Jumat, 18 Desember 2015

Nabi Besar Muhammad Saw. Mengalami Lima Kali Bahaya Maut & Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam "Kondisi Sempit" Maupun "Kondisi Lapang"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

  Nabi Besar Muhammad  Saw. Mengalami  Lima Kali Bahaya Maut  & Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.  Dalam “Kondisi Sempit” Mau pun “Kondisi  Lapang

Bab 37


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai keteguhan Nabi Besar Muhammad saw. menghadapi resiko berbahaya  dalam mengemukakan  haq (kebenaran) yakni ajaran Islam (Al-Quran), selanjutnya beliau bersabda:
      “Hadhrat Rasulullah Saw. selalu bersikap lugas dan selalu siap menyerahkan nyawa beliau bagi Tuhan-nya. Beliau tidak ada bertumpu kepada harapan atau pun ketakutan kepada manusia dan hanya mengimani Allah semata. Karena mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan petunjuk Ilahi, beliau tidak gentar menghadapi bencana apa pun yang dihadapi serta kesulitan yang ditimbulkan oleh kaum kafir dalam menyampaikan Ketauhidan Ilahi.
     Beliau memikul semua kesulitan dan melaksanakan perintah Tuhan-nya serta memenuhi semua persyaratan dan cegahan yang ditetapkan dalam ajaran beliau. Beliau tidak menghiraukan ancaman yang dilontarkan manusia.  Sesungguhnya, dari semua nabi, tidak ada seorang pun yang demikian yakinnya kepada Tuhan-nya dalam setiap ancaman bencana ketika sedang mengajar umat dalam menghapuskan paganisme dan penyembahan makhluk. Begitu juga tidak ada yang demikian teguh hatinya seperti beliau.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  111-112, London, 1984).

Bantuan Ilahi Bagi Nabi Besar Muhammad Saw.

       Di dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman mengenai munculnya kemudahan setelah menghadapi  kesulitan, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾  وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾  فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿﴾  اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿﴾  فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,  dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau?    Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا --  Maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا --  Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ   -- Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ  --    dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.  (Al-Insyirah [94]:1-9).
      Ayat 2 sampai dengan ayat 4  merupakan gambaran lain  beratnya amanat syariat Islam yang didilaksanakan  oleh Nabi Besar  Muhammad saw., yang mengenai hal tersebut digambarkan bahwa seluruh langit, bumi dan gunung-gunung menolak dan takut untuk “memikulnya” (QS.33:73-74). Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Sulit membayangkan segala bencana dan kesulitan yang dialami Hadhrat Rasulullah Saw. selama 13  tahun pertama dalam kehidupan beliau di Mekkah. Hati kita menjadi gemetar membayangkannya. Semua kesulitan itu menunjukkan betapa tinggi keteguhan hati, belas kasih dan kebulatan tekad beliau. Beliau itu seolah gunung keteguhan yang tidak bisa digoyang oleh kesulitan macam apa pun. Tidak juga beliau mengendurkan sesaat pun pelaksanaan tugas beliau dan tidak juga beliau bersedih hati. Tidak ada kesusahan yang bisa melemahkan tekad beliau.
   Beberapa orang yang tidak mengerti bertanya, mengapa beliau harus menghadapi segala musibah dan kesulitan tersebut jika beliau memang benar kekasih dan pilihan Tuhan? Aku akan mengatakan kepada mereka,  bahwa air yang murni tidak akan didapat sebelum menggali tanah sedalam beberapa meter. Hanya dengan cara itulah dapat diperoleh air murni yang menjadi penopang kehidupan.
     Dengan cara yang sama maka kegembiraan di jalan Allah Yang Maha Kuasa hanya bisa diperoleh melalui keteguhan dan kekerasan hati di bawah kesulitan dan musibah. Mereka yang belum pernah mengalaminya tidak akan bisa membayangkan dan merasakan kegembiraan tersebut.
   Mereka tidak menyadari bahwa ketika Hadhrat Rasulullah Saw. harus mengalami segala penderitaan itu, sesungguhnya ada mata air kegembiraan dan kenyamanan yang meluap di hati beliau, sehingga keimanan dan keyakinan beliau kepada Tuhan dan kepada kecintaan Tuhan serta bantuan Ilahi menjadi lebih kuat.”  (Malfuzat,  jld. II, hlm.  307-309).
    Kemudian sehubungan dengan ayat فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا --  maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا --   Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan” (QS.94:6-7)  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Apakah bukan suatu hal yang ajaib bahwa seorang anak yatim yang miskin, tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan, tidak terpelajar dan sendirian di tengah bangsa yang kaya di bidang keuangan, kekuatan militer dan intelektual, tetapi bisa membawa ajaran yang demikian cemerlang sehingga mampu membungkam semua orang dengan argumentasinya yang bersifat konklusif  (lengkap) dan bukti-buktinya yang nyata?
     Beliau menunjukkan kesalahan-kesalahan dari mereka yang dianggap sebagai filosof besar. Beliau telah memperlihatkan kekuasaan sedemikian rupa yang dapat menurunkan seorang penguasa dari tahtanya dan menaikkan seorang miskin sebagai penggantinya. Kalau ini bukan bantuan Ilahi, lalu apa namanya ini?
     Mungkinkah seseorang mampu mengalahkan seluruh dunia dalam penalaran, pengetahuan dan kekuatan tanpa bantuan Ilahi sama sekali? Siapakah yang menyertai Hadhrat Rasulullah Saw. ketika beliau pertama kali mengumumkan kepada bangsanya bahwa beliau adalah seorang nabi?
      Apakah ada pada beliau itu harta benda berupa kekayaan raja-raja yang bisa diandalkan dan digunakan untuk menghadapi seluruh dunia atau pasukan angkatan perang yang bisa mengamankannya dari serangan raja-raja lain? Bahkan para lawan kita juga mengakui kalau pada saat itu Hadhrat Rasulullah Saw. berdiri sendiri, tanpa daya dan tanpa memiliki apa pun. Hanya Tuhan saja Yang telah menciptakan beliau untuk tujuan mulia, dan Dia juga yang menjadi Sahabat dan Penolong beliau.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I. hlm. 119-120, London, 1984).

Nabi Besar Muhammad Saw. Lima Kali  Mengalami  Bahaya Maut

      Mengenai perlindungan Allah Swt. terhadap Nabi Besar Muhammad saw.  ketika bahaya maut  mengancam   beliau saw., Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Dalam sejarah kehidupan beliau ada sebanyak 5 kali nyawa Hadhrat Rasulullah Saw. terancam secara serius, dimana jika beliau bukan seorang nabi Allah yang benar, pasti beliau sudah binasa karenanya.  Salah satunya adalah kejadian ketika kaum kafir Quraish mengepung rumah beliau dan bersumpah akan membunuh beliau malam itu juga.
  Kejadian kedua adalah saat para pengejar dalam jumlah besar tiba di mulut sebuah gua dimana di dalamnya beliau berlindung bersama Hadhrat Abu Bakar r.a..
     Kejadian ketiga ialah ketika beliau tertinggal seorang diri dalam perang Uhud dimana kaum Quraish mengepung beliau dan mencoba menyerang secara bersama namun mereka digagalkan dalam upayanya.
     Kejadian keempat ialah saat seorang wanita Yahudi memberikan kepada beliau sepinggan daging untuk dimakan yang sebelumnya telah dilumuri racun yang mematikan.
   Kejadian kelima adalah ketika Khusro Pervaiz, Kaisar Persia, bermaksud membinasakan beliau dan telah mengirimkan sejumlah utusan untuk menangkap beliau.
     Keselamatan beliau dari semua keadaan musibah tersebut serta kemenangan akhir beliau atas semua musuh-musuh, merupakan bukti yang meyakinkan bahwa beliau memang seorang yang bertakwa dan Allah Swt.  selalu beserta beliau.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld, XXIII, hlm.  263-264, London, 1984).
    
Kemuliaan Akhlak  Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam   Kondisi Sempit dan Lapang

    Sehubungan dengan  “suri teladan terbaik” Nabi Besar Muhammad saw. yang dikemukakan  Allah Swt. dalam QS.33:22 Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Nabi-nabi dan   orang-orang suci dibangkitkan Allah Swt.. agar manusia bisa  mencontoh perilaku akhlak mereka serta membimbing manusia  teguh di jalan yang benar sejalan dengan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa mereka selalu memperlihatkan sifat-sifat akhlak yang mulia pada saatnya yang tepat, sehingga bisa dicapai tingkat efektivitas yang terbaik. 
      Sebagai contoh, sifat memaafkan adalah suatu hal yang patut dipuji,  ketika ia yang teraniaya lalu memiliki kekuatan (kemampuan)  untuk membalas dendam namun tidak dilakukannya. Kesalehan adalah sifat yang baik kalau dilaksanakan ketika seseorang memiliki segalanya untuk memuaskan dirinya.
   Rencana Tuhan berkaitan dengan para nabi dan orang-orang suci adalah agar mereka itu memperlihatkan dan menegakkan semua bentuk dari sifat-sifat akhlak yang mulia. Guna memenuhi rencana demikian maka Allah Swt.. membagi kehidupan mereka dalam dua bagian.
   Bagian pertama kehidupan mereka dilalui dalam kesengsaraan dan berbagai penderitaan dimana mereka itu disiksa dan dianiaya, melalui tahapan ini mereka akan memperlihatkan akhlak luhur yang hanya bisa dikemukakan pada saat keadaan sedang sulit. Bila mereka ini tidak diharuskan menjalani kesulitan yang besar maka sukar untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar tetap setia kepada Tuhan-nya dalam segala kesulitan serta tetap  teguh maju terus dalam upayanya.
   Mereka bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa mereka telah dipilih-Nya sebagai sosok yang patut teraniaya di jalan Allah. Tuhan Yang Maha Agung mendera mereka dengan segala cobaan agar terlihat jelas bagaimana manifestasi keteguhan hati dan kesetiaan mereka kepada Tuhan mereka.
     Dalam hal ini sebagaimana dalam peribahasa, nyata bahwa keteguhan hati  (istiqamah) itu lebih tinggi nilainya daripada mukjizat (karamah). Keteguhan hati yang sempurna tidak akan terlihat jika tidak ada kesulitan besar yang dihadapi,  dan hanya bisa dihargai jika orang tahu bahwa yang bersangkutan memang telah mengalami goncangan yang dahsyat.
      Semua musibah tersebut merupakan berkat ruhani bagi para nabi dan orang-orang suci karena melalui hal itulah sifat-sifat mulia mereka yang tidak ada tandingannya menjadi nyata, dan derajat mereka akan ditinggikan di akhirat. Bila mereka tidak ada mengalami cobaan yang berat maka mereka tidak akan memperoleh berkat-berkat tersebut, tidak juga sifat mulia mereka menjadi tampak kepada umat manusia.
   Keteguhan hati, kesetiaan dan keberanian mereka tidak akan diakui secara universal. Mereka itu menjadi tiada tara dan tanpa tandingan serta demikian berani dan sempurna, sehingga masing-masing dari mereka itu sepadan dengan 1000  singa yang berada dalam satu tubuh atau 1000 harimau dalam satu kerangka.  Dengan cara demikian itulah kekuatan dan kekuasaan mereka menjadi suatu yang diagungkan dalam pandangan manusia, dan mereka mencapai tingkatan tinggi dalam kedekatan kepada Allah Swt..

Penampakan Akhlak Mulia Dalam Kondisi Lapang

    Bagian kedua dari kehidupan para nabi dan orang-orang suci adalah saat kemenangan, derajat mulia dan kekayaan dilimpahkan kepada mereka, dimana pada saat itu pun mereka akan memperlihatkan akhlak mulia mereka yang memang efektif pada saat mereka menggenggam kemenangan, kekayaan dan kekuasaan.
    Mengampuni mereka yang tadinya menyiksa, bersabar hati terhadap para penganiaya, mencintai musuh, tidak mencintai kekayaan atau bangga terhadapnya, membuka gerbang berkat dan kemurahan hati, tidak menjadikan kekayaan sebagai sarana pemuas diri, tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat penindasan, semuanya itu merupakan sifat-sifat mulia, dengan persyaratan bahwa yang bersangkutan memang sedang memiliki kekuasaan dan kekayaan.    Para nabi dan orang-orang suci itu malah akan memperlihatkan semua sifat mulia itu saat mereka telah memiliki kekuasaan dan kekayaan.
    Kedua bentuk sifat-sifat akhlak mulia tersebut tidak mungkin dimanifestasikan (diwujudkan) tanpa melalui tahapan kesulitan dan cobaan serta tahapan kekuasaan dan kemakmuran. Kebijaksanaan yang sempurna dari Allah Swt.  mengharuskan bahwa para nabi dan orang-orang suci diberikan kedua bentuk kesempatan tersebut,  yang sebenarnya merupakan realisasi ribuan berkat. Hanya saja urut-urutan dari kondisi demikian tidak akan sama bagi setiap orang.
       Kebijakan Ilahi menentukan bahwa beberapa orang akan mengalami periode kedamaian dan kenyamanan mendahului periode kesulitan, sedangkan pada yang lainnya dimulai dengan periode kesulitan sebelum datangnya pertolongan Tuhan. Dalam beberapa kejadian  kondisi demikian tidak terlalu jelas perbedaannya sedangkan pada yang lainnya dimanifestasikan secara sempurna.
     Berkaitan dengan hal ini, yang paling menonjol adalah Hadhrat Rasulullah Saw. karena kedua kondisi itu dikenakan secara sempurna atas wujud beliau sedemikian rupa,  sehingga sifat akhlak beliau menjadi bersinar cemerlang laiknya matahari, dan semua itu tercermin dalam ayat:
وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿۴﴾
Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak luhur  (Al-Qalam [68]:5).
      Jika dinilai bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. adalah sempurna di dalam kedua bentuk sifat akhlak melalui pembuktian di atas, maka melalui itu dibuktikan juga keluhuran akhlak para nabi lainnya,  dan dengan demikian telah meneguhkan kenabian mereka, kitab-kitab yang mereka bawa serta kenyataan bahwa mereka semua adalah kekasih Allah Swt..  Pendapat ini memupus  keberatan sebagian orang akan akhlak Nabi Isa a.s. yang dianggap tidak cukup sempurna menghadapi kedua kondisi tersebut.  

Kemuliaan Akhlak Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tidak Teruji Secara  Lengkap Dalam Dua Kondisi yang Berbeda
 
    Memang benar bahwa Nabi Isa a.s. menunjukkan keteguhan hati dalam keadaan kesulitan, hanya saja bentuk kesempurnaan akhlak tersebut baru akan terlihat sempurna jika saja pada saat itu Nabi Isa memperoleh kekuasaan dan keunggulan di atas para penganiaya beliau dan beliau kemudian mengampuni mereka dari lubuk hati yang paling dalam, sebagaimana halnya perlakuan Hadhrat Rasulullah Saw. terhadap penduduk Mekah saat kota itu takluk kepada umat Muslim.
    Penduduk kota Mekah memperoleh pengampunan penuh kecuali beberapa orang yang ditetapkan Tuhan harus menjalani hukuman karena kejahatan mereka yang luar biasa. Hadhrat Rasulullah Saw. setelah mencapai kemenangan malah mengumumkan:
لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ
 Tidak akan ada yang menyalahkan kalian pada hari ini.
    Karena adanya pengampunan demikian yang semula dianggap mustahil dalam pandangan para musuh beliau, dimana tadinya mereka merasa patut dihukum mati atas segala kejahatan mereka, maka beribu-ribu orang lalu baiat ke dalam agama Islam dalam jangka waktu bilangan jam saja.
      Keteguhan hati Hadhrat Rasulullah Saw. yang diperlihatkan dalam jangka waktu panjang di bawah penganiayaan mereka, di mata mereka menjadi cemerlang bercahaya seperti matahari. Sudah menjadi fitrat manusia bahwa keagungan dari keteguhan hati seseorang menjadi nyata saat yang bersangkutan mengampuni para penganiayanya ketika ia kemudian memperoleh kekuasaan di atas mereka. Karena itulah sifat luhur akhlak Nabi Isa a.s. di bidang keteguhan, kelemah-lembutan dan daya tahan tidak terlihat sepenuhnya sebab tidak jelas, apakah keteguhan sikapnya itu karena pilihan sendiri atau memang karena terpaksa.
    Nabi Isa a.s. tidak sempat memperoleh kekuasaan di atas para penganiaya beliau, sehingga tidak bisa dibuktikan apakah beliau memang kemudian akan mengampuni para musuhnya atau memilih mengambil pembalasan dendam atas diri mereka itu.   Berbeda dengan keadaan Nabi Isa a.s., sifat mulia dari Hadhrat Rasulullah Saw. telah diperlihatkan dalam ratusan kejadian dan kenyataannya bersinar terang seperti sang surya.
    Sifat-sifat seperti murah hati, welas asih, pengurbanan, keberanian, kesalehan, kepuasan hati atas apa yang ada serta menarik diri dari duniawi, semuanya itu jelas sekali pada sosok Nabi Suci Saw. dibanding dengan nabi-nabi lainnya. Allah Yang Maha Kaya menganugrahkan harta benda yang amat banyak kepada Hadhrat Rasulullah Saw. dan beliau membelanjakannya semua di jalan Allah dan tidak ada sekeping mata uang pun yang digunakan untuk kepuasan diri sendiri.
   Beliau tidak ada mendirikan bangunan megah atau istana untuk diri sendiri dan tetap saja hidup di sebuah gubuk tanah liat yang tidak berbeda dengan rumah kediaman umat yang paling miskin. Beliau berlaku welas asih terhadap mereka yang tadinya menganiaya beliau serta menolong mereka dengan daya sarana milik beliau sendiri. Beliau tinggal di sebuah gubuk tanah liat, tidur di lantai serta makan dari roti gandum yang kasar atau puasa jika tidak ada apa-apa.
     Beliau dikaruniai kekayaan dunia dalam jumlah amat besar tetapi beliau tidak mau mengotori tangan beliau dengan harta itu dan tetap memilih hidup miskin daripada kemewahan serta kelemah-lembutan daripada kekuasaan. Dari sejak hari pertama beliau diutus sampai dengan saat beliau kembali kepada Tuhan beliau di langit, beliau tidak pernah menganggap penting apa pun selain Allah Swt.  
     Beliau memberikan bukti keberanian, kesetiaan dan keteguhan hati di medan perang menghadapi ribuan musuh dimana maut mengintai selalu, semata-mata hanya karena Allah. Singkat kata, Allah Yang Maha Agung memanifestasikan sifat-sifat mulia beliau seperti welas asih, kesalehan, kepuasan atas apa yang ada, keberanian dan segala hal yang berkaitan dengan kecintaan kepada Allah Swt.  yang padanannya belum pernah ada pada masa sebelum beliau dan tidak akan pernah ada lagi setelah beliau.
  Berkaitan dengan Nabi Isa a.s., sifat akhlak mulia tersebut tidak jelas dimanifestasikan karena hal seperti itu baru akan nyata jika seseorang kemudian memperoleh kekayaan dan kekuasaan, dan hal itu tidak ada terjadi pada diri Nabi Isa a.s.. Pada keadaan beliau ini  kedua bentuk sifat akhlak tersebut tetap tinggal tersembunyi karena kondisi untuk manifestasinya tidak ada.
      Namun keberatan yang dianggap sebagai kekurangan pada diri Nabi Isa a.s. tersebut telah ditimbali dengan contoh sempurna dari Hadhrat Rasulullah Saw. karena contoh yang dikemukakan Nabi Suci Saw. telah menyempurnakan dan melengkapi kekurangan pada nabi-nabi lain, sehingga apa yang semula meragukan sekarang telah jadi jelas.
    Wahyu dan kenabian berakhir di sosok yang mulia ini karena semua keluhuran telah mencapai puncaknya dalam diri beliau. Semua ini merupakan rahmat Allah Swt.  yang dikaruniakan kepada siapa yang dipilih-Nya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  276-292, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Desember  2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar