بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Makna “Maghfirah” (Pengampunan) Berkenaan
Nabi Besar Muhammad Saw.yang Disalah-tafsirkan
Para Penentang Islam
Bab 29
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih
Mau’ud a.s. mengenai
kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw., antara
lain beliau bersabda:
“Aku
bersaksi dengan penuh keyakinan bahwa keluhuran
kenabian telah mencapai puncaknya dalam diri Nabi Suci Saw.. Seseorang yang
melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan beliau dan mengemukakan kebenaran
yang berada di luar kenabian beliau
serta mengingkari kenabian tersebut
adalah seorang yang palsu dan pendusta.
Aku katakan secara tegas
bahwa siapa pun yang beriman kepada
seorang nabi setelah Nabi Suci Saw. dan memecahkan meterai kenabian beliau adalah orang
yang terkutuk. Tidak ada nabi baru yang bisa muncul setelah Nabi Suci Saw. yang tidak
mendapat pengesahan dari meterai Kenabian Muhammadi.
Umat Muslim yang menentang kita keliru, karena mereka meyakini akan kedatangan seorang nabi Israili yang akan memecah meterai kenabian. Aku
memaklumkan bahwa menjadi manifestasi
(perwujudan) kekuatan keruhanian Nabi
Suci Saw. dan kenabian beliau
yang bersifat abadi, yaitu setelah 1300 tahun setelah beliau akan
muncul Al-Masih yang Dijanjikan (Al-Masih
Mau’ud) sebagai anak didik beliau
dengan mengemban meterai kenabian
yang sama.
Kalau pandangan ini dianggap kafir maka biarlah aku menjadi kafir. Mereka yang penalarannya telah digelapkan dan tidak memperoleh karunia nur kenabian tidak akan
pernah bisa memahami hal ini serta
menganggapnya sebagai kafir, padahal
justru ini merupakan hal yang membuktikan
kesempurnaan Nabi Suci Saw. dan kehidupan
beliau yang kekal.” (Al-Hakam, 10 Juni 1905, hlm. 2).
Yang disinggung oleh Masih Mau’ud a.s. dalam kalimat “Umat Muslim yang menentang kita keliru,
karena mereka meyakini akan
kedatangan seorang nabi Israili yang
akan memecah meterai kenabian“
adalah kekeliruan mereka memaknai
sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.
tentang kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman sebagai
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili,
padahal dengan jelas Allah Swt. menyatakan dalam Al-Quran bahwa yang dimaksud adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11; Ulangan 18:18-19), sebab Nabi
isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah wafat
(QS.3:56 & 145; QS.21:35-36), lagi pula
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah rasulo Allah yang diutus hanya untuk Bani Israil saja (QS.3:50; QS.43:60;
QS.61:7)
Pentingnya Beriman dan Patuh-taat Kepada Nabi Besar Muhammad
Saw.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya umat manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.
serta mengikuti ajaran Al-Quran
yang beliau saw. amalkan,
firman-Nya:
اِنَّ
الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ
مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
karena kedengkian di antara mereka.
Dan barang-siapa kafir kepada
Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah
sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Semua agama yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa
menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi
dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam
Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi mencapai kesempurnaan,
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.
dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi, karena Islam merupakan agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4).
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama
Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti
yang sebenarnya. meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah, dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan
demikian telah terjadi. Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam
yang berhak disebut agama Allah,
dalam arti kata yang sebenarnya.
Semua agama yang benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli
adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim
dalam arti kata secara harfiah, tetapi
nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam
seginya karena nama itu
dicadangkan untuk syariat yang terakhir
dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (Q.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih
kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran
pada kamu dalam urusan agama,
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ
قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang
te-guhlah kepada Allah. Dia Pelindung
kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia
sendiri, dan (b) jihad melawan
musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri. Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad
dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allāh”. Nabi Besar
Muhammad saw. saw. telah menamakan jihad
yang pertama itu sebagai jihad besar
(jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad
kecil (jihad saghir).
Kata-kata
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- “Dia telah memberi
kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang
baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
Isyarat
dalam kata-kata “dan dalam Kitab ini”
ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran, yaitu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129).
Pentingnya Menjadi Muslim
yang Hakiki Penyebar Rahmat
Sehubungan dengan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kewajiban umat manusia untuk beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan menjadi Muslim yang hakiki, yakni
menjadi “umat terbaik” yang dijadikan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:14; QS.3:111), sebab dalam
agama Islam (Al-Quran) telah tercakup
semua kebenaran abadi yang terdapat
dalam agama-agama (Kitab-kitab suc) sebelumnya dalam kuantitas dan kuaitas
yang paling sempurna (QS.2:107; QS.5:4).
“Manusia
tidak perlu lagi mengikuti kenabian
dan Kitab-kitab yang datang sebelum Nabi Suci Saw. karena kenabian Muhammadi telah mencakup seluruh ajaran mereka, dimana semua kebenaran sudah terkandung di
dalam ajaran beliau. Tidak ada kebenaran
baru yang akan muncul setelah agama
Islam, karena semua kebenaran
telah tercakup di dalamnya.
Oleh karena itu semua kenabian berakhir dengan kenabian beliau sebagaimana seharusnya,
karena setiap hal yang ada awalnya
pasti ada akhirnya juga. Hanya saja kenabian Muhammadi tidak akan
berkekurangan dalam berkat. Kenabian ini jauh lebih berberkat dibanding semua kenabian lainnya. Dengan mengikuti
kenabian Muhammadi maka seseorang akan mudah mencapai Tuhan, dan dengan mengikutinya
maka seseorang akan dikaruniai rahmat
Ilahi berupa kasih Allah, dan kesempatan berbicara dengan-Nya lebih daripada ajaran sebelumnya.
Penganutnya yang sempurna
tidak akan disebut sebagai nabi
saja, karena akan merupakan penghinaan bagi kenabian
Muhammadi yang sempurna. Ia hanya bisa disebut sebagai pengikut dari Nabi Suci Saw. dan sebagai seorang nabi, keduanya pada saat yang bersamaan (nabi ummat).
Dengan cara demikian maka tidak ada penghinaan
bagi kenabian Muhammadi yang
sempurna, bahkan rahmatnya malah
menjadi bersinar lebih terang lagi.” (Al-Wasiyyat, Qadian, Magazine Press,
1905; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 311,
London, 1984).
Maksud ucapan Masih Mau’ud a.s. “Ia hanya bisa disebut sebagai pengikut dari Nabi Suci Saw. dan
sebagai seorang nabi, keduanya pada
saat yang bersamaan (nabi ummat)” mengisyaratkan kepada firman-Nya:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka
akan termasuk di antara orang-orang yang Allāh memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
Jenis kenabian tersebut disebut kenabian ummati atau buruzi
(bayangan) dari kenabian Nabi
Besar Muhammad saw.. Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi
mengenai pentingnya menjadi muslim
atau mukmin hakiki:
“Kami meyakini bahwa seseorang yang melenceng dari ajaran kaidah (hukum) Nabi
Suci Saw. walau pun sedikit adalah seorang kafir. Jika seseorang yang berpaling
dari ajaran Nabi Suci Saw. adalah seorang kafir,
bagaimana pula dengan seseorang yang mengaku
membawa ajaran baru atau akan mengubah Al-Quran dan Sunnah Rasul atau memansukhkan (membatalkan) salah satu kaidah (hukum)?
Menurut hemat kami yang
disebut sebagai mukminin (orang-orang beriman) adalah ia yang sepenuhnya mengikuti Al-Quran dan meyakininya sebagai Kitab yang terakhir diwahyukan, mematuhi ajaran Nabi Suci saw. sebagai ajaran yang abadi dan tidak akan mengubahnya walau sekecil apa pun, memfanakan (melarutkan) diri dalam mengikutinya, tidak menentangnya baik
dengan logika atau pun perilaku. Demikian itulah baru ia itu
disebut Muslim sejati.” (Al-Hakam, 6 Mei 1908, hlm. 5).
Makna Istighfar Nabi Besar Muhammad Saw.
Kemudian sehubungan dengan makna maghfirah yang Nabi Besar Muhammad saw.
sangat menekankan kepada kaum Muslimin untuk melakukannya -- dan
bahkan beliau saw. sendiri senantiasa melakukannya – Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Kebanyakan dari umat Kristiani karena tidak memahami realitas maghfirah, biasanya membayangkan seseorang yang sedang mencari maghfirah sebagai orang yang fasik dan berdosa. Jika direnungi secara mendalam pengertian maghfirah
akan jelas bahwa justru seseorang yang tidak mencari maghfirah dari Allah Yang
Maha Kuasa adalah seorang yang fasik
dan kotor.
Karena setiap kesucian yang murni merupakan anugrah dari-Nya dan hanya Dia saja
yang bisa membentengi seseorang dari
badai nafsunya, maka sewajarnyalah
bagi para hamba-Nya yang bertakwa untuk selalu mencari maghfirah dari Sang Maha Penjaga dan Maha
Pelindung.
Kalau kita mau mencari contoh padanan maghfirah dalam dunia nyata, contoh
yang terbaik dari maghfirah
adalah sebuah bendungan kuat perkasa guna menahan banjir. Karena semua kekuatan dan daya itu milik Allah Yang
Maha Perkasa, sedangkan manusia pada dasarnya lemah baik jasmani
maupun ruhaninya, sehingga harus
selalu mencari air guna kehidupan pohon dirinya dari Yang Maha Abadi, serta tidak bisa hidup tanpa rahmat-Nya, maka istighfar
menjadi suatu hal yang pokok dan esensial.
Sebagaimana sebuah pohon menjulurkan akarnya ke segala arah guna mencari sumber air dengan harapan agar kehijauan
daunnya tidak menggersang serta
saat berbunga dan berbuahnya tidak gagal, begitu jugalah
halnya dengan seorang yang bertakwa. Bagaimana caranya menjaga kehijauan ruhani serta pemeliharaannya melalui penyediaan air dari sumber mata air kehidupan yang haqiqi, dalam Kitab Al-Quran dikemukakan sebagai istighfar.
Renungkanlah isi Al-Quran dan bacalah dengan teliti
maka kalian akan menemukan realitas istighfar. Arti kata maghfirah dalam kamus bahasa adalah selimut pelindung terhadap nasib
buruk. Sebagai contoh, air
adalah unsur yang melindungi kekurangan pohon dan dengan demikian menjadi maghfirah.
Bayangkan keadaan sebuah taman yang tidak memperoleh air selama satu atau dua tahun, pastilah
keindahannya akan pupus dan tidak
akan bersisa lagi kehijauan dedaunannya.
Pohon-pohonnya tidak lagi menghasilkan bunga
atau pun buah. Inti batangnya pun
akan meranggas kering. Daun-daunnya yang hijau lembut akan mengering dan
berguguran, begitu pula ranting-rantingnya luruh seperti anggota tubuh seseorang yang terkena bala lepra. Mengapa semua ini terjadi?
Karena air yang menjadi penunjang hidupnya tidak lagi tersedia.
Keadaan demikian disiratkan dalam ayat:
..... کَلِمَۃً
طَیِّبَۃً کَشَجَرَۃٍ طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا
فِی السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾
Kalimah yang baik itu seperti sebatang pohon yang baik yang akarnya
kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau sampai ke langit’ (Ibrahim [14]:25).
Sebagaimana sebuah pohon yang baik tidak mungkin hidup
tanpa adanya air maka demikian
jugalah perkataan seorang bertakwa tidak akan bisa berkembang kecuali ada mata air murni yang menyegarkan akar-akarnya yang diisi dari arus istighfar. Karena itu kehidupan keruhanian seseorang amat
tergantung pada istighfar, dan melalui arusnya itu mata air yang
murni akan membasahi akar-akar
kemanusiaan serta menjaganya dari kekeringan
dan kematian.
Agama yang tidak mengemukakan filosofi
seperti ini jelas bukan agama yang berasal dari Allah Swt., dan seseorang yang mengaku sebagai nabi atau rasul atau
seorang yang bertakwa tetapi berpaling dari mata air ini jelas bukan berasal
dari Tuhan. Orang seperti itu bukan datang dari Tuhan tetapi dari syaitan yang akar katanya mengandung arti maut
(mati).
Barangsiapa yang tidak
berkeinginan menarik mata air itu ke
arah dirinya dan tidak mengisi mata air
ini dari arus istighfar guna menghijaukan taman ruhaninya, jelas ia
berasal dari syaitan. Untuk itu ia
akan mati karena tidak mungkin pohon
ruhaninya hidup tanpa air.
Mereka yang tinggi hati yang tidak menginginkan pohon ruhaninya berkembang subur dari mata air kehidupan ini adalah syaitan, dan akan merugi
sebagaimana juga syaitan. Tidak ada nabi muttaqi di dunia ini yang
mengingkari realitas istighfar dan tidak menginginkan kesegaran dari mata air tersebut.
Adalah suatu kenyataan
bahwa Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. telah lebih banyak memohon kesuburan ini dibanding siapa pun lainnya, dan karena itu Allah Swt. telah mengembangkan
beliau itu menjadi lebih subur
dan harum semerbak melebihi semua nabi-nabi lainnya.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. 9, hlm. 356-358,
London, 1984).
Hubungan Maghfirah dengan Genapnya Janji Kemenangan Islam
Berikut ini beberapa firman Allah Swt.
kepada Nabi Besar Muhammad saw.
berkenaan dengan perintah melakukan istighfar:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ
النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ
اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang
pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk
dalam agama Allah berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ -- Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat (A-Nashr
[110]:1-4).
Karena janji
Allah Swt. telah menjadi sempurna -- yakni “kemenangan yang dijanjikan“ --
dan manusia
mulai berduyun-duyun masuk Islam,
maka Nabi Besar Muhammad saw. di sini diperintahkan agar bersyukur
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya.
Dalam
ayat فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
-- "Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya” dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
bahwa karena kemenangan
telah datang kepada beliau saw. dan Islam telah berkuasa di
seluruh negeri serta musuh-musuh
dahulu telah menjadi pengikut beliau saw.
yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa
supaya Allah Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau
saw.. pada masa lampau.
Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah
kepada Nabi Besar Muhammad saw. supaya
memohon ampunan kepada Allah
Swt. وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ -- “dan mohonlah
ampunan-Nya.” Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan
supaya memohon perlindungan Ilahi
terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan insani (manusiawi) yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf
kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah
sangat bermakna bahwa manakala di dalam
Al-Quran disebutkan perihal kemenangan
atau perihal keberhasilan besar
lainnya datang kepada Nabi Besar
Muhammad saw. beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon
ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat
ini pun, beliau saw. diperintahkan agar memohon ampunan Allah Swt. dan perlindungan-Nya,
bukan bagi diri beliau saw. sendiri,
melainkan bagi orang-orang lain. Yaitu
Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan
agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran
Islam (QS.5:55; QS.32:6), semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, di sini sama sekali bukan berarti bahwa
Nabi Besar Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau sendiri. Sebab menurut
Al-Quran beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ
لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- dan mintalah
ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat
mereka terhadap engkau وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ
وَ الۡاِبۡکَارِ -- dan bertasbihlah dengan
pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi (Al-Mu’min
[40]:56).
Istighfar Merupakan Tuntutan Fitrat
Manusia
Ghafar al-Mata’a berarti: ia meletakkan
barang-barang itu dalam kantong lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya
isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti
kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu
berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Al-Mufradat).
Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman awam, melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan
pertama (orang-orang awam) membaca istighfar
untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat
buruk kesalahan dan kekeliruan yang
diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua (wujud-wujud suci) mohon perlindungan terhadap kealpaan
dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.
Nabi-nabi pun makhluk manusia dan walau mereka terpelihara
dari dosa, namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insani maka mereka memerlukan istighfar guna
memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Dalam salah satu hadits
diriwayatkan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. setiap hari beristighfar sebanyak 70 kali, dalam hadits lainnya diriwayatkan
sebanyak 100 kali.
Dzanbaka
dalam ayat وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- berarti: “dosa-dosa yang
diperbuat terhadap engkau”; “dosa-dosa
yang dituduhkan musuh-musuh engkau
seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu”; “kealpaan dan kelemahan engkau sebagai manusia”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau
di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ
نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ
صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan
Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas
engkau,dan memberi petunjuk kepada
engkau pada jalan yang lurus, وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا
-- Dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang per-kasa (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat
ini dengan sengaja disalahkemukakan,
atau karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah
(idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis
Kristen seakan mengandung arti bahwa
Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai
atau melakukan kesalahan-kesalahan akhlaki.
Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintahkan
oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak
mengatakan ataupun melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28).
Oleh karena
mereka diutus oleh Allah Swt. untuk membersihkan manusia dari dosa,
maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat
dosa, terelbih lagi dari antara
para utusan Allah Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang paling mulia dan paling suci.
Al-Quran mengandung banyak sekali
ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria mengenai
kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw. (QS.2:130;
QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4;
QS.68:5; dan QS.81:20-22).
Seseorang yang mempunyai martabat akhlak sempurna seperti Nabi Besar Muhammad saw. yang
telah mengangkat derajat seluruh
bangsa — yang telah tenggelam ke
dalam lubuk kejahatan akhlak sampai
ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemulaian
ruhani tertinggi (QS.62:3) tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
Empat Macam Istilah “Dosa”:
Junah, Jurm, Iitsm, dan Dzanb
Sepatah kata sederhana dan polos dzanb dalam ayat ذَنۡۢبِکَ telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan
akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi Nabi Besar
Muhammad saw. terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya.
Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan
dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah
sebabnya tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. maka pada
waktu itu diperintahkan supaya memohon perlindungan Allah Swt. terhadap dzanb beliau saw. yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas
besar beliau saw..
Kenyataannya,
bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang
memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang
disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm) yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, hal itu menunjukkan bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka (dosa engkau),
seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa
yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”; atau “dosa-dosa yang
diperbuat terhadap engkau.”
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain
dalam Al-Quran mengenai kisah dua
putra Adam (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku),
berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
Jadi, ayat yang sedang dibahas ini akan
berarti, sebagai akibat kemenangan besar
— berupa Perjanjian Hudaibiyah — itu,
semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh kepada
Nabi Besar Muhammad saw. --bahwa beliau
saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia serta fitnah-fitnah keji lainnya, akan
terbukti palsu semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw.
akan menjumpai kebenaran mengenai
beliau saw..
Atau, arti ayat لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ
-- “supaya Allah melindungi
engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau
di masa lalu dan di masa yang akan datang” ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan
diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab
menerima agama Islam lalu dosa mereka diampuni oleh Nabi Besar Muhammad saw. sesuai permintaan mereka sendiri, seperti Nabi Yusuf a.s. mengampuni
kesalahan saudara-saudaranya (QS.12:92-93).
Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini,
sebab anugerah kemenangan yang nyata
dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi
Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya
tidak mempunyai perhubungan apa pun
dengan pengampunan terhadap dosa-dosa
jika dzanb dianggap berarti dosa.
Masih Mau’ud a.s. Menangkal Fitnah
Terhadap Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir
Zaman Ini
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya baik tuduhan-tuduhan
yang dilemparkan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan
yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – termasuk di Akhir Zaman ini -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti
sama sekali suci dari noda itu.
Di Akhir
Zaman ini, tuduhan-tuduhan keji
yang dilontarkan oleh para penentang
Nabi Besar Muhammad saw. dan ajaran Islam (Al-Quran) yang sempurna telah dijawab secara telak oleh pecinta sejati beliau saw., yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
dalam upaya mewujudkan kejayaan Islam
kedua kali di Akhir Zaman dengan
cara-cara damai dan terhormat (QS.61:10) serta menjadi “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ
یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia
menganugerahkannya kepada siapa yang
Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai
karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[2]:3-5).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 3 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar