بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Nabi Besar Muhammad
Saw. Mengalami Lima Kali Bahaya Maut & Kesempurnaan
Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam “Kondisi Sempit” Mau pun “Kondisi Lapang”
Bab 37
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai keteguhan
Nabi Besar Muhammad saw. menghadapi resiko
berbahaya dalam mengemukakan haq
(kebenaran) yakni ajaran Islam
(Al-Quran), selanjutnya beliau bersabda:
“Hadhrat
Rasulullah Saw. selalu bersikap lugas
dan selalu siap menyerahkan nyawa beliau
bagi Tuhan-nya. Beliau tidak ada
bertumpu kepada harapan atau pun ketakutan kepada manusia dan hanya mengimani
Allah semata. Karena mengabdi
sepenuhnya kepada keinginan dan petunjuk Ilahi, beliau tidak gentar
menghadapi bencana apa pun yang
dihadapi serta kesulitan yang
ditimbulkan oleh kaum kafir dalam
menyampaikan Ketauhidan Ilahi.
Beliau memikul semua kesulitan
dan melaksanakan perintah Tuhan-nya
serta memenuhi semua persyaratan dan cegahan yang ditetapkan dalam ajaran
beliau. Beliau tidak menghiraukan ancaman
yang dilontarkan manusia. Sesungguhnya,
dari semua nabi, tidak ada seorang
pun yang demikian yakinnya kepada
Tuhan-nya dalam setiap ancaman
bencana ketika sedang mengajar umat
dalam menghapuskan paganisme dan penyembahan makhluk. Begitu juga tidak
ada yang demikian teguh hatinya
seperti beliau.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 111-112, London, 1984).
Bantuan
Ilahi Bagi Nabi Besar Muhammad Saw.
Di dalam Al-Quran Allah Swt.
berfirman mengenai munculnya kemudahan
setelah menghadapi kesulitan, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ
وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ
اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ رَفَعۡنَا لَکَ
ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾ فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ
یُسۡرًا ؕ﴿﴾ فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾ وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, dan Kami
menghilangkan dari engkau beban engkau, yang nyaris
mematahkan punggung engkau? Dan
Kami meninggikan untuk engkau sebutan
engkau. فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- Maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka apabila
engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang
lain, وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- dan
kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh. (Al-Insyirah [94]:1-9).
Ayat 2 sampai dengan ayat 4 merupakan gambaran lain beratnya
amanat syariat Islam yang didilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., yang mengenai hal tersebut
digambarkan bahwa seluruh langit, bumi dan gunung-gunung menolak dan takut untuk “memikulnya” (QS.33:73-74). Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sulit
membayangkan segala bencana dan kesulitan yang dialami Hadhrat
Rasulullah Saw. selama 13 tahun pertama dalam kehidupan beliau di Mekkah. Hati kita menjadi gemetar membayangkannya. Semua kesulitan itu menunjukkan betapa tinggi
keteguhan hati, belas kasih dan kebulatan
tekad beliau. Beliau itu seolah gunung
keteguhan yang tidak bisa digoyang oleh kesulitan macam apa pun. Tidak juga beliau mengendurkan sesaat pun pelaksanaan tugas beliau dan tidak juga beliau bersedih hati. Tidak ada kesusahan
yang bisa melemahkan tekad beliau.
Beberapa orang yang tidak
mengerti bertanya, mengapa beliau harus menghadapi segala musibah dan kesulitan
tersebut jika beliau memang benar kekasih
dan pilihan Tuhan? Aku akan
mengatakan kepada mereka, bahwa air yang murni tidak akan didapat
sebelum menggali tanah sedalam
beberapa meter. Hanya dengan cara itulah dapat diperoleh air murni yang menjadi penopang kehidupan.
Dengan cara yang sama maka kegembiraan di jalan Allah Yang Maha Kuasa hanya bisa diperoleh melalui keteguhan dan kekerasan hati di bawah kesulitan
dan musibah. Mereka yang belum
pernah mengalaminya tidak akan bisa membayangkan
dan merasakan kegembiraan tersebut.
Mereka tidak menyadari
bahwa ketika Hadhrat Rasulullah Saw. harus mengalami segala penderitaan itu, sesungguhnya ada mata air kegembiraan dan kenyamanan yang meluap di hati beliau, sehingga keimanan dan keyakinan beliau kepada Tuhan
dan kepada kecintaan Tuhan serta bantuan Ilahi menjadi lebih kuat.” (Malfuzat, jld. II, hlm.
307-309).
Kemudian sehubungan dengan ayat فَاِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan” (QS.94:6-7) Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Apakah
bukan suatu hal yang ajaib bahwa seorang anak yatim yang miskin, tidak berdaya, tidak
memiliki kekuatan, tidak terpelajar
dan sendirian di tengah bangsa yang kaya di bidang keuangan,
kekuatan militer dan intelektual, tetapi bisa membawa ajaran yang demikian cemerlang sehingga mampu membungkam semua orang dengan argumentasinya yang bersifat konklusif (lengkap) dan bukti-buktinya yang nyata?
Beliau menunjukkan kesalahan-kesalahan dari mereka yang dianggap sebagai filosof besar. Beliau telah
memperlihatkan kekuasaan sedemikian
rupa yang dapat menurunkan seorang
penguasa dari tahtanya dan menaikkan seorang miskin sebagai
penggantinya. Kalau ini bukan bantuan
Ilahi, lalu apa namanya ini?
Mungkinkah seseorang mampu mengalahkan seluruh dunia dalam penalaran, pengetahuan
dan kekuatan tanpa bantuan Ilahi sama sekali? Siapakah
yang menyertai Hadhrat Rasulullah
Saw. ketika beliau pertama kali mengumumkan
kepada bangsanya bahwa beliau adalah
seorang nabi?
Apakah ada pada beliau itu
harta benda berupa kekayaan raja-raja yang bisa diandalkan dan digunakan untuk
menghadapi seluruh dunia atau pasukan angkatan perang yang bisa mengamankannya dari serangan raja-raja lain? Bahkan para lawan kita juga mengakui kalau pada saat itu Hadhrat Rasulullah Saw. berdiri sendiri, tanpa daya dan tanpa memiliki apa pun. Hanya Tuhan
saja Yang telah menciptakan beliau
untuk tujuan mulia, dan Dia juga yang menjadi Sahabat dan Penolong beliau.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I. hlm. 119-120,
London, 1984).
Nabi Besar
Muhammad Saw. Lima Kali Mengalami Bahaya
Maut
Mengenai perlindungan
Allah Swt. terhadap Nabi Besar Muhammad saw.
ketika bahaya maut mengancam
beliau saw., Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Dalam
sejarah kehidupan beliau ada
sebanyak 5 kali nyawa Hadhrat
Rasulullah Saw. terancam secara
serius, dimana jika beliau bukan
seorang nabi Allah yang benar, pasti
beliau sudah binasa karenanya. Salah satunya adalah kejadian ketika kaum kafir Quraish mengepung rumah beliau
dan bersumpah akan membunuh beliau malam itu juga.
Kejadian kedua adalah saat
para pengejar dalam jumlah besar
tiba di mulut sebuah gua dimana di
dalamnya beliau berlindung bersama Hadhrat Abu Bakar r.a..
Kejadian ketiga ialah
ketika beliau tertinggal seorang diri
dalam perang Uhud dimana kaum
Quraish mengepung beliau dan mencoba menyerang secara bersama namun mereka
digagalkan dalam upayanya.
Kejadian keempat ialah
saat seorang wanita Yahudi
memberikan kepada beliau sepinggan
daging untuk dimakan yang sebelumnya telah dilumuri racun yang mematikan.
Kejadian kelima adalah ketika Khusro Pervaiz, Kaisar Persia,
bermaksud membinasakan beliau dan
telah mengirimkan sejumlah utusan untuk menangkap beliau.
Keselamatan beliau dari semua keadaan musibah tersebut serta kemenangan
akhir beliau atas semua musuh-musuh,
merupakan bukti yang meyakinkan
bahwa beliau memang seorang yang bertakwa dan Allah Swt. selalu beserta beliau.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain,
jld, XXIII, hlm. 263-264, London, 1984).
Kemuliaan
Akhlak Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Kondisi Sempit dan Lapang
Sehubungan
dengan “suri teladan terbaik”
Nabi Besar Muhammad saw. yang dikemukakan
Allah Swt. dalam QS.33:22 Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Nabi-nabi dan orang-orang suci dibangkitkan Allah Swt.. agar manusia bisa mencontoh perilaku akhlak mereka serta membimbing
manusia teguh di jalan yang benar sejalan dengan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa mereka selalu memperlihatkan sifat-sifat akhlak yang mulia pada
saatnya yang tepat, sehingga bisa dicapai tingkat efektivitas yang terbaik.
Sebagai contoh, sifat memaafkan adalah suatu hal yang
patut dipuji, ketika ia yang teraniaya lalu memiliki
kekuatan (kemampuan) untuk membalas dendam namun tidak
dilakukannya. Kesalehan adalah sifat yang baik kalau dilaksanakan
ketika seseorang memiliki segalanya
untuk memuaskan dirinya.
Rencana Tuhan berkaitan dengan para
nabi dan orang-orang suci adalah
agar mereka itu memperlihatkan dan menegakkan semua bentuk dari sifat-sifat akhlak yang mulia. Guna
memenuhi rencana demikian maka Allah
Swt.. membagi kehidupan mereka dalam dua bagian.
Bagian pertama kehidupan mereka dilalui dalam kesengsaraan dan berbagai penderitaan dimana mereka itu disiksa dan dianiaya, melalui tahapan ini mereka akan memperlihatkan akhlak luhur yang hanya bisa
dikemukakan pada saat keadaan sedang sulit. Bila mereka ini tidak diharuskan menjalani kesulitan
yang besar maka sukar untuk
menegaskan bahwa mereka benar-benar tetap
setia kepada Tuhan-nya dalam segala kesulitan
serta tetap teguh maju terus dalam upayanya.
Mereka bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa mereka telah dipilih-Nya sebagai sosok yang patut
teraniaya di jalan Allah. Tuhan Yang
Maha Agung mendera mereka dengan
segala cobaan agar terlihat jelas
bagaimana manifestasi keteguhan hati
dan kesetiaan mereka kepada Tuhan mereka.
Dalam hal ini sebagaimana
dalam peribahasa, nyata bahwa keteguhan
hati (istiqamah) itu lebih tinggi nilainya daripada mukjizat (karamah). Keteguhan hati yang sempurna tidak akan terlihat jika tidak ada kesulitan besar yang dihadapi, dan hanya bisa dihargai jika orang tahu bahwa yang bersangkutan memang telah mengalami goncangan yang dahsyat.
Semua musibah tersebut merupakan berkat ruhani bagi para nabi dan orang-orang suci karena melalui hal itulah sifat-sifat mulia mereka yang tidak
ada tandingannya menjadi nyata,
dan derajat mereka akan ditinggikan di akhirat. Bila mereka tidak ada mengalami cobaan yang berat maka mereka tidak akan memperoleh berkat-berkat tersebut, tidak juga sifat mulia mereka menjadi tampak kepada umat manusia.
Keteguhan hati, kesetiaan
dan keberanian mereka tidak akan
diakui secara universal. Mereka itu
menjadi tiada tara dan tanpa tandingan serta demikian berani dan sempurna, sehingga masing-masing dari mereka itu sepadan dengan 1000
singa yang berada dalam satu
tubuh atau 1000 harimau dalam satu kerangka. Dengan cara
demikian itulah kekuatan dan kekuasaan mereka menjadi suatu yang diagungkan dalam pandangan manusia, dan
mereka mencapai tingkatan tinggi
dalam kedekatan kepada Allah Swt..
Penampakan Akhlak Mulia
Dalam Kondisi Lapang
Bagian kedua dari kehidupan
para nabi dan orang-orang suci adalah saat kemenangan,
derajat mulia dan kekayaan dilimpahkan kepada mereka,
dimana pada saat itu pun mereka akan memperlihatkan akhlak mulia mereka yang memang efektif pada saat mereka menggenggam kemenangan, kekayaan dan
kekuasaan.
Mengampuni mereka yang tadinya menyiksa,
bersabar hati terhadap para penganiaya, mencintai musuh, tidak
mencintai kekayaan atau bangga terhadapnya, membuka gerbang berkat dan kemurahan
hati, tidak menjadikan kekayaan
sebagai sarana pemuas diri, tidak
menjadikan kekuasaan sebagai alat penindasan, semuanya itu merupakan sifat-sifat mulia, dengan persyaratan bahwa yang bersangkutan
memang sedang memiliki kekuasaan dan
kekayaan. Para nabi
dan orang-orang suci itu malah akan
memperlihatkan semua sifat mulia itu
saat mereka telah memiliki kekuasaan
dan kekayaan.
Kedua bentuk sifat-sifat akhlak mulia tersebut tidak mungkin dimanifestasikan (diwujudkan) tanpa
melalui tahapan kesulitan dan cobaan serta tahapan kekuasaan dan kemakmuran. Kebijaksanaan
yang sempurna dari Allah Swt. mengharuskan
bahwa para nabi dan orang-orang suci diberikan kedua bentuk kesempatan tersebut, yang
sebenarnya merupakan realisasi ribuan
berkat. Hanya saja urut-urutan
dari kondisi demikian tidak akan sama bagi setiap orang.
Kebijakan Ilahi menentukan bahwa beberapa orang akan mengalami periode kedamaian dan kenyamanan
mendahului periode kesulitan,
sedangkan pada yang lainnya dimulai dengan periode
kesulitan sebelum datangnya pertolongan
Tuhan. Dalam beberapa kejadian kondisi demikian tidak terlalu jelas perbedaannya sedangkan pada yang lainnya dimanifestasikan secara sempurna.
Berkaitan dengan hal ini,
yang paling menonjol adalah Hadhrat Rasulullah Saw. karena kedua kondisi itu dikenakan secara sempurna atas wujud beliau sedemikian
rupa, sehingga sifat akhlak beliau menjadi bersinar
cemerlang laiknya matahari, dan semua itu tercermin dalam ayat:
وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ ﴿۴﴾
Sesungguhnya
engkau benar-benar memiliki akhlak luhur (Al-Qalam [68]:5).
Jika dinilai bahwa Hadhrat
Rasulullah Saw. adalah sempurna di
dalam kedua bentuk sifat akhlak melalui
pembuktian di atas, maka melalui itu
dibuktikan juga keluhuran akhlak para nabi
lainnya, dan dengan demikian telah meneguhkan kenabian mereka, kitab-kitab yang mereka bawa serta kenyataan bahwa mereka semua adalah kekasih Allah Swt.. Pendapat ini memupus keberatan sebagian
orang akan akhlak Nabi Isa a.s. yang
dianggap tidak cukup sempurna
menghadapi kedua kondisi tersebut.
Kemuliaan Akhlak Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tidak
Teruji Secara Lengkap Dalam Dua Kondisi yang Berbeda
Memang benar bahwa Nabi
Isa a.s. menunjukkan keteguhan hati
dalam keadaan kesulitan, hanya saja
bentuk kesempurnaan akhlak tersebut
baru akan terlihat sempurna jika
saja pada saat itu Nabi Isa
memperoleh kekuasaan dan keunggulan di atas para penganiaya beliau dan beliau kemudian mengampuni mereka dari lubuk hati yang
paling dalam, sebagaimana halnya perlakuan
Hadhrat Rasulullah Saw. terhadap penduduk
Mekah saat kota itu takluk
kepada umat Muslim.
Penduduk kota Mekah
memperoleh pengampunan penuh kecuali
beberapa orang yang ditetapkan Tuhan
harus menjalani hukuman karena kejahatan mereka yang luar biasa.
Hadhrat Rasulullah Saw. setelah mencapai kemenangan
malah mengumumkan:
لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ
Tidak akan ada
yang menyalahkan kalian pada hari ini.
Karena adanya pengampunan demikian yang semula
dianggap mustahil dalam pandangan
para musuh beliau, dimana tadinya
mereka merasa patut dihukum mati
atas segala kejahatan mereka, maka beribu-ribu orang lalu baiat ke dalam agama Islam dalam jangka waktu bilangan
jam saja.
Keteguhan hati Hadhrat Rasulullah Saw. yang diperlihatkan dalam jangka waktu panjang di bawah penganiayaan mereka, di mata mereka
menjadi cemerlang bercahaya seperti matahari. Sudah menjadi fitrat manusia bahwa keagungan dari keteguhan hati seseorang menjadi nyata saat yang bersangkutan mengampuni para penganiayanya ketika ia kemudian memperoleh kekuasaan di atas mereka. Karena itulah sifat luhur akhlak Nabi Isa a.s. di bidang keteguhan, kelemah-lembutan
dan daya tahan tidak terlihat
sepenuhnya sebab tidak jelas, apakah
keteguhan sikapnya itu karena pilihan sendiri atau memang karena terpaksa.
Nabi Isa a.s. tidak
sempat memperoleh kekuasaan di atas
para penganiaya beliau, sehingga
tidak bisa dibuktikan apakah beliau memang kemudian akan mengampuni para musuhnya atau memilih mengambil pembalasan dendam atas diri mereka
itu. Berbeda dengan keadaan Nabi Isa a.s., sifat mulia dari Hadhrat
Rasulullah Saw. telah diperlihatkan dalam ratusan kejadian dan kenyataannya bersinar terang seperti sang surya.
Sifat-sifat seperti murah hati, welas asih, pengurbanan,
keberanian, kesalehan, kepuasan hati atas apa yang ada serta menarik diri dari
duniawi, semuanya itu jelas sekali
pada sosok Nabi Suci Saw. dibanding
dengan nabi-nabi lainnya. Allah Yang Maha Kaya menganugrahkan harta benda yang amat banyak kepada Hadhrat Rasulullah Saw. dan beliau membelanjakannya semua di jalan Allah dan tidak ada sekeping mata
uang pun yang digunakan untuk kepuasan
diri sendiri.
Beliau tidak ada
mendirikan bangunan megah atau istana untuk diri sendiri dan tetap
saja hidup di sebuah gubuk tanah liat
yang tidak berbeda dengan rumah kediaman
umat yang paling miskin. Beliau berlaku welas
asih terhadap mereka yang tadinya menganiaya
beliau serta menolong mereka dengan daya sarana milik beliau sendiri.
Beliau tinggal di sebuah gubuk tanah liat, tidur di lantai serta makan dari
roti gandum yang kasar atau puasa jika tidak ada apa-apa.
Beliau dikaruniai kekayaan dunia dalam jumlah amat besar
tetapi beliau tidak mau mengotori tangan
beliau dengan harta itu dan tetap
memilih hidup miskin daripada kemewahan serta kelemah-lembutan daripada kekuasaan.
Dari sejak hari pertama beliau diutus sampai dengan saat beliau kembali kepada
Tuhan beliau di langit, beliau tidak
pernah menganggap penting apa
pun selain Allah Swt.
Beliau memberikan bukti
keberanian, kesetiaan dan keteguhan hati di medan perang menghadapi ribuan
musuh dimana maut mengintai selalu, semata-mata hanya karena Allah. Singkat
kata, Allah Yang Maha Agung
memanifestasikan sifat-sifat mulia
beliau seperti welas asih, kesalehan, kepuasan atas apa yang ada, keberanian
dan segala hal yang berkaitan dengan kecintaan
kepada Allah Swt. yang padanannya belum pernah ada pada masa
sebelum beliau dan tidak akan pernah ada
lagi setelah beliau.
Berkaitan dengan Nabi Isa a.s., sifat akhlak mulia tersebut tidak jelas dimanifestasikan karena hal seperti itu baru akan nyata jika seseorang kemudian
memperoleh kekayaan dan kekuasaan, dan hal itu tidak ada
terjadi pada diri Nabi Isa a.s.. Pada keadaan beliau ini kedua
bentuk sifat akhlak tersebut tetap tinggal tersembunyi karena kondisi
untuk manifestasinya tidak ada.
Namun keberatan yang dianggap sebagai kekurangan pada diri Nabi Isa a.s.
tersebut telah ditimbali dengan contoh sempurna dari Hadhrat Rasulullah Saw. karena contoh yang dikemukakan Nabi Suci Saw.
telah menyempurnakan dan melengkapi kekurangan pada nabi-nabi lain, sehingga apa yang
semula meragukan sekarang telah jadi
jelas.
Wahyu dan kenabian
berakhir di sosok yang mulia ini
karena semua keluhuran telah
mencapai puncaknya dalam diri beliau. Semua ini merupakan rahmat Allah Swt. yang dikaruniakan
kepada siapa yang dipilih-Nya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. I, hlm. 276-292, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 12 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar