بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tentang Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw. & Keagungan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. yang Tidak Dimiliki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
di Masa Hidupnya
Bab 32
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan firman Allah Swt. dalam QS.7:144 mengenai “pingsannya” Nabi Musa a.s. ketika Allah Swt. bertajlli pada sebuah gunung ketika beliau ingin menyaksikan tajalli Allah Swt. yang diperuntukkan-Nya bagi Nabi Besar Muhammad
saw. yang merupakan “misal Nabi Musa a.s.” (Ulangan
15-19; QS.46:11).
Allah Swt. menjawab: قَالَ لَنۡ
تَرٰىنِیۡ وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ
اِلَی الۡجَبَلِ -- Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku tetapi pandanglah
gunung itu,” yakni Nabi Musa a.s. diberitahu bahwa Tajalli ini
berada di luar batas kemampuan beliau
untuk menanggungnya, tajalli itu
tidak akan dapat terjelma pada hati
beliau, tetapi Allah Swt. memilih
gunung untuk bertajalli.
Ketika Tajalli Ilahi tersebut berlangsung maka gunung itu berguncang
dengan hebat serta nampak seakan-akan ambruk, dan -- dalam pengalaman ruhani tersebut -- Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan
itu rebah tidak sadarkan diri.
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar (diyakinkan) bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya
dalam martabat keruhanian yang dapat
membuat beliau boleh menyaksikannya
sendiri tempat (wujud) yang kelak Allah
Swt. bertajalli sebagaimana
dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang
yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi,
yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw..
Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s. itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt. dengan mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak.
Dengan serta merta beliau berseru: تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku
orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna
Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.)
adalah orang yang pertama-tama beriman
kepada keluhuran kedudukan ruhani
yang telah ditakdirkan akan dicapai
oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu
telah disinggung juga dalam QS.46:11.
Gunung
itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran
24:18. Demikian pula ucapan Nabi Musa
a.s. “ingin menyaksikan Tuhan”
erat kaitannya dengan nubuatan
para Rasul Allah di kalangan Bani Israil yang dalam nubuatan
mereka menggambarkan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. ibarat “kedatangan
Tuhan” (Mazmur 42:3-8; Yesaya 41:5 & !3; Yesaya; Matius
23:37-39), firman-Nya:
وَ لَمَّا
جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا
وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ
اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ
تَرٰىنِیۡ وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ
اِلَی الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ
مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ
فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ
اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ -- ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ وَ
لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ -- Dia
berfirman: “Engkau tidak akan pernah
dapat me-lihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu, فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ -- lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya
maka engkau pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا -- Maka tatkala Rabb-nya
(Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia
menjadikannya hancur lebur, وَّ خَرَّ
مُوۡسٰی صَعِقًا -- dan Musa
pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya
di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Nubuatan Kedatangan “Nabi yang Seperti Musa”
yakni Nabi Besar Muhammad Saw. atau
Nabi Ahmad Saw.
Sehubungan
dengan peristiwa ruhani yang
dialami Nabi Musa a.s. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Kitab
suci umat Yahudi jelas menyatakan bahwa seorang
juru selamat seperti Musa a.s.
akan dikirimkan kepada mereka. Berarti bahwa juru selamat ini akan muncul ketika umat Yahudi sedang mengalami keadaan penderitaan dan penghinaan
mirip dengan keadaan pada masa Fir’aun
dahulu. Mereka akan diselamatkan
dari siksaan dan penghinaan jika mereka mau beriman kepadanya.
Tidak diragukan lagi bahwa
sosok yang ditunggu-tunggu umat Yahudi selama berabad-abad
tersebut serta yang telah dinubuatkan
oleh Kitab Taurat adalah Junjungan dan Penghulu kita Hadhrat
Muhammad Saw.. Ketika beberapa suku
Yahudi beriman kepada beliau, lalu muncullah di antara mereka -- terutama
sekali di antara bangsa Afghanistan
dan Kashmir yang merupakan keturunan mereka -- beberapa raja-raja agung.[1] Hal ini menjadi bukti
bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah mengampuni dosa-dosa mereka karena
mereka menerima Islam, dan mengasihi mereka sebagaimana dijanjikan dalam Taurat.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam
Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm. 302-303, London, 1984).
Kemudian Masih
Mau’ud a.s. bersabda tentang kehormatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang berusaha dihinakan oleh para pemuka kaum Yahudi melalui
upaya pembunuhan melalui penyaliban:
“Keagungan yang dikaruniakan kepada Nabi
Isa a.s. adalah karena beliau mengikuti
Hadhrat Muhammad Saw., sebab Nabi
Isa telah diberitahukan mengenai Nabi
Suci ini dan beliau beriman
kepadanya dan dengan demikian mencapai keselamatan
berkat keimanannya tersebut.” (Al-Hakam, 30 Juni 1901, hlm. 3).
Sehubungan
dengan hal tersebut berikut firman Allah Swt. mengenai nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tentang kedatangan “Nabi
Ahmad Saw.”:
وَ اِذۡ
قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ
اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ
مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیَّ
مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ
مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ ﴾
Dan ingatlah ketika
Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang
rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka
tatkala ia datang kepada mereka dengan
bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang
nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran
Untuk nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai kedatangan Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran, lihat Injil Yahya
12:13; 14:16-17; 15:26; 16:17; yang dari situ kesimpulan berikut dengan jelas
dapat diambil:
(a) Paraklit (Paraclete) atau Penolong
atau Ruh Kebenaran tidak dapat datang
sebelum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berangkat
dari dunia ini.
(b) Beliau akan tinggal di dunia untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Nabi Isa sendiri tidak
dapat mengatakannya karena dunia belum
dapat menanggungnya pada waktu itu.
(c) Beliau akan memimpin umat manusia kepada segala kebenaran.
(d) Beliau tidak akan bicara atas kehendak sendiri, tetapi apa pun yang didengar oleh beliau, itu pulalah yang
akan diucapkan oleh beliau.
(e) Beliau akan memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan memberikan kesaksian atas kebenarannya.
Lukisan mengenai Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran itu serasi benar dengan kedudukan dan tugas Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran.
Nabi Besar Muhammad saw. datang sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. meninggalkan dunia ini,
beliau adalah nabi pembawa syariat
terakhir dan Al-Quran merupakan syariat suci terakhir, diwah-yukan untuk
seluruh umat manusia hingga Hari
Kiamat (QS.5:4).
Nabi Besar Muhammad saw. tidak berkata atas kehendak sendiri, melainkan
apa pun yang didengar beliau dari Tuhan, itu pulalah yang diucapkan beliau
(QS.53:4). Beliau memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam s.s. (QS.2:254;
QS.3:56). Nubuatan dalam Injil Yahya di atas adalah sesuai dengan
nubuatan yang disebut dalam ayat yang
sedang dibahas kecuali bahwa bukan nama Ahmad
yang tercantum di situ melainkan Paraklit
(Paraclete).
Para penulis Kristen
menantang ketepatan versi (anggapan) Al-Quran mengenai nubuatan itu, sambil mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka pada perbedaan kedua nama itu, dengan tidak
memperhatikan kesamaan sifat-sifat yang
dituturkan oleh Bible dan Al-Quran.
Pada hakikatnya, Nabi
Isa Ibnu Maryam s.s. memakai
bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa Arami adalah bahasa
ibu beliau dan bahasa Ibrani adalah bahasa
agama beliau. Versi Bible sekarang adalah terjemahan dari bahasa Arami dan
bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Suatu terjemahan dengan sendirinya tidak dapat membawakan sepenuh
keindahan gubahan aslinya.
Periklutos atau Emeth atau Ahmad
Bahasa-bahasa mempunyai batas-batasnya
masing-masing. Demikian pula mengenai kaum yang mempergunakan bahasa itu.
Batas-batas mereka itu nampak pula dalam karya-karya mereka. Bahasa Yunani mempunyai penggunaan kata lain yaitu Periklutos,
yang mempunyai persamaan arti dengan Ahmad
dalam bahasa Arab.
Jack Finegan, seorang
ahli ilmu agama Kristen kenamaan, mengatakan di dalam kitabnya bernama Archaeology
of World Religions berkata, “Kalau dalam bahasa Yunani kata Paracletos
(Penghibur) sangat cocok dengan kata Periclutos (termasyhur), maka kata itu
berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad”.
Lebih-lebih The
Damascus Document” (Dokumen atau
Naskah asal Damaskus), suatu naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19
dalam gereja Yahudi di Ezra, Mesir Kuno (halaman 2) melukiskan bahwa Yesus
telah menubuatkan kedatangan “Ruh Suci” dengan nama Emeth: Dan dengan
Almasih-Nya Dia memberitahukan kepada mereka Rohulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin (Si Jujur), dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula nama mereka ..... Emeth” dalam bahasa Ibrani
berarti “Kebenaran” atau Si Jujur (Al-Amin) dan orang yang
kebaikannya dawam” (Strahan’s Fourth
Gospel, 141).
Kata ini ditafsirkan
oleh orang-orang Yahudi, “Cap (meterai) Tuhan.” Dengan sendirinya, meskipun
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mungkin telah mempergunakan nama Ahmad,
persamaan bunyi lafal antara kedua kata (Ahmad
dan Emeth) itu telah membuat para
penulis di kemudian hari menulis kata Emeth
sebagai alih-alih kata “Ahmad” yang
adalah persamaan kosa-kata dalam bahasa Ibrani.
Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini
ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tetapi sebagai kesimpulan dapat pula
dikenakan kepada Mirza Ghulam Ahmad atau Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah
dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah),
dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan
kedua atau diutusnya yang kedua kali
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4) telah
pula dinyatakan dengan jelas dalam Injil
Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada pihak
lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya), seotentik setiap dari
keempat Injil.
Kemuliaan dan Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw. yang Tidak Dimiliki oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Masa Hidupnya
Berikut pembelaan Masih Mau’ud a.s. atau Ahmad
a.s. -- yang merupakan pengutusan
kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. -- terhadap kemuliaan beliau saw. jika
dibandingkan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang kemudian telah “dipertuhankan”
oleh para pengikutnya dari kalangan Kristen:
“Sekarang
akan kita bandingkan Nabi Isa a.s.
dengan Nabi Suci Saw. berkaitan
dengan perlakuan para pemerintahan atau raja-raja pada masa itu terhadap mereka, dan bagaimana manifestasi dari derajat
keagungan dan bantuan Ilahi
kepada mereka masing-masing.
Dari hasil telaah akan
kita temui bahwa berbeda dengan Hadhrat Rasulullah Saw., ternyata Nabi Isa a.s. selain tidak ada menunjukkan sifat-sifat
ketuhanannya bahkan beliau ini gagal
memperlihatkan tanda-tanda sebagai seorang nabi. Tetapi ketika Hadhrat Rasulullah Saw. mengirimkan pesan (surat) kepada para penguasa atau raja-raja di masa itu, Kaisar
Roma ketika menerima pesan
beliau menarik nafas panjang
mengeluhkan bahwa ia terperangkap di
antara umat Kristiani, dan kalau
saja ia orang merdeka maka ia akan berbangga hati untuk bisa menghadap
Hadhrat Rasulullah Saw. dan membasuh
kaki beliau sebagaimana laiknya seorang
hamba sahaya.
Namun raja yang berhati kejam,
yaitu Khosroe dari Iran, merasa terhina
lalu mengirimkan dua orang prajurit
untuk menangkap Hadhrat Rasulullah Saw..
Mereka tiba di Madinah menjelang senja dan memberitahukan kepada Hadhrat
Rasulullah Saw. bahwa mereka dikirim untuk menangkap
beliau.
Beliau mengabaikan apa yang mereka kemukakan
dan mengajak mereka untuk masuk Islam.
Saat itu beliau sedang berada di dalam mesjid ditemani oleh 3 atau 4 orang
sahabat, namun nyatanya utusan raja
itu bergetar tubuhnya karena pesona beliau. Pada akhirnya mereka
bertanya, jawaban apakah yang harus
mereka bawa kepada raja mereka
berkaitan dengan tugas penangkapan beliau itu.
Hadhrat Rasulullah Saw.
meminta mereka untuk menunggu sampai besok hari. Keesokan harinya ketika mereka
menghadap, beliau berkata kepada mereka: “Ia
yang kalian sebut sebagai raja dan tuhan adalah bukan tuhan sama sekali. Tuhan
adalah Wujud yang tidak akan pernah mengalami kerusakan atau kematian. Tuhan
kalian telah terbunuh tadi malam. Tuhan-ku yang sesungguhnya telah mendorong
Sherweh
melawan dirinya dan tadi malam ia telah
dibunuh oleh tangan putranya sendiri. Inilah jawabanku.”
Kejadian ini merupakan mukjizat akbar dimana sebagai kesaksiannya maka beribu-ribu bangsa negeri itu lalu beriman kepada Hadhrat Rasulullah Saw. karena
merupakan suatu kenyataan bahwa Khusro
Pervez sang Khosroe Iran telah terbunuh malam itu [oleh anaknya sendiri – pent]. Hal ini
bukanlah suatu pernyataan samar-samar
sebagaimana yang diajukan oleh Kitab
Injil mengenai kemenangan Nabi Isa
a.s. namun didukung oleh fakta
sejarah. Mr. Davenport juga ada mengemukakan hal ini dalam bukunya.
Berbanding terbalik dengan hal di atas, bagaimana kurang ajarnya perlakuan penguasa di masa
Nabi Isa a.s. terhadap beliau
sudah sama diketahui. Barangkali Kitab
Injil masih ada mengungkapkan bagaimana Herodes[2] telah mengirimkan Nabi Isa
a.s. kepada Pontius Pilatus
sebagai seorang tertuduh.
Yesus ditahan beberapa waktu dalam penjara namun sifat ketuhanannya ternyata tidak ada muncul. Tidak ada satu pun raja datang menawarkan dengan
berbangga hati bersedia melayani dan membasuh
kaki beliau. Pilatus kemudian menyerahkan nasib Yesus kepada umat Yahudi.
Apakah ini merupakan tanda ketuhanannya?
Betapa berbedanya keadaan di antara kedua sosok manusia yang menghadapi keadaan
yang sama tetapi dengan akhir yang
jauh berbeda. Di satu sisi seorang raja
yang angkuh telah digoda syaitan untuk menangkap seorang yang mengaku sebagai nabi namun dirinya kemudian ditimpa kutukan Ilahi dan mati terbunuh secara hina di tangan putranya sendiri.
Pada sisi lain seseorang yang diangkat oleh para
pengikutnya naik ke surga malah
nyatanya mengalami penangkapan, penahanan dan diarak sebagai seorang pesakitan
dari satu kota ke kota lain.” (Noorul Quran, no. 2, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 384-386,
London, 1984).
Mukjizat dan Bukti Tetap Hidupnya Keberkatan
Ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
“Suatu
ketika pernah para pengabar Injil
dari umat Kristiani mengumumkan
secara kurang ajar dan dusta sampai ke jalan-jalan dan
lorong-lorong bahwa Nabi Suci Muhammad
Saw. tidak ada pernah memberikan nubuatan
atau pun mukjizat-mukjizat. Sekarang
inilah saatnya Allah Yang Maha Kuasa telah memperlihatkan ratusan mukjizat yang tidak bisa disanggah para lawan disamping ribuan
mukjizat Nabi Suci Saw. lainnya sebagaimana tersebut dalam Kitab Al-Quran dan hadits.
Kami selama ini sudah selalu
menyatakan secara halus dan rendah hati kepada setiap umat Kristen dan para lawan lainnya, dan kami masih terus
menyatakan bahwa perlu kiranya bagi setiap agama yang merasa dirinya benar
dan datang dari Tuhan agar
masing-masing mengemukakan sosok manusia
yang mereka agungkan sebagai junjungan,
pembimbing dan rasul serta membuktikan
bahwa nabi tersebut tetap hidup kekal melalui ajaran keruhaniannya.
Harus dibuktikan bahwa nabi
yang menjadi panutan dan yang diyakini sebagai pemberi syafaat serta juru
selamat haruslah masih tetap hidup
melalui berkat keruhaniannya. Ia
haruslah sosok yang ditinggikan pada tahta kehormatan dan diagungkan,
sehingga kecemerlangan wajahnya dan kedudukannya di sisi kanan Allah Yang Maha Abadi dan Maha Kuasa menjadi nyata
melalui sinaran Nur Ilahi.
Manusia yang mencintai dan mematuhi sosok tersebut sewajarnya juga dianugrahi dengan karunia Ruhulqudus
dan berkat Samawi serta memperoleh Nur dari Nabinya yang terkasih
untuk mengusir kegelapan di zamannya
dan memberikan keimanan yang sempurna
serta cemerlang terhadap eksistensi (keberadaan) Tuhan,
yang membakar habis keinginan
berbuat dosa dan nafsu-nafsu rendah manusia. Semua ini
menjadi bukti bahwa Nabi tersebut adalah sosok yang hidup dan berada di surga.
Dengan demikian bagaimana
bisa kita cukup bersyukur kepada Allah Yang
Maha Suci dan Maha Agung, Yang
telah mengaruniakan kepada kita kekuatan untuk mencintai dan mentaati
kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw., dan atas
itu lalu memberkati kita dengan rahmat keruhanian dari kecintaan dan ketaatan tersebut, yang menjadi tanda kesalehan dan tanda
Samawi, membuktikan kepada kita bahwa Nabi
kekasih dan yang diagungkan itu
tetap hidup dan duduk di sisi kanan Raja-nya Yang Maha Perkasa di atas tahta
kemulyaan dan keagungan di langit.
Ya Allah turunkanlah salam dan rahmat-Mu atas beliau.
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ
یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا
عَلَیۡہِ وَ سَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi
ini dan para malaikat-Nya mendoakan
dia. Hai orang-orang mukmin! Kamu
pun harus mengirimkan shelawat atas
dia, Nabi ini, dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan (Al-Ahzab [33]:57).
Sekarang silakan siapa
yang bisa menunjukkan ada manusia lain yang memiliki kehidupan keruhanian seperti halnya Hadhrat Rasulullah Saw.. Apakah Nabi Musa a.s. memilikinya? Jelas tidak.
Apakah Nabi Daud a.s. ada
mempunyainya? Pasti tidak. Apakah Yesus
a.s. ada memiliki kehidupan
demikian? Jelas tidak. Atau
barangkali Raja Ram Chandra atau Raja Krishna? Juga tidak. Apakah para Rishi
penganut agama Hindu memilikinya
mengingat Kitab mereka menyatakan bahwa ayat-ayat
Veda diwahyukan ke dalam hati
mereka? Jelas tidak.
Tidak ada gunanya membanggakan kehidupan jasmaniah karena kehidupan yang sebenarnya adalah keberkatan ruhaniah berupa kehidupan yang selalu mendapat Nur dan kepastian dari Allah Yang
Maha Kuasa. Bisa mencapai umur
jasmaniah yang panjang bukanlah
suatu hal yang patut disombongkan.
Beberapa monumen bangsa Mesir sudah berusia ribuan tahun dan reruntuhan Babilonia masih ada meski sekarang hanya menjadi sarang burung liar, sedangkan di negeri
ini (India) ada kota-kota kuno
seperti Ayodhia dan Bindraban, begitu juga dengan berbagai monumen kuno di Italia dan Yunani.
Sepanjang eksistensi (keberadaan) mereka yang panjang (lama) itu apakah monumen-monumen
itu ada menerima keagungan dan kemulyaan sebagaimana yang dikaruniakan kepada sosok-sosok suci karena kehidupan
keruhanian mereka? Jelas bahwa bukti
dari kehidupan keruhanian demikian
hanya bisa ditemui dalam diri Nabi Suci Saw.. Semoga beribu-ribu rahmat Tuhan menemani beliau.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XV, hlm. 137-139 London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 6 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar