Sabtu, 05 Desember 2015

Maqam (Derajat) Penciptaan Terendah dan Maqam Teritnggi yakni Maqam Nabi Besar Muhammad Saw. & Tiga Bentuk (Gambaran) "Kedekatan" Manusia Dengan Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Maqam (Derajat) Penciptaan Terendah dan  Maqam Tertinggi yakni Maqam Nabi Besar Muhammad Saw. & Tiga Bentuk (Gambaran) Kedekatan Manusia dengan Allah Swt.


Bab 27


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  mengenai pentingnya keberadaan  sosok pemberi syafaat  (QS.4:85) dan gambaran kedekatan hubungan  Nabi Besar Muhammad saw.   dengan  Allah Swt. bagaikan  seutas tali  dari dua   busur yang disatukan (QS.53:9-10). Mengenai  pemberi syafaat  dan syafaat yang direkomendasikannya  Allah Swt. berfirman:
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi syafaat yang baik,  bagi dia  pasti  ada bagian yang ditentukan darinya, dan barang-siapa memberi syafaat yang buruk  bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya, dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu. (An-Nisa [4]:86).

Pemberian Syafaat dan Akibatnya

      Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (mengusulkan kepada atasan untuk kepentingan orang bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab  orang yang memberi syafaat bagi orang lain bertanggung jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya benar dan adil, niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang selayaknya; sebaliknya akan diminta pertanggungjawaban atas segala akibat-akibatnya yang buruk jika memberikan syafaat yang buruk.
   Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan dengan “syafaat baik” kata yang dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan), sedangkan sehubungan dengan “syafaat jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama).
Hal ini menjelaskan bahwa kalau hukuman untuk syafaat jahat hanya akan diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan demikian, melainkan akan sebanyak yang ditetapkan Allah Swt.   yakni  sepuluh kali lipat besarnya. Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya, seorang perantara (pemberi syafaat) haruslah memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan-nya -- seolah-olah Tuhan telah turun ke dalam batinnya -- dimana sifat kemanusiaannya lalu pupus karena ia telah menjadi manifestasi Ilahi, dan kalbunya telah mencair dan mengalir seperti air ke arah Tuhan-nya,  sehingga ia mencapai titik terdekat dengan Wujud-Nya.
    Kiranya juga perlu bagi seorang perantara (pemberi syafaat) bahwa hatinya dipenuhi dengan kecintaan terhadap orang yang akan diberinya syafaat, dimana intensitas (kesungguhan) perasaannya seolah-olah menjadikan ia merasa anggota-anggota tubuhnya terlepas dari dirinya dan perasaannya menjadi bertemperasan.  
   Perasaan kasihnya akan membawanya kepada suatu tingkatan yang lebih tinggi daripada kasih seorang bapak atau ibu. Jika kedua keadaan ini terwujud dalam diri seseorang maka ia pada satu sisi akan bersatu dengan maqam samawi dan pada sisi lain dengan maqam duniawi. Pada saat itulah kedua sisi dari neraca akan menjadi seimbang, dengan pengertian bahwa akan ada manifestasi sempurna dari Samawi dan juga manifestasi sempurna dari duniawi dimana ia akan melayang di tengah di antara keduanya.
     Menunjuk kepada maqam (martabat)  perantaraan ini Al-Quran meneguhkan kesempurnaan manusiawi  Hadhrat Rasulullah saw.:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾
Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia, maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi” (Al-Najm [53]:9-10).
     Ayat ini mengandung arti bahwa Hadhrat Rasulullah saw. telah naik ke atas mendekati Allah Swt.. sedemikian dekatnya sehingga memperoleh kesempurnaan karena kedekatan tersebut dan mencapai maqam Samawi sepenuhnya, sedangkan di sisi lain beliau telah mencapai titik terjauh dari pengkhidmatan dan ibadah yang menyerap sepenuhnya esensi murni kemanusiaan yaitu kasih dan sayang kepada umat manusia yang menjadi kesempurnaan maqam duniawinya.
   Ketika beliau mendekat sepenuhnya kepada Allah Swt.  dan kemudian mendekat secara sempurna kepada umat manusia maka jadilah beliau itu sebagai seutas tali busur yang menghubungkan kedua ujung busur panah, dan dengan cara demikian beliau telah memenuhi persyaratan sebagai perantara atau pemberi syafaat. Dalam firman-Nya Tuhan telah bersaksi bahwa beliau itu mempunyai maqam di antara Tuhan dan manusia laiknya seutas tali yang menghubungkan kedua ujung busur.

Ke-Muslim-an (Penyerahan Diri) yang Sempurna

   Di tempat lain untuk menggambarkan kedekatan beliau kepada Allah Swt.. dikatakan:
قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ
Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan pengorbananku dan kehidupanku serta kematianku adalah semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam”’ (Al-An’aam 6]:163).
  Dengan kata lain, diperintahkan kepada Hadhrat Rasulullah saw. untuk memberitahukan kepada umat manusia bahwa beliau telah fana (hilang-sirna) dari dunia dan semua ibadah beliau semata-mata hanya bagi Allah Swt... Ayat ini mengindikasikan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. menjadi demikian khidmat dan fana di dalam Tuhan sehingga tiap nafas kehidupan beliau dan bahkan kematiannya adalah semata-mata bagi Allah Swt.,  dimana egonya sendiri, makhluk dan sarana apa pun tidak mempunyai peran dalam wujud beliau, dan bahwa jiwa beliau sepenuhnya sujud di hadirat Ilahi dimana tidak ada apa pun yang menyertainya.
    Mengingat bahwa kasih Allah Swt.  dan pencapaian maqam yang tinggi berupa kedekatan kepada-Nya merupakan hal yang tidak mudah dicerna manusia biasa, maka Allah Yang Maha Agung telah memperlihatkan melalui perilaku dari Hadhrat Rasulullah saw. bagaimana beliau itu telah memilih Allah Swt.  semata dibanding segala hal,  dimana setiap partikel dari diri beliau penuh dengan kecintaan dan keagungan Allah Swt., sehingga wujud beliau menjadi cerminan dari  manifestasi Ilahi. Pengaruh dari kecintaan yang sempurna kepada Allah Swt.  semuanya dicitrakan dalam wujud Hadhrat Rasulullah Saw..” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 182-184).

Nabi Besar Muhammad Saw. Merupakan Refleksi Ke-Tuhan-an yang Paling Sempurna

    Dalam buku lainnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai system penciptaan yang dimulai  dari “titik terendah” menuju “titik tertinggi” dan tersempurna, termasuk dalam system keruhanian, beliau bersabda:
      “Allah Swt.  tidak akan menciptakan tuhan lain mirip Wujud-Nya karena Sifat Ke-Esa-an dan Sifat tidak ada yang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh dari Sifat Tanpa Tandingan itu dengan menciptakan salah seorang mahluk-Nya  sebagai refleksi dari Sifat-sifat-Nya yang dalam realitas hanya menjadi milik-Nya semata. Ada sebuah indikasi mengenai hal ini di Al-Quran dalam ayat:
تِلۡکَ الرُّسُلُ  فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ  دَرَجٰتٍ
 Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengan mereka dan setengahnya Dia hanya tinggikan derajatnya .....(Al-Baqarah [2]: 254).
   Disini yang dimaksud dengan yang dilebihkan derajatnya adalah Hadhrat Rasulullah Saw. yang kepadanya telah dikaruniakan derajat tertinggi yang merupakan refleksi  (pantulan) dari Sifat-sifat Ilahi dan beliau menjadi cermin yang memantulkan Allah Swt..  Dengan cara demikian telah dimanifestasikan (diwujudkan) secara sempurna kekhalifahan Ilahi yang  tidak saja telah diciptakan umat manusia tetapi juga keseluruhan alam.
  Hal ini merupakan masalah yang pelik dan para lawan kita yang tidak memahami masalah ini serta tidak mengenal rahasia-rahasia Tuhan, biasanya lalu bertanya-tanya bagaimana mungkin dari sekian juta manusia hanya satu orang saja yang dapat mencapai derajat khalifah Ilahi yang paling sempurna yang merupakan refleksi (pantulan) dari Ketuhanan itu sendiri.
   Bukanlah disini tempatnya untuk membahas secara rinci masalah ini, namun perlu dijelaskan agar menjadi terang bagi para pencari kebenaran, bahwa semua itu merupakan kaidah (peraturan) Ilahi yang sejalan dengan Sifat Ketauhidan-Nya karena Sifat Tunggal-Nya dalam penciptaan maka Dia juga memperhatikan ketunggalan.
    Jika kita renungi  secara mendalam apa yang telah diciptakan-Nya,   kita akan melihat bahwa keseluruhan ciptaan itu teratur sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah garis lurus dimana ujung yang satu mencuat naik ke atas sedangkan ujung lainnya terbenam ke bawah. Pada ujung tertinggi adalah seorang manusia yang dalam kapasitas kemanusiaannya berada di atas seluruh umat manusia, sedangkan pada ujung yang paling rendah adalah   jiwa-jiwa yang memiliki kapasitas yang demikian defektif (lemah) sehingga mendekati derajat hewan yang tidak berperasaan.

Titik Terendah” dan “Titik Tertinggi” Sistem Penciptaan Jasmani dan Ruhani

  Kalau kita meninjau alam material (jasmani)secara keseluruhan, kita akan melihat juga fenomena ini. Allah Swt.  telah menyempurnakan ciptaan-Nya dengan memulai dari  dzarah (partikel) paling kecil sampai kepada benda langit yang terbesar yaitu matahari. Dalam sistem material (jasmani)  ini tidak diragukan bahwa Allah Swt.  telah menciptakan matahari sebagai suatu benda yang akbar, berberkat dan bermanfaat dimana tidak ada benda lain yang menyamainya di tingkat paling tinggi.
  Dengan memperhatikan derajat yang tertinggi dan terendah dari system demikian yang secara kasat mata bisa diperhatikan, kita bisa memahami bahwa sistem keruhanian pun yang berasal dari Wujud-Nya, ternyata disusun dalam cara yang sama. Sistem keruhanian ini pun memiliki titik tertinggi dan terendahnya, dengan demikian kinerja Allah Swt.    selalu sama dan seimbang.
   Dia itu Maha Tunggal dan dalam manifestasi kinerja-Nya, Dia pun menyukai ketunggalan. Tidak ada tempat bagi kerancuan dan perpecahan. Betapa indah dan pantasnya Dia dalam metoda-Nya sehingga semua hasil kinerja-Nya mengikuti suatu sistem yang baku dan dipadankan satu dengan yang lain.
    Dengan menemukan bukti di segenap penjuru dan setelah kami telaah sendiri, kami mengakui kaidah-Nya bahwa semua hasil kinerja-Nya -- baik secara keruhanian maupun material --  tidak baur dan rancu,  melainkan mengikuti suatu sistem yang bijak dan merupakan bagian dari suatu pengaturan yang dimulai dari titik terendah bergerak ke arah yang tertinggi, dimana metoda seragam ini disukai oleh Wujud-Nya.  
   Dengan mengakui hal ini maka kami harus mengakui bahwa sebagaimana dalam sistem material yang dimulai dari sebutir dzarah atau partikel, Tuhan telah membawa ciptaan-Nya sampai kepada bentuk yang akbar yaitu matahari yang mengandung kesempurnaan yang kasat mata, begitu juga kiranya dalam hal yang berkaitan dengan matahari keruhanian yang terletak di titik tertinggi dari garis lurus keruhanian.
    Sekarang untuk meneliti siapakah manusia sempurna yang diandaikan sebagai matahari keruhanian tersebut, bukanlah suatu hal yang bisa dipecahkan semata-mata hanya berdasar logika saja. Dengan mengecualikan Allah Swt. Yang memiliki kelebihan kemampuan dalam menyeimbangkan dan mengatur bermilyar-milyar makhluk-Nya,  serta membanding-bandingkan kemampuan spiritual dan sifatnya masing-masing, untuk menetapkan siapa yang paling akbar dari antara sekalian makhluk tersebut, bagi manusia mustahil melakukannya berdasar penalaran belaka.

Tiga Bentuk Kedekatan Manusia  dengan Allah Swt. Pertama:  Kecintaannya Kepada Allah  Swt. Melebihi Kepada Selain-Nya

     Untuk penelitian seperti itu, sarana yang paling tepat adalah Kitab-kitab yang diwahyukan dimana Allah Swt.  beribu-ribu tahun sebelumnya telah menetapkan spesifikasi (rincian) dari manusia sempurna tersebut. Seseorang yang hatinya dibimbing Allah Swt.  dan yang meyakini wahyu serta merenungi nubuatan yang terdapat dalam Kitab Injil, tentunya akan mengakui bahwa yang dimaksud sebagai manusia sempurna yang menjadi matahari keruhanian, yang memenuhi persyaratan paling utama dan menjadi batu bata terakhir pada dinding kenabian adalah Hadhrat Muhammad Saw..
   Keluhuran derajat dari personifikasi kebaikan yang berada di titik tertinggi dari garis keruhanian yaitu Hadhrat Muhammad Saw. ditetapkan melalui takdir Ilahi dan hal ini diperlihatkan secara nyata dalam manifestasinya. Sebagaimana yang dikemukakan Tuhan menyangkut derajat tinggi dari Nabi akbar ini bahwa:
تِلۡکَ الرُّسُلُ  فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ
 Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain  (Al-Baqarah [2]: 254).
  Melalui pujian demikian dimaksudkan bahwa titik tertinggi dari garis keruhanian dikaruniakan kepada Nabi Suci Muhammad Saw., baik secara terbuka mau pun tersembunyi. Wujud lemah lembut yang menjadi personifikasi dari sifat kebaikan ini adalah lebih luhur dan lebih sempurna dibanding ketiga jenis orang-orang yang menjadi kekasih Allah Swt.  dan disebut sebagai manifestasi sempurna dari Sifat Ketuhanan.
    Tiga bentuk kedekatan Ilahi digambarkan melalui tiga kemiripan yang jika kita telaah akan menjelaskan realitas tiga derajat kedekatan tersebut. Bentuk pertama dari kedekatan Ilahi digambarkan sebagai kemiripan hubungan di antara hamba dengan majikannya seperti firman Tuhan bahwa:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَشَدُّ حُبًّا  لِّلّٰہِ ؕ
Orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah  (Al-Baqarah [2]:166).
     Berarti bahwa mereka yang beriman, atau dengan kata lain hamba yang setia, mencintai Allah Swt.  di atas segala-galanya. Sebagai hamba yang tulus dan setia dengan menyaksikan karunia dan berkat yang berkesinambungan serta mengenal sifat-sifat majikannya, perasaan kasih dan ketulusannya akan meningkat sedemikian rupa sehingga ia meniru segala sifat baik dan mengikuti jalan majikannya.
    Karena kasihnya di dalam hati  ia semata-mata hanya ingin memenuhi semua yang menjadi keinginan majikannya, begitu jugalah sikap dari seorang hamba yang setia kepada Allah Yang Maha Kuasa. Hamba tersebut yang melalui perkembangan sifat ketulusan dan kesetiaannya akan sampai kepada suatu tahapan dimana dirinya sendiri menjadi fana  (sirna) dan ia memperoleh warna dari Majikan-Nya tersebut.

Bentuk Kedua:  Kemiripan Anak dengan Bapak  &   Bentuk Ketiga:  Gambar Pantulan Dalam Cermin

    Bentuk kedua dari kedekatan kepada Tuhan adalah mirip dengan hubungan di antara bapak dan anak, sebagaimana firman Allah Swt.:
فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ  کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا
Maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu biasa menyanjung bapak-bapak kamu dahulu atau berzikirlah lebih banyak lagi  (Al-Baqarah [2]:201).
   Ayat ini mengandung arti bahwa kita harus mengingat Allah Yang Maha Agung dengan kekhusyukan kasih sebagaimana kita mengingat bapak-bapak kita. Perlu diperhatikan bahwa seorang majikan akan mulai menyerupai seorang bapak ketika kecintaan kepadanya menjadi demikian mendalam dan kecintaan itu sendiri bebas dari kepentingan diri sendiri.
  Pada saat demikian kecenderungan kasih dan rasa pertautan dengan yang dikasihi telah menjadi suatu yang alamiah dan memang sewajarnya bagi fitrat seseorang serta telah menjadi suatu kesatuan yang tidak lagi memerlukan suatu upaya secara sengaja.
  Sebagaimana seorang anak yang merasa ada hubungan keruhanian dengan bapaknya, begitu jugalah seorang mukminin menganggap hubungannya dengan Tuhan. Sebagaimana seorang anak menunjukkan sifat-sifat bapaknya dan menyerupainya dalam perilaku dan kebiasaan, begitu pula seorang muminin.
    Bentuk kedekatan yang ketiga adalah mirip dengan refleksi (pantulan) diri yang bersangkutan. Ketika seseorang melihat refleksi dirinya dalam sebuah cermin yang besar dan jernih, ia akan melihat refleksi dari keseluruhan diri dan sifat-sifatnya secara utuh. Begitu pula dalam kedekatan jenis yang ketiga ini, semua Sifat-sifat Ilahi direfleksikan secara jelas dalam dirinya dan refleksi ini sifatnya lebih lengkap dan sempurna dibanding kemiripan-kemiripan tersebut di atas.
       Jelas kiranya bahwa seseorang yang melihat refleksi dirinya dalam sebuah cermin akan melihatnya persis sama dengan dirinya sendiri. Derajat kemiripan demikian tidak akan dapat diperoleh siapa pun melalui sarana apa pun, tidak juga bisa ditemukan dalam sosok seorang anak.
   Derajat kedekatan demikian hanya bisa dicapai seseorang yang berada seimbang di antara kedua ujung busur Ilahi dan pengkhidmatan atau perhambaan manusia. Ia sedemikian terikat kepada keduanya sehingga ia menjadi tali busur itu sendiri dan jika ia menarik diri dari keduanya maka ia menjadi sebuah cermin.
    Cermin itu karena menghadap kepada dua arah, melalui refleksi memperoleh impresi Ilahi dari satu arah, dan ke arah lainnya cermin itu akan melantunkan Nur dari semua berkat yang bisa diterima oleh umat manusia yang menyerapnya berdasar kemampuan kadar dirinya masing-masing. Hal ini diindikasikan dalam firman Tuhan bahwa:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾
Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia maka  jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi  (Al-Najm [53]:9-10).
      Yang dimaksud adalah kondisi dimana beliau mi’raj ke atas hingga suatu titik terdekat kepada Allah Swt. sehingga antara diri beliau dengan Tuhan tidak lagi ada tabir yang menghalangi, untuk kemudian beliau turun kepada umat manusia sehingga juga tidak ada tabir di antara diri beliau dengan mereka.

Makna “Satu Tali Dua Buah Busur”

      Karena kesempurnaan beliau dalam mi’raj dan dalam turunnya tersebut maka maqam (kedudukan) beliau itu seperti tali yang menghubungkan Ilahiah dan perhambaan manusia lebih dekat daripada yang bisa dibayangkan. Kedua garis busur itu jika digambarkan adalah sebagai  sebuah lingkaran yang di tengahnya ada garis horizontal yang membagi dua lingkaran tersebut.
       Garis yang membagi sama sebuah lingkaran adalah tali di antara dua ujung busur. Garis ini menghubungkan Sang Maha Penyayang dan yang menerima anugrah, dan garis ini mirip titik tengah lingkaran yang juga menjadi titik tengah tali busur tersebut. Titik inilah yang menjadi inti kalbu dari manusia sempurna yang terkait sama kepada ujung busur Ilahiah dan kepada ujung busur perhambaan manusia. Meskipun di tali yang menghubungkan kedua ujung busur itu memang ada titik-titik lain, kecuali khusus yang berkaitan dengan titik tengah tadi, titik-titik lainnya bisa menjadi posisi dari nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya.
   Titik tengah tersebut mencerminkan kesempurnaan fitrat luhur yang dimiliki penghulu dari tali busur itu yang tidak bisa dipadani oleh orang lain dalam pengertiannya yang murni, melainkan hanya bisa menjadi seseorang yang berbagi refleksi karena mengikuti dan kepatuhan kepada beliau. Nama dari titik tengah ini senyatanya adalah Hadhrat Muhammad Saw. yang menjadi sumber dari segala kebenaran di muka bumi ini.
    Sesungguhnya garis dari tali busur tersebut telah mengembang dari titik tengah ini dimana spiritualitasnya merasuk ke seluruh tali busur, sehingga berkat suci telah dikaruniakan atas keseluruhan tali busur ini. Manifestasi (perwujudan) pertama dan paling luhur  -- sebagaimana dikemukakan para sufi sebagai asmā (nama-nama) Allah -- adalah titik tengah ini, yang dalam istilah para hamba Allah disebut sebagai maqam (kedudukan) dari Ahmad Mujtaba dan Muhammad Mustafa, sedangkan dalam istilah para filosof disebut sebagai logika primer.[1]    Titik tengah ini memiliki hubungan yang sama dengan titik-titik lainnya di tali busur sebagaimana Sifat Akbar dari Allah Swt.. berkaitan dengan Sifat-sifat Ilahi lainnya.
     Singkat kata, cermin yang merefleksikan manusia sempurna sebagai sumber dari segala kebenaran yang tersembunyi serta kunci bagi semua kepastian adalah juga menjadi logika primer dari semua misteri awal dan akhir serta ‘sangkan paran’ (logika yang mendasari) penciptaan titik tinggi dan titik rendah. Sulit untuk memvisualisasikannya (menggambarkannya) karena semua berada di luar kemampuan nalar dan pemahaman.
    Sebagaimana semua kehidupan di alam menerima karunia dari Sifat Kehidupan dari Allah Yang Maha Kuasa, dan semua makhluk menjadi eksis (ada) karena Wujud-Nya serta semua maksud adalah sebagai akibat dari Maksud-Nya, begitu jugalah dengan maqam Muhammad Saw. dengan karunia Allah Swt..  telah mempengaruhi semua tingkatan dan derajat (maqam) tergantung dari fitrat dan kapasitas masing-masing.
   Karena titik maqam ini menggabung semua derajat Ilahi melalui refleksi  (pantulan) serta semua derajat di dalam alam ini, maka begitu juga karena merupakan cerminan Ilahiah  maka maqam tersebut mencerminkan derajat Ilahi sebagaimana sebuah refleksi (pantulan) di cermin mirip dengan aslinya yang merupakan Sifat-sifat dasar Ilahi,  dimana fitrat kehidupan, pengetahuan, kemauan, kekuatan, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara tercermin di sana secara lengkap dan sempurna.
     Titik tengah yang berada di antara Tuhan dengan ciptaan-Nya yang menjadi maqam (kedudukan) dari Penghulu kita Hadhrat Muhammad Saw., tidak bisa dibatasi hanya kepada firman Allah saja -- sebagaimana julukan yang   diberikan kepada Yesus[2] a.s.. --  maqam Muhammadi menggabungkan dalam wujudnya refleksi dari semua derajat (maqam) Ilahi. Karena itulah mengapa Yesus a.s. telah diserupakan sebagai anak  karena adanya kekurangan pada sifat diri beliau,  mengingat sosok Yesus a.s. tidak menjadi manifestasi (perwujudan) dari Sifat-sifat Ilahi dan hanya mencerminkan satu cabang dari berbagai cabang yang ada.   Sebaliknya dengan realitas dari Hadhrat Muhammad yang menjadi manifestasi lengkap dan sempurna dari semua Sifat Ilahi.
    Karena pertimbangan inilah maka Nabi Suci Saw. dalam Kitab-kitab Samawi ditamsilkan sebagai refleksi (pantulan) dari  Tuhan Yang Maha Agung,  yang mengatasi status seorang bapak terhadap anak. Kekurangsempurnaan ajaran Yesus a.s. dibanding kesempurnaan ajaran Al-Quran adalah juga karena masalah ini,  mengingat rahmat yang kurang sempurna akan dikaruniakan kepada sosok yang juga kurang sempurna, sedangkan rahmat yang sempurna hanya dikaruniakan kepada sosok yang sempurna pula.
  Mengenai sifat kemiripan Hadhrat Muhammad Saw. kepada Allah Swt.. dikemukakan dalam Al-Quran pada ayat:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾
Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia. Maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi  (A-Najm [53]:9-10).
     Yang dimaksud dalam hal ini adalah dimana Nabi Suci Saw. karena kedekatan beliau kepada Allah Swt.. adalah seperti seutas tali yang menghubungkan kedua ujung busur atau bahkan lebih dekat lagi. Jelas yang dimaksud bahwa titik tertinggi dari tali busur itu adalah ujung busur Ilahiah, dimana ketika keseluruhan kalbu Hadhrat Muhammad yang karena demikian dekat dan jernih, hubungan beliau telah mi’raj ke atas mendekati samudra Ilahiah dimana beliau tenggelam dalam samudra tidak bertepi itu,  sehingga seluruh partikel manusiawinya lebur dalam samudra tersebut.

Makna “Tangan Allah Swt. di atas Tangan Orang yang Baiat” Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

   Kedekatan demikian bukanlah suatu hal yang baru melainkan merupakan suatu hal yang telah ditetapkan jauh sebelumnya,  dan patut disampaikan melalui Kitab-kitab Samawi dan wahyu-wahyu yang dituliskan, sebagai manifestasi Ilahiah yang sempurna dan sebagai cermin yang merefleksikan Tuhan itu sendiri. Ayat lain dalam Al-Quran yang menggambarkan kedekatan tersebut adalah:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ
 Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka’ (Al-Fath [48]:11).
  Yakni, orang-orang yang mengikrarkan baiat kepada Nabi Suci Saw. melakukannya dengan cara meletakkan tangan mereka di atas tangan beliau. Dalam ayat ini secara metaforika (kiasan) Tuhan menyamakan Nabi Suci Saw. sebagai perwakilan Tuhan Sendiri dan mengutarakan tangan beliau sebagai tangan-Nya.
   Pernyataan ini digunakan berkaitan dengan Hadhrat Rasulullah Saw. karena kedekatan beliau yang amat sangat kepada Tuhan. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat:
وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ
Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar  (Al-Anfāl [8]:18).
Indikasi yang sama juga dikemukakan dalam ayat:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah berdosa terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang’ (Al-Zumar [39]:54).
     Yang jelas bahwa umat manusia bukanlah hamba-hamba dari Nabi Suci Saw., bahkan semua nabi dan yang bukan nabi adalah hamba  Allah Swt., namun karena Nabi Suci Saw. adalah yang terdekat kepada Allah maka istilah ini digunakan dalam kasus beliau. Dengan cara yang sama Allah Yang Maha Agung telah memberikan gelar-gelar atas Hadhrat Rasulullah Saw., yang sebenarnya merupakan Sifat-sifat Ilahi.
  Nabi Suci diberi nama Muhammad yang berarti yang amat terpuji. Kenyataannya pujian akbar itu milik Allah Yang Maha Kuasa, tetapi dikaruniakan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. sebagai cerminan. Dengan cara yang sama Nabi Suci Saw. dalam Al-Quran telah diberi gelar Nur yang mencerahkan seluruh dunia, Rahmat yang memelihara alam dari kerusakan, serta Pemurah dan Penyayang, yang adalah  nama-nama  Allah Swt..
   Di banyak tempat dalam Al-Quran ada diindikasikan atau dinyatakan secara jelas bahwa Nabi Suci Saw. adalah manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahi dan ucapan beliau adalah firman Tuhan, sedangkan kedatangan beliau sebagai kedatangan Tuhan. Dalam konteks ini salah satu ayat Al-Quran berbunyi:
وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dan katakanlah: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap (Bani Israil [17]:82).
     Dalam ayat ini yang dimaksud dengan Kebenaran (Al-Haq) adalah Allah Yang Maha Agung, Kitab Suci Al-Quran dan Nabi Suci Saw., sedangkan yang dimaksud dengan kebatilan adalah syaitan, kelompok pengikut syaitan dan ajaran-ajaran syaitan. Dalam hal ini Allah Yang Maha Kuasa telah menyertakan Nabi Suci Saw. beserta Nama-Nya Sendiri,  dan kedatangan Rasulullah Saw. dianggap sebagai kedatangan Allah Swt.  dimana dengan kedatangan agung demikian maka syaitan dengan segala lasykarnya telah dikalahkan dan ajarannya direndahkan.
      Karena kemiripan yang sempurna demikian maka Al-Quran mengungkapkan bahwa Tuhan telah mengambil perjanjian dari semua nabi-nabi terdahulu bahwa wajib bagi mereka untuk mengimani kebesaran dan keagungan Hadhrat Rasulullah Saw. dan memberitahukannya kepada umat mereka. Atas dasar pertimbangan inilah maka sejak Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Isa a.s. semua nabi-nabi dan rasul-rasul mengakui kebesaran dan keagungan Hadhrat Rasulullah Saw..
   Nabi Musa a.s. menyatakan bahwa “Tuhan datang dari gunung Sinai, bangkit dari Seir dan bersinar dari gunung Paran”, mengindikasikan secara jelas bahwa manifestasi[3]    Keagungan Ilahi mencapai kulminasinya (puncaknya) di Paran dan bahwa matahari kebenaran bersinar penuh dengan segala keagungannya di gunung Paran.
  Kitab Taurat mengungkapkan bahwa yang dimaksud Paran adalah daerah pegunungan Mekkah dimana Ismail a.s. yang menjadi nenek moyang Hadhrat Rasulullah Saw. bertempat tinggal[4] . Hal ini dikonfirmasikan oleh peta geografis. Bahkan para lawan kita juga mengakui bahwa tidak ada Nabi lain yang telah dibangkitkan di Mekkah kecuali Hadhrat Rasulullah Saw. Karena itu bayangkan betapa jelasnya Musa a.s. bersaksi bahwa matahari kebenaran akan bersinar dari gunung Paran dengan memancarkan sinarnya yang teramat terang dan bahwa kemajuan Nur kebenaran akan mencapai puncaknya dalam wujud beliau yang berberkat itu.
   Inti sari dari keseluruhan ini adalah untuk menunjukkan bahwa derajat kedekatan kepada Allah Swt.. itu ada tiga macam dan yang ketiga itu menggambarkan manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahiah yang merupakan cermin yang merefleksikan Tuhan, dan semua itu terkait kepada Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. yang Nurnya telah mencerahkan beribu-ribu batin serta membersihkan tidak terbilang kalbu manusia dari kegelapan dan menuntun mereka kepada Nur yang abadi.
Seorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Ruhul Kudus.
Aku tak ‘kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
      Alangkah beruntungnya manusia yang beriman kepada Hadhrat Muhammad Saw. dan menerima beliau sebagai Penghulu serta Kitab Al-Quran sebagai petunjuknya. Ya Allah, berkatilah Penghulu dan Junjungan kami Muhammad beserta segenap pengikutnya dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menuntun hati kita kepada kekasih-Nya, kepada kasih terhadap Rasul-Nya dan kasih kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika sinar rembulan mengerling hati kami,
Hati kami yang gelap merona jadi perak cemerlang.

Setiap saat rahmat menyatu Kekasih-ku selalu mengundang,
Meski mereka yang menentang menghadang jalan.

Siang dan malam aku bersimpuh bagai debu di jalan Kekasih-ku,
Tanda apa lagi yang mengisyaratkan kehormatan dan rezeki terhormat.

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 2, hlm. 232-301, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 Desember  2015






[1] Dalam filosofi Jawa disebut sebagai “sangkan paran” atau segala sesuatu yang mendasari4 penciptaan suatu mah luk. (Penterjemah)

[2] Injil Yohanes 1:1. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)


[3] Perjanjian Lama Kitab U langan 33:2. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[4]  Perjanjian Lama Kitab Kejadian 21:20-21. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar