Selasa, 08 Desember 2015

Makna "Maghfirah" (Pengampunan) Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw. yang Disalah-tafsirkan Para Penentang Islam


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Makna “Maghfirah” (Pengampunan) Berkenaan   Nabi Besar Muhammad Saw.yang   Disalah-tafsirkan Para Penentang Islam


Bab 29


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  mengenai  kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw., antara lain beliau bersabda:
   “Aku bersaksi dengan penuh keyakinan   bahwa keluhuran kenabian telah mencapai puncaknya dalam diri Nabi Suci Saw.. Seseorang yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan beliau dan mengemukakan kebenaran yang berada di luar kenabian beliau serta mengingkari kenabian tersebut adalah seorang yang palsu dan pendusta.
    Aku katakan secara tegas bahwa siapa pun yang beriman kepada seorang nabi setelah Nabi Suci Saw. dan memecahkan meterai kenabian beliau adalah orang yang terkutuk. Tidak ada nabi baru yang bisa muncul setelah Nabi Suci Saw. yang tidak mendapat pengesahan dari meterai Kenabian Muhammadi.
  Umat Muslim yang menentang kita keliru,  karena mereka meyakini akan kedatangan seorang nabi Israili yang akan memecah meterai kenabian. Aku memaklumkan bahwa menjadi manifestasi (perwujudan) kekuatan keruhanian Nabi Suci Saw. dan kenabian beliau yang bersifat abadi,  yaitu setelah 1300 tahun setelah beliau akan muncul Al-Masih yang Dijanjikan (Al-Masih Mau’ud) sebagai anak didik beliau dengan mengemban meterai kenabian yang sama.
    Kalau pandangan ini dianggap kafir maka biarlah aku menjadi kafir. Mereka yang penalarannya telah digelapkan dan tidak memperoleh karunia nur kenabian tidak akan pernah bisa memahami hal ini serta menganggapnya sebagai kafir, padahal justru ini merupakan hal yang membuktikan kesempurnaan Nabi Suci Saw. dan kehidupan beliau yang kekal.” (Al-Hakam, 10 Juni 1905, hlm. 2).
    Yang disinggung oleh Masih Mau’ud a.s. dalam kalimat  “Umat Muslim yang menentang kita keliru,  karena mereka meyakini akan kedatangan seorang nabi Israili yang akan memecah meterai kenabian“ adalah kekeliruan mereka memaknai sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.  tentang kedatangan   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman  sebagai  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili, padahal dengan jelas Allah Swt. menyatakan  dalam Al-Quran bahwa yang dimaksud  adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal Nabi Musa  a.s. (QS.46:11; Ulangan 18:18-19), sebab Nabi isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah wafat (QS.3:56 & 145; QS.21:35-36), lagi pula  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah rasulo Allah yang diutus hanya untuk Bani Israil saja (QS.3:50;  QS.43:60;   QS.61:7)

Pentingnya Beriman dan Patuh-taat Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya umat manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. serta mengikuti ajaran  Al-Quran yang beliau saw. amalkan, firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
  Semua agama yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.    dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi, karena  Islam merupakan agama terakhir dan  tersempurna (QS.5:4).
      Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya. meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah, dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi.  Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allah, dalam arti kata yang sebenarnya.
      Semua agama yang benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (Q.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ  --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,  ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang te-guhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
   Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri. Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allāh”. Nabi Besar Muhammad saw. saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
    Kata-kata  ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --  “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
      Isyarat dalam kata-kata  “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s.  yang dikutip dalam Al-Quran, yaitu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129).

Pentingnya Menjadi Muslim yang Hakiki Penyebar Rahmat

   Sehubungan dengan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kewajiban umat manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan menjadi Muslim yang hakiki,   yakni menjadi   “umat terbaik” yang dijadikan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:14; QS.3:111), sebab dalam agama Islam (Al-Quran) telah tercakup semua kebenaran  abadi  yang terdapat dalam agama-agama (Kitab-kitab suc) sebelumnya dalam kuantitas dan kuaitas yang paling sempurna (QS.2:107; QS.5:4).
     “Manusia tidak perlu lagi mengikuti kenabian dan Kitab-kitab yang datang sebelum Nabi Suci Saw. karena kenabian Muhammadi telah mencakup seluruh ajaran mereka, dimana semua kebenaran sudah terkandung di dalam ajaran beliau. Tidak ada kebenaran baru yang akan muncul setelah agama Islam, karena semua kebenaran telah tercakup di dalamnya.
    Oleh karena itu semua kenabian berakhir dengan kenabian beliau sebagaimana seharusnya, karena setiap hal yang ada awalnya pasti ada akhirnya juga. Hanya saja kenabian Muhammadi tidak akan berkekurangan dalam berkat. Kenabian ini jauh lebih berberkat dibanding semua kenabian lainnya. Dengan mengikuti kenabian Muhammadi maka seseorang akan mudah mencapai Tuhan, dan dengan mengikutinya maka seseorang akan dikaruniai rahmat Ilahi berupa kasih Allah,  dan kesempatan berbicara dengan-Nya lebih daripada ajaran sebelumnya.
     Penganutnya yang sempurna tidak  akan disebut sebagai nabi  saja,   karena akan merupakan penghinaan bagi kenabian Muhammadi yang sempurna. Ia hanya bisa disebut sebagai pengikut dari Nabi Suci Saw. dan sebagai seorang nabi, keduanya pada saat yang bersamaan (nabi ummat). Dengan cara demikian maka tidak ada penghinaan bagi kenabian Muhammadi yang sempurna, bahkan rahmatnya malah menjadi bersinar lebih terang lagi.” (Al-Wasiyyat, Qadian, Magazine Press, 1905; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 311, London, 1984).
      Maksud ucapan Masih Mau’ud a.s. “Ia hanya bisa disebut sebagai pengikut dari Nabi Suci Saw. dan sebagai seorang nabi, keduanya pada saat yang bersamaan (nabi ummat)” mengisyaratkan kepada firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allāh memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
    Jenis kenabian tersebut disebut kenabian ummati  atau buruzi (bayangan) dari kenabian Nabi Besar Muhammad saw..  Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai  pentingnya menjadi  muslim atau mukmin hakiki:  
      “Kami meyakini bahwa seseorang yang melenceng dari ajaran kaidah (hukum) Nabi Suci Saw. walau pun sedikit adalah seorang kafir. Jika seseorang yang berpaling dari ajaran Nabi Suci Saw. adalah seorang kafir, bagaimana pula dengan seseorang yang mengaku membawa ajaran baru atau akan mengubah Al-Quran dan Sunnah Rasul atau memansukhkan (membatalkan) salah satu kaidah (hukum)?
     Menurut hemat kami yang disebut sebagai mukminin  (orang-orang beriman) adalah ia yang sepenuhnya mengikuti Al-Quran dan meyakininya sebagai Kitab yang terakhir diwahyukan, mematuhi ajaran Nabi Suci saw. sebagai ajaran yang abadi dan tidak akan mengubahnya walau sekecil apa pun, memfanakan (melarutkan) diri dalam mengikutinya, tidak menentangnya baik dengan logika atau pun perilaku. Demikian itulah baru ia itu disebut Muslim sejati.” (Al-Hakam, 6 Mei 1908, hlm. 5).

Makna Istighfar  Nabi Besar Muhammad Saw.

    Kemudian sehubungan dengan makna maghfirah yang Nabi Besar Muhammad saw. sangat menekankan kepada  kaum Muslimin untuk melakukannya  --  dan bahkan beliau saw. sendiri senantiasa melakukannya – Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Kebanyakan dari umat Kristiani karena tidak memahami realitas maghfirah, biasanya membayangkan seseorang yang sedang mencari maghfirah sebagai orang yang fasik dan berdosa. Jika direnungi secara mendalam pengertian  maghfirah akan jelas bahwa justru seseorang yang tidak mencari maghfirah dari Allah Yang Maha Kuasa adalah seorang yang fasik dan kotor.
   Karena setiap kesucian yang murni merupakan anugrah dari-Nya dan hanya Dia saja yang bisa membentengi seseorang dari badai nafsunya, maka sewajarnyalah bagi para hamba-Nya yang bertakwa untuk selalu mencari maghfirah dari Sang Maha Penjaga dan Maha Pelindung.
    Kalau kita mau mencari contoh padanan maghfirah dalam dunia nyata, contoh yang terbaik dari maghfirah adalah sebuah bendungan kuat perkasa guna menahan banjir. Karena semua kekuatan dan daya itu milik Allah Yang Maha Perkasa, sedangkan manusia pada dasarnya lemah baik jasmani maupun ruhaninya, sehingga harus selalu mencari air guna kehidupan pohon dirinya dari Yang Maha Abadi, serta tidak bisa hidup tanpa rahmat-Nya, maka istighfar menjadi suatu hal yang pokok dan esensial.
    Sebagaimana sebuah pohon menjulurkan akarnya ke segala arah guna mencari sumber air dengan harapan agar kehijauan daunnya tidak menggersang serta saat berbunga dan berbuahnya tidak gagal, begitu jugalah halnya dengan seorang yang bertakwa. Bagaimana caranya menjaga kehijauan ruhani serta pemeliharaannya melalui penyediaan air dari sumber mata air kehidupan yang haqiqi, dalam Kitab Al-Quran dikemukakan sebagai istighfar.
      Renungkanlah isi Al-Quran dan bacalah dengan teliti maka kalian akan menemukan realitas istighfar.  Arti kata maghfirah dalam kamus bahasa adalah selimut pelindung terhadap nasib buruk. Sebagai contoh, air adalah unsur yang melindungi kekurangan pohon dan dengan demikian menjadi maghfirah.
    Bayangkan keadaan sebuah taman yang tidak memperoleh air selama satu atau dua tahun, pastilah keindahannya akan pupus dan tidak akan bersisa lagi kehijauan dedaunannya. Pohon-pohonnya tidak lagi menghasilkan bunga atau pun buah. Inti batangnya pun akan meranggas kering. Daun-daunnya yang hijau lembut akan mengering dan berguguran, begitu pula ranting-rantingnya luruh seperti anggota tubuh seseorang yang terkena bala lepra. Mengapa semua ini terjadi? Karena air yang menjadi penunjang hidupnya tidak lagi tersedia. Keadaan demikian disiratkan dalam ayat:
 ..... کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾
Kalimah yang baik itu seperti sebatang pohon yang baik yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau sampai ke langit’ (Ibrahim [14]:25).
      Sebagaimana sebuah pohon yang baik tidak mungkin hidup tanpa adanya air maka demikian jugalah perkataan seorang bertakwa  tidak akan bisa berkembang kecuali ada mata air murni yang menyegarkan akar-akarnya yang diisi dari arus istighfar. Karena itu kehidupan keruhanian seseorang amat tergantung pada istighfar,  dan melalui arusnya itu mata air yang murni akan membasahi akar-akar kemanusiaan serta menjaganya dari kekeringan dan kematian.
     Agama yang tidak mengemukakan filosofi seperti ini jelas bukan agama yang berasal dari Allah Swt., dan seseorang yang mengaku sebagai nabi atau rasul atau seorang yang bertakwa  tetapi berpaling dari mata air ini jelas bukan berasal dari Tuhan. Orang seperti itu bukan datang dari Tuhan tetapi dari syaitan yang akar katanya mengandung arti maut (mati).
     Barangsiapa yang tidak berkeinginan menarik mata air itu ke arah dirinya dan tidak mengisi mata air ini dari arus istighfar guna menghijaukan taman ruhaninya, jelas ia berasal dari syaitan. Untuk itu ia akan mati karena tidak mungkin pohon ruhaninya hidup tanpa air.
      Mereka yang tinggi hati yang tidak menginginkan pohon ruhaninya berkembang subur dari mata air kehidupan ini adalah syaitan,  dan akan merugi sebagaimana juga syaitan. Tidak ada nabi muttaqi di dunia ini yang mengingkari realitas  istighfar dan tidak menginginkan kesegaran dari mata air tersebut.
   Adalah suatu kenyataan bahwa Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. telah lebih banyak memohon kesuburan ini dibanding siapa pun lainnya, dan karena itu Allah Swt.  telah mengembangkan beliau itu menjadi lebih subur dan harum semerbak melebihi semua nabi-nabi lainnya.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 9, hlm. 356-358, London, 1984).

Hubungan Maghfirah  dengan Genapnya Janji Kemenangan Islam

   Berikut ini beberapa firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan dengan perintah melakukan istighfar:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ     --   Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya,  اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat  (A-Nashr [110]:1-4).
   Karena janji Allah Swt.   telah menjadi sempurna   -- yakni “kemenangan yang dijanjikan“  --  dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya.
    Dalam ayat فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ     --   "Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya”   dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa   karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri serta musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa  supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw..  pada masa lampau.
   Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw.  supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.   وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ -- “dan mohonlah ampunan-Nya.” Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan insani (manusiawi) yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
   Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah Swt.  dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain. Yaitu Nabi Besar Muhammad saw.   diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam (QS.5:55; QS.32:6), semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
 Jadi, di sini sama sekali bukan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau sendiri. Sebab menurut Al-Quran  beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ  -- dan mintalah ampunan  bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau  وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ --  dan bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi (Al-Mu’min [40]:56).

Istighfar Merupakan  Tuntutan Fitrat Manusia

   Ghafar al-Mata’a berarti: ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong  lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja  karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Al-Mufradat).
   Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman  awam, melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan pertama (orang-orang awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua  (wujud-wujud suci) mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.
   Nabi-nabi pun makhluk manusia dan walau mereka terpelihara dari dosa, namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insani maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Dalam salah satu hadits diriwayatkan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  setiap hari  beristighfar sebanyak 70 kali, dalam hadits lainnya diriwayatkan sebanyak 100 kali.  
 Dzanbaka  dalam ayat  وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ --  berarti: “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau”;   “dosa-dosa yang dituduhkan musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu”; “kealpaan dan kelemahan  engkau sebagai manusia”, firman-Nya:  
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا  --   dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  Dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang per-kasa (Al-Fath [48]:1-4).
    Ayat ini dengan sengaja disalahkemukakan, atau  karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti  bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai atau melakukan kesalahan-kesalahan akhlaki.
   Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintahkan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28).
  Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa, terelbih lagi   dari antara para utusan Allah  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah yang paling mulia dan paling suci.  Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).    
  Seseorang yang mempunyai martabat akhlak  sempurna seperti  Nabi Besar Muhammad saw.   yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemulaian ruhani tertinggi (QS.62:3) tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..

Empat Macam Istilah “Dosa”: Junah, Jurm, Iitsm, dan Dzanb

  Sepatah kata sederhana dan polos  dzanb dalam ayat ذَنۡۢبِکَ telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan. Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi  Nabi Besar Muhammad saw.   terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya.
  Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. maka pada waktu itu diperintahkan supaya memohon perlindungan Allah Swt. terhadap dzanb  beliau saw. yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw..
  Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm)  yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, hal itu menunjukkan  bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
    Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka (dosa engkau), seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”; atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran  mengenai kisah   dua putra Adam (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
  Jadi, ayat yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — berupa Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh     kepada Nabi Besar Muhammad saw. --bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt.  dan manusia serta   fitnah-fitnah keji lainnya, akan terbukti palsu semua,  sebab segala macam orang  yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
   Atau, arti ayat لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- “supaya Allah melindungi engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang”  ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam lalu dosa mereka diampuni oleh Nabi Besar Muhammad saw. sesuai permintaan mereka sendiri, seperti Nabi Yusuf a.s. mengampuni kesalahan saudara-saudaranya (QS.12:92-93).
  Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa  jika dzanb dianggap berarti dosa.

Masih Mau’ud a.s. Menangkal Fitnah Terhadap Nabi Besar Muhammad saw.  di Akhir Zaman  Ini

  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya  baik tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – termasuk di Akhir Zaman ini   -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
  Di Akhir Zaman ini, tuduhan-tuduhan keji yang dilontarkan oleh para penentang Nabi Besar Muhammad saw. dan ajaran   Islam (Al-Quran) yang sempurna telah dijawab secara telak oleh pecinta sejati beliau saw.,  yaitu Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam upaya mewujudkan kejayaan Islam kedua kali di Akhir Zaman dengan cara-cara damai dan terhormat (QS.61:10)  serta menjadi “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), firman-Nya:
 ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾  
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [2]:3-5).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3 Desember  2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar