Rabu, 09 Desember 2015

Makna Nama "Muhammad" dan "Ahmad" Rasulullah Saw. Dalam Hubungannya Dengan "Masa Mekkah" dan "Masa Madinah" & Makna Kata "Dhaallan"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Makna Nama “Muhammad” dan “Ahmad” Rasulullah Saw. Dalam Hubungannya Dengan “Masa Mekkah” dan “Masa Madinah  & Makna Kata  “Dhāllan


Bab 30


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  sehubungan dengan    firman Allah Swt.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا  --   dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  Dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa (Al-Fath [48]:1-4).
   Jadi ayat yang sedang dibahas ini:  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- “Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang” akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — berupa Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh     kepada Nabi Besar Muhammad saw. --bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt.  dan manusia serta   fitnah-fitnah keji lainnya, akan terbukti palsu semua,  sebab segala macam orang  yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
    Atau, arti ayat لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- “supaya Allah melindungi engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang”  ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam lalu dosa mereka diampuni oleh Nabi Besar Muhammad saw. sesuai permintaan mereka sendiri, seperti Nabi Yusuf a.s. mengampuni kesalahan saudara-saudaranya (QS.12:92-93).
  Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa  jika dzanb dianggap berarti dosa.

Masih Mau’ud a.s. Menangkal Fitnah Terhadap Nabi Besar Muhammad saw.  di Akhir Zaman

  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya  baik tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – termasuk di Akhir Zaman ini   -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
  Di Akhir Zaman ini, tuduhan-tuduhan keji yang dilontarkan oleh para penentang Nabi Besar Muhammad saw. dan ajaran  Islam (Al-Quran) yang sempurna telah dijawab secara telak oleh pecinta sejati beliau saw.,  yaitu Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam upaya mewujudkan kejayaan Islam kedua kali di Akhir Zaman dengan cara-cara damai dan terhormat (QS.61:10)  serta menjadi “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), firman-Nya:
 ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾  
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [2]:3-5).
   Ada pun yang dimaksud ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka   mengisyaratkan kepada pengutusan  Al-Masih Mau’ud a.s. dan jama’ah beliau yakni Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang merupakan penggenapan penyebutan nama lain  Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Ahmad, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: “”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebe-lumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
 Keagungan dan Kerendahan Hati  Nabi Besar Muhammad saw.

     Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s.   dalam buku lainnya menjelaskan:
      “Kedua nama Nabi Suci Saw. yang berberkat yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad mengandung arti yang amat dipuji dan menggambarkan keagungan dan kebesaran serta mensiratkan seseorang yang dicintai, karena hanya yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad mensiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya.
    Jika Muhammad menggambarkan keagungan dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati. Kehidupan beliau sebagai seorang nabi terbagi dalam dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekkah untuk jangka waktu 13 tahun dan sebagian lainnya di Madinah yang memakan waktu 10  tahun. Kehidupan beliau di Mekkah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu tersebut banyak dihabiskan dalam meratap dan memohon pertolongan di dalam doa.
    Barangsiapa yang memahami periode kehidupan Mekkah dari beliau tentunya mengetahui betapa ratapan dan permohonan doa yang dilakukan beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi melainkan  karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu.
  Zaman itu penyembahan Allah Swt.. telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan dan kesukaan. Dengan sendirinya beliau ingin menyampaikan kegembiraan dan kasih ini kepada dunia, namun ketika beliau menyadari kondisi  dunia serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Boleh jadi engkau akan membinasakan diri engkau sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman (Al-Syu’ara [26]:4).
   Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi manifestasi (perwujudan) dari nama beliau sebagai Ahmad. Setelah itu beliau mengkonsentrasikan diri secara agung dan konsentrasi ini menunjukkan efeknya pada kehidupan beliau di Madinah ketika signifikasi nama Muhammad diungkapkan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ  کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ ﴿ۙ﴾
Mereka itu berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela lagi keras kepala itu  (Ibrahim [14]:16). (Malfuzat, jld. II, hlm. 178-179).

Makna Kata Dhāllan Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.

   Kemudian sehubungan dengan “pujian khusus” Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
    “Mereka yang terbiasa dengan cara pengungkapan dalam Al-Quran umumnya mengetahui  bahwa kadang-kadang [Allah]  Yang Maha Agung dan Maha Pemurah menggunakan ekspresi (ungkapan) yang kelihatannya seperti merendahkan hamba-Nya yang khusus,  padahal konteksnya menggambarkan pujian yang tinggi. Sebagaimana difirmankan Allah Swt.. mengenai Hadhrat Rasulullah Saw. bahwa:
وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾
Dia dapati engkau dalam keadaan hilang dan Dia memberi engkau petunjuk (Al-Dhuhā [93]:8).
    Arti kata  Dhall  pada dasarnya berarti seseorang yang salah jalan atau tersesat sehingga arti harfiah dari ayat tersebut adalah ‘Tuhan mendapati engkau dalam keadaan tidak tahu jalan lalu Dia menunjuki, padahal nyatanya Hadhrat Rasulullah Saw. tidak pernah salah jalan atau tersesat.
    Seorang Muslim yang mempercayai bahwa kapan pun dalam hidup Hadhrat Rasulullah Saw. beliau itu pernah tersesat adalah seorang kafir yang tidak beriman dan patut dihukum. Konteks daripada ayat itu bermaksud:
اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿﴾  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿﴾  وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿﴾
Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia memelihara engkau, dan Dia mendapati engkau sirna dalam kecintaan kepada Wujud-Nya dan Dia menarik engkau kepada-Nya, dan Dia mendapati diri engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau” (Al-Dhuhā [93]:7-9).” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 170-171, London, 1984).

Nabi Besar Muhammad Saw.   Menyempurnakan Akhlak

     Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. selama hidupnya tidak pernah “tersesat jalan” lebih lanjut dijelaskan  oleh Masih Mau’ud a.s.:
    “Nabi Musa a.s. amat sabar dan lembut hati kepada Bani Israil dibanding nabi-nabi mereka lainnya. Tidak juga Isa a.s. atau nabi lain bangsa Israil yang bisa mencapai kedudukan tinggi dari Nabi Musa a.s.. Kitab Taurat mengungkapkan bahwa Nabi Musa a.s. lebih baik dan lebih agung dari semua nabi bangsa Israil dalam hal kebaikan hati, kelembutan dan nilai-nilai akhlak yang tinggi. Sebagai contoh, Taurat menyatakan: ‘Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi’ (Bilangan 12:3).
    Allah Swt.  dalam Taurat memuji kelembutan hati Nabi Musa a.s. dengan kata-kata yang tidak pernah digunakan-Nya terhadap nabi-nabi Israil lainnya. Namun harus diakui bahwa nilai-nilai akhlak yang agung dari Nabi Suci Saw. sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah 1000  kali lebih tinggi daripada Nabi Musa a.s.. Allah Swt.  mengenai diri Nabi Suci Saw. menyatakan bahwa dalam diri beliau terkumpul semua akhlak mulia yang tersebar di antara para nabi dan menyatakan mengenai beliau:
وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
 Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung  (Al-Qalam [68]:5).
      Kata azhīm  yang digunakan dalam ayat ini menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk. Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon ituazhīm  maka yang dimaksud adalah pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah pohon. Berarti semua akhlak mulia dan fitrat baik yang mungkin dimiliki seorang manusia  semuanya ada pada wujud Hadhrat Rasulullah Saw.. Dengan demikian hal ini merupakan pujian yang tertinggi. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat lain:
وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
 Dan karunia Allah atas engkau sangat besar  (Al-Nisā [4]:114)
yang berarti bahwa Tuhan telah menganugrahkan rahmat-Nya atas diri beliau dalam takaran yang tertinggi dan tidak ada nabi lain yang bisa sepadan derajatnya dengan beliau.
   Pujian ini juga dikemukakan dalam Mazmur dalam Kitab Perjanjian Lama yang merupakan nubuatan berkaitan dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. yang berbunyi:
Sebab itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu’ (Mazmur 45:7).
(Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 605-606, London, 1984).

Kelebihan  Nabi Besar Muhammad Saw.   di atas Nabi-nabi lain

   “Kitab Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa semua nabi-nabi adalah pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. sebagaimana difirmankan:
.... ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi wahyu yang ada padamu maka haruslah kamu beriman kepadanya dan haruslah kamu membantunya  (Ali Imran [3]:82).
     Dari ayat itu bisa disimpulkan bahwa semua nabi-nabi menjadi pengikut dari Nabi Suci Saw. (Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 300, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 Desember  2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar