بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Keberlangsungan Berbagai Mukjizat Nabi Besar Muhammad
Saw. & Pewarisan Nikmat Kenabian dan Kerajaan Bani Israil Kepada Umat
Islam
Bab 34
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih mau’ud a.s. mengenai mukjizat Nabi Besar Muhammad saw.
berupa “terbelahnya bulan”, lebih jauh beliau a.s. menjelaskan mengenai nubuatan-nubuatan dari kaum lain mengenai peristiwa “terbelahnya bulan” tersebut:
“Aku
ingin bertanya, bahwa jika Hadhrat
Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa beliau
telah membelah bulan dengan cara menunjuknya
dengan jari beliau dimana para orang kafir juga telah menyaksikannya -- walaupun mereka menganggapnya sebagai sihir belaka -- bahwa pernyataan beliau
itu dusta, lalu mengapa para lawan
beliau menutup mulut dan mengapa
mereka tidak menggugat Nabi Suci Saw.
bahwa tidak benar beliau telah membelah bulan?
Ditambah lagi mereka tidak ada mengatakan
bahwa kejadian itu sihir semata tetapi tidak juga menyangkal bahwa hal
tersebut telah terjadi. Mengapa
mereka berdiam diri dan tetap tutup mulut sampai mereka itu kemudian
meninggalkan dunia ini?
Apakah sikap tutup mulut mereka yang sebenarnya tidak konsisten dengan sikap perlawanan mereka serta hasrat mereka untuk selalu mempertanyakan segala hal,
menunjukkan bahwa mereka terhalang bicara karena adanya rintangan yang besar? Apa yang bisa menghalangi mereka kecuali bahwa kejadian
tersebut memang benar-benar terjadi?
Mukjizat
ini terjadi di Mekkah ketika keadaan
umat Muslim masih dalam keadaan sangat lemah dan tidak berdaya. Adalah suatu hal yang mengherankan bahwa anak-anak atau cucu dari para lawan
Hadhrat Rasulullah Saw. pada waktu itu juga tidak ada mengutarakan sesuatu yang
membantah perihal kejadian tersebut, karena kalau
misalnya pernyataan Hadhrat Rasulullah Saw. dusta adanya, tetapi mendapat publisitas
sangat luas, tentunya mereka telah menulis atau mengungkapkannya sebagai
suatu kedustaan.
Jika umat Muslim tetap meyakini hal ini secara terbuka
di hadapan ribuan orang dan yang buktinya
ada tercantum dalam naskah-naskah dari
masa itu, sedangkan ratusan ribu umat
Kristen, bangsa Arab, bangsa Yahudi dan umat Magi[1] tidak ada yang berani
menyangkalnya maka jelaslah bahwa para
lawan tersebut memang benar ada menyaksikan
pembelahan bulan.
Kami ingin menambahkan
bahwa kejadian pembelahan bulan
tersebut ada tercatat dalam naskah-naskah kuno bangsa Hindu. Beas
Ji[2] mencatat dalam Mahabharata
bahwa pada masanya bulan pernah terbelah
dua dan kemudian menyatu lagi.
Ia mengemukakan hal ini sebagai mukjizat
dari Biswamtar walau tanpa
menjelaskan buktinya.
Rupanya kejadian terbelahnya bulan ini cukup dikenal di
antara umat Hindu, bahkan pada masa
penulisan sejarah Farishta dimana si
pengarang dalam diskursus (risalah) yang
ke sebelas menyatakan, bahwa Raja dari Dharka yang terletak dekat sungai Phanbal di Malwa (sekarang mungkin bernama Dhara Nagri) sedang
duduk di atas teras atap istananya ketika menyaksikan
bulan terbelah dua untuk kemudian menyatu
lagi. Berdasarkan hasil penelitiannya, raja
itu menemukan bahwa hal tersebut merupakan mukjizat
dari Nabi bangsa Arab dan karena itu
ia lalu menjadi Muslim.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.
122-127, London, 1984).
Keberlangsungan Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw.
Masih Mau’ud a.s.
selanjutnya menjelaskan mengenai keberlangsungan berbagai mukjizat
Nabi Besar Muhammad saw. serta Tanda-tanda
Ilahi yang membuktikan pemeliharaan-Nya atas keabadian ruhani nabi Besar Muhammad
saw. dan kesempurnaan Al-Quran
sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna:
“Mukjizat dan tanda-tanda yang dikaruniakan Allah Swt.. kepada Junjungan dan Penghulu kita Hadhrat
Rasulullah Saw. tidak dibatasi
hanya untuk selama masa kehidupan
beliau saja, tetapi tetap akan berlanjut terus sampai dengan Hari Penghisaban nanti.
Pada masa sebelumnya tidak ada nabi yang mendapat karunia demikian meskipun yang
bersangkutan datang dari pengikut nabi
terdahulu dan telah ia bantu dalam penyiaran ajarannya, sedangkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. telah diberikan
karunia khusus ini karena beliau
adalah Khātamal Anbiya.
Sebagai Khātamal Anbiya maka beliau, pertama,
telah mencapai puncak kemuliaan kenabian, dan kedua, karena setelah beliau tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru, tidak juga
seorang nabi yang bukan dari kalangan pengikut beliau.
Siapa pun yang mendapat kehormatan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan,
bisa mencapai derajat itu melalui berkat dan syafaat beliau, dikenal sebagai pengikut beliau dan bukan menjadi nabi yang bersifat langsung
(nabi mustaqil). Derajat beliau demikian tinggi sehingga sekarang ini ada
sekitar 200 juta manusia yang
merupakan umat Muslim dan tegak di
hadapan beliau sebagai hambanya. Raja-raja akbar yang menaklukkan
bagian-bagian dari dunia telah bersimpuh di kaki beliau sebagaimana laiknya
seorang hamba sahaya dan menerima
(siap) turun dari tahta mereka jika disebut
nama beliau.
Karena itu
pertimbangkanlah, apakah keagungan
atau kemuliaan ini -- beserta
beribu-ribu tanda samawi dan berkat Ilahi -- bisa dikaruniakan kepada seorang pendusta? Kami berbangga hati bahwa Hadhrat
Rasulullah Saw. yang kepadanya kami
telah melekatkan diri, dikaruniai
demikian banyak rahmat agung oleh
Allah Swt.. Beliau itu jelas bukanlah Tuhan namun melalui beliau
kita bisa mengenal Tuhan.
Agama beliau yang turun kepada kita merupakan cerminan Kekuasaan
Ilahi. Kalau bukan karena agama
Islam, sulit bagi manusia di masa ini untuk memahami apa itu kenabian
dan apakah mukjizat-mukjizat masih
mungkin terjadi serta apakah mukjizat
itu hanya merupakan bagian dari hukum alam? Teka-teki ini telah
dipecahkan melalui rahmat abadi dari
nabi yang mulia tersebut, dan karena berkat
beliau itulah maka kita sekarang ini tidak terbatas hanya menjadi pendongeng kisah-kisah kuno sebagaimana
halnya umat lain,
melainkan bisa menikmati bantuan
dari Nur Ilahi dan pertolongan Samawi.
Tidak akan pernah cukup
besar syukur yang bisa kita
panjatkan kepada Allah Swt. dimana melalui Nabi suci-Nya ini kita telah mengenal
Tuhan Yang Maha Mulia, Yang tersembunyi
bagi umat lain.” (artikel dilekatkan pada Chasma
Marifat,
Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 380-381, London, 1984).
Nabi Besar Muhammad Saw. sebagai Nabi yang Hidup & Kemenangan yang Dianugerahkan
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
“Semua mukjizat yang diperlihatkan oleh semua nabi terdahulu telah berakhir bersamaan dengan akhir hayat mereka, namun mukjizat Nabi kita Hadhrat Rasulullah
Saw. tetap segar dan hidup pada setiap masa. Bahwa mukjizat-mukjizat itu tetap hidup dan tidak tunduk kepada maut merupakan bukti bahwa hanya Hadhrat Rasulullah Saw. saja yang
merupakan Nabi yang hidup dan bukti
bahwa kepada beliau telah dikaruniakan kehidupan
haqiqi.
Ajaran
beliau merupakan ajaran yang hidup
karena buah dan berkatnya tetap bisa dinikmati
sekarang sebagaimana dinikmati umat
pada masa 1300 tahun yang lalu. Kita memiliki ajaran yang jika dilaksanakan
dengan sempurna maka seseorang bisa
menyatakan bahwa ia telah diberkati
dengan buah dan rahmat dari ajaran
itu, dan bahwa ia telah menjadi tanda Ilahi.
Berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa kita bisa menjumpai buah dan berkat dari Kitab Suci Al-Quran di sekitar kita,
dan kita tetap bisa menemukan rahmat
dan tanda-tanda Samawi yang
diberikan berkat kesetiaan kepada Hadhrat Rasulullah Saw.. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Agung telah menetapkan Jemaat ini sebagai saksi hidup bagi kebenaran
Islam serta membuktikan bahwa rahmat dan Tanda-tanda yang muncul 1300 tahun yang lalu juga muncul di masa kini berkat kepatuhan yang sempurna kepada Nabi Suci Saw..
Beratus-ratus tanda-tanda yang telah diberikan. Kami
telah mengundang pemuka-pemuka dari berbagai bangsa dan semua agama lain agar mereka juga memperlihatkan tanda-tanda kebenaran
mereka untuk melawan kami, namun tidak ada satu pun yang mampu
mengemukakan contoh kebenaran dari agama mereka.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 38).
Masih
Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda:
“Janji kemenangan yang diberikan Allah Yang Maha Perkasa melalui keagungan Ilahiat sebagai perlawanan terhadap semua musuh, semua penyangkal, mereka yang kaya
raya, para penguasa yang
berkuasa, segenap ahli filosofi,
semua penganut dari agama-agama lainnya terhadap sosok yang bersahaja, lemah, miskin, tidak terpelajar dan tidak
terlatih, yang telah dipenuhi pada
masanya dan sampai sekarang pun tetap
dipenuhi, jelaslah hal itu bukan hasil kerja seorang manusia biasa.
Sosok manusia miskin, kesepian
dan bersahaja itu memaklumkan ajarannya dan menegakkan agamanya pada saat ia tidak memiliki siapa pun bersamanya kecuali segelintir sahabat-sahabat miskin dimana seluruh umat Muslim yang ada bisa dimasukkan dalam satu kamar kecil dan jumlahnya bisa dihitung
dengan jari-jari dua tangan saja. Mereka harus menghadapi para penguasa dunia dan mereka harus menangani manusia berjuta-juta
bilangannya yang bertekad menghancurkan mereka.
Tetapi sekarang
perhatikanlah, bagaimana Allah Swt. telah menyebarkan
orang-orang lemah tersebut ke
seluruh penjuru bumi, dan bagaimana Dia telah menganugrahkan kekuasaan,
kekayaan dan kerajaan atas mereka, dan bagaimana buat lebih dari 1000 tahun mereka dikaruniai tahta dan mahkota.
Pernah jumlah mereka tidak lebih besar dari
anggota sebuah keluarga kecil
sedangkan sekarang ini mereka berjumlah ratusan
juta manusia. Allah Swt.. menjanjikan bahwa Dia
akan menjaga kemurnian firman-Nya dan apakah tidak benar bahwa ajaran Hadhrat Rasulullah Saw. yang
datang berupa firman dari Allah Yang Maha Agung nyatanya masih tetap terjaga, sedangkan manusia yang
telah menghafalkannya berjumlah ratusan ribu orang?
Allah menyatakan bahwa
tidak ada satu pun yang akan mampu menandingi
Kitab-Nya dalam kebijakan dan pemahaman, keindahan komposisinya, penguasaan
pengetahuan tentang Ilahi dan
dalam mengemukakan argumentasi keagamaan,
dan nyatanya memang demikian itulah yang terjadi.
Jika ada yang mempertanyakan hal ini, silakan yang bersangkutan maju dan buatkan tandingannya, atau silakan ia mengambil
dari kitab-kitab lain kebenaran, kehalusan telaah, mutiara hikmah dan keajaiban yang sama
sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam buku ini yang bersumber dari Al-Quran,
dan untuk itu kami sediakan hadiah sebesar 10.000
rupees.
Kalau dalam kenyataannya ia gagal melakukannya maka ia menjadi terhukum dalam pandangan Tuhan. Allah Swt. telah menjanjikan
akan menarik negeri Syria dari kekuasaan umat Kristiani dan akan menyerahkannya
kepada umat Muslim.
Pewarisan Nikmat Kenabian Bani Israil
Demikian itulah yang
telah terjadi dan sekarang umat Muslim mewarisi tanah tersebut.
Semua nubuatan demikian selalu
diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan Ilahi. Nubuatan
demikian tidak sama dengan ramalan
astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau
serangan suatu bangsa kepada bangsa lain.
Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Quran serta beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah Saw. serta mencintai beliau dan menganggap beliau
itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua makhluk dan semua nabi, rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu
menikmati segala karunia nubuatan
tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa
atau Nabi Isa. Mereka akan diterangi oleh Nur Israili
dan menikmati karunia para nabi
turunan Ya’qub. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khātaman Nabiyīn dan betapa
agungnya Nur yang telah diperoleh
seorang hamba beliau yang lemah ini.
Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas Nabi Engkau dan
kekasih Engkau, Penghulu para nabi, sebaik-baik rasul dan Khātaman Nabiyīn, Muhammad dan para pengikut
serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.
Para ulama Kristen, para
Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah
mempertanyakan dimana berkat-berkat
tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Nabi Suci Saw.
bersama-sama dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya
hanya untuk umat Muslim dan dihalangi bagi umat dan penganut agama
lain?
Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami
telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan
kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada
para pencari kebenaran yang sudah
siap menjadi Muslim setelah
menyaksikan keunggulan agama Islam.
Dalam catatan kaki kedua[3], secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugrahkan berkat dan rahmat atas
umat Muslim, dan bagaimana Dia telah
menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang
kejadian-kejadian yang berada di luar
kemampuan nalar manusia.
Karena itu jika ada ulama
Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal
hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman
batinnya, begitu pula dengan bangsa Arya serta para penganut agama lain,
kalau memang benar-benar ingin mencari
Tuhan maka menjadi kewajiban
bagi mereka -- sebagaimana para pencari
kebenaran lainnya -- untuk menanggalkan
seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat
keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran haqiqi maka datanglah
kepada kami sebagaimana laiknya seorang
yang miskin dan bersahaja serta
bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi (bertakwa) agar dengan perkenan Allah Swt. ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi
atas kefasikannya sendiri.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 266-275, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 8 Desember 2015
[1]
Bangsa Magi seringkali dikaitkan den gan bangsa Parsi yang
merupakan kasta pendeta tersendiri, atau juga kemungkinan umat Israil yang
terasing dari negerinya yang kemudian menetap di timur seperti Syria,
Afghanistan dan Kashmir. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum).
[2]
Kemungkinan yang dimaksud adalah Baba Ji Jaimal Singh
(1838 - 1903) , pemuka umat Sikh yang
tinggal di tepi sungai Beas, dekat Amritsar. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
[3]
Berkaitan dengan catatan kaki ke 2 dalam Brahin-i-
Ahmadiyah di halaman 293 Ruhani Khazain jld.
I. (Penerbit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar