بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami,
Semoga Allah memberi salawat dan
berkat atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)
Pentingnya Keberadaan Sosok “Pemberi
Syafaat” & Makna “Peniupan Ruh” Oleh Allah Swt. Kepada Adam dan Ke-Muslim-an Sempurna Nabi Besar Muhammad
Saw.
Bab 26
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda
Masih
Mau’ud a.s. mengenai nubuatan Nabi Daud a.s. dan Nabi Yesaya a.s. tentang
Nabi Besar Muhammad saw.:
“Bukan hanya Yesus
saja yang telah menubuatkan bahwa kedatangan Hadhrat Rasulullah saw. sebagai kemunculan (kedatangan) Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri,
karena nabi-nabi
lain pun dalam nubuatan mereka
menggunakan istilah yang sama dan secara metaforika
(kiasan) menggambarkan kedatangan
beliau sebagai munculnya (kedatangan) Allah Yang Maha Kuasa, dan karena wujud beliau merupakan manifestasi
(penampakan) sempurna dari Tuhan lalu menyebut
beliau sebagai Tuhan. Dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Mazmur[1] diutarakan:
Engkau yang terelok di antara anak-anak
manusia, kemurahan tercurah pada bibir engkau, sebab itu Allah telah memberkati
engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedang engkau pada pinggang,
hai pahlawan, dalam keagungan engkau dan semarak engkau. Dalam semarak englau
itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan.
Biarlah tangan kanan engkau mengajarkan
engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat.
Anak-anak panah engkau tajam menembus
jantung musuh raja, bangsa-bangsa jatuh di bawah kaki engkau.
Takhta engkau kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan
selamanya dan tongkat kerajaan engkau adalah tongkat kebenaran.
Engkau mencintai keadilan dan membenci
kefasikan, sebab itu Allah,Allah engkau telah mengurapi engkau dengan minyak
sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu engkau.
Ungkapan “Takhta engkau
kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat kerajaan
engkau adalah tongkat kebenaran” bermakna metaforika (kiasan) yang bermaksud memperlihatkan keluhuran derajat keruhanian Nabi Suci Muhammad saw.
Begitu pula dalam Perjanjian
Lama pada Kitab Yesaya[2] diungkapkan:
Lihat itu hamba-Ku yang Ku-pegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku
berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku
keatasnya supaya ia menyatakan hukum
kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau
menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah
terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan
dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan
tidak akan patah terkulai sampai ia menegakkan hukum di bumi . . .
Tuhan
keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur.
Ungkapan “Tuhan keluar
berperang seperti pahlawan” merupakan deskripsi metaforika
(kiasan) dari kegagahan kedatangan
Nabi Suci saw.. Banyak lagi nabi-nabi lainnya yang telah
menggunakan metaforika (kiasan) ini dalam nubuatan mereka
menyangkut kabar kedatangan Hadhrat Rasulullah saw..” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind
Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 3,
hlm. 65-67, London, 1984).
Itulah sebabnya Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. pun telah menyebut kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. dengan ungkapan “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius
23:37-39), sehubungan dengan akan dicabut-Nya nikmat
kenabian dan kerajaaan dari
kalangan Bani Israil akibat kedurhakaan
berulangkali yang dilakukan Bani Israil
terhadap para Rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka, termasuk upaya mereka membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.2:88-89; QS.4:156-159):
23:37 "Yerusalem, Yerusalem , engkau yang membunuh nabi-nabi dan
melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan
anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah
sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan
ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai
sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga
kamu berkata: Diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan! "
Pentingnya Keberadaan Sosok Pemberi Syafaat
(Perantaraan)
Sehubungan dengan kesempurnaan “perpaduan” antara Nabi Besar
Muhammad saw. dengan Allah Swt. (QS.53:8-9) – dalam hubungannya dengan masalah pemberian
syafaat -- Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Masalah
keselamatan (najat) dan perantaraan (syafaat) selalu merupakan pokok bahasan utama dalam agama,
karena tujuan manusia menganut suatu agama adalah pada masalah
tersebut. Untuk menguji kebenaran suatu agama, masalah tersebut merupakan kriteria
yang jelas dan terbuka, sehingga manusia bisa dipuaskan bahwa agama tersebut adalah benar dan berasal dari Tuhan.
Agama yang tidak
mengemukakan masalah ini secara sepatutnya
atau tidak sanggup membuktikan kepada para penganutnya dengan contoh-contoh
segar dari mereka yang beroleh keselamatan,
dengan sendirinya tidak dapat dikatakan sebagai agama yang benar.
Adapun agama yang bisa
memperlihatkan dengan benar wujud realitas
(kenyataan) dari keselamatan dan membuktikannya dengan orang-orang yang telah memperolehnya pada saat ini, dengan
sendirinya membuktikan dirinya sebagai agama yang benar
dan berasal dari Tuhan.
Jelas bahwa setiap
manusia secara alamiah akan merasa membutuhkan “tangan yang kuat” yang akan menjaganya dari segala kemudharatan yang ditimbulkan oleh kelalaian, dorongan nafsu
egonya, kelemahan-kelemahan, kebodohan, kegelapan, rasa takut dan ragu-ragu
akibat dari berbagai bencana dan cobaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan
manusia.
Pada umumnya manusia menyadari bahwa fitrat dirinya itu lemah dan ia tidak yakin
akan bisa keluar dari kegelapan egonya
dengan kekuatan (kemampuan) dirinya
sendiri. Hal ini menjadi bukti dari kesadaran kalbu
manusia. Disamping itu perenungan
menunjukkan bahwa penalaran yang sehat
juga merasa perlunya ada sosok perantara (pemberi syafaat) yang
membawa keselamatan, karena Allah Swt. berada di maqam (martabat) Kesucian dan Kemurnian yang paling tinggi, sedangkan manusia berada di lubang dosa dan kegelapan
yang paling dalam, yang karena tidak mempunyai kedekatan dan kesamaan dengan Tuhan-nya
lalu tidak bisa menerima keselamatan Ilahi secara langsung. Karena itulah kebijakan
dan rahmat Ilahi menetapkan adanya
beberapa pribadi-pribadi sempurna
yang batinnya bersih, agar berlaku sebagai sarana pendekatan (washilah) di antara
para makhluk dengan Tuhannya.
Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki fitrat Samawi disamping sifat-sifat duniawi. Berkat fitrat Samawinya mereka ini akan
menerima berkat Ilahi, sedangkan karena fitrat
duniawinya mereka akan bisa menyampaikan rahmat yang diterima dari langit
itu kepada umat manusia.
Manusia-manusia seperti
ini berkat kesempurnaan fitrat-fitrat
Samawi dan duniawinya jelas akan tampil beda di
antara umat manusia. Sepintas lalu dapat dikatakan bahwa mereka itu adalah makhluk-makhluk yang diciptakan secara khusus.
Hasrat mereka untuk memperlihatkan keagungan dan kebesaran Tuhan serta keimanan yang
memenuhi batin mereka -- disamping kasih mereka terhadap umat manusia -- semuanya merupakan hal-hal khusus yang sulit untuk bisa dimengerti manusia biasa.
Patut diingat, bahwa
semua manusia khusus ini tidak sama derajatnya
karena dari antara mereka ada yang derajatnya
tinggi karena kelebihan alamiah mereka, sedangkan
yang lainnya derajatnya lebih di bawah dan bahkan
ada yang lebih rendah lagi.
Makna “Peniupan Ruh” Kepada
Adam
Kesadaran yang dimiliki manusia yang berakal meyakini bahwa masalah perantara (pemberi syafaat) ini bukanlah masalah mengada-ada karena merupakan ilustrasi dari pengaturan Ilahi. Akar kata dari syafaat dalam bahasa Arab mengandung arti pasangan.
Sifat dari perantaraan dengan demikian mengindikasikan
bahwa sang perantara mempunyai hubungan dengan kedua belah pihak. Di satu sisi, batinnya mempunyai hubungan
yang erat dengan Allah Swt., sehingga dari segi keruhanian yang bersangkutan menjadi pasangan dari Ketauhidan
Ilahi, sedangkan di sisi lain ia memiliki hubungan yang amat dekat dengan
umat manusia, seolah-olah ia menjadi bagian tubuh dari umat manusia tersebut.
Fitrat perantaraan
(pemberian syafaat) untuk berwujud harus mengandung kedua unsur tersebut. Karena
itulah maka Kebijakan Ilahi
menciptakan Adam dari awalnya sedemikian rupa telah
membawa kedua bentuk hubungan
tersebut dalam fitrat dirinya. Suatu hubungan diciptakan berkaitan dengan Allah Swt. sebagaimana dinyatakan dalam
Al-Quran:
فَاِذَا
سَوَّیۡتُہٗ وَ نَفَخۡتُ فِیۡہِ مِنۡ
رُّوۡحِیۡ فَقَعُوۡا لَہٗ سٰجِدِیۡنَ
Ketika Aku telah
memberinya bentuk yang sempurna dan telah Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya maka jatuhkanlah diri kamu tunduk
kepadanya (Al-Hijr [15]:30).
Ayat ini menggambarkan
bahwa dalam penciptaan Adam, Tuhan telah membentuk perhubungan dengan Adam dengan cara meniupkan
ruh-Nya ke dalam dirinya. Hal ini dilakukan agar manusia memiliki hubungan yang bersifat alamiah dengan Tuhan. Pada saat yang bersamaan, alamiahnya Adam juga mempunyai hubungan
dengan umat manusia lain karena
mereka itu semua adalah tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya[3] agar mereka ikut menerima berkat dari ruh yang “ditiupkan” kepada Adam
dan dengan demikian Adam secara alamiah menjadi pembawa syafaat (perantara) bagi mereka.
Karena fitratnya tersebut maka turunan selanjutnya dari dirinya juga akan membawa sifat
bertakwa dari Adam sebagai ruh yang telah ditiupkan
ke dalam dirinya, sama seperti anak
hewan membawa juga fitrat sifat
dan perilaku bapaknya. Hal ini
menggambarkan bahwa esensi dari perantaraan (syafaat) itu adalah bahwa keturunan selanjutnya akan membawa fitrat yang sama dari leluhurnya.
Pewarisan Sifat-sifat
Kemanusiaan yang Baik
Sebagaimana telah
dijelaskan, bahwa akar kata dari syafaat dalam bahasa Arab berasal dari
kata sepasang, yang juga mengandung
arti pasangan. Karena itu seseorang yang secara alamiah menjadi pasangan dari yang lainnya maka ia pun akan membawa fitrat dari pasangannya tersebut. Inilah yang menjadi basis dari pewarisan sifat-sifat.
Seorang anak manusia akan membawa fitrat kemanusiaan, sedangkan anak kuda akan menunjukkan fitrat makhluk dari jenis kuda.
Dengan kata lain, pewarisan ini berasal dari kemaslahatan perantaraan (syafaat), karena esensi dari syafaat adalah hubungan di antara pasangan maka seseorang yang menginginkan kebaikan dari syafaat
yang lainnya harus mempunyai hubungan
yang alamiah dengan sosok tersebut agar yang
bersangkutan bisa dikaruniakan segala
hal yang juga telah diberikan kepada sosok
pembawa syafaat tersebut. Hubungan
tersebut ada dalam fitrat manusia
sebagai karunia bahwa seseorang merupakan bagian dari orang
lainnya, dan hal ini juga bisa diperoleh secara sengaja.
Ketika seseorang bermaksud
meningkatkan kecintaan alamiah dan simpatinya kepada umat manusia, maka
hal itu bisa dicapainya sepadan
dengan proporsi dari fitratnya. Dengan cara yang sama maka kecintaan akan meluap dari hati seseorang kepada orang lainnya sedemikian rupa sehingga sang pencinta ini tidak akan menemukan kenyamanan
tanpa kedekatan dengan sosok yang dicintainya, dan pada akhirnya intensitas
dari kecintaannya itu akan mempengaruhi kalbu dari sosok yang dicintainya. Seseorang yang mencintai dengan sangat adalah orang yang selalu secara tulus mengharapkan kebaikan bagi sang kekasih dengan cara yang
sempurna.
Dengan demikian kecintaan merupakan pokok dasar dari fungsi perantaraan (pemberian syafaat) ini
jika disertai dengan hubungan alamiah,
karena tanpa hubungan yang bersifat alamiah maka
kesempurnaan kasih -- yang menjadi syarat dari pemberian syafaat -- tidak mungkin ada.
Agar manusia dibekali dengan sifat hubungan seperti ini maka Siti Hawa tidak diciptakan dari ras yang berbeda
dari Adam, bahkan dikatakan
diciptakan dari tulang iga (rusuk) Adam sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ
اتَّقُوۡا رَبَّکُمُ
الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ وَّ خَلَقَ
مِنۡہَا زَوۡجَہَا
“[Hai manusia,
bertakwalah kepada] Tuhan kamu Yang
menciptakan kamu dari satu jiwa dan dari
Dia menciptakan
jodohnya” (Al-Nisa [4]:2).
Dengan kata lain, Tuhan menciptakan Siti Hawa dari wujud yang
sama dengan Adam dengan tujuan agar hubungan
Adam kepadanya dan kepada keturunannya akan bersifat alamiah dan
bukan artificial
(buatan/dibuat-buat). Hal itu diciptakan demikian agar hubungan dan kasih-sayang
di antara keturunan Adam menjadi kekal, karena hubungan yang tidak alamiah atau artifisial (buatan/dibuat-buat) pasti tidak
akan kekal karena tidak memiliki daya
tarik yang menjadi ciri dari hubungan alamiah.
Demikian itulah Tuhan telah menciptakan secara alamiah kedua bentuk hubungan yang ada dalam diri Adam, yaitu hubungan dengan Tuhannya dan dengan umat manusia. Dengan demikian jelas
bahwa sosok manusia sempurna yang mampu menjadi perantara
(pemberi syafaat) haruslah seseorang yang memiliki kedua bentuk
hubungan tersebut secara sempurna.
Makna Penciptaan Siti Hawa
dari “Bagian Tubuh” Adam
Tuhan mengatur bahwa
setelah Adam pun, kedua bentuk hubungan itu harus ada bagi seseorang yang
akan menjadi perantara (pemberi
syafaat), dengan pengertian bahwa hubungan yang satu adalah hasil
dari ruh samawi yang ditiupkan ke dalam dirinya -- dimana Tuhan
menciptakan hubungan itu seolah-olah
Dia itu turun kepadanya -- sedangkan hubungan yang kedua adalah kedekatan pasangan antar manusia yang diperkuat di antara
Adam dan Siti Hawa, sehingga cinta dan kasih-sayang bersinar kuat di antara
mereka berdua lebih terang daripada dengan yang lainnya.
Adalah karena hal seperti inilah maka mereka ini tertarik kepada isteri-isteri mereka. Ini merupakan tanda bahwa mereka ini memiliki ruh
kasih-sayang dengan umat manusia
sebagaimana juga ditegaskan dalam salah satu hadith: “Yang terbaik
dari antara kalian adalah mereka yang berperilaku
terbaik terhadap para isterinya.” Hal ini
sama dengan menyatakan bahwa “salah satu dari kalian
yang paling kasih dan sayang terhadap umat manusia adalah ia yang
berperilaku baik terhadap isterinya.”
Seseorang yang memperlakukan isterinya dengan kasar tidak akan mungkin bersikap sayang terhadap orang lain,
karena Tuhan setelah menciptakan Adam
telah menjadikan isterinya sebagai sasaran kasihnya yang pertama. Karena
itu barangsiapa yang tidak mencintai isterinya
atau tidak memiliki isteri untuk
disayang, tidak akan mungkin mencapai status
sebagai manusia sempurna dan tidak
memiliki salah satu persyaratan
sebagai pemberi syafaat. Bahkan
misalnya pun ia itu tidak mempunyai dosa, tetap
saja ia tidak bisa berlaku sebagai perantara (pemberi syafaat).
Seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita telah
meletakkan fondasi kasih-sayang terhadap umat manusia
dalam dirinya sendiri, karena seorang isteri menjadi sarana pengembangan lingkaran hubungan yang melebar, dan ketika anak-anak kemudian dilahirkan di antara
mereka maka lingkaran ini menjadi bertambah lebar lagi.
Dengan cara demikian maka seseorang menjadi terbiasa pada kasih dan sayang dimana ketika lingkaran
kebiasaannya itu melebar maka simpatinya terhadap orang lain juga akan menjadi lebih luas. Adapun mereka yang menganut
hidup selibat (tidak kawin) tidak mempunyai kesempatan untuk
mengembangkan kebiasaan tersebut dan
karenanya hatinya lalu menjadi kering dan keras.
Ketiadaan dosa tidak ada kaitannya dengan perantaraan (pemberian syafaat). Definisi dosa
ialah adanya orang yang patut
mendapat hukuman karena telah dengan sengaja mengingkari atau
melanggar perintah Tuhan. Dengan demikian jelas bahwa
ketiadaan dosa dan pemberian syafaat tidak saling berkait,
mengingat anak-anak kecil dan mereka yang idiot (lemah
mental) sejak
lahir berada dalam keadaan tidak berdosa
karena mereka ini tidak bisa melanggar
perintah Tuhan secara sengaja.
Mereka pun tidak akan dihukum dalam pandangan Allah Swt. atas
segala tindakan mereka. Mereka
memang bisa dianggap tidak berdosa,
tetapi apakah mungkin mereka menjadi perantara (pemberi syafaat) bagi umat manusia dan disebut sebagai juru selamat?
Gambaran Kedekatan Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. Dengan
Allah Swt. dan Manusia
Sebagaimana telah aku
jelaskan sebelumnya, seorang perantara
(pemberi syafaat) haruslah memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan-nya -- seolah-olah Tuhan telah turun ke dalam batinnya -- dimana sifat kemanusiaannya lalu pupus
karena ia telah menjadi manifestasi Ilahi,
dan kalbunya telah mencair dan mengalir seperti air ke arah Tuhan-nya, sehingga ia mencapai titik terdekat dengan Wujud-Nya.
Kiranya juga perlu bagi
seorang perantara (pemberi syafaat)
bahwa hatinya dipenuhi dengan kecintaan terhadap orang yang akan diberinya syafaat, dimana intensitas (kesungguhan) perasaannya seolah-olah menjadikan ia
merasa anggota-anggota tubuhnya terlepas dari dirinya dan perasaannya
menjadi bertemperasan.
Perasaan kasihnya akan membawanya kepada suatu tingkatan yang lebih tinggi daripada kasih
seorang bapak atau ibu. Jika
kedua keadaan ini terwujud dalam diri seseorang maka ia pada satu sisi akan bersatu dengan maqam samawi dan pada sisi lain
dengan maqam duniawi. Pada saat
itulah kedua sisi dari neraca akan
menjadi seimbang, dengan pengertian
bahwa akan ada manifestasi sempurna
dari Samawi dan juga manifestasi sempurna dari duniawi dimana ia akan melayang di tengah di antara keduanya.
Menunjuk kepada maqam (martabat) perantaraan
ini Al-Quran meneguhkan kesempurnaan manusiawi Hadhrat Rasulullah saw.:
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
“Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati
umat manusia, maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi” (Al-Najm [53]:9-10).
Ayat ini mengandung arti
bahwa Hadhrat Rasulullah saw. telah naik
ke atas mendekati Allah Swt.. sedemikian dekatnya
sehingga memperoleh kesempurnaan karena kedekatan tersebut
dan mencapai maqam Samawi sepenuhnya, sedangkan di
sisi lain beliau telah mencapai titik
terjauh dari pengkhidmatan dan ibadah yang menyerap
sepenuhnya esensi murni kemanusiaan yaitu kasih dan sayang kepada umat manusia yang menjadi kesempurnaan maqam duniawinya.
Ketika beliau mendekat sepenuhnya kepada Allah Swt. dan kemudian mendekat secara sempurna kepada umat manusia maka
jadilah beliau itu sebagai seutas tali
busur yang menghubungkan kedua ujung busur
panah, dan dengan cara demikian beliau telah memenuhi persyaratan sebagai perantara atau pemberi syafaat. Dalam firman-Nya Tuhan telah bersaksi bahwa
beliau itu mempunyai maqam di antara Tuhan dan manusia laiknya seutas tali
yang menghubungkan kedua ujung busur.
Ke-Muslim-an (Penyerahan
Diri) yang Sempurna
Di tempat
lain untuk menggambarkan kedekatan
beliau kepada Allah Swt.. dikatakan:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ
Katakanlah: “Sesungguhnya
sembahyangku dan pengorbananku dan kehidupanku
serta kematianku adalah semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta
alam”’ (Al-An’aam
6]:163).
Dengan kata lain,
diperintahkan kepada Hadhrat Rasulullah saw. untuk memberitahukan kepada
umat manusia bahwa beliau telah fana
(hilang-sirna) dari dunia dan semua ibadah beliau
semata-mata hanya bagi Allah Swt...
Ayat ini mengindikasikan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. menjadi demikian khidmat dan fana
di dalam Tuhan sehingga tiap nafas kehidupan beliau dan bahkan kematiannya adalah semata-mata bagi
Allah Swt., dimana egonya sendiri, makhluk dan sarana apa pun tidak
mempunyai peran dalam wujud beliau,
dan bahwa jiwa beliau
sepenuhnya sujud di hadirat Ilahi dimana tidak ada apa pun yang menyertainya.
Mengingat bahwa kasih Allah Swt. dan pencapaian maqam yang tinggi berupa kedekatan
kepada-Nya merupakan hal yang tidak mudah dicerna manusia biasa, maka Allah
Yang Maha Agung telah memperlihatkan melalui perilaku
dari Hadhrat Rasulullah saw. bagaimana beliau itu telah memilih Allah Swt. semata dibanding segala hal, dimana setiap partikel dari diri beliau penuh dengan kecintaan dan keagungan Allah Swt.. sehingga wujud beliau menjadi cerminan dari manifestasi
Ilahi. Pengaruh dari kecintaan
yang sempurna kepada Allah Swt. semuanya dicitrakan
dalam wujud Hadhrat
Rasulullah Saw..” (Review of
Religions-Urdu, jld. I, hlm. 175-184).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 30 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar