بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Maqam
(Derajat) Penciptaan Terendah dan Maqam
Tertinggi yakni Maqam Nabi Besar
Muhammad Saw. & Tiga Bentuk (Gambaran) Kedekatan
Manusia dengan Allah Swt.
Bab 27
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih
Mau’ud a.s. mengenai pentingnya keberadaan sosok pemberi
syafaat (QS.4:85) dan gambaran kedekatan
hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah
Swt. bagaikan seutas tali dari dua
busur yang disatukan
(QS.53:9-10). Mengenai pemberi syafaat dan syafaat yang direkomendasikannya Allah
Swt. berfirman:
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ
نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ
مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi
syafaat yang baik, bagi dia pasti ada bagian yang ditentukan darinya, dan
barang-siapa memberi syafaat yang buruk bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya, dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu. (An-Nisa [4]:86).
Pemberian
Syafaat dan Akibatnya
Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (mengusulkan kepada atasan untuk kepentingan orang
bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab orang yang memberi
syafaat bagi orang lain bertanggung
jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya benar dan adil, niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang selayaknya; sebaliknya
akan diminta pertanggungjawaban atas
segala akibat-akibatnya yang buruk jika memberikan syafaat yang buruk.
Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan
dengan “syafaat baik” kata yang
dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan),
sedangkan sehubungan dengan “syafaat
jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama).
Hal
ini menjelaskan bahwa kalau hukuman
untuk syafaat jahat hanya akan
diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan
demikian, melainkan akan sebanyak
yang ditetapkan Allah Swt. yakni sepuluh
kali lipat besarnya. Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya,
seorang perantara (pemberi syafaat)
haruslah memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan-nya
-- seolah-olah Tuhan telah turun ke dalam
batinnya -- dimana sifat kemanusiaannya lalu pupus karena ia telah menjadi manifestasi Ilahi, dan kalbunya
telah mencair dan mengalir seperti air ke arah Tuhan-nya, sehingga ia mencapai titik terdekat dengan Wujud-Nya.
Kiranya juga perlu bagi seorang perantara
(pemberi syafaat) bahwa hatinya dipenuhi dengan kecintaan terhadap orang
yang akan diberinya syafaat, dimana intensitas (kesungguhan) perasaannya
seolah-olah menjadikan ia merasa anggota-anggota tubuhnya terlepas dari dirinya dan perasaannya menjadi bertemperasan.
Perasaan kasihnya akan
membawanya kepada suatu tingkatan yang lebih tinggi daripada kasih seorang bapak atau ibu. Jika kedua keadaan ini terwujud dalam diri seseorang
maka ia pada satu sisi akan bersatu
dengan maqam samawi dan pada sisi lain dengan maqam duniawi. Pada saat itulah kedua sisi dari neraca akan menjadi seimbang,
dengan pengertian bahwa akan ada manifestasi sempurna dari
Samawi dan juga manifestasi sempurna dari duniawi dimana ia akan melayang di tengah di antara keduanya.
Menunjuk kepada maqam
(martabat) perantaraan ini Al-Quran meneguhkan kesempurnaan
manusiawi Hadhrat Rasulullah saw.:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
“Kemudian ia mendekati
Allah, lalu turun mendekati umat manusia, maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih
dekat lagi” (Al-Najm [53]:9-10).
Ayat ini mengandung arti bahwa
Hadhrat Rasulullah saw. telah naik
ke atas mendekati Allah Swt.. sedemikian dekatnya sehingga memperoleh kesempurnaan karena kedekatan tersebut
dan mencapai maqam Samawi sepenuhnya, sedangkan di sisi lain
beliau telah mencapai titik terjauh
dari pengkhidmatan dan ibadah yang menyerap sepenuhnya esensi murni kemanusiaan yaitu kasih dan sayang kepada umat manusia yang menjadi kesempurnaan maqam
duniawinya.
Ketika beliau mendekat sepenuhnya kepada Allah Swt. dan kemudian mendekat secara sempurna kepada umat manusia maka jadilah beliau itu sebagai seutas
tali busur yang menghubungkan kedua ujung busur
panah, dan dengan cara demikian beliau telah memenuhi persyaratan sebagai perantara atau pemberi
syafaat. Dalam firman-Nya Tuhan telah bersaksi bahwa beliau itu mempunyai maqam di antara Tuhan
dan manusia laiknya seutas tali yang menghubungkan kedua ujung busur.
Ke-Muslim-an (Penyerahan Diri) yang Sempurna
Di tempat lain untuk menggambarkan kedekatan beliau kepada Allah Swt.. dikatakan:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ
Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan pengorbananku
dan kehidupanku serta kematianku adalah semata-mata untuk
Allah, Tuhan semesta alam”’ (Al-An’aam
6]:163).
Dengan kata lain, diperintahkan kepada Hadhrat Rasulullah saw. untuk memberitahukan kepada umat manusia
bahwa beliau telah fana
(hilang-sirna) dari dunia dan semua ibadah beliau
semata-mata hanya bagi Allah Swt...
Ayat ini mengindikasikan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. menjadi demikian khidmat dan fana di
dalam Tuhan sehingga tiap nafas kehidupan beliau dan bahkan kematiannya adalah semata-mata bagi Allah Swt., dimana egonya
sendiri, makhluk dan sarana apa pun tidak mempunyai peran
dalam wujud beliau, dan bahwa jiwa beliau sepenuhnya sujud di hadirat Ilahi dimana tidak ada apa pun yang menyertainya.
Mengingat bahwa kasih Allah Swt. dan
pencapaian maqam yang tinggi
berupa kedekatan kepada-Nya
merupakan hal yang tidak mudah dicerna manusia biasa, maka Allah Yang Maha Agung telah memperlihatkan melalui perilaku dari Hadhrat Rasulullah saw.
bagaimana beliau itu telah memilih Allah
Swt. semata
dibanding segala hal, dimana setiap partikel dari diri beliau penuh dengan kecintaan dan keagungan
Allah Swt., sehingga wujud beliau menjadi cerminan dari manifestasi
Ilahi. Pengaruh dari kecintaan
yang sempurna kepada Allah Swt. semuanya dicitrakan dalam wujud Hadhrat Rasulullah Saw..” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 182-184).
Nabi Besar Muhammad Saw. Merupakan
Refleksi Ke-Tuhan-an yang Paling
Sempurna
Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai system penciptaan yang dimulai dari “titik
terendah” menuju “titik tertinggi”
dan tersempurna, termasuk dalam system
keruhanian, beliau bersabda:
“Allah Swt. tidak akan
menciptakan tuhan lain mirip Wujud-Nya karena Sifat Ke-Esa-an dan Sifat tidak ada yang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal
demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh
dari Sifat Tanpa Tandingan itu
dengan menciptakan salah seorang
mahluk-Nya sebagai refleksi dari Sifat-sifat-Nya yang dalam realitas
hanya menjadi milik-Nya semata. Ada
sebuah indikasi mengenai hal ini di Al-Quran dalam ayat:
تِلۡکَ الرُّسُلُ فَضَّلۡنَا
بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ
بَعۡضَہُمۡ دَرَجٰتٍ
Inilah
Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain, di antara
mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengan mereka dan setengahnya Dia hanya
tinggikan derajatnya .....(Al-Baqarah [2]: 254).
Disini yang dimaksud dengan yang dilebihkan
derajatnya adalah Hadhrat Rasulullah
Saw. yang kepadanya telah dikaruniakan derajat
tertinggi yang merupakan refleksi (pantulan) dari Sifat-sifat Ilahi dan beliau menjadi cermin yang memantulkan
Allah Swt.. Dengan cara demikian telah dimanifestasikan (diwujudkan) secara
sempurna kekhalifahan Ilahi
yang tidak saja telah diciptakan umat manusia tetapi juga keseluruhan alam.
Hal ini merupakan masalah yang
pelik dan para lawan kita yang tidak
memahami masalah ini serta tidak mengenal rahasia-rahasia Tuhan, biasanya lalu bertanya-tanya bagaimana
mungkin dari sekian juta manusia
hanya satu orang saja yang dapat
mencapai derajat khalifah Ilahi yang
paling sempurna yang merupakan refleksi (pantulan) dari Ketuhanan itu sendiri.
Bukanlah disini tempatnya untuk membahas secara rinci masalah ini, namun
perlu dijelaskan agar menjadi terang bagi para pencari kebenaran, bahwa semua itu merupakan kaidah (peraturan) Ilahi
yang sejalan dengan Sifat Ketauhidan-Nya
karena Sifat Tunggal-Nya dalam penciptaan maka Dia juga memperhatikan ketunggalan.
Jika kita renungi secara mendalam
apa yang telah diciptakan-Nya, kita
akan melihat bahwa keseluruhan ciptaan
itu teratur sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah garis lurus dimana ujung
yang satu mencuat naik ke atas sedangkan ujung lainnya terbenam
ke bawah. Pada ujung tertinggi adalah seorang
manusia yang dalam kapasitas
kemanusiaannya berada di atas
seluruh umat manusia, sedangkan pada
ujung yang paling rendah adalah jiwa-jiwa yang memiliki kapasitas yang demikian defektif (lemah) sehingga mendekati derajat hewan yang tidak berperasaan.
“Titik
Terendah” dan “Titik Tertinggi”
Sistem Penciptaan Jasmani dan Ruhani
Kalau kita meninjau alam material
(jasmani)secara keseluruhan, kita akan melihat juga fenomena ini. Allah Swt. telah menyempurnakan ciptaan-Nya dengan
memulai dari dzarah (partikel) paling
kecil sampai kepada benda langit
yang terbesar yaitu matahari. Dalam sistem material (jasmani) ini tidak diragukan bahwa
Allah Swt. telah menciptakan matahari sebagai suatu benda yang akbar, berberkat dan bermanfaat dimana tidak ada benda lain yang menyamainya di tingkat paling tinggi.
Dengan memperhatikan derajat
yang tertinggi dan terendah dari system demikian yang secara kasat
mata bisa diperhatikan, kita bisa memahami bahwa sistem keruhanian pun yang berasal dari Wujud-Nya, ternyata disusun dalam cara yang sama. Sistem
keruhanian ini pun memiliki titik
tertinggi dan terendahnya,
dengan demikian kinerja Allah Swt. selalu sama
dan seimbang.
Dia itu Maha Tunggal dan
dalam manifestasi kinerja-Nya, Dia
pun menyukai ketunggalan. Tidak ada
tempat bagi kerancuan dan perpecahan. Betapa indah dan pantasnya Dia
dalam metoda-Nya sehingga semua hasil kinerja-Nya mengikuti suatu sistem
yang baku dan dipadankan satu dengan yang lain.
Dengan menemukan bukti di segenap penjuru dan setelah kami telaah sendiri, kami
mengakui kaidah-Nya bahwa semua hasil kinerja-Nya -- baik secara keruhanian maupun material -- tidak baur dan rancu, melainkan mengikuti suatu sistem yang bijak dan
merupakan bagian dari suatu pengaturan
yang dimulai dari titik terendah
bergerak ke arah yang tertinggi,
dimana metoda seragam ini disukai oleh Wujud-Nya.
Dengan mengakui hal ini maka kami harus
mengakui bahwa sebagaimana dalam sistem
material yang dimulai dari sebutir
dzarah atau partikel, Tuhan
telah membawa ciptaan-Nya sampai
kepada bentuk yang akbar yaitu matahari yang mengandung kesempurnaan yang kasat mata, begitu
juga kiranya dalam hal yang berkaitan dengan matahari keruhanian yang terletak di titik tertinggi dari garis
lurus keruhanian.
Sekarang untuk meneliti siapakah manusia sempurna yang diandaikan
sebagai matahari keruhanian
tersebut, bukanlah suatu hal yang bisa dipecahkan semata-mata hanya berdasar logika saja. Dengan mengecualikan Allah Swt. Yang memiliki kelebihan kemampuan dalam menyeimbangkan dan mengatur
bermilyar-milyar makhluk-Nya, serta membanding-bandingkan kemampuan spiritual dan sifatnya masing-masing, untuk
menetapkan siapa yang paling akbar dari antara sekalian makhluk tersebut, bagi manusia mustahil melakukannya berdasar penalaran belaka.
Tiga Bentuk Kedekatan Manusia dengan
Allah Swt. Pertama: Kecintaannya Kepada Allah Swt.
Melebihi Kepada Selain-Nya
Untuk penelitian seperti itu, sarana yang paling tepat adalah Kitab-kitab yang diwahyukan dimana Allah Swt. beribu-ribu tahun sebelumnya telah menetapkan spesifikasi (rincian) dari manusia sempurna tersebut. Seseorang yang hatinya dibimbing Allah
Swt. dan yang meyakini wahyu serta merenungi nubuatan
yang terdapat dalam Kitab Injil,
tentunya akan mengakui bahwa yang dimaksud sebagai manusia sempurna yang menjadi matahari
keruhanian, yang memenuhi persyaratan
paling utama dan menjadi batu bata
terakhir pada dinding kenabian
adalah Hadhrat Muhammad Saw..
Keluhuran derajat dari personifikasi kebaikan yang berada di titik tertinggi dari garis
keruhanian yaitu Hadhrat Muhammad
Saw. ditetapkan melalui takdir Ilahi
dan hal ini diperlihatkan secara nyata dalam manifestasinya. Sebagaimana yang dikemukakan Tuhan menyangkut derajat tinggi dari Nabi akbar ini bahwa:
تِلۡکَ الرُّسُلُ
فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ
Inilah
Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang
lain (Al-Baqarah [2]: 254).
Melalui pujian demikian dimaksudkan bahwa titik tertinggi dari garis
keruhanian dikaruniakan kepada Nabi
Suci Muhammad Saw., baik secara terbuka
mau pun tersembunyi. Wujud lemah lembut yang menjadi personifikasi dari sifat kebaikan ini adalah lebih
luhur dan lebih sempurna
dibanding ketiga jenis orang-orang
yang menjadi kekasih Allah Swt. dan disebut sebagai manifestasi sempurna dari Sifat
Ketuhanan.
Tiga bentuk kedekatan Ilahi digambarkan
melalui tiga kemiripan yang jika
kita telaah akan menjelaskan realitas tiga
derajat kedekatan tersebut. Bentuk pertama dari kedekatan Ilahi digambarkan sebagai kemiripan hubungan di antara hamba dengan majikannya seperti firman Tuhan bahwa:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰہِ ؕ
Orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah (Al-Baqarah [2]:166).
Berarti bahwa mereka yang beriman, atau dengan kata lain hamba yang setia, mencintai Allah Swt.
di atas segala-galanya. Sebagai hamba yang tulus dan setia dengan
menyaksikan karunia dan berkat yang berkesinambungan serta mengenal sifat-sifat majikannya, perasaan kasih dan ketulusannya akan meningkat
sedemikian rupa sehingga ia meniru
segala sifat baik dan mengikuti jalan majikannya.
Karena kasihnya di dalam hati ia semata-mata hanya ingin memenuhi semua yang menjadi keinginan majikannya,
begitu jugalah sikap dari seorang hamba yang setia kepada Allah Yang Maha
Kuasa. Hamba tersebut yang melalui perkembangan sifat ketulusan dan kesetiaannya
akan sampai kepada suatu tahapan dimana dirinya sendiri menjadi fana
(sirna) dan ia memperoleh warna
dari Majikan-Nya tersebut.
Bentuk Kedua: Kemiripan
Anak dengan Bapak & Bentuk
Ketiga: Gambar Pantulan Dalam Cermin
Bentuk kedua dari kedekatan
kepada Tuhan adalah mirip dengan hubungan di antara bapak dan anak, sebagaimana firman Allah Swt.:
فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ
کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا
Maka berzikirlah
kepada Allah sebagaimana kamu biasa
menyanjung bapak-bapak kamu dahulu atau berzikirlah lebih banyak lagi (Al-Baqarah [2]:201).
Ayat ini mengandung arti bahwa kita harus mengingat Allah Yang Maha Agung dengan kekhusyukan kasih sebagaimana kita mengingat bapak-bapak kita. Perlu diperhatikan bahwa seorang majikan akan mulai menyerupai seorang bapak ketika kecintaan kepadanya menjadi demikian mendalam dan kecintaan itu sendiri bebas
dari kepentingan diri sendiri.
Pada saat demikian kecenderungan kasih dan rasa pertautan dengan yang dikasihi telah menjadi suatu yang alamiah dan memang sewajarnya bagi fitrat seseorang serta telah menjadi suatu kesatuan yang tidak lagi memerlukan suatu upaya secara sengaja.
Sebagaimana seorang anak yang
merasa ada hubungan keruhanian
dengan bapaknya, begitu jugalah
seorang mukminin menganggap hubungannya dengan Tuhan. Sebagaimana seorang anak
menunjukkan sifat-sifat bapaknya dan
menyerupainya dalam perilaku dan kebiasaan, begitu pula seorang muminin.
Bentuk kedekatan yang ketiga adalah mirip dengan refleksi (pantulan) diri yang bersangkutan. Ketika seseorang
melihat refleksi dirinya dalam
sebuah cermin yang besar dan jernih,
ia akan melihat refleksi dari keseluruhan diri dan sifat-sifatnya secara utuh. Begitu pula dalam kedekatan jenis yang ketiga ini, semua Sifat-sifat Ilahi direfleksikan secara jelas
dalam dirinya dan refleksi ini sifatnya lebih lengkap dan sempurna dibanding kemiripan-kemiripan
tersebut di atas.
Jelas kiranya bahwa seseorang yang melihat refleksi dirinya dalam sebuah cermin
akan melihatnya persis sama dengan dirinya sendiri. Derajat kemiripan demikian tidak akan dapat diperoleh siapa pun melalui sarana apa pun, tidak juga
bisa ditemukan dalam sosok
seorang anak.
Derajat kedekatan demikian
hanya bisa dicapai seseorang yang berada seimbang
di antara kedua ujung busur Ilahi
dan pengkhidmatan atau perhambaan manusia. Ia sedemikian terikat kepada keduanya sehingga ia menjadi tali
busur itu sendiri dan jika ia
menarik diri dari keduanya maka ia menjadi sebuah cermin.
Cermin itu karena menghadap
kepada dua arah, melalui refleksi
memperoleh impresi Ilahi dari satu
arah, dan ke arah lainnya cermin itu
akan melantunkan Nur dari semua berkat yang bisa diterima oleh umat manusia
yang menyerapnya berdasar kemampuan kadar dirinya masing-masing.
Hal ini diindikasikan dalam firman Tuhan bahwa:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
Kemudian ia
mendekati Allah, lalu turun
mendekati umat manusia maka jadilah ia seakan-akan seutas tali
dua busur atau lebih dekat lagi
(Al-Najm [53]:9-10).
Yang dimaksud adalah kondisi dimana beliau mi’raj ke atas hingga suatu titik
terdekat kepada Allah Swt.
sehingga antara diri beliau dengan Tuhan tidak lagi ada tabir yang menghalangi, untuk kemudian beliau
turun kepada umat manusia
sehingga juga tidak ada tabir di
antara diri beliau dengan mereka.
Makna “Satu Tali Dua Buah Busur”
Karena kesempurnaan beliau dalam mi’raj
dan dalam turunnya tersebut maka maqam (kedudukan) beliau itu seperti tali yang menghubungkan Ilahiah dan perhambaan
manusia lebih dekat daripada
yang bisa dibayangkan. Kedua garis busur itu jika digambarkan adalah
sebagai sebuah lingkaran yang di tengahnya ada garis horizontal yang membagi dua lingkaran tersebut.
Garis yang membagi sama
sebuah lingkaran adalah tali di
antara dua ujung busur. Garis ini menghubungkan Sang Maha Penyayang dan yang menerima anugrah, dan garis ini mirip titik tengah lingkaran yang juga menjadi titik tengah tali busur tersebut. Titik inilah yang menjadi inti
kalbu dari manusia sempurna yang
terkait sama kepada ujung busur Ilahiah
dan kepada ujung busur perhambaan
manusia. Meskipun di tali yang
menghubungkan kedua ujung busur itu
memang ada titik-titik lain, kecuali
khusus yang berkaitan dengan titik
tengah tadi, titik-titik lainnya
bisa menjadi posisi dari nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya.
Titik tengah tersebut
mencerminkan kesempurnaan fitrat luhur
yang dimiliki penghulu dari tali busur itu yang tidak bisa dipadani
oleh orang lain dalam pengertiannya yang murni, melainkan hanya bisa menjadi seseorang yang berbagi refleksi karena mengikuti dan kepatuhan
kepada beliau. Nama dari titik tengah ini senyatanya adalah Hadhrat Muhammad Saw. yang menjadi sumber dari segala kebenaran di muka bumi ini.
Sesungguhnya garis dari tali busur tersebut telah mengembang
dari titik tengah ini dimana spiritualitasnya merasuk ke seluruh tali busur, sehingga berkat suci telah dikaruniakan atas keseluruhan tali busur ini. Manifestasi (perwujudan) pertama dan paling luhur -- sebagaimana
dikemukakan para sufi sebagai asmā (nama-nama) Allah -- adalah titik tengah
ini, yang dalam istilah para hamba Allah
disebut sebagai maqam (kedudukan)
dari Ahmad Mujtaba dan Muhammad Mustafa, sedangkan dalam
istilah para filosof disebut sebagai
logika primer.[1]
Titik tengah ini memiliki hubungan yang sama dengan titik-titik lainnya di tali busur
sebagaimana Sifat Akbar dari Allah
Swt.. berkaitan dengan Sifat-sifat Ilahi
lainnya.
Singkat kata, cermin yang
merefleksikan manusia sempurna
sebagai sumber dari segala kebenaran yang tersembunyi serta kunci bagi semua kepastian adalah juga menjadi logika
primer dari semua misteri awal
dan akhir serta ‘sangkan paran’ (logika yang mendasari) penciptaan titik tinggi dan titik rendah. Sulit untuk memvisualisasikannya (menggambarkannya)
karena semua berada di luar kemampuan
nalar dan pemahaman.
Sebagaimana semua kehidupan di alam menerima karunia dari Sifat
Kehidupan dari Allah Yang Maha Kuasa,
dan semua makhluk menjadi eksis (ada) karena Wujud-Nya serta semua maksud
adalah sebagai akibat dari Maksud-Nya,
begitu jugalah dengan maqam Muhammad Saw.
dengan karunia Allah Swt.. telah mempengaruhi semua tingkatan dan derajat
(maqam) tergantung dari fitrat dan kapasitas masing-masing.
Karena titik maqam ini
menggabung semua derajat Ilahi
melalui refleksi (pantulan) serta semua derajat di dalam alam ini, maka begitu juga karena merupakan cerminan Ilahiah maka maqam
tersebut mencerminkan derajat Ilahi
sebagaimana sebuah refleksi
(pantulan) di cermin mirip dengan aslinya yang merupakan Sifat-sifat dasar Ilahi, dimana fitrat
kehidupan, pengetahuan, kemauan, kekuatan, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara tercermin
di sana secara lengkap dan sempurna.
Titik tengah yang berada di
antara Tuhan dengan ciptaan-Nya yang menjadi maqam (kedudukan) dari Penghulu kita Hadhrat Muhammad Saw., tidak bisa dibatasi hanya kepada firman Allah saja -- sebagaimana
julukan yang diberikan kepada Yesus[2] a.s.. -- maqam
Muhammadi menggabungkan dalam wujudnya refleksi
dari semua derajat (maqam) Ilahi. Karena itulah mengapa Yesus a.s. telah diserupakan sebagai anak
karena adanya kekurangan pada
sifat diri beliau, mengingat sosok Yesus a.s. tidak menjadi manifestasi
(perwujudan) dari Sifat-sifat Ilahi
dan hanya mencerminkan satu cabang
dari berbagai cabang yang ada. Sebaliknya dengan realitas dari Hadhrat
Muhammad yang menjadi manifestasi
lengkap dan sempurna dari semua Sifat Ilahi.
Karena pertimbangan inilah maka Nabi
Suci Saw. dalam Kitab-kitab Samawi ditamsilkan
sebagai refleksi (pantulan)
dari Tuhan Yang Maha Agung, yang
mengatasi status seorang bapak terhadap anak. Kekurangsempurnaan ajaran
Yesus a.s. dibanding kesempurnaan
ajaran Al-Quran adalah juga karena masalah ini, mengingat rahmat yang kurang sempurna
akan dikaruniakan kepada sosok yang
juga kurang sempurna, sedangkan rahmat yang sempurna hanya dikaruniakan
kepada sosok yang sempurna pula.
Mengenai sifat kemiripan
Hadhrat Muhammad Saw. kepada Allah Swt.. dikemukakan dalam Al-Quran pada ayat:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
Kemudian
ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia. Maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua
busur atau lebih dekat lagi
(A-Najm [53]:9-10).
Yang dimaksud dalam hal ini adalah dimana Nabi Suci Saw. karena kedekatan beliau kepada Allah Swt..
adalah seperti seutas tali yang
menghubungkan kedua ujung busur atau
bahkan lebih dekat lagi. Jelas yang
dimaksud bahwa titik tertinggi dari tali busur itu adalah ujung busur Ilahiah, dimana ketika keseluruhan
kalbu Hadhrat Muhammad yang karena demikian dekat dan jernih, hubungan beliau telah mi’raj ke atas mendekati samudra Ilahiah dimana beliau tenggelam dalam samudra tidak bertepi itu,
sehingga seluruh partikel
manusiawinya lebur dalam samudra
tersebut.
Makna “Tangan Allah Swt. di atas Tangan Orang yang Baiat” Kepada Nabi
Besar Muhammad Saw.
Kedekatan demikian bukanlah
suatu hal yang baru melainkan
merupakan suatu hal yang telah
ditetapkan jauh sebelumnya, dan
patut disampaikan melalui Kitab-kitab
Samawi dan wahyu-wahyu yang
dituliskan, sebagai manifestasi Ilahiah
yang sempurna dan sebagai cermin yang merefleksikan Tuhan itu sendiri. Ayat lain dalam Al-Quran yang
menggambarkan kedekatan tersebut
adalah:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ
اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ
Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah
ada di atas tangan mereka’ (Al-Fath [48]:11).
Yakni, orang-orang yang
mengikrarkan baiat kepada Nabi Suci Saw. melakukannya dengan cara meletakkan
tangan mereka di atas tangan beliau. Dalam ayat ini secara metaforika (kiasan)
Tuhan menyamakan Nabi Suci Saw. sebagai perwakilan Tuhan Sendiri dan mengutarakan
tangan beliau sebagai tangan-Nya.
Pernyataan ini digunakan berkaitan dengan Hadhrat Rasulullah Saw. karena
kedekatan beliau yang amat sangat
kepada Tuhan. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat:
وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ
Bukan
engkau yang melempar ketika engkau melempar,
melainkan Allah yang melempar (Al-Anfāl
[8]:18).
Indikasi yang sama juga dikemukakan
dalam ayat:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ
الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang telah berdosa terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah
mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun, Maha Penyayang”’ (Al-Zumar [39]:54).
Yang
jelas bahwa umat manusia bukanlah hamba-hamba dari Nabi Suci Saw., bahkan semua nabi
dan yang bukan nabi adalah hamba
Allah Swt., namun karena Nabi
Suci Saw. adalah yang terdekat
kepada Allah maka istilah ini
digunakan dalam kasus beliau. Dengan cara yang sama Allah Yang Maha Agung telah memberikan gelar-gelar atas Hadhrat
Rasulullah Saw., yang sebenarnya merupakan Sifat-sifat Ilahi.
Nabi Suci diberi nama Muhammad
yang berarti yang amat terpuji.
Kenyataannya pujian akbar itu milik Allah Yang Maha Kuasa, tetapi
dikaruniakan kepada Hadhrat Rasulullah
Saw. sebagai cerminan. Dengan
cara yang sama Nabi Suci Saw. dalam
Al-Quran telah diberi gelar Nur yang
mencerahkan seluruh dunia, Rahmat yang memelihara alam dari kerusakan, serta Pemurah dan Penyayang,
yang adalah nama-nama Allah Swt..
Di banyak tempat dalam Al-Quran ada diindikasikan atau dinyatakan secara
jelas bahwa Nabi Suci Saw. adalah manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahi dan ucapan beliau adalah firman Tuhan, sedangkan kedatangan beliau sebagai kedatangan Tuhan. Dalam konteks ini
salah satu ayat Al-Quran berbunyi:
وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ
الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dan katakanlah: “Kebenaran
telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan
itu pasti akan lenyap” (Bani Israil [17]:82).
Dalam ayat ini yang dimaksud dengan Kebenaran
(Al-Haq) adalah Allah Yang Maha Agung,
Kitab Suci Al-Quran dan Nabi Suci Saw., sedangkan yang dimaksud dengan kebatilan adalah syaitan, kelompok pengikut
syaitan dan ajaran-ajaran syaitan.
Dalam hal ini Allah Yang Maha Kuasa
telah menyertakan Nabi Suci Saw.
beserta Nama-Nya Sendiri, dan kedatangan Rasulullah Saw. dianggap sebagai kedatangan Allah Swt. dimana
dengan kedatangan agung demikian
maka syaitan dengan segala lasykarnya telah dikalahkan dan ajarannya direndahkan.
Karena kemiripan yang sempurna
demikian maka Al-Quran mengungkapkan
bahwa Tuhan telah mengambil perjanjian dari semua nabi-nabi terdahulu bahwa wajib bagi mereka untuk mengimani kebesaran dan keagungan Hadhrat Rasulullah Saw. dan
memberitahukannya kepada umat mereka.
Atas dasar pertimbangan inilah maka sejak Nabi
Adam a.s. sampai dengan Nabi Isa
a.s. semua nabi-nabi dan rasul-rasul mengakui kebesaran dan keagungan Hadhrat Rasulullah Saw..
Nabi Musa a.s. menyatakan bahwa “Tuhan
datang dari gunung Sinai, bangkit
dari Seir dan bersinar dari gunung Paran”,
mengindikasikan secara jelas bahwa manifestasi[3] Keagungan Ilahi mencapai kulminasinya (puncaknya) di Paran
dan bahwa matahari kebenaran
bersinar penuh dengan segala
keagungannya di gunung Paran.
Kitab Taurat mengungkapkan bahwa yang dimaksud Paran adalah daerah pegunungan
Mekkah dimana Ismail a.s. yang menjadi nenek moyang Hadhrat Rasulullah Saw.
bertempat tinggal[4] . Hal ini dikonfirmasikan oleh peta
geografis. Bahkan para lawan kita juga mengakui bahwa tidak ada Nabi lain yang
telah dibangkitkan di Mekkah kecuali Hadhrat Rasulullah Saw. Karena itu
bayangkan betapa jelasnya Musa a.s. bersaksi
bahwa matahari kebenaran akan
bersinar dari gunung Paran dengan
memancarkan sinarnya yang teramat terang dan bahwa kemajuan Nur kebenaran akan mencapai puncaknya dalam wujud beliau yang berberkat
itu.
Inti sari dari keseluruhan ini adalah untuk menunjukkan bahwa derajat kedekatan kepada Allah Swt.. itu ada tiga macam dan yang
ketiga itu menggambarkan manifestasi
sempurna dari Sifat-sifat Ilahiah
yang merupakan cermin yang merefleksikan Tuhan, dan semua itu
terkait kepada Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. yang Nurnya
telah mencerahkan beribu-ribu batin serta membersihkan tidak terbilang kalbu
manusia dari kegelapan dan menuntun mereka kepada Nur yang abadi.
Seorang penyair mengemukakannya
sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja
dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Ruhul Kudus.
Aku tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali
wujudnya adalah mengenal Tuhan.
Alangkah beruntungnya manusia
yang beriman kepada Hadhrat Muhammad Saw. dan menerima beliau sebagai Penghulu serta Kitab Al-Quran sebagai petunjuknya.
Ya Allah, berkatilah Penghulu dan Junjungan
kami Muhammad beserta segenap pengikutnya dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menuntun hati kita kepada kekasih-Nya, kepada kasih terhadap Rasul-Nya dan kasih
kepada hamba-hamba-Nya.
Ketika sinar rembulan mengerling hati
kami,
Hati kami yang gelap merona jadi
perak cemerlang.
Setiap saat
rahmat menyatu Kekasih-ku selalu mengundang,
Meski mereka
yang menentang menghadang jalan.
Siang dan malam aku bersimpuh bagai
debu di jalan Kekasih-ku,
Tanda apa lagi yang mengisyaratkan
kehormatan dan rezeki terhormat.
(Surma Chasm Arya, Qadian,
1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm.
232-301, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor:
Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar