بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Semua berkat berasal dari
Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
“Hadhrat
Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat
atas dirinya”
“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap
Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku
adalah kafir yang akbar”
(Al-Masih-al-Mau’ud
a.s.)
Pribadi Nabi Besar Muhammad Saw. Himpunan Sifat-sifat Mulia Para Rasul Allah & Kesempurnaan “Daya
Pikul” Nabi Besar Muhammad Saw.
Mengemban Syariat Terakhir dan
Tersempurna
Bab 31
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda-sabda Masih Mau’ud a.s. bahwa Nabi Besar Muhammad saw. selama hidupnya
tidak pernah “tersesat jalan”:
“Nabi
Musa a.s. amat sabar dan lembut hati kepada Bani Israil dibanding nabi-nabi mereka lainnya. Tidak juga Isa a.s.
atau nabi lain bangsa Israil yang
bisa mencapai kedudukan tinggi dari
Nabi Musa a.s.. Kitab Taurat
mengungkapkan bahwa Nabi Musa a.s. lebih
baik dan lebih agung dari semua nabi bangsa Israil dalam hal
kebaikan hati, kelembutan dan nilai-nilai
akhlak yang tinggi. Sebagai contoh, Taurat
menyatakan: ‘Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari
setiap manusia di atas muka bumi’ (Bilangan 12:3).
Allah Swt. dalam Taurat
memuji kelembutan hati Nabi Musa
a.s. dengan kata-kata yang tidak pernah digunakan-Nya terhadap nabi-nabi Israil lainnya. Namun harus
diakui bahwa nilai-nilai akhlak yang
agung dari Nabi Suci Saw. sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah 1000
kali lebih tinggi daripada Nabi Musa a.s.. Allah Swt. mengenai diri Nabi Suci Saw. menyatakan bahwa
dalam diri beliau terkumpul semua akhlak mulia yang tersebar di antara
para nabi dan menyatakan mengenai beliau:
وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
engkau benar-benar memiliki akhlak yang
agung (Al-Qalam
[68]:5).
Kata ‘azhiim yang digunakan dalam ayat ini
menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk. Sebagai contoh,
kalau dikatakan sebuah pohon itu ‘azhiim maka yang dimaksud adalah
pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah
pohon. Berarti semua akhlak mulia
dan fitrat baik yang mungkin
dimiliki seorang manusia semuanya ada pada wujud Hadhrat Rasulullah Saw..
Dengan demikian hal ini merupakan pujian
yang tertinggi. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat lain:
وَ کَانَ فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکَ عَظِیۡمًا
Dan karunia Allah atas engkau sangat
besar (Al-Nisā
[4]:114)
yang berarti bahwa Tuhan telah menganugrahkan rahmat-Nya atas diri beliau dalam takaran yang tertinggi
dan tidak ada nabi lain yang bisa sepadan
derajatnya dengan beliau.
Pujian ini juga dikemukakan dalam Mazmur dalam Kitab
Perjanjian Lama yang merupakan nubuatan
berkaitan dengan kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. yang berbunyi:
Sebab itu Allah, Allahmu telah
mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman
sekutumu’ (Mazmur 45:7).
(Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 605-606, London,
1984).
Kelebihan Nabi Besar Muhammad Saw. di
atas Nabi-nabi lain
Sebagaimana lautan merupakan tempat
“bermuaranya” sungai-sungai, demikian pula halnya kesempurnaan pribadi
(akhlak dan ruhani) Nabi besar Muhammad saw. merupakan “lautan luas tak
bertepi” tempat bermuaranya sifat-sifat
terpuji seluruh Rasul Allah. Mengenai hal tersebut Masih Mau’ud
a.s. bersabda:
“Kitab
Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa semua nabi-nabi adalah pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. sebagaimana difirmankan:
.... ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi wahyu yang ada padamu maka haruslah kamu beriman kepadanya dan haruslah kamu membantunya (Ali Imran [3]:82).
Dari
ayat itu bisa disimpulkan bahwa semua nabi-nabi menjadi pengikut dari Nabi Suci
Saw. (Brahin-i- Ahmadiyah, bag. V, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 300,
London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda
lagi mengenai terhimpunnya sifat-sifat
khusus para rasul Allah dalam pribadi Nabi Besar Muhammad saw.:
“Hadhrat
Rasulullah Saw. menggabung semua nama-nama para nabi dalam wujud beliau dengan pengertian bahwa beliau memiliki semua kelebihan dari
masing-masing nabi tersebut. Dengan
demikian beliau itu adalah juga Musa,
Isa, Adam, Ibrahim, Yusuf dan Ya’qub. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ
فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ ؕ
Mereka itulah orang-orang yang terhadap mereka Allah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka’ (Al-An’ām [6]:91).
Yang berarti agar Hadhrat
Rasulullah Saw. menggabungkan dalam
diri beliau semua petunjuk yang
berbeda-beda yang telah diturunkan kepada nabi-nabi
lain. Berarti semua kehormatan dari
para nabi telah menjadi satu dalam diri Nabi Suci
Saw. dan karena itu jugalah nama
beliau sebagai Muhammad berkonotasi
yang amat terpuji karena pujian luhur seperti itu hanya bisa
dibayangkan jika semua keunggulan
dan sifat-sifat khusus para nabi lainnya menjadi satu dalam wujud
Nabi Suci Saw..
Banyak
ayat di dalam Kitab Al-Quran yang menyatakan secara tegas bahwa wujud Nabi Suci Saw. karena keluhuran fitratnya adalah merupakan gabungan dari para nabi lainnya. Setiap
nabi yang pernah ada akan bisa menemukan keterkaitan dirinya dengan beliau,
sehingga menubuatkan bahwa beliau akan datang atas nama dirinya.
Di suatu tempat Al-Quran
mengemukakan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. memiliki kedekatan yang sangat dengan Nabi
Ibrahim a.s. (Ali Imran [3]:69)10.[1] Dalam salah sebuah hadith Bukhari Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa
beliau memiliki hubungan yang dekat
dengan Nabi Isa a.s. dan bahwa wujud
beliau menjadi satu dengan wujud Nabi Isa tersebut.
Hal ini
mengkonfirmasikan nubuatan Nabi Isa
a.s. yang menyatakan bahwa Nabi Suci
Saw. akan muncul dengan namanya,
dan begitu jugalah yang terjadi ketika Al-Masih
kita datang untuk menyelesaikan karya
(pekerjaan) dari Al-Masih Nasrani
dan memberi kesaksian atas kebenaran dirinya serta membebaskannya dari fitnah yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristen, dan dengan cara
demikian telah memberikan ketenteraman
pada ruh Nabi Isa a.s.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind
Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 343, London, 1984).
Kesempurnaan Al-Quran
Dalam Segala Seginya
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan kesempurnaan
Al-Quran dalam segala seginya yang tak tertandingi oleh Kitab-kitab suci yang diwahyukan
sebelumnya:
“Wahyu Ilahi merupakan cermin dimana Sifat-sifat sempurna Allah
Yang Maha Agung bisa dilihat,
dan kemampuan melihat ini tergantung
kepada kadar kebersihan nabi yang menjadi penerima wahyu.
Mengingat derajat Hadhrat Rasulullah Saw. jauh melampaui semua nabi dalam masalah kemurnian jiwa, daya serap penalaran, kesucian,
kerendahan hati, ketulusan, kepercayaan, ketaatan
dan cintanya kepada Tuhan,
maka Allah Yang Maha Luhur
telah mengurapi beliau dengan wewangian khusus yang jauh lebih harum daripada para nabi lainnya.
Dada dan hati beliau
yang lebih jembar, suci, polos, cemerlang dan welas asih dianggap lebih berhak menerima wahyu Ilahi yang paling sempurna, lebih kuat, lebih luhur dan lebih lengkap
dibanding wahyu yang diturunkan
kepada mereka sebelum atau setelah beliau. Karena itulah maka Kitab Al-Quran memiliki keunggulan yang demikian luar biasa, sehingga kecemerlangan semua Kitab
yang diwahyukan sebelumnya
menjadi suram dibanding keperkasaan Nur Al-Quran.
Tidak ada penalaran yang mampu mengemukakan suatu
kebenaran baru yang tidak terdapat
di dalam Kitab Al-Quran, dan tidak
ada argumentasi yang belum direpresentasikan (dipaparkan) di dalamnya. Tidak ada kata-kata yang bisa demikian mempengaruhi
hati seperti firman-firman perkasa
yang menjadi berkat bagi jutaan hati manusia.
Tidak diragukan lagi bahwa
Kitab ini merupakan cermin jernih yang merefleksikan (memantulkan) Sifat-sifat
sempurna Ilahiah, dimana semuanya bisa
ditemukan apabila diinginkan
seorang pencari kebenaran untuk
mencapai tingkat pemahaman tertinggi.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 71-72,
London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa
kesempurnan martabat akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. tersebut
sebanding dengan berbagai bentuk
kezaliman yang ditimpakan oleh berbagai bangsa kepada beliau saw. dalam
rangka membuktikan kesempurnaan derajat beliau saw. tersebut:
“Karena
Hadhrat Rasulullah Saw. adalah sebaik-baiknya nabi dan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding semua rasul, dan karena Allah Swt. juga mentakdirkan
beliau sebagai Penghulu dari semua nabi, maka sepantasnya pula jika beliau dinyatakan
kepada dunia sebagai manusia yang lebih
baik dan lebih luhur daripada
semuanya, karena itu Allah Yang Maha Agung meluaskan penyebaran berkat-Nya kepada seluruh umat manusia agar segala usaha dan upaya beliau dapat dimanifestasikan
(diwujudkan) secara umum dan tidak
terbatas pada satu bangsa tertentu sebagaimana halnya dengan ajaran Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s..
Dengan demikian karena aniaya yang ditimpakan kepada beliau dari segala jurusan dan oleh berbagai jenis
bangsa maka sewajarnya beliau berhak
atas ganjaran akbar yang tidak akan diberikan kepada nabi-nabi lainnya. (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 653-654, London, 1984).
Kesempurnaan “Daya Pikul”
Nabi Besar Muhammad Saw.
Sesuai dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut, firman Allah
Swt. berikut ini mengisyaratkan
kesempurnaan “daya pikul” yang
dimiliki oleh Nabi Besar Muhammad saw. untuk menjadi penerima risalat tersempurna dan terakhir -- yakni agama
Islam (Al-Quran – QS.5:4) --
yang selain beliau saw. enggan untuk
menerima kehormatan dari Allah Swt.
tersebut karena merasa tidak akan mampu untuk “memikulnya” (mengamalkannya) secara sempurna:
اِنَّا
عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ
اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ
کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ
الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ
یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ
مِنۡہَا -- tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا
الۡاِنۡسَانُ -- tetapi manusia memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ
ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- sesungguhnya
ia sanggup berbuat zalim dan abai terhadap dirinya. Supaya Allah
akan menghu-kum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan
orang-orang musyrik lelaki
dan orang-orang musyrik perempuan, dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sa-yang kepada orang-orang lelaki dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Al-Ahzab [33]:73-74).
Hamala al-amānata berarti: ia
membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum
adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama,
yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu
berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas
kekuatan atau kemampuan pikulnya.
Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
(1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat
Ilahi untuk menayang (menjelmakan) citra (bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia
sendiri dari seluruh isi jagat raya
ini yang ternyata sanggup melaksanakannya; makhluk-makhluk dan benda-benda
lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung
sama sekali tidak dapat menandinginya.
Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum
(aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri)
dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya
terhadap dirinya sendiri dalam arti
bahwa ia dapat menanggung kesulitan
apa pun dan menjalani pengorbanan apa
pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan
kepentingan pribadinya dan hasratnya
untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
(2) Jika kata al-amānat
diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna, yakni, Nabi Besar
Muhammad saw., maka ayat ini akan
berarti bahwa dari semua penghuni seluruh
langit dan bumi, hanyalah beliau
saw. sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan terakhir
(QS.5:4) yaitu syariat Al-Quran,
sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan
sebaik-baiknya.
(3) Kalau kata hamala
diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat,
maka ayat ini akan berarti bahwa amanat
syariat Ilahi telah dibebankan
atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka
itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati amanat ini,
yakni mereka itu sepenuhnya dan
dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya
dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh
(QS.16:50-51), hanya manusia saja
yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan
bertindak dan berkemauan (berkehendak) mau juga mengingkari dan melanggar
perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan
tugas dan kewajibannya. Arti demikian
mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:12.
Sabda Masih Mau’ud a.s.
dan Makna “Pingsannya” Nabi Musa a.s.
Sehubungan dengan firman
Allah Swt. mengenai kesempurnaan
kemampuan Insan kamil (manusia
sempurna – yakni Nabi Besar Muhammad saw.)
-- tersebut Masih mau’ud a.s.
bersabda:
“Adalah
menjadi keyakinanku bahwa misalnya
-- dengan mengesampingkan Nabi Suci Saw.
-- jika semua nabi yang mendahului beliau itu digabungkan untuk melaksanakan tugas-tugas mereka serta melancarkan reformasi yang dibawa oleh Nabi Suci Saw. maka mereka semua itu tidak akan ada yang mampu. Mereka tidak ada memiliki tekad dan kekuatan
sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada
Hadhrat Rasulullah Saw..
Kalau ada seseorang yang
menyatakan bahwa apa yang aku kemukakan ini sebagai penghinaan kepada nabi-nabi
lain maka sama saja dengan orang itu telah mengutarakan
fitnah terhadap diriku. Adalah
bagian dari keimananku untuk menghormati dan menghargai nabi-nabi tersebut, hanya saja Hadhrat Rasulullah Saw. berada di atas semuanya.
Nabi-nabi yang lain merupakan bagian
dari keimananku juga dan keseluruhan
diriku diresapi oleh keimanan demikian. Adalah sesuatu yang
berada di luar kemampuan diriku untuk meniadakannya.
Biarlah para lawanku yang buta mengatakan apa yang mereka mau,
yang jelas Nabi Suci kita telah melaksanakan tugas yang jika pun dikerjakan secara bersamaan atau pun sendiri-sendiri oleh para nabi lain, tetap saja mereka tidak akan mampu melaksanakannya.
Hal ini merupakan rahmat Allah Swt. yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 174).
Firman Allah Swt. mengenai “pingsannya”
Nabi Musa a.s. berikut ini pun mengisyaratkan kepada kenyataan itu pula:
وَ لَمَّا
جَآءَ مُوۡسٰی
لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ
اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ -- ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ وَ
لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ -- Dia
berfirman: “Engkau tidak akan pernah
dapat me-lihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu, فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ -- lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya
maka engkau pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا -- Maka tatkala Rabb-nya
(Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia
menjadikannya hancur lebur, وَّ خَرَّ
مُوۡسٰی صَعِقًا -- dan Musa
pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya
di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah
satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat
bahwa Allah Swt. dapat
disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. dengan
mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah
yang dapat kita saksikan, tetapi Allah
Swt. sendiri tidak. Oleh karena itu tidak
dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa s.s. dengan segala makrifat mengenai sifat-sifat Allah
Swt. akan mempunyai
keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Pernyataan Iman Nabi
Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Nabi Musa s.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat
menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt.,
dan bukan Wujud-Nya Sendiri.
Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam
bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi apa gerangan maksud Musa a.s. dengan
perkataan: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampak-kanlah kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya
mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna
Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi
Musa a.s. diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul
seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya
(Kitab Ulangan 18:18-22).
Nubuatan ini berkenaan dengan
suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi
Musa a.s., karena itu beliau
dengan sendirinya sangat berhasrat
melihat macam bagaimana Keagungan dan
Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu ada yang dapat diperlihatkan
kepada beliau.
Dalam jawaban Allah Swt. dalam
ayat: قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ -- Dia
berfirman: “Engkau tidak akan pernah
dapat me-lihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu” Nabi Musa a.s.
diberi tahu bahwa Tajalli
ini berada di luar batas kemampuan
beliau untuk menanggungnya, tajalli itu
tidak akan dapat terjelma pada hati
beliau, tetapi Allah Swt. memilih
gunung untuk bertajalli.
Ketika Tajalli Ilahi tersebut berlangsung maka gunung itu berguncang
dengan hebat serta nampak seakan-akan ambruk, dan -- dalam pengalaman ruhani tersebut -- Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan
itu rebah tidak sadarkan diri.
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar (diyakinkan) bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya
dalam martabat keruhanian yang dapat
membuat beliau boleh menyaksikannya
sendiri tempat (wujud) yang kelak Allah
Swt. bertajalli sebagaimana
dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang
yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad
saw..
Mungkin pula permohonan Nabi Musa
a.s. itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt. dengan mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak.
Dengan serta merta beliau berseru: تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku
orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna
Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.)
adalah orang yang pertama-tama beriman
kepada keluhuran kedudukan ruhani
yang telah ditakdirkan akan dicapai
oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu
telah disinggung juga dalam QS.46:11.
Gunung
itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran
24:18. Demikian pula ucapan Nabi Musa
a.s. “ingin menyaksikan Tuhan” erat kaitannya dengan nubuatan para Rasul Allah
di kalangan Bani Israil yang dalam nubuatan
mereka menggambarkan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. ibarat “kedatangan
Tuhan” (Mazmur 42:3-8; Yesaya 41:5 & !3; Yesaya; Matius
23:37-39)
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 5 Desember 2015
[1]
Ali Imran [3]:69 itu berbunyi “Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada
Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya
dan Nabi ini dan orang-orang yang beriman kepadanya” (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar