بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Makna “Nur di Atas Nur” & Keseimbangan Sempurna Temperamen (Karakter) Nabi Besar Muhammad Saw.
Bab 28
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih
Mau’ud a.s. mengenai kesempurnaan matabat ruhani Nabi Besar Muhammad saw., yang telah “manunggal” dengan Allah Swt. (QS.53:9-10), antara lain
beliau bersabda:
“Inti sari dari keseluruhan
ini adalah untuk menunjukkan bahwa derajat
kedekatan kepada Allah Swt. itu ada tiga macam dan yang ketiga itu
menggambarkan manifestasi sempurna
dari Sifat-sifat Ilahiah yang
merupakan cermin yang merefleksikan Tuhan, dan semua itu
terkait kepada Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. yang Nurnya
telah mencerahkan beribu-ribu batin serta membersihkan tidak terbilang kalbu
manusia dari kegelapan dan menuntun mereka kepada Nur yang abadi. Seorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan
perbatasan yang dijaga Ruhul Kudus.
Aku
tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
Alangkah beruntungnya manusia yang beriman kepada Hadhrat Muhammad Saw. dan menerima
beliau sebagai Penghulu serta Kitab Al-Quran sebagai petunjuknya. Ya Allah, berkatilah Penghulu dan Junjungan kami Muhammad beserta segenap pengikutnya
dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah Yang telah
menuntun hati kita kepada kekasih-Nya,
kepada kasih terhadap Rasul-Nya dan kasih kepada hamba-hamba-Nya.
Ketika sinar rembulan
mengerling hati kami,
Hati kami yang gelap
merona jadi perak cemerlang.
Setiap saat
rahmat menyatu Kekasih-ku selalu mengundang,
Meski
mereka yang menentang menghadang jalan.
Siang dan malam aku
bersimpuh bagai debu di jalan Kekasih-ku,
Tanda apa lagi yang
mengisyaratkan kehormatan dan rezeki terhormat.
(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 301,
London, 1984).
Makna “Nur di atas Nur”
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai makna ayat “Nur di atas Nur” (QS.25:36) berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. dan
Al-Quran:
“Kitab
Suci Al-Quran telah menjelaskan hal ini dalam alegori yang cantik yang
berbunyi:
اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ
نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ
اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ
مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ
زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا
یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ
لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi.
Perumpamaan Nur-Nya adalah seperti
sebuah relung yang di dalamnya ada suatu pelita. Pelita itu ada dalam suatu
semprong kaca. Semprong kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu
dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati ialah pohon
zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, yang minyaknya hampir-hampir
bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ
-- Nur
di atas Nur. Allah memberi bimbingan menuju Nur-Nya kepada barangsiapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mengemukakan
tamsil-tamsil untuk manusia dan Allah mengetahui segala sesuatu’ (Al-Nūr [24]:36).
Dengan
demikian berarti bahwa Allah itu
adalah Nur seluruh langit dan bumi, dengan pengertian,
bahwa setiap Nur yang mewujud dalam keluhurannya maupun kedalamannya -- baik dalam ruhani atau pun jasmani, apakah milik
pribadi atau hasil perolehan,
baik yang tersembunyi mau pun yang terbuka, apakah bersifat internal atau pun eksternal -- semuanya
merupakan karunia dari rahmat-Nya.
Semua itu menjadi indikasi bahwa rahmat umum dari Rabb (Tuhan) seluruh
alam mencakup keseluruhan dan tidak ada satu pun yang dikecualikan
sebagai penerima berkat karunia-Nya. Dia adalah Sumber segala berkat dan kausa primer
dari semua Nur dan Sumber mata air dari segala rahmat. Wujud-Nya adalah penopang
dari keseluruhan alam dan menjadi tempat berlindung bagi semua makhluk, baik
yang berderajat tinggi mau pun yang rendah.
Dia telah membawa semuanya
keluar dari kegelapan ketiadaan dan
menganugrahkan kepadanya jubah
eksistensi (ada). Tidak ada lagi wujud lain yang eksis (ada) dengan sendirinya dan bersifat abadi, atau bukan penerima rahmat-Nya. Bumi, langit, manusia,
hewan, batu-batuan, pepohonan, ruhani dan jasmani, semuanya memperoleh
eksistensi (wujud) dari rahmat-Nya.
Yang dikemukakan dalam
ayat tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa semua itu merupakan rahmat
yang bersifat umum. Rahmat ini mencakup keseluruhan
sebagaimana laiknya dalam suatu lingkaran. Untuk menjadi penerima rahmat
ini tidak diperlukan persyaratan apa
pun.
Rahmat yang Bersifat Khusus
Dibandingkan dengan
sifat rahmat ini ada rahmat yang bersifat khusus yang memiliki persyaratan dan hanya dikaruniakan
kepada pribadi-pribadi yang memang
memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menerimanya. Yang
dimaksud adalah manusia-manusia sempurna
seperti para nabi, dimana nabi yang terbaik dan paling luhur adalah Hadhrat Muhammad Saw..
Karena rahmat ini merupakan kebenaran yang haqiqi maka Allah Swt.. setelah mengemukakan tentang rahmat yang bersifat umum, lalu mengungkapkan tentang rahmat yang bersifat khusus dengan tujuan guna menegaskan Nur dari Nabi Suci Saw. dalam sebuah alegori
(ibarat) agar lebih mudah dicerna.
Nur tersebut diuraikan sebagai:
Perumpamaan
Nur-Nya adalah “seperti sebuah
relung”
dimana yang dimaksud adalah relung
dada Nabi Suci Saw.. Dalam relung
ini ada sebuah pelita yang berarti wahyu Ilahi. Pelita itu ada dalam
sebuah semprong kaca yang jernih
seperti bintang gemerlapan, yang berarti hati
Hadhrat Rasulullah Saw. yang suci
dan bersih yang karena fitratnya bersih dari segala kekotoran dan kesuraman, seumpama cermin
yang bening yang hanya berhubungan dengan Allah Swt. saja.
Cermin tersebut cemerlang
seperti bintang gemerlapan yang bersinar di langit dengan segala
keagungannya, yang berarti bahwa hati
Hadhrat Rasulullah Saw. itu demikian jernih
dan bening sehingga Nur internalnya mencuat ke permukaan
luar dan mengalir seperti air.
Pelita itu dinyalakan dengan minyak
dari sebatang pohon kayu yang diberkati yaitu pohon zaitun. Hal ini mengandung arti bahwa wujud Nabi Suci Saw. merupakan gabungan
dari berbagai ragam rahmat dan berkat dimana semuanya tidak terkungkung pada suatu masa atau tempat atau pun jurusan,
bahkan akan mengalir terus secara abadi dan tidak akan pernah dihentikan.
Pohon yang diberkati
tersebut bukan berasal dari timur
atau pun barat, mengandung arti
bahwa fitrat Hadhrat Rasulullah Saw.
tidak ada kelebihan atau pun kekurangan, melainkan diciptakan dengan
cetakan yang sempurna. Yang dimaksud dengan minyak
dari pohon yang diberkati yang
menyalakan pelita wahyu adalah daya penalaran yang cemerlang beserta sifat-sifat akhlak yang luhur
dari Hadhrat Rasulullah Saw., dan akhlak beliau ini dihidupi oleh sumber mata air daya nalar beliau yang jernih.
Yang dimaksud dengan pelita wahyu tersebut dinyalakan oleh akhlak luhur Hadhrat Rasulullah Saw., adalah rahmat
wahyu turun atas akhlak beliau
tersebut dan akhlak itu juga yang
menjadi penyebab dari turunnya wahyu. Dalam hal ini juga
terdapat indikasi bahwa rahmat
berupa wahyu tersebut sejalan dengan
fitrat Hadhrat Rasulullah Saw., dengan pengertian bahwa wahyu turun sejalan dengan fitrat
seorang nabi yang kepadanya wahyu itu akan diturunkan.
Sebagai contoh, temperamen dari Nabi Musa a.s. menggambarkan keagungan dan kemurkaan, sehingga karenanya Kitab
Taurat diwahyukan dalam kerangka sebagai kaidah-kaidah kemegahan kekuasaan. Adapun Nabi Isa a.s. memiliki temperamen yang rendah hati dan lemah lembut
dan karenanya Kitab Injil
mengajarkan kerendahan hati dan kelembutan.
Keseimbangan Sempurna Temperamen
Nabi Besar Muhammad Saw.
Adapun temperamen Nabi Suci Saw. adalah mantap dalam keadaan yang paling sulit sekali pun. Sifat beliau tidak selalu lemah-lembut dalam segala situasi,
tidak juga murka setiap saat,
melainkan merupakan perpaduan yang bijak yang muncul menurut tuntutan situasi pada setiap saat.
Karena itulah maka Kitab Al-Quran
diwahyukan dalam acuan yang tepat
dan moderat yang menggabungkan ketegasan dengan kelembutan, keterpesonaan
dengan kasih sayang, serta kekerasan dengan kelembutan.
Dalam ayat tersebut Allah Swt. telah
mengungkapkan bahwa pelita wahyu
Al-Quran itu dinyalakan dari minyak sebuah pohon yang diberkati
yang tidak berasal dari timur atau
pun barat, melainkan sejalan dengan temperamen moderat dari Hadhrat
Rasulullah Saw. dimana sifat beliau
tidak segalak temperamen Nabi Musa a.s. dan tidak juga selembut temperamen Nabi
Isa a.s., melainkan merupakan gabungan
dari kekerasan dengan kelembutan, kemarahan dengan kasih sayang
dimana semuanya merupakan temperamen
yang moderat sebagai kombinasi dari keagungan dengan keindahan.
Keluhuran akhlak Hadhrat Rasulullah Saw.
diungkapkan dalam ayat lain dalam Kitab Al-Quran yaitu:
وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
engkau benar-benar memiliki akhlak luhur (Al-Qalam [68]:5).
Berarti Hadhrat
Rasulullah Saw. diciptakan sedemikian sempurna dengan akhlak luhur yang tidak mungkin diungguli oleh orang lain. Kata ‘azhiim’ yang digunakan dalam ayat[1] ini menggambarkan istilah
bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan
tertinggi dari suatu spesi makhluk.
Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon itu ‘azhiim’ maka yang dimaksud adalah pohon itu memiliki panjang dan lebar
terbaik yang bisa dimiliki sebuah pohon. Beberapa ahli leksikon menyatakan
bahwa kata ‘azhiim’ menggambarkan kebesaran yang berada di luar
nalar manusia.
Adapun kata khuluq sebagaimana digunakan dalam
Al-Quran atau pun kitab-kitab bijak lainnya, tidak saja berarti perilaku yang baik, kasih dan kelembutan semata. Khalaq dan khuluq adalah dua kata yang berbeda
yang digunakan berkaitan satu dengan lain. Sifat khalaq adalah ciri-ciri yang
diberikan Tuhan kepada manusia untuk
membedakannya dari hewan lainnya. Adapun
khuluq menyangkut sifat-sifat kebaikan internal yang secara nyata membedakan kemanusiaan dari realitas hewan.
Jadi segala sifat batin yang membedakan manusia dari hewan terangkum di dalam kata khuluq tersebut. Sebagaimana kerangka
fitrat manusia didasarkan pada sifat moderat dan bebas dari kelebihan atau kekurangan sebagaimana yang terdapat
dalam fitrat hewan, maka kata khuluq jika tidak diikuti kualifikasi
yang merendahkan, selalu berarti fitrat
akhlak yang mulia sebagaimana
difirmankan:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
۫﴿۴﴾
Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan (Al-Tīn [95]:5)
Akhlak mulia tersebut
merangkum semua sifat-sifat batin
yang ada pada diri manusia seperti logika
yang jernih, pemahaman yang baik, ingatan yang bagus, kesucian,
kesopanan, keteguhan, kepuasan, kesalehan, tekad yang kuat, ketekunan,
keadilan, kepercayaan, kedermawanan yang sesuai, pengorbanan pada saat yang
benar, pengasih, penyayang, keberanian, kelembutan sewajarnya, kemarahan pada
saat yang tepat, kehormatan, belas kasih, ketakutan pada saat yang benar, cinta
yang sewajarnya, kecintaan kepada Allah dan menarik diri ke arah Tuhan serta
lain-lainnya.
Minyak itu hampir-hampir bercahaya
walau api tidak menyentuhnya,
mengandung arti bahwa penalaran dan akhlak mulia dari Hadhrat Rasulullah
Saw. itu demikian sempurna, pantas, halus dan cemerlang
sehingga semuanya itu siap menyala
bahkan sebelum turunnya wahyu.
Dengan pengertian Nur di atas nur yang dimaksud adalah banyak sekali nur yang terangkum dalam wujud
Nabi Suci Saw. dan di atas nur
itu telah turun Nur Samawi berupa wahyu Ilahi sehingga wujud Hadhrat Rasulullah Saw. menjadi gabungan dari semua Nur.” (Brahini
Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 191-195,
London, 1984).
Makna Mi’raj Hadhrat Rasulullah Saw.
Selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. mengemukakan
ketinggian mikraj ruhani Nabi Besar Muhammad saw., yang bahkan malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup
untuk mendampingi beliau lagi ke ketinggian “langit Ke-Tuhan-an”
yang Nabi Besar Muhammad saw. terus mengarunginya:
“Kenaikan ruhani berupa mi’raj Hadhrat Rasulullah Saw. merupakan tanda penarikan diri beliau sepenuhnya dari
segala yang bersifat duniawi dan
tujuannya adalah untuk memperlihatkan posisi maqam Samawi beliau.
Setiap jiwa mempunyai suatu titik
di langit yang tidak akan bisa dilampauinya lagi. Adapun titik terakhir bagi Nabi Suci Saw.
adalah ‘Arasy Ilahi. Dengan demikian
jelas bahwa Nabi Suci Saw. dimuliakan
di atas semua manusia lainnya.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 136).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Perjalanan
mi’raj tidak dilakukan dengan tubuh jasmani melainkan merupakan kasyaf dalam bentuknya yang paling
sempurna, yang dialami dalam keadaan
sadar penuh. Dalam kasyaf demikian,
seseorang berdasarkan kemampuan ruhnya
bisa berkelana melalui langit dengan tubuh dari Nur.
Mengingat ruh Nabi Suci Saw.
memiliki kapasitas yang tertinggi maka dalam perjalanan mi’raj beliau mencapai titik tertinggi di alam yang disebut sebagai ‘Arasy yang akbar.
Perjalanan tersebut merupakan kasyaf
dalam keadaan sadar penuh.
Aku tidak menyebutnya
sebagai mimpi, bukan juga sebagai kasyaf yang mutunya lebih rendah.
Semuanya itu merupakan kasyaf pada
tingkatnya yang paling luhur yang lebih jernih dan cemerlang dibanding dengan
keadaan sadar terjaga. Aku sendiri telah mengalami kasyaf demikian.” (Izala Auham, Amritsar, Riyaz Hind
Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain,
jld. 3, hlm. 126, London, 1984).
Pengertian Khātaman Nabiyyīn
“Insan kamil yang kepadanya Kitab Al-Quran diwahyukan tidak terbatas kemampuan kasyafnya, dan tidak juga mempunyai kekurangan dalam belas-kasihnya. Baik dari sudut pandang
saatnya mau pun tempat, jiwa beliau
selalu penuh dengan belas-kasih.
Karena itulah beliau dikaruniai dengan manifestasi
alamiah dan beliau dijadikan sebagai Khātamal
Anbiya.
Pengertian Khātamal Anbiya bukannya berarti bahwa
tidak ada lagi yang menerima rahmat keruhanian dari beliau, melainkan penegasan bahwa beliau memiliki meterai kenabian dimana tanpa kesaksian dari meterai tersebut tidak akan ada rahmat yang bisa mencapai seseorang.
Pengertian Khātamal Anbiya juga mensiratkan
bahwa pintu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan tidak akan pernah ditutup.
Di samping beliau tidak ada lagi nabi lain yang memiliki meterai
kenabian demikian. Melalui kesaksian
dari meterai tersebut itulah maka kenabian bisa dikaruniakan kepada manusia, dengan syarat bahwa yang bersangkutan adalah pengikut taat dari Hadhrat Rasulullah Saw..
Kadar keberanian dan rasa belas
kasih beliau yang luhur tidak
ingin meninggalkan umatnya dalam kondisi berkekurangan,
dan tidak bisa menerima bahwa pintu wahyu -- yang menjadi akar dari semua pemahaman -- telah tertutup.
Namun untuk memastikan
bahwa tanda kenabian [syariat] walau
telah ditutup, beliau menginginkan
bahwa rahmat wahyu tetap bisa
diberikan melalui kepatuhan kepada
beliau, dan bahwa pintu ini tertutup sudah
bagi yang bukan menjadi pengikut beliau.
Allah Swt.. menunjuk
beliau sebagai Khātamal Anbiya dalam pengertian seperti ini. Dengan demikian telah
ditetapkan bahwa sampai dengan Hari
Penghisaban nanti barangsiapa yang terbukti tidak menjadi pengikut beliau yang setia dan tidak mengabdikan keseluruhan
dirinya pada ketaatan kepada beliau
maka ia tidak akan pernah bisa
menjadi penerima wahyu yang sempurna.
Kenabian yang bersifat langsung (mustaqil) telah berakhir dalam wujud Nabi Suci
Saw., namun kenabian yang merupakan refleksi
atau pantulan dari rahmat Muhammad akan terus berlanjut
sampai dengan Hari Penghisaban. Dengan demikian pintu untuk penyempurnaan
umat manusia tidak akan pernah ditutup, dan tanda
ini tidak akan pupus dari muka bumi karena maksud
luhur dari Nabi Suci saw. menginginkan
bahwa pintu untuk berhubungan dan bercakap-cakap dengan Tuhan
harus tetap terbuka sampai dengan Hari Penghisaban, serta pemahaman Ilahiah yang menjadi dasar
dari keselamatan ruhani tidak akan
pernah sirna.”
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press,
1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 29-30,
London, 1984).
Mengenai keluhuran sempurna martabat akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku
bersaksi dengan penuh keyakinan bahwa keluhuran
kenabian telah mencapai puncaknya dalam diri Nabi Suci Saw..
Seseorang yang melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan beliau dan mengemukakan kebenaran
yang berada di luar kenabian beliau
serta mengingkari kenabian tersebut
adalah seorang yang palsu dan pendusta.
Aku katakan secara tegas
bahwa siapa pun yang beriman kepada
seorang nabi setelah Nabi Suci Saw. dan memecahkan meterai Kenabian beliau adalah orang
yang terkutuk. Tidak ada nabi baru yang bisa muncul setelah Nabi Suci Saw. yang tidak
mendapat pengesahan dari meterai Kenabian Muhammadi.
Umat Muslim yang menentang kita keliru, karena mereka meyakini akan kedatangan seorang nabi Israili yang akan memecah
meterai kenabian. Aku memaklumkan bahwa menjadi manifestasi (perwujudan) kekuatan
keruhanian Nabi Suci Saw. dan kenabian
beliau yang bersifat abadi, yaitu setelah 1300 tahun setelah beliau akan
muncul Al-Masih yang Dijanjikan (Al-Masih
Mau’ud) sebagai anak didik beliau
dengan mengemban meterai kenabian
yang sama.
Kalau pandangan ini dianggap kafir maka biarlah aku menjadi kafir. Mereka yang penalarannya telah digelapkan dan tidak memperoleh karunia nur kenabian tidak akan
pernah bisa memahami hal ini serta
menganggapnya sebagai kafir, padahal
justru ini merupakan hal yang membuktikan kesempurnaan
Nabi Suci Saw. dan kehidupan beliau
yang kekal.” (Al-Hakam, 10 Juni 1905, hlm. 2).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 2 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar