بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah
kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Ribuan Mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah
Kenyataan Bukan Dongeng & Hakikat Mukjizat “Terbelahnya
Bulan”
Bab 33
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih mau’ud a.s. mengenai bukti tetap
hidupnya keberkatan ruhani Nabi Besar
Muhammad Saw. sampai Hari Kiamat:
“Suatu
ketika pernah para pengabar Injil
dari umat Kristiani mengumumkan
secara kurang ajar dan dusta sampai ke jalan-jalan dan
lorong-lorong bahwa Nabi Suci Muhammad
Saw. tidak ada pernah memberikan nubuatan
atau pun mukjizat-mukjizat. Sekarang
inilah saatnya Allah Yang Maha Kuasa telah memperlihatkan ratusan mukjizat yang tidak bisa disanggah para lawan disamping ribuan
mukjizat Nabi Suci Saw. lainnya sebagaimana tersebut dalam Kitab Al-Quran dan hadits.
Kami selama ini sudah
selalu menyatakan secara halus dan rendah hati kepada setiap umat Kristen dan para lawan lainnya, dan kami masih terus
menyatakan bahwa perlu kiranya bagi setiap agama yang merasa dirinya benar
dan datang dari Tuhan agar
masing-masing mengemukakan sosok manusia
yang mereka agungkan sebagai junjungan,
pembimbing dan rasul serta membuktikan
bahwa nabi tersebut tetap hidup kekal melalui ajaran keruhaniannya.
Harus dibuktikan bahwa nabi
yang menjadi panutan dan yang diyakini sebagai pemberi syafaat serta juru
selamat haruslah masih tetap hidup
melalui berkat keruhaniannya. Ia
haruslah sosok yang ditinggikan pada tahta kehormatan dan diagungkan,
sehingga kecemerlangan wajahnya dan kedudukannya di sisi kanan Allah Yang Maha Abadi dan Maha Kuasa menjadi nyata
melalui sinaran Nur Ilahi.
Manusia yang mencintai dan mematuhi sosok tersebut sewajarnya juga dianugrahi dengan karunia Ruhulqudus
dan berkat Samawi serta memperoleh Nur dari Nabinya yang terkasih
untuk mengusir kegelapan di zamannya
dan memberikan keimanan yang sempurna
serta cemerlang terhadap eksistensi (keberadaan) Tuhan,
yang membakar habis keinginan
berbuat dosa dan nafsu-nafsu rendah manusia. Semua ini
menjadi bukti bahwa Nabi tersebut adalah sosok yang hidup dan berada di surga.
Dengan demikian bagaimana
bisa kita cukup bersyukur kepada Allah Yang
Maha Suci dan Maha Agung, Yang
telah mengaruniakan kepada kita kekuatan untuk mencintai dan mentaati
kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw., dan atas
itu lalu memberkati kita dengan rahmat keruhanian dari kecintaan dan ketaatan tersebut, yang menjadi tanda kesalehan dan tanda
Samawi, membuktikan kepada kita bahwa Nabi
kekasih dan yang diagungkan itu
tetap hidup dan duduk di sisi kanan Raja-nya Yang Maha Perkasa di atas tahta
kemulyaan dan keagungan di langit.
Ya Allah turunkanlah salam dan rahmat-Mu atas beliau.
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ
یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا
عَلَیۡہِ وَ سَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi
ini dan para malaikat-Nya mendoakan
dia. Hai orang-orang mukmin! Kamu
pun harus mengirimkan shelawat atas
dia, Nabi ini, dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan (Al-Ahzab [33]:57).
Sekarang silakan siapa
yang bisa menunjukkan ada manusia lain yang memiliki kehidupan keruhanian seperti halnya Hadhrat Rasulullah Saw.. Apakah Nabi Musa a.s. memilikinya? Jelas tidak.
Apakah Nabi Daud a.s. ada
mempunyainya? Pasti tidak. Apakah Yesus
a.s. ada memiliki kehidupan
demikian? Jelas tidak. Atau
barangkali Raja Ram Chandra atau Raja Krishna? Juga tidak. Apakah para Rishi
penganut agama Hindu memilikinya
mengingat Kitab mereka menyatakan bahwa ayat-ayat
Veda diwahyukan ke dalam hati
mereka? Jelas tidak.
Tidak ada gunanya membanggakan kehidupan jasmaniah karena kehidupan yang sebenarnya adalah keberkatan ruhaniah berupa kehidupan yang selalu mendapat Nur dan kepastian dari Allah Yang
Maha Kuasa. Bisa mencapai umur
jasmaniah yang panjang bukanlah
suatu hal yang patut disombongkan.
Beberapa monumen bangsa Mesir sudah berusia ribuan tahun dan reruntuhan Babilonia masih ada meski sekarang hanya menjadi sarang burung liar, sedangkan di negeri
ini (India) ada kota-kota kuno
seperti Ayodhia dan Bindraban, begitu juga dengan berbagai monumen kuno di Italia dan Yunani.
Sepanjang eksistensi (keberadaan) mereka yang panjang (lama) itu apakah monumen-monumen
itu ada menerima keagungan dan kemulyaan sebagaimana yang dikaruniakan kepada sosok-sosok suci karena kehidupan
keruhanian mereka? Jelas bahwa bukti
dari kehidupan keruhanian demikian
hanya bisa ditemui dalam diri Nabi Suci Saw.. Semoga beribu-ribu rahmat Tuhan menemani beliau.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XV, hlm. 137-139 London, 1984).
Ribuan Mukjizat Nabi Besar
Muhammad Saw. dan Keberlangsungannya Melalui Para Pengikut Hakiki Beliau saw.
Sehubungan dengan ribuan mukjizat Nabi Besar Muhammad saw. Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan:
“Lebih
dari 3000 mukjizat yang
diperlihatkan oleh Junjungan dan Penghulu kita Hadhrat Rasulullah Saw., dan
nubuatan beliau pun tidak terhitung
banyaknya, namun tidak perlu rasanya bagi kita untuk mengemukakan mukjizat-mukjizat yang terjadi di masa lalu itu.
Salah satu mukjizat akbar dari Nabi Suci Saw.
ialah sudah diputusnya wahyu yang
diturunkan kepada nabi-nabi lain dan semua
mukjizat mereka hanya menjadi bagian dari sejarah masa lalu, dimana pengikut mereka sekarang ini hanya berhampa tangan dan cuma bisa bertumpu
pada dongeng-dongeng kuno.
Adapun wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci Saw. tidak pernah diputus sebagaimana halnya dengan mukjizat-mukjizat beliau, dimana
semuanya tetap diperlihatkan melalui
para pengikut sempurna yang mendapat
kehormatan untuk menjadi pengikut beliau. Karena itulah maka Islam merupakan agama yang hidup dan Tuhan-nya
adalah Tuhan Yang Maha Hidup.
Di zaman ini pun ada aku
sebagai hamba dari Junjungan kita yang mulia, beribu-ribu tanda yang mendukung Rasulullah Saw. dan Kitabullah telah diperlihatkan kepadaku, dan aku hampir setiap hari mendapat kehormatan
untuk bercakap-cakap dengan Allah Yang Maha Kuasa.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press,
1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 350-351, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai falsafah munculnya karamat mau pun mukjizat:
“Ketika
seseorang sampai pada suatu tahapan bisa bertemu dengan Tuhan, terkadang
yang bersangkutan melakukan suatu tindakan
yang terlihat berada di luar kemampuan manusia biasa dan diwarnai oleh kekuatan Ilahi. Sebagai
contoh pada waktu perang Badar, Hadhrat Rasulullah Saw. melemparkan segenggam batu kerikil
kepada musuh yang dihadapi tanpa
mengucapkan doa apa pun, melainkan semata-mata atas dasar kekuatan ruhani beliau, yang ternyata secara luar biasa kerikil-kerikil tersebut telah mengenai mata para lawan sehingga
mereka semua menjadi tidak bisa melihat, dan menjadikan mereka bingung berlari berputar-putar tak berdaya. Mukjizat ini diungkapkan dalam ayat:
وَ مَا
رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰ
Bukan engkau yang melempar ketika engkau
melempar, melainkan Allah yang melempar’ (Al-Anfāl [8]:18),
yang berarti bahwa ada kekuatan
Ilahi yang bekerja dalam peristiwa
tersebut sehingga terjadi sesuatu
yang berada di luar kemampuan
manusia biasa.
Berbagai Mukjizat Lainnya yang
terjadi Tanpa Doa
Begitu pula dengan
mukjizat lain dari Hadhrat Rasulullah Saw. berkenaan dengan pembelahan bulan
yang merupakan penampakan kekuasaan Ilahi. Kejadian itu tidak didahului oleh
doa dan terjadi seketika ketika beliau menunjukkan jari beliau kepada bulan.
Masih banyak lagi mukjizat lain yang dilakukan Hadhrat Rasulullah Saw. atas
kekuatan diri beliau yang tidak didahului dengan doa.
Beberapa kali terjadi
beliau telah menggandakan persediaan air
minum hanya cukup dengan mencelupkan
jari beliau ke dalam bejana air
dan seluruh kafilah berikut unta dan kuda-kuda bisa minum sedangkan sisa airnya sama sekali tidak berkurang. Pada banyak kesempatan
beliau hanya meletakkan tangan beliau pada
3 atau 4 potong roti dan dari sana bisa memuaskan lapar ribuan orang.
Dalam beberapa kejadian
beliau hanya menyentuhkan bibir beliau
pada semangkok kecil susu dan sekelompok orang lain bisa dipuaskan
meminumnya. Pernah pula beberapa
kali beliau meludahi kolam air yang terasa payau dan menjadikannya terasa manis. Banyak kejadian beliau menyembuhkan luka parah beberapa orang dengan hanya meletakkan tangan beliau di atas luka.
Pernah pula beliau mengembalikan bola mata orang-orang
yang terpukul keluar dalam
pertempuran dan menyembuhkan mereka
kembali dengan tangan beliau. Dengan
cara demikian beliau melakukan banyak
hal atas dasar kekuatan pribadi
beliau sendiri yang dilambari dengan kekuatan
Ilahi.
Jika kaum Brahmo Samaj, para filosof dan penganut aliran
alam (Naturalisme) sekarang ini menyangkal
menerima mukjizat-mukjizat tersebut,
mereka bolehlah dimaafkan karena mereka tidak
mampu memahami maqam (kedudukan) dari manusia
yang dikaruniai kekuatan Ilahi
melalui refleksi (pantulan).
Kalau mereka menertawakan hal ini maka mereka juga
patut dimaafkan karena mereka belum
bisa meninggalkan kondisi kekanak-kanakkan
mereka dan belum berhasil mencapai kedewasaan
ruhaniah. Kondisi mereka jauh dari sempurna
dan mereka cukup bahagia jika pun
mereka kemudian mati dalam keadaan
demikian.
Hanya saja kita patut mengasihani umat Kristen yang hanya
karena mendengar beberapa mukjizat Yesus a.s. dari kelas derajat yang lebih rendah lalu mengemukakannya sebagai argumentasi untuk mendukung pandangan
mereka tentang ketuhanan Yesus.
Mereka menyatakan bahwa Yesus dalam menghidupkan
seorang yang sudah mati,
menyembuhkan penderita lepra dan
orang yang lumpuh adalah semata-mata
atas dasar kekuatan dirinya sendiri
dan bukan karena melalui doa, karena
itu menjadi bukti bahwa ia adalah benar anak
Tuhan atau bahkan Tuhan sendiri.
Sayang sekali jalan fikiran
mereka yang tidak menyadari bahwa
jika seorang manusia bisa menjadi Tuhan
dengan melakukan hal-hal seperti itu maka sebenarnya Junjungan dan Penghulu
kita, Hadhrat Rasulullah Saw. lebih
berhak lagi atas status ketuhanan
karena beliau jauh lebih banyak
memperlihatkan mukjizat dibanding Yesus a.s..
Tidak saja Hadhrat
Rasulullah Saw. melaksanakan perbuatan-perbuatan
luar biasa demikian oleh diri beliau sendiri, bahkan beliau mewariskan sederetan panjang mukjizat-mukjizat di antara para pengikut beliau sampai dengan Hari Pengisaban nanti dimana
kejadian-kejadian demikian berlangsung di
tiap masa dan akan berlangsung
sampai dengan akhir dunia.
Kesan dari kekuatan Ilahi yang dialami para jiwa suci di antara umat Muslim sulit dicari padanannya
pada umat lain. Jadi jelas betapa
konyolnya mengimani seseorang sebagai Tuhan atau putra Tuhan hanya atas dasar peristiwa-peristiwa
seperti itu. Kalau saja manusia bisa menjadi tuhan karena menghasilkan perbuatan
luar biasa demikian maka tidak akan ada habisnya jumlah tuhan yang ada.” (Ayena Kamalati
Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 65-67, London, 1984).
Mukjizat “Terbelahnya Bulan”
Mengenai peristiwa yang lebih spektakuler lagi berupa “terbelahnya
bulan” ketika Nabi Besar Muhammad saw. menunjuknya dengan telunjuk beliau saw. yang penuh berkat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Kami
ingin mengemukakan bahwa mukjizat
pembelahan bulan oleh Hadhrat Rasulullah Saw. bukanlah suatu kejadian yang diajukan sebagai bukti oleh umat Muslim
sebagai bukti kebenaran ajaran Islam
atau sebagai argumentasi pokok untuk
mendukung kebenaran Kitab Suci Al-Quran.
Dari ribuan tanda-tanda serta mukjizat internal dan eksternal, peristiwa di atas adalah tanda alamiah yang didukung oleh bukti sejarah.
Misalnya pun kita
mengabaikan bukti-bukti nyata serta
menyatakan bahwa mukjizat ini tidak pernah terjadi, dan kita menafsirkan ayat-ayat
yang relevan dalam Al-Quran sebagai pandangan
umat Kristen atau para penganut
aliran naturalis atau pun penafsiran
dari mereka yang menolak
kejadian-kejadian eksternal, tetap
saja semuanya tidak akan merugikan
bagi Islam.
Menjadi suatu kenyataan,
bahwa adanya firman Allah berupa Al-Quran telah membebaskan umat Muslim dari kebutuhan
untuk bertumpu pada mukjizat-mukjizat lainnya. Al-Quran tidak saja menjadi mukjizat dalam wujudnya sendiri tetapi juga karena Nur dan berkat yang
dibawa Al-Quran nyata memperlihatkan
mukjizat.
Kitab Suci Al-Quran mengandung sifat-sifat
yang demikian sempurna dalam
dirinya, sehingga tidak diperlukan mukjizat
luar biasa lainnya. Keberadaan mukjizat
eksternal tidak akan menambah
sesuatu nilai pada Al-Quran, dan ketiadaannya
tidak akan merugikan baginya. Keindahan Al-Quran adalah karena tidak
dihiasi berbagai ornamen
mukjizat-mukjizat eksternal.
Dalam wujudnya sendiri Al-Quran mengandung beribu-ribu mukjizat ajaib dan indah yang dapat disaksikan oleh manusia dari segala masa. Kita tidak perlu hanya merujuk ke masa lalu. Al-Quran itu demikian indahnya sehingga segala sesuatu menarik ornamentasi hiasan darinya,
sedangkan Al-Quran sendiri
tidak tergantung kepada apa pun
untuk ornamentasi wujudnya sendiri.
Ornamen
menghiasi segala kecantikan di dunia,
namun
engkau demikian cantik,
sehingga
kau perindah ornamen itu sendiri.
Mereka yang menentang mukjizat pembelahan bulan hanya
memiliki satu sarana argumentasi
saja yang menyatakan, bahwa peristiwa
itu bertentangan dengan hukum alam.
Para penganut hukum alam berpandangan bahwa sepanjang manusia menggunakan logikanya maka ia tidak akan menemukan
sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam, atau apa yang bisa dipahami manusia adalah sama dengan hukum alam.
Dengan kata lain, melalui observasi (penyelidikan) atas alam ini
menunjukkan, bahwa segala hal yang
bersifat material atau non material yang mengelilingi kita
merupakan bagian dari suatu sistem indah yang mengarah kepada
kelanjutan eksistensinya
(keberadaannya). Sistem ini
merupakan suatu yang inheren
(melekat) di dalam segala hal dan tidak pernah terpisah dari apa pun. Apa pun
yang direncanakan oleh alam akan selalu terjadi dengan cara yang
sama.
Kami
mengakui semua hal itu, namun apakah hal itu membuktikan bahwa cara-cara Ilahi serta hukum-hukum yang mengaturnya harus terbatas hanya pada hasil observasi dan pengalaman manusia saja? Meyakini bahwa
Kekuatan Ilahi itu bersifat tidak terbatas merupakan inti dari sistem
Ilahiah, dan hal itu memastikan
bahwa pintu kemajuan intelektual
akan selalu terbuka. Karena itu
adalah suatu kekeliruan untuk
mengemukakan bahwa apa pun yang
berada di luar kemampuan pemahaman
atau observasi kita lalu dianggap
sebagai suatu yang bertentangan
dengan hukum alam.
Jika kita mengakui bahwa hukum alam bersifat tanpa batas dan tanpa akhir maka mestinya sikap kita tidak selalu menolak segala hal baru hanya karena berada di luar kemampuan pemahaman kita. Kita
perlu menganalisis masalahnya
berdasarkan bukti-bukti yang ada
atau yang tidak ada. Kalau terbukti benar maka sewajarnya kita
memasukkannya sebagai bagian dari hukum
alam, dan jika tidak terbukti maka kita cukup mengatakan bahwa belum terbukti. Jangan lalu mengatakan
bahwa hal itu berada di luar lingkup
hukum alam.
Guna menyatakan bahwa ada sesuatu yang berada di luar lingkup hukum alam, perlu bagi kita menguasai keseluruhan hukum Samawi dan
bahwa kemampuan intelek kita memang telah memahami keseluruhan konsep Kekuatan
Tuhan yang telah diungkapkan sejak awal alam tercipta sampai dengan saat
ini, dan yang masih akan diungkapkan
Tuhan nanti sepanjang keabadian.
Kami meyakini bahwa Kekuatan Allah Swt. bersifat
tidak terbatas, karena itu merupakan suatu kegilaan jika kita mengharapkan bisa memahami keseluruhan Kekuasaan-Nya. Jika kekuasaan tersebut bisa diwadahi
dalam setakat pengamatan kita, lalu
bagaimana menyatakannya sebagai suatu
yang tidak terbatas dan tanpa akhir?
Dalam keadaan demikian kita tidak saja akan
menghadapi kesulitan bahwa pengalaman kita yang terbatas dan tidak sempurna ini dianggap bisa memahami keseluruhan kekuasaan
Tuhan Yang Maha Abadi, tetapi juga akan muncul kesulitan yang lebih besar,
karena dengan memberikan batasan
atas kemampuan Wujud-Nya akan
menimbulkan pengertian bahwa Dia Sendiri juga bersifat terbatas.
Sepertinya (seakan-akan) kita telah mengacu
dan mendalami keseluruhan realitas Tuhan Yang Maha Agung. Asumsi
seperti itu akan menghancurkan keimanan
yang berakhir dengan pengingkaran
terhadap Tuhan.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 60-65, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 6 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar