Jumat, 11 Desember 2015

Pribadi Nabi Besar Muhammad Himpunan Sifat-sifat Mulia Para Rasul Allah & Kesempurnaan "Daya Pikul" Nabi Besar Muhammad Saw. Mengemban Syariat Terakhir dan Tersempurna


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

Pribadi Nabi Besar Muhammad  Saw.   Himpunan Sifat-sifat  Mulia Para Rasul Allah & Kesempurnaan “Daya Pikul”  Nabi Besar Muhammad Saw. Mengemban Syariat Terakhir dan Tersempurna


Bab 31


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda-sabda     Masih Mau’ud a.s.  bahwa Nabi Besar Muhammad saw. selama hidupnya tidak pernah “tersesat jalan”:
   “Nabi Musa a.s. amat sabar dan lembut hati kepada Bani Israil dibanding nabi-nabi mereka lainnya. Tidak juga Isa a.s. atau nabi lain bangsa Israil yang bisa mencapai kedudukan tinggi dari Nabi Musa a.s.. Kitab Taurat mengungkapkan bahwa Nabi Musa a.s. lebih baik dan lebih agung dari semua nabi bangsa Israil dalam hal kebaikan hati, kelembutan dan nilai-nilai akhlak yang tinggi. Sebagai contoh, Taurat menyatakan: ‘Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi’ (Bilangan 12:3).
     Allah Swt.  dalam Taurat memuji kelembutan hati Nabi Musa a.s. dengan kata-kata yang tidak pernah digunakan-Nya terhadap nabi-nabi Israil lainnya. Namun harus diakui bahwa nilai-nilai akhlak yang agung dari Nabi Suci Saw. sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah 1000  kali lebih tinggi daripada Nabi Musa a.s.. Allah Swt.  mengenai diri Nabi Suci Saw. menyatakan bahwa dalam diri beliau terkumpul semua akhlak mulia yang tersebar di antara para nabi dan menyatakan mengenai beliau:
وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung  (Al-Qalam [68]:5).
    Kata azhiim  yang digunakan dalam ayat ini menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk. Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon ituazhiim  maka yang dimaksud adalah pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah pohon. Berarti semua akhlak mulia dan fitrat baik yang mungkin dimiliki seorang manusia  semuanya ada pada wujud Hadhrat Rasulullah Saw.. Dengan demikian hal ini merupakan pujian yang tertinggi. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat lain:
وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
 Dan karunia Allah atas engkau sangat besar  (Al-Nisā [4]:114)
yang berarti bahwa Tuhan telah menganugrahkan rahmat-Nya atas diri beliau dalam takaran yang tertinggi dan tidak ada nabi lain yang bisa sepadan derajatnya dengan beliau.
   Pujian ini juga dikemukakan dalam Mazmur dalam Kitab Perjanjian Lama yang merupakan nubuatan berkaitan dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. yang berbunyi:
Sebab itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu’ (Mazmur 45:7).
(Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 605-606, London, 1984).

Kelebihan  Nabi Besar Muhammad Saw.   di atas Nabi-nabi lain

    Sebagaimana lautan merupakan tempat “bermuaranya” sungai-sungai, demikian pula halnya kesempurnaan pribadi (akhlak dan ruhani) Nabi besar Muhammad saw. merupakan “lautan luas tak bertepi” tempat bermuaranya  sifat-sifat terpuji seluruh Rasul Allah. Mengenai hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
  “Kitab Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa semua nabi-nabi adalah pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. sebagaimana difirmankan:
.... ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi wahyu yang ada padamu maka haruslah kamu beriman kepadanya dan haruslah kamu membantunya  (Ali Imran [3]:82).
    Dari ayat itu bisa disimpulkan bahwa semua nabi-nabi menjadi pengikut dari Nabi Suci Saw. (Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 300, London, 1984).
   Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai terhimpunnya sifat-sifat khusus para rasul Allah dalam pribadi Nabi Besar Muhammad saw.:
   “Hadhrat Rasulullah Saw. menggabung semua nama-nama para nabi dalam wujud beliau dengan pengertian bahwa beliau memiliki semua kelebihan dari masing-masing nabi tersebut. Dengan demikian beliau itu adalah juga Musa, Isa, Adam, Ibrahim, Yusuf dan Ya’qub. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ ؕ
Mereka itulah orang-orang yang terhadap mereka Allah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka (Al-An’ām [6]:91).
     Yang berarti agar Hadhrat Rasulullah Saw. menggabungkan dalam diri beliau semua petunjuk yang berbeda-beda yang telah diturunkan kepada nabi-nabi lain. Berarti semua kehormatan dari para nabi  telah menjadi satu dalam diri Nabi Suci Saw. dan karena itu jugalah nama beliau sebagai Muhammad berkonotasi yang amat terpuji karena pujian luhur seperti itu hanya bisa dibayangkan jika semua keunggulan dan sifat-sifat khusus para nabi lainnya menjadi satu dalam wujud Nabi Suci Saw..
     Banyak ayat di dalam Kitab Al-Quran yang menyatakan secara tegas bahwa wujud Nabi Suci Saw. karena keluhuran fitratnya adalah merupakan gabungan dari para nabi lainnya. Setiap nabi yang pernah ada akan bisa menemukan keterkaitan dirinya dengan beliau, sehingga menubuatkan bahwa beliau akan datang atas nama dirinya.
   Di suatu tempat Al-Quran mengemukakan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. memiliki kedekatan yang sangat dengan Nabi Ibrahim a.s. (Ali Imran [3]:69)10.[1] Dalam salah sebuah hadith Bukhari  Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa beliau memiliki hubungan yang dekat dengan Nabi Isa a.s. dan bahwa wujud beliau menjadi satu dengan wujud Nabi Isa tersebut.
   Hal ini mengkonfirmasikan nubuatan Nabi Isa a.s. yang menyatakan bahwa Nabi Suci Saw. akan muncul dengan namanya, dan begitu jugalah yang terjadi ketika Al-Masih kita datang untuk menyelesaikan karya (pekerjaan) dari Al-Masih Nasrani dan memberi kesaksian atas kebenaran dirinya serta membebaskannya dari fitnah yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristen,  dan dengan cara demikian telah memberikan ketenteraman pada ruh   Nabi Isa a.s.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V,  hlm. 343, London, 1984).

Kesempurnaan Al-Quran Dalam  Segala Seginya

   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan  kesempurnaan Al-Quran dalam segala seginya yang tak tertandingi  oleh Kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya:
     “Wahyu Ilahi merupakan cermin dimana Sifat-sifat sempurna   Allah Yang Maha Agung bisa dilihat, dan kemampuan melihat ini tergantung kepada kadar kebersihan  nabi yang menjadi penerima wahyu.
   Mengingat derajat Hadhrat Rasulullah Saw. jauh melampaui semua nabi  dalam masalah kemurnian jiwa, daya serap penalaran, kesucian, kerendahan hati, ketulusan, kepercayaan, ketaatan dan cintanya kepada Tuhan,  maka Allah Yang Maha Luhur telah mengurapi beliau dengan wewangian khusus yang jauh lebih harum daripada para nabi lainnya.
    Dada dan hati beliau yang lebih jembar, suci, polos, cemerlang dan welas asih dianggap lebih berhak menerima wahyu Ilahi yang paling sempurna, lebih kuat, lebih luhur dan lebih lengkap dibanding wahyu yang diturunkan kepada mereka sebelum atau setelah beliau. Karena itulah maka Kitab Al-Quran memiliki keunggulan yang demikian luar biasa, sehingga kecemerlangan semua Kitab  yang diwahyukan sebelumnya menjadi suram dibanding keperkasaan Nur Al-Quran.
     Tidak ada penalaran yang mampu mengemukakan suatu kebenaran baru yang tidak terdapat di dalam Kitab Al-Quran, dan tidak ada argumentasi yang belum direpresentasikan (dipaparkan)  di dalamnya. Tidak ada kata-kata yang bisa demikian mempengaruhi hati seperti firman-firman perkasa yang menjadi berkat bagi jutaan hati manusia.
  Tidak diragukan lagi bahwa Kitab ini merupakan cermin jernih yang merefleksikan (memantulkan) Sifat-sifat sempurna Ilahiah, dimana semuanya bisa ditemukan apabila diinginkan seorang pencari kebenaran untuk mencapai tingkat pemahaman tertinggi.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 71-72, London, 1984).
       Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa kesempurnan martabat akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sebanding dengan  berbagai bentuk kezaliman yang ditimpakan oleh berbagai bangsa kepada beliau saw. dalam rangka membuktikan kesempurnaan derajat beliau saw. tersebut:
   “Karena Hadhrat Rasulullah Saw. adalah sebaik-baiknya nabi dan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding semua rasul,  dan karena Allah Swt.  juga mentakdirkan beliau sebagai Penghulu dari semua nabi,  maka sepantasnya pula jika beliau dinyatakan kepada dunia sebagai manusia yang lebih baik dan lebih luhur daripada semuanya, karena itu  Allah Yang Maha Agung meluaskan penyebaran berkat-Nya kepada seluruh umat manusia agar segala usaha dan upaya beliau dapat dimanifestasikan (diwujudkan) secara umum dan tidak terbatas pada satu bangsa tertentu  sebagaimana halnya dengan ajaran Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s..
   Dengan demikian karena aniaya yang ditimpakan kepada beliau dari segala jurusan dan oleh berbagai jenis bangsa maka sewajarnya beliau berhak atas ganjaran akbar yang tidak akan diberikan kepada nabi-nabi lainnya. (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  653-654, London, 1984).

Kesempurnaan “Daya Pikul” Nabi Besar Muhammad Saw.

    Sesuai dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut, firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan  kesempurnaan “daya pikul” yang dimiliki  oleh Nabi  Besar Muhammad saw. untuk menjadi penerima risalat tersempurna dan terakhir   -- yakni agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)    -- yang  selain beliau saw. enggan untuk menerima kehormatan dari Allah Swt. tersebut karena merasa tidak akan mampu untuk “memikulnya” (mengamalkannya) secara sempurna:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunungفَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا --  tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ -- tetapi  manusia memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  Supaya Allah akan menghu-kum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sa-yang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzab [33]:73-74).
     Hamala al-amānata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti  lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
    (1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi untuk menayang (menjelmakan)  citra (bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata sanggup melaksanakannya; makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung sama sekali tidak dapat menandinginya.
     Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap dirinya sendiri dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
      (2) Jika kata al-amānat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna, yakni, Nabi Besar Muhammad saw.,  maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah beliau saw.  sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan terakhir (QS.5:4) yaitu syariat Al-Quran, sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya.
      (3) Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusiamenolak mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
   Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan (berkehendak) mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:12.

Sabda Masih Mau’ud a.s. dan Makna “Pingsannya” Nabi Musa a.s.

    Sehubungan dengan   firman Allah Swt. mengenai kesempurnaan kemampuan Insan kamil (manusia sempurna – yakni Nabi Besar Muhammad saw.)  --     tersebut Masih mau’ud a.s. bersabda:
   “Adalah menjadi keyakinanku bahwa misalnya -- dengan mengesampingkan Nabi Suci Saw. -- jika semua nabi  yang mendahului beliau itu digabungkan untuk melaksanakan tugas-tugas mereka serta melancarkan reformasi yang dibawa oleh Nabi Suci Saw. maka mereka semua itu tidak akan ada yang mampu. Mereka tidak ada memiliki tekad dan kekuatan sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada Hadhrat Rasulullah Saw..
    Kalau ada seseorang yang menyatakan bahwa apa yang aku kemukakan ini sebagai penghinaan kepada nabi-nabi lain maka sama saja dengan orang itu telah mengutarakan fitnah terhadap diriku. Adalah bagian dari keimananku untuk menghormati dan menghargai nabi-nabi tersebut, hanya saja Hadhrat Rasulullah Saw. berada di atas semuanya.
   Nabi-nabi yang lain merupakan bagian dari keimananku juga dan keseluruhan diriku diresapi oleh keimanan demikian. Adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan diriku untuk meniadakannya. Biarlah para lawanku yang buta mengatakan apa yang mereka mau, yang jelas Nabi Suci kita telah melaksanakan tugas yang jika pun dikerjakan secara bersamaan atau pun sendiri-sendiri oleh para nabi lain, tetap saja mereka tidak akan mampu melaksanakannya. Hal ini merupakan rahmat Allah Swt.  yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 174).
  Firman Allah Swt.  mengenai “pingsannya” Nabi Musa a.s. berikut ini pun mengisyaratkan kepada kenyataan itu pula:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ  -- ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ  -- Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat me-lihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ  -- lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا  -- Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  --   dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  --  Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
     Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt.  dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa  Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat  Allah Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
       Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan)  Allah Swt.   sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi  Allah Swt.   sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa s.s.   dengan segala makrifat mengenai sifat-sifat Allah  Swt.  akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.

Pernyataan Iman Nabi Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

    Nabi Musa s.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)   Allah Swt.,  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli   Allah Swt.   dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampak-kanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
    Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt.  yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad  saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
       Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s.,  karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
    Dalam jawaban Allah Swt. dalam ayat: قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ  -- Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat me-lihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu” Nabi Musa a.s.  diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah Swt.  memilih gunung untuk bertajalli.
    Ketika Tajalli Ilahi tersebut berlangsung maka gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan  -- dalam pengalaman ruhani tersebut  -- Nabi Musa a.s.  karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri.
        Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar (diyakinkan) bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat (wujud) yang kelak Allah Swt.  bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw..
      Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.  itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt.  dengan mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi Musa a.s.  yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau berseru:  تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s.  kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
    Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran 24:18. Demikian pula  ucapan Nabi Musa a.s. “ingin menyaksikan Tuhan”  erat kaitannya dengan nubuatan para Rasul Allah di kalangan Bani Israil yang dalam nubuatan  mereka menggambarkan pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.  ibarat “kedatangan Tuhan” (Mazmur 42:3-8; Yesaya 41:5 & !3; Yesaya; Matius 23:37-39)

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5 Desember  2015







[1] Ali Imran [3]:69 itu berbunyi “Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim  adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi ini dan orang-orang yang beriman kepadanya” (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar