بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad.
Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Revolusi
Ruhani Paling Sempurna Melalui Pengutusan
Nabi Besar Muhammad Saw. &
Pewarisan Kembali “Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman Kepada Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Swa.
Bab 35
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai pewarisan nikmat kenabian
dan kerajaan
dari Bani Israil kepada Bani Ismail (umat Islam), antara lain
beliau bersabda mengenai pewarisan “Tanah
yang dijanjikan” (Palestina/Kanaan) dari kekuasaan golongan Ahli Kitab kepada umat Islam (QS.21:106-107) di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menuliskan dalam
Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ -- bahwa negeri itu akan diwarisi oleh
hamba-hamba-Ku yang shalih.
Sesungguhnya dalam hal ini ada
suatu amanat bagi kaum yang beribadah. وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡ -- Dan
Kami sekali-kali tidak mengutus
engkau melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam. قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ -- Katakanlah:
“Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku,
bahwasanya Rabb (Tuhan) kamu adalah
Tuhan Yang Esa, فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:106-109).
Yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina. Para pujangga Kristen
menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan
dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan". Isyarat dalam kata-kata “dalam kitab Daud” ditujukan kepada Mazmur
37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan
dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani
Israil.
Palestina tetap di tangan Kristen
hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat Umar bin Khaththab r.a., Khalifah ke-II Nabi
Besar Muhammad saw. Nubuatan yang terkandung dalam ayat 106 rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat
Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92
tahun, ketika di zaman peperangan salib
kekuasaan telah berpindah-tangan — hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa
kekuasaan barat yang disebut demokrasi,
negeri bernama Palestina itu sama
sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan negara Israil. Orang-orang Yahudi
kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah
yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran (QS.17:105).
Pewarisan Kembali “Negeri yang Dijanjikan” Kepada Umat Islam Melalui
Masih Mau’ud a.s.
Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja. Orang-orang
Islam telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat
— malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina
akan kembali menjadi milik Islam. Hal
ini merupakan keputusan Allah Swt.
dan tidak ada seorang pun dapat
mengubah keputusan Tuhan.
Namun bukan dengan cara kekerasan sebagaimana yang saat ini sedang berlangsung
di Timur Tengah, sebab cara-cara seperti itu bertentangan dengan ayat
selanjutnya: وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡ -- “ Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum
tertentu. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa
dunia telah diberkati, seperti
belum pernah mereka diberkati sebelum
itu, dan hal tersebut akan kembali terjadi melalui perjuangan Masih Mau’ud a.s. dan Jemaat beliau dengan pimpinan Khalifatul Masih (QS.24:56; QS.61:10). Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Demikian itulah yang
telah terjadi dan sekarang umat Muslim mewarisi tanah tersebut.
Semua nubuatan demikian selalu
diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan Ilahi. Nubuatan
demikian tidak sama dengan ramalan
astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau
serangan suatu bangsa kepada bangsa lain.
Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Quran serta beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah Saw. serta mencintai beliau dan menganggap beliau
itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua makhluk dan semua nabi, rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu
menikmati segala karunia nubuatan
tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa
atau Nabi Isa. Mereka akan diterangi oleh Nur Israili
dan menikmati karunia para nabi
turunan Ya’qub. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khātaman Nabiyīn dan betapa
agungnya Nur yang telah diperoleh
seorang hamba beliau yang lemah ini.
Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas Nabi Engkau dan
kekasih Engkau, Penghulu para nabi, sebaik-baik rasul dan Khātaman Nabiyīn, Muhammad dan para pengikut
serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.
Para ulama Kristen, para
Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah
mempertanyakan dimana berkat-berkat
tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Nabi Suci Saw.
bersama-sama dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya
hanya untuk umat Muslim dan dihalangi bagi umat dan penganut agama
lain?
Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami
telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan
kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada
para pencari kebenaran yang sudah
siap menjadi Muslim setelah
menyaksikan keunggulan agama Islam.
Dalam catatan kaki kedua[1], secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugrahkan berkat dan rahmat atas
umat Muslim, dan bagaimana Dia telah
menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang kejadian-kejadian
yang berada di luar kemampuan nalar
manusia.
Karena itu jika ada ulama
Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal
hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman
batinnya, begitu pula dengan bangsa
Arya serta para penganut agama
lain, kalau memang benar-benar ingin
mencari Tuhan maka menjadi kewajiban
bagi mereka -- sebagaimana para pencari
kebenaran lainnya -- untuk menanggalkan
seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat
keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran haqiqi maka datanglah
kepada kami sebagaimana laiknya seorang
yang miskin dan bersahaja serta
bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi (bertakwa) agar dengan perkenan Allah Swt. ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi
atas kefasikannya sendiri.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 274-275, London, 1984).
Penegasan Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran
Sebagai Sebagai Rasul Allah dan Kitab Suci dan Firman Tuhan yang Paling Sempurna
Dalam sabdanya berikut ini Masih Mau’ud a.s. mengemukakan alasan
mengapa hanya umat Islam
yang benar-benar mentaati
sepenuhnya Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71) yang berhak mewarisi kembali apa yang telah diwariskan Nabi
Besar Muhammad saw. kepada para pengikut sejati beliau saw. di zaman
awal:
“Kitab
Suci Al-Quran menyatakan secara tegas bahwa ia
adalah firman Allah dan bahwa Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw.
adalah nabi dan rasul-Nya yang benar,
yang kepadanya firman itu telah
diturunkan. Pernyataan ini jelas dikemukakan dalam ayat:
اللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۙ الۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ؕ﴿۲﴾ نَزَّلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ
Allah adalah Dzat Yang tak ada yang patut disembah
selain Dia, Yang Maha Hidup, Berdiri
sendiri dan Pemelihara bagi
semua. Dia menurunkan kepada engkau Kitab
yang mengandung kebenaran (Āli Imran [3]:3-4).
Begitu juga:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَکُمُ الرَّسُوۡلُ بِالۡحَقِّ مِنۡ
رَّبِّکُمۡ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepada kamu Rasul ini dengan membawa
kebenaran dari Rabb ( Tuhan) kamu (Al-Nisa [4]:171).
Begitu pula:
وَ بِالۡحَقِّ اَنۡزَلۡنٰہُ وَ
بِالۡحَقِّ نَزَلَ
Sesuai dengan kebenaran telah Kami menurunkannya dan dengan kebenaran
ia telah turun’ (Bani Israil [17]:106).
Di tempat lain:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَکُمۡ
بُرۡہَانٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکُمۡ نُوۡرًا مُّبِیۡنًا
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepada kamu keterangan nyata dari Rabb (Tuhan) kamu dan telah Kami
turunkan kepada kamu Nur yang terang benderang (Al-Nisā [4]:175).
Begitu pula:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ
جَمِیۡعَۨا
Katakanlah:
“Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian” (Al-A’rāf []7]:159).
Serta:
وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَ اٰمَنُوۡا بِمَا نُزِّلَ عَلٰی مُحَمَّدٍ وَّ ہُوَ الۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۙ کَفَّرَ عَنۡہُمۡ
سَیِّاٰتِہِمۡ وَ اَصۡلَحَ بَالَہُمۡ ﴿﴾
Akan hal orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan beriman kepada apa yang
telah diturunkan kepada Muhammad,
dan itu adalah kebenaran dari Rabb (Tuhan) mereka, Dia menghapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan membenahi segala urusan mereka (Muhammad
[47]:3).
Ada beratus-ratus ayat
yang menyatakan secara tegas bahwa Al-Quran
adalah firman Allah dan wujud yang terpilih Muhammad Saw.
adalah rasul-Nya yang benar, namun contoh beberapa ayat di
atas kiranya mencukupi. Kami ingin mengingatkan
kepada para lawan kami bahwa pernyataan-pernyataan
seperti itu tidak ada dikemukakan secara tegas dalam Kitab-kitab lainnya.
Kami mengharapkan dengan
sangat agar kaum Arya mau
menunjukkan dari Kitab Veda mereka
bahwa keempat Veda yang ada itu
memang menyatakan kalau isinya
memang benar merupakan firman Ilahi,
dan mengungkapkan kepada siapakah firman
tersebut diwahyukan dan kapan saatnya.
Untuk sebuah Kitab yang dikatakan berasal dari Tuhan menjadi keniscayaan bahwa mereka sanggup
mengemukakan pernyataan ini secara
tegas, karena mengakui sebuah kitab
sebagai berasal dari Tuhan padahal tidak ada indikasi yang membenarkannya
merupakan suatu hal yang kurang sopan.
Masalah kedua yang patut
dikemukakan, bahwa tidak saja Kitab Al-Quran menyatakan kalau ia berasal dari Allah dan bahwa Muhammad Saw. adalah rasul Allah, namun
juga memberikan dasar argumentasi
yang kuat atas pernyataan tersebut. Kami akan mengemukakan argumentasi-argumentasi ini secara berurutan, namun sekarang kami
akan mengemukakan argumentasi yang
pertama saja dulu, agar para pencari kebenaran bisa membandingkan Kitab Al-Quran dengan kitab-kitab
lainnya.
Kami juga mengundang para
lawan kami bahwa jika metoda pembuktian
ini memang membuktikan kebenaran
suatu kitab, dan hal ini juga terdapat dalam kitab-kitab mereka maka sepatutnyalah
mereka mengemukakannya dalam harian
atau jurnal terbitan mereka. Jika
tidak, maka kami terpaksa menyimpulkan
bahwa kitab-kitab mereka itu tidak mempunyai bukti kebenaran yang bermutu tinggi. Kami meyakini bahwa metoda pembuktian yang kami kemukakan tidak akan ditemukan dalam agama mereka. Kalau kami salah, silakan
tunjukkan kesalahan kami itu.
Revolusi
Akbar Melalui Nabi Besar Muhammad Saw.
“Argumentasi pertama yang dikemukakan Al-Quran agar manusia mau menerimanya sebagai Kitab yang benar dan Rasul-Nya
sebagai Rasul yang benar serta untuk
membuktikan bahwa ia memang berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, ialah Kitab
dan Rasul itu sepatutnya muncul pada saat dunia sedang dilanda kegelapan dimana manusia sudah menjadi penyembah berhala sebagai pengganti Ketauhidan Ilahi, mengikuti jalan kejahatan sebagai pengganti kesucian,
tenggelam dalam keangkaraan dan
meninggalkan keadilan, telah menjadi
demikian bodoh sehingga karenanya
amat membutuhkan seorang Pembaharu
dalam diri seorang Rasul.
Kemudian, Rasul tersebut akan meninggalkan dunia
ini ketika ia telah menyelesaikan
seluruh tugas pembaharuannya dengan cara yang indah dan terpelihara
dari segala musuhnya ketika ia
sedang melaksanakan tugasnya. Ia itu
sewajarnya muncul sebagai seorang pelayan dan berangkat di bawah perintah majikannya.
Singkat kata, sewajarnya
ia akan muncul di saat ketika manusia membutuhkan seorang Pembaharu Samawi dan membutuhkan bimbingan
sebuah Kitab, untuk kemudian dipanggil pulang berdasarkan wahyu yang diturunkan setelah ia selesai menanam pohon pembaharuan yang tertanam
teguh dan telah muncul revolusi akbar dalam keruhanian manusia.
Kami dengan bangga hati menyatakan, bahwa kecemerlangan yang menegakkan argumentasi ini yang mendukung kebenaran Al-Quran dan Penghulu kita Nabi Suci Saw., nyatanya tidak
ada terdapat pada nabi-nabi lain
atau pun Kitab-kitab lain.
Pengakuan dari Nabi Suci Saw. adalah bahwa beliau diutus kepada seluruh umat manusia dan karena itu Al-Quran menyalahkan secara keseluruhan manusia
yang terlibat dalam paganisme, kejahatan dan kefasikan sebagaimana ayat:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan apa yang telah diusahakan oleh tangan manusia (Al-Rūm [30]:42),
kemudian mengemukakan:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam’ (Al-Furqān [25]:2).
Dengan kata lain,
ditugaskan kepada Nabi Suci Saw.
untuk mengingatkan umat manusia
bahwa karena kelakuan mereka serta aqidah yang salah, mereka itu dianggap sebagai sangat berdosa dalam pandangan Allah
Yang Maha Kuasa. Kata Pemberi peringatan dalam ayat ini berkaitan
dengan seluruh umat manusia dan jika
dikatakan bahwa peringatan ini bagi
para pendosa dan pelaku kejahatan, maka berarti Al-Quran menyatakan kalau seluruh dunia ini telah menjadi busuk dimana setiap orang telah meninggalkan jalan kebenaran dan amal
saleh.
Yang namanya peringatan dengan sendirinya hanya ditujukan kepada mereka yang fasik dan bukan kepada mereka yang berperilaku baik. Semuanya memahami
bahwa yang diberi peringatan adalah
mereka yang jahat dan tidak beriman, karena demikian itulah cara Allah Swt. mengutus nabi untuk membawa kabar gembira bagi umat yang saleh dan sebagai Pemberi
peringatan kepada mereka yang jahat.
Jika dikatakan bahwa
seorang nabi ditugaskan sebagai Pemberi
peringatan bagi seluruh dunia, maka patut disadari kalau
berdasarkan wahyu yang diturunkan
kepada nabi tersebut bahwa seluruh dunia
telah terlibat dalam tindakan yang menyimpang dari kebenaran.
Pernyataan seperti ini tidak terdapat dalam Kitab Taurat berkenaan dengan Nabi Musa a.s. dan tidak juga dalam
Kitab Injil berkenaan dengan Nabi
Isa a.s. dan hanya bisa ditemukan di dalam Al-Quran
saja, ketika difirmankan:
وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ
Dan kamu dahulu
telah berada di pinggir lubang api (Āli Imran [3]:104),
yang dimaksud adalah bahwa sebelum kedatangan Nabi Suci Saw. umat manusia telah berada di tubir neraka.
Umat Yahudi dan Kristiani diingatkan bahwa mereka telah menyelewengkan Kitab-kitab Allah dan
telah membawa manusia kepada segala
rupa kejahatan dan perilaku salah. Adapun para penyembah berhala diingatkan bahwa
mereka telah menjadi penyembah bebatuan,
manusia, bintang-bintang serta unsur-unsur
alam sehingga mereka melupakan Sang
Maha Pencipta yang Sejati. Begitu juga dengan mereka yang memakan harta anak yatim, membunuh anak-anak serta mencurangi serikat usahanya sendiri dan
melakukan pelanggaran melampaui batas
dalam segala hal. Difirmankan bahwa:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ
Ketahuilah
bahwasanya Allah menghidupkan bumi
sesudah matinya (Al-Hadid [57]:18),
mengandung arti bahwa seluruh
dunia ini sudah mati dan
sekarang akan dihidupkan kembali oleh
Allah Swt..
Singkat kata, Kitab Suci Al-Quran menyatakan bahwa seluruh dunia sudah berperilaku salah, manusia sudah
menjadi penyembah berhala, umat Yahudi dan Kristiani menjadi akar
dari segala keburukan dan berbagai
macam dosa. Al-Quran memberikan
gambaran kerusakan dunia yang padanannya tidak ada pada masa lain
kecuali hanya pada masa Nabi Nuh a.s..
Kami hanya mengutip
beberapa ayat saja dan mengharapkan para pembaca sudi kiranya mempelajari
sendiri Al-Quran secara tekun guna menemukan bagaimana Al-Quran ini telah
menyatakan secara tegas bahwa seluruh
dunia saat itu sudah dalam keadaan
busuk dan mati serta manusia
sudah berada di tubir neraka.
Kitab ini mengingatkan Nabi Suci Saw. untuk memberi peringatan kepada seluruh dunia, bahwa mereka itu berada
dalam keadaan yang gawat. Telaah
atas Kitab Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa seluruh dunia sedang tenggelam
dalam paganisme, kedurhakaan, segala bentuk dosa dan terbenam dalam sumur kejahatan.
Memang benar bahwa Kitab Injil ada menyatakan kalau umat Yahudi telah menyimpang,
tetapi tidak ada menyebut bahwa seluruh
dunia sudah membusuk dan mati karena dipenuhi dengan paganism dan perbuatan dosa. Nabi Isa
a.s. pun tidak ada memberikan pengakuan
bahwa beliau adalah Rasul bagi seluruh dunia. Beliau hanya berbicara
kepada umat Yahudi yang merupakan bangsa yang kecil jumlahnya dan tinggal di desa-desa dalam jarak pandang Nabi
Isa a.s.
Adapun Al-Quran
mengemukakan mengenai kematian seluruh
dunia dan menguraikan kondisi buruk semua bangsa.
Umat Yahudi memang keturunan nabi-nabi
dan menyatakan beriman kepada Kitab Taurat, tetapi perilaku mereka tidak sejalan dengan Kitab
tersebut, bahkan ketika di masa Nabi
Suci Saw. akidah mereka pun
sudah melenceng jauh.
Ribuan manusia lalu
menjadi atheis dan ribuan lagi yang menyangkal adanya wahyu, sedangkan segala macam perilaku
dosa menjadi marak di muka bumi.
Nabi Isa a.s. ada menyatakan perilaku
jahat umat Yahudi yang merupakan bangsa
yang jumlahnya kecil dengan tujuan
memberitahukan bahwa umat Yahudi saat itu sedang membutuhkan seorang Pembaharu. Namun argumentasi yang kami ajukan berkaitan
dengan Hadhrat Rasulullah Saw. ialah beliau itu datang di saat dunia dalam keadaan rusak dan dipanggil kembali setelah menegakkan pembaharuan secara sempurna.
Kedua aspek ini dikemukakan secara jelas dalam Al-Quran guna menarik perhatian manusia mengenai hal tersebut, dan
yang pasti hal seperti ini tidak ada
ditemukan dalam Kitab Injil atau
pun Kitab-kitab lainnya. Argumentasi
tersebut dikemukakan sendiri oleh Al-Quran dan Kitab ini menyatakan bahwa
kebenaran dirinya dikuatkan oleh kedua aspek tadi.
Kitab ini muncul ketika perilaku manusia telah menyimpang dan akidah-akidah palsu telah merebak
ke seluruh muka bumi, sehingga dunia jadi melenceng jauh dari kebenaran dan realitas Ketauhidan Ilahi. Penegasan Al-Quran tentang hal ini diteguhkan oleh hasil studi komparative sejarah. Ada banyak bukti-bukti berupa pengakuan orang-orang yang menyatakan bahwa masa itu begitu penuh dengan kegelapan
dimana setiap orang cenderung menyembah
makhluk lainnya, sehingga ketika Al-Quran
menuduh mereka telah durhaka dan
berdosa, tidak ada satu pun yang
bisa membuktikan kebersihan dirinya.
Perhatikanlah betapa
tegasnya Allah Yang Maha Perkasa
berbicara tentang kejahatan para ahli Kitab serta tentang kematian seluruh dunia. Dinyatakan
dalam ayat:
وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ
الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ
Bahwa mereka
hendaknya tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi Kitab sebelum mereka, melainkan karena masa penganugrahan karunia Allah kepada
mereka diperpanjang bagi mereka, hati mereka
menjadi keras dan kebanyakan mereka
menjadi durhaka. Ketahuilah bahwasanya Allah
menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kepada kamu supaya kamu dapat mengerti’ (Al-Hadid [57]:17-18).
Ayat ini mengandung arti
bahwa orang-orang beriman diingatkan agar jangan berperilaku seperti para ahli Kitab yang telah memperoleh Kitab-kitab Ilahi sebelum mereka, tetapi karena lamanya perjalanan waktu lalu hati mereka menjadi keras dan sebagian besar dari mereka lalu mendurhaka dan menjadi jahat. Mereka diingatkan bahwa dunia sudah mati dan sekarang akan dihidupkan kembali. Inilah tanda-tanda tentang perlunya Al-Quran serta kebenarannya agar kalian mau mengerti.
Sekarang kalian tentunya
menyadari, bahwa kami tidak ada mengajukan argumentasi
ini dari hasil fikiran kami sendiri, melainkan Al-Quran sendirilah yang mengemukakannya dimana setelah mengajukan kedua aspek dari argumentasi lalu menyatakan kalau semua itu merupakan tanda-tanda yang mendukung kebenaran Nabi Suci Saw. dan Kitab Al-Quran itu sendiri, dengan
tujuan agar kalian menyadari dan
menemukan realitasnya.
Bagian kedua dari argumentasi tadi bahwa Hadhrat
Rasulullah Saw. akan dipanggil pulang
dari dunia kembali kepada Tuhan beliau pada saat beliau telah selesai melaksanakan tugas, juga dinyatakan secara tegas dalam Kitab Al-Quran pada ayat:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agama kamu bagi manfaatmu
dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku
atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam
sebagai agama’ (Al-Maidah [5]:4).
Yakni, bahwa “dengan diwahyukannya Al-Quran dan
telah direformasinya umat manusia maka keimanan kamu telah sempurna serta
karunia Ilahi telah disempurnakan bagimu dan Tuhan telah memilih Islam sebagai
agamamu.” Ayat ini merupakan indikasi kalau pewahyuan Al-Quran sudah selesai dan Kitab ini telah membawa perubahan yang luar biasa dalam hati manusia dengan kesempurnaan
petunjuk dan bahwa karunia Ilahi
telah disempurnakan bagi umat Muslim.
Inilah kedua aspek yang menjadi tujuan dari diutusnya seorang Rasul. Ayat tersebut menegaskan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. tidak akan meninggalkan hidup ini sampai Islam telah disempurnakan melalui diwahyukannya
Al-Quran serta pemberian petunjuk yang patut bagi umat Muslim. Semua itu merupakan Tanda
Ilahi yang tidak akan diberikan kepada seorang
nabi palsu.
Sesungguhnya sebelum Nabi Suci Saw. tidak ada nabi lain yang berhasil memperlihatkan bahwa Kitab
yang dibawanya telah selesai dengan sempurna, dan umatnya telah memperoleh petunjuk
yang lengkap serta musuh-musuhnya telah dikalahkan,
sebagaimana Islam yang unggul di segala penjuru.
Di tempat lain dinyatakan:
اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ
رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ
دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا٪﴿﴾
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah
dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah
kesucian Rabb (Tuhan) engkau dengan puji-pujian-Nya
dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali
dengan rahmat-Nya (Al-Nashr
[110]:2-4).
Berarti
bahwa “pertolongan dan kemenangan yang telah dijanjikan telah datang dan engkau
telah melihat, wahai Rasul, bahwa manusia berduyun-duyun masuk ke dalam Islam,
maka agungkan dan pujilah Tuhan karena sebenarnya apa yang telah terjadi itu bukanlah hasil kerja engkau sendiri
melainkan berkat rahmat dan karunia
Allah Swt., karena itu sembahlah
Allah dan beristighfar karena Dia selalu kembali bersama rahmat-Nya.”
Jika para nabi diperintahkan untuk beristighfar tidaklah berarti bahwa mereka memohon pengampunan sebagaimana laiknya
orang yang berdosa. Pada keadaan para nabi tersebut beristighfar merupakan pengakuan dari ketiadaan arti diri, kerendahan
hati, kelemahan dan cara terhormat untuk memohon pertolongan.
Sebagaimana ayat-ayat
itu menegaskan bahwa tujuan dari
kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw.
telah terpenuhi dimana beribu-ribu orang telah memeluk Islam, tetapi juga merupakan indikasi telah dekatnya waktu wafat beliau (beliau wafat dalam waktu satu tahun
setelah diterimanya wahyu ini), maka wajar kalau wahyu ini telah memberikan kegembiraan
kepada Nabi Suci Saw., tetapi juga
menimbulkan kekhawatiran tentang
bagaimana masa depan pengairan dari taman yang telah ditanaminya.
Karena itu Allah Yang Maha Agung untuk mencairkan kekhawatiran tersebut telah menyuruh Hadhrat Rasulullah Saw. agar
beliau beristighfar. Pengertian dari
‘maghfirat’ adalah menyelimuti seseorang
agar selamat dari segala bencana. Arti kata ‘mighfar’ adalah ketopong atau helm.
Dengan demikian istighfar berarti agar bencana yang ditakuti atau dosa
yang diperkirakan, akan ditutupi dan
dicegah sebelum mewujud.
Dalam keadaan ini kata
itu ditujukan untuk memberikan ketenteraman
hati kepada Nabi Suci Saw. agar
beliau tidak perlu berduka atas kelangsungan agama Islam, karena Allah
Swt. tidak akan membiarkannya hancur
serta akan selalu kembali dengan
rahmat-Nya dan akan menahan segala
kerugian yang ditimbulkan oleh adanya kelemahan
manusia.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld.IX, hlm. 333-356, London,
1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 9 Desember 2015
[1]
Berkaitan dengan catatan kaki ke 2 dalam Brahin-i-
Ahmadiyah di halaman 293 Ruhani Khazain jld.
I. (Penerbit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar