata-mata karunia dalam artinya yang murni. Dia akan menuntun mereka yang dipilih-Nya dan Dia akan membiarkan tersesat mereka yang dikehendaki-Nya. Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh amal
saleh dan iman yang benar, sehingga
seluruhnya mewujud menjadi wahyu
yang turun berupa firman Allah guna mencerahkan
seluruh kalbu dengan Nur yang bernama Islam.
Keutamaan Mengikuti Ajaran Nabi Besar Muhammad saw.
Pada
tingkat pemahaman yang sempurna,
Islam
bukanlah hanya semata istilah tetapi merupakan pencapaian
semua realitas tersebut di
atas dimana batin manusia akan menyungkurkan diri di hadapan Ketauhidan
Ilahi. Setelah itu maka dari kedua sisi akan terlontar kata-kata: “Apa
pun yang menjadi milikku adalah milik Engkau juga.” Yang dimaksud, ketika batin manusia berseru dan mengakui: “Ya Allah,
apa pun milikku adalah kepunyaan Engkau”, sedangkan Tuhan akan berfirman memberitahukan: ‘Wahai hamba-Ku,
langit dan bumi yang beserta-Ku adalah beserta
engkau juga.’ Tingkatan ini diindikasikan dalam ayat:
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah berdosa
terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa akan rahmat Allah,
sesungguhnya Allah mengampuni segala
dosa” (Al-Zumar [39]:54).
Dalam ayat
tersebut tidak digunakan kata ‘Hai hamba-hamba Allah’ melainkan digunakan kata ‘Hai hamba-hamba-Ku.’
Ayat ini diwahyukan dalam bentuknya tersebut agar manusia mengerti bahwa Allah
bermaksud memberitahukan kabar gembira tentang
adanya rahmat tanpa batas dan dengan demikian bisa menghibur hati mereka yang telah patah karena dosa-dosanya.
Dengan demikian Allah Yang Maha
Agung bermaksud memperlihatkan
contoh dari rahmat-Nya dan memanifestasikan seberapa jauh Dia akan
mengagungkan seorang hamba yang setia dengan berkat-berkat khusus.
Dengan menggunakan kata-kata ‘Hai
hamba-hamba-Ku’
sebenarnya Tuhan bermaksud mengutarakan: “Tengoklah
Rasul-Ku yang tercinta dan lihat betapa tingginya derajat yang telah dicapainya
berkat kepatuhannya yang sempurna kepada-Ku sehingga sekarang ini apa yang
menjadi milik-Ku adalah juga menjadi miliknya. Siapa yang menginginkan
keselamatan, sepatutnya menjadi hambanya juga, dengan pengertian bahwa mereka
harus mematuhinya secara sempurna sebagaimana laku seorang hamba, maka semua
dosa-dosanya akan diampuni.”
Perkataan ‘abd’ dalam
istilah bahasa Arab berarti hamba sahaya seperti yang diungkapkan dalam ayat:
لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ
‘Sahaya laki-laki yang beriman niscaya lebih baik daripada laki-laki musyrik’ (Al-Baqarah [2]:222).
Pada ayat sebelumnya telah dikemukakan bahwa ia yang mengharapkan keselamatan, agar menciptakan hubungan sebagai hamba sahaya kepada
Rasul
ini, dengan pengertian bahwa ia tidak
akan melanggar semua perintah beliau dan mengikatkan dirinya sebagaimana seorang sahaya terikat kepada majikannya, barulah ia akan
mendapatkan keselamatan.
Makna Kata “Ghulam” (Hamba)
Kita patut mengasihani mereka yang berhati gelap yang membenci nama-nama seperti Ghulam Nabi, Ghulam Rasul, Ghulam Mustafa,
Ghulam Ahmad dan Ghulam Muhammad karena menganggapnya sebagai menyekutukan Rasulullah dengan Allah Swt.. padahal nama-nama itu sebenarnya menggambarkan keberkatan.
Sebagaimana seorang ‘abd’ (hamba) mengimplikasikan bahwa seseorang yang bernama demikian harus membatasi
diri dari segala kemerdekaan dan hanya patuh
sepenuhnya kepada majikannya saja, karena itulah para pencari
kebenaran yang mencari keselamatan dianjurkan untuk menyesuaikan
dirinya pada kondisi demikian
itu. Ayat ini memiliki konotasi yang sama dengan ayat:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah
aku, kemudian Allah pun akan
mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosa kamu”’ (Āli Imran [3]:32).
Menjadi pengikut
yang sempurna menuntut adanya pengabdian dan kepatuhan sepenuhnya sebagaimana terkandung dalam perkataan ‘abd’ (hamba).
Ayat yang menyatakan “Hai hamba-hamba-Ku” secara intinya bermakna: “Wahai para pengikut-Ku
yang bergelimang dosa, janganlah
kalian berputus asa akan rahmat Allah karena Allah -- berkat kalian mengikut padaku -- akan mengampuni dosa-dosa kalian.”
Allah tidak akan memaafkan
para penyembah berhala dan orang-orang kafir jika mereka tidak beriman dan mengikuti Hadhrat Rasululllah saw..
Dalam ayat tersebut tersirat bahwa para hamba sahaya yang tulus dari
Rasulullah saw. akan memperoleh karunia Nur keimanan, kecintaan
dan semangat yang akan menyelamatkan mereka dari segala sesuatu
yang menyekutukan Allah, dan mereka akan dibebaskan dari dosa-dosa
serta dikaruniai dengan kehidupan
yang suci di dunia ini, bebas
dari kuburan gelap nafsu-nafsu manusiawi. Hal ini
diindikasikan dalam sebuah Hadits (Bukhari):
“Aku adalah yang membangkitkan
kembali dan dengan mengikuti aku
maka orang-orang akan dibangkitkan.”
Kitab Suci Al-Quran penuh
dengan idiom (peribahasa) yang
menyatakan bahwa dunia ini
sebenarnya sudah mati dan Allah
Yang Maha Agung telah menghidupkannya kembali dengan
menurunkan Hadhrat Rasulullah saw.
sebagaimana dinyatakan:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ
Ketahuilah
bahwasanya Allah menghidupkan bumi
sesudah matinya (Al-Hadīd [57]:18).
Begitu pula mengenai para sahabat Rasulullah saw. dikatakan:
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ
Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham
dari Dia Sendiri (Al-Mujadilah [58]:23).
Makna “700 Sayap Malaikat”
dan “700
Telur Kemanusiaan”
Ilham atau wahyu amat membantu
dalam menghidupkan kembali batin seorang manusia dan menyelamatkannya dari kematian
ruhani serta memberikan seseorang indera yang aktif dan pengetahuan
yang murni yang bisa membawa manusia kepada kedekatan dengan Tuhan-nya.
Pengetahuan yang atasnya didasarkan keselamatan
ruhani tidak bisa didapat
begitu saja tanpa kedekatan dengan jiwa yang diberkati Ruhul kudus. Kitab Al-Quran
menegaskan bahwa kehidupan ruhaniah hanya mungkin diperoleh dengan cara mengikut
Hadhrat Rasulullah saw. sedangkan mereka yang menolak
beliau sesungguhnya berada dalam keadaan
mati.
Yang
dimaksud dengan kehidupan ruhaniah adalah kemampuan intelektual dan indera yang aktif
yang dihidupkan oleh Ruhulqudus. Kitab
Al-Quran mengemukakan ada 700 kaidah Ilahi yang harus diikuti
(diamalkan)
oleh manusia. Sejalan dengan itu maka sayap
malaikat Jibrail pun terdiri dari 700 pula.
Sebelum telur kemanusiaan diletakkan di bawah sayap Jibrail yang bermakna 700 kaidah (hukum)
demikian maka belum atau tidak akan dilahirkan seorang bayi
yang sepenuhnya fana (tenggelam/larut) kepada Ilahi.
Realitas manusia sebenarnya memiliki kapasitas dari 700 telur
[kemanusiaan]. Seseorang yang 700 telur [kemanusiaan]nya dierami oleh 700 sayap sifat dari Jibrail adalah seorang
yang sempurna dengan kelahiran ruhaniah yang sempurna dan yang hidupnya
menjadi sempurna.
Kalau saja manusia mau memperhatikan maka ia
akan melihat bahwa kelahiran ruhaniah dari telur inti kemanusiaan, sebagai hasil
dari kepatuhan kepada Rasulullah
saw. adalah yang sebenarnya berasal dari Ruhulqudus, dan mereka ini jauh lebih
sempurna dan lengkap dibanding anak-anak keruhanian dari nabi-nabi lainnya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
‘Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia’ (Āli Imran [3]:111).
(Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
186-197, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 24 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar