Sabtu, 19 Desember 2015

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah "Terang Dunia" Hakiki yang Mengubah "Kegelapan Pekat Kejahiliyahan" Menjadi "Terang Benderang" Dengan "Nur Ilahi"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

  Nabi Besar Muhammad  Saw. Adalah    “Terang Dunia”  Hakiki yang Mengubah  Kegelapan pekat Kejahiliyahan  Menjadi  Terang Benderang Dengan Nur Ilahi


Bab 38


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai peragaan akhlak  mulia Nabi Besar Muhammad saw. yang sempurna dalam dua periode keadaan yang berbeda, yang tidak dapat ditandingi oleh para rasul Allah lainnya.

Dua Periode Keadaan Nabi Besar Muhammad Saw.

      Sehubungan dengan hal tersebut dalam uraian yang lebih ringkas Masih Mau’ud a.s. bersabda:  
   “Allah Yang Maha Agung telah membagi kehidupan Nabi kita Hadhrat Rasulullah Saw. dalam dua bagian, yaitu bagian pertama yang merupakan periode kegetiran, kesulitan dan penderitaan, sedangkan bagian berikutnya adalah ketika tiba masa kemenangan.
    Selama masa penderitaan akan muncul sifat-sifat akhlak beliau yang sesuai dengan masa tersebut, sedangkan pada waktu tiba masa kejayaan dan kekuasaan, maka muncul akhlak mulia beliau yang tidak akan jelas nyata jika tidak dilambari latar belakang kedigjayaan. Dengan demikian kedua bentuk sifat akhlak mulia beliau menjadi nyata karena melalui kedua periode masa seperti itu.
    Dengan membaca sejarah tentang masa kesulitan beliau di Mekkah yang berlangsung selama 13 tahun, kita bisa melihat secara nyata bagaimana beliau memperlihatkan akhlak seorang muttaqi yang sempurna di dalam masa kesulitan, yaitu meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada Allah Swt.  tanpa mengeluh sama sekali, tidak mengendurkan pelaksanaan tugas beliau,  sehingga para orang kafir pun menjadi beriman karena menyaksikan keteguhan hati yang demikian rupa,  dan mereka menyadari bahwa jika seseorang tidak memiliki keimanan yang demikian kuat, mustahil yang bersangkutan akan dapat menanggung penderitaan tersebut dengan keteguhan hati.
    Ketika tiba masa kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran, lalu muncul sifat akhlak mulia Hadhrat Rasulullah Saw. yang lain yang berbentuk pengampunan, kemurahan hati dan keberanian,  yang diperlihatkan sedemikian sempurna, sehingga sejumlah besar orang kafir lalu beriman kepada beliau.
     Beliau memaafkan mereka yang telah menganiaya beliau dan memberikan keamanan kepada mereka yang telah mengusir beliau dari Mekkah serta menolong mereka yang membutuhkan bantuan.   Justru setelah menggenggam tampuk kekuasaan di atas para musuh, beliau malah mengampuni mereka.
    Banyak orang yang menyaksikan akhlak mulia beliau menyatakan bahwa hanya orang yang muttaqi dan datang sebagai utusan (rasul) Tuhan saja yang mungkin bisa memiliki akhlak demikian. Itulah sebabnya sisa-sisa rasa permusuhan para lawan beliau langsung menghilang. Akhlak mulia beliau juga dinyatakan oleh Kitab Suci Al- Quran dalam ayat:
قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku  dan pengorbananku dan kehidupanku serta kematianku adalah semata-mata untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam  (Al-An’ām [6]:163).
       Berarti seluruh hidup beliau telah diikrarkan bagi manifestasi  (perwujudan) keagungan Tuhan serta memberikan kenyamanan kepada para makhluk-Nya agar melalui kewafatan beliau mereka semua itu akan memperoleh kehidupan.” (Islami Usul ki Philosophy, Ruhani Khazain, jld. X, hlm.  447-448, London, 1984).
        Dengan demikian  firman Allah Swt.  mengenai “suri teladan  terbaik” Nabi Besar Muhammad saw. benar adanya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb  [33]:22).

Mengubah Kegelapan Pekat  Kejahiliyahan Kawasan Arabia Menjadi “Terang Benderang” Nur Ilahi

      Dalam Al-Quran Allah Swt. telah menyebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “matahari  yang bercahaya cemerlang” (QS.33:46-47), bahkan digambarkan sebagai “Nur di atas nur” (QS.24:36),  sehingga sebagaimana halnya terbitnya matahari menyingkirkan  kegelapan malam demikian pula halnya dengan   pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  telah mengusir  kegelapan malam keruhanian (QS.30:42-44; QS.97:1-6).  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:  
  “Yang tertinggi dari segala kehormatan adalah kehormatan  Hadhrat Rasululah Saw. yang telah mempengaruhi keseluruhan dunia Islam. Kehormatan beliau telah menghidupkan kembali dunia ini. Di tanah Arab pada masa beliau, perzinahan, permabukan dan perkelahian menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Hak azasi manusia sama sekali terabaikan. Tidak ada rasa welas asih sama sekali terhadap sesama umat manusia.
     Bahkan hak  Allah Swt.  juga telah diingkari orang sama sekali. Bebatuan, pepohonan dan bintang-bintang diimbuhi dengan sifat-sifat Samawi. Berbagai bentuk syirik berkembang luas di masyarakat. Tidak hanya wujud manusia, bahkan alat kelaminnya (genitalia) pun juga disembah.
    Seseorang yang berfikiran waras jika melihat keadaan demikian walaupun hanya sesaat, ia akan menyimpulkan adanya kegelapan, kefasikan dan penindasan sedang merajalela. Kelumpuhan biasanya menyerang satu sisi, tetapi ini adalah kelumpuhan yang menghantam kedua sisi (jiwa dan raga). Seluruh dunia terkesan sudah membusuk. Tidak ada kedamaian sama sekali baik di muka bumi atau pun di lautan.
     Hadhrat Rasulullah Saw. muncul dalam abad kegelapan dan kehancuran demikian dan beliau kemudian memperbaiki secara sempurna kedua sisi perimbangan serta menegakkan kembali hak-hak Tuhan serta hak-hak manusia di posisinya yang tepat.
    Kekuatan moril  Hadhrat Rasulullah Saw. dengan demikian bisa diukur dengan melihat kondisi masa tersebut. Penganiayaan yang ditimpakan kepada beliau dan para pengikut beliau serta perlakuan beliau terhadap para musuh ketika beliau telah memperoleh kemenangan atas mereka telah menunjukkan betapa luhurnya derajat beliau.
     Tidak ada jenis siksaan lain yang belum pernah ditimpakan oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya terhadap Nabi Suci Saw. dan para sahabat beliau. Wanita-wanita Muslim disiksa dengan cara mengikat kaki mereka masing-masing kepada dua unta yang dihalau ke arah berlawanan sehingga tubuh mereka terbelah dua, padahal kesalahan mereka hanya karena beriman kepada Ke-Esaan Tuhan dan menyatakan: “Tuhan kami Allah”.
      Beliau memikul semua penderitaan dengan keteguhan hati, tetapi pada waktu Mekkah ditaklukkan, beliau malah mengampuni para musuh tersebut dan menenteramkan mereka dengan ucapan: Tidak akan ada yang menyalahkan kalian pada hari ini.’ Semua itu merupakan kesempurnaan akhlak mulia beliau yang tidak ditemukan pada Nabi lainnya. Ya Allah turunkanlah salam dan rahmat Engkau  atas beliau dan umat beliau.” (Malfuzat,  jld. II, hlm.  79-80).

Kemenangan   Nabi Besar Muhammad Saw.  

     Salah satu bentuk keberhasilan luarbiasa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. adalah mengubah suatu kaum jahiliyah yang keadaannya  pecah-belah  bagaikan tulang-belulang berserakan menjadi bagaikan satu tubuh  yang utuh dan hidup berupa  persaudaraan Muslim (QS.3:103-105; QS.49:11). Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Komunitas pengikut Hadhrat Rasulullah Saw. telah mengembangkan persatuan dan kesatuan keruhanian dimana melalui semangat persaudaraan Islam, mereka semua seolah-olah menjadi anggota dari satu tubuhNur sinar kenabian mewarnai kehidupan mereka sehari-hari serta perilaku yang nyata atau pun tersembunyi, sehingga mereka itu telah menjadi cerminan dari diri beliau.
    Adalah suatu mukjizat akbar dalam perubahan internal kalbu manusia dimana yang tadinya penyembah berhala kemudian berubah menjadi penyembah Tuhan yang tulus, sedangkan mereka yang tadinya tenggelam dalam keduniawian kemudian menciptakan hubungan yang sangat  dekat dengan Tuhan-nya dimana mereka mengalirkan darah mereka seperti air di jalan Allah Swt.. Semua itu karena mereka menjalani kehidupan mereka secara tulus bersama-sama dengan seorang Nabi yang sempurna dan benar.” (Fateh Islam, Qadian, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 21-22, London, 1984).
       Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai pengaruh suri teladan yang beliau saw.  amalkan terhadap  para pengikutnya:
   “Kehidupan Hadhrat Rasulullah Saw. merupakan kehidupan yang amat berhasil. Baik sifat akhlak mulia beliau, kekuatan keruhanian, keteguhan hati, kesempurnaan ajaran yang beliau bawa, contoh ibadah serta pengabulan doa beliau, singkat kata, dalam keseluruhan aspek kehidupannya beliau telah memperlihatkan tanda-tanda yang demikian cemerlang, sehingga seorang yang bodoh sekalipun selama ia tidak mengidap rasa permusuhan atau dendam, akan terpaksa mengakui bahwa beliau adalah suri teladan yang sempurna dari Sifat-sifat Ilahi dan bahwa beliau adalah manusia yang sempurna.” (Al-Hakam, 10 April 1902, hlm. 5).

Revolusi Ruhani Terbesar Berkat  Doa Nabi Besar Muhammad Saw.

     Nabi Besar Muhammad saw. adalah satu-satunya Rasul Allah yang benar-benar sukses melakukan revolusi ruhani di kalangan umat manusia, sehubungan  hal itu  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Apakah kalian mempunyai bayangan tentang kejadian aneh (ajaib) yang berlangsung di tanah berpadang pasir Arabia,  dimana ratusan ribu orang yang sudah mati dihidupkan kembali dalam jangka waktu singkat,  dan mereka yang salah jalan selama beberapa generasi telah memperoleh warna Ilahi, sedangkan mereka yang buta memperoleh penglihatan dan mereka yang bisu mulai berbicara tentang pemahaman Ilahiah, dan dunia yang mengalami suatu revolusi yang tidak pernah didengar sebelumnya?
    Adalah doa seorang yang larut dalam kecintaan kepada Allah Swt.  pada malam-malam yang gelap, yang telah menimbulkan kegemparan di dunia dan memunculkan keajaiban-keajaiban yang mestinya tidak mungkin datang dari seorang tidak terpelajar dan tidak berdaya demikian.
    Ya Allah, turunkanlah berkat dan salam Engkau atas diri beliau dan para pengikut beliau setara dengan kerisauan beliau terhadap umatnya serta curahkanlah Nur Rahmat Engkau atas beliau selama-lamanya.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. VI, hlm. 10-11, London, 1984).
        Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai betapa lemahnya  sarana yang dimiliki umat Islam pada waktu perang Badar:
    “Apa pun yang terjadi di awal sejarah Islam adalah hasil dari doa yang dipanjatkan Hadhrat Rasulullah Saw. yang disampaikan kepada Allah Swt. dengan cucuran air mata di jalan-jalan kota Mekkah. Semua bentuk kemenangan akbar yang telah mengubah seluruh aspek kehidupan dunia adalah hasil dari doa beliau tersebut. Betapa lemahnya kondisi keadaan para sahabat beliau bisa dilihat dari kenyataan bahwa pada saat perang Badar, di antara mereka itu hanya ada 3 buah pedang terbuat dari kayu.” (Al-Hakam, 17 September 1906, hlm. 4).
Beliau bersabda lagi:
    “Pembaharuan yang dibawa oleh Penghulu dan Junjungan kita Hadhrat Rasulullah Saw. bersifat merata dan menyeluruh serta diakui oleh semua pihak. Tingkat pembaharuan seperti itu belum pernah berhasil dicapai oleh para nabi  sebelum beliau.
   Kalau kita mempelajari sejarah tanah Arab, kita akan menyadari betapa fanatiknya para penyembah berhala, umat Yahudi dan umat Kristen pada masa itu, karena sampai saat itu mereka telah berputus asa atas pembaharuan diri mereka selama berabad-abad.
   Lalu muncul ajaran Kitab Suci Al-Quran yang sama sekali bertentangan dengan akidah mereka, dan yang telah menyapu bersih segala akidah palsu serta segala bentuk kejahatan. Meminum minuman keras dilarang, perjudian tidak boleh lagi dilakukan, pembunuhan anak-anak tidak lagi diperkenankan dan segala hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan, keadilan dan kesalehan selanjutnya ditekan.
        Mereka yang melanggar kemudian dihukum setimpal menurut kesalahannya. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal keagungan  pembaharuan yang dibawa beliau.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 366, London, 1984).

Pengabdian Kepada  Nabi Besar Muhamad Saw.  Terhadap Hujatan dan Fitnah Para Penentang Beliau saw.

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai para penghujat kesucian Nabi Besar Muhammad saw. dan kesempurnaan agama Islam dengan   berbagai fitnah keji yang mereka lontarkan:
     “Dalam pandangan kami,  tidak ada kesaksian yang lebih tinggi daripada kesaksian Hadhrat Rasulullah Saw.. Hatiku gemetar ketika aku mendengar ada orang yang ketika dikemukakan fatwa Hadhrat Rasulullah ia tidak mau menerimanya dan bahkan berpaling darinya.” (Itmamul Hujjah, Gulzar Muhammadi Press, Lahore, 1311 H, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VIII, hlm. 293, London, 1984).
        Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai kesiap-sediaan umat Islam untuk mengorbankan jiwa sekali pun demi membela kehormatan dan kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dari bebagai fitnah pihak lawan:
      “Umat Muslim adalah kelompok manusia yang siap menyerahkan jiwanya untuk menjunjung tinggi kehormatan Nabi Suci mereka. Mereka lebih memilih mati daripada harus menanggung malu hanya karena pertimbangan mereka harus berdamai dan bersahabat dengan sekelompok manusia yang siang malam disibukkan dengan kegiatan menghujat Hadhrat Rasulullah Saw..
       Mereka ini selalu menyebut nama beliau dengan sebutan nista dalam buku-buku, harian dan pengumuman mereka serta menggunakan bahasa yang kotor jika membicarakan beliau. Orang-orang seperti itu tidak mempunyai itikad baik, bahkan terhadap bangsanya sendiri, karena mereka selalu menciptakan berbagai kesulitan bagi bangsanya.
     Aku mengatakan sesungguhnya bahwa masih mungkin bagi kami untuk berdamai dengan ular atau binatang liar di hutan, namun mustahil bagi kami untuk disuruh berdamai dengan orang-orang yang tidak menahan diri dari memburuk-burukkan Rasul Allah dan yang menganggap caci-maki dan memburuk-burukkan orang lain sebagai suatu bentuk kemenangan. Kemenangan haqiqi hanya datang dari langit.” (artikel dilekatkan pada Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 385-386, London, 1984).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

     Di dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman mengenai kesedihan yang dialami Rasul  Allah yang kedatangannya dijanjikan di Akhir Zaman  karena menyaksikan keadaan umat Islam yang telah memperlakukan Al-Quran sebagai  sesuatu yang telah ditinggalkan, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. (Al-Furqān [25]:32).
   Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran di Akhir Zaman ini sedemikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim.
      Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.    yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
Melihat kenyataan yang sangat menyedihkan itulah Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Pelecehan yang dialamatkan kepada agama Islam dan Hadhrat Rasulullah Saw., serangan terhadap syariah Ilahi, kemurtadan dan bid’ah yang telah menyebar luas sekarang ini tidak ada padanannya di masa lalu. Dalam jangka waktu singkat di India ini saja ada 100.000  orang yang berpindah agama menjadi Kristen dan lebih dari  6  juta buku yang diterbitkan untuk menyerang Islam.
      Mereka yang berasal dari keluarga-keluarga mulia telah kehilangan agama mereka, sedangkan mereka yang biasa menyebut dirinya sebagai keturunan Nabi Suci Saw. telah mengenakan jubah Kristiani dan sekarang malah memusuhi beliau.
     Hatiku menangis pilu karena misalnya pun orang-orang ini membunuh anak-anakku di hadapan mataku, menjagal sahabat-sahabatku serta membunuh diriku dengan cara yang paling hina sekalipun dan merampas seluruh harta bendaku, aku tidak akan lebih sakit dan hatiku tidak akan lebih pedih daripada harus mendengar caci-maki yang dilontarkan terhadap Hadhrat Rasulullah.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.V, hlm. 51-52, London, 1984).
    Perlu diketahui bahwa selain benua Afrika, sasaran gerakan Kristenisasi yang dilancarkan oleh para missionaris Kristen  adalah  Hindustan, yang ketika itu menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Inggris  yang berhasil mengalahkan kekuasaan bangsa Sikh   di  benua alit tersebut.
     Tetapi kesuksesn gerakan Kristeniasi di sana segera terhenti dengan  pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi a.s. dan juga Al-Masih Mau’ud a.s.,  sehingga serangan-serangan fitnah  -- baik melalui lisan mau pun tulisan –   terus menerus menimpa umat Islam  yang tak berdaya terhadap  dan kesucian Nabi Besar Muhammad saw. telah berubah arah   akibat pembelaan tak terbantahkan  yang dilakukan oleh Masih Mau’ud a.s..

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 14 Desember  2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar