Senin, 14 Desember 2015

Keberlangsungan Berbagai Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw. & Pewarisan Nikmat Kenabian dan Kerajaan Bani Israil Kepada Umat Islam


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap  Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

 Keberlangsungan Berbagai Mukjizat Nabi Besar Muhammad  Saw.  & Pewarisan Nikmat Kenabian dan Kerajaan Bani Israil Kepada Umat Islam


Bab 34


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih mau’ud a.s. mengenai mukjizat Nabi Besar Muhammad saw. berupa  “terbelahnya bulan”, lebih jauh beliau a.s. menjelaskan mengenai nubuatan-nubuatan  dari kaum lain mengenai peristiwa “terbelahnya bulan” tersebut:
      “Aku ingin bertanya,  bahwa jika Hadhrat Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa beliau telah membelah bulan dengan cara menunjuknya dengan jari beliau dimana para orang kafir juga telah menyaksikannya --  walaupun mereka menganggapnya sebagai sihir belaka -- bahwa pernyataan beliau itu dusta, lalu mengapa para lawan beliau menutup mulut dan mengapa mereka tidak menggugat Nabi Suci Saw. bahwa tidak benar beliau telah membelah bulan?
      Ditambah lagi mereka tidak ada mengatakan bahwa kejadian itu sihir semata tetapi tidak juga menyangkal bahwa hal tersebut telah terjadi. Mengapa mereka berdiam diri dan tetap tutup mulut sampai mereka itu kemudian meninggalkan dunia ini?
    Apakah sikap tutup mulut mereka yang sebenarnya tidak konsisten dengan sikap perlawanan mereka serta hasrat mereka untuk selalu mempertanyakan segala hal, menunjukkan bahwa mereka terhalang bicara karena adanya rintangan yang besar? Apa yang bisa menghalangi mereka kecuali bahwa kejadian tersebut memang benar-benar terjadi?
    Mukjizat ini terjadi di Mekkah ketika keadaan umat Muslim masih dalam keadaan sangat lemah dan tidak berdaya. Adalah suatu hal yang mengherankan bahwa anak-anak atau cucu dari para lawan Hadhrat Rasulullah Saw. pada waktu itu juga tidak ada mengutarakan sesuatu yang membantah perihal kejadian tersebut, karena kalau misalnya pernyataan Hadhrat Rasulullah Saw. dusta adanya, tetapi mendapat publisitas sangat luas, tentunya mereka telah menulis atau mengungkapkannya sebagai suatu kedustaan.
    Jika umat Muslim tetap meyakini hal ini secara terbuka di hadapan ribuan orang dan yang buktinya ada tercantum dalam naskah-naskah dari masa itu,  sedangkan ratusan ribu umat Kristen, bangsa Arab, bangsa Yahudi dan umat Magi[1] tidak ada yang berani menyangkalnya maka jelaslah bahwa para lawan tersebut memang benar ada menyaksikan pembelahan bulan.
   Kami ingin menambahkan bahwa kejadian pembelahan bulan tersebut ada tercatat dalam naskah-naskah kuno bangsa Hindu. Beas Ji[2] mencatat dalam Mahabharata bahwa pada masanya bulan pernah terbelah dua dan kemudian menyatu lagi. Ia mengemukakan hal ini sebagai mukjizat dari Biswamtar walau tanpa menjelaskan buktinya.
     Rupanya kejadian terbelahnya bulan ini cukup dikenal di antara umat Hindu, bahkan pada masa penulisan sejarah Farishta dimana si pengarang dalam diskursus (risalah)  yang ke sebelas menyatakan,  bahwa Raja dari Dharka yang terletak dekat sungai Phanbal di Malwa (sekarang mungkin bernama Dhara Nagri) sedang duduk di atas teras atap istananya ketika menyaksikan bulan terbelah dua untuk kemudian menyatu lagi. Berdasarkan hasil penelitiannya, raja itu menemukan bahwa hal tersebut merupakan mukjizat dari Nabi bangsa Arab dan karena itu ia lalu menjadi Muslim.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. II, hlm.  122-127, London, 1984).

Keberlangsungan Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw.

     Masih Mau’ud a.s. selanjutnya menjelaskan mengenai keberlangsungan  berbagai mukjizat Nabi Besar Muhammad saw. serta Tanda-tanda Ilahi yang membuktikan  pemeliharaan-Nya atas keabadian ruhani nabi Besar Muhammad saw. dan kesempurnaan Al-Quran sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna:
      “Mukjizat dan tanda-tanda yang dikaruniakan Allah Swt.. kepada Junjungan dan Penghulu kita Hadhrat Rasulullah Saw. tidak dibatasi hanya untuk selama masa kehidupan beliau saja,  tetapi tetap akan berlanjut terus sampai dengan Hari Penghisaban nanti.
    Pada masa sebelumnya tidak ada nabi yang mendapat karunia demikian meskipun yang bersangkutan datang dari pengikut nabi terdahulu dan telah ia bantu dalam penyiaran ajarannya, sedangkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. telah diberikan karunia khusus ini karena beliau adalah Khātamal Anbiya.
    Sebagai Khātamal Anbiya maka beliau, pertama, telah mencapai puncak   kemuliaan kenabian,  dan kedua, karena setelah beliau tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru, tidak juga seorang nabi yang bukan dari kalangan pengikut beliau.
      Siapa pun yang mendapat kehormatan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, bisa mencapai derajat itu melalui berkat dan syafaat beliau, dikenal sebagai pengikut beliau dan bukan menjadi nabi yang bersifat langsung (nabi mustaqil).     Derajat beliau demikian tinggi sehingga sekarang ini ada sekitar 200 juta manusia yang merupakan umat Muslim dan tegak di hadapan beliau sebagai hambanya. Raja-raja akbar yang menaklukkan bagian-bagian dari dunia telah bersimpuh di kaki beliau sebagaimana laiknya seorang hamba sahaya dan menerima (siap)  turun dari tahta mereka jika disebut nama beliau.
    Karena itu pertimbangkanlah, apakah keagungan atau kemuliaan ini -- beserta beribu-ribu tanda samawi dan berkat Ilahi --  bisa dikaruniakan kepada seorang pendusta? Kami berbangga hati bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. yang kepadanya  kami telah melekatkan diri, dikaruniai demikian banyak rahmat agung oleh Allah Swt..  Beliau itu jelas bukanlah Tuhan namun melalui beliau kita bisa  mengenal Tuhan.   
     Agama beliau yang turun kepada kita merupakan cerminan   Kekuasaan Ilahi. Kalau bukan karena agama Islam, sulit bagi manusia di masa ini untuk memahami apa itu kenabian dan apakah mukjizat-mukjizat masih mungkin terjadi serta apakah mukjizat itu hanya merupakan bagian dari hukum alam? Teka-teki ini telah dipecahkan melalui rahmat abadi dari nabi yang mulia tersebut, dan karena berkat beliau itulah maka kita sekarang ini tidak terbatas hanya menjadi pendongeng kisah-kisah kuno sebagaimana  halnya umat lain, melainkan bisa menikmati bantuan dari Nur Ilahi dan pertolongan Samawi.
       Tidak akan pernah cukup besar syukur yang bisa kita panjatkan kepada Allah Swt.  dimana melalui Nabi suci-Nya ini kita telah mengenal Tuhan Yang Maha Mulia, Yang tersembunyi bagi umat lain.” (artikel dilekatkan pada Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. XXIII, hlm.  380-381, London, 1984).

Nabi Besar Muhammad Saw. sebagai Nabi yang Hidup  & Kemenangan yang Dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

     “Semua mukjizat yang diperlihatkan oleh semua nabi terdahulu telah berakhir bersamaan dengan akhir hayat mereka, namun mukjizat Nabi kita Hadhrat Rasulullah Saw. tetap segar dan hidup pada setiap masa. Bahwa mukjizat-mukjizat itu tetap hidup dan tidak tunduk kepada maut merupakan bukti bahwa hanya Hadhrat Rasulullah Saw. saja yang merupakan Nabi yang hidup dan bukti bahwa kepada beliau telah dikaruniakan kehidupan haqiqi.
     Ajaran beliau merupakan ajaran yang hidup karena buah dan berkatnya tetap bisa dinikmati sekarang sebagaimana dinikmati umat pada masa 1300 tahun yang lalu. Kita memiliki ajaran yang jika dilaksanakan dengan sempurna maka seseorang bisa menyatakan bahwa ia telah diberkati dengan buah dan rahmat dari ajaran itu,  dan bahwa ia telah menjadi tanda Ilahi.
      Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa kita bisa menjumpai buah dan berkat dari Kitab Suci Al-Quran di sekitar kita, dan kita tetap bisa menemukan rahmat dan tanda-tanda Samawi yang diberikan berkat kesetiaan kepada Hadhrat Rasulullah Saw.. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Agung telah menetapkan Jemaat ini sebagai saksi hidup bagi kebenaran Islam serta membuktikan bahwa rahmat dan Tanda-tanda yang muncul 1300 tahun yang lalu juga muncul di masa kini berkat kepatuhan yang sempurna kepada Nabi Suci Saw..
   Beratus-ratus tanda-tanda yang telah diberikan. Kami telah mengundang pemuka-pemuka dari berbagai bangsa dan semua agama lain agar mereka juga memperlihatkan tanda-tanda kebenaran mereka untuk melawan kami, namun tidak ada satu pun yang mampu mengemukakan contoh kebenaran dari agama mereka.” (Malfuzat, jld. III, hlm.  38).
 Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda:
   “Janji kemenangan yang diberikan Allah Yang Maha Perkasa melalui keagungan Ilahiat sebagai perlawanan terhadap semua musuh, semua penyangkal, mereka yang kaya raya, para penguasa yang berkuasa, segenap ahli filosofi, semua penganut dari agama-agama lainnya terhadap sosok yang bersahaja, lemah, miskin, tidak terpelajar dan tidak terlatih, yang telah dipenuhi pada masanya dan sampai sekarang pun tetap dipenuhi, jelaslah hal itu  bukan hasil kerja seorang manusia biasa.
     Sosok manusia miskin, kesepian dan bersahaja itu memaklumkan ajarannya dan menegakkan agamanya pada saat ia tidak memiliki siapa pun bersamanya kecuali segelintir sahabat-sahabat miskin dimana seluruh umat Muslim yang ada bisa dimasukkan dalam satu kamar kecil dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari-jari dua tangan saja. Mereka harus menghadapi para penguasa dunia dan mereka harus menangani manusia berjuta-juta bilangannya yang bertekad menghancurkan mereka.
    Tetapi sekarang perhatikanlah, bagaimana Allah Swt.  telah menyebarkan orang-orang lemah tersebut ke seluruh penjuru bumi, dan bagaimana Dia telah menganugrahkan kekuasaan, kekayaan dan kerajaan atas mereka, dan bagaimana buat lebih dari 1000 tahun mereka dikaruniai tahta dan mahkota.
      Pernah jumlah mereka tidak lebih besar dari anggota sebuah keluarga kecil sedangkan sekarang ini mereka berjumlah ratusan juta manusia. Allah Swt.. menjanjikan  bahwa Dia akan menjaga kemurnian firman-Nya dan apakah tidak benar bahwa ajaran Hadhrat Rasulullah Saw. yang datang berupa firman dari Allah Yang Maha Agung nyatanya masih tetap terjaga, sedangkan manusia yang telah menghafalkannya berjumlah ratusan ribu orang?
    Allah menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang akan mampu menandingi Kitab-Nya dalam kebijakan dan pemahaman, keindahan komposisinya, penguasaan pengetahuan tentang Ilahi dan dalam mengemukakan argumentasi keagamaan, dan nyatanya memang demikian itulah yang terjadi.
       Jika ada yang mempertanyakan hal ini, silakan yang bersangkutan maju dan buatkan tandingannya, atau silakan ia mengambil dari kitab-kitab lain kebenaran, kehalusan telaah, mutiara hikmah dan keajaiban yang sama sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam buku ini yang bersumber dari Al-Quran, dan untuk itu kami sediakan hadiah sebesar 10.000 rupees.
    Kalau dalam kenyataannya ia gagal melakukannya maka ia menjadi terhukum dalam pandangan Tuhan. Allah Swt.  telah menjanjikan akan menarik negeri Syria  dari kekuasaan umat Kristiani dan akan menyerahkannya kepada umat Muslim.

Pewarisan Nikmat  Kenabian Bani Israil

     Demikian itulah yang telah  terjadi dan sekarang umat Muslim mewarisi tanah tersebut. Semua nubuatan demikian selalu diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan IlahiNubuatan demikian tidak sama dengan ramalan astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau serangan suatu bangsa kepada bangsa lain.
   Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Quran serta beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah Saw. serta mencintai beliau dan menganggap beliau itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua makhluk dan semua  nabi, rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu menikmati segala karunia nubuatan tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa atau Nabi Isa.  Mereka akan diterangi oleh Nur Israili dan menikmati karunia para  nabi turunan Ya’qub. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khātaman Nabiyīn dan betapa agungnya Nur yang telah diperoleh seorang hamba beliau yang lemah ini.
        Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas Nabi  Engkau dan kekasih Engkau, Penghulu para nabi, sebaik-baik rasul dan Khātaman Nabiyīn, Muhammad dan para pengikut serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.
      Para ulama Kristen, para Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah mempertanyakan dimana berkat-berkat tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Nabi Suci Saw. bersama-sama dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya hanya untuk umat Muslim dan dihalangi bagi umat dan penganut agama lain?
  Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada para pencari kebenaran yang sudah siap menjadi Muslim setelah menyaksikan keunggulan   agama Islam.
      Dalam catatan kaki kedua[3], secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugrahkan berkat dan rahmat atas umat Muslim, dan bagaimana Dia telah menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang kejadian-kejadian yang berada di luar kemampuan nalar manusia.
    Karena itu jika ada ulama Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman batinnya, begitu pula dengan bangsa Arya serta para penganut agama lain, kalau memang benar-benar ingin mencari Tuhan maka menjadi kewajiban bagi mereka -- sebagaimana para pencari kebenaran lainnya -- untuk menanggalkan seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran haqiqi maka datanglah kepada kami sebagaimana laiknya seorang yang miskin dan bersahaja serta bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi (bertakwa) agar dengan perkenan Allah Swt.  ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi atas kefasikannya sendiri.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  266-275, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 Desember  2015








[1] Bangsa Magi seringkali dikaitkan den gan bangsa Parsi yang merupakan kasta pendeta tersendiri, atau juga kemungkinan umat Israil yang terasing dari negerinya yang kemudian menetap di timur seperti Syria, Afghanistan dan Kashmir. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).

[2] Kemungkinan yang dimaksud adalah Baba Ji Jaimal Singh (1838 - 1903) , pemuka umat  Sikh yang tinggal di tepi sungai Beas, dekat Amritsar. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).

[3] Berkaitan dengan catatan kaki ke 2 dalam Brahin-i- Ahmadiyah di halaman 293 Ruhani  Khazain jld. I.  (Penerbit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar