بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah
kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Makna Nama “Muhammad” dan “Ahmad” Rasulullah Saw. Dalam Hubungannya Dengan “Masa Mekkah” dan “Masa Madinah” & Makna Kata “Dhāllan”
Bab 30
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda Masih Mau’ud a.s. sehubungan
dengan firman Allah Swt.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا
ۙ﴿﴾ وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau
di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ
نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ
صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan
Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas
engkau,dan memberi petunjuk kepada
engkau pada jalan yang lurus, وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا
-- Dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa (Al-Fath [48]:1-4).
Jadi ayat yang sedang dibahas ini: لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- “Supaya Allah melindungi
engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau
di masa lalu dan di masa yang akan datang” akan berarti,
sebagai akibat kemenangan besar — berupa
Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua
tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan
yang dilemparkan musuh-musuh kepada Nabi Besar Muhammad saw. --bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia
serta fitnah-fitnah
keji lainnya, akan terbukti palsu
semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
Atau, arti ayat لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ
-- “supaya Allah melindungi
engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau
di masa lalu dan di masa yang akan datang” ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan
diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab
menerima agama Islam lalu dosa mereka diampuni oleh Nabi Besar Muhammad saw. sesuai permintaan mereka sendiri, seperti Nabi Yusuf a.s. mengampuni
kesalahan saudara-saudaranya (QS.12:92-93).
Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini,
sebab anugerah kemenangan yang nyata
dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi
Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya
tidak mempunyai perhubungan apa pun
dengan pengampunan terhadap dosa-dosa
jika dzanb dianggap berarti dosa.
Masih Mau’ud a.s. Menangkal Fitnah
Terhadap Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir
Zaman
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya baik tuduhan-tuduhan
yang dilemparkan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan
yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – termasuk di Akhir Zaman ini -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti
sama sekali suci dari noda itu.
Di Akhir
Zaman ini, tuduhan-tuduhan keji
yang dilontarkan oleh para penentang
Nabi Besar Muhammad saw. dan ajaran Islam (Al-Quran) yang sempurna telah dijawab secara telak oleh pecinta sejati beliau saw., yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
dalam upaya mewujudkan kejayaan Islam
kedua kali di Akhir Zaman dengan
cara-cara damai dan terhormat (QS.61:10) serta menjadi “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [2]:3-5).
Ada pun yang dimaksud ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya
pada kaum lain dari antara mereka,
yang belum bertemu dengan mereka”
mengisyaratkan kepada pengutusan Al-Masih
Mau’ud a.s. dan jama’ah beliau yakni
Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang
merupakan penggenapan penyebutan nama
lain Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Ahmad,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ
رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: “”Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah
kepada kamu menggenapi apa yang ada
sebe-lumku yaitu Taurat, dan memberi
kabar gembira mengenai seorang rasul
yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”
Maka tatkala ia datang kepada
mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir
yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
Keagungan
dan Kerendahan Hati Nabi Besar Muhammad saw.
Sehubungan
dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. dalam buku lainnya menjelaskan:
“Kedua
nama Nabi Suci Saw. yang berberkat
yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad
mengandung arti yang amat dipuji dan
menggambarkan keagungan dan kebesaran serta mensiratkan seseorang yang dicintai, karena hanya
yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad mensiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari
seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya.
Jika Muhammad menggambarkan keagungan
dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati. Kehidupan beliau
sebagai seorang nabi terbagi dalam
dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekkah untuk jangka waktu 13 tahun dan
sebagian lainnya di Madinah yang memakan waktu 10 tahun. Kehidupan beliau di Mekkah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu
tersebut banyak dihabiskan dalam meratap
dan memohon pertolongan di dalam doa.
Barangsiapa yang memahami
periode kehidupan Mekkah dari beliau
tentunya mengetahui betapa ratapan
dan permohonan doa yang dilakukan
beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi melainkan
karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu.
Zaman itu penyembahan Allah Swt.. telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan
dan kesukaan. Dengan sendirinya
beliau ingin menyampaikan kegembiraan
dan kasih ini kepada dunia, namun
ketika beliau menyadari kondisi dunia
serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini
diindikasikan dalam ayat:
لَعَلَّکَ
بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Boleh jadi
engkau akan membinasakan diri engkau
sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman’ (Al-Syu’ara [26]:4).
Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi
manifestasi (perwujudan) dari nama
beliau sebagai Ahmad. Setelah itu
beliau mengkonsentrasikan diri
secara agung dan konsentrasi ini
menunjukkan efeknya pada kehidupan
beliau di Madinah ketika signifikasi
nama Muhammad diungkapkan
sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ کُلُّ
جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ ﴿ۙ﴾
Mereka itu
berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela
lagi keras kepala itu (Ibrahim [14]:16). (Malfuzat, jld. II, hlm. 178-179).
Makna Kata Dhāllan Berkenaan
Nabi Besar Muhammad Saw.
Kemudian
sehubungan dengan “pujian khusus”
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Mereka
yang terbiasa dengan cara pengungkapan dalam Al-Quran umumnya mengetahui bahwa kadang-kadang [Allah] Yang Maha Agung dan Maha Pemurah
menggunakan ekspresi (ungkapan) yang
kelihatannya seperti merendahkan hamba-Nya yang khusus, padahal konteksnya
menggambarkan pujian yang tinggi. Sebagaimana difirmankan Allah
Swt.. mengenai Hadhrat Rasulullah Saw.
bahwa:
وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾
‘Dia dapati engkau dalam keadaan hilang dan Dia memberi engkau petunjuk’ (Al-Dhuhā [93]:8).
Arti kata Dhall pada dasarnya berarti
seseorang yang salah jalan atau tersesat sehingga arti harfiah dari
ayat tersebut adalah ‘Tuhan mendapati engkau dalam keadaan tidak tahu jalan lalu Dia
menunjuki, padahal nyatanya
Hadhrat Rasulullah Saw. tidak pernah
salah jalan atau tersesat.
Seorang Muslim
yang mempercayai bahwa kapan pun
dalam hidup Hadhrat Rasulullah Saw. beliau
itu pernah tersesat adalah seorang kafir yang tidak beriman dan patut dihukum.
Konteks daripada ayat itu bermaksud:
اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا
فَاٰوٰی ۪﴿﴾ وَ وَجَدَکَ
ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾ وَ وَجَدَکَ
عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿﴾
Tidakkah Dia
mendapati engkau yatim lalu Dia memelihara engkau, dan Dia mendapati engkau sirna dalam kecintaan kepada Wujud-Nya dan Dia menarik
engkau kepada-Nya, dan Dia mendapati diri engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya
engkau”
(Al-Dhuhā
[93]:7-9).” (Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 170-171,
London, 1984).
Nabi Besar Muhammad Saw. Menyempurnakan Akhlak
Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. selama hidupnya tidak pernah “tersesat
jalan” lebih lanjut dijelaskan oleh
Masih Mau’ud a.s.:
“Nabi
Musa a.s. amat sabar dan lembut hati kepada Bani Israil dibanding nabi-nabi mereka lainnya. Tidak juga Isa a.s.
atau nabi lain bangsa Israil yang bisa mencapai kedudukan tinggi dari Nabi Musa a.s.. Kitab Taurat mengungkapkan bahwa Nabi Musa a.s. lebih baik dan lebih agung
dari semua nabi bangsa Israil dalam
hal kebaikan hati, kelembutan dan nilai-nilai akhlak yang tinggi. Sebagai
contoh, Taurat menyatakan: ‘Musa ialah seorang yang sangat lembut
hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi’ (Bilangan 12:3).
Allah Swt. dalam Taurat
memuji kelembutan hati Nabi Musa
a.s. dengan kata-kata yang tidak pernah digunakan-Nya terhadap nabi-nabi Israil lainnya. Namun harus
diakui bahwa nilai-nilai akhlak yang
agung dari Nabi Suci Saw. sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah 1000
kali lebih tinggi daripada Nabi Musa a.s.. Allah Swt. mengenai diri Nabi Suci Saw. menyatakan bahwa
dalam diri beliau terkumpul semua akhlak mulia yang tersebar di antara
para nabi dan menyatakan mengenai beliau:
وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung (Al-Qalam [68]:5).
Kata ‘azhīm yang digunakan dalam ayat ini
menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk. Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon itu ‘azhīm maka yang dimaksud adalah
pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah
pohon. Berarti semua akhlak mulia
dan fitrat baik yang mungkin
dimiliki seorang manusia semuanya ada pada wujud Hadhrat Rasulullah Saw..
Dengan demikian hal ini merupakan pujian
yang tertinggi. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat lain:
وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
Dan karunia Allah atas engkau sangat
besar (Al-Nisā
[4]:114)
yang berarti bahwa Tuhan telah menganugrahkan rahmat-Nya atas diri beliau dalam takaran yang tertinggi
dan tidak ada nabi lain yang bisa sepadan
derajatnya dengan beliau.
Pujian ini juga dikemukakan dalam Mazmur dalam Kitab
Perjanjian Lama yang merupakan nubuatan
berkaitan dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. yang berbunyi:
Sebab itu Allah, Allahmu telah
mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman
sekutumu’ (Mazmur 45:7).
(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 605-606,
London, 1984).
Kelebihan Nabi Besar Muhammad
Saw. di atas Nabi-nabi lain
“Kitab
Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa semua nabi-nabi adalah pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. sebagaimana difirmankan:
.... ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi wahyu yang ada padamu maka haruslah kamu beriman kepadanya dan haruslah kamu membantunya (Ali Imran [3]:82).
Dari ayat itu bisa
disimpulkan bahwa semua nabi-nabi menjadi pengikut dari Nabi Suci Saw. (Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 300,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 4 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar