بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi
pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Cara Memperoleh Kecintaan dan Pengampunan (Maghfirah) Allah Swt. & Keberkatan Munculnya “Matahari Kebenaran” Nabi
Besar Muhammad Saw.
Bab 23
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
a.s. Masih Mau’ud a.s. mengenai
tugas Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang
kafir. Beliau saw. itu penyeru
yang paling sempurna (QS.33:46-48) dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
Kata-kata (seruan) Nabi Besar Muhammad
saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan untuk penghuni Jahannam
banyak di antara jin dan manusia, mereka
memiliki hati tetapi mereka tidak
mengerti dengannya, mereka memiliki mata tetapi mereka tidak
melihat dengannya, mereka memiliki
telinga tetapi mereka tidak
mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ -- mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat. Mereka itulah orang-orang
yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Firman-Nya
lagi:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ
یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا
لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ
﴿﴾
Dan berapa
banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj
[22]:46-47).
Dari
ayat ini jelas bahwa orang-orang mati,
orang-orang buta, dan orang-orang tuli yang dibicarakan dalam ayat ini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang
yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, firman-Nya:
اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪ فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا
کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ
الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا
حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ
بِنُوۡرِہِمۡ وَ
تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Allah akan menghukum perolokan mereka dan membiarkan
mereka berkelana bingung dalam
kedurhakaannya. Mereka
itulah orang-orang yang telah membeli yakni
menukar kesesatan dengan petunjuk
maka perniagaan
mereka sama sekali tidak beruntung dan mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api
itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ -- Mereka tuli,
bisu, buta, maka mereka tidak akan
kembali. (Al-Baqarah [2]:16-19).
Oleh karena mereka tidak
mengacuhkan peringatan Nabi Besar
Muhammad saw. dan tidak pula
berusaha mengungkapkan keragu-raguan
mereka agar dapat dihilangkan, dan mereka telah menjadi tidak peka terhadap kemajuan
yang telah dicapai oleh Islam di hadapan mata mereka sendiri maka mereka disebut tuli, bisu, dan buta.
Cara memperoleh Kecintaan
dan Pengampunan Allah Swt. & Keberkatan
Membaca Shalawat
Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan manfaat beriman dan patuh-taat
kepada Nabi Besar Muhammad saw. atas dasar pengalaman beliau sendiri:
“Menurut pengalaman pribadiku, kepatuhan kepada Hadhrat Rasulullah saw. dengan kecintaan
dan ketulusan hati pada akhirnya akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah
Swt.. Tuhan akan menciptakan kecintaan kepada Wujud-Nya di
dalam kalbu yang bersangkutan, sehingga ia akan menarik diri
dari segalanya dan condong sepenuhnya kepada Allah Swt. dengan segala kecintaan dan hasrat.
Pada saat itu akan turun manifestasi kasih Ilahi ke atas dirinya yang akan mewarnai kalbunya
dengan kecintaan dan pengabdian kepada Wujud-Nya
dengan kekuatan akbar. Ia kemudian akan mengalahkan semua hasrat-hasrat pribadinya, dan
dari segala penjuru akan muncul tanda-tanda ajaib dari Allah Yang Maha
Kuasa yang akan membantu dan menolongnya.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm.
67-68, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan bukti kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ -- maka ikutilah
aku, یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni
dosa-dosamu. -- Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Āli ‘Imran [3]:32-33).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda
berkenaan dengan pentingnya pembacaan shalawat kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
“Aku telah menyaksikan bahwa
dengan membaca shalawat bagi Nabi Suci saw. maka rahmat Ilahi berbentuk Nur
akan menyinar (membersit) menuju Hadhrat
Rasulullah saw., yang kemudian diserap oleh dada beliau, dan dari sana lalu muncul pancaran arus sinar
ke arah manusia-manusia yang patut
menerimanya sesuai kemampuannya
masing-masing.
Sesungguhnya tidak ada rahmat
yang bisa mencapai siapa pun tanpa melalui perantaraan Hadhrat Rasulullah saw.. Memohonkan shalawat atas beliau akan menggerakkan ‘Arasy Ilahi yang darinya
Nur itu bersumber. Barangsiapa mengharapkan rahmat
dari Allah Yang Maha Agung, sewajarnya selalu menyampaikan shalawat bagi beliau dengan rajin agar rahmat tersebut tergerak baginya.” (Al-Hakam, 28 Pebruari 1903, hlm. 7).
Beliau bersabda lagi:
“Suatu malam, hamba yang lemah ini membaca
shalawat bagi Hadhrat Rasulullah saw., sedemikian rupa sehingga hati dan jiwaku dipenuhi
wewangiannya. Malam itu aku melihat
dalam rukya beberapa
malaikat membawa kantung-kantung air
yang penuh dengan Nur ke dalam rumahku, dan salah seorang
dari mereka berkata kepadaku: “Semua ini adalah salawat yang engkau mintakan bagi
Muhammad saw.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 598, London, 1984).
Karunia Allah bagi Pengikut Nabi Besar Muhammad Saw.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan munculnya “bayangan-bayangan”
kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dari
kalangan pengikut beliau saw.:
“Tidak sepatutnya kita meragukan, bahwa seorang pengikut biasa
dari Rasul yang diridhai tersebut bisa berbagi nama, sifat atau berkat beliau. Memang benar bahwa dalam kenyataannya tidak
ada nabi lain yang bisa menyamai keagungan Hadhrat Rasulullah saw.. Bahkan para malaikat pun tidak, apalagi seorang manusia biasa.
Namun wahai kalian pencari kebenaran, semoga Allah Swt. membimbing kalian dan
simaklah dengan hati-hati hal ini. Dengan tujuan agar
berkat
dari Rasul yang diridhai tersebut
bisa diperlihatkan selama-lamanya,
dan agar Nur beliau yang sempurna
dapat mengalahkan musuh-musuh
beliau, maka Allah Yang Maha Kuasa
telah menyusun kebijakan berikut ini demi Keagungan dan Kasih-Nya.
Beberapa orang
terpilih dari umat Muhammad saw. yang patuh kepada beliau
dengan kerendahan hati sepenuhnya,
dan yang menyungkurkan diri
dengan menghilangkan segala egonya
sendiri akan ditemukan
oleh Allah Swt. sebagai cermin bersih yang memantulkan berkat Rasul yang diridhai
tersebut dalam diri mereka masing-masing. Melalui diri mereka Tuhan akan menurunkan rahmat
dan Tanda-tanda yang
semuanya bersumber pada Hadhrat Rasulullah saw..
Dalam kenyataan dan dalam kesempurnaannya, semua puji-pujian
hanya patut bagi diri beliau, dan
bahwa beliau itu adalah teladan
yang sempurna. Namun sebagai penganut
dari ajaran Hadhrat Rasulullah saw.
yang karena kepatuhan yang sempurna telah menjadi refleksi (pantulan) dari beliau, dimana Nur yang diperlihatkannya pun adalah juga pantulan
dari Nur beliau, maka munculnya
sosok yang merefleksikan sifat dan jasad beliau akan
berwujud sebagai bayang-bayang dirinya. Bayang-bayang ini tidak tegak dengan sendirinya dan ia tidak memiliki kelebihan dalam
kenyataannya. Yang terlihat adalah gambaran
dari yang aslinya sebagai pantulan
refleksi.
Ada dua hal
yang dimunculkan oleh refleksi dari Nur
itu yang mirip dengan rahmat abadi, yang akan mewujud pada
beberapa pengikut Muhammad saw.:
Pertama adalah
diperlihatkannya kesempurnaan haqiqi
dari Hadhrat Rasulullah saw. berupa obor yang darinya obor-obor lain akan dinyalakan, dan hal
ini jauh lebih baik daripada sebuah obor yang tidak pernah menyalakan obor lainnya.
Kedua, melalui rahmat abadi ini
telah diteguhkan kelebihan umat Muslim di atas para pengikut agama lainnya, dan bukti nyata dari agama Islam telah disegarkan kembali, sehingga manusia tidak selalu hanya bertumpu kepada [cerita] masa lalu saja.
Dengan cara demikian itulah Nur
kebenaran Al-Quran akan memancar
terang sebagai sinar matahari
dan bukti kebenaran Islam
telah diteguhkan terhadap para lawannya, sedangkan kerendahan dan kekalahan para musuh Islam
akan menjadi nyata. Mereka akan bisa menyaksikan rahmat dan Nur di dalam Islam yang padanannya tidak akan mereka
jumpai pada diri para pendeta atau pandit agama mereka masing-masing.
Perhatikanlah
semua hal ini wahai para pencari kebenaran, semoga Allah membantu kalian dalam pencaharian kalian. Betapa agungnya derajat Khātaman Nabiyīin saw. dan betapa
sempurnanya kecemerlangan matahari kebenaran ini, sehingga
menjadikan seseorang menjadi mukminin
yang sempurna, menjadikan yang
lainnya sebagai orang yang mengenal Tuhan dan memberkati yang ketiga dengan tanda-tanda Keagungan dan Ketauhidan serta melimpahkan
atasnya berkat Ilahi.” (Brahin-i Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 268-271, London, 1984).
Penjelasan Masih
Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan
firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka
itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah
karunia dari Allah, dan cukuplah
Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
Terbitnya “Matahari Kebenaran” dan Pengaruhnya yang Penuh Berkat
Sehubungan dengan firman-Nya tersebut selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
mengenai pengaruh yang penuh berkat dari kemunculan “matahari kebenaran” Nabi Besar Muhammad
saw. bagi para pengikutnya yang
hakiki:
“Sejak munculnya matahari kebenaran di dunia ini
dalam wujud yang berberkat Hadhrat
Rasulullah saw., sampai dengan hari ini sudah beribu-ribu
orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan karena mengikuti firman Ilahi dan patuh
kepada beliau, yang telah berhasil
mencapai derajat tinggi sebagaimana dikemukakan, dan proses ini masih berlanjut terus.
Allah Yang Maha Agung secara berkesinambungan mengaruniai mereka dengan berkat,
rahmat
serta pertolongan, sehingga mereka yang memiliki penglihatan
jernih bisa melihat
bagaimana orang-orang ini telah
menjadi kekasih Allah, berada di bawah naungan berkat Ilahi dan
menjadi penerima rahmat yang akbar.
Para pemerhati
ini secara jelas bisa melihat bahwa orang-orang itu memperoleh karunia-karunia
yang luar biasa dan dibedakan
dari manusia lainnya dengan Tanda-tanda samawi serta diharumkan
oleh wewangian kasih dan keridhaan Ilahi.
Nur
(Cahaya) dari Yang Maha Agung menyinari persahabatan
mereka, perhatian mereka, tekad hati mereka, akhlak
mereka, cara hidup mereka, kegembiraan mereka, kemarahan mereka, keinginan
mereka, ketidaksukaan mereka, gerakan mereka dan istirahat
mereka, bicara dan diam mereka, batin dan jasmani
mereka, sejelas dan setransparan (sebening) wadah
kaca
yang berisi wewangian yang harum. Melalui berkat
persahabatan dan hubungan serta kasih
kepada mereka semua ini bisa
diperoleh dengan mudah.
Dengan menciptakan silaturahim (hubungan) dengan mereka dan berpandangan
baik tentang diri mereka maka keimanan seorang manusia akan mendapat aspek dan kekuatan baru bagi penampakan akhlak yang baik.
Kecenderungan ego (keakuan) terhadap hura-hura dan dosa akan terkekang dan sebagai gantinya akan
muncul rasa puas dan kelembutan. Sejalan dengan kapasitas setiap
orang, hasrat keimanan seseorang akan marak
dan mereka menunjukkan kasih dan pengabdian, serta
mereka akan menjadi bertambah suka mengingat Allah Swt..
Dalam jangka panjang, berteman dengan orang-orang yang berberkat
demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa kekuatan keimanan, akhlak yang mulia, tindakan memfanakan
duniawi, perhatian dan kasihnya terhadap Tuhan, kelembutan
terhadap para makhluk Tuhan, kesalehan, keteguhan dan ketakwaan
menerima takdir Ilahi, sesungguhnya
mereka itu tidak ada padanannya di dunia ini.
Akal yang sehat segera melihat bahwa rantai yang selama
ini menjadi belenggu bagi manusia, pada orang-orang itu
telah terlepas, dan kesempitan pandangan yang menghimpit dada orang lain telah diangkat
dari dada mereka. Mereka
memperoleh kehormatan bisa berbicara terus menerus dengan Tuhan mereka, dan mereka itu diterima
sebagai sarana perantara di antara Tuhan dengan hamba-hamba yang mencari-Nya, yang menginginkan bimbingan
dan petunjuk. Kecemerlangan mereka telah mencerahkan
kalbu manusia lainnya.
Sebagaimana
dengan datangnya musim semi maka tetumbuhan bertunas semua, begitu pula dengan
kemunculan mereka akan memunculkan Nur alamiah di hati manusia yang waras dan yang beruntung, sehingga kemampuan batin mereka akan berkembang penuh dan mereka bisa menyingkapkan tirai kedalaman kelelapan mereka yang akan membersihkan dosa-dosa dan noda-noda kejahatan serta kegelapan dari kebodohan
dan fikiran.
Zaman masa hidup mereka yang berberkat
mempunyai karakteristik khusus, dan Nur yang menebar ke dalam batin
mereka yang beriman dan para pencari kebenaran akan mengembangkan hasrat
batin yang bersangkutan kepada agama serta memperkuat keteguhan hati mereka. Setiap mereka yang tulus akan memperoleh berkat dari wewangian yang dilimpahkan kepada mereka karena kepatuhan mereka, sepadan dengan ketulusan hati mereka.
Adapun mereka yang tidak beruntung,
tidak akan memperoleh apa-apa darinya, dan mereka ini akan terus saja dalam permusuhan,
kecemburuan
dan itikad buruk sampai akhirnya nanti mereka masuk neraka. Hal inilah yang dimaksud
dalam ayat:
خَتَمَ
اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ
Allah telah memeterai hati mereka (Al-Baqarah [2]:8).
(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm.
529-532, London, 1984).
Undangan dan Tantangan
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
berbagai karunia istimewa Ilahi yang
dianugerahkan kepada beliau:
“Pernyataan pengakuan dari Nabi Suci kita Rasulullah saw. berpendar (memancar) seperti sinar matahari dan menjadi bukti
dari berkat yang mengalir abadi
dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi
Rasulullah saw. akan dibangkitkan dari kematian [ruhani] dan dikarunia dengan kehidupan ruhaniah nyata yang
dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta
dukungan dari Ruhulqudus.
Ia akan menjadi manusia unik di
antara umat manusia lainnya, karena Allah Swt.. akan membukakan
berbagai rahasia Samawi serta menyampaikan kebenaran Wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih dan perkenan-Nya
serta menurunkan bantuan di atas dirinya serta menjadikan dirinya sebagai cermin dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
Kebijakan akan mengalir dari mulutnya
dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia
tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah Yang Maha Agung akan memperlihatkan Tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan
mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman,
terungkapnya rahasia-rahasia Samawi serta
karena turunnya berkat atas dirinya.
Setelah mendapat penugasan dari
Allah Swt., hamba yang lemah ini
telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia,
Eropa dan Amerika
mengenai hal-hal di atas agar mereka mengetahui.
Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku
bisa memperoleh kehidupan ruhaniah tanpa mengikuti Khātamul Anbiya saw.
agar mereka maju menghadapi aku, jika
tidak, maka sepatutnyalah
ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran guna
menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan
kepadaku.
Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan itikad baik,
sedangkan dengan berlaku angkuh
demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka
itu meraba-raba dalam kegelapan.” (Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 5, hlm.
221-222, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 27 November 2015