Senin, 07 Desember 2015

Makna "Nur di Atas Nur" & Keseimbangan Sempurna Temperamen (Karakter) Nabi Besar Muhammad Saw.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Makna “Nur di Atas Nur  & Keseimbangan Sempurna Temperamen (Karakter) Nabi Besar Muhammad Saw.  


Bab 28


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  mengenai  kesempurnaan matabat ruhani Nabi Besar Muhammad saw., yang telah “manunggal”  dengan Allah Swt. (QS.53:9-10), antara lain beliau bersabda:
  “Inti sari dari keseluruhan ini adalah untuk menunjukkan bahwa derajat kedekatan kepada Allah Swt.  itu ada tiga macam dan yang ketiga itu menggambarkan manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahiah yang merupakan cermin yang merefleksikan Tuhan, dan semua itu terkait kepada Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. yang Nurnya telah mencerahkan beribu-ribu batin serta membersihkan tidak terbilang kalbu manusia dari kegelapan dan menuntun mereka kepada Nur yang abadiSeorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Ruhul Kudus.
Aku tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
     Alangkah beruntungnya manusia yang beriman kepada Hadhrat Muhammad Saw. dan menerima beliau sebagai Penghulu serta Kitab Al-Quran sebagai petunjuknya. Ya Allah, berkatilah Penghulu dan Junjungan kami Muhammad beserta segenap pengikutnya dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menuntun hati kita kepada kekasih-Nya, kepada kasih terhadap Rasul-Nya dan kasih kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika sinar rembulan mengerling hati kami,
Hati kami yang gelap merona jadi perak cemerlang.

Setiap saat rahmat menyatu Kekasih-ku selalu mengundang,
Meski mereka yang menentang menghadang jalan.

Siang dan malam aku bersimpuh bagai debu di jalan Kekasih-ku,
Tanda apa lagi yang mengisyaratkan kehormatan dan rezeki terhormat.

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 301, London, 1984).

Makna “Nur di atas Nur

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  makna ayat “Nur di atas Nur” (QS.25:36) berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran:
      “Kitab Suci Al-Quran telah menjelaskan hal ini dalam alegori yang cantik yang berbunyi:
اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi. Perumpamaan Nur-Nya adalah seperti sebuah relung yang di dalamnya ada suatu pelita. Pelita itu ada dalam suatu semprong kaca. Semprong kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati ialah pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, yang minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ --  Nur di atas Nur. Allah memberi bimbingan menuju Nur-Nya kepada barangsiapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia dan Allah mengetahui segala sesuatu (Al-Nūr [24]:36).
     Dengan demikian berarti bahwa Allah itu adalah Nur  seluruh langit dan bumi, dengan pengertian, bahwa setiap Nur yang mewujud dalam keluhurannya maupun kedalamannya -- baik dalam ruhani atau pun jasmani, apakah milik pribadi atau hasil perolehan, baik yang tersembunyi mau pun yang terbuka, apakah bersifat internal atau pun eksternal --  semuanya merupakan karunia dari rahmat-Nya.
    Semua itu menjadi indikasi bahwa rahmat umum dari Rabb (Tuhan) seluruh  alam mencakup keseluruhan dan tidak ada satu pun yang dikecualikan sebagai penerima berkat karunia-Nya. Dia adalah Sumber segala berkat dan kausa primer dari semua Nur dan Sumber mata air dari segala rahmat. Wujud-Nya adalah penopang dari keseluruhan alam dan menjadi tempat berlindung bagi semua makhluk, baik yang berderajat tinggi mau pun yang rendah.
 Dia telah membawa semuanya keluar dari kegelapan ketiadaan dan menganugrahkan kepadanya jubah eksistensi (ada). Tidak ada lagi wujud lain yang eksis (ada)  dengan sendirinya dan bersifat abadi, atau bukan penerima rahmat-Nya. Bumi, langit, manusia, hewan, batu-batuan, pepohonan, ruhani dan jasmani, semuanya memperoleh eksistensi (wujud) dari rahmat-Nya.
   Yang dikemukakan dalam ayat tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa semua itu merupakan rahmat yang bersifat umum. Rahmat ini mencakup keseluruhan sebagaimana laiknya dalam suatu lingkaran. Untuk menjadi penerima   rahmat ini tidak diperlukan persyaratan apa pun.

Rahmat yang Bersifat Khusus
     
    Dibandingkan dengan sifat rahmat ini ada rahmat yang bersifat khusus yang memiliki persyaratan dan hanya dikaruniakan kepada pribadi-pribadi yang memang memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menerimanya. Yang dimaksud adalah manusia-manusia sempurna seperti para nabi, dimana nabi yang terbaik dan paling luhur adalah Hadhrat Muhammad Saw..
   Karena rahmat ini merupakan kebenaran yang haqiqi maka Allah Swt.. setelah mengemukakan tentang rahmat yang bersifat umum, lalu mengungkapkan tentang rahmat yang bersifat khusus dengan tujuan guna menegaskan Nur dari Nabi Suci Saw. dalam sebuah alegori (ibarat)  agar lebih mudah dicerna.
    Nur tersebut diuraikan sebagai:  Perumpamaan Nur-Nya adalah “seperti sebuah relung”  dimana yang dimaksud adalah relung dada Nabi Suci Saw.. Dalam relung ini ada sebuah pelita yang berarti wahyu Ilahi. Pelita itu ada dalam sebuah semprong kaca yang jernih seperti bintang gemerlapan, yang berarti hati Hadhrat Rasulullah Saw. yang suci dan bersih yang karena fitratnya bersih dari segala kekotoran dan kesuraman, seumpama cermin yang bening yang hanya berhubungan dengan Allah Swt.  saja.
    Cermin tersebut cemerlang seperti bintang gemerlapan yang bersinar di langit dengan segala keagungannya, yang berarti bahwa hati Hadhrat Rasulullah Saw. itu demikian jernih dan bening sehingga Nur internalnya mencuat ke permukaan luar dan mengalir seperti air.
    Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati yaitu pohon zaitun. Hal ini mengandung arti bahwa wujud Nabi Suci Saw. merupakan gabungan dari berbagai ragam rahmat dan berkat dimana semuanya tidak terkungkung pada suatu masa atau tempat atau pun jurusan, bahkan akan mengalir terus secara abadi dan tidak akan pernah dihentikan.
   Pohon yang diberkati tersebut bukan berasal dari timur atau pun barat, mengandung arti bahwa fitrat Hadhrat Rasulullah Saw. tidak ada kelebihan atau pun kekurangan, melainkan diciptakan dengan cetakan yang sempurna. Yang dimaksud dengan minyak dari pohon yang diberkati yang menyalakan pelita wahyu adalah daya penalaran yang cemerlang beserta sifat-sifat akhlak yang luhur dari Hadhrat Rasulullah Saw.,  dan akhlak beliau ini dihidupi oleh sumber mata air daya nalar beliau yang jernih.
   Yang dimaksud dengan pelita wahyu tersebut dinyalakan oleh akhlak luhur Hadhrat Rasulullah Saw.,  adalah rahmat wahyu turun atas akhlak beliau tersebut dan akhlak itu juga yang menjadi penyebab dari turunnya wahyu. Dalam hal ini juga terdapat indikasi bahwa rahmat berupa wahyu tersebut sejalan dengan fitrat   Hadhrat Rasulullah Saw.,  dengan pengertian bahwa wahyu turun sejalan dengan fitrat seorang nabi  yang kepadanya wahyu itu akan diturunkan.
    Sebagai contoh, temperamen dari  Nabi Musa a.s. menggambarkan keagungan dan kemurkaan, sehingga karenanya Kitab Taurat diwahyukan dalam kerangka sebagai kaidah-kaidah kemegahan kekuasaan. Adapun Nabi Isa a.s. memiliki temperamen yang rendah hati dan lemah lembut dan karenanya Kitab Injil mengajarkan kerendahan hati dan kelembutan.

Keseimbangan Sempurna Temperamen Nabi Besar Muhammad Saw.

   Adapun temperamen Nabi Suci Saw. adalah mantap dalam keadaan yang paling sulit sekali pun. Sifat beliau tidak selalu lemah-lembut dalam segala situasi, tidak juga murka setiap saat, melainkan merupakan perpaduan yang bijak yang muncul menurut tuntutan situasi pada setiap saat. Karena itulah maka Kitab Al-Quran diwahyukan dalam acuan yang tepat dan moderat yang menggabungkan ketegasan dengan kelembutan, keterpesonaan dengan kasih sayang, serta kekerasan dengan kelembutan.
    Dalam ayat tersebut Allah Swt. telah mengungkapkan bahwa pelita wahyu Al-Quran itu dinyalakan dari minyak sebuah pohon yang diberkati yang tidak berasal dari timur atau pun barat, melainkan sejalan dengan temperamen moderat dari Hadhrat Rasulullah Saw. dimana sifat beliau tidak segalak temperamen Nabi Musa a.s. dan tidak juga selembut temperamen Nabi Isa a.s., melainkan merupakan gabungan dari kekerasan dengan kelembutan, kemarahan dengan kasih sayang dimana semuanya merupakan temperamen yang moderat sebagai kombinasi dari keagungan dengan keindahan.
   Keluhuran akhlak Hadhrat Rasulullah Saw. diungkapkan dalam ayat lain dalam Kitab Al-Quran yaitu:
وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
 Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak luhur  (Al-Qalam [68]:5).
   Berarti Hadhrat Rasulullah Saw. diciptakan sedemikian sempurna dengan akhlak luhur yang tidak mungkin diungguli oleh orang lain. Kata ‘azhiim yang digunakan dalam ayat[1]  ini menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk.
    Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon itu ‘azhiim maka yang dimaksud adalah pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah pohon. Beberapa ahli leksikon menyatakan bahwa kata ‘azhiim menggambarkan kebesaran yang berada di luar nalar manusia.
    Adapun kata  khuluq  sebagaimana digunakan dalam Al-Quran atau pun kitab-kitab bijak lainnya, tidak saja berarti perilaku yang baik, kasih dan kelembutan semata.  Khalaq  dan  khuluq  adalah dua kata yang berbeda yang digunakan berkaitan satu dengan lain. Sifat  khalaq  adalah ciri-ciri yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk membedakannya dari hewan lainnya. Adapun  khuluq menyangkut sifat-sifat kebaikan internal yang secara nyata membedakan kemanusiaan dari realitas hewan.
       Jadi segala sifat batin yang membedakan manusia dari hewan terangkum di dalam kata  khuluq  tersebut. Sebagaimana kerangka fitrat manusia didasarkan pada sifat moderat dan bebas dari kelebihan atau kekurangan sebagaimana yang terdapat dalam fitrat hewan, maka kata  khuluq  jika tidak diikuti kualifikasi yang merendahkan, selalu berarti fitrat akhlak yang mulia sebagaimana difirmankan:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿۴﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan  (Al-Tīn [95]:5)
    Akhlak mulia tersebut merangkum semua sifat-sifat batin yang ada pada diri manusia seperti logika yang jernih, pemahaman yang baik, ingatan yang bagus, kesucian, kesopanan, keteguhan, kepuasan, kesalehan, tekad yang kuat, ketekunan, keadilan, kepercayaan, kedermawanan yang sesuai, pengorbanan pada saat yang benar, pengasih, penyayang, keberanian, kelembutan sewajarnya, kemarahan pada saat yang tepat, kehormatan, belas kasih, ketakutan pada saat yang benar, cinta yang sewajarnya, kecintaan kepada Allah dan menarik diri ke arah Tuhan serta lain-lainnya.
 Minyak itu hampir-hampir bercahaya walau api tidak menyentuhnya, mengandung arti bahwa penalaran dan akhlak mulia dari Hadhrat Rasulullah Saw. itu demikian sempurna, pantas, halus dan cemerlang sehingga semuanya itu siap menyala bahkan sebelum turunnya wahyu.
    Dengan pengertian Nur di atas nur yang dimaksud adalah banyak sekali nur yang terangkum dalam wujud Nabi Suci Saw. dan di atas nur itu telah turun Nur Samawi berupa wahyu Ilahi sehingga wujud  Hadhrat Rasulullah Saw. menjadi gabungan dari semua Nur.” (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 1, hlm. 191-195, London, 1984).

Makna Mi’raj Hadhrat Rasulullah Saw.

   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan ketinggian mikraj ruhani  Nabi Besar Muhammad saw., yang bahkan malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup untuk mendampingi beliau lagi ke  ketinggian  “langit Ke-Tuhan-an” yang Nabi Besar Muhammad saw. terus mengarunginya:
   “Kenaikan ruhani berupa mi’raj   Hadhrat Rasulullah Saw. merupakan tanda penarikan diri beliau sepenuhnya dari segala yang bersifat duniawi dan tujuannya adalah untuk memperlihatkan posisi maqam Samawi beliau.
    Setiap jiwa mempunyai suatu titik di langit yang tidak akan bisa dilampauinya lagi. Adapun titik terakhir bagi Nabi Suci Saw. adalah ‘Arasy Ilahi. Dengan demikian jelas bahwa Nabi Suci Saw. dimuliakan di atas semua manusia lainnya.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 136).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
   “Perjalanan mi’raj tidak dilakukan dengan tubuh jasmani melainkan merupakan kasyaf dalam bentuknya yang paling sempurna,  yang dialami dalam keadaan sadar penuh. Dalam kasyaf demikian, seseorang berdasarkan kemampuan ruhnya bisa berkelana melalui langit dengan tubuh dari Nur. Mengingat ruh Nabi Suci Saw. memiliki kapasitas yang tertinggi maka dalam perjalanan mi’raj   beliau mencapai titik tertinggi di alam yang disebut sebagai ‘Arasy yang akbar. Perjalanan tersebut merupakan kasyaf dalam keadaan sadar penuh.
   Aku tidak menyebutnya sebagai mimpi, bukan juga sebagai kasyaf yang mutunya lebih rendah. Semuanya itu merupakan kasyaf pada tingkatnya yang paling luhur yang lebih jernih dan cemerlang dibanding dengan keadaan sadar terjaga. Aku sendiri telah mengalami kasyaf demikian.” (Izala Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 126, London, 1984).

Pengertian Khātaman Nabiyyīn

    “Insan kamil  yang kepadanya Kitab Al-Quran diwahyukan tidak terbatas kemampuan kasyafnya, dan tidak juga mempunyai kekurangan dalam belas-kasihnya. Baik dari sudut pandang saatnya mau pun tempat, jiwa beliau selalu penuh dengan belas-kasih. Karena itulah beliau dikaruniai dengan manifestasi alamiah dan beliau dijadikan sebagai Khātamal Anbiya.
   Pengertian Khātamal Anbiya bukannya berarti bahwa tidak ada lagi yang menerima rahmat  keruhanian dari beliau, melainkan penegasan bahwa beliau memiliki meterai kenabian dimana tanpa kesaksian dari meterai tersebut tidak akan ada rahmat yang bisa mencapai seseorang. Pengertian  Khātamal Anbiya  juga mensiratkan bahwa pintu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan tidak akan pernah ditutup.
   Di samping beliau  tidak ada lagi nabi lain yang memiliki meterai kenabian demikian. Melalui kesaksian dari meterai tersebut itulah maka kenabian bisa dikaruniakan kepada manusia,  dengan syarat bahwa yang bersangkutan adalah pengikut taat dari Hadhrat Rasulullah Saw..
  Kadar keberanian dan rasa belas kasih beliau yang luhur tidak ingin meninggalkan umatnya dalam kondisi berkekurangan, dan tidak bisa menerima  bahwa pintu wahyu -- yang menjadi akar dari semua pemahaman --  telah tertutup.
   Namun untuk memastikan bahwa tanda kenabian [syariat] walau telah ditutup, beliau menginginkan bahwa rahmat wahyu tetap bisa diberikan melalui kepatuhan kepada beliau,  dan bahwa pintu ini tertutup sudah bagi yang bukan menjadi pengikut beliau.
    Allah Swt.. menunjuk beliau sebagai  Khātamal Anbiya dalam pengertian seperti ini. Dengan demikian telah ditetapkan bahwa sampai dengan Hari Penghisaban nanti barangsiapa yang terbukti tidak menjadi pengikut beliau yang setia dan tidak mengabdikan keseluruhan dirinya pada ketaatan kepada beliau maka ia tidak akan pernah bisa menjadi penerima wahyu yang sempurna.
      Kenabian yang bersifat langsung (mustaqil) telah berakhir dalam wujud Nabi Suci Saw.,  namun kenabian yang merupakan refleksi atau pantulan dari rahmat Muhammad akan terus berlanjut sampai dengan Hari Penghisaban. Dengan demikian pintu untuk penyempurnaan umat manusia tidak akan pernah ditutup,  dan tanda ini tidak akan pupus dari muka bumi karena maksud luhur dari Nabi Suci saw. menginginkan bahwa pintu untuk berhubungan dan bercakap-cakap dengan Tuhan harus tetap terbuka sampai dengan Hari Penghisaban, serta pemahaman Ilahiah yang menjadi dasar dari keselamatan ruhani tidak akan pernah sirna.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 29-30, London, 1984).
    Mengenai keluhuran  sempurna martabat akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Aku bersaksi dengan penuh keyakinan   bahwa keluhuran kenabian telah mencapai puncaknya dalam diri Nabi Suci Saw.. Seseorang yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan beliau dan mengemukakan kebenaran yang berada di luar kenabian beliau serta mengingkari kenabian tersebut adalah seorang yang palsu dan pendusta.
    Aku katakan secara tegas bahwa siapa pun yang beriman kepada seorang nabi setelah Nabi Suci Saw. dan memecahkan meterai Kenabian beliau adalah orang yang terkutuk. Tidak ada nabi baru yang bisa muncul setelah Nabi Suci Saw. yang tidak mendapat pengesahan dari meterai Kenabian Muhammadi.
  Umat Muslim yang menentang kita keliru,  karena mereka meyakini akan kedatangan seorang nabi Israili yang akan memecah meterai kenabian. Aku memaklumkan bahwa menjadi manifestasi (perwujudan) kekuatan keruhanian Nabi Suci Saw. dan kenabian beliau yang bersifat abadi,  yaitu setelah 1300 tahun setelah beliau akan muncul Al-Masih yang Dijanjikan (Al-Masih Mau’ud) sebagai anak didik beliau dengan mengemban meterai kenabian yang sama.
    Kalau pandangan ini dianggap kafir maka biarlah aku menjadi kafir. Mereka yang penalarannya telah digelapkan dan tidak memperoleh karunia nur kenabian tidak akan pernah bisa memahami hal ini serta menganggapnya sebagai kafir, padahal justru ini merupakan hal yang membuktikan kesempurnaan Nabi Suci Saw. dan kehidupan beliau yang kekal.” (Al-Hakam, 10 Juni 1905, hlm. 2).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2 Desember  2015








[1] S.68 Al-Qalam:5 itu berbunyi “Wa innaka la ‘alaa khuluqin azhiim ” (Penterjemah/Khalid A.Q)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar