Rabu, 02 Desember 2015

Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Digambarkan Para Rasul Allah Dalam Bible Sebagai "Kedatangan Tuhan"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.  Digambarkan oleh Para Rasul Allah Dalam Bible Sebagai “Kedatangan Tuhan”  


Bab 25


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  mengenai  menjadi kekasih “Allah Swt., sehubungan dengan itu Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Hasil ikutan dari mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullah saw.  -- khususnya yang berkaitan dengan kasih, hormat dan kepatuhan kepada beliau --adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah Swt.  dimana dosa-dosanya akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan.
  Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan dari dosa-dosanya. Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung maka perbuatan baik bagi manifestasi (perwujudan) keagungan tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa.
  Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah saw. dan mengakui kebesaran beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan --  sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf fana  (tenggelam) -- maka ia karena hubungannya yang dekat kepada Rasulullah saw. akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau.
  Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, [demikian juga]  kegelapan dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh Nur, dan kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya,  sedangkan Nur kecintaan Allah Swt.  akan mengalir keluar  (memancar) dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa  akan meninggalkan batinnya.
    Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis (ada) di satu tempat, seperti itu jugalah Nur keimanan dan kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal yang baik sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
اللّٰہَ حَبَّبَ  اِلَیۡکُمُ  الۡاِیۡمَانَ وَ زَیَّنَہٗ  فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ وَ کَرَّہَ  اِلَیۡکُمُ الۡکُفۡرَ وَ الۡفُسُوۡقَ وَ الۡعِصۡیَانَ
Allah telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbu kamu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan serta  kedurhakaan  (Al-Hujurat [49]:8).
(Review of Religions, Urdu, jld. I, no. 5, hlm. 194-195).

Kemustahilan Non-Muslim Mempertunjukkan Tanda-tanda Ilahi  & Pentingnya Beriman Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan

     Lebih lanjut  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kemustahilan para pengikut di luar Islam dapat  mempertunjukkan tanda-tanda dari Allah Swt.:
     “Pencapaian derajat sebagai orang yang dikasihi dan diridhai Allah Swt.  dan menjadi salah seorang sahabat-Nya (wali-Nya), tidak mungkin dicapai tanpa kepatuhan kepada Hadhrat Rasulullah saw.. Tidak mungkin bagi seorang Kristen, Arya atau Yahudi memperlihatkan tanda-tanda dan nur keridhaan Tuhan jika memusuhi pengikut Nabi Suci saw. yang benar.
   Ada satu cara yang jelas untuk menentukan hal ini. Tidak ada lawan yang berasal dari umat lain -- seperti Kristen dan yang lainnya -- yang memusuhi seorang Muslim bertakwa pengikut setia dari Nabi Suci saw. bisa berdiri tegak memaklumkan  (mengumumkan) bahwa ia sanggup mempertunjukkan tanda-tanda yang sama dari langit yang mendukung sang Muslim, atau mampu mengungkapkan rahasia-rahasia langit serta pertolongan samawi melalui pengabulan doa.
   Tidak juga ia akan mampu mempertunjukkan tanda-tanda alamiah yang dimunculkan bagi sang Muslim, atau pun nubuatan tentang bantuan Allah Swt.. serta nubuatan peringatan tentang akhir yang buruk bagi para musuhnya. Tidak akan ada dari mereka itu yang akan berani menentang seorang pengikut setia Hadhrat Rasulullah saw. dengan cara demikian,  karena dalam hati kecilnya mereka mengakui kedustaan mereka dan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah Yang Maha Benar, Yang menjadi Penolong bagi para muttaqi dan Sahabat dari para mukminin.” (Tasdiqin Nabi, hlm. 45-46 atau Maktubati Ahmadiyah, jld. 3, hlm. 78-79).
    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai pentingnya beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt.:
   “Beriman kepada seorang Rasul Allah merupakan prasyarat untuk beriman kepada Ketauhidan Ilahi, yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya. Seseorang yang menyatakan beriman kepada Ke-Esa-an Tuhan tanpa mengikuti Nabi Suci saw. adalah sama dengan tulang kering yang tidak berisi sumsum dan seolah memegang lentera gelap yang tidak memberikan cahaya.
   Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan adalah Wujud tanpa sekutu tetapi tidak beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw. sama saja dengan seorang yang hatinya dijangkiti kusta serta buta karena tidak memahami apa yang dimaksud dengan Ketauhidan Ilahi.
   Syaitan masih lebih baik daripada dirinya dalam pengakuan mengenai Ketauhidan Ilahi karena syaitan meskipun mungkar namun ia meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan, padahal orang demikian itu tidak meyakini Allah Swt...” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 122, London, 1984).

Tiga Macam Gambaran Martabat Ruhani “Kedekatan” Dengan Allah Swt. & Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw. Seakan-akan  “Kedatangan Tuhan”

     “Ada yang mempertanyakan bahwa jika Nabi Isa a.s. dan aku telah mencapai maqam  (derajat) demikian (derajat “putra”), lalu derajat apakah yang tersisa bagi junjungan dan penghulu kita, Rasul yang terbaik, Khātamal Anbiya, wujud yang terpilih, Muhammad saw.?
     Jawabannya adalah bahwa bagi beliau adalah derajat yang luhur dan bersifat khusus, yang tidak mungkin dicapai orang lain. Tingkat kedekatan dan kasih kepada Allah Swt.  dari sudut keruhanian  terdiri dari tiga jenis yakni:
   Tingkat paling bawah (meski pun tetap juga termasuk tinggi) adalah bara kecintaan Ilahi akan selalu menghangatkan hatinya sedemikian rupa, sehingga hati yang hangat itu bisa mendekati sifat-sifat api namun masih kekurangan kecemerlangan api itu sendiri.  Ketika bara dari kecintaan Ilahi seperti ini ada di hati seorang manusia maka kehangatan yang dihasilkannya di dalam kalbu disebut sebagai rasa tenteram dan kepuasan yang terkadang disebut sebagai sama dengan malaikat.
      Tingkat kedua dari kecintaan ini adalah ketika bara dari kecintaan Ilahi yang ditimbulkan oleh penggabungan dari dua kecintaan telah menghangatkan hati sedemikian rupa sehingga menghasilkan nur kecemerlangan yang tidak membakar. Keadaan demikian disebut sebagai Ruhulqudus.
   Tingkat ketiga dari kecintaan ini ialah ketika nyala api kecintaan Ilahi menyentuh dan membakar pita-pita kecintaan manusiawi serta menguasai sepenuhnya keseluruhan partikel hati yang bersangkutan sehingga menjadi manifestasi sempurna dan lengkap dari kecintaan itu sendiri.
  Dalam keadaan seperti ini, api kecintaan Ilahi tidak saja memberikan kecemerlangan pada hati manusia, tetapi secara simultan menyalakan keseluruhan wujud dimana nyalanya menerangi sekelilingnya sebagai cahaya siang hari,  dan wujud itu menjadi api dengan sifat-sifatnya yang lengkap.    
       Kondisi yang diciptakan oleh penggabungan dari dua kecintaan yang merupa sebagai api yang menyala disebut sebagai fitrat keamanan karena memberikan keamanan terhadap segala kegelapan dan bebas dari segala kekaburan (kesamaran). Juga disebut sebagai fitrat kekuatan karena merupakan wahyu   paling kuat yang tidak mungkin lebih kuat lagi.
      Juga dikenal sebagai cakrawala (‘ufuq) tinggi karena merupakan manifestasi dari bentuk wahyu yang paling luhur. Juga dikemukakan sebagai:  “Dia melihat apa yang ia lihat”  (rā-a mā  rā-a),  dan kondisi demikian itu berada di luar kemampuan imajinasi segenap makhluk yang ada.
    Kondisi demikian itu hanya dikaruniakan kepada satu manusia saja yang merupakan manusia yang sempurna (insan kamil) dimana keseluruhan system  manusia berujung pada wujud beliau,  dan lingkaran fitrat manusia telah disempurnakan. Sesungguhnya beliau itu adalah kulminasi titik tertinggi dari makhluk ciptaan Tuhan dan merupakan puncak dari segala derajat keagungan.
   Kebijakan Ilahi telah memulai proses penciptaan dari titik yang paling sederhana dan berakhir pada ciptaan yang paling mulia yaitu Muhammad saw. Dengan segala manifestasi keluhurannya yang sempurna. Karena kedudukan (maqam) beliau yang paling tinggi itu maka sewajarnya kepada beliau dikaruniakan wahyu dan kecintaan pada tingkatannya yang paling mulia.
    Ini adalah derajat tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh Nabi Isa a.s. mau pun diriku. Derajat demikian itu disebut sebagai kebersatuan dan tingkat Ketauhidan yang sempurna. Nabi-nabi sebelumnya yang menubuatkan kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. ada menyebut tingkat derajat demikian.
    Adapun derajat (maqam) dari Nabi Isa a.s. mau pun diriku secara metaforika bisa  disebut sebagai derajatputra”. Derajat Hadhrat Rasulullah saw. itu sedemikian tingginya sehingga nabi-nabi di masa lalu secara metaforika menggambarkan kedatangan beliau sebagai kemunculan Tuhan sendiri dimana turunnya beliau digambarkan sebagai turunnya Tuhan Yang Maha Kuasa ke muka bumi.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 62-64, London, 1984).

Nubuatan Nabi Daud a.s. dan Nabi Yesaya a.s.  Mengenai  Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw.

    Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.  mengemukakan nubuatan Nabi Daud a.s. dan Nabi Yesaya a.s. mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw.:
    “Bukan hanya Yesus saja yang telah menubuatkan bahwa kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. sebagai kemunculan (kedatangan)  Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri, karena nabi-nabi lain pun dalam nubuatan mereka menggunakan istilah yang sama dan secara metaforika (kiasan) menggambarkan kedatangan beliau sebagai munculnya (kedatangan) Allah Yang Maha Kuasa,  dan karena wujud beliau merupakan manifestasi (penampakan) sempurna dari Tuhan  lalu menyebut beliau sebagai Tuhan. Dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Mazmur[1]   diutarakan:
Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibir engkau, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedang engkau pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagungan engkau dan semarak engkau. Dalam semarak englau itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan.
Biarlah tangan kanan engkau mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat.
Anak-anak panah engkau tajam menembus jantung musuh raja, bangsa-bangsa jatuh di bawah kaki engkau.
Takhta engkau  kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat kerajaan engkau adalah tongkat kebenaran.
Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan, sebab itu Allah,Allah engkau telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu engkau.
    Ungkapan “Takhta engkau kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat kerajaan engkau  adalah tongkat kebenaran”  bermakna metaforika (kiasan)  yang bermaksud memperlihatkan keluhuran derajat keruhanian   Nabi Suci Muhammad saw.
Begitu pula dalam Perjanjian Lama pada Kitab Yesaya[2]   diungkapkan:
Lihat itu hamba-Ku yang Ku-pegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku keatasnya supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai sampai ia menegakkan hukum di bumi . . .
Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur.
      Ungkapan “Tuhan keluar berperang seperti pahlawan”  merupakan deskripsi metaforika (kiasan) dari kegagahan kedatangan Nabi Suci saw.. Banyak lagi nabi-nabi lainnya yang telah menggunakan metaforika (kiasan) ini dalam nubuatan mereka menyangkut kabar kedatangan Hadhrat Rasulullah saw..” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 65-67, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 29  November 2015








[1] Perjanjian Lama Mazmur 42:3-8. (Penterjemah)

[2] Perjanjian Lama, Yesaya 42:1-5, 13. (Penterjemah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar