Rabu, 16 Desember 2015

Kritikan Pendeta Kristen dan Beberapa Penulis Inggris Mengenai Kerancuan Agamanya & Kedengkian dan Kefanatikan Para Penentang Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Ajaran Islam (Al-Quran)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


“Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi shalawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)


  Kritikan Pendeta Kristen  dan Beberapa Penulis Inggris   Mengenai Kerancuan Agamanya  & Kedengkian  dan Kefanatikan  Para Penentang Kesempurnaan    Nabi Besar Muhammad Saw. dan Agama Islam (Al-Quran)


Bab 36


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai makna perintah Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhamad saw. agar memohon maghfirah (pengampunan) dari Allah Swt. ketika janji Allah Swt. mengenai kemenangan Islam telah terjadi, bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada dengan masalah kesalahan  atau pun dosa  tertentu yang dilakukan beliau saw., firman-Nya: 
ِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾   وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا٪﴿﴾
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah kesucian Rabb (Tuhan) engkau dengan puji-pujian-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali dengan rahmat-Nya  (Al-Nashr [110]:2-4).

Nabi Besar Muhammad Saw. Datang Pada Saat Sangat Diperlukan Dunia dan Pulang (Wafat) Setelah Menyelesaikan Tugas Secara Sempurna

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran kenabian Nabi Besar Muhammad saw. dan keshahihan Al-Quran  yang  kedatangannya pada saat dunia sedang sangat memerlukannya karena berbagai bentuk kerusakan telah melanda seluruh “daratan dan lautan” (QS.30:42-44; QS.57:17-18):
   “Sudah menjadi bukti yang nyata akan kebenaran kenabian   Hadhrat Rasulullah Saw. dan keshahihan  Kitab Suci Al-Quran, yang menyatakan bahwa Nabi Suci Saw. diutus ketika dunia ini sedang sangat membutuhkan seorang Pembaharu Akbar dan bahwa beliau tidak wafat dan tidak juga terbunuh sampai telah selesai menegakkan kebenaran di bumi.
     Ketika beliau muncul sebagai seorang nabi, beliau langsung menunjukkan kalau memang wujudnya amat diharapkan oleh dunia dan beliau langsung menegur umat manusia yang telah tenggelam dalam paganisme, kefasikan dan perbuatan dosa. Dalam Kitab Suci Al-Quran banyak ditemui peringatan demikian seperti:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam’ (Al-Furqān [25]:2),
yang merupakan peringatan bagi umat manusia yang telah rusak akidahnya dan telah melenceng jauh cara hidupnya.
       Ayat ini menjadi bukti dari pernyataan Al-Quran bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. muncul ketika seluruh dunia dan semua umat manusia telah rusak akhlaknya, dimana mereka yang semula melawan akhirnya menerima pernyataan beliau, tidak dengan berdiam diri tetapi dengan pengakuan melalui baiat. Dari sini jelas kalau Nabi Suci Saw. datang ketika saatnya memang sudah harus muncul seorang nabi yang sempurna dan benar.
    Kalau kita mentelaah kapan saatnya beliau dipanggil pulang (wafat),  Al-Quran secara eksplisit (tegas) menjelaskan bahwa kepulangan beliau adalah setelah selesai menuntaskan tugasnya. Beliau dipanggil pulang oleh Allah Swt.. setelah turunnya ayat yang menyatakan bahwa akidah pendidikan bagi umat Muslim telah sempurna dan semua wahyu yang berkaitan dengan itu telah diturunkan.
   Tidak hanya itu, juga dinyatakan bahwa pertolongan Allah Swt.  sudah digenapkan dan beribu-ribu manusia telah menganut Islam. Juga diwahyukan bahwa hati mereka telah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan sehingga mereka menjauhi kedurhakaan dan dosa. Akhlak mereka telah mengalami perubahan luar biasa yang mempengaruhi perilaku dan jiwa mereka.
    Kemudian dikemukakan dalam surah Al-Nashr bahwa tujuan dari kenabian beliau telah terpenuhi dan Islam telah mencapai kemenangan di hati manusia. Hadhrat Rasulullah Saw. menyatakan bahwa surah ini mengindikasikan kewafatan beliau.
   Beliau kemudian melaksanakan ibadah Haji dan menyebutnya sebagai Haji Wada (haji perpisahan) dimana beliau menyampaikan khutbah panjang dari punggung seekor unta. Beliau meminta kesaksian mereka yang hadir bahwa beliau telah menyampaikan keseluruhan firman Tuhan yang ditugaskan kepada beliau untuk disampaikan kepada mereka.
    Setiap dari mereka yang hadir menyatakan dengan suara lantang bahwa benar beliau telah menyampaikan kepada mereka. Hadhrat Rasulullah Saw. kemudian menunjuk ke langit dan mengatakan: “Engkau menjadi saksi, ya Allah”.  Beliau kemudian mengingatkan mereka secara panjang lebar karena beliau tidak akan ada lagi bersama mereka pada tahun yang akan datang. Beliau kemudian kembali ke kota Medinah dan wafat pada tahun berikutnya. Turunkanlah berkat dan salam Engkau, ya Allah, atas diri beliau. Semua indikasi ini ada dikemukakan dalam Al-Quran dan dibenarkan oleh sejarah agama Islam.
    Adakah dari antara penganut agama Kristen, Yahudi atau Arya yang bisa  menunjukkan bukti-bukti bahwa Pembaharu mereka masing-masing memang datang pada saat dibutuhkan, dan pulang kembali ke Tuhan-nya setelah tugas mereka selesai, disamping para lawannya mau mengakui kekeliruan cara hidup serta ketidak-salehan mereka?
      Aku merasa yakin sekali bahwa tidak ada satu pun umat lain dari luar agama Islam yang akan mampu memberikan bukti demikian. Yang diketahui pasti, Nabi Musa a.s. diutus untuk kehancuran Fir’aun dan menyelamatkan umat beliau dari penindasan serta membimbing mereka ke arah yang benar.
     Adalah benar bahwa beliau memang berhasil menyelamatkan umatnya dari penindasan Fir’aun namun tidak mampu menyelamatkan mereka dari godaan syaitan, dan beliau juga tidak berhasil membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Keturunan Bani Israil ternyata tidak bisa memurnikan batin mereka di tangan beliau dan mereka berulangkali melakukan kedurhakaan sampai kemudian Nabi Musa a.s. wafat ketika mereka masih dalam keadaan demikian.  
    Sepanjang menyangkut pengikut Nabi Isa a.s. cukuplah Kitab Injil menjadi saksi atas kondisi mereka, tidak perlu lagi penjelasan tambahan. Bukanlah suatu hal yang tertutup adanya kenyataan bahwa betapa sedikitnya umat Yahudi yang menerima Nabi Isa a.s. padahal beliau sengaja diutus kepada mereka. Jika harkat kenabian Nabi Isa dinilai dari tolok ukur jumlah pengikut maka kenabian beliau tidak akan memenuhi syarat.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm. 358-369, London, 1984).

Kritikan Pendeta Mr Bourt dan Beberapa Penulis Inggris Mengenai Keracuan  Agama Kristen

     Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. mengemukakan pentingnya pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran:
   “Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan ketika seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan dan penyembahan makhluk, dimana semua orang telah meninggalkan akidah yang murni dan melupakan jalan yang lurus. Penyembahan berhala berkembang luas di tanah Arab, adapun bangsa Parsi menyembah api, sedangkan di India disamping penyembahan berhala ditambah lagi dengan penyembahan berbagai macam makhluk lainnya.
    Banyak sudah buku ditulis mengenai hal ini dimana berpuluh-puluh manusia yang telah dipertuhan sebagai bagian dari penyembahan Avatar1.[1] Berdasarkan pendapat Pendeta Mr. Bourt[2] dan beberapa penulis Inggris lainnya, tidak ada agama yang demikian rancunya sebagaimana agama Kristen dimana agama ini sudah jatuh kredibilitasnya akibat penyelewengan dan akidah salah para ulama atau pendetanya. Dalam akidah Kristen tidak hanya satu atau dua orang saja yang dipertuhan tetapi juga beberapa benda lainnya.
    Kedatangan Nabi Suci Saw. pada saat kegelapan demikian dimana situasi menuntut munculnya seorang Pembaharu agung guna memberikan petunjuk Ilahi yang akan mencerahkan dunia dengan Ketauhidan Ilahi serta menghapus paganisme dan penyembahan makhluk yang merupakan induk dari segala kemudharatan, merupakan bukti yang jelas bahwa beliau adalah rasul Allah yang benar dan jauh mengungguli rasul-rasul lainnya.
   Kebenaran beliau ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam zaman jahiliyah demikian, norma hukum alam dan kebiasaan  (Sunnah) Allah Swt.  mengharuskan adanya seorang Pembimbing yang sempurna.  Sudah menjadi norma abadi dari Tuhan seluruh alam bahwa ketika penderitaan dunia telah mencapai puncaknya, rahmat Ilahi akan turun untuk menanggulanginya.
      Ketika bumi dilanda kekeringan berkepanjangan yang mengancam kelanjutan kehidupan manusia, maka Allah Yang Maha Pemurah akan menurunkan hujan. Saat beratus dan beribu-ribu manusia telah mati karena suatu wabah, maka akan turun pertolongan berupa udara atau iklim yang kemudian dibersihkan oleh unsur-unsur alam atau ditemukannya suatu jenis pengobatan baru. Ketika suatu bangsa terperangkap dalam penindasan tirani, akan muncul seorang penguasa yang adil dan pengasih.
  Begitu pula saat manusia melupakan jalan Allah serta meninggalkan Ketauhidan dan penyembahan Wujud-Nya, maka Allah Yang Maha Luhur akan mengaruniakan wawasan sempurna kepada salah seorang hamba-Nya dimana setelah memberkati yang bersangkutan dengan firman-Nya  lalu mengutusnya untuk membimbing manusia agar ia memperbaiki kebusukan yang telah merasuk.
      Sang Maha Pemurah Yang memelihara serta mendukung eksistensi dunia ini tidak akan menahan atau membatalkan Sifat Rahmat-Nya. Setiap Sifat-sifat Wujud-Nya akan memanifestasikan dirinya pada saatnya yang tepat. Logika sehat telah membuktikan bahwa untuk mengatasi setiap bentuk bencana maka Sifat Allah Swt.  yang relevan akan mewujud pada saat itu.
      Sejarah telah membuktikan dan juga dibenarkan oleh para penentang serta dipertegas oleh Al-Quran,  bahwa pada saat diutusnya Hadhrat Rasulullah Saw. memang benar bencana telah mencapai puncaknya, karena manusia di seluruh dunia telah meninggalkan jalan Ketauhidan dan ketulusan.
     Adapun mengenai ibadah kepada Tuhan, semua orang mengakui bahwa hanya Hadhrat Rasulullah Saw. saja yang telah memperbaiki kerusakan akhlak dan menyelamatkan dunia dari kegelapan paganisme dan penyembahan makhluk, lalu menegakkan Ketauhidan Ilahi sehingga tidak bisa diragukan lagi bahwa beliau itu seorang Pembimbing yang benar dari Allah Yang Maha Kuasa. Argumentasi ini dikemukakan Al-Quran dalam ayat:
تَاللّٰہِ  لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰۤی اُمَمٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَزَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ فَہُوَ وَلِیُّہُمُ الۡیَوۡمَ  وَ لَہُمۡ  عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ اِلَّا لِتُبَیِّنَ لَہُمُ الَّذِی اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ۙ وَ ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ  اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَاَحۡیَا بِہِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ اِنَّ فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  لِّقَوۡمٍ  یَّسۡمَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengirimkan rasul-rasul kepada semua umat  sebelum engkau, tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka indah bagi mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu dan bagi merekalah azab yang pedih. Dan tidaklah Kami menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Allah telah menurunkan air dari langit, lalu Dia menghidupkan dengan itu bumi setelah matinya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi kaum yang mau mendengarkan kebenaran’ (An-Nahl [16]:64-66).
   Kami ingin mengingatkan kembali,  bahwa tiga unsur yang telah kami kemukakan yang menghasilkan kesimpulan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang Pembimbing yang benar, ada dikemukakan secara indah dalam ayat di atas:
  Pertama, adalah tentang kalbu manusia yang telah menyimpang dan terperangkap dalam kekeliruan selama berabad-abad, ditamsilkan sebagai tanah yang kering dan mati sedangkan firman Tuhan ditamsilkan sebagai hujan yang turun dari langit, karena memang merupakan kaidah abadi bahwa rahmat Ilahi akan selalu menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.
    Kaidah ini tidak terbatas kepada air hujan jasmani saja tetapi juga hujan ruhani yang akan turun pada masa kesulitan, yaitu ketika kefasikan telah merata. Dalam keadaan demikian rahmat Tuhan pasti akan berfungsi untuk mengatasi bencana yang mempengaruhi kalbu manusia.
     Ayat ini lalu menunjuk kepada unsur kedua, yaitu bahwa seluruh dunia telah rusak sebelum kedatangan Nabi Suci Saw..
     Unsur ketiga merujuk kepada kenyataan bahwa mereka yang mati   ruhaninya telah dihidupkan kembali oleh firman Tuhan.
     Kesimpulan yang bisa ditarik dari sini ialah bahwa semua itu merupakan tanda kebenaran Kitab Suci Al-Quran dimana para pencari kebenaran digiring untuk menyimpulkan bahwa Kitab Suci Al-Quran memang benar dari Allah Swt.. Karena argumentasi ini juga menegakkan kebenaran  Hadhrat Rasulullah Saw. maka disimpulkan juga bahwa beliau itu memang kenyataannya mengungguli semua nabi lainnya, karena Nabi Suci Saw. harus menangani seluruh dunia dimana tugas yang beliau emban sebenarnya setimpal dengan karya dari 1000 atau 2000 nabi-nabi lainnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.I. hlm. 112-116, London, 1984).

Kedegilan dan Kefanatikan Para Penentang Nabi  Besar Muhammad Saw. & Kesuksesan Misi Suci Nabi Besar Muhammad saw.

     elanjutnya Masih Mau’ud a.s. menerangkan kesuksesan misi  suci Nabi Besar Muhammad saw.  tetapi  tetap gelap bagi para penentang yang degil dan fanatik:
  “Zaman pada saat kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. memang membutuhkan seorang Pembaharu Samawi yang akbar yang membawa petunjuk Ilahi dimana ajaran yang beliau bawa nyatanya adalah hal yang benar dan amat dibutuhkan  serta mencakup segala hal yang diperlukan manusia.
   Ajaran beliau demikian efektif sehingga berhasil menarik ratusan ribu hati manusia kepada kebenaran dan menanamkan dalam fikiran mereka bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah Swt..  Beliau telah menyempurnakan tujuan paripurna kenabian yaitu beliau telah mengajarkan prinsip-prinsip keselamatan ruhani sedemikian sempurna, sehingga tidak ada ajaran nabi-nabi lain yang bisa menimbalinya. Semua kenyataan tersebut mendorong orang untuk yakin bersaksi bahwa sesungguhnya Hadhrat Rasulullah Saw.  adalah seorang pembimbing yang benar dari Allah Swt..
  Tidak ada keselamatan bagi seseorang yang karena kefanatikan dan kedegilannya lalu menyangkal semua tanda-tanda kebenaran dan ketakwaan yang mewujud begitu sempurna dalam diri Hadhrat Rasulullah Saw. yang tidak akan ditemui pada nabi-nabi lainnya.
    Orang-orang seperti itu bahkan akan menyangkal keberadaan Tuhan, jika pun misalnya hanya untuk menyangkal kebenaran dan ketakwaan Hadhrat Rasulullah Saw. Biarlah mereka yang berani menyangkal, maju ke muka dan memperlihatkannya kepada kami.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  112-114, London, 1984).
Bersabda lagi:
     “Nabi kita Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang Pembaharu akbar dalam penyampaian kebenaran,  dan telah mengembalikan kepada dunia  kebenaran yang selama itu hilang.  Tidak ada nabi lain yang bisa menimpali keberhasilan beliau dalam mencerahkan dunia yang semula gelap gulita menjadi terang benderang akibat kehadiran beliau.
      Beliau tidak wafat sebelum bangsa yang kepada mereka  beliau turun (diutus), telah menanggalkan jubah paganisme mereka dan mengenakan jubah Ketauhidan Ilahi. Tidak itu saja, nyatanya mereka telah berhasil mencapai tingkat keruhanian yang tinggi serta juga berlaku takwa dan saleh yang tidak ada padanannya di bagian lain dunia. Keberhasilan demikian belum pernah dicapai nabi lainnya selain beliau.
    Adalah suatu kenyataan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. dibangkitkan di masa saat dunia tenggelam dalam kegelapan yang membutuhkan seorang Pembaharu akbar. Beliau meninggalkan dunia ini di saat ketika ratusan ribu orang telah meninggalkan paganisme dan penyembahan berhala serta beralih kepada jalan yang lurus dan Ketauhidan Ilahi.
    Pembaharuan yang demikian sempurna itu adalah hasil karya beliau yang telah mengajar mereka yang tadinya berada di tingkatan hewaniah menjadi manusia seutuhnya. Dengan kata lain, beliau itu telah mengubah binatang-binatang liar menjadi manusia untuk kemudian menjadikan mereka sebagai manusia terdidik, lalu mengubah mereka menjadi hamba-hamba Allah serta meniupkan keruhanian ke dalam diri mereka guna menciptakan hubungan antara mereka dengan Tuhan Yang Maha Benar.
     Mereka ada yang dijagal (disembelih) di jalan Allah seperti domba dan diinjak-injak di bawah kaki seperti semut, namun tidak ada dari mereka yang menanggalkan keimanannya dan siap maju terus menghadapi aral rintangan. Tidak diragukan bahwa Nabi Suci Saw. adalah Adam yang kedua, bahkan Adam yang sesungguhnya di bidang penegakan keruhanian yang melaluinya   nilai-nilai luhur manusia mencapai kesempurnaannya, dimana semua kemampuan manusia diarahkan pada fungsi yang sepatutnya dan tidak ada fitrat manusia yang tersisa tidak terbina.
     Kenabian berakhir dengan beliau tidak saja karena beliau adalah nabi terakhir dalam skala waktu, tetapi juga karena semua kesempurnaan kenabian telah mencapai puncaknya pada wujud beliau.  Mengingat beliau itu adalah manifestasi sempurna dari Sifat-sifat Ilahi maka norma-norma beliau memiliki sifat keagungan dan keindahan, karena itu beliau disebut sebagai Muhammad dan juga Ahmad, serta tidak ada kekikiran dalam kenabian beliau, sebab merupakan kemaslahatan (rahmat) bagi seluruh dunia.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 20, hlm. 206-207, London, 1984).

Menggugurkan Itikad “Penebusan Dosa” & Keteguhan Hati Hadhrat Rasulullah Saw.

    Berkenaan keunggulan berbagai  argumentasi yang dikemukakan   Nabi Besar Muhammad saw. sehingga membungkam  para pelaku kemusyrikan, Masih mau’ud a.s. bersabda: 
    “Rasul ini jauh mengungguli semua nabi  lainnya karena beliau menjadi Guru Agung bagi seluruh dunia. Melalui tangan beliau itulah kebusukan dunia pada waktu itu telah diperbaiki, dan Ketauhidan Ilahi yang hilang telah ditegakkan kembali. Beliau mengalahkan semua agama  palsu lainnya melalui bukti-bukti dan argumentasi serta mengangkat (menghilangkan)  keraguan yang ada di hati manusia.
   Beliau memberikan cara-cara keselamatan yang benar melalui pengajaran akidah-akidah haqiqi sehingga menghilangkan dari fikiran manusia pandangan yang mengharuskan menyalib seorang yang tidak berdosa untuk memperoleh penebusan, atau memindahkan Tuhan dari ‘Arasy-Nya yang luhur dan meletakan-Nya ke dalam rahim seorang wanita.
  Dengan cara itulah maka rahmat dan berkat yang dibawa beliau jauh melampaui siapa pun jua dan derajat (maqam) beliau jauh lebih tinggi dari semuanya. Sejarah telah membuktikan dan Kitab Ilahi membenarkan serta mereka yang mempunyai mata menyaksikan bahwa sosok yang jauh mengungguli nabi-nabi lainnya hanyalah Muhammad Saw.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  108-109, London, 1984).
     Mengenai keteguhan hati Nabi Bear Muhammad saw. selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
    “Patut diperhatikan betapa teguhnya Hadhrat Rasulullah Saw. berpegang pada pengakuan kenabian beliau sampai titik terakhir,  meskipun harus menghadapi ribuan bahaya serta ratusan ribu lawan, para penghadang dan pengancam. Selama bertahun-tahun beliau menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup yang meningkat dari hari ke hari, dan selama menanggung derita demikian tidak ada terlintas dalam fikiran beliau untuk mencari hal-hal yang bersifat duniawi.
     Bahkan sebenarnya dengan bertahan pada pengakuan kenabiannya,  beliau telah kehilangan segala yang menjadi miliknya dan malah mengundang ratusan ribu pertentangan dan ribuan bencana ke atas dirinya. Beliau terusir dari rumahnya sendiri, dikejar-kejar oleh para pembunuh, kehilangan rumah berikut isinya dan dicoba diracuni beberapa kali. Mereka yang semula membantunya malah kemudian mengharapkan kemudharatan atas diri beliau, sedangkan teman-teman beliau telah berubah menjadi musuh. Untuk jangka waktu lama beliau harus menanggung penderitaan ini, suatu hal yang tidak mungkin bisa ditahankan oleh seorang nabi palsu.
    Ketika kemudian Islam berjaya, Hadhrat Rasulullah Saw. tidak ada berusaha mengumpulkan kekayaan pribadi, tidak juga lalu mendirikan bangunan atau sarana keselesaan dan kemewahan, bahkan tidak ada menarik keuntungan pribadi apa pun dari segala hal. Apa pun yang singgah ke tangan beliau, habis lagi untuk mengkhidmati fakir miskin, yatim piatu, para janda dan mereka yang terhimpit utang. Beliau tidak pernah makan sampai terasa kenyang.
   Beliau demikian lurusnya sehingga melalui bicara dan khutbahnya tentang Ketauhidan Ilahi, beliau telah menjadikan umat manusia di dunia yang tenggelam dalam paganisme menjadi musuhnya. Yang pertama menjadi musuh beliau adalah bangsa beliau sendiri karena beliau melarang mereka menyembah berhala.
     Beliau membuat jengkel bangsa Yahudi karena menegur mereka yang terhanyut dalam penyembahan berbagai makhluk dan pengagungan para ulamanya serta kefasikan mereka. Beliau mengingatkan mereka untuk tidak menyangkal dan menghina Nabi Isa a.s.. Semua itu menjadikan hati mereka terbakar api kebencian dan mereka menjadi musuh beliau yang paling pahit yang selalu berupaya dengan segala cara untuk menghancurkan beliau.    
   Dengan cara yang sama, beliau telah menjengkelkan umat Kristen karena beliau menyangkal ketuhanan Yesus dan sebutannya sebagai anak Tuhan serta statusnya sebagai penebus yang disalib. Para penyembah api dan bintang-bintang juga sakit hati terhadap beliau karena melarang mereka menyembah dewa-dewa mereka. Beliau mencanangkan Ke-Esaan Tuhan sebagai satu-satunya cara guna memperoleh keselamatan (najat).
    Hadhrat Rasulullah Saw. adalah seorang yang lurus dan siap mengorbankan jiwa di jalan Allah, dimana beliau tidak ada mengandalkan pada harapan atau ketakutan pada manusia, dan mengikrarkan seluruh keyakinannya hanya kepada Allah Swt..  Karena hanya ingin mengkhidmati keinginan dan memenuhi kesukaan Allah Swt.  maka untuk menyiarkan Ketauhidan Ilahi  beliau tidak mempedulikan bencana apa yang harus ditempuh serta kesulitan apa pun yang akan ditimpakan oleh para penyembah berhala.
       Beliau memikul semua kesulitan yang ada dan tetap melaksanakan perintah Tuhan beliau guna memenuhi semua persyaratan yang diungkapkan dalam khutbah dan peringatan-peringatan beliau tanpa menghiraukan ancaman apa pun yang dihadapinya.
      Aku menyatakan dengan sesungguh hati,  bahwa dari semua nabi   tidak ada yang seperti beliau yang telah menyerahkan seluruh kepercayaan beliau sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal,  dan tetap saja meneruskan cegahan terhadap paganisme dan penyembahan makhluk, serta tidak ada yang demikian  teguh hati sebagaimana halnya Hadhrat Rasulullah Saw..” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 108-109, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Desember  2015





[1] Avatar adalah inkarnasi dari bentuk manusia atau hewan yang katanya untuk melawan  suatu jenis k ejahatan tertentu di dunia. Dewa Wisnu dikatakan mempunyai sepuluh bentuk avatar seperti ikan, kura-kura, babi h utan dan lain-lain. Bintang film India yang populer seperti Amitabh Bachan pun disembah dimana telah ada tiga buah kuil didirikan untuk memujanya.   (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Kemungkinan yang dimaksud adalah L. Bourt yang mengarang Christianisme Dans L’Empire Perse Sous LA Dinastie Sassanide, Aristide D . Caratzas Pub., 1904. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Selasa, 15 Desember 2015

"Revolusi Ruhani" Paling Sempurna Melalui Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. & Pewarisan Kembali "Negeri yang Dijanjikan" di Akhir Zaman Kepada Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


“Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”


“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar”

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

 Revolusi Ruhani  Paling Sempurna Melalui  Pengutusan Nabi Besar Muhammad  Saw.   & Pewarisan  Kembali “Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman Kepada Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Swa.


Bab 35


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pewarisan nikmat  kenabian dan  kerajaan dari Bani Israil kepada Bani Ismail (umat Islam), antara lain beliau bersabda mengenai pewarisan “Tanah yang dijanjikan” (Palestina/Kanaan) dari kekuasaan golongan Ahli Kitab kepada umat Islam (QS.21:106-107) di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ -- bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.  Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡ  --  Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.   قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ --   Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya  Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Esa, فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ --  maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:106-109).
   Yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan".    Isyarat dalam kata-kata “dalam kitab Daud” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil.
    Palestina tetap di tangan Kristen hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat   Umar bin Khaththab r.a., Khalifah ke-II Nabi Besar Muhammad saw. Nubuatan yang terkandung dalam ayat  106   rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
     Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan — hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan negara Israil. Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran (QS.17:105).

Pewarisan Kembali “Negeri  yang Dijanjikan” Kepada Umat Islam  Melalui  Masih Mau’ud a.s.

      Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja. Orang-orang Islam telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam. Hal ini merupakan keputusan Allah Swt.  dan tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Tuhan.
    Namun bukan dengan cara kekerasan  sebagaimana yang saat ini sedang berlangsung di Timur Tengah, sebab cara-cara seperti itu bertentangan dengan ayat selanjutnya:    وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡ  -- “ Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
     Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu, dan hal tersebut akan kembali terjadi melalui perjuangan Masih Mau’ud a.s. dan Jemaat beliau dengan pimpinan Khalifatul Masih  (QS.24:56; QS.61:10). Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Demikian itulah yang telah  terjadi dan sekarang umat Muslim mewarisi tanah tersebut. Semua nubuatan demikian selalu diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan Ilahi.  Nubuatan demikian tidak sama dengan ramalan astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau serangan suatu bangsa kepada bangsa lain.
    Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Quran serta beriman sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah Saw. serta mencintai beliau dan menganggap beliau itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua makhluk dan semua  nabi, rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu menikmati segala karunia nubuatan tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa atau Nabi Isa.  Mereka akan diterangi oleh Nur Israili dan menikmati karunia para  nabi turunan Ya’qub. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khātaman Nabiyīn dan betapa agungnya Nur yang telah diperoleh seorang hamba beliau yang lemah ini.
     Ya Allah, turunkanlah berkat Engkau atas Nabi  Engkau dan kekasih Engkau, Penghulu para nabi, sebaik-baik rasul dan Khātaman Nabiyīn, Muhammad dan para pengikut serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.
      Para ulama Kristen, para Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah mempertanyakan dimana berkat-berkat tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Nabi Suci Saw. bersama-sama dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya hanya untuk umat Muslim dan dihalangi bagi umat dan penganut agama lain?
   Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada para pencari kebenaran yang sudah siap menjadi Muslim setelah menyaksikan keunggulan   agama Islam.
      Dalam catatan kaki kedua[1], secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugrahkan berkat dan rahmat atas umat Muslim, dan bagaimana Dia telah menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang kejadian-kejadian yang berada di luar kemampuan nalar manusia.
     Karena itu jika ada ulama Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman batinnya, begitu pula dengan bangsa Arya serta para penganut agama lain, kalau memang benar-benar ingin mencari Tuhan maka menjadi kewajiban bagi mereka -- sebagaimana para pencari kebenaran lainnya -- untuk menanggalkan seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran haqiqi maka datanglah kepada kami sebagaimana laiknya seorang yang miskin dan bersahaja serta bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi (bertakwa) agar dengan perkenan Allah Swt.  ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi atas kefasikannya sendiri.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  274-275, London, 1984).

Penegasan Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran Sebagai Sebagai Rasul Allah dan Kitab Suci dan  Firman Tuhan yang Paling Sempurna

     Dalam  sabdanya berikut ini  Masih Mau’ud a.s. mengemukakan alasan mengapa  hanya umat Islam yang  benar-benar mentaati sepenuhnya Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71) yang berhak  mewarisi  kembali apa yang telah diwariskan Nabi Besar Muhammad saw. kepada para pengikut sejati beliau saw. di zaman awal:
     “Kitab Suci Al-Quran menyatakan secara tegas   bahwa ia adalah firman Allah dan bahwa Penghulu dan Junjungan kita Muhammad Saw. adalah nabi dan rasul-Nya yang benar, yang kepadanya firman itu telah diturunkan. Pernyataan ini jelas dikemukakan dalam ayat:
اللّٰہُ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۙ الۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ؕ﴿۲﴾  نَزَّلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ
 Allah adalah Dzat Yang tak ada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Berdiri sendiri dan Pemelihara bagi semua. Dia menurunkan kepada engkau Kitab yang mengandung kebenaran  (Āli Imran [3]:3-4).
Begitu juga:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَکُمُ الرَّسُوۡلُ بِالۡحَقِّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ
 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul ini dengan membawa kebenaran dari Rabb ( Tuhan) kamu (Al-Nisa [4]:171).
Begitu pula:
وَ بِالۡحَقِّ اَنۡزَلۡنٰہُ  وَ بِالۡحَقِّ نَزَلَ
 Sesuai dengan kebenaran telah Kami menurunkannya dan dengan kebenaran ia telah turun’ (Bani Israil [17]:106).
Di tempat lain:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَکُمۡ  بُرۡہَانٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکُمۡ نُوۡرًا مُّبِیۡنًا ﴿﴾
 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan nyata dari Rabb (Tuhan) kamu dan telah Kami turunkan kepada kamu Nur yang terang benderang (Al-Nisā [4]:175).
Begitu pula:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian” (Al-A’rāf []7]:159).
Serta:
وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ اٰمَنُوۡا بِمَا نُزِّلَ عَلٰی مُحَمَّدٍ وَّ ہُوَ الۡحَقُّ مِنۡ  رَّبِّہِمۡ ۙ کَفَّرَ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ  وَ اَصۡلَحَ بَالَہُمۡ ﴿﴾
 Akan hal orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad, dan itu adalah kebenaran dari Rabb (Tuhan) mereka, Dia menghapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan membenahi segala urusan mereka  (Muhammad [47]:3).
    Ada beratus-ratus ayat yang menyatakan secara tegas bahwa Al-Quran adalah firman Allah dan wujud yang terpilih Muhammad Saw. adalah rasul-Nya yang benar, namun contoh beberapa ayat di atas kiranya mencukupi. Kami ingin mengingatkan kepada para lawan kami bahwa pernyataan-pernyataan seperti itu tidak ada dikemukakan secara tegas dalam Kitab-kitab lainnya.
     Kami mengharapkan dengan sangat agar kaum Arya mau menunjukkan dari Kitab Veda mereka bahwa keempat Veda yang ada itu memang menyatakan kalau isinya memang benar merupakan firman Ilahi, dan mengungkapkan kepada siapakah firman tersebut diwahyukan dan kapan  saatnya.
     Untuk sebuah Kitab yang dikatakan berasal dari Tuhan menjadi keniscayaan bahwa mereka sanggup mengemukakan pernyataan ini secara tegas, karena mengakui sebuah kitab sebagai berasal dari Tuhan padahal tidak ada indikasi yang membenarkannya merupakan suatu hal yang kurang sopan.
    Masalah kedua yang patut dikemukakan,  bahwa tidak saja Kitab Al-Quran menyatakan kalau ia berasal dari Allah dan bahwa Muhammad Saw. adalah rasul Allah, namun juga memberikan dasar argumentasi yang kuat atas pernyataan tersebut. Kami akan mengemukakan argumentasi-argumentasi ini secara berurutan, namun sekarang kami akan mengemukakan argumentasi yang pertama saja dulu,  agar para pencari kebenaran bisa membandingkan Kitab Al-Quran dengan kitab-kitab lainnya.
    Kami juga mengundang para lawan kami bahwa jika metoda pembuktian ini memang membuktikan kebenaran suatu kitab,  dan hal ini juga terdapat dalam kitab-kitab mereka maka sepatutnyalah mereka mengemukakannya dalam harian atau jurnal terbitan mereka. Jika tidak, maka kami terpaksa menyimpulkan bahwa kitab-kitab mereka itu tidak mempunyai bukti kebenaran yang bermutu tinggi. Kami meyakini bahwa metoda pembuktian yang kami kemukakan tidak akan ditemukan dalam agama mereka. Kalau kami salah, silakan tunjukkan kesalahan kami itu.

Revolusi Akbar Melalui Nabi Besar Muhammad Saw.

   “Argumentasi pertama yang dikemukakan Al-Quran agar manusia mau menerimanya sebagai Kitab yang benar dan Rasul-Nya sebagai Rasul yang benar serta untuk membuktikan bahwa ia memang berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, ialah Kitab dan Rasul itu sepatutnya muncul pada saat dunia sedang dilanda kegelapan dimana manusia sudah menjadi penyembah berhala sebagai pengganti Ketauhidan Ilahi, mengikuti jalan kejahatan sebagai pengganti kesucian, tenggelam dalam keangkaraan dan meninggalkan keadilan, telah menjadi demikian bodoh sehingga karenanya amat membutuhkan seorang Pembaharu dalam diri seorang Rasul.
  Kemudian, Rasul tersebut akan meninggalkan dunia ini ketika ia telah menyelesaikan seluruh tugas pembaharuannya dengan cara yang indah dan terpelihara dari segala musuhnya ketika ia sedang melaksanakan tugasnya. Ia itu sewajarnya muncul sebagai seorang pelayan dan berangkat di bawah perintah majikannya.
    Singkat kata, sewajarnya ia akan muncul di saat ketika manusia membutuhkan seorang  Pembaharu Samawi dan membutuhkan bimbingan sebuah Kitab, untuk kemudian dipanggil pulang berdasarkan wahyu yang diturunkan setelah ia selesai menanam pohon pembaharuan yang tertanam teguh dan telah muncul revolusi akbar dalam keruhanian manusia.
   Kami dengan bangga hati menyatakan, bahwa kecemerlangan yang menegakkan argumentasi ini yang mendukung kebenaran Al-Quran dan Penghulu kita Nabi Suci Saw., nyatanya tidak ada terdapat pada nabi-nabi lain atau pun Kitab-kitab lain.
      Pengakuan dari Nabi Suci Saw. adalah bahwa beliau diutus kepada seluruh umat manusia dan karena itu Al-Quran menyalahkan secara keseluruhan manusia yang terlibat dalam paganisme, kejahatan dan kefasikan sebagaimana ayat:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan apa yang telah diusahakan oleh tangan manusia  (Al-Rūm [30]:42),
kemudian mengemukakan:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Maha beberkat Dia Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam’ (Al-Furqān [25]:2).
    Dengan kata lain, ditugaskan kepada Nabi Suci Saw. untuk mengingatkan umat manusia bahwa karena kelakuan mereka serta aqidah yang salah, mereka itu dianggap sebagai sangat berdosa dalam pandangan Allah Yang Maha Kuasa. Kata  Pemberi peringatan  dalam ayat ini berkaitan dengan seluruh umat manusia dan jika dikatakan bahwa peringatan ini bagi para pendosa dan pelaku kejahatan, maka berarti Al-Quran menyatakan kalau seluruh dunia ini telah menjadi busuk dimana setiap orang telah meninggalkan jalan kebenaran dan amal saleh.
    Yang namanya peringatan dengan sendirinya hanya ditujukan kepada mereka yang fasik dan bukan kepada mereka yang berperilaku baik. Semuanya memahami bahwa yang diberi peringatan adalah mereka yang jahat dan tidak beriman, karena demikian itulah cara Allah Swt.  mengutus nabi untuk membawa kabar gembira bagi umat yang saleh dan sebagai  Pemberi peringatan  kepada mereka yang jahat.
    Jika dikatakan bahwa seorang nabi ditugaskan sebagai  Pemberi peringatan  bagi seluruh dunia, maka patut disadari kalau berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada nabi tersebut bahwa seluruh dunia telah terlibat dalam tindakan yang menyimpang dari kebenaran.
   Pernyataan seperti ini tidak terdapat dalam Kitab Taurat berkenaan dengan Nabi Musa a.s. dan tidak juga dalam Kitab Injil berkenaan dengan Nabi Isa a.s. dan hanya bisa ditemukan di dalam Al-Quran saja, ketika difirmankan:
وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ
 Dan kamu dahulu telah berada di pinggir lubang api (Āli Imran [3]:104),
yang dimaksud adalah bahwa sebelum kedatangan Nabi Suci Saw. umat manusia telah berada di tubir neraka.
       Umat Yahudi dan Kristiani diingatkan bahwa mereka telah menyelewengkan Kitab-kitab Allah dan telah membawa manusia kepada segala rupa kejahatan dan perilaku salah. Adapun para penyembah berhala diingatkan bahwa mereka telah menjadi penyembah bebatuan, manusia, bintang-bintang serta unsur-unsur alam sehingga mereka melupakan Sang Maha Pencipta yang Sejati. Begitu juga dengan mereka yang memakan harta anak yatim, membunuh anak-anak serta mencurangi serikat usahanya sendiri dan melakukan pelanggaran melampaui batas dalam segala hal. Difirmankan bahwa:
اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ
Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya  (Al-Hadid [57]:18),
mengandung arti bahwa seluruh dunia ini sudah mati dan sekarang akan dihidupkan kembali oleh Allah Swt..
    Singkat kata, Kitab Suci Al-Quran menyatakan bahwa seluruh dunia sudah berperilaku salah, manusia sudah menjadi penyembah berhala, umat Yahudi dan Kristiani menjadi akar dari segala keburukan dan berbagai macam dosa. Al-Quran memberikan gambaran kerusakan dunia yang padanannya tidak ada pada masa lain kecuali hanya pada masa Nabi Nuh a.s..
    Kami hanya mengutip beberapa ayat saja dan mengharapkan para pembaca sudi kiranya mempelajari sendiri Al-Quran secara tekun guna menemukan bagaimana Al-Quran ini telah menyatakan secara tegas bahwa seluruh dunia saat itu sudah dalam keadaan busuk dan mati serta manusia sudah berada di tubir neraka.
    Kitab ini mengingatkan Nabi Suci Saw. untuk memberi peringatan kepada seluruh dunia, bahwa mereka itu berada dalam keadaan yang gawat. Telaah atas Kitab Suci Al-Quran mengungkapkan bahwa seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan, segala bentuk dosa dan terbenam dalam sumur kejahatan.
    Memang benar bahwa Kitab Injil ada menyatakan kalau umat Yahudi telah menyimpang, tetapi tidak ada menyebut bahwa seluruh dunia sudah membusuk dan mati karena dipenuhi dengan paganism dan perbuatan dosa.   Nabi Isa a.s. pun tidak ada memberikan pengakuan bahwa beliau adalah Rasul bagi seluruh dunia. Beliau hanya berbicara kepada umat Yahudi yang merupakan bangsa yang kecil jumlahnya dan tinggal di desa-desa dalam jarak pandang Nabi Isa a.s.
  Adapun Al-Quran mengemukakan mengenai kematian seluruh dunia dan menguraikan kondisi buruk  semua bangsa. Umat Yahudi memang keturunan  nabi-nabi dan menyatakan beriman kepada Kitab Taurat, tetapi perilaku mereka tidak sejalan dengan Kitab tersebut, bahkan ketika di masa Nabi Suci Saw. akidah mereka pun sudah melenceng jauh.
      Ribuan manusia lalu menjadi atheis dan ribuan lagi yang menyangkal adanya wahyu, sedangkan segala macam perilaku dosa menjadi marak di muka bumi. Nabi Isa a.s. ada menyatakan perilaku jahat umat Yahudi yang merupakan bangsa yang jumlahnya kecil dengan tujuan memberitahukan bahwa umat Yahudi saat itu sedang membutuhkan seorang Pembaharu. Namun argumentasi yang kami ajukan berkaitan dengan Hadhrat Rasulullah Saw. ialah beliau itu datang di saat dunia dalam keadaan rusak dan dipanggil kembali setelah menegakkan pembaharuan secara sempurna.
   Kedua aspek ini dikemukakan secara jelas dalam Al-Quran guna menarik perhatian manusia mengenai hal tersebut, dan yang pasti hal seperti ini tidak ada ditemukan dalam Kitab Injil atau pun Kitab-kitab lainnya. Argumentasi tersebut dikemukakan sendiri oleh Al-Quran dan Kitab ini menyatakan bahwa kebenaran dirinya dikuatkan oleh kedua aspek tadi.
   Kitab ini muncul ketika perilaku manusia telah menyimpang dan akidah-akidah palsu telah merebak ke seluruh muka bumi, sehingga dunia jadi melenceng jauh dari kebenaran dan realitas Ketauhidan Ilahi. Penegasan Al-Quran tentang hal ini diteguhkan oleh hasil studi komparative sejarah. Ada banyak bukti-bukti berupa pengakuan orang-orang yang menyatakan bahwa masa itu begitu penuh dengan kegelapan dimana setiap orang cenderung menyembah makhluk lainnya, sehingga ketika Al-Quran menuduh mereka telah durhaka dan berdosa, tidak ada satu pun yang bisa membuktikan kebersihan dirinya.
      Perhatikanlah betapa tegasnya Allah Yang Maha Perkasa berbicara tentang kejahatan para ahli Kitab serta tentang kematian seluruh dunia. Dinyatakan dalam ayat:
 وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾   اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ
Bahwa mereka hendaknya tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelum mereka, melainkan karena masa penganugrahan karunia Allah kepada mereka diperpanjang bagi mereka, hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka menjadi durhaka. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kepada kamu supaya kamu dapat mengerti’ (Al-Hadid [57]:17-18).
    Ayat ini mengandung arti bahwa orang-orang beriman  diingatkan agar jangan berperilaku seperti para ahli Kitab yang telah memperoleh Kitab-kitab Ilahi sebelum mereka, tetapi karena lamanya perjalanan waktu lalu hati mereka menjadi keras dan sebagian besar dari mereka lalu mendurhaka dan menjadi jahat. Mereka diingatkan bahwa dunia sudah mati dan sekarang akan dihidupkan kembali. Inilah tanda-tanda tentang perlunya Al-Quran serta kebenarannya agar kalian mau mengerti.
   Sekarang kalian tentunya menyadari, bahwa kami tidak ada mengajukan argumentasi ini dari hasil fikiran kami sendiri, melainkan Al-Quran sendirilah yang mengemukakannya dimana setelah mengajukan kedua aspek dari argumentasi lalu menyatakan kalau semua itu merupakan tanda-tanda yang mendukung kebenaran Nabi Suci Saw. dan Kitab Al-Quran itu sendiri, dengan tujuan agar kalian menyadari dan menemukan realitasnya.
   Bagian kedua dari argumentasi tadi bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. akan dipanggil pulang dari dunia kembali kepada Tuhan beliau pada saat beliau  telah selesai melaksanakan tugas, juga dinyatakan secara tegas dalam Kitab Al-Quran pada ayat:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agama kamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama’ (Al-Maidah [5]:4).
    Yakni,  bahwa “dengan diwahyukannya Al-Quran dan telah direformasinya umat manusia maka keimanan kamu telah sempurna serta karunia Ilahi telah disempurnakan bagimu dan Tuhan telah memilih Islam sebagai agamamu.”  Ayat ini merupakan indikasi kalau pewahyuan Al-Quran sudah selesai dan Kitab ini telah membawa perubahan yang luar biasa dalam hati manusia dengan kesempurnaan petunjuk dan bahwa karunia Ilahi telah disempurnakan bagi umat Muslim.
   Inilah kedua aspek yang menjadi tujuan dari diutusnya seorang Rasul. Ayat tersebut menegaskan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. tidak akan meninggalkan hidup ini sampai Islam telah disempurnakan melalui diwahyukannya Al-Quran serta pemberian petunjuk yang patut bagi umat Muslim. Semua itu merupakan Tanda Ilahi yang tidak akan diberikan kepada seorang nabi palsu.
   Sesungguhnya sebelum Nabi Suci Saw. tidak ada nabi lain yang berhasil memperlihatkan bahwa Kitab yang dibawanya telah selesai dengan sempurna, dan umatnya telah memperoleh petunjuk yang lengkap serta musuh-musuhnya telah dikalahkan, sebagaimana Islam yang unggul di segala penjuru.
Di tempat lain dinyatakan:
اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾   وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا٪﴿﴾
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah kesucian Rabb (Tuhan) engkau dengan puji-pujian-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali dengan rahmat-Nya  (Al-Nashr [110]:2-4).
    Berarti bahwa “pertolongan dan kemenangan yang telah dijanjikan telah datang dan engkau telah melihat, wahai Rasul, bahwa manusia berduyun-duyun masuk ke dalam Islam, maka agungkan dan pujilah Tuhan karena sebenarnya apa yang telah terjadi itu bukanlah hasil kerja engkau sendiri melainkan berkat rahmat dan karunia Allah Swt., karena itu sembahlah Allah dan beristighfar karena Dia selalu kembali bersama rahmat-Nya.”
      Jika para nabi diperintahkan untuk beristighfar  tidaklah berarti bahwa mereka memohon pengampunan sebagaimana laiknya orang yang berdosa.  Pada keadaan para nabi tersebut  beristighfar merupakan pengakuan dari ketiadaan arti diri, kerendahan hati, kelemahan dan cara terhormat untuk memohon pertolongan.
    Sebagaimana ayat-ayat itu menegaskan bahwa tujuan dari kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. telah terpenuhi dimana beribu-ribu orang telah memeluk Islam, tetapi juga merupakan indikasi telah dekatnya waktu wafat beliau (beliau wafat dalam waktu satu tahun setelah diterimanya wahyu ini), maka wajar kalau wahyu ini telah memberikan kegembiraan kepada Nabi Suci Saw., tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana masa depan pengairan dari taman yang telah ditanaminya.
      Karena itu Allah Yang Maha Agung untuk mencairkan kekhawatiran tersebut telah menyuruh Hadhrat Rasulullah Saw. agar beliau beristighfar. Pengertian dari ‘maghfirat’ adalah menyelimuti seseorang agar selamat dari segala bencana. Arti kata ‘mighfar’ adalah ketopong atau helm.  Dengan demikian istighfar berarti agar bencana yang ditakuti atau dosa yang diperkirakan, akan ditutupi dan dicegah sebelum mewujud.   
   Dalam keadaan ini kata itu ditujukan untuk memberikan ketenteraman hati kepada Nabi Suci Saw. agar beliau tidak perlu berduka atas kelangsungan agama Islam, karena Allah Swt. tidak akan membiarkannya hancur serta akan selalu kembali dengan rahmat-Nya dan akan menahan segala kerugian yang ditimbulkan oleh adanya kelemahan manusia.” (Noorul Quran, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld.IX, hlm.  333-356, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9 Desember  2015







[1] Berkaitan dengan catatan kaki ke 2 dalam Brahin-i- Ahmadiyah di halaman 293 Ruhani  Khazain jld. I.  (Penerbit)