بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.
Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Kritikan Pendeta Kristen dan Beberapa Penulis
Inggris Mengenai Kerancuan Agamanya & Kedengkian
dan Kefanatikan Para Penentang Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Agama Islam (Al-Quran)
Bab 36
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai makna perintah
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhamad saw. agar memohon maghfirah (pengampunan) dari Allah Swt. ketika janji Allah Swt. mengenai kemenangan
Islam telah terjadi, bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada dengan
masalah kesalahan atau pun dosa tertentu yang dilakukan beliau saw.,
firman-Nya:
ِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ
رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ
دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا٪﴿﴾
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah
dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah
kesucian Rabb (Tuhan) engkau dengan puji-pujian-Nya
dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali
dengan rahmat-Nya (Al-Nashr
[110]:2-4).
Nabi Besar Muhammad Saw. Datang
Pada Saat Sangat Diperlukan Dunia dan
Pulang (Wafat) Setelah Menyelesaikan
Tugas Secara Sempurna
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran kenabian Nabi Besar Muhammad saw. dan keshahihan Al-Quran
yang kedatangannya pada saat dunia
sedang sangat memerlukannya karena berbagai bentuk kerusakan telah melanda seluruh “daratan dan lautan”
(QS.30:42-44; QS.57:17-18):
“Sudah
menjadi bukti yang nyata akan kebenaran
kenabian Hadhrat Rasulullah Saw. dan keshahihan Kitab
Suci Al-Quran, yang menyatakan bahwa Nabi Suci Saw. diutus ketika dunia ini sedang sangat membutuhkan seorang Pembaharu Akbar dan bahwa beliau tidak wafat dan tidak juga terbunuh sampai telah selesai menegakkan kebenaran di bumi.
Ketika beliau muncul
sebagai seorang nabi, beliau
langsung menunjukkan kalau memang wujudnya
amat diharapkan oleh dunia dan
beliau langsung menegur umat manusia
yang telah tenggelam dalam paganisme,
kefasikan dan perbuatan dosa. Dalam Kitab Suci Al-Quran banyak ditemui peringatan demikian seperti:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya
supaya ia menjadi pemberi peringatan
bagi sekalian alam’ (Al-Furqān [25]:2),
yang merupakan peringatan bagi
umat manusia yang telah rusak
akidahnya dan telah melenceng jauh
cara hidupnya.
Ayat ini menjadi bukti
dari pernyataan Al-Quran bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. muncul ketika seluruh dunia dan semua umat manusia telah rusak akhlaknya, dimana
mereka yang semula melawan akhirnya menerima pernyataan beliau, tidak
dengan berdiam diri tetapi dengan pengakuan melalui baiat. Dari sini jelas kalau Nabi
Suci Saw. datang ketika saatnya
memang sudah harus muncul seorang nabi
yang sempurna dan benar.
Kalau kita mentelaah kapan
saatnya beliau dipanggil pulang (wafat),
Al-Quran secara eksplisit (tegas) menjelaskan bahwa kepulangan beliau adalah setelah
selesai menuntaskan tugasnya. Beliau dipanggil pulang oleh Allah Swt.. setelah turunnya ayat yang menyatakan bahwa akidah pendidikan bagi umat
Muslim telah sempurna dan semua wahyu yang berkaitan dengan itu telah diturunkan.
Tidak hanya itu, juga
dinyatakan bahwa pertolongan Allah Swt. sudah digenapkan
dan beribu-ribu manusia telah menganut Islam. Juga diwahyukan bahwa hati mereka telah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan
sehingga mereka menjauhi kedurhakaan
dan dosa. Akhlak mereka telah mengalami perubahan
luar biasa yang mempengaruhi perilaku
dan jiwa mereka.
Kemudian dikemukakan dalam
surah Al-Nashr bahwa tujuan dari kenabian beliau telah terpenuhi
dan Islam telah mencapai kemenangan di hati manusia. Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa surah ini mengindikasikan kewafatan beliau.
Beliau kemudian
melaksanakan ibadah Haji dan
menyebutnya sebagai Haji Wada (haji
perpisahan) dimana beliau menyampaikan khutbah
panjang dari punggung seekor unta. Beliau meminta kesaksian mereka yang hadir bahwa beliau telah menyampaikan keseluruhan firman Tuhan yang ditugaskan kepada beliau untuk disampaikan
kepada mereka.
Setiap dari mereka yang hadir
menyatakan dengan suara lantang bahwa benar beliau telah menyampaikan kepada mereka. Hadhrat Rasulullah Saw. kemudian
menunjuk ke langit dan mengatakan: “Engkau menjadi saksi, ya Allah”. Beliau kemudian mengingatkan mereka secara panjang lebar karena beliau tidak akan
ada lagi bersama mereka pada tahun yang akan datang. Beliau kemudian kembali ke
kota Medinah dan wafat pada tahun
berikutnya. Turunkanlah berkat dan salam Engkau, ya Allah, atas diri
beliau. Semua indikasi ini ada
dikemukakan dalam Al-Quran dan dibenarkan oleh sejarah agama Islam.
Adakah dari antara
penganut agama Kristen, Yahudi atau Arya yang bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa Pembaharu mereka masing-masing memang datang pada saat dibutuhkan,
dan pulang kembali ke Tuhan-nya setelah tugas mereka selesai,
disamping para lawannya mau mengakui
kekeliruan cara hidup serta ketidak-salehan
mereka?
Aku merasa yakin sekali bahwa tidak ada satu pun umat lain dari
luar agama Islam yang akan mampu
memberikan bukti demikian. Yang diketahui pasti, Nabi Musa a.s. diutus
untuk kehancuran Fir’aun dan menyelamatkan umat beliau dari penindasan serta
membimbing mereka ke arah yang benar.
Adalah benar bahwa
beliau memang berhasil menyelamatkan
umatnya dari penindasan Fir’aun
namun tidak mampu menyelamatkan mereka
dari godaan syaitan, dan beliau juga
tidak berhasil membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Keturunan Bani
Israil ternyata tidak bisa memurnikan
batin mereka di tangan beliau dan mereka berulangkali melakukan kedurhakaan sampai kemudian Nabi Musa
a.s. wafat ketika mereka masih dalam
keadaan demikian.
Sepanjang menyangkut pengikut Nabi Isa a.s. cukuplah Kitab Injil menjadi saksi atas kondisi mereka, tidak perlu lagi penjelasan tambahan. Bukanlah
suatu hal yang tertutup adanya kenyataan bahwa betapa sedikitnya umat Yahudi
yang menerima Nabi Isa a.s. padahal
beliau sengaja diutus kepada mereka.
Jika harkat kenabian Nabi Isa dinilai
dari tolok ukur jumlah pengikut maka
kenabian beliau tidak akan memenuhi syarat.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 358-369,
London, 1984).
Kritikan Pendeta Mr Bourt dan
Beberapa Penulis Inggris Mengenai Keracuan Agama Kristen
Lebih
jauh Masih Mau’ud a.s. mengemukakan pentingnya pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran:
“Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan ketika seluruh dunia sedang tenggelam
dalam paganisme, kedurhakaan dan penyembahan makhluk, dimana semua orang telah meninggalkan akidah yang murni dan melupakan jalan yang lurus. Penyembahan berhala berkembang luas di tanah Arab, adapun bangsa Parsi menyembah api, sedangkan di India
disamping penyembahan berhala
ditambah lagi dengan penyembahan
berbagai macam makhluk lainnya.
Banyak sudah buku ditulis mengenai hal ini dimana berpuluh-puluh manusia yang telah dipertuhan sebagai bagian dari penyembahan Avatar1.[1] Berdasarkan pendapat Pendeta
Mr. Bourt[2] dan beberapa penulis Inggris
lainnya, tidak ada agama yang
demikian rancunya sebagaimana agama Kristen dimana agama ini sudah jatuh kredibilitasnya akibat penyelewengan dan akidah salah para ulama
atau pendetanya. Dalam akidah Kristen tidak hanya satu atau
dua orang saja yang dipertuhan
tetapi juga beberapa benda lainnya.
Kedatangan Nabi Suci Saw. pada saat kegelapan
demikian dimana situasi menuntut
munculnya seorang Pembaharu agung
guna memberikan petunjuk Ilahi yang
akan mencerahkan dunia dengan Ketauhidan Ilahi serta menghapus paganisme dan penyembahan makhluk yang merupakan induk dari segala kemudharatan, merupakan bukti
yang jelas bahwa beliau adalah rasul Allah yang benar dan jauh mengungguli rasul-rasul lainnya.
Kebenaran beliau ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam zaman
jahiliyah demikian, norma hukum alam
dan kebiasaan (Sunnah) Allah
Swt. mengharuskan adanya seorang Pembimbing
yang sempurna. Sudah menjadi norma abadi dari Tuhan
seluruh alam bahwa ketika
penderitaan dunia telah mencapai puncaknya, rahmat Ilahi akan turun untuk menanggulanginya.
Ketika bumi dilanda kekeringan berkepanjangan yang mengancam kelanjutan kehidupan
manusia, maka Allah Yang Maha Pemurah
akan menurunkan hujan. Saat beratus
dan beribu-ribu manusia telah mati karena suatu wabah, maka akan turun pertolongan berupa udara atau iklim yang
kemudian dibersihkan oleh unsur-unsur
alam atau ditemukannya suatu jenis pengobatan
baru. Ketika suatu bangsa terperangkap dalam penindasan tirani, akan muncul seorang
penguasa yang adil dan pengasih.
Begitu pula saat manusia melupakan jalan Allah serta meninggalkan Ketauhidan dan penyembahan Wujud-Nya, maka Allah Yang Maha Luhur akan
mengaruniakan wawasan sempurna
kepada salah seorang hamba-Nya
dimana setelah memberkati yang
bersangkutan dengan firman-Nya lalu mengutusnya
untuk membimbing manusia agar ia memperbaiki kebusukan yang telah merasuk.
Sang Maha Pemurah Yang memelihara serta mendukung eksistensi dunia ini tidak akan menahan atau membatalkan Sifat Rahmat-Nya. Setiap Sifat-sifat Wujud-Nya
akan memanifestasikan dirinya pada saatnya yang tepat. Logika sehat telah membuktikan bahwa untuk mengatasi setiap bentuk bencana maka Sifat Allah Swt. yang relevan akan mewujud pada saat itu.
Sejarah telah membuktikan
dan juga dibenarkan oleh para penentang serta dipertegas oleh Al-Quran, bahwa pada saat diutusnya Hadhrat
Rasulullah Saw. memang benar bencana
telah mencapai puncaknya, karena
manusia di seluruh dunia telah meninggalkan jalan Ketauhidan dan ketulusan.
Adapun mengenai ibadah kepada Tuhan,
semua orang mengakui bahwa hanya Hadhrat
Rasulullah Saw. saja yang telah memperbaiki
kerusakan akhlak dan menyelamatkan
dunia dari kegelapan paganisme dan penyembahan
makhluk, lalu menegakkan Ketauhidan
Ilahi sehingga tidak bisa diragukan lagi bahwa beliau itu seorang Pembimbing yang benar dari Allah Yang Maha Kuasa. Argumentasi ini
dikemukakan Al-Quran dalam ayat:
تَاللّٰہِ لَقَدۡ
اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰۤی اُمَمٍ مِّنۡ
قَبۡلِکَ فَزَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ فَہُوَ وَلِیُّہُمُ
الۡیَوۡمَ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ مَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ اِلَّا
لِتُبَیِّنَ لَہُمُ الَّذِی اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ۙ وَ ہُدًی وَّ
رَحۡمَۃً لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ اللّٰہُ
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً فَاَحۡیَا بِہِ الۡاَرۡضَ
بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّسۡمَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengirimkan rasul-rasul kepada
semua umat sebelum engkau, tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka indah bagi mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu
dan bagi merekalah azab yang pedih.
Dan tidaklah Kami menurunkan kepada
engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai
apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman. Dan Allah
telah menurunkan air dari langit, lalu Dia menghidupkan dengan itu bumi
setelah matinya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi kaum
yang mau mendengarkan kebenaran’ (An-Nahl [16]:64-66).
Kami ingin mengingatkan
kembali, bahwa tiga unsur yang telah kami kemukakan yang menghasilkan kesimpulan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang Pembimbing yang benar, ada dikemukakan secara indah dalam ayat di
atas:
Pertama,
adalah tentang kalbu manusia yang telah menyimpang dan
terperangkap dalam kekeliruan selama berabad-abad, ditamsilkan sebagai tanah yang kering dan mati sedangkan firman Tuhan ditamsilkan sebagai hujan yang turun dari langit, karena memang merupakan kaidah abadi
bahwa rahmat Ilahi akan selalu
menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.
Kaidah ini tidak terbatas
kepada air hujan jasmani saja tetapi
juga hujan ruhani yang akan turun
pada masa kesulitan, yaitu ketika kefasikan
telah merata. Dalam keadaan demikian rahmat
Tuhan pasti akan berfungsi untuk mengatasi bencana yang mempengaruhi
kalbu manusia.
Ayat ini lalu menunjuk
kepada unsur kedua, yaitu bahwa
seluruh dunia telah rusak sebelum
kedatangan Nabi Suci Saw..
Unsur ketiga
merujuk kepada kenyataan bahwa mereka yang mati ruhaninya telah dihidupkan kembali oleh firman Tuhan.
Kesimpulan yang bisa
ditarik dari sini ialah bahwa semua itu merupakan tanda kebenaran Kitab Suci Al-Quran dimana para pencari kebenaran digiring untuk menyimpulkan bahwa Kitab Suci Al-Quran memang benar dari Allah Swt.. Karena argumentasi
ini juga menegakkan kebenaran Hadhrat
Rasulullah Saw. maka disimpulkan juga bahwa beliau itu memang kenyataannya mengungguli semua nabi lainnya, karena Nabi Suci Saw. harus menangani seluruh dunia dimana tugas yang beliau emban sebenarnya
setimpal dengan karya dari 1000 atau
2000 nabi-nabi lainnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.I. hlm. 112-116,
London, 1984).
Kedegilan dan Kefanatikan
Para Penentang Nabi Besar Muhammad Saw.
& Kesuksesan Misi Suci Nabi Besar
Muhammad saw.
elanjutnya Masih Mau’ud a.s. menerangkan kesuksesan
misi
suci Nabi Besar Muhammad saw.
tetapi tetap gelap bagi para penentang
yang degil dan fanatik:
“Zaman pada saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. memang membutuhkan seorang Pembaharu Samawi yang akbar yang
membawa petunjuk Ilahi dimana ajaran yang beliau bawa nyatanya adalah
hal yang benar dan amat dibutuhkan serta mencakup segala hal yang diperlukan manusia.
Ajaran beliau demikian efektif
sehingga berhasil menarik ratusan ribu
hati manusia kepada kebenaran
dan menanamkan dalam fikiran mereka bahwa tidak ada yang patut disembah
selain Allah Swt.. Beliau telah menyempurnakan tujuan paripurna kenabian yaitu beliau
telah mengajarkan prinsip-prinsip
keselamatan ruhani sedemikian sempurna, sehingga tidak ada ajaran nabi-nabi lain yang bisa
menimbalinya. Semua kenyataan
tersebut mendorong orang untuk yakin bersaksi
bahwa sesungguhnya Hadhrat Rasulullah
Saw. adalah seorang pembimbing yang benar dari Allah Swt..
Tidak ada keselamatan bagi seseorang yang karena kefanatikan dan kedegilannya lalu menyangkal
semua tanda-tanda kebenaran dan ketakwaan yang mewujud begitu sempurna dalam diri Hadhrat Rasulullah Saw. yang tidak akan ditemui pada nabi-nabi lainnya.
Orang-orang seperti itu
bahkan akan menyangkal keberadaan Tuhan, jika pun misalnya
hanya untuk menyangkal kebenaran dan
ketakwaan Hadhrat Rasulullah Saw.
Biarlah mereka yang berani menyangkal, maju ke muka dan memperlihatkannya
kepada kami.”
(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 112-114, London, 1984).
Bersabda lagi:
“Nabi
kita Hadhrat Rasulullah Saw. adalah
seorang Pembaharu akbar dalam penyampaian kebenaran, dan telah mengembalikan kepada dunia kebenaran
yang selama itu hilang. Tidak ada nabi lain yang bisa menimpali keberhasilan
beliau dalam mencerahkan dunia yang
semula gelap gulita menjadi terang benderang akibat kehadiran beliau.
Beliau tidak wafat sebelum bangsa yang kepada mereka
beliau turun (diutus), telah menanggalkan
jubah paganisme mereka dan mengenakan
jubah Ketauhidan Ilahi. Tidak itu saja, nyatanya mereka telah berhasil
mencapai tingkat keruhanian yang tinggi serta
juga berlaku takwa dan saleh yang tidak ada padanannya di bagian lain dunia. Keberhasilan demikian belum pernah
dicapai nabi lainnya selain beliau.
Adalah suatu kenyataan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan di masa saat dunia tenggelam dalam kegelapan yang membutuhkan seorang Pembaharu
akbar. Beliau meninggalkan dunia
ini di saat ketika ratusan ribu orang
telah meninggalkan paganisme dan penyembahan berhala serta beralih
kepada jalan yang lurus dan Ketauhidan Ilahi.
Pembaharuan yang demikian sempurna
itu adalah hasil karya beliau yang
telah mengajar mereka yang tadinya
berada di tingkatan hewaniah menjadi
manusia seutuhnya. Dengan kata lain,
beliau itu telah mengubah binatang-binatang
liar menjadi manusia untuk
kemudian menjadikan mereka sebagai manusia
terdidik, lalu mengubah mereka menjadi hamba-hamba
Allah serta meniupkan keruhanian
ke dalam diri mereka guna menciptakan hubungan
antara mereka dengan Tuhan Yang Maha
Benar.
Mereka ada yang dijagal (disembelih) di jalan Allah seperti domba dan diinjak-injak di bawah kaki
seperti semut, namun tidak ada dari mereka yang menanggalkan keimanannya dan siap maju terus menghadapi aral
rintangan. Tidak diragukan bahwa Nabi
Suci Saw. adalah Adam yang kedua,
bahkan Adam yang sesungguhnya di
bidang penegakan keruhanian yang
melaluinya nilai-nilai luhur manusia mencapai kesempurnaannya, dimana semua kemampuan
manusia diarahkan pada fungsi
yang sepatutnya dan tidak ada fitrat
manusia yang tersisa tidak terbina.
Kenabian berakhir dengan beliau tidak saja karena beliau adalah nabi terakhir dalam skala waktu, tetapi juga karena semua kesempurnaan kenabian telah mencapai puncaknya pada wujud beliau. Mengingat beliau itu adalah manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahi maka norma-norma beliau memiliki sifat keagungan dan keindahan, karena itu beliau disebut
sebagai Muhammad dan juga Ahmad, serta tidak ada kekikiran dalam kenabian beliau, sebab merupakan kemaslahatan (rahmat) bagi seluruh dunia.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 206-207,
London, 1984).
Menggugurkan Itikad “Penebusan Dosa” & Keteguhan Hati
Hadhrat Rasulullah Saw.
Berkenaan keunggulan berbagai
argumentasi yang dikemukakan
Nabi Besar Muhammad saw. sehingga membungkam para pelaku kemusyrikan, Masih mau’ud
a.s. bersabda:
“Rasul ini jauh mengungguli semua nabi lainnya karena beliau menjadi Guru Agung bagi seluruh dunia. Melalui
tangan beliau itulah kebusukan dunia
pada waktu itu telah diperbaiki, dan
Ketauhidan Ilahi yang hilang telah ditegakkan kembali. Beliau mengalahkan semua agama palsu lainnya melalui bukti-bukti dan argumentasi serta mengangkat
(menghilangkan) keraguan yang ada di hati
manusia.
Beliau memberikan cara-cara keselamatan yang benar
melalui pengajaran akidah-akidah haqiqi
sehingga menghilangkan dari fikiran
manusia pandangan yang mengharuskan
menyalib seorang yang tidak berdosa
untuk memperoleh penebusan, atau memindahkan Tuhan dari ‘Arasy-Nya yang luhur dan meletakan-Nya
ke dalam rahim seorang wanita.
Dengan cara itulah maka rahmat dan berkat yang dibawa beliau jauh
melampaui siapa pun jua dan derajat
(maqam) beliau jauh lebih tinggi
dari semuanya. Sejarah telah
membuktikan dan Kitab Ilahi
membenarkan serta mereka yang mempunyai
mata menyaksikan bahwa sosok
yang jauh mengungguli nabi-nabi
lainnya hanyalah Muhammad Saw.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 108-109, London, 1984).
Mengenai keteguhan hati Nabi Bear Muhammad saw. selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Patut
diperhatikan betapa teguhnya Hadhrat
Rasulullah Saw. berpegang pada pengakuan
kenabian beliau sampai titik terakhir,
meskipun harus menghadapi ribuan
bahaya serta ratusan ribu lawan,
para penghadang dan pengancam. Selama bertahun-tahun beliau
menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup yang meningkat dari
hari ke hari, dan selama menanggung
derita demikian tidak ada terlintas dalam fikiran beliau untuk mencari hal-hal yang bersifat duniawi.
Bahkan sebenarnya dengan bertahan pada pengakuan kenabiannya,
beliau telah kehilangan
segala yang menjadi miliknya dan
malah mengundang ratusan ribu
pertentangan dan ribuan bencana
ke atas dirinya. Beliau terusir dari
rumahnya sendiri, dikejar-kejar oleh
para pembunuh, kehilangan rumah berikut isinya dan dicoba diracuni beberapa kali. Mereka yang semula membantunya malah kemudian mengharapkan kemudharatan atas diri beliau, sedangkan teman-teman beliau telah berubah menjadi musuh. Untuk jangka waktu lama beliau harus menanggung penderitaan ini, suatu hal yang tidak
mungkin bisa ditahankan oleh seorang nabi
palsu.
Ketika kemudian Islam berjaya, Hadhrat Rasulullah Saw.
tidak ada berusaha mengumpulkan kekayaan
pribadi, tidak juga lalu mendirikan bangunan
atau sarana keselesaan dan
kemewahan, bahkan tidak ada menarik keuntungan
pribadi apa pun dari segala hal. Apa pun yang singgah ke tangan beliau,
habis lagi untuk mengkhidmati fakir
miskin, yatim piatu, para janda dan mereka yang terhimpit utang. Beliau tidak
pernah makan sampai terasa kenyang.
Beliau demikian lurusnya sehingga melalui bicara dan khutbahnya tentang Ketauhidan
Ilahi, beliau telah menjadikan umat
manusia di dunia yang tenggelam dalam paganisme
menjadi musuhnya. Yang pertama
menjadi musuh beliau adalah bangsa beliau sendiri karena beliau melarang mereka menyembah berhala.
Beliau membuat jengkel bangsa Yahudi karena menegur
mereka yang terhanyut dalam penyembahan
berbagai makhluk dan pengagungan para ulamanya serta kefasikan
mereka. Beliau mengingatkan mereka
untuk tidak menyangkal dan menghina Nabi Isa a.s.. Semua itu
menjadikan hati mereka terbakar api kebencian dan mereka
menjadi musuh beliau yang paling pahit yang selalu berupaya dengan segala cara untuk menghancurkan beliau.
Dengan cara yang sama,
beliau telah menjengkelkan umat Kristen
karena beliau menyangkal ketuhanan Yesus
dan sebutannya sebagai anak Tuhan
serta statusnya sebagai penebus yang
disalib. Para penyembah api dan bintang-bintang juga sakit hati terhadap beliau karena melarang mereka menyembah dewa-dewa mereka. Beliau mencanangkan Ke-Esaan Tuhan sebagai satu-satunya cara guna memperoleh keselamatan
(najat).
Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang yang lurus dan siap mengorbankan
jiwa di jalan Allah, dimana
beliau tidak ada mengandalkan pada harapan
atau ketakutan pada manusia, dan mengikrarkan seluruh keyakinannya hanya kepada Allah Swt.. Karena hanya ingin mengkhidmati keinginan
dan memenuhi kesukaan Allah Swt. maka
untuk menyiarkan Ketauhidan Ilahi beliau tidak
mempedulikan bencana apa yang harus ditempuh serta kesulitan apa pun yang akan ditimpakan oleh para penyembah berhala.
Beliau memikul semua kesulitan yang ada dan tetap melaksanakan
perintah Tuhan beliau guna memenuhi
semua persyaratan yang diungkapkan
dalam khutbah dan peringatan-peringatan beliau tanpa menghiraukan
ancaman apa pun yang dihadapinya.
Aku menyatakan dengan
sesungguh hati, bahwa dari semua nabi tidak
ada yang seperti beliau yang telah menyerahkan seluruh kepercayaan beliau sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal, dan
tetap saja meneruskan cegahan terhadap paganisme dan penyembahan
makhluk, serta tidak ada yang demikian
teguh hati sebagaimana halnya
Hadhrat Rasulullah Saw..” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 108-109,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 Desember 2015
[1]
Avatar adalah
inkarnasi dari bentuk manusia atau hewan yang katanya untuk melawan suatu jenis k ejahatan tertentu di dunia.
Dewa Wisnu dikatakan mempunyai sepuluh bentuk avatar seperti ikan, kura-kura,
babi h utan dan lain-lain. Bintang film India yang populer seperti Amitabh
Bachan pun disembah dimana telah ada tiga buah kuil didirikan untuk memujanya. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
[2] Kemungkinan yang dimaksud adalah L. Bourt yang mengarang Christianisme Dans L’Empire
Perse Sous LA Dinastie Sassanide, Aristide D . Caratzas Pub., 1904. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar