بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Pengutusan Nabi Besar
Muhammad Saw. Digambarkan oleh Para Rasul Allah Dalam Bible Sebagai “Kedatangan
Tuhan”
Bab 25
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih
Mau’ud a.s. mengenai
menjadi “kekasih “Allah Swt.,
sehubungan dengan itu Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Hasil ikutan dari mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullah saw. -- khususnya yang berkaitan
dengan kasih, hormat dan kepatuhan
kepada beliau --adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah Swt. dimana dosa-dosanya
akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan.
Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan
dari dosa-dosanya. Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang
murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung
maka perbuatan baik bagi manifestasi (perwujudan) keagungan
tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa.
Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah saw. dan mengakui kebesaran
beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan -- sedemikian rupa
sehingga ia mencapai taraf fana (tenggelam) -- maka ia karena hubungannya yang dekat kepada
Rasulullah saw. akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau.
Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, [demikian juga]
kegelapan dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi
yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh
Nur, dan kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya, sedangkan Nur kecintaan Allah Swt.
akan mengalir keluar (memancar) dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan
di dalam dirinya akan sirna sama
sekali dan ia akan menikmati pencerahan
dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga
seluruh kegelapan dosa akan meninggalkan batinnya.
Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis (ada) di satu tempat,
seperti itu jugalah Nur keimanan dan
kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang
belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya
mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal yang baik sebagaimana diungkapkan dalam
Al-Quran:
اللّٰہَ حَبَّبَ اِلَیۡکُمُ
الۡاِیۡمَانَ وَ زَیَّنَہٗ
فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ وَ کَرَّہَ اِلَیۡکُمُ الۡکُفۡرَ وَ الۡفُسُوۡقَ وَ
الۡعِصۡیَانَ
Allah telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbu
kamu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan serta kedurhakaan (Al-Hujurat [49]:8).
(Review of Religions, Urdu, jld. I, no. 5,
hlm. 194-195).
Kemustahilan Non-Muslim Mempertunjukkan Tanda-tanda
Ilahi & Pentingnya Beriman Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan
Lebih
lanjut Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai kemustahilan para pengikut di luar Islam dapat mempertunjukkan tanda-tanda dari Allah
Swt.:
“Pencapaian derajat
sebagai orang yang dikasihi dan diridhai Allah Swt. dan menjadi salah seorang sahabat-Nya (wali-Nya), tidak mungkin dicapai tanpa kepatuhan kepada Hadhrat Rasulullah saw..
Tidak mungkin bagi seorang Kristen, Arya atau Yahudi memperlihatkan tanda-tanda
dan nur keridhaan Tuhan
jika memusuhi pengikut Nabi Suci saw. yang benar.
Ada satu cara yang jelas untuk menentukan hal
ini. Tidak ada lawan yang berasal dari umat lain -- seperti
Kristen dan yang lainnya -- yang
memusuhi seorang Muslim bertakwa pengikut setia dari Nabi
Suci saw. bisa berdiri tegak memaklumkan
(mengumumkan) bahwa ia sanggup
mempertunjukkan tanda-tanda yang
sama dari langit yang mendukung sang
Muslim, atau mampu mengungkapkan rahasia-rahasia langit serta pertolongan samawi melalui pengabulan doa.
Tidak juga ia akan mampu mempertunjukkan tanda-tanda alamiah yang dimunculkan bagi sang Muslim, atau pun nubuatan tentang bantuan
Allah Swt.. serta nubuatan peringatan
tentang akhir yang buruk bagi para musuhnya. Tidak akan ada
dari mereka itu yang akan berani
menentang seorang pengikut setia
Hadhrat Rasulullah saw. dengan cara demikian,
karena dalam hati kecilnya mereka mengakui kedustaan mereka dan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah Yang Maha Benar,
Yang menjadi Penolong bagi para muttaqi dan Sahabat dari para mukminin.” (Tasdiqin Nabi, hlm. 45-46 atau Maktubati Ahmadiyah, jld. 3, hlm. 78-79).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai pentingnya beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt.:
“Beriman kepada seorang Rasul Allah
merupakan prasyarat untuk beriman kepada Ketauhidan Ilahi, yang
satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya. Seseorang yang menyatakan beriman kepada Ke-Esa-an Tuhan tanpa mengikuti Nabi Suci saw. adalah sama dengan tulang kering yang tidak berisi sumsum dan seolah memegang lentera
gelap yang tidak memberikan cahaya.
Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan adalah Wujud tanpa
sekutu tetapi tidak beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw. sama saja
dengan seorang yang hatinya dijangkiti kusta serta buta karena tidak memahami apa yang dimaksud dengan Ketauhidan Ilahi.
Syaitan masih lebih baik
daripada dirinya dalam pengakuan mengenai Ketauhidan Ilahi
karena syaitan meskipun mungkar namun ia meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan, padahal orang demikian itu tidak meyakini Allah Swt...”
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press,
1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 122,
London, 1984).
Tiga Macam Gambaran
Martabat Ruhani “Kedekatan” Dengan
Allah Swt. & Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw. Seakan-akan “Kedatangan Tuhan”
“Ada yang mempertanyakan
bahwa jika Nabi Isa a.s. dan aku
telah mencapai maqam (derajat) demikian (derajat “putra”), lalu derajat apakah yang tersisa bagi junjungan dan penghulu
kita, Rasul yang terbaik, Khātamal Anbiya, wujud yang terpilih, Muhammad saw.?
Jawabannya adalah bahwa
bagi beliau adalah derajat yang luhur dan bersifat khusus, yang tidak mungkin dicapai orang lain. Tingkat kedekatan dan kasih kepada Allah Swt. dari
sudut keruhanian terdiri dari tiga
jenis yakni:
Tingkat
paling bawah (meski pun tetap juga termasuk tinggi) adalah bara kecintaan Ilahi akan selalu menghangatkan hatinya sedemikian rupa, sehingga hati yang hangat itu bisa mendekati sifat-sifat
api namun masih kekurangan kecemerlangan api
itu sendiri. Ketika bara dari kecintaan Ilahi seperti ini ada di hati seorang manusia maka kehangatan yang dihasilkannya di dalam kalbu disebut sebagai rasa tenteram dan kepuasan yang terkadang disebut sebagai sama dengan malaikat.
Tingkat kedua dari kecintaan ini adalah ketika bara dari kecintaan Ilahi yang ditimbulkan oleh penggabungan
dari dua kecintaan telah menghangatkan hati sedemikian rupa sehingga
menghasilkan nur kecemerlangan yang tidak membakar. Keadaan demikian disebut sebagai Ruhulqudus.
Tingkat ketiga dari kecintaan ini ialah ketika nyala api kecintaan Ilahi menyentuh dan membakar pita-pita kecintaan manusiawi serta menguasai sepenuhnya keseluruhan partikel
hati yang bersangkutan sehingga menjadi manifestasi
sempurna dan lengkap dari kecintaan
itu sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, api kecintaan Ilahi tidak saja
memberikan kecemerlangan pada hati manusia, tetapi secara simultan menyalakan keseluruhan wujud dimana nyalanya menerangi sekelilingnya sebagai cahaya siang hari, dan wujud
itu menjadi api dengan sifat-sifatnya yang lengkap.
Kondisi yang diciptakan
oleh penggabungan dari dua kecintaan yang
merupa sebagai api yang menyala disebut sebagai fitrat keamanan karena memberikan keamanan terhadap segala kegelapan dan bebas dari segala kekaburan (kesamaran). Juga disebut
sebagai fitrat kekuatan karena merupakan wahyu paling
kuat yang tidak mungkin lebih kuat lagi.
Juga dikenal sebagai cakrawala (‘ufuq) tinggi karena merupakan manifestasi dari bentuk wahyu yang paling luhur. Juga dikemukakan sebagai: “Dia melihat apa
yang ia lihat” (rā-a mā
rā-a), dan kondisi demikian itu berada di luar kemampuan imajinasi segenap makhluk yang
ada.
Kondisi demikian itu hanya dikaruniakan kepada satu manusia saja yang merupakan manusia yang sempurna (insan kamil) dimana keseluruhan system manusia berujung pada wujud beliau, dan lingkaran
fitrat manusia telah disempurnakan. Sesungguhnya beliau
itu adalah kulminasi titik tertinggi
dari makhluk ciptaan Tuhan dan merupakan puncak dari
segala derajat keagungan.
Kebijakan Ilahi telah memulai proses penciptaan
dari titik yang paling sederhana dan berakhir pada ciptaan yang paling mulia yaitu Muhammad
saw. Dengan segala manifestasi
keluhurannya yang sempurna. Karena kedudukan (maqam) beliau yang paling
tinggi itu maka sewajarnya kepada beliau dikaruniakan wahyu dan kecintaan pada tingkatannya yang paling mulia.
Ini adalah derajat tinggi yang tidak mungkin
dicapai oleh Nabi Isa a.s. mau pun diriku. Derajat demikian itu
disebut sebagai kebersatuan dan tingkat Ketauhidan yang sempurna. Nabi-nabi sebelumnya yang menubuatkan kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. ada menyebut
tingkat derajat demikian.
Adapun derajat (maqam) dari Nabi Isa a.s. mau pun diriku secara metaforika bisa disebut
sebagai derajat “putra”. Derajat Hadhrat Rasulullah saw. itu sedemikian tingginya sehingga nabi-nabi di masa lalu secara metaforika menggambarkan kedatangan beliau sebagai kemunculan Tuhan sendiri dimana turunnya beliau digambarkan
sebagai turunnya Tuhan Yang Maha Kuasa
ke muka bumi.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind
Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 62-64,
London, 1984).
Nubuatan Nabi Daud a.s. dan Nabi Yesaya a.s. Mengenai
Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw.
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. mengemukakan nubuatan Nabi Daud a.s. dan Nabi Yesaya a.s. mengenai kedatangan
Nabi Besar Muhammad Saw.:
“Bukan hanya Yesus
saja yang telah menubuatkan bahwa kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. sebagai kemunculan (kedatangan) Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri,
karena nabi-nabi
lain pun dalam nubuatan mereka
menggunakan istilah yang sama dan secara metaforika
(kiasan) menggambarkan kedatangan
beliau sebagai munculnya (kedatangan) Allah Yang Maha Kuasa, dan karena wujud beliau merupakan manifestasi
(penampakan) sempurna dari Tuhan lalu menyebut
beliau sebagai Tuhan. Dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Mazmur[1] diutarakan:
Engkau yang terelok di antara anak-anak
manusia, kemurahan tercurah pada bibir engkau, sebab itu Allah telah memberkati
engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedang engkau pada pinggang,
hai pahlawan, dalam keagungan engkau dan semarak engkau. Dalam semarak englau
itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan.
Biarlah tangan kanan engkau mengajarkan
engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat.
Anak-anak panah engkau tajam menembus
jantung musuh raja, bangsa-bangsa jatuh di bawah kaki engkau.
Takhta engkau kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan
selamanya dan tongkat kerajaan engkau adalah tongkat kebenaran.
Engkau mencintai keadilan dan membenci
kefasikan, sebab itu Allah,Allah engkau telah mengurapi engkau dengan minyak
sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu engkau.
Ungkapan
“Takhta
engkau kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat
kerajaan engkau adalah tongkat kebenaran” bermakna metaforika (kiasan) yang bermaksud memperlihatkan keluhuran derajat keruhanian Nabi Suci Muhammad saw.
Begitu pula dalam Perjanjian
Lama pada Kitab Yesaya[2] diungkapkan:
Lihat itu hamba-Ku yang Ku-pegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku
berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku
keatasnya supaya ia menyatakan hukum
kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau
menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah
terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan
dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan
tidak akan patah terkulai sampai ia menegakkan hukum di bumi . . .
Tuhan
keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur.
Ungkapan “Tuhan keluar
berperang seperti pahlawan” merupakan deskripsi metaforika
(kiasan) dari kegagahan kedatangan
Nabi Suci saw.. Banyak lagi nabi-nabi lainnya yang telah
menggunakan metaforika (kiasan) ini dalam nubuatan mereka
menyangkut kabar kedatangan Hadhrat Rasulullah saw..” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind
Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3,
hlm. 65-67, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 29 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar