Sabtu, 12 Desember 2015

Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tentang Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw. & Keagungan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. yang Tidak Dimiliki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Masa Hidupnya



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

 Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tentang Kedatangan Nabi Besar Muhammad  Saw.   &   Keagungan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. yang Tidak Dimiliki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  di Masa Hidupnya


Bab 32


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  firman Allah Swt.  dalam QS.7:144 mengenai “pingsannya” Nabi Musa a.s. ketika Allah Swt. bertajlli pada sebuah gunung   ketika beliau ingin   menyaksikan tajalli Allah Swt. yang diperuntukkan-Nya bagi Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan “misal Nabi Musa a.s.” (Ulangan 15-19; QS.46:11).
     Allah Swt. menjawab:  قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ  -- Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu,” yakni Nabi Musa a.s.  diberitahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah Swt.  memilih gunung untuk bertajalli.
     Ketika Tajalli Ilahi tersebut berlangsung maka gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan  -- dalam pengalaman ruhani tersebut  -- Nabi Musa a.s.  karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri.
      Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar (diyakinkan) bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat (wujud) yang kelak Allah Swt.  bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw..
       Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.  itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt.  dengan mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi Musa a.s.  yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau berseru:  تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s.  kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
      Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran 24:18. Demikian pula  ucapan Nabi Musa a.s. “ingin menyaksikan Tuhan”  erat kaitannya dengan nubuatan para Rasul Allah di kalangan Bani Israil yang dalam nubuatan  mereka menggambarkan pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.  ibarat “kedatangan Tuhan” (Mazmur 42:3-8; Yesaya 41:5 & !3; Yesaya; Matius 23:37-39), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ  -- ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ  -- Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat me-lihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ  -- lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا  -- Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  --   dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  --  Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).

Nubuatan Kedatangan “Nabi yang  Seperti Musa” yakni Nabi Besar Muhammad Saw. atau Nabi Ahmad Saw.

       Sehubungan dengan peristiwa ruhani  yang dialami Nabi Musa a.s. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Kitab suci umat Yahudi jelas menyatakan bahwa seorang juru selamat seperti Musa a.s. akan dikirimkan kepada mereka. Berarti bahwa juru selamat ini akan muncul ketika umat Yahudi sedang mengalami keadaan penderitaan dan penghinaan mirip dengan keadaan pada masa Fir’aun dahulu. Mereka akan diselamatkan dari siksaan dan penghinaan jika mereka mau beriman kepadanya.
      Tidak diragukan lagi bahwa sosok yang ditunggu-tunggu umat Yahudi selama berabad-abad tersebut serta yang telah dinubuatkan oleh Kitab Taurat adalah Junjungan dan Penghulu kita Hadhrat Muhammad Saw.. Ketika beberapa suku Yahudi beriman kepada beliau, lalu muncullah di antara mereka -- terutama sekali di antara bangsa Afghanistan dan Kashmir yang merupakan keturunan mereka -- beberapa raja-raja agung.[1] Hal ini menjadi bukti bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah mengampuni dosa-dosa mereka karena mereka menerima Islam, dan mengasihi mereka sebagaimana dijanjikan dalam Taurat.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm.  302-303, London, 1984).
         Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda tentang kehormatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang berusaha  dihinakan oleh para pemuka kaum Yahudi melalui  upaya pembunuhan melalui penyaliban:
    “Keagungan yang dikaruniakan kepada Nabi Isa a.s. adalah karena beliau mengikuti Hadhrat Muhammad Saw.,  sebab Nabi Isa telah diberitahukan  mengenai Nabi Suci ini dan beliau beriman kepadanya dan dengan demikian mencapai keselamatan berkat keimanannya tersebut.” (Al-Hakam, 30 Juni 1901, hlm. 3).
    Sehubungan dengan hal tersebut berikut firman Allah Swt. mengenai nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tentang kedatangan  “Nabi Ahmad Saw.”:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿ ﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”  Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).

Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran   

Untuk nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   mengenai kedatangan Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran, lihat Injil Yahya 12:13; 14:16-17; 15:26; 16:17; yang dari situ kesimpulan berikut dengan jelas dapat diambil:
(a) Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran tidak dapat datang sebelum  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.     berangkat dari dunia ini.
 (b) Beliau akan tinggal di dunia untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Nabi Isa sendiri tidak dapat mengatakannya karena dunia belum dapat menanggungnya pada waktu itu.
 (c) Beliau akan memimpin umat manusia kepada segala kebenaran.
 (d) Beliau tidak akan bicara atas kehendak sendiri, tetapi apa pun yang didengar oleh beliau, itu pulalah yang akan diucapkan oleh beliau.
 (e) Beliau akan memuliakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan memberikan kesaksian atas kebenarannya.
 Lukisan mengenai Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran itu serasi benar dengan kedudukan dan tugas  Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran.  Nabi Besar Muhammad saw.     datang sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   meninggalkan dunia ini, beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir dan Al-Quran merupakan syariat suci terakhir, diwah-yukan untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat (QS.5:4).
   Nabi Besar Muhammad saw.    tidak berkata atas kehendak sendiri, melainkan apa pun yang didengar beliau dari Tuhan, itu pulalah yang diucapkan beliau (QS.53:4). Beliau memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam s.s. (QS.2:254; QS.3:56). Nubuatan dalam Injil Yahya di atas adalah sesuai dengan nubuatan yang disebut dalam ayat yang sedang dibahas kecuali bahwa bukan nama Ahmad yang tercantum di situ melainkan Paraklit (Paraclete).
    Para penulis Kristen menantang ketepatan versi (anggapan) Al-Quran mengenai nubuatan itu, sambil mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka pada perbedaan kedua nama itu, dengan tidak memperhatikan kesamaan sifat-sifat yang dituturkan oleh Bible dan Al-Quran.
    Pada hakikatnya, Nabi Isa  Ibnu Maryam s.s. memakai bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa Arami adalah bahasa ibu beliau dan bahasa Ibrani adalah bahasa agama beliau. Versi Bible sekarang adalah terjemahan dari bahasa Arami dan bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Suatu terjemahan dengan sendirinya tidak dapat membawakan sepenuh keindahan gubahan aslinya.

Periklutos atau Emeth atau Ahmad

 Bahasa-bahasa mempunyai batas-batasnya masing-masing. Demikian pula mengenai kaum yang mempergunakan bahasa itu. Batas-batas mereka itu nampak pula dalam karya-karya mereka. Bahasa Yunani mempunyai penggunaan kata lain  yaitu Periklutos, yang mempunyai persamaan arti dengan Ahmad dalam bahasa Arab.
   Jack Finegan, seorang ahli ilmu agama Kristen kenamaan, mengatakan di dalam kitabnya bernama  Archaeology of World Religions  berkata, “Kalau dalam bahasa Yunani kata Paracletos (Penghibur) sangat cocok dengan kata Periclutos (termasyhur), maka kata itu berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad”.
  Lebih-lebih   The Damascus Document”  (Dokumen atau Naskah asal Damaskus), suatu naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19 dalam gereja Yahudi di Ezra, Mesir Kuno (halaman 2) melukiskan bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan “Ruh Suci” dengan nama Emeth: Dan dengan Almasih-Nya Dia memberitahukan kepada mereka Rohulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin (Si Jujur), dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula  nama mereka ..... Emeth dalam bahasa Ibrani berarti “Kebenaran” atau Si Jujur (Al-Amin) dan orang yang kebaikannya dawam” (Strahan’s Fourth Gospel, 141).
 Kata ini ditafsirkan oleh orang-orang Yahudi, “Cap (meterai) Tuhan.” Dengan sendirinya, meskipun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mungkin telah mempergunakan nama Ahmad, persamaan bunyi lafal antara kedua kata (Ahmad dan Emeth) itu telah membuat para penulis di kemudian hari menulis kata Emeth sebagai alih-alih kata “Ahmad” yang adalah persamaan kosa-kata dalam bahasa Ibrani.
Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Mirza Ghulam Ahmad atau   Masih Mau’ud a.s.,  Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4) telah pula dinyatakan dengan jelas dalam Injil Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada pihak lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya), seotentik setiap dari keempat Injil.

Kemuliaan dan Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw. yang Tidak Dimiliki oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Masa Hidupnya

   Berikut pembelaan Masih Mau’ud a.s. atau Ahmad a.s.  -- yang merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. --  terhadap kemuliaan beliau saw. jika dibandingkan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang kemudian telah  “dipertuhankan” oleh para pengikutnya dari kalangan Kristen:
   “Sekarang akan kita bandingkan Nabi Isa a.s. dengan Nabi Suci Saw. berkaitan dengan perlakuan para pemerintahan atau raja-raja pada masa itu terhadap mereka,  dan bagaimana manifestasi dari derajat keagungan dan bantuan Ilahi kepada mereka masing-masing.
    Dari hasil telaah akan kita temui bahwa berbeda dengan Hadhrat Rasulullah Saw., ternyata Nabi Isa a.s. selain tidak ada menunjukkan sifat-sifat ketuhanannya bahkan beliau ini gagal memperlihatkan tanda-tanda sebagai seorang nabi. Tetapi ketika Hadhrat Rasulullah Saw. mengirimkan pesan (surat) kepada para penguasa atau raja-raja di masa itu, Kaisar Roma ketika menerima pesan beliau menarik nafas panjang mengeluhkan bahwa ia terperangkap di antara umat Kristiani,  dan kalau saja ia orang merdeka maka ia akan berbangga hati untuk bisa menghadap Hadhrat Rasulullah Saw. dan membasuh kaki beliau sebagaimana laiknya seorang hamba sahaya.
    Namun raja yang berhati kejam, yaitu Khosroe dari Iran,  merasa terhina lalu mengirimkan dua orang prajurit untuk menangkap Hadhrat Rasulullah Saw.. Mereka tiba di Madinah menjelang senja dan memberitahukan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. bahwa mereka dikirim untuk menangkap beliau.
    Beliau mengabaikan apa yang mereka kemukakan dan mengajak mereka untuk masuk Islam. Saat itu beliau sedang berada di  dalam mesjid ditemani oleh 3 atau 4 orang sahabat, namun nyatanya utusan raja itu bergetar tubuhnya karena pesona beliau. Pada akhirnya mereka bertanya, jawaban apakah yang harus mereka bawa kepada raja mereka berkaitan dengan tugas penangkapan beliau itu.
   Hadhrat Rasulullah Saw. meminta mereka untuk menunggu sampai besok hari. Keesokan harinya ketika mereka menghadap, beliau berkata kepada mereka: “Ia yang kalian sebut sebagai raja dan tuhan adalah bukan tuhan sama sekali. Tuhan adalah Wujud yang tidak akan pernah mengalami kerusakan atau kematian. Tuhan kalian telah terbunuh tadi malam. Tuhan-ku yang sesungguhnya telah mendorong Sherweh melawan dirinya dan tadi malam ia telah dibunuh oleh tangan putranya sendiri. Inilah jawabanku.”
      Kejadian ini merupakan mukjizat akbar dimana sebagai kesaksiannya maka beribu-ribu bangsa negeri itu lalu beriman kepada Hadhrat Rasulullah Saw. karena merupakan suatu kenyataan bahwa Khusro Pervez sang Khosroe Iran telah terbunuh malam itu [oleh anaknya sendiri – pent]. Hal ini bukanlah suatu pernyataan samar-samar sebagaimana yang diajukan oleh Kitab Injil mengenai kemenangan Nabi Isa a.s. namun didukung oleh fakta sejarah. Mr. Davenport juga ada mengemukakan hal ini dalam bukunya.
   Berbanding terbalik dengan hal di atas, bagaimana kurang ajarnya perlakuan penguasa di masa Nabi Isa a.s. terhadap beliau sudah sama diketahui. Barangkali Kitab Injil masih ada mengungkapkan bagaimana Herodes[2] telah mengirimkan Nabi Isa a.s. kepada Pontius Pilatus sebagai seorang tertuduh.
       Yesus ditahan beberapa waktu dalam penjara namun sifat ketuhanannya ternyata tidak ada muncul. Tidak ada satu pun raja datang menawarkan dengan berbangga hati bersedia melayani dan membasuh kaki beliau. Pilatus kemudian menyerahkan nasib Yesus kepada umat Yahudi. Apakah ini merupakan tanda ketuhanannya?
    Betapa berbedanya keadaan di antara kedua sosok manusia yang menghadapi keadaan yang sama tetapi dengan akhir yang jauh berbeda. Di satu sisi seorang raja yang angkuh telah digoda syaitan untuk menangkap seorang yang mengaku sebagai nabi namun dirinya kemudian ditimpa kutukan Ilahi dan mati terbunuh secara hina di tangan putranya sendiri.
   Pada sisi lain seseorang yang diangkat oleh para pengikutnya naik ke surga malah nyatanya mengalami penangkapan, penahanan dan diarak sebagai seorang pesakitan dari satu kota ke kota lain.” (Noorul Quran, no. 2, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 384-386, London, 1984).

Mukjizat dan  Bukti Tetap Hidupnya Keberkatan Ruhani Nabi  Besar Muhammad saw.

    “Suatu ketika pernah para pengabar Injil dari umat Kristiani mengumumkan secara kurang ajar dan dusta sampai ke jalan-jalan dan lorong-lorong bahwa Nabi Suci Muhammad Saw. tidak ada pernah memberikan nubuatan atau pun mukjizat-mukjizat. Sekarang inilah saatnya Allah Yang Maha Kuasa telah memperlihatkan ratusan mukjizat yang tidak bisa disanggah para lawan disamping ribuan mukjizat Nabi Suci Saw. lainnya sebagaimana tersebut dalam Kitab Al-Quran dan hadits.
    Kami selama ini sudah selalu menyatakan secara halus dan rendah hati kepada setiap umat Kristen dan para lawan lainnya, dan kami masih terus menyatakan bahwa perlu kiranya bagi setiap agama yang merasa dirinya benar dan datang dari Tuhan agar masing-masing mengemukakan sosok manusia yang mereka agungkan sebagai junjungan, pembimbing dan rasul serta membuktikan bahwa nabi tersebut tetap hidup kekal melalui ajaran keruhaniannya.
  Harus dibuktikan bahwa nabi yang menjadi panutan dan yang diyakini sebagai pemberi syafaat serta juru selamat haruslah masih tetap hidup melalui berkat keruhaniannya. Ia haruslah sosok yang ditinggikan pada tahta kehormatan dan diagungkan, sehingga kecemerlangan wajahnya dan kedudukannya di sisi kanan Allah Yang Maha Abadi dan Maha Kuasa menjadi nyata melalui sinaran Nur Ilahi.
  Manusia yang mencintai dan mematuhi sosok tersebut sewajarnya juga dianugrahi dengan karunia Ruhulqudus dan berkat Samawi serta memperoleh Nur dari Nabinya yang terkasih untuk mengusir kegelapan di zamannya dan memberikan keimanan yang sempurna serta cemerlang terhadap eksistensi (keberadaan) Tuhan,  yang membakar habis keinginan berbuat dosa dan nafsu-nafsu rendah manusia. Semua ini menjadi bukti bahwa Nabi tersebut adalah sosok yang hidup dan berada di surga.
    Dengan demikian bagaimana bisa kita cukup bersyukur kepada Allah Yang Maha Suci dan Maha Agung, Yang telah mengaruniakan kepada kita kekuatan untuk mencintai dan mentaati kekasih-NyaNabi Muhammad Saw.,  dan atas itu lalu memberkati kita dengan rahmat keruhanian dari kecintaan dan ketaatan tersebut, yang menjadi tanda kesalehan dan tanda Samawi, membuktikan kepada kita bahwa Nabi kekasih dan yang diagungkan itu tetap hidup dan duduk di sisi kanan Raja-nya Yang Maha Perkasa di atas tahta kemulyaan dan keagungan di langit. Ya Allah turunkanlah salam dan rahmat-Mu atas beliau.
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ  یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَیۡہِ  وَ سَلِّمُوۡا  تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi ini dan para malaikat-Nya mendoakan dia. Hai orang-orang mukmin! Kamu pun harus mengirimkan shelawat atas dia, Nabi ini, dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan (Al-Ahzab [33]:57).
    Sekarang silakan siapa yang bisa menunjukkan ada manusia lain yang memiliki kehidupan keruhanian seperti halnya Hadhrat Rasulullah Saw.. Apakah Nabi Musa a.s. memilikinya? Jelas tidak. Apakah Nabi Daud a.s. ada mempunyainya? Pasti tidak. Apakah Yesus a.s. ada memiliki kehidupan demikian? Jelas tidak. Atau barangkali Raja Ram Chandra atau Raja Krishna? Juga tidak. Apakah para Rishi penganut agama Hindu memilikinya mengingat Kitab mereka menyatakan bahwa ayat-ayat Veda diwahyukan ke dalam hati mereka? Jelas tidak.
   Tidak ada gunanya  membanggakan   kehidupan jasmaniah karena kehidupan yang sebenarnya adalah keberkatan ruhaniah berupa kehidupan yang selalu mendapat Nur dan kepastian dari Allah Yang Maha Kuasa. Bisa mencapai umur jasmaniah yang panjang bukanlah suatu hal yang patut disombongkan.
   Beberapa monumen bangsa Mesir sudah berusia ribuan tahun dan reruntuhan Babilonia masih ada meski sekarang hanya menjadi sarang burung liar, sedangkan di negeri ini (India) ada kota-kota kuno seperti Ayodhia dan Bindraban, begitu juga dengan berbagai monumen kuno di Italia dan Yunani.
   Sepanjang eksistensi  (keberadaan) mereka yang panjang (lama) itu apakah monumen-monumen itu ada menerima keagungan dan kemulyaan sebagaimana yang dikaruniakan kepada sosok-sosok suci karena kehidupan keruhanian mereka? Jelas bahwa bukti dari kehidupan keruhanian demikian hanya bisa ditemui dalam diri Nabi Suci Saw.. Semoga beribu-ribu rahmat Tuhan menemani beliau.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XV, hlm.  137-139 London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 Desember  2015






[1] dari suku bangsa Israil. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2]   Injil Lukas 23:11. Yang dimaksud Herodes dalam Injil sebenarnya Marcus Julius Agrippa, cucu dari raja Herod I, yang kemudian menjadi raja Yudea dari tahun 41-44 M. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar