Rabu, 16 Desember 2015

Kritikan Pendeta Kristen dan Beberapa Penulis Inggris Mengenai Kerancuan Agamanya & Kedengkian dan Kefanatikan Para Penentang Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Ajaran Islam (Al-Quran)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


  Kritikan Pendeta Kristen  dan Beberapa Penulis Inggris   Mengenai Kerancuan Agamanya  & Kedengkian  dan Kefanatikan  Para Penentang Kesempurnaan    Nabi Besar Muhammad Saw. dan Agama Islam (Al-Quran)


Bab 36


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai makna perintah Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhamad saw. agar memohon maghfirah (pengampunan) dari Allah Swt. ketika janji Allah Swt. mengenai kemenangan Islam telah terjadi, bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada dengan masalah kesalahan  atau pun dosa  tertentu yang dilakukan beliau saw., firman-Nya: 
ِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾   وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا٪﴿﴾
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah kesucian Rabb (Tuhan) engkau dengan puji-pujian-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali dengan rahmat-Nya  (Al-Nashr [110]:2-4).

Nabi Besar Muhammad Saw. Datang Pada Saat Sangat Diperlukan Dunia dan Pulang (Wafat) Setelah Menyelesaikan Tugas Secara Sempurna

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran kenabian Nabi Besar Muhammad saw. dan keshahihan Al-Quran  yang  kedatangannya pada saat dunia sedang sangat memerlukannya karena berbagai bentuk kerusakan telah melanda seluruh “daratan dan lautan” (QS.30:42-44; QS.57:17-18):
   “Sudah menjadi bukti yang nyata akan kebenaran kenabian   Hadhrat Rasulullah Saw. dan keshahihan  Kitab Suci Al-Quran, yang menyatakan bahwa Nabi Suci Saw. diutus ketika dunia ini sedang sangat membutuhkan seorang Pembaharu Akbar dan bahwa beliau tidak wafat dan tidak juga terbunuh sampai telah selesai menegakkan kebenaran di bumi.
     Ketika beliau muncul sebagai seorang nabi, beliau langsung menunjukkan kalau memang wujudnya amat diharapkan oleh dunia dan beliau langsung menegur umat manusia yang telah tenggelam dalam paganisme, kefasikan dan perbuatan dosa. Dalam Kitab Suci Al-Quran banyak ditemui peringatan demikian seperti:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam (Al-Furqān [25]:2),
yang merupakan peringatan bagi umat manusia yang telah rusak akidahnya dan telah melenceng jauh cara hidupnya.
       Ayat ini menjadi bukti dari pernyataan Al-Quran bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. muncul ketika seluruh dunia dan semua umat manusia telah rusak akhlaknya, dimana mereka yang semula melawan akhirnya menerima pernyataan beliau, tidak dengan berdiam diri tetapi dengan pengakuan melalui baiat. Dari sini jelas kalau Nabi Suci Saw. datang ketika saatnya memang sudah harus muncul seorang nabi yang sempurna dan benar.
    Kalau kita mentelaah kapan saatnya beliau dipanggil pulang (wafat),  Al-Quran secara eksplisit (tegas) menjelaskan bahwa kepulangan beliau adalah setelah selesai menuntaskan tugasnya. Beliau dipanggil pulang oleh Allah Swt.. setelah turunnya ayat yang menyatakan bahwa akidah pendidikan bagi umat Muslim telah sempurna dan semua wahyu yang berkaitan dengan itu telah diturunkan.
   Tidak hanya itu, juga dinyatakan bahwa pertolongan Allah Swt.  sudah digenapkan dan beribu-ribu manusia telah menganut Islam. Juga diwahyukan bahwa hati mereka telah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan sehingga mereka menjauhi kedurhakaan dan dosa. Akhlak mereka telah mengalami perubahan luar biasa yang mempengaruhi perilaku dan jiwa mereka.
    Kemudian dikemukakan dalam surah Al-Nashr bahwa tujuan dari kenabian beliau telah terpenuhi dan Islam telah mencapai kemenangan di hati manusia. Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa surah ini mengindikasikan kewafatan beliau.
   Beliau kemudian melaksanakan ibadah Haji dan menyebutnya sebagai Haji Wada (haji perpisahan) dimana beliau menyampaikan khutbah panjang dari punggung seekor unta. Beliau meminta kesaksian mereka yang hadir bahwa beliau telah menyampaikan keseluruhan firman Tuhan yang ditugaskan kepada beliau untuk disampaikan kepada mereka.
    Setiap dari mereka yang hadir menyatakan dengan suara lantang bahwa benar beliau telah menyampaikan kepada mereka. Hadhrat Rasulullah Saw. kemudian menunjuk ke langit dan mengatakan: “Engkau menjadi saksi, ya Allah.  Beliau kemudian mengingatkan mereka secara panjang lebar karena beliau tidak akan ada lagi bersama mereka pada tahun yang akan datang. Beliau kemudian kembali ke kota Medinah dan wafat pada tahun berikutnya. Turunkanlah berkat dan salam Engkau, ya Allah, atas diri beliau. Semua indikasi ini ada dikemukakan dalam Al-Quran dan dibenarkan oleh sejarah agama Islam.
    Adakah dari antara penganut agama Kristen, Yahudi atau Arya yang bisa  menunjukkan bukti-bukti bahwa Pembaharu mereka masing-masing memang datang pada saat dibutuhkan, dan pulang kembali ke Tuhan-nya setelah tugas mereka selesai, disamping para lawannya mau mengakui kekeliruan cara hidup serta ketidak-salehan mereka?
      Aku merasa yakin sekali bahwa tidak ada satu pun umat lain dari luar agama Islam yang akan mampu memberikan bukti demikian. Yang diketahui pasti, Nabi Musa a.s. diutus untuk kehancuran Fir’aun dan menyelamatkan umat beliau dari penindasan serta membimbing mereka ke arah yang benar.
     Adalah benar bahwa beliau memang berhasil menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir’aun namun tidak mampu menyelamatkan mereka dari godaan syaitan, dan beliau juga tidak berhasil membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Keturunan Bani Israil ternyata tidak bisa memurnikan batin mereka di tangan beliau dan mereka berulangkali melakukan kedurhakaan sampai kemudian Nabi Musa a.s. wafat ketika mereka masih dalam keadaan demikian.  
    Sepanjang menyangkut pengikut Nabi Isa a.s. cukuplah Kitab Injil menjadi saksi atas kondisi mereka, tidak perlu lagi penjelasan tambahan. Bukanlah suatu hal yang tertutup adanya kenyataan bahwa betapa sedikitnya umat Yahudi yang menerima Nabi Isa a.s. padahal beliau sengaja diutus kepada mereka. Jika harkat kenabian Nabi Isa dinilai dari tolok ukur jumlah pengikut maka kenabian beliau tidak akan memenuhi syarat.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 358-369, London, 1984).

Kritikan Pendeta Mr Bourt dan Beberapa Penulis Inggris Mengenai Keracuan  Agama Kristen

     Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. mengemukakan pentingnya pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran:
   “Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan ketika seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan dan penyembahan makhluk, dimana semua orang telah meninggalkan akidah yang murni dan melupakan jalan yang lurus. Penyembahan berhala berkembang luas di tanah Arab, adapun bangsa Parsi menyembah api, sedangkan di India disamping penyembahan berhala ditambah lagi dengan penyembahan berbagai macam makhluk lainnya.
    Banyak sudah buku ditulis mengenai hal ini dimana berpuluh-puluh manusia yang telah dipertuhan sebagai bagian dari penyembahan Avatar1.[1] Berdasarkan pendapat Pendeta Mr. Bourt[2] dan beberapa penulis Inggris lainnya, tidak ada agama yang demikian rancunya sebagaimana agama Kristen dimana agama ini sudah jatuh kredibilitasnya akibat penyelewengan dan akidah salah para ulama atau pendetanya. Dalam akidah Kristen tidak hanya satu atau dua orang saja yang dipertuhan tetapi juga beberapa benda lainnya.
    Kedatangan Nabi Suci Saw. pada saat kegelapan demikian dimana situasi menuntut munculnya seorang Pembaharu agung guna memberikan petunjuk Ilahi yang akan mencerahkan dunia dengan Ketauhidan Ilahi serta menghapus paganisme dan penyembahan makhluk yang merupakan induk dari segala kemudharatan, merupakan bukti yang jelas bahwa beliau adalah rasul Allah yang benar dan jauh mengungguli rasul-rasul lainnya.
   Kebenaran beliau ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam zaman jahiliyah demikian, norma hukum alam dan kebiasaan  (Sunnah) Allah Swt.  mengharuskan adanya seorang Pembimbing yang sempurna.  Sudah menjadi norma abadi dari Tuhan seluruh alam bahwa ketika penderitaan dunia telah mencapai puncaknya, rahmat Ilahi akan turun untuk menanggulanginya.
      Ketika bumi dilanda kekeringan berkepanjangan yang mengancam kelanjutan kehidupan manusia, maka Allah Yang Maha Pemurah akan menurunkan hujan. Saat beratus dan beribu-ribu manusia telah mati karena suatu wabah, maka akan turun pertolongan berupa udara atau iklim yang kemudian dibersihkan oleh unsur-unsur alam atau ditemukannya suatu jenis pengobatan baru. Ketika suatu bangsa terperangkap dalam penindasan tirani, akan muncul seorang penguasa yang adil dan pengasih.
  Begitu pula saat manusia melupakan jalan Allah serta meninggalkan Ketauhidan dan penyembahan Wujud-Nya, maka Allah Yang Maha Luhur akan mengaruniakan wawasan sempurna kepada salah seorang hamba-Nya dimana setelah memberkati yang bersangkutan dengan firman-Nya  lalu mengutusnya untuk membimbing manusia agar ia memperbaiki kebusukan yang telah merasuk.
      Sang Maha Pemurah Yang memelihara serta mendukung eksistensi dunia ini tidak akan menahan atau membatalkan Sifat Rahmat-Nya. Setiap Sifat-sifat Wujud-Nya akan memanifestasikan dirinya pada saatnya yang tepat. Logika sehat telah membuktikan bahwa untuk mengatasi setiap bentuk bencana maka Sifat Allah Swt.  yang relevan akan mewujud pada saat itu.
      Sejarah telah membuktikan dan juga dibenarkan oleh para penentang serta dipertegas oleh Al-Quran,  bahwa pada saat diutusnya Hadhrat Rasulullah Saw. memang benar bencana telah mencapai puncaknya, karena manusia di seluruh dunia telah meninggalkan jalan Ketauhidan dan ketulusan.
     Adapun mengenai ibadah kepada Tuhan, semua orang mengakui bahwa hanya Hadhrat Rasulullah Saw. saja yang telah memperbaiki kerusakan akhlak dan menyelamatkan dunia dari kegelapan paganisme dan penyembahan makhluk, lalu menegakkan Ketauhidan Ilahi sehingga tidak bisa diragukan lagi bahwa beliau itu seorang Pembimbing yang benar dari Allah Yang Maha Kuasa. Argumentasi ini dikemukakan Al-Quran dalam ayat:
تَاللّٰہِ  لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰۤی اُمَمٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَزَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ فَہُوَ وَلِیُّہُمُ الۡیَوۡمَ  وَ لَہُمۡ  عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ اِلَّا لِتُبَیِّنَ لَہُمُ الَّذِی اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ۙ وَ ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ  اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَاَحۡیَا بِہِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ اِنَّ فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  لِّقَوۡمٍ  یَّسۡمَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengirimkan rasul-rasul kepada semua umat  sebelum engkau, tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka indah bagi mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu dan bagi merekalah azab yang pedih. Dan tidaklah Kami menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Allah telah menurunkan air dari langit, lalu Dia menghidupkan dengan itu bumi setelah matinya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi kaum yang mau mendengarkan kebenaran’ (An-Nahl [16]:64-66).
   Kami ingin mengingatkan kembali,  bahwa tiga unsur yang telah kami kemukakan yang menghasilkan kesimpulan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang Pembimbing yang benar, ada dikemukakan secara indah dalam ayat di atas:
  Pertama, adalah tentang kalbu manusia yang telah menyimpang dan terperangkap dalam kekeliruan selama berabad-abad, ditamsilkan sebagai tanah yang kering dan mati sedangkan firman Tuhan ditamsilkan sebagai hujan yang turun dari langit, karena memang merupakan kaidah abadi bahwa rahmat Ilahi akan selalu menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.
    Kaidah ini tidak terbatas kepada air hujan jasmani saja tetapi juga hujan ruhani yang akan turun pada masa kesulitan, yaitu ketika kefasikan telah merata. Dalam keadaan demikian rahmat Tuhan pasti akan berfungsi untuk mengatasi bencana yang mempengaruhi kalbu manusia.
     Ayat ini lalu menunjuk kepada unsur kedua, yaitu bahwa seluruh dunia telah rusak sebelum kedatangan Nabi Suci Saw..
     Unsur ketiga merujuk kepada kenyataan bahwa mereka yang mati   ruhaninya telah dihidupkan kembali oleh firman Tuhan.
     Kesimpulan yang bisa ditarik dari sini ialah bahwa semua itu merupakan tanda kebenaran Kitab Suci Al-Quran dimana para pencari kebenaran digiring untuk menyimpulkan bahwa Kitab Suci Al-Quran memang benar dari Allah Swt.. Karena argumentasi ini juga menegakkan kebenaran  Hadhrat Rasulullah Saw. maka disimpulkan juga bahwa beliau itu memang kenyataannya mengungguli semua nabi lainnya, karena Nabi Suci Saw. harus menangani seluruh dunia dimana tugas yang beliau emban sebenarnya setimpal dengan karya dari 1000 atau 2000 nabi-nabi lainnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.I. hlm. 112-116, London, 1984).

Kedegilan dan Kefanatikan Para Penentang Nabi  Besar Muhammad Saw. & Kesuksesan Misi Suci Nabi Besar Muhammad saw.

     elanjutnya Masih Mau’ud a.s. menerangkan kesuksesan misi  suci Nabi Besar Muhammad saw.  tetapi  tetap gelap bagi para penentang yang degil dan fanatik:
  “Zaman pada saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. memang membutuhkan seorang Pembaharu Samawi yang akbar yang membawa petunjuk Ilahi dimana ajaran yang beliau bawa nyatanya adalah hal yang benar dan amat dibutuhkan  serta mencakup segala hal yang diperlukan manusia.
   Ajaran beliau demikian efektif sehingga berhasil menarik ratusan ribu hati manusia kepada kebenaran dan menanamkan dalam fikiran mereka bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah Swt..  Beliau telah menyempurnakan tujuan paripurna kenabian yaitu beliau telah mengajarkan prinsip-prinsip keselamatan ruhani sedemikian sempurna, sehingga tidak ada ajaran nabi-nabi lain yang bisa menimbalinya. Semua kenyataan tersebut mendorong orang untuk yakin bersaksi bahwa sesungguhnya Hadhrat Rasulullah Saw.  adalah seorang pembimbing yang benar dari Allah Swt..
  Tidak ada keselamatan bagi seseorang yang karena kefanatikan dan kedegilannya lalu menyangkal semua tanda-tanda kebenaran dan ketakwaan yang mewujud begitu sempurna dalam diri Hadhrat Rasulullah Saw. yang tidak akan ditemui pada nabi-nabi lainnya.
    Orang-orang seperti itu bahkan akan menyangkal keberadaan Tuhan, jika pun misalnya hanya untuk menyangkal kebenaran dan ketakwaan Hadhrat Rasulullah Saw. Biarlah mereka yang berani menyangkal, maju ke muka dan memperlihatkannya kepada kami.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  112-114, London, 1984).
Bersabda lagi:
     “Nabi kita Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang Pembaharu akbar dalam penyampaian kebenaran,  dan telah mengembalikan kepada dunia  kebenaran yang selama itu hilang.  Tidak ada nabi lain yang bisa menimpali keberhasilan beliau dalam mencerahkan dunia yang semula gelap gulita menjadi terang benderang akibat kehadiran beliau.
      Beliau tidak wafat sebelum bangsa yang kepada mereka  beliau turun (diutus), telah menanggalkan jubah paganisme mereka dan mengenakan jubah Ketauhidan Ilahi. Tidak itu saja, nyatanya mereka telah berhasil mencapai tingkat keruhanian yang tinggi serta juga berlaku takwa dan saleh yang tidak ada padanannya di bagian lain dunia. Keberhasilan demikian belum pernah dicapai nabi lainnya selain beliau.
    Adalah suatu kenyataan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan di masa saat dunia tenggelam dalam kegelapan yang membutuhkan seorang Pembaharu akbar. Beliau meninggalkan dunia ini di saat ketika ratusan ribu orang telah meninggalkan paganisme dan penyembahan berhala serta beralih kepada jalan yang lurus dan Ketauhidan Ilahi.
    Pembaharuan yang demikian sempurna itu adalah hasil karya beliau yang telah mengajar mereka yang tadinya berada di tingkatan hewaniah menjadi manusia seutuhnya. Dengan kata lain, beliau itu telah mengubah binatang-binatang liar menjadi manusia untuk kemudian menjadikan mereka sebagai manusia terdidik, lalu mengubah mereka menjadi hamba-hamba Allah serta meniupkan keruhanian ke dalam diri mereka guna menciptakan hubungan antara mereka dengan Tuhan Yang Maha Benar.
     Mereka ada yang dijagal (disembelih) di jalan Allah seperti domba dan diinjak-injak di bawah kaki seperti semut, namun tidak ada dari mereka yang menanggalkan keimanannya dan siap maju terus menghadapi aral rintangan. Tidak diragukan bahwa Nabi Suci Saw. adalah Adam yang kedua, bahkan Adam yang sesungguhnya di bidang penegakan keruhanian yang melaluinya   nilai-nilai luhur manusia mencapai kesempurnaannya, dimana semua kemampuan manusia diarahkan pada fungsi yang sepatutnya dan tidak ada fitrat manusia yang tersisa tidak terbina.
     Kenabian berakhir dengan beliau tidak saja karena beliau adalah nabi terakhir dalam skala waktu, tetapi juga karena semua kesempurnaan kenabian telah mencapai puncaknya pada wujud beliau.  Mengingat beliau itu adalah manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahi maka norma-norma beliau memiliki sifat keagungan dan keindahan, karena itu beliau disebut sebagai Muhammad dan juga Ahmad, serta tidak ada kekikiran dalam kenabian beliau, sebab merupakan kemaslahatan (rahmat) bagi seluruh dunia.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 206-207, London, 1984).

Menggugurkan Itikad “Penebusan Dosa” & Keteguhan Hati Hadhrat Rasulullah Saw.

    Berkenaan keunggulan berbagai  argumentasi yang dikemukakan   Nabi Besar Muhammad saw. sehingga membungkam  para pelaku kemusyrikan, Masih mau’ud a.s. bersabda: 
    “Rasul ini jauh mengungguli semua nabi  lainnya karena beliau menjadi Guru Agung bagi seluruh dunia. Melalui tangan beliau itulah kebusukan dunia pada waktu itu telah diperbaiki, dan Ketauhidan Ilahi yang hilang telah ditegakkan kembali. Beliau mengalahkan semua agama  palsu lainnya melalui bukti-bukti dan argumentasi serta mengangkat (menghilangkan)  keraguan yang ada di hati manusia.
   Beliau memberikan cara-cara keselamatan yang benar melalui pengajaran akidah-akidah haqiqi sehingga menghilangkan dari fikiran manusia pandangan yang mengharuskan menyalib seorang yang tidak berdosa untuk memperoleh penebusan, atau memindahkan Tuhan dari ‘Arasy-Nya yang luhur dan meletakan-Nya ke dalam rahim seorang wanita.
  Dengan cara itulah maka rahmat dan berkat yang dibawa beliau jauh melampaui siapa pun jua dan derajat (maqam) beliau jauh lebih tinggi dari semuanya. Sejarah telah membuktikan dan Kitab Ilahi membenarkan serta mereka yang mempunyai mata menyaksikan bahwa sosok yang jauh mengungguli nabi-nabi lainnya hanyalah Muhammad Saw.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  108-109, London, 1984).
     Mengenai keteguhan hati Nabi Bear Muhammad saw. selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
    “Patut diperhatikan betapa teguhnya Hadhrat Rasulullah Saw. berpegang pada pengakuan kenabian beliau sampai titik terakhir,  meskipun harus menghadapi ribuan bahaya serta ratusan ribu lawan, para penghadang dan pengancam. Selama bertahun-tahun beliau menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup yang meningkat dari hari ke hari, dan selama menanggung derita demikian tidak ada terlintas dalam fikiran beliau untuk mencari hal-hal yang bersifat duniawi.
     Bahkan sebenarnya dengan bertahan pada pengakuan kenabiannya,  beliau telah kehilangan segala yang menjadi miliknya dan malah mengundang ratusan ribu pertentangan dan ribuan bencana ke atas dirinya. Beliau terusir dari rumahnya sendiri, dikejar-kejar oleh para pembunuh, kehilangan rumah berikut isinya dan dicoba diracuni beberapa kali. Mereka yang semula membantunya malah kemudian mengharapkan kemudharatan atas diri beliau, sedangkan teman-teman beliau telah berubah menjadi musuh. Untuk jangka waktu lama beliau harus menanggung penderitaan ini, suatu hal yang tidak mungkin bisa ditahankan oleh seorang nabi palsu.
    Ketika kemudian Islam berjaya, Hadhrat Rasulullah Saw. tidak ada berusaha mengumpulkan kekayaan pribadi, tidak juga lalu mendirikan bangunan atau sarana keselesaan dan kemewahan, bahkan tidak ada menarik keuntungan pribadi apa pun dari segala hal. Apa pun yang singgah ke tangan beliau, habis lagi untuk mengkhidmati fakir miskin, yatim piatu, para janda dan mereka yang terhimpit utang. Beliau tidak pernah makan sampai terasa kenyang.
   Beliau demikian lurusnya sehingga melalui bicara dan khutbahnya tentang Ketauhidan Ilahi, beliau telah menjadikan umat manusia di dunia yang tenggelam dalam paganisme menjadi musuhnya. Yang pertama menjadi musuh beliau adalah bangsa beliau sendiri karena beliau melarang mereka menyembah berhala.
     Beliau membuat jengkel bangsa Yahudi karena menegur mereka yang terhanyut dalam penyembahan berbagai makhluk dan pengagungan para ulamanya serta kefasikan mereka. Beliau mengingatkan mereka untuk tidak menyangkal dan menghina Nabi Isa a.s.. Semua itu menjadikan hati mereka terbakar api kebencian dan mereka menjadi musuh beliau yang paling pahit yang selalu berupaya dengan segala cara untuk menghancurkan beliau.    
   Dengan cara yang sama, beliau telah menjengkelkan umat Kristen karena beliau menyangkal ketuhanan Yesus dan sebutannya sebagai anak Tuhan serta statusnya sebagai penebus yang disalib. Para penyembah api dan bintang-bintang juga sakit hati terhadap beliau karena melarang mereka menyembah dewa-dewa mereka. Beliau mencanangkan Ke-Esaan Tuhan sebagai satu-satunya cara guna memperoleh keselamatan (najat).
    Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang yang lurus dan siap mengorbankan jiwa di jalan Allah, dimana beliau tidak ada mengandalkan pada harapan atau ketakutan pada manusia, dan mengikrarkan seluruh keyakinannya hanya kepada Allah Swt..  Karena hanya ingin mengkhidmati keinginan dan memenuhi kesukaan Allah Swt.  maka untuk menyiarkan Ketauhidan Ilahi  beliau tidak mempedulikan bencana apa yang harus ditempuh serta kesulitan apa pun yang akan ditimpakan oleh para penyembah berhala.
       Beliau memikul semua kesulitan yang ada dan tetap melaksanakan perintah Tuhan beliau guna memenuhi semua persyaratan yang diungkapkan dalam khutbah dan peringatan-peringatan beliau tanpa menghiraukan ancaman apa pun yang dihadapinya.
      Aku menyatakan dengan sesungguh hati,  bahwa dari semua nabi   tidak ada yang seperti beliau yang telah menyerahkan seluruh kepercayaan beliau sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal,  dan tetap saja meneruskan cegahan terhadap paganisme dan penyembahan makhluk, serta tidak ada yang demikian  teguh hati sebagaimana halnya Hadhrat Rasulullah Saw..” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 108-109, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Desember  2015





[1] Avatar adalah inkarnasi dari bentuk manusia atau hewan yang katanya untuk melawan  suatu jenis k ejahatan tertentu di dunia. Dewa Wisnu dikatakan mempunyai sepuluh bentuk avatar seperti ikan, kura-kura, babi h utan dan lain-lain. Bintang film India yang populer seperti Amitabh Bachan pun disembah dimana telah ada tiga buah kuil didirikan untuk memujanya.   (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Kemungkinan yang dimaksud adalah L. Bourt yang mengarang Christianisme Dans L’Empire Perse Sous LA Dinastie Sassanide, Aristide D . Caratzas Pub., 1904. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar